I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 5



"Apa-apaan ini...?" Raiden melirik dua makhluk hidup yang menyela kesempatan sempurnanya untuk menyatakan perasaan pada Quinn.


Baik Penelope maupun Killian agak bingung dengan sikap ceria Quinn yang dulu muncul kembali. Yang membuat kedua saudara Quinn bingung adalah naik turunnya suasana hati Putri sulung Savero itu, dia seperti tidak tahu kapan dia akan menjadi murung atau ceria. Perubahan drastis itu sedikit membuat Killian cemas.


Penelope berjalan dengan lenggok tubuh penuh keanggunan. Dia mengulas sebuah senyum manis yang ia tujukan untuk mencari muka. Matanya tak lepas dari sosok tampan Raiden yang masih memandangi Quinn.


Gadis pirang sebahu itu tersenyum lembut, menjepit roknya lalu memberi sapaan hormat kepada Raiden "Saya Penelope Van Marchetti memberikan salam kepada Bintang Kerajaan Ethereal, Yang Mulia Putra Mahkota Sorrentine."


Ya, dengan kesopanan dan keanggunan selevel itu, siapapun bangsawan laki-laki akan terpikat dengan kupu-kupu nya kehidupan sosial para bangsawan wanita.


Quinn mengajak Penelope duduk di tempatnya, tetapi Quinn sendiri tetap memilih untuk berdiri. "Yang Mulia Raiden, maaf, saya harus segera pergi. Ada banyak hal yang ingin saya kerjakan. Penelope bisa menemani Anda untuk sementara waktu."


Quinn tahu betul tindakannya sangat kasar kepada tamu kehormatan, Putra Mahkota Kerajaan Ethereal itu sampai tak bisa berkata-kata dibuatnya.


Quinn memperlihatkan sisi tidak pedulinya akan pernyataan cinta Raiden. Gadis pemilik mata kebiruan itu tak sekalipun menatap Raiden lagi. Dia justru sibuk dengan kegiatannya sendiri dia meminta pelayan yang membawakan kopernya untuk segera keluar karena keretanya telah siap.


Rahang tajam Raiden mengeras "Apa dia baru saja mengacuhkanku? Kenapa? Itu tidak mungkin. Dia pikir aku ini siapa?" Hatinya terus menyangkal kejadian tak mengenakkan yang baru saja menimpanya. Itu sangat memalukan. Dia telah menurunkan harga dirinya hanya untuk menyatakan perasaan tetapi Quinn dengan seenak hati mengacuhkannya? Pesona Raiden tidak mungkin dapat ditolak.


Killian menahan lengan kakak tunggalnya, koper besar itu membuat Killian bertanya-tanya. "Kau mau pergi kemana? Kenapa kau membawa koper?"


Quinn menepis tangan Killian dengan agak kasar. Quinn masih membalut sikapnya yang telah berubah dengan senyuman yang biasa ia pamerkan kepada seluruh dunia. "Maaf, adik. Aku sangat terburu-buru. Aku harus segera pergi. Nanti saja aku jelaskan."


Raiden tertunduk dalam, ia akan merasa semakin kesal jika melihat pundak mungil itu sekarang. Suasana hatinya seketika memburuk dan belum lagi secara tidak langsung Quinn menempatkannya dalam situasi yang membuat dirinya mau tidak mau harus tetap menjaga 'wajah' nya sebagai seorang putra mahkota yang sempurna di hadapan Penelope dan Killian.


Penelope memainkan jari jemarinya, grogi mulai menggerogoti kekuatan dikakinya. Untung saja dia dalam posisi duduk.


Kedua pipinya bersemu merah, sesekali dia mengalihkan pandangan sebab terlalu malu untuk menjaga kontak mata "Y-Yang Mulia.."


"Ya?" Raiden menjaga keramahannya tetap pada tingkat tertinggi walau sekarang hatinya sedang dongkol akibat ulah Quinn.


"Apa Anda biasa datang kemari?"


"Hm, tidak juga. Aku datang kemari jika ada waktu luang saja."


"Oh begitu..."


"Lady Penelope, apa Anda tinggal bersama Count Savero?"


"A-ah tidak. Saya hanya kebetulan menginap di sini."


