I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 33



Floyd meletakkan dayung di tangannya. "Bagaimana Anda tahu soal kondisi Baginda Raja? selama ini hanya orang dalam istana saja yang mengetahuinya. Apa Anda menaruh mata-mata di sekitar Raja?!" rahangnya mengeras seakan tengah menahan emosi.


Quinn terkekeh seraya menjentikkan jari menunjuk pemuda keren itu, "Mana mungkin. Kau sendiri tahu betapa besar kontrol Raiden di istana. Aku hanya sedang menerka, sebenarnya obat macam apa yang dibuat Tuan Gray sampai dia yang disebut-sebut peracik obat terhebat tidak bisa menyembuhkan Raja."


Floyd menghela nafas berat, "Anda tidak perlu ikut campur. Gadis lemah seperti Anda hanya akan berakhir dipenjara tanpa membuat kemajuan yang berarti." sudah puluhan kali Floyd meminta pada Raiden untuk mengganti dokter dan pengeracik obatnya, tetapi tidak ada hasil.


Quinn tidak menyangkal ataupun membalas ucapan Floyd. Lelaki berusia sembilan belas tahun itu kelihatan sangat berhati-hati dan tidak mau terlibat dalam masalah berbahaya. Raiden itu kejam walau dia memiliki wajah yang dielu-elukan oleh masyarakatnya sebagai penggambaran wajah Dewa. "Apa kau tidak pernah merasa curiga dengan sikap Raiden yang seperti itu? mungkin saja Raiden lah yang membuat ayahnya sendiri sakit?"


Floyd merengut tidak suka. "Anda jangan bermain-main, Lady. Saya tidak pernah sekalipun berpikir begitu. Lagipula mengapa Anda tiba-tiba bersikap seolah Anda sedang mencoba menentang Pangeran padahal jelas sekali bahwa Anda selalu menempel seperti benalu padanya."


Orang ini sejak tadi ku perhatikan selalu saja menjelekkan ku.


"Jadi kau tidak mau bekerjasama denganku? tidak masalah." Quinn menunjukkan sebuah botol serum kecil berisi cairan berwarna kehitaman, "Apa obat semacam ini yang dibuat oleh Tuan Gray?"


Floyd membeliak, kapan gadis itu sempat mengambil botol obat yang dibuat Gray sementara selama ini yang boleh menemui Gray di ruangannya adalah Raiden? Floyd menelan ludahnya, "Bukankah itu...?".


Quinn menuang cairan dalam botol serum itu ke air mengalir di bawah kapal kecil mereka. Air berubah menjadi hitam keruh dan tampak sangat beracun. Tidak butuh waktu yang lama sampai mereka bisa lihat ikan-ikan kecil yang tidak sengaja tengah melintas langsung mengapung ke permukaan air. "Menurutmu bagaimana?" Quinn menunggu jawaban Floyd yang terdiam karena terlalu syok.


Pembuktian tersebut masih coba Floyd sangkal. Bukan karena menganggap Quinn merekayasa, untuk saat ini Floyd hanya memikirkan nasib Raja yang telah menyelamatkannya dari musibah sehingga dia bisa hidup hingga detik ini malah terbaring sakit akibat obat yang fungsinya justru setara dengan racun. "Bisa saja Anda yang membuat cairan itu untuk menipu saya agar Anda bisa memanfaatkan saya. Sudah lebih dari tujuh tahun saya hidup bersanding dengan para bangsawan picik."


Quinn lalu melempar botol itu ke arah Floyd. Botol obat istana terbuat dari bahan yang berbeda, terdapat cap lambang kerajaan di bagian bawah botolnya. "Ini milik istana," gumam Floyd. Iris keabu-abuannya menatap lurus objek di depan matanya, "Bagaimana Anda bisa menyusup ke dalam sana?"


"Kau tidak perlu tanya 'bagaimana' nya. Hanya kau dan aku yang mengetahui kebenaran ini. Tidakkah kau ingin mencari tahu sebenarnya bahan apa yang dijadikan obat oleh Tuan Gray? aku mungkin bisa membantumu menyelamatkan Raja. Kau merasa berhutang budi pada beliau, bukan begitu? ini kesempatan yang bagus untukmu membuktikan bahwa kau bukan manusia yang tidak tahu bagaimana cara balas budi."


