
"Ya. Aku dengar dia sekarang berfokus membuat obat penyembuh untuk penyakit Raja Kaisen. Berita ini sudah menyebar ke negara tetangga bahwa Raja Kaisen sedang sekarat di tempat tidurnya."
"Jadi Raja sungguhan sakit?"
Quinn berpikir itu artinya Raiden sudah memberikan racun bertahap agar kematian ayahnya tidak mencurigakan. Dengan kosongnya singgasana, otomatis yang mengisi kekosongan itu dan menggantikan kerja ayahnya adalah Raiden sendiri. Raja Kaisen belum tahu bahwa nyaris delapan puluh persen seluruh penduduk istananya sudah dibawah kendali Raiden.
"Ya. Penyakitnya tidak diberi tahu kepada siapapun, hanya keluarga Raja lah yang mengetahuinya."
Jelas itu akan dirahasiakan. Jika ketahuan bahwa Raja selama ini telah mengonsumsi racun, Raiden pasti akan berkelit dan orang lain yang akan jadi tumbal.
"Tapi tidak mungkin aku bicara begitu pada kakek. Aku sendiri tidak punya bukti. Apalagi kalau aku hanya punya alasan aku sudah mengalaminya di masa depan. Ah, atau bisa jadi itu hanya mimpi buruk." pikiran Quinn terus berkecamuk. Walau begitu ia tetap mencatat beberapa rencana ke depannya yang akan ia laksanakan mulai besok. "Apa pihak kerajaan sudah berusaha memanggil seluruh dokter terhebat yang ada di negara ini?" tanya Quinn untuk berbasa-basi sebab dia sudah tahu Raiden itu orang yang seperti apa.
"Aku dengar sudah, tapi entahlah. Tidak ada siapapun yang diperbolehkan menemui Raja, termasuk aku."
Bastien termasuk orang terdekat Kaisen, hubungan mereka sudah seperti saudara. Kaisen juga sudah sangat mempercayai Bastien mengingat pertemanan mereka terjalin sejak Kaisen berusia delapan belas tahun dan sebelum meneruskan tahta ayahnya. Jadi kalau bukan karena ulah anak tunggal Kaisen itu, tidak mungkin Bastien dilarang bertemu secara langsung untuk menilik keadaan Raja.
Tidak aneh jika Raiden bisa membuat berita bohong itu. Kacungnya sudah semakin menyebarluas layaknya virus yang menjamur ke berbagai lapisan masyarakat. Kakek adalah salah satu ancaman terbesarnya, mana mungkin dia memberikan celah pada musuhnya sendiri.
Quinn sudah mengira itu akan terjadi. Bastien tidak mungkin diperbolehkan melihat kondisi ayah Raiden secara langsung.
Bastien tidak pernah berandai-andai bahwa dia akan bisa membahas masalah seperti ini dengan para cucunya, terutama dengan Quinn yang sejak dulu berpikiran sangat sederhana. Prinsip hidupnya saja hanya 'asal bisa membuat orang lain tersenyum, aku sudah bisa hidup baik-baik saja untuk seratus tahun ke depan'.
Bastien tidak dapat menahan kegembiraannya sampai bergerak mengelus-elus kepala Quinn, membuat sang empunya terkejut. "Kakek, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melakukannya."
Quinn tak bisa menanggapi situasi dengan benar, yang dia tunjukkan hanya senyuman kikuk. "Kakek, seandainya kakek tahu...kakek dulu membenciku karena aku hidup sia-sia demi cinta, bahkan kakek sampai tidak mau menghadiri hari penghakiman ku." Andai dia dapat menyampaikan itu di hadapan kakeknya langsung, bisa jadi Quinn akan dianggap gila.
"Oh, tentang ahli meracik obat. Mengapa kau tiba-tiba menanyakan itu? bisnis apa yang sebenarnya ingin kau jalani?"
"Aku akan memberitahu kakek, tapi sebelum itu kita harus membuat janji terlebih dahulu." Bastien menautkan alis tetapi tetap mengulurkan jari kelingking. "Aku tahu selama ini Ayah selalu memantau ku lewat kakek. Untuk kali ini saja, jangan beritahukan Ayah tentang bisnisku."
"Pfft! Hahaha kau sekarang punya insting yang tajam ya. Baik, aku tidak akan memberitahukan Savero tentang ini. Cepat beritahu aku, aku sudah tidak bisa menahan rasa keingintahuan ku lagi."