Killian tak berkedip menatap Raiden terus menerus sampai membuat sang objek merasa tidak nyaman "K-Killian? Apa ada yang ingin kau katakan padaku? Sejak tadi kau memelototi ku begitu." Raiden memasang sikap segannya yang berhasil menutup ketidaksukaannya pada adik Quinn yang selalu mengejeknya itu.


Killian merotasikan kedua bola matanya. Begitulah Killian, dia tidak segan menunjukkan rasa tidak sukanya di depan orang yang dia benci secara terang-terangan.


"Ada urusan apa kau datang kemari?"


"Aku datang ingin mengobrol dengan Quinn, tapi kelihatannya aku datang disaat yang kurang tepat," jawab Raiden sederhana.


"Kau sudah lihat sendiri dia sudah pergi. Kenapa kau tidak pulang sekarang saja? orang yang kau tuju malah meninggalkanmu di sini, tidak ada gunanya kau menunggu di sini lebih lama."


Penelope membeliak kaget mendengar cara bicara Killian yang sangat kasar dan tidak sopan. "Killian! Kau tidak boleh memperlakukan tamu seperti itu!" Bentak Penelope. Gadis itu kemudian membungkuk meminta maaf mewakili adik sepupunya "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya terlalu memanjakannya sebagai kakak jadi dia bertindak diluar batas. Tolong maafkan saya." Dia sampai berlulut di lantai.


Ahli waris kerajaan itu segera menahan bahu Penelope dan memintanya kembali duduk di sofa. "Tidak apa-apa. Lagipula aku sudah terbiasa dengan sikap terus terangnya. Dia adik yang menyenangkan." Raiden lalu beranjak dari sofa, "Urusanku sudah selesai di sini, aku akan pulang sekarang. Terimakasih sudah menjamuku dengan baik."


Mimik muka Raiden seketika berubah saat berbalik. Ekspresinya dipenuhi kekalutan, kemarahan karena merasa direndahkan, dan masih terus mempertanyakan alasan Quinn menghiraukannya.


"Tsk. Quinn..." geramnya frustrasi.


Penelope jadi kehilangan kesempatannya untuk dekat dengan Raiden karena kesalahan yang Killian lakukan. Tatapannya tampak sedih dan hal itu tertangkap oleh mata tajam Killian "Kakak, kau marah padaku?"


"Tidak."


"Kau jadi ketus padaku."


Penelope mendengus lalu mendongak menatap Killian "Killian. Kau tidak boleh bicara tidak sopan begitu. Dia itu tamu, apalagi status kebangsawanan nya lebih tinggi daripada kita. Kau tidak hanya mencoreng nama baikmu tapi juga nama baik keluargamu. Kau tahu? Putra Mahkota mungkin tidak menunjukkan rasa tersinggung nya tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kau baru saja tidak menghargainya. Bukan sebagai Pangeran tapi sebagai tamu, Killian. Kau selalu mengomeli Quinn tentang menjadi wanita yang bermartabat dan paham betul tata Krama, tapi lihat apa yang kau lakukan? Kau sendiri tidak melakukan apa yang kau tekankan pada orang lain." Rentetan gerutuan Penelope terus disuarakan panjang lebar tanpa jeda. Gadis berambut blonde itu tak peduli jika nantinya Killian marah kepadanya.


Putra bungsu Count Savero itu mengerjapkan mata cepat, dia sampai menganga mendengar celotehan Penelope. Memang ada benarnya, tapi sangat jarang gadis cantik nan anggun itu mengomel.


Penelope menatap ke gerbang mansion Shuvillian yang mana sudah tidak menampilkan kereta kuda istana lagi "kesempatanku hilang..." Batin Penelope tidak puas.


Killian melirik ketika Penelope menghela nafas gusar "Huh...mengomel ternyata cukup menguras tenaga ya," gumamnya.


"Tapi kau lihat sendiri 'kan? Dia terlihat cukup bodoh dan sama sekali tidak tegas."


"Killian kau tidak boleh meremehkan orang lain."


"Aku hanya mengatakan kebenarannya saja."


"KILLIAN..." Penelope memberi penekanan pada panggilannya. Dia menarik nafas dalam-dalam, "Huft."


Adik laki-laki Quinn itu melihat sesuatu yang tidak biasa ketika Penelope menyibakkan rambutnya ke belakang untuk sekedar memberi angin pada lehernya.


"Tunggu. Kakak, bekas apa di belakang lehermu itu?"