"..."


"Adikmu..."


"Ya?"


""Adikmu bersekolah di sekolah Kepribadian Putri, iya 'kan? Bukankah dia bisa bersekolah dan makan enak juga karena bantuan dari Yang Mulia Raja? Apakah kau akan tetap memilih untuk menutup mata dari kebenaran dan membiarkan Raja mati tersiksa secara perlahan? Kalau aku jadi kau, aku pasti sangat malu sampai ke urat nadi da—"


"Hentikan!" Floyd menggeram marah, tangannya terkepal kuat dan kini ia memelototi Quinn yang tengah memamerkan senyum meledek padanya.


"Mengapa kau membentak ku begitu? tadi kau melakukan hal yang sama tapi aku diam saja dan menerima semua cibiranmu," Quinn menatap lurus ke mata Floyd tanpa rasa takut, "Jika kau tidak membantuku ya tidak masalah, tapi bersiaplah untuk kemungkinan terburuknya."


Floyd menyeringai marah, urat-urat muncul di rahang dan lehernya. "Jadi Anda mengancamku, eh?! memangnya apa yang mau Anda lakukan?"


Quinn menjetikkan jarinya ke udara, "Aku dekat dengan Raiden. Dia selalu mendengar tiap keluh kesahku, mungkin aku bisa membantu wakil Raja mencabut kenikmatan yang kau dapatkan dari uangnya. Adikmu juga tidak perlu bersusah-payah belajar etika bangsawan, karena dia pada dasarnya hanya rakyat biasa—"


Sriiing


Floyd mengeluarkan pedang dari sarungnya dan menodong mata kanan Quinn. "Saya tidak bisa mendengar ocehan Anda lagi. Ini sangat membuang waktu. Semua bangsawan selalu menyombongkan status mereka seolah mereka sangat spesial dan tidak akan bisa mati juga sama seperti kami. Lagipula kasta tinggi itu tidak membuat kalian kekal abadi. Saya sangat muak dengan golongan kalian. Memangnya apa untung yang saya dapatkan dari membantu Anda?"


Quinn tertawa licik, "Kau bicara soal untung? Sejak dulu kau sudah dapat untung saat Raja mempercayaimu sebagai Ksatria nya, benar 'kan? Kau tidak perlu mengotori tanganmu karena aku yang akan melakukan semua pekerjaan." Dia menarik mata pedang Floyd mendekat hingga menyisakan jarak hanya satu centi dari bola matanya, "Aku akan menyerahkan mata kananku padamu jika ini tidak berhasil atau malah membahayakan posisimu sebagai Ksatria tinggi."


"Hahahahaha ini sangat menarik," Floyd tertawa keras sampai matanya basah. Pemuda itu menyeka airmata yang mengalir dari sudut matanya, "Gadis yang tahunya hanya bermain-main sekarang sedang mencoba menantang maut dengan mencari masalah. Tidakkah Anda terlalu percaya diri? Anda bahkan tidak memiliki bukti apapun. Anda juga tidak memiliki dukungan. Saya tidak yakin Anda akan selamat."


Quinn diam tak menjawabnya. Floyd memang benar, caranya yang terbilang nekat akan dilihat seperti pemberontakan yang asal-asalan. Kemungkinan gagalnya seimbang dengan sukses yang akan di dapat. Namun, Quinn pernah hidup satu kali dan telah menyaksikan kejadian apa saja yang terjadi di istana.


"Maaf, Tuan Floyd. Anda tidak bisa melihat apa yang saya lihat, jadi Anda tidak mengerti atas dasar apa saya mengambil keputusan ini." Floyd tidak berkutik melihat keseriusan Quinn dalam berucap. Gadis cantik itu bahkan mengubah gaya bahasa yang dipakai menjadi sangat formal sampai membuat Floyd merasa tidak nyaman mendengarnya.


