I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 45



Selagi Quinn berjuang menghadapi masalah yang menjadi sedikit lebih rumit dari yang diperkirakan, Finn sudah dua hari mengelilingi Verenity untuk mencari jejak bisnis perdagangan anak yang dilakukan oleh tiga bangsawan besar termasuk Vincent Van Marchetti.


"Ini tempatnya?" Finn sudah berdiri tepat di gedung yang lumayan besar dan tidak lagi berpenghuni, "meskipun katanya sudah tutup, tapi tempat ini masih sangat terawat. Bahkan rumputnya tetap pendek," mata pemuda itu menyapu seluruh halaman depan bekas panti asuhan.


"Hm, sepertinya aku bisa menjadikan gedung ini sebagai rumah. Sayang sekali tidak ada yang menempati— atau itu hanya kedok saja."


Finn masuk ke dalam gedung lengang tersebut, berkeliling di sana tanpa menemukan banyak petunjuk.


"Mereka punya ruang bawah tanah?"


Finn membuka sebuah ruangan yang dulunya digunakan untuk ruang kantor kepala panti. Tadi Finn sudah ke sana, tetapi dia mendahulukan rasa penasarannya pada tiap sudut gedung. Dan akhirnya pemuda itu pun kembali ke tempat tersebut.


Sedari tadi Finn menginjak-injak lantai berderit di dekat meja yang masih utuh dan tidak terlalu kotor, "sudah jelas bisnis ini tidak tutup. Mereka hanya mencoba mencari 'cangkang' baru supaya tidak dicurigai. Meja ini kelihatan tetap terawat meski sudah dua tahun berhenti beroperasi." saat ini lelaki dengan penutup mata itu tengah mengambil profesi seperti seorang detektif.


"Lady Quinn sungguh tidak punya belas kasih. Aku baru saja ingin menjenguk, dia sudah lebih dulu mengirim ku sejauh mungkin." gerutunya di sela-sela menggeser meja.


Dan benar saja. Bentuk lantai kayu yang tersembunyi di bawah meja itu berbeda dan memiliki lubang untuk memasukkan kunci. Finn pun berjongkok untuk lebih dekat, "Sudah rusak?! ada yang membobolnya!"


Finn buru-buru membuka pintu ruang bawah tanah itu dan menuruni tiap tangga yang berderit untuk melihat apa yang ada di dalam sana. "Penjara berkamar, huh?" Finn tersenyum miris saat tahu apa yang tersimpan di bawah sana.


Terdapat jajaran pintu yang berlubang kecil seperti hanya untuk mengintip tahanan. Setiap kamar terisi oleh tiga ranjang susun. Tiap pintu kamar memang tidak dikunci, di sana disediakan meja makan panjang untuk mereka makan, ada pula kamar mandi. Intinya mereka dipaksa hidup serba kesulitan di bawah sana.


Finn kini berjalan menuju meja makan panjang, terdapat beberapa piring dengan potongan roti yang masih tersisa. Ia mengangkat roti tersebut untuk dianalisa, hidung mancungnya mengendus aroma yang ditimbulkan roti ini. "Ini masih baru, sepertinya baru sekitar empat hari yang lalu. Kemana anak-anak itu pergi? apa mereka berhasil kabur?" Finn mendongak ke atas. Telinganya yang sudah terasah mulai menangkap sebuah suara langkah kaki.


Derap langkah kaki itu mendekat ke kantor. "Sebaiknya aku sembunyi dulu," Finn meletakkan kembali potongan roti tersebut dan segera kembali ke salah satu kamar.


"Tuan, tuan? saya sudah membawakan persediaan makanan lagi."


Finn dari dalam kamar mengernyit heran, "persediaan makan? jadi dia yang bertugas mengirim bahan makanan?" dia mengintip dari lubang di pintu.


Seorang pria membawa dua karung bahan makanan dan meletakkannya di atas meja makan. "Duh, kemana si Tuan feminim itu? masih ada banyak yang harus ku kerjakan. Eh, omong-omong kenapa sepi sekali? kemana anak-anak itu pergi?" tanyanya kebingungan, ia menoleh kesana kemari tapi tak kunjung menemukan satu orang pun.


"Huh...masa aku juga yang harus membereskan ini? bukankah mereka sudah bilang un— eeekk?!"


"Jangan bergerak atau aku akan memotong pita suaramu." Finn sudah menodongkan belati dan menempelkan nya pada kulit leher pria pengantar bahan makanan tersebut. "Jika kau mau bekerjasama maka aku akan mengampuni nyawa mu."


"B-baik! tolong jangan bunuh saya! nanti sapi-sapi saya tidak ada yang memberi makan." kata pria itu sambil memohon, matanya sudah berkaca-kaca takut. Finn mengerjapkan mata beberapa kali dengan cepat, ia melirik pria itu heran.


