I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 26



"Yang Mulia, mari kita pulang sekarang." Felix selaku pendamping Quinn menawarkan tangan membantu Quinn menapaki tangga kereta. "Tuan Felix, bisakah kau mengantarku ke suatu tempat? hanya sebentar saja, boleh ya? ku mohon." Quinn menyatukan kedua telapak tangan di depan wajah, kedua netra unik nya dipenuhi oleh binar harapan.


Felix menghindari tatapan memelas Quinn dengan menunduk dan memejamkan mata. Terkesan tidak sopan memang, tetapi dia harus mencari cara agar gadis bertubuh mungil ini tidak menaklukannya. "Yang Mulia, Grand Duke sudah berpesan Anda harus pulang sebelum langit menjadi gelap." ujarnya tetap tegas.


"Kalian berdua 'kan ada bersamaku, jadi aku tidak khawatir kalau ada yang ingin menyerangku." Quinn menggenggam tangan Oliver, teman sesama Ksatria Felix. "Ku mohon, aku hanya pergi sebentar saja. Setengah jam saja, ya. Aku merindukan teman-temanku."


"Kami hanya mengikuti perintah dari Grand Duke, Yang Mulia. Sebaiknya Anda segera pulang mengingat luka Anda masih belum sembuh." Oliver rupanya masih lebih kuat menghadapi Quinn ketimbang Felix. Gadis itu menggembungkan satu pipinya, matanya berair menahan kecewa. "Begitu ya, kalian memang benar-benar setia, aku sungguh senang mendengarnya. Tapi, gangguan tidurku belakangan ini agak menyulitkan. Sebelum aku pindah ke rumah kakek, dokter bilang agar aku sering-sering mencari suasana yang menyenangkan."


Oliver dan Felix kompak berpandangan. Masalahnya mereka berdua telah berjanji pada Grand Duke mengenai jam keluar Quinn, jika dilanggar, bukan tidak mungkin mereka berdua lah yang akan kena amukan. Akan tetapi, melihat wajah memelas Quinn membuat mereka kesulitan menolak.


Felix berdehem guna membersihkan tenggorokan, "Baiklah kalau begitu. Anda sendiri yang mengatakan hanya pergi setengah jam saja." katanya berusaha mencari mencari keseriusan ucapan Quinn tadi. "Jangan buang-buang waktu, ayo cepat. Kalian sendiri yang menyia-nyiakan waktu dengan menyidang ku di sini." gadis itu lalu menggandeng tangan kedua Ksatria kakeknya pergi meninggalkan kediaman Shuvillian.


Hanya satu tempat yang ingin Quinn kunjungi, yaitu keluarga Kennedy, untuk memastikan sesuatu yang tidak bisa disampaikan perantara.


Oliver dan Felix tampak bingung karena tempat yang dituju jauh dari pusat kota. Memakan waktu kurang lebih setengah jam dari rumah Savero, itu artinya mereka akan pulang lebih terlambat jika pulang ke istana Lombardia.


"Aku akan cepat selesaikan ini, kok. Tenang saja."


Quinn mengetuk pintu kayu yang agak rapuh dari sebuah bangunan kecil dan tua namun terawat itu. Seorang gadis muda seusia Quinn menampakkan diri dari balik daun pintu yang bergerak terbuka. "Lady!!" seru gadis berambut kecoklatan itu senang. Tidak sadar dia langsung memeluk erat tubuh wangi Quinn guna melepas kerinduan. "Lady, sudah lama kau tidak kemari. Aku pikir kau sudah melupakan kami di sini."


Ibunya, Gloria Kennedy, menasihati putrinya yang sembarang memeluk seorang bangsawan yang tidak selevel dengan status rendah mereka. "Vivy, kau tidak boleh sembarangan begitu. Kau bisa menyebarkan kuman ku ke Lady Quinn, tahu." omelnya sembari menarik punggung Vivy menjauh dari Quinn. "Maafkan saya, Lady. Dia ini memang sangat bandel, saya sudah lelah menasehatinya setiap hari.".


"Tidak apa-apa, aku juga sudah lama tidak datang ke sini. Aku merindukan kalian, aku harap kalian baik-baik saja."


