I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 50



Obrolan ini mungkin berhubungan dengan sidang yang ditolak. Raiden akan membeberkan semua alasan yang dia punya padaku secara empat mata.


Kalau begitu, anggap saja aku kesana sebagai calon Grand Duke penerus kakek.


Quinn membanting vas bunga dalam kamarnya dengan kencang hingga belingnya berserakan di lantai. Emily yang tengah membantunya bersiap sampai terlonjak kaget, "mengapa dia terus menghalangi jalan?! menjengkelkan!"


Quinn tidak lagi memakai gaun sederhana yang biasa dia pakai. Sekarang dia meminjam gaun resmi milik mendiang neneknya yang dipakai hanya ketika dia perlu menunjukkan status kebangsawanan nya.


Rambut Quinn dijepit menggunakan jepit emas berbentuk kupu-kupu di belakang kepalanya. Penampilan Quinn menjadi sangat bertolak belakang dengan selera Raiden.


"Yang Mulia, apa tidak sebaiknya Anda membawa Lord Finn untuk mengawal Anda?"


"Tidak. Aku tidak mau Raiden mengingat wajahnya, itu bisa berbahaya. Untuk sekarang, aku sendiri yang akan maju. Jangan katakan apapun pada Finn atau keluargaku yang lain."


Quinn bergegas keluar dari kamar setelah semua persiapannya selesai. Siapa sangka, Vincent justru melihat penampilan megah Quinn lebih dulu. Dia tidak terima melihat Quinn yang seenaknya berlagak seperti penerus yang telah diresmikan oleh Bastien.


"Apa-apaan pakaian itu?! kau pikir kau punya hak menyentuh pakaian ibu?! mentang-mentang Ayah sedang tidak di rumah, kau seenaknya mengobrak-abrik lemari nenekmu sendiri! dasar anak kurang ajar!" hardiknya di depan banyak pelayan yang hendak mengantar keberangkatan Quinn ke istana.


Quinn dengan tenang menjawab "Kakek sudah sepenuhnya memberikan izin untukku menggunakan seluruh benda peninggalan nenek yang masih disimpan. Loh, Paman tidak tahu? kakek sudah bilang dia ingin mengangkatku menjadi penerus gelarnya."


"Apa?!" Vincent menggeram marah, dia merasa muak terus tersisih. Bahkan dalam hal penerus, Bastien lebih memilih putri dari Savero yang merupakan anak kandungnya.


"Lagipula, Paman tidak jauh lebih baik dariku 'kan? memangnya Paman berguna? selain membuat citra buruk, Paman juga hanya bisa membuat masalah saja. Maka, jangan salahkan kakek kalau dia lebih memilih anak kecil berbakat sepertiku untuk dijadikan penerus," Quinn sengaja memberi senyuman mengejek, dia kemudian menepuk bahu pamannya seperti membersihkan debu. "Sekarang, aku sedang sibuk. Bisa minggir sebentar? Pangeran sudah menunggu sejak tadi."


"Pangeran? hei, tunggu! kau berencana menemui Pangeran dengan pakaian seperti itu?!"


"Apa Paman sudah terlalu tua sampai kemampuan mendengarmu menurun? kasihan sekali. Paman, kenapa hidupmu sangat menyedihkan? aku sampai tidak tega melihatmu hidup begini." Quinn memasang ekspresi meledeknya yang berhasil membuat Vincent memerah padam, dia amat marah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Oh iya, sebaiknya Paman lebih berhati-hati. Tidak ada yang tahu ke depannya aku akan jadi Grand Duke atau malah Ratu Ethereal."


Quinn pergi begitu saja ketika sudah puas melihat Vincent murka padanya. "Aku perlu menyisihkan tenaga untuk mendengarkan ocehan Raiden."


Beberapa menit kemudian...


"YANG MULIA QUINN DARI KELUARGA COUNT SHUVILLIAN TELAH TIBA"


Begitu Quinn turun dari keretanya, jajaran pelayan menyambutnya dengan sangat terhormat selayaknya kunjungan resmi yang dilakukan pada bangsawan tinggi lain.


