
Ilana memandangi kamar nya sudah seminggu ia membersihkan kamarnya yang berantakan tidak terlihat cantik dan mewah karena ada banyak pakaian, tas dan souvenir lainnya.
Kedua kakinya bahkan jadi korban souvenir dimana-mana. Selama ini yang bersihkan barang nya adalah pembantunya. Menurut Ilana yang penting asal jalan ke arah ranjang ada celah itu belum berantakan.
"Aduh pusing aku ini mau di letakkan dimana ??"Ilana mengeluh melihat tiga kotak super besar.
Semua barang milik Jung pun telah Ilana buang yang berati keputusan Ilana adalah putus.
Ilana bukan mengalau di kamar untuk kali ini ia justru sibuk bersih-bersih merapikan lemari yang memuntahkan semua pakaian hingga Ilana jatuh.
...****************...
Ilana mengirim pesan kepada Jung dengan perasaan yang begitu berat. Ponsel diletakkan nakas.
Bingkai foto Ilana dan Jung terpaksa gadis itu letakkan di kardus bertuliskan Rubbish. Ilana telah merobek foto mereka.
Jung duduk di kursi kosong menunggu Ilana. Pria itu melihat ke arah jam tangan nya.
Saka turun dan langsung membuka pintu mobil. Padahal sudah tidak jauh lagi dari cafe.
"Pergilah nanti akan ku telfon. "Supir mengangguk.
" Kami bisa menunggu. "
"Tidak, Aku butuh waktu. "
"Baiklah."
Jung melihat mobil milik Ilana melintasi cafe. Ilana muncul dari balik kaca polos yang membatasi keduanya.
Pria itu berdiri melihat Ilana di hadapan nya.
"Aku.... "Ucap Jung.
"Aku.... "Ucap Ilana.
"Kamu saja duluan. " kata Jung lagi. Ilana menggeleng kepala.
"Kejadian ini tidak sengaja. Aku ingin menjelaskan nya tapi aku tidak berani. "
Ilana mengangguk paham.
"Butuh berapa lama kamu bisa berani ? Pada akhirnya kamu hanya mampu merahasiakan. "
Bagi sebagian orang berita hamil adalah kabar paling membahagiakan. Tapi bagiku menyebalkan. "
"Aku sudah bicara dengan Uzy. Kami sepakat akan membesarkan anak ini bersama-sama tanpa harus menikah. Hak asuh nya akan kuberikan pada Uzy sepenuhnya. Aku akan tetap menafkahi mereka. Terus kita lanjutkan hubungan kita. Dan kami sepakat mengenai itu. "
Ilana menyeringai. "Ya. keputusan ku memang yang paling tepat. Jung kita putus. "
"Ilana----"
"Bagaimana bisa kamu memikirkan hubungan kita daripada anakmu. Kamu calon ayah, harusnya kamu dewasa. Jangan jadikan anakmu di dalam pilihan. "
Sebab aku adalah korban dari pilihan itu.
"Ilana tidak bisakah kita lupakan ini. Dan melanjutkan tujuan kita. Aku mohon. "
Kumohon tolong, Kita akan menikah tahun depan. Apa kamu sudah lupa ? "
"Aku juga manusia. Melihat anakmu tumbuh dan berkembang seperti melihat penghianatan. "
"Aku punya permintaan terakhir. "Jung mengeluarkan tulang yang di hadiahkan Ilana.
"Aku yang panjang "tunjuk Ilana.
Ketika Jung mematahkan tetap tulang pilihan Ilana yang paling panjang.
" Berati permintaan ku dapat di kabulkan. "
" Apa kamu benar-benar ingin berpisah ? "Jung meraih tangan Ilana.
"Ya."
"Tapi aku ga mau. Tolong pertimbangkan lagi. "
"Dengan perpisahan ini kamu membebaskan dirimu untuk hidup lebih baik dan kamu membebaskan ku untuk mendapatkan yang terbaik. "
Jung menangis memohon pada Ilana agar jangan memutuskan hubungan mereka.
"Aku harus pergi. "
"Bolehkah aku memeluk mu untuk terakhir kalinya ? "
Ilana menjawab. "Tidak. Sampai jumpa " Ilana meninggalkan Jung di cafe itu sendirian.
Hujan deras mengguyur. Ilana berjalan membiarkan hujan membasahi tubuhnya.