Sapi katanya? apa aku tidak salah dengar?


Finn menunjuk karung yang berada di atas meja, "Apa itu kiriman dari para bangsawan yang mendirikan panti asuhan ini? lebih baik kau jelaskan semuanya secara detail."


"I-iya, benar. Itu adalah pasokan makanan untuk beberapa hari ke depan. S-saya pergi ke sini tiap tiga kali dalam seminggu."


"Buka."


Pria itu mulai terisak, "bisakah Anda menjauhkan ini lebih dulu?" tawarnya sambil menunjuk belati di lehernya, "kalau saya maju lebih jauh dari ini sepertinya saya akan mati ditempat dan tidak bisa memberi tahu apa-apa pada Anda."


"Tck. Baiklah."


Finn pun menarik kembali belati miliknya dan membiarkan pria cengeng itu mengerjakan perintah darinya.


Isi dari bahan pangan yang dikirim semuanya berkualitas bagus dan hampir semuanya makanan sehat. "Mereka sengaja menjaga kesehatan 'produk' nya supaya nilai jualnya tinggi, huh? licik sekali."


"Anak-anak disini selalu diperiksa kesehatannya sebelum di kirim ke tempat baru mereka. Saya hanya bertugas mengantar persediaan makanan, sedangkan yang menjaganya adalah Tuan berambut panjang." ungkap pria itu dengan wajah terpaksa.


Finn mengambil buah apel hijau besar yang ada didalam karung dan memakannya tanpa sungkan, "jadi? apa mereka tidak pernah secara langsung datang untuk melihat keadaan anak-anak ini?" tanya Finn lagi.


"Mereka hanya akan datang saat sudah waktunya mereka mengirim anak-anak ke tempat majikan baru mereka."


"Majikan? apa kau tidak tahu mereka sebenarnya dikirim kemana?"


"Tidak tahu...? saya tidak pernah melihat para bangsawan itu secara langsung."


Finn mengibaskan tangannya, "Lupakan. Soal pria berambut panjang itu, apa dia sudah lama bekerja di sini?" sekarang dia mengganti topik karena sepertinya sudah mengerti siapa yang melarikan anak-anak itu.


"Ya, dia sudah bekerja di sini sekitar kurang lebih dua tahun. Dia yang menjaga anak-anak disini."


Finn beranjak berdiri lalu mendekati pria tersebut, "hei, aku akan mengampuni nyawa mu dengan satu syarat."


"A-apa? apa itu?"


"Pergilah dari sini dan jadilah saksi untukku."


"Apa?! apa Anda meminta saya untuk berkhianat? dqsama saja saya akan dirugikan."


"Tidak. Lady ku yang akan menjamin nyawamu. Pergilah ke daerah perbatasan antara Verenity dan Helldelune. Jika kau bijak dan tidak mau terkena hukuman berat, kau pasti akan menerima tawaran ku. Hei, jika kau beruntung kau mungkin akan mendapat tempat tinggal gratis."


Finn tengah berusaha membujuk dengan cara yang lebih halus agar tidak menakut-nakuti pria malang itu.


Namun, diluar dugaan Finn pria itu justru langsung menyanggupi permintaan Finn. "Saya ingin melakukannya, t-tapi bagaimana dengan sapi-sapi saya?"


Finn menghela nafas malas, "orang ini sejak tadi terus memikirkan sapi-sapi nya," batin Finn keheranan. Pemuda berkulit sawo matang itu menepuk jidat seraya berkata, "ya kau bawa saja semuanya. Memangnya sapi tidak bisa diajak mengembara?"


"T-tapi Anda sungguhan akan menjamin nyawa saya dan sapi-sapi milik saya, 'kan?" pria itu menatap Finn dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, iya. Kenapa sih sejak tadi kau meributkan soal sapi? astaga, kau membuatku pusing."


"H-habisnya...sapi-sapi itu adalah alat yang akan saya jadikan bukti pada istri saya untuk menunjukkan bahwa saya juga bisa menjadi orang ber-uang banyak dan tidak kesulitan makan." curhatnya sambil menyeka sudut matanya yang berair.


"Kenapa dengan istrimu?"


"Dia pergi begitu saja meninggalkan saya dan membawa anak kami pergi. Hati ini terasa terbelah dua, saya sangat terpukul. Bagaimana bisa dia berpikir meninggalkan saya begitu saja padahal kami sama-sama sudah mengikrarkan sumpah bersama. Ini sungguh menyakitkan," tanpa permisi pria itu menyandarkan diri di pundak Finn. Wajahnya yang sangat ekspresif dan konyol membuat Finn kesal. "Hei, apa kau tidak berpikir ingin jadi pemain opera? sepertinya kau akan sukses besar."


Jarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri, Finn sudah bisa melihat atap sebuah rumah terpencil yang berdiri satu-satunya di lereng gunung.