Quinn segera memasuki istana, mencari Raiden yang tidak juga nampak batang hidungnya. Seorang kepala pelayan telah menunggunya di aula istana "Saya akan mengantar Anda ke tempat Yang Mulia Putra Mahkota berada."


"Terima kasih."


Kepala pelayan itu melirik Quinn dengan pipi yang memerah. Dia hampir saja merasa jatuh hati pada gadis berusia tujuh belas tahun itu. Auranya sungguh luar biasa. Tidak ada sisi lugu atau polos yang tersisa. Quinn sangat cantik dengan rambut pendeknya.


Ruangan ini makin mewah saja. Sudah lama aku tidak datang ke sini untuk bermain-main.


"Hm? ada yang aneh," Quinn berhenti mengikuti langkah kaki kepala pelayan yang memandu jalan untuknya.


"Ada apa Yang Mulia?"


"Sepertinya ini bukan jalan menuju bagian dalam istana. Kita mau kemana?" tanya Quinn heran.


Kepala pelayan itu lupa menyampaikan, "oh... Yang Mulia Putra Mahkota mengajak Anda untuk naik perahu dan mengelilingi sungai bersama berhubung cuaca hari ini cerah."


Quinn tersentak "apa..? untuk apa naik perahu?"


Di taman belakang juga sudah berjajar beberapa pelayan pria yang menyambut kedatangannya. Sebuah perahu besar nan mewah dan beratap yang di atasnya terdapat sofa panjang serta meja berisi minuman dan buah-buahan telah siap untuk digunakan.


Raiden ternyata sudah duduk di dalam sana. Dia menyibakkan tirai penutup dan mengulurkan tangan, "sudah lama kita tidak naik perahu ini bersama. Pegang tanganku dan naiklah."


Quinn melirik para pelayan yang menatapnya dengan tajam seakan tengah mengawasi dirinya.


Aku tidak mau berpegangan dengan tangan yang berulang kali membunuhku ini. Tapi mereka benar-benar mengawasi ku dengan banyak arti.


"Permisi," Quinn menerima uluran tangan Raiden dan naik ke perahu besar istana.


Menaiki perahu ini hanya membuatku malu dengan kebodohanku dulu.


Dulu Quinn dan Raiden beberapa kali sering menghabiskan waktu bersama dengan menaiki perahu ini. Mengingat bahwa dulu Quinn begitu sangat menempel pada Raiden, membuatnya yang sekarang merasa sangat malu.


Sekarang apa motif mu melakukan pembicaraan di atas perahu ini?


Dia jelas menghindari banyak telinga yang menguping pembicaraan kami.


Setelah Quinn naik, perahu itu pun mulai berlayar dan menjauh dari tepian. Quinn masih memilih untuk berdiri "aku tidak menyangka kau akan memakai seragam lengkap dan resmi begitu," katanya sambil memandangi penampilan rapi Raiden.


"Ya, aku baru saja selesai menghadiri rapat. Dan kita sama sekali tidak pernah bertemu secara resmi begini, 'kan? aku cukup menikmatinya."


Resmi katanya? bukannya dia hanya bilang ingin menghiburku?


Mata berlian Raiden memperhatikan secara detail tiap jengkal penampakan Quinn saat ini. Rambut pendeknya membuat Quinn terlihat lebih segar dan tak mengurangi kadar kecantikannya, pakaian resmi Grand Duchess nya seakan memberitahu Raiden bahwa dia berkemungkinan besar akan menjadi penerus Bastien Lombardia.


"Kau sendiri juga mengenakan pakaian yang unik. Tapi kau tetap saja cantik walau selera berpakaian mu berubah."


Hentikan omong kosongmu dan langsung ke intinya saja.


Raiden menarik tangan Quinn dan mendudukkan gadis itu disampingnya. "Kau bisa jatuh kalau terus berdiri begitu. Duduklah di sini, menjauh dari keramaian sesaat akan membantumu lebih tenang dan aman."