Tangan Quinn sedikit gemetar. Ini pertama kalinya dia bertemu lagi dengan keluarga Kennedy setelah dia hidup kembali. Mereka lah yang selalu mengerti Quinn, berada di tengah-tengah keluarga sederhana yang penuh kehangatan seperti di rumah mereka membuatnya tenang.


"Mari kita masuk ke dalam, saya tahu Anda ingin membicarakan sesuatu yang penting. Tapi mohon maafkan saya, Lady. Saya tidak bisa menyiapkan hidangan yang pantas untuk Anda."


Quinn terkekeh pelan, Gloria memang orang yang sangat penyegan meski dia sangat ramah dan hangat. "Aku selalu suka ubi manis rebus di rumah ini. Aku harap aku bisa membawanya pulang." itu bukanlah suatu kebohongan. Makanan para bangsawan rata-rata bercitarasa sama dan itu membosankan. Lagipula lebih sehat makan makanan rebusan apalagi hasil panen sendiri.


Oliver dan Felix berdiri di depan pintu rumah Kennedy untuk berjaga sekaligus menunggu sampai majikan mereka selesai dengan urusannya. Sejak dulu Felix sudah tahu bahwa Quinn memang lebih suka menambah relasi dengan orang-orang yang tidak akan dijangkau oleh para bangsawan lain, oleh sebab itu Quinn tidak memiliki satupun teman sesama bangsawan kecuali Raiden dan Izeqiel.


"Jadi, bibi Gloria sudah dengar semua 'kan?" Quinn mempersingkat waktu.


"Ya, Lady. Saya sangat berterimakasih kepada Anda yang telah mempercayakan saya pekerjaan sebesar ini, Anda bahkan memuji saya di depan bangsawan tinggi," Gloria berkaca-kaca, dia tidak bisa mendeskripsikan apa yang sedang dirasakan.


"Tidak apa-apa. Bayaran yang Izeqiel berikan nantinya, semua adalah milik kalian." Quinn mengeluarkan botol kaca kosong setinggi jari manis dari kantung roknya. "Terima kasih, Vivy. Obat itu sangat membantu."


Vivy mendadak berlutut di depan Quinn dan menggenggam kedua tangan gadis itu erat. "Lady, kau tidak meminumnya 'kan?! itu benar-benar obat percobaan saja, aku takut prediksiku soal obat itu salah. Kau tidak meminumnya, 'kan? walaupun aku sudah memberikan obat penawarnya juga, tapi..."


"Percaya dirilah. Dari bahan yang kau pakai, semuanya sudah jelas kalau peminum hanya akan merasa sesekali sakit selama sebulan. Jika meminum ini, gejalanya akan hilang. Kau tidak perlu khawatir karena aku sudah punya kelinci percobaan gratis."


Senyum penuh makna yang ditampakkan Quinn membuat ibu dan anak Kennedy itu saling pandang heran. Membayangkan Penelope yang selalu dibayangi kematian membuat perut Quinn tergilitik sehingga dia tidak dapat menahan dan tertawa cekikikan sendiri. "Lady, kau baik-baik saja?" tanya Vivy keheranan.


"Ya, maaf. Aku hanya mengingat sesuatu." kata Quinn sambil berdehem malu. Kedua pipinya bersemu merah jambu. Dia kemudian kembali serius, tangannya yang digenggam Vivy ia angkat untuk mengelus puncak kepala coklat gadis tersebut. "Kau sudah membaca surat pengantar ku yang dikirim Finn tadi?"


"Y-ya, tapi Lady, apakah aku bisa melakukan pekerjaan seberat itu? aku takut mempertaruhkan nama baik mu dan keluarga."


"Sekarang aku tanya padamu. Cita-cita mu apa?"


"Um, jadi peracik obat terhebat. Aku ingin membantu masyarakat mengatasi kesehatan mereka tanpa perlu membayar mahal. Jadi mereka bisa menggunakan uang itu untuk makan saja."


Quinn tersenyum menanggapi cita-cita besar yang dimiliki Vivy. Vivy Kennedy memang sudah berulang kali mengatakan hal yang sama. Gadis lugu namun pemberani itu sedikit demi sedikit berusaha mengejar mimpinya. Terbukti dari tanaman herbal yang dia tanam, seharusnya lahan itu diisi semua oleh tanaman pangan seperti yang Gloria dan Benedict (ayah Vivy) lakukan.