Apa ibu juga pernah di posisi ini ? Apa begitu menyakitkan ? Meski aku mencintai Jung pria itu bukan milikku seutuhnya. Aku tidak mau anak itu menjadi sepertiku tumbuh di keluarga yang membingungkan. Maaf nak, aku sudah melakukan tugasku.
Seseorang tiba-tiba datang memayungi Ilana. Ia menghampiri Ilana dengan wajah khawatir.
"Apa yang kamu lakukan disini ? Kamu tidak boleh sendirian. Ayo "
Ilana di bawa masuk ke dalam mobil. Kedua orang itu duduk di kursi pinggir pantai.
"Ada yang masih buka jam segini "
Ini sudah pukul 1 pagi setelah mereka melakukan perjalanan tak terduga.
"Minum saja. "
"Enggak mau "
"Dasar "
"Bersikap sopan padaku. Aku membiayai kehidupan mu. "
"Ini minuman yang sangat baik untuk anda nyonya. Silakan diminum. "
"Pantai tengah malam menakutkan ternyata. Ombak bisa saja melahap manusia. "
"Rupanya Ilana bisa takut "ejeknya.
"Ya aku bisa takut. "jawab Ilana sinis.
"Kenapa kamu bisa tau aku disana. "
"Aku habis belanja. Dan aku melihat punggung mu. Jadi aku tau itu kamu. "
"Semua punggung sama aja. Bagaimana bisa kamu mengenali ku ? "
" Aku tidak lupa. "
"Aku sudah tau semuanya tentang mu dan kekasihmu. Dia tidak selevel denganmu. Kamu harus dapat pria yang lebih baik dan berkualitas tentunya. " Ilana menghela nafas panjang.
"Aku senang kamu putus dengan nya itu jauh lebih baik. "
"Kenapa semua orang senang disaat aku sendiri sedih. "
"Perempuan terhormat tidak perlu memikirkan cinta. Cinta sendiri yang akan datang. Jual mahal seharga kontrak mu. "
"Kayak percintaan mu mulus aja. " Marcella menaikkan sebelah alisnya.
"Butuh waktu lama aku bisa berbicara dengan putriku sendiri. Apa kita sudah berbaikan ? "
"Enggak. "
"Ilana, Aku ini korban jangan jahat padaku dong. " ucap Marcella sambil memayumkan bibirnya.
"Korban apanya ?! Kau menikmati dengan Steven. "
"Entah ini merubah pikiranmu atau tidak. "
"Aku mencintai seorang pria namanya Edward dia adalah bintang di kampus. Ga pintar tapi ganteng biasalah anak muda cinta nya masih fisik. Dia orang baik dan juga sopan. Aku sudah menargetkan jika dia adalah jodohku, cinta sejatiku. Tapi dia menikah dengan orang lain. Perempuan yang dijodohkan oleh orang tuanya. "
"Sebelum aku tau dia telah di jodohkan. Aku berusaha maksimal mendekati dia ada campur tangan sahabat dekat Edward. Setelah aku putus asa, menyerah lah intinya, akhirnya aku fokus belajar biar sukses. Bukan berati aku selama ini tidak belajar cuman waktu menyukai Edward fokus kebagi dua."
"Lalu setelahnya, aku di undang oleh sahabat Edward. Kubilang aku tidak mau dia mengundang ku hampir tiga kali. Kamu tau pertama kali aku datang kesana selama tiga tahun lebih aku berteman aku ga tau villa itu miliknya. Kami hanya sekedar teman, bestfriend. Dia juga suka menjahili ku. "
"Aku ga tau jika hari itu dia melancarkan aksinya dengan dibantu teman-temanku. Selama tiga tahun berteman dia mencintaiku namun aku justru mencintai Edward. Aku menganggap dia teman dan dia menganggap ku sebagai perempuan yang di cintai. "
"Aku tidak sadar selama satu bulan karena obat-obat terus masuk ke tubuhku hingga akhirnya kamu hadir dan itu adalah bagian rencananya."
