
Chirp.. chirp.. chirp
"Ungh..." lenguhan kecil terdengar dari bibir Quinn. Cuitan burung-burung kecil yang bertengger di balkon kamarnya perlahan membangunkan gadis itu dari alam mimpi.
Quinn membuka kelopak matanya pelan selagi berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kamarnya. "Tubuhku masih pegal sekali, sepertinya semalam aku terlalu banyak mengeluarkan energi," batinnya dalam hati.
Matanya melirik ke kursi di sebelah ranjangnya. Di sana ada Savero yang tengah tertidur dalam posisi duduk, kemejanya tetap berantakan. Tampaknya Savero sama sekali tidak meninggalkan Quinn sendirian sampai pagi tiba.
"Oh tidak!" Quinn beranjak duduk dengan gerakan yang bisa dibilang tidak pelan sampai berhasil membangunkan Savero. Pria itu membeliak kaget, kantung matanya nampak jelas, "Kau sudah bangun? bagaimana keadaanmu?"
Quinn tersenyum tipis "Aku baik-baik saja. Maaf mengagetkan mu, Ayah."
"Aku akan memanggilkan—"
"Tunggu sebentar, Ayah."
Savero membalikkan badan menatap Quinn lagi. "Apa ada yang kau butuhkan?" tanya nya yang mengira Quinn ingin meminta sesuatu.
"Bagaimana pesta semalam? apa Raiden sudah menemukan pelakunya?"
Savero mendengus pelan. Anak ini tidak pernah berpikir untuk istirahat, pikir Savero. "Ya, dia sudah menghukumnya."
"Siapa pelakunya?"
"Baroness Viridescens."
"Apa?" Quinn mematung ditempat. Bagaimana bisa Raiden melimpahkan kesalahannya pada orang lain?
"Jangan pikirkan hal berat seperti itu. Aku akan segera memanggilkan pelayan untuk membantumu bersiap. Aku akan pulang sebentar."
Dia kelihatan sangat lelah
"Ya, terima kasih sudah menolongku."
Quinn berjalan menuju ke balkon kamar untuk menghirup udara segar pagi ini. Suasana terasa lebih tenang di kediaman Lombardia.
"Aku masih tidak menyangka Raiden malah mengoper tersangkanya ke Baroness. Oh, aku baru ingat...jadi itu sebabnya Raiden membiarkan Baroness Viridescens lolos waktu itu, ternyata dia ingin menggunakannya sebagai tumbal. Berarti Raiden sudah merencanakan pembunuhan ku jauh-jauh hari."
Niat awal Quinn meletakkan emblem Vincent di sana adalah agar Raiden menggunakan pamannya itu sebagai tameng. Jika tidak begitu, Quinn ingin mengecoh Raiden dengan membuatnya berpikir bahwa Vincent lah yang telah mengganggu rencana nya.
Quinn menggigit kuku jari telunjuknya "Dia masih berniat melindungi keluarga Paman. Heh! aku rasa dia akan menganggap ku cemburu dan ingin menyingkirkan Penelope dengan cara yang keji."
Tapi bagus, Raiden pasti akan melindungi ku dari tuduhan. Untuk saat ini, bagaimana caraku datang kembali ke hutan belakang istana? spirit itu ada di sana.
Beberapa menit kemudian pintu kamar Quinn terbuka lagi dan menampakkan sosok Emily dengan baskom untuk mencuci muka. "Yang Mulia, sarapan Anda sebentar lagi akan siap. Mari saya bantu mengelap tubuh Anda."
"Baiklah."
Quinn duduk di depan meja rias nya dan membiarkan Emily melakukan tugas sebagai pelayan pribadinya. Gadis berambut merah jahe itu memandang pantulan wajah Quinn di cermin, "Yang Mulia, apa Anda sudah merasa lebih sehat? semalam Anda benar-benar membuat Count Shuvilillian khawatir."
"Khawatir? dia?"