Ksatria bertubuh kekar itu akhirnya menghela nafas pasrah, "Huh... Saya mengerti. Saya juga sungguh akan mengambil mata Anda tidak peduli seberapa banyak orang yang akan menghalangi, termasuk Putra Mahkota." Tegasnya.


Quinn pun mengangguk setuju. Tidak masalah baginya untuk kehilangan satu mata.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan?"


"Mudah saja. Bantu aku menyusup ke ruangan Tuan Gray. Aku akan lakukan semuanya sendirian, kau hanya perlu menyingkirkan para mata-mata itu dari sana."


"Mata-mata Putra Mahkota sangat banyak. Apa yang harus kita lakukan untuk membuat mereka lengah?"


"Serahkan padaku."


"Baiklah."


Quinn merekayasa obat itu. Dia tak pernah bisa masuk ke dalam ruangan Gray yang dijaga ketat, botol yang di dapat Quinn adalah botol obat yang Raiden bawakan untuk mengobati luka di punggungnya. Sedangkan isinya sudah jelas dia meminta Christian untuk bereksperimen, Quinn mengandalkan ingatan warna obat terakhir yang berhasil membunuh Raja.


Sementara saat ini dia sudah mengantongi informasi dari Rupert soal Gray Morrison. Hanya perlu mengancam lagi dan lagi.


Dia kelihatan akan mengkhianati aku..


"Cepatlah, Lady."


Quinn melompat dari sampan yang mereka naiki dan menenggelamkan dirinya. Tenang saja, Quinn bisa berenang, dia hanya sengaja meminum lebih banyak air untuk membuat pingsan nya terlihat lebih natural.


Tadinya dia berniat begitu, sayangnya hal tak terduga terjadi. Quinn justru baik-baik saja, dia bisa bernafas di dalam air. Corak keemasan dalam netranya justru bisa menangkap bayangan para roh spirit air yang mengelilinginya dengan penuh senyuman seolah tengah merangkul dan memberi pertolongan padanya.


Hei, aku sedang menjalankan rencanaku, tahu. Daripada mengganggu begini, bisakah kalian bantu aku?


{Mengapa kau menaruh dirimu sendiri dalam bahaya?}


Kalau tidak begini, mereka tidak akan bisa ku bodohi.


{Kau adalah anak yang dicintai Dewa. Tentu saja kami akan membantumu, kami tidak akan membiarkanmu mati.}


Blurb...


Floyd ikut terjun ke dalam untuk mengangkat tubuh Quinn. Dia memeluk tubuh gadis itu dan segera mencapai permukaan. Floyd berusaha mengatur nafas, "Dia tenggelam terlalu dalam. Apa ini juga rencananya? Lady. Lady, Anda mendengar saya?"


Tidak ada jawaban.


"Sepertinya dia sungguhan pingsan. Bagaimana dia akan menyusup kalau begini?"


Floyd membopong tubuh Quinn kembali ke daratan. Pendayung, tukang kebun, dan dua pelayan wanita yang merupakan bawahan Raiden juga telah menunggu di tempat awal mereka mulai. Mereka berempat segera menghampiri. "Astaga, Tuan Floyd. Apa yang terjadi? mengapa kalian berdua basah begini?"


"Apakah Lady Quinn pingsan?"


"Ya. Kapal kami sedikit terguncang dan Lady tidak sengaja terjatuh. Saya rasa gaun yang dipakai sangat menyulitkan, bisakah kalian urus dia?"


Dua pelayan wanita itu segera memandu jalan menuju ke sebuah kamar tamu. "Saya akan keluar. Kalian bisa urus Lady Quinn."


Dua pelayan itu langsung berbisik-bisik membicarakan soal Quinn begitu Floyd meninggalkan ruangan. "Aduh, bagaimana ini? apa kita perlu membawakannya gaun baru?"


"Tapi kita tidak memiliki gaun di sini. Oh, tapi kita bisa bertanya pada kepala pelayan."


"Lagipula dia ini ada-ada saja. Selalu ada kesempatan baginya untuk bertindak bodoh. Apa sebegitunya dia ingin diperhatikan Putra Mahkota?"