Tidak jarang Vivy membantu para tetangganya dalam pengobatan, akan tetapi dia tidak bisa terlalu sering melakukannya sebab jika sampai ketahuan maka dia akan dikenai hukuman. Alasannya? alasan dihukum itu karena Vivy terhitung menjual dan mengedarkan barang ilegal.


Untuk menjual pun mereka harus memiliki sertifikasi agar tidak dianggap sebagai jual-beli barang ilegal. Namun, mereka tetap harus membayar surat izin usaha itu yang biayanya cukup mahal bagi mereka yang pekerjaannya hanya sebagai petani.


"Visi itu juga sejalan dengan pabrik yang akan kakekku jalankan, Vivy. Yah walaupun kau tidak bekerja membuat obat-obatan. Sebelum kau benar-benar bekerja di sana, aku ingin kau melakukan les kilat sampai pabriknya selesai dibangun."


"Aku merasa jantungku akan meledak, Lady."


Senyuman Quinn melebar hingga membuat kedua matanya terlihat menyipit. "Aku tahu kegugupanmu. Tapi apa iya kau mau melewatkan kesempatan emas ini?. Anggap saja pabrik itu adalah batu loncatan untuk bisa mengejar mimpimu sebagai seorang peracik obat terhebat."


Quinn kurang lebih sudah menjelaskan rencana pengolahan di pabriknya lewat surat yang diterima Vivy duluan sebelum kedatangannya kemari. "Aku tidak bisa memaksa jika kau memang tidak ingi—"


"Aku mau!" potong Vivy dengan cepat. "Aku suka mempelajari hal baru. Mengekstrak minyak dari tanaman itu tidak pernah ku lakukan dan aku ingin belajar melakukan itu." sorot matanya mantap menatap gadis berambut hitam panjang yang duduk di kursi di hadapannya itu.


"Bagus. Kau sudah membaca alamat itu 'kan? datanglah ke sana di hari-hari yang sudah ku sebutkan. Ingat, usahakan datang secara rahasia. karena itu adalah tempat tersembunyi yang tidak boleh ada banyak orang yang mengetahui."


"Baik, aku mengerti."


"Segera setelah selesai les, aku akan mendaftarkan namamu ke lembaga usaha."


Gloria tiba-tiba menyusul putrinya bersimpuh di hadapan Quinn sambil menangis haru. "Saya tidak dapat mengungkapkan berapa besarnya rasa berterimakasih yang saya punyai dalam hati ini, Lady."


Jujur saja, Quinn merasa tidak nyaman menerima perlakuan mereka yang berlebihan. Quinn justru merasa dirinya seperti sedang disembah padahal dia hanya seorang manusia biasa— ah, ya tidak terlalu biasa. "Kalian berdua tidak boleh melakukan ini. Kalian pantas mendapatkan hasil dari kerja keras kalian selama ini."


"Tapi jika bukan karena bantuan Anda, kami belum tentu dapat meraih mimpi kami. Untuk berandai-andai saja kami takut."


"Bibi Gloria, kau itu terlalu sungkan. Aku sering menyulitkan kalian di sini, ini waktunya aku sedikit menunjukkan rasa terima kasihku pada kalian yang sudah mengajariku banyak hal."


Gloria dan Vivy pun duduk di kursi setelah Quinn memaksa mereka bangkit. "Lady, apa yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikanmu ini?" tanya Vivy.


"Hm, aku ingin kalian melakukan sesuatu untukku."


"Apa itu?"


Quinn menyeringai lalu menjawab, "Aku ingin kalian menyulut api untukku.".


Gloria dan Vivy kompak membeo, " Menyulut api?".


"Biar aku jelaskan sedikit." Quinn mengecilkan volume suaranya seraya mencondongkan badannya mendekat ke mereka berdua. Dia berbisik menjelaskan apa yang perlu mereka lakukan setelah Quinn pergi dari sana.


Selepas menjelaskan semua, Vivy dan Gloria membelalakkan matanya tak percaya. "Mengapa Anda meminta kami melakukan hal buruk begitu pada Anda, Yang Mulia? Anda tahu itu akan membuat Anda dipandang sebelah mata oleh orang lain termasuk kaum bangsawan lain."