Emily mengangguk iba, "Anda mungkin tidak sadar. Semalam gangguan tidur Anda kembali lagi, Anda tidak mau diam di atas ranjang dan nyaris terjun dari balkon kamar. Untung saja Count Shuvillian datang dan menyelamatkan Anda. Semalaman Anda terus menangis. Anda juga demam tinggi." tutur Emily menceritakan semua yang terjadi malam itu ketika Quinn benar-benar pingsan akibat kelelahan.
"Dia semalaman menunggu di sini?"
"Itu benar, Yang Mulia. Count Savero tidak berpindah sejengkal pun dari kursi itu, dia baru mulai tertidur saat saya datang untuk membuka jendela kamar Anda."
Quinn diam tak lagi melanjutkan pembahasan mereka. Dia sudah cukup kecewa dengan sikap keluarga kandungnya terhadap dirinya di masa lalu.
"Ah benar juga. Lord Killian juga semalam datang kemari setelah mendengar Anda diserang."
Quinn tertawa geli mendengar kalimat Emily. "Jangan gunakan kalimat seolah-olah dia peduli padaku, itu menggelikan. Dia pasti menyalahkan aku dan menanyai tentang Penelope, dia lebih peduli keadaan sepupunya dibanding kakak kandungnya sendiri."
Emily tidak bisa berargumen lagi karena seperti yang Quinn katakan barusan, Killian memang melakukan itu. "Lord Killian meninggalkan sesuatu untuk Anda di laci nakas, Yang Mulia."
"Tolong ambilkan."
"Baik."
Killian memberikan sebuah cincin yang amat berkilau, dia akan berubah warna tiap tertimpa cahaya dari sisi yang berbeda. Cincin itu seutuhnya terbuat dari permata sehingga menghasilkan warna yang indah seperti aurora di langit antartika. "Dia memberiku ini?" Quinn kelihatan tidak percaya dengan perhatian kecil yang Killian berikan.
{Ini adalah cincin yang mengandung sihir, Quinn. Hm, jika dilihat dari strukturnya, sihir itu bisa berubah menjadi tameng untukmu.}
Vynx muncul begitu Quinn bertanya-tanya mengapa cincin itu berkilau tanpa henti. Spirit air itu duduk di pundak kanan Quinn sambil memperhatikan cincin pemberian adik kandung Quinn.
{Hebat sekali. Sihirnya stabil meskipun kau guncang sejak tadi. Apa itu hadiah dari penyihir?}
Menerima secuil perhatian Killian saja sudah membuat Quinn tidak nyaman. Lelaki itu lebih pantas bersikap menyebalkan.
"Bukan. Ini hadiah dari adik— maksudku dari putra Count Savero." Quinn memijat belakang lehernya yang terasa kaku. Dia mendongak menatap Emily yang berdiri di belakangnya, "Emily, bisa tolong ambilkan aku air hangat? aku rasa aku ingin merendam kakiku."
"Baik, akan saya ambilkan, Yang Mulia."
"Vynx. Kau juga melihat spirit malam itu, iya 'kan? apa kau tahu kemana dia lari? dia langsung pergi ketakutan saat aku membuatmu menjadi dua bilah pedang."
Vynx mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Quinn.
{Dia memang roh spirit yang sangat penakut. Dia tahu kau bisa melihatnya, jadi dia langsung bersembunyi. Aku yakin dia bersembunyi di pohon elk di ujung tebing. Itu adalah tempat tinggalnya.}
"Aku baru tahu ada pohon elk di sana. Apa letaknya jauh dari tempat aku diserang? aku harus membuat kontrak dengannya juga."
{Dia mudah saja dibujuk, kau hanya perlu membawakan sesuatu untuknya.}
"Apa?"
{Dia sangat suka makan kelopak bunga lily ungu. Bawakan yang paling segar untuknya, dia pasti akan langsung menurunkan kewaspadaannya saat berada di dekatmu. Tapi ada baiknya kau tidak pergi ke sana sekarang, hutan itu sedang dijaga oleh para Ksatria istana.}
"Terima kasih sudah mengingatkan ku. Untuk sekarang aku harus pergi menemui Penelope, aku membutuhkan sisa dokumen darinya."