Pfft! aman? maksudmu kau bisa mencoba membunuh ku tanpa ada yang bisa melihatnya?


Raiden tampak santai duduk di perahu itu, dia meminum teh chamomile nya dengan perlahan. Pemuda itu kemudian menumpu kaki kiri di atas kaki kanannya, lalu dia juga menumpu dagu dengan tangannya sambil memandang Quinn yang duduk tenang di sebelahnya.


Manik biru berliannya makin kelihatan berkilau ketika berada di bawah sinar matahari, bahkan Quinn mungkin bisa melihat pantulan air sungai di mata indah itu.


"Kau banyak berubah, ya. Dalam waktu yang singkat, kau menjadi seseorang yang tidak aku kenali. Tapi kau tetap berhasil memikat ku."


Quinn mengangkat bahu ringan seakan itu bukan sesuatu yang luar biasa "aku hanya berusaha untuk belajar lebih banyak."


"Kulit yang indah, postur tubuh yang tegap, dan ekspresi yang tegas. Ah, terlalu banyak keindahan dalam perubahanmu yang tidak bisa aku sebutkan." Raiden mengelus puncak kepala Quinn sebentar, "dengan wajah seperti itu, rasanya sayang sekali kalau aku harus membunuhmu. Tapi aku lebih memilih kekuatanmu, dengan begitu kau bisa hidup dalam diriku setelah aku memakan jantungmu. Kita berdua akan bersama selamanya," sambung Raiden dalam hati. Dia pun mengulas sebuah senyuman manis.


"Quinn, apa kau tahu alasanku memanggilmu hari ini?"


Quinn tersenyum simpul "kau menyebutkan dalam surat bahwa kau akan menghiburku sebagai teman. Tapi dilihat dari keresmian kita kali ini, kau ingin membahas sesuatu yang penting. Kemarin kau menolak sidang yang ku ajukan, kurasa alasan kau memanggilku ada hubungannya dengan itu."


"Hmm, pintar."


Quinn memegang pipinya "aku tidak menyangka kau akan menolaknya. Ku pikir, disaat keadaanmu yang menggantikan posisi Raja Kaisen seperti ini, menghabisi beberapa bangsawan sekaligus tentu akan membantu memperkuat istana Ethereal."


Ya, itu benar. Dengan memperkecil jumlah bangsawan yang ada, itu sama saja dengan mengurangi potensi mereka untuk memberontak, berkhianat, atau melakukan kudeta.


Raiden menyeringai "kau sangat pintar. Tapi apa kau tahu? pendayung itu adalah orang tuli. Dengan kata lain, tidak ada satupun orang yang akan mendengar percakapan kita. Jadi, aku akan mengatakan dengan jujur."


Quinn tersentak, tiba-tiba Raiden menggeser duduknya. Pemuda itu menaruh tangan Quinn di dadanya, "soal kasus Viscount itu serahkan saja padaku. Aku akan melindungimu dari melakukan kesalahan yang bisa membahayakan dirimu sendiri."


Raiden menghela nafas pelan. Dia kemudian melepaskan tangan Quinn, "Yang Mulia Putra Mahkota memeriksa semua data bangsawan yang ada untuk mengundang siapa yang pantas hadir dalam acara pemahkotaannya. Lalu secara kebetulan dia malah menemukan sebuah rahasia keji dan tidak manusiawi dari sekelompok bangsawan," pemuda itu tersenyum miring, dia mengelus bibir bawah Quinn dengan jempolnya "aku mau yang seperti itu. Jika kau tutup mulut, tidak akan ada yang tahu."


Dengan kata lain, dia mau merebut semua jasa ku dan mendapat pujian lebih banyak dari masyarakat?!


Quinn menepis tangan Raiden, "aku keberatan dengan itu, Raiden. Aku sama sekali tidak mau keluarga terutama kakekku dikira menutupi dosa yang selama ini pamanku lakukan. Karena itu, aku membutuhkan izin mu untuk jadi pelapor dalam kasus ini."