Quinn kemudian menjelaskan bahwa dia ingin membuat pabrik untuk memproduksi sabun dengan target pemasaran untuk masyarakat biasa lebih dulu. Bastien tidak menduga Quinn memiliki ide bisnis yang unik. "Kenapa kau membuat bisnis sabun? memang ada gunanya?"
"Ada. Aku butuh suara mereka untuk memilihku sebagai kandidat Putri Mahkota."
"Apa...? kau mengincar posisi itu?"
Tidak juga. Sebenarnya aku menargetkan hal lain.
Quinn menggeleng ringan. "Um, itu tujuan pertama. Aku punya tujuan lain yang akan menguntungkan."
Ada banyak masyarakat kecil yang terjangkit penyakit menular seperti penyakit kulit. Tidak hanya itu, kebanyakan anak-anak belakangan ini juga mengalami sakit perut dan sakit tenggorokan. Bagi mereka yang berpenghasilan rendah dan tidak pasti, perlu uang yang cukup banyak untuk membeli obat pada tabib dan mereka merasa keberatan karena biaya makan pun harus mereka utamakan.
"Aku sudah membaca di semua buku, rosemary adalah tanaman berkualitas yang juga bisa digunakan untuk membuat sabun. Aku tidak akan rugi jika menjual sabun itu dengan harga murah karena aku memiliki bahan bakunya."
Bastien terhenyak sesaat. Grand Duke dari Kerajaan Ethereal itu sudah mendengar bahwa penyakit ini sudah semakin menyebar dan dia masih perlu menyelidiki penyebabnya. Mendadak Quinn menyampaikan ide penanggulangan yang cukup unik dan patut untuk dicoba. Itu mempercepat pekerjaannya.
"S-sejak kapan kau terpikirkan cara ini?"
"Aku juga tidak ingat pasti, kakek. Aku hanya berpikir ingin membuat pabrik sabun sekaligus minyak oles. Mereka mungkin harus menunggu sedikit lebih lama, tapi aku sudah temukan caranya."
Bastien tak dapat menahan tawanya. "Hahahaha kau memang penuh kejutan, Quinn. Lalu apa yang selanjutnya ingin kau lakukan?"
Quinn tersenyum seraya menunjukkan surat perjanjian yang sudah dia tulis serapi dan se transparan mungkin. "Tentu saja mencari investor. Kakek, mau berinvestasi padaku? walau target pasar ku adalah rakyat biasa, bisnis ini akan menemukan kesuksesan."
Aku sudah memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya. Untuk sekarang, tidak ada salahnya mengikuti memori ku yang masih samar ini.
"Kakek tahu, kau sadar betul bahwa investasi dariku saja tidak cukup." Bastien duduk sambil bertumpu dagu, ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana cara Quinn bisa mencapai tujuannya.
Bastien terkesima melihat Quinn yang saat ini terlihat sangat cerdik dan berwibawa. Kalau boleh jujur, wajah manis itu lebih cocok dengan keluguan dan keceriaan. Namun, Quinn memilih untuk mandiri dan penuh strategi. "Tanpa dipandu pun dia sudah memiliki keputusan yang matang. Aku sampai kehilangan kata-kata." Pria tua itu lantas tersenyum bangga, "Aku sepertinya harus mengadakan pesta untukmu, Quinn. Aku sangat bangga padamu dan aku ingin mengapresiasi nya."
Quinn terkekeh pelan. Dia tidak mau pekerjaan terganggu dengan acara pesta, sehingga dia perlu menolak kebaikan kakeknya. "Kakek terlalu terburu-buru. Adakan saja saat pabrik itu sudah jadi." Gadis manis itu terdiam beberapa saat sebelum memegang tangan kakeknya. "Kakek ingat 'kan? besok kita akan melukis anggota keluarga di studio milik kakek."
"Ya, cucuku sayang. Aku sudah mengosongkan semua jadwal ku besok pagi hanya untuk itu."
Tidak dikatakan secara gamblang pun Bastien sudah tahu taktik Quinn dalam memasarkan bakat Oddeth. Kedatangan Bastien dan keluarganya merupakan penyulut terbesar dari rasa penasaran semua manusia termasuk para bangsawan di dekat sana. Kemungkinan besar setelah melihat hasil lukisan Oddeth, gadis biasa itu akan segera kebanjiran pesanan.
Meski begitu, Bastien memilih diam dan berpura-pura tidak tahu. Lagipula strategi Quinn tidak merugikan malah justru menguntungkan bagi kedua belah pihak. "Oh iya, kakek. Apa kakek masih menyimpan gaun-gaun milik nenek?"