Sebelum Emily kembali, Quinn sudah lebih dulu kabur dari kamar. Tentu saja Quinn sudah mengecek bahwa Evan tidak ada di ruang kerja Bastien ataupun di depan pintu.
Putri Savero itu keluar dari halaman istana Lombardia dengan aman dan pergi ke kediaman Shuvillian menggunakan jasa kereta kuda. Alun-alun tetap ramai seperti biasa, tetapi mereka benar-benar menjauhi bundaran di sana. "Memangnya ada apa?" Quinn bertanya-tanya saat mengamati warga yang terus membuang muka.
Dia segera tahu begitu kereta yang ditumpanginya melewati bundaran di alun-alun kota. Quinn membelalak kaget, dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, "I-itu..."
Sebuah kepala tanpa tubuh tergantung di ujung tombak yang dipasang di sana. Darah masih mengucur ke gagang tombak, burung-burung gagak beterbangan di atasnya. "Itu Baroness Viridescens..!"
Raiden benar-benar sudah gila. Apa yang dia dapat dengan membunuh orang yang sudah jelas-jelas tidak bersalah?!
Tujuan Quinn sekarang adalah mengulik kejanggalan kasus masa perang yang melibatkan Vincent. Dengan kata lain, Quinn ingin menggugat Vincent di pengadilan bersama dengan komplotannya yang telah merugikan negara.
Sekarang Quinn sudah mengumpulkan bukti kurang lebih enam puluh persen. Saat ini pun Quinn hanya memerlukan sisa dokumen yang Penelope bawakan. "Semoga Tuan Gray bisa mendapatkan surat pengajuan dana masa perang lima belas tahun lalu. Dengan surat itu, aku bisa melengkapi persyaratan pertama pengajuan pengadilan. Sisanya hanya perlu mencari saksi."
Alasan dibalik peletakan emblem pada Ksatria utusan Raiden adalah demi memberatkan kasus Vincent yang menjadi 'percobaan pembunuhan anggota keluarga' yang langsung berkaitan dengan Quinn. Jikalau Quinn asal menggugat, rasanya itu akan sangat mencolok. Berbeda kalau Quinn mengajukan permohonan dengan beralasan bahwa nyawanya terancam.
Selain itu, Raiden pasti akan mempersulit Quinn dalam mencapai tujuannya. Bisa-bisa semua usahanya gagal kalau sampai data pengajuannya dicurigai. "Di mana aku akan mencari saksinya?" gumam Quinn sambil mengetuk-ngetuk jidat.
Beberapa menit setelah itu Quinn telah sampai di depan mansion Shuvillian.
Suasana di rumahnya tidak banyak berubah, tapi agak sepi dari biasanya. Padahal ada Penelope di sana yang selalu berhasil menghidupkan suasana.
"Selamat datang, Lady Quinn!! sudah lama Anda tidak kembali, saya sangat merindukan Anda." Vanna dan beberapa pelayan lain menyambut kedatangan tuan rumah mereka yang sudah lama tidak mampir.
"Apa Penelope ada di rumah?"
"Ya? ah, ya. Beliau ada di kamarnya sejak semalam."
Ekspresi mereka berubah menjadi kekhawatiran. Quinn mengerutkan dahi, "Apa yang terjadi padanya?" terpaksa Quinn harus menanyakan keadaan Penelope.
"Sejak semalam dia terus mengurung diri dan mengatakan bahwa dia sedang tidak enak badan, tapi dia tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam," jawab Vanna cemas.
"Biar aku yang tangani. Berikan aku salep pengobat lecet."
"Ya, akan segera saya ambilkan sekarang."
Benar saja kata mereka, Penelope sama sekali tidak berniat membuka mulut meski mendengar suara pintu yang berusaha dibuka. "Tck. Dia ini kalau tidak berulah ya sudah pasti merepotkan."
Quinn membuka kunci pintu tanpa kunci melainkan dengan kekuatan Vynx. Setelah terbuka, Quinn tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam kecuali dirinya.
"Paman Vincent memukulimu lagi?"