"Kau benar. Dia ini pantas dipakaikan seragam pelayan saja."


Salah seorang darinya berinisiatif pergi bertanya daripada terlalu lama membiarkan Quinn berlama-lama memakai gaun yang basah kuyup. "Aku akan pergi. Kau nyalakan saja perapiannya," perlu diakui meski mereka bicara buruk tentang Quinn, tetapi mereka tidak melupakan pekerjaan yang sudah menjadi tanggungjawab mereka.


"Aku mengerti. Cepatlah kembali."


Butuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk ke asrama dan kembali lagi ke kamar tamu sebab ruangan di istana sangat banyak dan istana Ethereal sangat besar. "Ya ampun, mengapa pula aku membuat api di siang bolong begini? aku perlu melapor pada yang—"


"Terima kasih sudah memberikan ku ide yang bagus."


"Eh?!"


Quinn memukul tengkuk pelayan itu sampai dia pingsan tanpa sempat memikirkan apa yang sedang terjadi. "Tanganku sudah mulai kokoh, mungkin aku bisa memegang pedang."


Quinn beruntung karena wanita pelayan itu memiliki warna rambut yang sama dengannya, walau mata berbeda. "Aku bisa menyembunyikan mata ini tidak ya?"


{Bisa. Kami sudah bilang akan membantu, 'kan? Quinn, kami akan menutupi warna matamu jadi kau tidak perlu takut lagi.}


"Mengapa sekarang aku bisa mendengar suara spirit lebih jelas?"


{Karena kebangkitanmu sudah dekat, jadi kau semakin dekat dengan kami pula.}


Sungguh ajaib. Ketika Quinn berkaca, matanya tak lagi mencolok justru seperti manusia pada umumnya. "Tidak ada waktu mengagumi, aku harus bergerak cepat. Maaf, tapi aku harus meminjam bajumu," Quinn melucuti pakaian seragam pelayan itu dan segera menyembunyikan tubuhnya di dalam lemari kosong. Sebelum itu, Quinn terlebih dahulu meminumkan obat.


"Oh, ini keberuntungan besarku. Dia rupanya yang membaca kunci pintu ini."


Hanya perlu memakai masker dan dia siap untuk keluar.


"Haha, sudah kuduga dia akan meninggalkan ku sendirian. Sejak awal aku memang tidak bisa mempercayai dia."


Dia bersikap santai layaknya pelayan yang telah lama mengabdi untuk istana dan mempercepat jalannya. "Hei, Nola!" tukang kebun yang bekerja di taman belakang istana itu menghampiri Quinn yang sedang menyamar. "Ya, ada apa?" Quinn tetap tenang walau tidak mengetahui namanya.


"Mengapa kau keluar? siapa yang mengawasi Lady Quinn?" tanyanya waspada.


"Aku sudah mengunci pintunya, lagipula aku masih menunggu gaunnya datang. Aku mau mengganti pakaian, kau lihat ini, aku terkena banyak abu saat menyalakan perapian. Wajahku juga jadi menghitam. Uhuk! uhuk!"


"Ah kau ini, sering sekali ceroboh. Ya sudah, biar aku yang menjaga pintu sampai kau kembali."


"Terima kasih, aku akan kembali secepatnya."


Fyuuh, untung saja dia tidak segera mengenaliku.


Quinn meluncur menuju ruangan Gray yang jaraknya tidak jauh lagi dari tempatnya sekarang. Terdapat dua penjaga yang berdiri di depan pintu, "Tuan Gray sudah seperti tahanan saja. Apa dia sungguhan betah bekerja di sini?"


Gadis pintar itu maju ke sana dengan percaya diri, "Hei, apa yang kau cari?" tanya salah satu penjaga. Mereka berdua saling berpandangan lalu menatap Quinn lagi, "Mengapa kau memakai masker begitu?"


"Hidungku sedang gatal dan perih sekali, aku tadi tidak sengaja membuat abu perapian berantakan," Quinn bergegas mengganti topik untuk mempersingkat waktu. "Tuan Floyd baru saja meminta tolong pada kalian untuk datang ke tepi sungai. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu yang penting, aku dengar dia menemukan botol obat istana di sana."