Bastien terkesiap. Topik bahasan ini tiba-tiba melenceng. "Ya, semuanya masih tersimpan dengan baik."
"Bolehkah aku meminjam salah satunya? aku ingin menggunakannya untuk menghadiri pesta teh yang Raiden adakan lusa."
"Kau sungguh mau memakai gaun-gaun klasik yang agak kurang modis dan ketinggalan jaman?"
"Kenapa tidak? aku suka gaun elegan dan simpel milik nenek."
"Aku tidak akan meragukanmu tentang apapun. Lakukanlah apa saja yang ingin kau lakukan."
Selepas Bastien keluar dari perpustakaan, Quinn melanjutkan kegiatan mendata nya. Dia masih berusaha mengingat Gray Morrison. "Kalau tidak salah dia akan dipecat menjelang penobatan Raiden. Ah, tapi aku tidak tahu apa alasan dibalik pemecatan dan pemenjaraan mendadak itu."
Quinn yang kalut akhirnya mengambil kertas baru untuk menyalurkan apa yang ada dipikirannya. "Aku perlu mencari tahu siapa yang sebenarnya memasok racun kepada Raiden."
"Eh tunggu dulu. Tunggu."
Aku akan berasumsi kalau Gray saat ini tidak dipekerjakan untuk membuat obat melainkan membuat racun.
"Ini akan jadi masuk akal jika melihat akhir dari ilmuwan hebat itu. Raiden pasti mengkambinghitamkan Gray." Quinn mencatat dugaan sementara yang ia miliki. "Tidak mungkin Raiden membiarkan Gray membuatkan obat, yang ada dia kehilangan kesempatan untuk naik tahta secepatnya."
Quinn beranjak dari kursi dan terus berjalan mondar-mandir untuk memilih siapa yang akan dia jadikan mitra kerja. "Siapa lagi yang ahli mengolah tumbuhan. Aku memerlukannya sekarang selagi pabrik dibangun."
Tiba-tiba dia teringat akan seseorang saat dia baru kembali ke masa lalunya. Seseorang yang memiliki tabung reaksi di ruangan kerjanya. "Hahaha, kau hebat, Quinn. Aku melupakan Christian. Dia juga punya keahlian meracik obat. Mungkin aku bisa mengajaknya bekerja sama."
Saat menunggu Christian selesai dengan pekerjaannya, Quinn terus mengamati ruang sempit tempatnya menjual obat racikan diam-diam. Ada rak tabung reaksi yang di dalam salah satu tabungnya terdapat sebuah cairan ekstrak dari suatu tanaman. Selain itu, Finn sendiri pernah mengatakan kalau dia pandai membuat obat mujarab, bahkan Penelope sendiri merupakan salah satu pelanggan tetapnya. "Dia mungkin sudah mencoba bereksperimen sekarang."
Gadis berambut hitam lurus itu menguap lelah. "Aku tidak terbiasa menjadi orang sibuk, ternyata melelahkan juga."
Dia merapikan buku yang berserakan di atas meja dan mengumpulkan semua kertas yang sudah ternodai oleh tintanya. "Aku punya banyak agenda. Lebih baik aku tidur cepat hari ini."
Quinn menghempaskan dirinya ke ranjang besar nan empuk dibawahnya. Tulang dan sarafnya terasa ikutan tegang karena Quinn banyak menggunakan otaknya untuk berpikir. Untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku pun dia sudah tak bertenaga. "Aku harap aku bisa menghadapi Izek dengan benar. Ini memang sudah cukup lama, tapi aku belum sampai membuat kesalahan fatal padanya."
tok! tok!
"Suara apa itu?"
Quinn memakai selendang untuk menutupi bahunya sebab gaun tidur yang dia pakai tidak tebal. Dia berpikir itu adalah ranting pohon yang tidak sengaja tertiup angin lalu mengetuk jendela balkon.
Baru saja Quinn membuka pintu balkon, seseorang seakan baru mendarat dari atas atap tepat di hadapannya. Wajah keduanya sangat dekat. "R-Raiden? apa yang kau lakukan di sini."
"Selamat malam, Quinn. Aku datang untuk melepas rindu."
Apa dia sudah gila? untuk apa mendatangiku malam-malam begini?
Quinn melangkah mundur untuk bisa bernafas sedikit. Putri dari pasangan Savero dan Sirena itu berharap Raiden tidak mendengar gumaman nya sejak tadi.
Raiden menahan dagu Quinn, mengarahkan gadis itu agar menatapnya. "Kau kelihatan tidak senang dengan kedatangan ku. Apa aku baru saja membuat kesalahan?"