Setelah sampai, Finn terkejut melihat halaman rumah bertingkat dua tersebut. Mereka membersihkan rerumputan dan menjadikannya sebagai ladang tanaman seperti tomat, jagung, sawi, dan berbagai macam sayuran lainnya.


Banyak anak-anak yang sedang berlarian, bermain kesana kemari tampak sangat berbahagia. Mereka kelihatan sehat dan ceria seperti yang seharusnya.


Kedatangan Finn di sana langsung membuat anak-anak itu takut, mereka berlarian masuk dan menyebutkan nama seseorang yang telah menyelamatkan hidup mereka. "Kak Rupert! ada seseorang yang datang! dia kelihatan sangat menyeramkan!" teriak anak-anak kecil berusia kisaran enam sampai delapan tahun.


"Cih, anak-anak itu tidak sopan. Aku tidak heran, karena yang merawat mereka adalah Rupert." gerutu Finn tak terima.


Pria berwajah tampan dan berambut panjang itu keluar untuk mengecek siapa tamu yang datang, "baiklah, baik. Aku akan memeriksanya." dia tersenyum simpul sembari melambai pelan pada Finn, "dia adalah temanku. Kalian jangan takut, dia juga orang baik sepertiku, hanya saja dia sedikit kurang ajar."


"Berhenti menghasut, dasar feminim."


"Lihat? dia memang seorang penggerutu," Rupert sengaja mengabaikan Finn dan mengajak anak-anak yang mengekori dirinya bicara. Anak-anak kecil itu tertawa menanggapi ledekan Rupert. "Kakak penggerutu, kau mau apa datang kemari? apa kau mengunjungi kak Rupert untuk memintanya kembali pulang?" tanya seorang bocah lelaki berusia enam tahun.


"Tidak, aku datang kesini ingin mengobrol dengan teman lamaku. Terima kasih kalian sudah memanggilkannya untukku," Finn tersenyum hangat, dia merubah sikapnya agar anak-anak itu tidak takut padanya. "Ini, aku bawakan karung persediaan makanan kalian, bisa tolong bawa masuk? aku ingin bicara berdua dulu dengan Rupert, boleh?"


"Ya! kami akan pergi. Kak Rupert, jaga dirimu baik-baik!"


Mereka berbondong-bondong saling bantu mengangkat karung dan masuk ke dalam rumah. Jumlah anak di sini sudah lebih dari dua ratus orang, "Jadi kau juga merawat mental mereka di sini? sepertinya perlahan-lahan dari mereka sudah mulai sembuh dan ada yang masih trauma, terlihat dari cara mereka berlarian masuk dan menjauh."


Finn mengamati jumlah anak-anak yang ada di halaman depan, "Jangan-jangan kau telah menyelamatkan anak yang seharusnya sudah terjual," Finn menatap Rupert lagi.


"Ayo duduk dulu. Kau ini cerewet sekali."


Mereka berdua masuk ke dalam rumah besar tersebut dan mengobrol berdua di ruang tamu. Seorang anak perempuan berusia dua belas tahun datang membawakan dua gelas teh dan beberapa tolong kue. "Kak Rupert, aku baru saja latihan membuat kue."


"Wah, pas sekali. Boleh aku sediakan pada tamu ku?"


"T-tentu saja. Kalau begitu, aku pergi dulu." anak perempuan itu lari masuk lagi ke dalam. Dia malu dipandangi oleh Finn dengan intens, padahal pemuda itu tengah mengecek apakah ada luka di bagian tubuhnya disebabkan oleh pembeli mereka. "Ternyata kau kaya juga. Pantas kau jarang sekali berada di Helldelune."


"Ini bukan rumah ku, tahu. Ini adalah rumah Tuan ku. Dia yang menyelamatkan mereka dan aku hanya tinggal mengurus sisanya," jawab Rupert santai sembari meminum teh melati nya.


Finn mengangkat sebelah alisnya "bagaimana caramu membawa kabur mereka semua?"


"Dengan mengorbankan lebih banyak harta mungkin? aku juga tidak mengerti mengapa dia bersikeras menolong sejak lama. Dia berpura-pura menjadi salah satu klien dan mengeluarkan banyak uang untuk membeli. Terkadang dia akan menunggu sampai transaksi selesai, dan merebut anak-anak dari klien bangsawan itu. Di sinilah mereka dirawat."


Dia telah berada di Verenity dan mengikuti kasus ini selama kurang lebih lima tahun. Dia tetap berusaha melakukan berbagai cara agar anak-anak itu bisa selamat tanpa ketahuan oleh tiga bangsawan itu. Semua bukti sudah terkumpul, anak-anak yang sudah sembuh dari rasa trauma nya pun bisa dijadikan saksi.