Sebuah ruam— ralat, akan lebih cocok disebut seperti lebam yang masih baru karena warna merahnya benar-benar kontras dengan warna asli kulitnya.


Penelope buru-buru menutupinya lagi dengan rambut "Tidak, ini bukan apa-apa."


"Apa maksud kakak? Sini, aku lihat lagi."


"Killian." Pemuda itu tersentak kaget saat Penelope menepis tangannya agak keras, Penelope kemudian hanya membalas "Aku yang ceroboh sampai terjatuh dan tengkuk ku mengenai pinggiran sofa."


"O-oh begitu..." Killian tidak berani melawan Penelope saat gadis itu sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Aku akan istirahat sebentar. Kita bisa pergi ke tempat yang kau mau tunjukkan padaku setelah itu."


"Aku mengerti kak."


Killian mengernyit melihat Aston membawa beberapa amplop surat ke luar mansion. Langkah lebar itu yang membuat Killian penasaran "Paman, kau kelihatannya terburu-buru. Mau aku bantu?"


Aston tersenyum "Tidak apa-apa, Tuan Muda. Saya bisa mengirimkannya sendiri."


"Kenapa ada begitu banyak surat?" Pemuda bersurai hitam itu menghampiri butler pribadi Savero, "Apa itu surat undangan?"


"Ini surat yang ingin Yang Mulia Savero kirimkan ke istana Lombardia, Tuan Muda."


"Kepada kakek?"


"Ah, jadi Anda belum mendengarnya? Lady Quinn mulai hari ini memutuskan untuk tinggal bersama Grand Duke dan tidak akan kembali ke sini sampai dia merasa dia ingin kembali."


Deg


Killian tertegun. Quinn sama sekali tidak mengatakan apa-apa, raut muka Quinn bahkan sama sekali tak menggambarkan ingin mengucapkan perpisahan kepadanya.


Ya, rumah Bastien memang tidaklah jauh. Tetapi Killian hanya tidak menduga Quinn akan mengambil keputusan itu sebab dialah orang yang paling menjaga dan merawat Savero, memastikan ayahnya tetap dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.


Setiap kali Quinn hendak keluar, dia akan mengunjungi Savero barang hanya berlangsung satu menit saja, untuk memperhatikan keadaan Savero.


Kedua alis Aston menurun, dia juga ikut sedih atas keputusan mendadak yang diambil Quinn "Beliau mengatakan hak itu sepenuhnya ada pada Lady dan dia akan menghargai apa yang membuat Lady merasa lebih baik. Mungkin dengan tinggal bersama Grand Duke dia akan lebih tenang."


Griiit


Kedua tangan Killian mengepal semakin kuat. Urat-urat dipunggung tangannya nampak jelas menimbul keluar "Dia ini benar-benar...!" Geramnya.


"Yang Mulia Savero membiarkan Lady Quinn pergi, setidaknya sambil mencoba cara ini yang mungkin saja bisa mengurangi tingkat depresi Lady Quinn sendiri. Amplop di bawah ini bukan berisi surat, tetapi obat yang Lady tinggalkan di laci kamarnya."


"Aku yang akan mengantar surat— tapi, aku sudah berjanji pada kak Penelope untuk pergi ke tempat lain." Killian dilema memikirkan dua kakak perempuannya. Kemungkinan besar Quinn tidak akan kembali jadi Killian harus memikirkan cara baru mengawasi kakaknya.


Finn hari ini tidak datang karena Savero yang memintanya setelah mempertimbangkan keadaan Quinn.


"Argh! Menyebalkan sekali!" Erang Killian kesal pada keadaan.


Aston tidak dapat berkata-kata, dia hanya tersenyum sembari menepuk pelan bahu Killian lalu pergi mengantarkan surat.


Penelope saat ini sedang meniduri ranjang tamu yang dipersiapkan dengan baik untuknya. Melamun sambil menatap atap kamar merupakan hal wajar yang nyaris semua orang lakukan ketika sedang gundah.


Penelope membuang nafas gusar "Aku tidak tahu kalau tubuhku sudah mulai kebal dengan obatnya." Lirihnya sambil mengelus bagian tengkuk yang masih terasa nyeri kala disentuh.


"Jika dilihat dari situasinya, Pangeran Sorrentine hanya akan datang sesekali ketika ingin bertemu dengan Quinn. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya lagi?" Garis bibir Penelope terangkat "aku yakin Quinn sudah menemukan pesanku."