Quinn terkejut melihat Penelope berbaring dengan posisi tengkurap, membiarkan punggung polosnya terekspos, menampilkan banyaknya bekas cambukan yang masih baru. Quinn berpikir itu alasan Penelope tidak membiarkan siapapun melayaninya karena saat ini dia lebih memilih tak memakai sehelai kain pun untuk membungkus tubuh bagian atasnya.
"Kenapa kau datang kemari?"
"Kenapa? sesuai janji, aku datang untuk mengambil sisa berkasnya."
"Ambil saja di dalam lemari itu, di bawah tumpukan selendang ku."
Quinn meletakkan salep di atas meja untuk mengambil berkas yang Penelope bawa sebelum datang ke Helldelune. "Apa yang terjadi? mengapa Paman mencambuk mu sebanyak itu?" tanya Quinn yang tidak melepaskan matanya dari dokumen di tangan, ia terus menganalisa isinya.
Penelope berdecak kesal, "Ini semua karena salahmu, tahu! Ayah marah padaku karena aku tidak berhasil menghabiskan waktu di pesta bersama Raiden."
Quinn duduk di sofa kamar, ia hanya menatap Penelope sekilas, "Oh, begitu?" tanggapannya terkesan dingin dan tidak peduli. Gadis cantik bersurau hitam itu membalik kertasnya, "Bukankah aku sudah membantumu agar kau bisa berdansa dengan Raiden? aku bahkan sampai harus melibatkan Izek, kenapa kau masih tidak tahu diri dengan menyalahkanku?" Quinn bertanya dengan datar, tidak marah tapi juga tidak senang mendengar ucapan Penelope.
"Ya. Aku bahkan sudah berduaan dengannya di balkon tapi itu masih saja membuat Ayah marah! aku benci padanya!" Penelope beranjak duduk di atas ranjang tamu. "Itu semua terjadi karena Ayah melihatmu dan Raiden masuk ke kamar tamu yang sama!" Penelope meninggikan suaranya. Dia merasa dikhianati.
Quinn menegang beberapa saat, ia mengangkat wajahnya. Setelah Penelope menyebutkannya, Quinn baru teringat lagi akan kejadian memalukan semalam. "Paman melihatnya? kalau begitu seharusnya dia tahu bahwa bukan aku yang mengundang Putra Mahkota untuk masuk ke ruangan yang sama dengan ku. Bukannya dia mengobrol denganmu di balkon? kenapa kau tidak menahannya?"
"Dia kelihatan sedang sangat pusing, jadi aku membiarkannya beristirahat. Tapi aku tidak tahu kalau dia akan bersamamu! hei, katakan padaku, apa kau bermalam dengannya?!"
Quinn merotasikan kedua bola matanya, untuk apa dia ingin menghabiskan malam dengan psiko seperti Raiden? "Kau gila? kau dengar tentang penyerangan ku tadi malam, 'kan?" Quinn mengutak-atik beberapa isi dalam berkas tersebut.
Penelope melirik Quinn, mengamatinya dari atas sampai bawah. "Kenapa kau bisa berjalan-jalan dengan bebas kalau kau sungguhan terluka?"
"Aku memang terluka, tapi kau tak perlu pikirkan luka ku. Aku tidak selemah dirimu."
"Dasar menyebalkan," Penelope mengoles salep pada beberapa tempat yang bisa ia jangkau sendiri, sesekali dia merintih menahan perih. "Kau sungguh tidak melakukan apa-apa dengan Raiden?"
Quinn meletakkan dokumen itu di atas meja, lalu memandang Penelope dengan seringai jahil, "Mengapa kau tidak tanya pada Paman? mungkin dia melihat dan mendengar semua yang ku lakukan di dalam sana."
"Quinn! jangan main-main!"
"Hah... aku 'kan sudah bilang sejak awal. Raiden tidak menyukaimu, dia berbuat baik padamu untuk membuatku marah. Mengapa kau merasa diselingkuhi?"
"...."
Quinn malas membahas soal Raiden di pagi hari yang cerah ini. Dia memutuskan untuk menanyakan hal lain. "Apa kau tidak pernah melihat Ayahmu membawa rekan bisnis nya ke rumah atau semacamnya?"