Rupert menunjukkan senyum ambigu nya, "Apa kau tahu? sebenarnya kami ingin menyelesaikan kasus mereka dengan tangan kami sendiri. Yah seperti membunuh atau hanya membuka kedok mereka, tapi kami berdua tidak jadi melakukannya setelah ada orang yang berdampak besar akan bisa menggantikan kami menjatuhkan hukuman itu."


"..." Finn sudah bisa menebak siapa orang yang dimaksud oleh Rupert. "Jadi kau tidak pernah pulang ke Helldelune untuk menjaga mereka di sini?" tanya Finn.


"Aku hanya pulang seminggu sekali ke Helldelune saat waktunya aku mengecek kerja mereka di Guild."


Pemuda berambut sedikit acak-acakan itu menatap lawan bicaranya, "Kau sudah tahu aku akan ke sini, itu artinya kau sudah memprediksi bahwa kasus ini akan segera diusut. Kau belum lama membawa sisa anak-anak itu kemari." Finn memandang penuh curiga.


"Haha, memang benar. Tepat setelah Lady Quinn bertanya mengenai Pamannya sendiri bersamamu waktu itu, aku langsung mengabari Tuan ku dan dia segera kembali ke Helldelune. Ditambah, sekarang Firman Dewa telah tersebar. Aku yakin Tuan ku sekarang sudah berhasil mendekati Lady Quinn."


Dahi Finn berkerut, dia penasaran bagaimana perkembangan Quinn di Helldelune. "Sudah tersebar? memang bagaimana bunyi Firman itu?" Finn bertanya dengan gaya sok tenang.


"Lady Quinn diramalkan akan membunuh Pamannya sendiri dan menghancurkan Ethereal."


Finn mematung beberapa saat sebelum otaknya berhasil berjalan lagi, akhirnya dia menarik nafas panjang "huh...dia ini selalu saja terlibat masalah baru," Finn tidak pernah menyangka Quinn tidak ada lelahnya menaruh diri sendiri dalam bahaya. "Sudah berapa kali aku tegaskan untuk tidak mencari masalah baru."


Rupert terkekeh mendengar gumaman Finn. "Bagaimana rasanya punya majikan yang menyukai hal ekstrim?" tanya nya.


"Melelahkan. Rasanya dia tidak pernah memberiku jeda untuk tenang meski hanya semenit saja. Baru aku tinggal sebentar saja dia sudah tertimpa musibah lagi. Astaga. Aku selalu merasa gelisah, jika aku mengalihkan pandangan ku sebentar saja, dia sudah terluka."


Melihat kekhawatiran yang tulus dari teman lamanya membuat Rupert terdiam, berusaha mengolah apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Finn yang aku kenal sangat tidak suka terikat dengan sesuatu, itu sebabnya dia selalu berkelana. Sekarang kau benar-benar berubah, ya."


"Tidak juga. Aku hanya ingin punya tujuan untuk pulang." Finn meminum teh yang disediakan.


"Kau menyukai Lady Quinn?"


"Uhuk! uhuk!" Finn tersedak oleh teh nya sendiri yang tidak sengaja masuk ke kerongkongan. "A-apa maksudmu bertanya begitu?! mana mungkin aku menyukainya. Aku hanya merasa berhutang budi."


Rupert tersenyum lebar, "Ah, jadi kau sungguhan menyukai Lady Quinn," ujarnya yakin tatkala dia melihat kedua telinga Finn memerah. Itu adalah reflek kebiasaan Finn ketika sedang malu mengakui sesuatu.


"Jangan katakan itu lagi!" Finn beranjak berdiri dan bersikap sok tenang padahal dia semakin memperlihatkan bahwa dirinya tengah salah tingkah. "Jadi, kau mau membantu kami untuk membawa ini ke jalur hukum? apa kau tidak keberatan menjadi saksi?" Finn kembali ke topik utama mereka.


"Tentu saja. Untuk apa kami rela menghentikan semua rencana yang sudah kami susun kalau tidak karena Lady Quinn?"


"Bukankah kau berteman dengan Lady Penelope? kau tidak takut menyakiti hatinya karena kau yang menjadi pemberat tuntutan Ayahnya?"


"Selama ini aku berteman dengannya karena ingin mengumpulkan bukti."


"Tapi kau selalu menuruti setiap keinginannya seolah kau sangat menyukai Lady Penelope."


Rupert mengangkat bahunya acuh, "Untuk membuat lengah, tentu saja. Lagi pula, aku tidak yakin dia akan sedih."


"Kenapa?"


"Nanti juga kau akan tahu."


Finn mendengus pelan, "Lalu siapa Tuan mu yang sejak tadi kau ceritakan itu?" tanya nya penasaran.


"Dia juga seorang bangsawan..." Rupert tersenyum lagi sambil menunjuk ke luar jendela, "Namanya adalah Julien Bianchi."