"Aku tahu, itulah tujuanku meminta tolong pada kalian. Tidak perlu khawatir, mentalku cukup kuat. Lagipula aku sudah terkena banyak isu miring. Ini bukan pertama kalinya."


"Tapi..."


"Kalian sendiri yang dari tadi memaksaku untuk menerima imbalan. Sekarang aku sudah meminta tapi kalian yang begini, itu agak melukai perasaanku."


"A-ah kami tidak bermaksud begitu, Lady. Tolong maafkan kami. Kami akan melakukan apapun yang Anda minta."


"Itu melegakan. Aku akan mengandalkan kalian." Quinn beranjak berdiri, waktunya sudah habis. Dia tidak bisa terlalu lama karena ada satu lagi tempat yang ingin dia lihat sebelum pulang ke istana Lombardia. "Aku akan pulang sekarang. Terima kasih sudah menjamu ku dengan baik."


Quinn keluar dengan riangnya, dia menepuk lengan Felix. "Ayo pulang. Oh, sebelum itu, aku ingin melihat butik dulu."


"Baik, Yang Mulia."


Saat kereta yang dinaiki Quinn telah meninggalkan area rumah, Vivy keluar dari rumah dan menonton kereta itu sampai jauh. Gadis ceria itu melirik ke seberang jalan di mana ada seseorang yang memperhatikan.


"Vivy, apakah itu Lady Shuvillian?" Gloria keluar lewat belakang rumah, berpura-pura baru pulang dari ladang belakang rumah. "Ya, ibu."


Gloria menatap jalanan yang dilalui oleh Quinn. "Untuk apa dia datang kemari? bukankah kemarin baru saja dia diserang bandit? aku dengar dia terluka parah, bagaimana bisa dia jalan-jalan ke sini?" tanya nya heran.


"Aku juga tidak tahu. Dia datang hanya untuk berkunjung setelah sekian lama tidak ke sini." jawab Vivy sambil menggaruk pelipisnya. Dia kemudian memelankan suara seolah sedang membicarakan hal yang kontroversial. "Mungkin dia berbohong soal lukanya. Dia hanya ingin menerima perhatian Putra Mahkota lebih dari biasanya. Kita sebenarnya juga tahu kalau Lady Quinn tergila-gila dengan Pangeran."


"Tapi caranya terlalu nekat."


"Ibu ini seperti tidak tahu anak muda sekarang saja. Kita akan melakukan apapun untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang kita sukai."


"Itu sedikit ekstrim. Jika Lady Quinn meneruskan sikapnya yang sekarang, aku berharap bukan dia yang jadi Ratu negara kita."


Wanita berwajah judes dengan gaun bangsawan segera pergi setelah mendengar gosip yang dibicarakan ibu dan anak itu. Dia meninggalkan keduanya dengan seringai terpatri di wajah menyebalkannya. "Ini berita yang bagus." lirihnya.


["Kalian berdua bertetangga dengan Baron Viridescens. Baroness adalah orang yang paling tidak menyukai ku, bukan sepenuhnya tentang aku tapi karena aku adalah anak ibuku, Sirena."


"Lalu, kami harus apa?"


"Sebarkan gosip tentangku yang terobsesi memiliki Raiden. Tidak masalah, kalian tidak usah memperhalus bahasa kalian, lakukan saja seperti penghujat ulung. Aku sudah mendengar gosip itu sebelum menyuruh kalian melakukan ini."


"Tapi mengapa Anda melukai citra Anda sendiri, Lady?"


"Karena Baroness pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkan aku dan keluargaku. Aku akan mempermalukan nya."


"... Lady?"


"Aku tidak apa-apa."


"Sebenarnya apa tujuan Lady melakukan ini semua?"


"Menguji Raiden, mungkin? kalian tidak perlu memikirkan hal lain. Pikirkan saja bagaimana cara menyebar isu tentang ku. Sejak tadi sudah ada banyak pasang mata yang mengawasi setiap gerakanku. Itu karena aku keluar masih dengan perban dan plester."]


Gloria dan Vivy berhasil memperdengarkan berita yang di mau oleh Baroness Viridescens. Setelah cukup jelas mendengar itu, Quinn sudah menerka bahwa dia besok akan menggunjing dirinya di perkumpulan para wanita bangsawan.