Penelope menggeleng mantap, tampaknya untuk menjawab pertanyaan Quinn yang ini dia tidak perlu berusaha mengingat terlebih dulu karena sudah diluar kepala. "Tidak. Justru dialah yang selalu keluar dan baru akan kembali malam hari. Ah, aku pernah sekali melihat Ayah pulang dengan bersimbah darah, dia meminta Ben untuk membakarnya. Aku tidak tahu apakah dia habis berkelahi atau terluka."
"Kelahi? memangnya Paman sering berkelahi dengan orang?"
"Setiap kali Ayah mabuk, semua orang di rumah yang berani memanggilnya akan berakhir sekarat. Saat itu aku berpikir mungkin Ayah merayakan keberhasilannya dengan minum-minum bersama teman lainnya, jadi dia pulang dengan banyak darah."
"Hm, begitu ya. Apa Paman pernah membawa anak kecil menggunakan keretanya?"
"Entahlah. Aku tidak memperhatikan seluruh aktivitas orang tua keji itu. Aku hanya pernah dengar bahwa Ayah dulu sering melakukan kegiatan amal pada rakyat Verenity."
"Terima kasih sudah membantuku hingga sejauh ini," Quinn mengeluarkan kotak cincin pemberian Killian pada Penelope, "Aku berikan ini padamu untuk berjaga-jaga, dan ini juga. Aku mendapatkan air sucinya dari kuil pagi ini."
Penelope menautkan kedua alisnya saat menerima barang pemberian Quinn, "Kenapa kau memberikannya padaku?"
Quinn memberikan tatapan merendahkan setelah mendengar nada bicara Penelope yang seakan-akan masih menganggap dirinya lugu dan bodoh seperti dulu. Quinn menunjuk-nunjuk di depan wajah cantik Penelope, "Kau tidak pantas menerima hadiah balas budi lebih dari ini. Kau lupa kalau aku sama sekali tidak menyukaimu? Kita hanya saling memanfaatkan, tidak ada gunanya kita bersikap layaknya saudara."
"Cih. Bicara mu itu tajam sekali. Aku juga tidak pernah menyukaimu sejak dulu. Kalau aku tidak membutuhkanmu untuk menyingkirkan Ayah dari hidupku, aku tidak akan mau mengobrol denganmu."
"Kau kira aku sudi melakukannya? sudahlah. Aku akan pergi sekarang."
Quinn menyeringai setelah berbalik membelakangi Penelope. "Aku tidak hanya akan menyingkirkan Paman, tapi kau juga akan ikut bersamanya."
Ketika pulang, Quinn kembali dibuat kebingungan oleh kumpulan masyarakat yang mengepung kuil Santis. Mereka tampak beramai-ramai menyerukan sesuatu. Karena penasaran, Quinn pun memilih untuk turun dari keretanya dan bergabung dengan keramaian, "Permisi, sebenarnya apa yang sedang terjadi? kenapa orang-orang berkumpul di sini?" tanya Quinn pada seorang pria yang berdiri paling belakang di sana.
"Kau tidak dengar? Firman Dewa telah turun! Kami semua sangat ingin mendengarnya. Bukankah kuil berjanji akan bersikap transparan pada umatnya? tapi sejak kemarin mereka terus menghindar."
Firman Dewa? mengapa turun secepat ini? ada perubahan yang terjadi!
Quinn melihat ada salah satu pendeta yang mengurus para warga. Dia mengatakan bahwa secepatnya, setelah mereka berhasil mengartikan Firman itu secara keseluruhan, pihak kuil akan segera memberitahu secara resmi kepada semua masyarakat.
Quinn mengelus dagunya sambil berpikir, "Firman Dewa selalu diterima oleh para Pendeta Agung. Jumlah Pendeta Agung di kuil ini ada enam orang, salah satu dari mereka adalah Pendeta yang Christian wakili."
Tentu saja aku harus menemuinya. Tapi aku harus membawa pulang dokumen itu dulu.
"Nah, sekarang... apa yang harus aku katakan untuk membujuk Christian ya?"