"Apa?! bagaimana bisa?"


"Sebaiknya kita cepat lihat."


"Kau saja yang pergi, aku akan tetap di sini. Kita berdua tidak bisa pergi bersama."


"Baiklah."


Satu penjaga pergi. Namun Quinn belum bisa masuk ke dalam karena masih ada seorang yang menjaga pintu. "Ugh, mataku sakit sekali!" rintih Quinn sambil mengucek matanya. Dia menunduk agar dapat membersihkan abu yang masuk ke dalam mata.


"Hei, kau baik-baik saja? perlu aku bantu, Nola?" penjaga tersebut merendahkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Quinn.


Quinn langsung meniup serbuk pembuat pingsan ke wajah penjaga tersebut. Setelah dia terjatuh, Quinn tidak lupa meminumkan obat kepadanya untuk menghapus ingatan.


Kriieeet


Gray, pria berusia empat puluh tahun itu melirik sekilas ke arah pintu. Yang dia tangkap dari sudut matanya hanya seorang wanita berpakaian pelayan. "Ini belum waktunya makan siang, 'kan?" Gray fokus membuat ekstrak dari anggrek hitam langka ke dalam tabung reaksi.


"Lama tidak berjumpa, Tuan Gray."


Pria tadi langsung kehilangan konsentrasi setelah mendengar suara halus gadis yang sangat dia kenali.


Gray mengangkat wajah memandang ke arah pintu yang sudah tertutup, "Lady...? bagaimana Anda bisa ada di sini?"


"Dengan sedikit usaha," Quinn menghampiri meja kerja Gray. Pria itu masih memandangi Quinn keheranan. Gadis kecil ini bisa menerobos penjagaan? apa yang dia lakukan? untuk apa dia datang menemuiku? itu yang saat ini Gray pertanyakan dalam dirinya. "Aku lihat kau sedang sibuk membuat obat. Apa ini obat untuk Baginda Raja?"


"A-ah iya, benar." Gray memindahkan beberapa bubuk di mejanya ke dalam laci.


"Tuan, boleh aku mengetahui bahan-bahan apa saja yang Tuan pakai untuk membuat obatnya?" Quinn sudah tahu Gray tidak akan mengatakannya karena itu tidak berguna. Orang awam tidak akan paham macam-macam herbal dan cara pengolahannya. "Maaf, Lady. Saya sedang dalam jam kerja. Bisakah Anda menunggu di sana dulu? saya akan menjawab semua pertanyaan Anda nanti."


Gadis yang berteman dekat dengan Raiden itu mengerucutkan bibirnya kecewa, dia akhirnya menuruti apa yang Gray minta. "Tuan Gray, aku rasa kau sudah dengar soal penyakit menular yang beberapa waktu lalu melanda Helldelune?"


"Oh, saya sudah mendengarnya. Yang Mulia Grand Duke Lombardia sangat hebat, beliau sampai tidak mau merepotkan saya untuk membuat ribuan keping obat untuk masyarakat."


"Iya 'kan? kakek menemukan seseorang yang sama hebatnya seperti Anda. Aku sampai berpikir mana mungkin ada seseorang seperti itu di sini," Quinn tersenyum riang.


"Haha, benar. Saya juga tidak menyangka Grand Duke sangat jeli."


"Tapi benar kata orang, ilmu bisa diteruskan ke generasi berikutnya. Tuan tahu siapa yang kakek mintai pertolongan? itu adalah murid kesayanganmu."


Gray tidak dapat menyembunyikan keterkejutan nya, dia tidak sengaja menjatuhkan piring kaca tempatnya mengamati reaksi asam basa hingga pecah. Gray tak pernah sekalipun membicarakan tentang kehidupan pribadinya kepada orang lain.


"Aduh, kau tidak perlu melihatku seperti itu. Daripada disebut murid... bukankah dia adalah putramu? Christian de Santis. Dia itu putramu, bukan begitu?"