Tujuan utama Quinn membiarkan gosip tak mengenakkan menyebar adalah untuk membantu nama Penelope lebih naik, sebab Raiden juga sedang berusaha memegang kendali atas saudari sepupunya itu untuk menyerang Quinn dan membuatnya tak berdaya.


Selain itu, dia ingin melihat reaksi Raiden. Setelah tahu reaksi yang diberikan oleh si Putra Mahkota, Quinn akan bisa mendapat gambaran yang jelas soal tujuan Raiden yang sebenarnya.


Lalu untuk si keluarga Baron sendiri, Quinn ingat jelas masa lalunya. Keluarga Viridescens adalah pemicu permasalahan tambang emas Savero menjadi turun nilainya karena mulut mereka yang tidak punya adab. Sebelum itu terjadi, Quinn harus lebih dulu menunjukkan wajah asli mereka di hadapan kaum elit.


Quinn sudah memperkirakan jika Raiden membelanya, maka Baron akan mendapat masalah besar terkait dengan pamor mereka di antara para bangsawan. Seperti yang sudah kita tahu, citra baik adalah hal terpenting nomor satu bagi kaum bangsawan untuk dijaga. Rumor adalah masalah terbesar dan termudah untuk menjatuhkan martabat seorang bangsawan.


Kereta kuda keluarga Lombardia berhenti di depan butik yang ditunjuk Quinn. "Anda ingin membeli gaun baru?" tanya Felix bingung.


"Tidak. Aku hanya ingin melihat gaun incaran ku, apakah masih ada atau tidak."


"Oh begitu."


Mata Quinn bergerak secepat kilat menyapu seluruh isi butik hanya lewat jendela besar tokonya. "Haha sudah ku duga. Aku tidak akan melihatnya lagi kecuali Penelope memakainya."


Gaun yang Quinn maksud adalah gaun yang saat itu dia bicarakan dengan Raiden. Kalian ingat saat di mana Raiden tertipu oleh surat palsu Quinn yang berniat menemui Izeqiel? saat itu Raiden menghalanginya dengan mengajak Quinn berjalan-jalan di alun-alun kota.


Mereka berdua melewati butik ini dan Quinn menunjuk sebuah gaun berwarna biru gelap dengan kilau permata di bagian dadanya. Itu gaun mewah yang bisa dipakai untuk acara pesta. Quinn bilang ingin membelinya untuk datang ke pesta teh yang diadakan Raiden.


"Sekarang sudah tidak ada. Dia benar-benar ingin membuatku cemburu, huh? tidak akan. Aku akan jadi dewa cinta kalian." Meski mulutnya kuat berucap, hati tak bisa bohong. Sesak sudah pasti dia rasakan, tetapi Quinn menyangkal itu dengan mengingat pengkhianatan mereka berdua.


Tujuan Quinn bukan untuk balas dendam semudah yang sudah biasa protagonis dalam novel lakukan.


"Felix, ayo kita pulang sekarang."


"Baik, Yang Mulia."


Sepulang dari rumah Kennedy, Quinn disambut oleh para pelayan wanita yang tampaknya sengaja dikumpulkan di aula oleh Bastien. Evan datang menghampiri Quinn. "Yang Mulia, Putra Mahkota ada menitipkan suatu bingkisan untuk Anda. Saya sudah menaruhnya di kamar Anda."


"Begitukah? aku tidak sabar membukanya. Raiden sangat tahu kalau aku sedang membutuhkan kejutan."


Aku tidak sudi menerima hadiah darinya lagi.


Brak!


Pintu kamar Quinn ditutup oleh sang empunya dengan agak kasar. "Suasana hatiku jadi buruk." gumamnya seraya membuka jendela balkon.


Finn turun dari dahan pohon lalu segera masuk begitu Quinn memberi jalan. "Kau telat, Lady."


Rupanya dua insan tersebut telah membuat janji temu di balkon kamar Quinn. Saat ini semua pelayan sedang dikumpulkan oleh Bastien di aula istana Lombardia, Evan pun akan sibuk membantu sehingga tidak ada yang mengawasi kegiatan Quinn.


"Maaf, aku sedang memastikan sesuatu. Jadi, kau sudah tahu emblem itu milik siapa?" tanya Quinn tidak bertele-tele.


Finn tersenyum sambil menggosok ujung hidungnya, "Bolehkah aku mendapat pujian terlebih dulu?"