"Aku hancur saat itu. Bahkan wisuda ku harus di wakilkan oleh Kak Ruby. Karena aku harus terbaring di rumah sakit. Dia meninggalkan ku di rumah sakit selama tiga bulan aku tidak mampu bicara dan mental terganggu yang selalu kulakukan adalah menggugurkan bayiku. Tapi nyatanya kamu kuat di sana. Tiga kali kucoba tapi kamu tidak gugur sama sekali justru kamu terlahir dengan sehat tanpa cacat. Padahal dokter sudah bilang untuk bersiap jika bayinya bisa saja cacat. "
"Paman-paman mu datang ku universitas mencari diam-diam siapa ayah kandung mu. "
"Waktu 7 bulan kandungan ku. Aku memohon kepadanya agar menikahiku minimal sampai kamu lahir dan punya akta. Demi status yang sah aku kabur dari rumah untuk pertama kalinya dalam hidup untuk menikah tepat dua bulan sebelum kamu lahir. Kamu tau dia pun mengusahakan yang terbaik untuk kita berdua. "
"Dia menceraikan ku tepat tiga menit setelah kamu lahir. Aku tidak tau apa yang terjadi tapi detik itu aku menyadari jika dia pun terluka dan punya alasan dibalik ini semua. Dia berubah tapi aku ga tau kenapa. Dia menepati janjinya menemani ku melahirkanmu tapi dia tidak menepati janjinya untuk membesarkan Ilana bersama-sama. Dia pergi setelah meludahi mu dan aku syok. Nenekmu dan saudara-saudara ku datang khawatir. "
"Entah bagaimana mereka bisa tau lokasi ku. Aku putus asa karena tak bisa mengurus surat lahirmu karena tidak ada keterangan bahkan pernikahan kami belum juga keluar akta tapi aku sudah diceraikan. Aku biarkan kakak Andrew masukkan namamu di keluarga nya hanya sampai setahun karena zaman sudah berubah kan. "
"Hidupku benar-benar hancur Ilana. Aku ga mampu menghadapi ini semua. Aku meninggalkan mu dan bekerja diluar kota. Tapi hatiku tidak sebaik saat aku remaja bisa pergi bebas tanpa terikat. Aku kembali pada saat kamu berusia 5 bulan. Setidaknya aku tidak sendiri, aku tidak disalahkan dan aku tidak di sakiti. Semua membantuku, mengajariku dan memperhatikanku juga bayiku. Tapi aku tetap saja masih egois dan emosi. "
"Rezekiku makin mengalir deras hingga aku bisa buka toko sendiri. Aku bisa mencukupkan kebutuhanmu. Meski aku tidak baik-baik saja. Aku bayar orang untuk bisa menerbitkan surat lahirmu. "
"Lalu kamu tubuh seiring waktu berjalan. Wajah nya terjiplak jelas di wajahmu. Sifatnya dan senyuman. Aku semakin membenci separuh dia ada di tubuhmu. Ingin rasanya ku cuci atau kuganti saja seluruh darahmu agar tidak ada setetes darah darinya di tubuhmu dengan begitu aku bisa menyayangimu. "
"Lama merenungi hidupku di masa lalu. Aku tidak saman sepertimu. Putriku jauh lebih dewasa menyikapi hidup daripada ibunya. "
"Aku selalu hidup di masa lalu sedangkan kamu bangkit mencoba hidup lebih baik. "
"Seluruh apa yang dimiliki ayahmu rupanya kamu ambil seluruhnya. Dari fisik kalian sama, dari sifat dia orang yang pintar banget dia selalu di posisi pertama, menyenangkan.. lucu.. jahil.. dia selalu ada untukku.. dia kuat.. dan dia orang yang pandai menyembunyikan semua hal. Dia jago dalam musik, menyanyi adalah bakat nya. Semua yang dia miliki itu terwarisi oleh mu. Apalagi soal makanan dan style baju kalian memang selalu swag. "
"Jadi jika kamu bertemu dia tolong jangan membencinya. Dia punya alasan kenapa harus meninggalkan kita. Kenapa kita harus seperti ini. Tapi cuman dia yang tau. "
Ilana tertawa. "Marcella..Marcella... Kenapa denganmu. ?" Marcella mengernyit.
"Semakin aku diam cerita mu semakin indah saja,kebohongan yang kamu ucapkan semakin bagus lancar berbicara bahkan akting mu tidak perlu diragukan. Pergilah dari kawasan ku Marcella. Kau memuakkan."
Ilana langsung beranjak pergi.
"KAU TIDAK TAU APAPUN ILANA ?"
"Bahkan kau masuk ke rumah sakit jiwa saja aku tau itu. "
Ilana menyeringai.