#


"Aku akan pergi ke dekat pelabuhan. Selamat tinggal."


#


Quinn meremas kertas kecil di tangannya hingga kusut tak berbentuk, kata yang terangkai rapi oleh tinta hitam itu juga sulit untuk dibaca lagi.


Sudah hampir lima puluh kali Quinn membaca kalimat Penelope "sebenarnya apa tujuan dia menuliskan itu? Dia ingin menjebakku? Tidak mungkin dia ingin mencelakai Killian yang sudah dibutakan oleh kasih sayang palsunya itu 'kan? Lagipula untuk apa dia mencelakai orang yang sudah berada di bawah kontrolnya."


"Huh, kalau begini terus aku benar-benar akan depresi."


"Haruskah aku datang? Itu tidak ada hubungannya denganku."


"Kalau dia memang niat ingin pergi, kenapa pula dia susah-susah menginap?"


Quinn memandang ke luar jendela "kata 'selamat tinggal' itu yang memusingkan."


Dia terus bergumam, mengajukan pertanyaan dan menjawabnya sendiri.


Gadis cantik bersurai hitam itu turun dari kereta untuk membeli bunga Lily putih kesukaan ibunya semasa hidup dan akan ia bawa sebagai persembahan ke makam Sirena.


Melihat ada begitu banyak jenis bunga segar dan aromanya yang semerbak membuat pikirannya tenang sejenak. Menikmati salah satu keindahan alam tampaknya menjadi opsi yang perlu ia pertimbangkan.


"Quinn? Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini, lama tidak berjumpa!"


Quinn menoleh ke sumber suara di mana ada seorang pemuda tampan berjalan mendekatinya. Warna rambutnya yang seperti lansia dan iris biru sayu itu mengingatkan Quinn bahwa dulunya dia punya teman sepermainan "Izek?"


Namanya adalah Izeqiel de Sylvestria. Dia adalah putra pertama Marquess Sylvestria. Menurut Quinn nama Izeqiel sangat tidak praktis untuk disebut sehingga dia memberikan nama panggilan 'Izek' untuk memperpendek penyebutannya.


Dulu Quinn dan Izeqiel selalu bermain bersama. Semenjak mereka menginjak usia 15 tahun, keduanya tidak banyak meluangkan waktu untuk mengobrol. Izeqiel sibuk dengan sekolah dan pelajaran yang harus segera ia kuasai untuk menjadi penerus ayahnya. Sementara Quinn sudah mulai memperluas relasi, terlebih dia juga mulai mengenal Raiden dan menyerahkan seluruh yang dia punya hanya untuk sang pujaan hati.


Canggung? Ya, Quinn cukup malu untuk berhadapan dengan Izeqiel. Quinn melimpahkan seluruh perhatiannya hanya pada Raiden seorang dan berkomunikasi dengan Izeqiel seperlunya saja bahkan sesekali pula Quinn sengaja tidak membalas surat Izeqiel yang hanya ingin menanyakan kabar. Hubungan pertemanan mereka renggang karena Quinn yang secara tidak sengaja memutuskannya.


"Izek, apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku sedang mencari adikku. Aku harus mengantarkannya ke asrama lagi, tapi dia kabur begitu koper-koper nya sudah dimasukkan ke dalam kereta."


"Ah, begitu. Ke sekolah mana Iryssa belajar?"


"Dia sekarang bersekolah di Sekolah Kepribadian Putri milik Madam Suzette."


"Apa? Dia sendiri yang ingin bersekolah di sana?"


"Ahahaha ya begitulah, tapi sepertinya dia sedang malas bersekolah jadi dia tidak bersemangat untuk kembali ke asramanya."


Sekolah Kepribadian Putri adalah sekolah khusus bangsawan perempuan muda. Sekolah itu merupakan sekolah putri nomor satu yang didukung langsung oleh kerajaan perkembangannya.


Di sana tidak seperti sekolah atau akademi pada umumnya. Di sekolah ini para wanita muda akan diajarkan sungguh-sungguh seluruh aturan dan tata Krama sebagai bangsawan wanita yang elegan dan bermartabat mulai dari dasar hingga ke bagian inti.


Misal Tata krama dan sopan santun di atas meja makan, memegang cangkir teh, posisi yang benar saat duduk. Selain itu mereka juga akan mempelajari cara tertawa, berjalan, berbicara, membalas ucapan, dan sikap dasar lainnya.


Tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga mempelajari cara berdansa, berbicara melalui kode kipas tangan, memilih gaun yang tepat, dan masih banyak lagi.


Sungguh sekolah yang ketat bukan? Setiap harinya kau akan selalu diatur dan setiap hari pula kau akan terus mengulangi kegiatan yang sama tanpa jeda. Semua jam penuh dengan jadwal latihan. Dan semua itu akan berlangsung 2 tahun lamanya sebelum kau benar-benar terhitung bisa melakukan debut di kalangan sosial.


Meski begitu tidak semua anak-anak bangsawan masuk ke sekolah tersebut karena banyak yang tidak kuat dengan kedisiplinan yang luar biasa terjaga.


"Iryssa sungguh hebat. Sejak dulu dia sangat konsisten dengan impiannya ya," puji Quinn dengan senyuman bangga seperti yang seorang kakak rasakan, membuat Izeqiel terkesan dengan sikap Quinn "Y-ya begitulah dia."


Iryssa sejak dulu sudah mempelajari dasar-dasar menjadi wanita elegan nan anggun sendiri. Dia bahkan mampu bersikap lebih baik daripada Quinn di depan umum.


Bahkan Iryssa digadang-gadang akan menjadi bunga nya golongan kelas atas, sama seperti julukan yang diterima mendiang ibunya.


"Kau mau ziarah ke makam ibumu?"


"Ya, begitulah." Quinn segera membayar bunga yang dia pilih "Aku akan segera memberitahu Iryssa jika aku bertemu dengannya di jalan. Aku pergi dulu. Sampai jumpa, Izek."


Izeqiel tidak bisa bergerak dari tempatnya. Tangannya terangkat hendak menahan Quinn supaya tidak pergi tetapi kakinya seperti baru saja di lem dengan lem yang super kuat.


"Aku merindukanmu..." Tidak bisa dipungkiri, Izeqiel tak punya kelonggaran waktu sebanyak dulu. Sekarang dia bisa pergi pun karena adiknya tiba-tiba lari.


"Ada yang lain dari Quinn, apa aku baru saja membuat kesalahan? Dia tidak banyak tersenyum seperti biasanya." Izeqiel memperhatikan kereta kuda berlambang burung elang milik Shuvillian "Bagaimana ya...dia tampak seperti orang yang berbeda, auranya benar-benar..."


Tapi kemudian dia memahami bahwa selama mereka tidak bertemu lagi, kini usianya tak lagi sama. Sifat seseorang juga bisa berubah, bukan hanya umur saja yang berubah. "Dia seperti sudah tumbuh jadi wanita dewasa," Izeqiel tersenyum simpul.


Quinn kemudian mampir lagi ke toko kue untuk dia bawa ke makam Sirena juga. "Kakek mungkin akan mencemaskan ku, tapi tak apa. Aku hanya sebentar saja."


Dia pun memilih secepat kilat kue yang menurutnya bagus dan lezat. Dia kemudian berpesan pada pak kusir "Anda bisa menunggu saya di depan sana. Saya akan mencari beberapa barang lagi."


Sang kusir nampak ragu sekaligus tak tega membiarkan Quinn berjalan tanpa perlindungan siapapun "saya tidak akan lama. Anda bisa mengawasi saya dari sana."


"...baiklah, Lady."


Gadis berwajah manis itu sengaja mengambil langkah kecil, menikmati suasana di dekat daerah rumahnya yang berbeda.


Samar-samar Quinn mendengar suara yang tidak bisa dari jalan di belakang deret bangunan yang tengah ia susuri "Hm? Suara apa itu?" Suaranya tidak seperti. orang-orang yang asyik mengobrol tapi lebih seperti perdebatan.


"Ada yang berdebat? Itu bukan urusanku." Quinn melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti. Tetapi hatinya semakin berdenyut-denyut "Apa ini? Aku merasa sangat tidak nyaman."


Quinn kembali lagi sambil mendengus pelan "Kenapa aku sangat penasaran dengan hal tidak berguna seperti itu sih?" Gerutunya pada diri sendiri.


Quinn semakin meringankan kakinya agar tak terdengar, perlahan-lahan bangunan tak lagi menutupi gerombolan gadis bangsawan yang sepertinya sedang membully seseorang "Itu 'kan...?"