Quinn menyeringai "tentu saja aku tidak tahu apakah kau akan menenggelamkan ku di sini untuk membuatku tutup mulut dan melimpahkannya pada Viscount untuk memberatkan hukumannya. Tapi sayang sekali ya, aku memakai celana hari ini jadi aku bisa berenang."


Raiden membeliak kaget dengan pola pikir tajam Quinn, "Pfft! hahahahahaha! kau ini lucu sekali, Quinn. Memangnya aku sekejam itu? aku jadi penasaran, sebenarnya aku terlihat seperti apa di matamu."


Seperti bajingan yang sangat mengganggu pemandangan.


Quinn menegang tatkala Raiden mendorong tubuhnya dan menindih tubuhnya di atas sofa panjang itu. Tangan besarnya menahan pergelangan tangan Quinn, pemuda itu menatap kedua mata Quinn penuh ambisi. "Ayo bertransaksi denganku, Quinn. Serahkan kasus itu padaku, jadi kau tidak usah mencemaskan apapun, aku akan menghabisi siapapun yang berani mengusikmu. Lalu aku akan memberikan posisi yang aman bagimu."


Iris keemasan Quinn berkilat dipenuhi emosi. Dia tidak menduga perbincangan ini akan mengarah pada hal rumit.


"Tiga bulan lagi, jadilah Ratu ku. Saat itu aku sudah resmi jadi Raja penerus Ayah. Maka tidak ada satu orang pun yang berani menyakitimu."


Raiden langsung membungkam mulut Quinn dengan ciumannya. Dia tahu Quinn lagi-lagi akan mengajukan keberatan walau Raiden telah memberikan penawaran yang sangat menguntungkan. Lagi-lagi kejadian yang Quinn benci terulang.


Kedua alis Quinn bertaut marah, "Raiden sialan!" pekik gadis itu dalam hati.


Raiden memperdalam ciumannya dengan melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulut Quinn. Cucu kesayangan Bastien itu bahkan bisa merasakan dengan jelas deru nafas tenang milik pemuda di atas tubuhnya itu.


Aku perlu melakukan sesuatu.


Si pendayung yang mau tidak mau melihat itu jadi mengalihkan pandangan secepat mungkin dengan wajah yang sudah memerah sempurna.


Vynx!


Mendadak perahu menjadi sedikit bergoyang karena air sungai yang bergelombang sehingga tautan tangan Raiden melonggar dan Quinn memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dan mendorong kedua bahu Raiden menjauh.


Quinn mengelap kasar bibirnya dengan lengan pakaiannya. "Aku tidak mengerti kenapa kau ingin aku jadi pendampingmu sebagai pemimpin negara ini. Bukankah kau sendiri yang bilang ingin Ratu yang bisa membantumu dalam mengurus negara? ayolah, aku ini tidak pintar dan aku benci belajar."


"...."


"Lagipula semua orang mendukung hubungan mu dengan Penelope yang lebih pintar dan berhati murni."


Jika Penelope mendengar ini, apa dia akan tetap mengejar cinta Raiden?


"Aku tidak menyukai Penelope. Harus aku bilang berapa kali kalau aku hanya mencintaimu? apa salah menikahi gadis yang aku cintai? aku sama sekali tidak memiliki niat tersembunyi, loh."


Kau mencintai kekuatanku saja. Kau pikir aku masih belum tahu soal para pembunuh yang terus mengincar nyawaku itu?


Quinn terkekeh pelan "apa kau yakin? hampir seluruh masyarakat Helldelune menolak ku yang mengisi posisi Ratu. Jika kau tetap memilihku, itu akan membawa dampak besar. Namamu mungkin akan ikut jelek."


Raiden memiringkan kepalanya "jadi, kau menolak tawaranku? ini aneh...ku pikir kau akan suka dengan itu, bukankah sejak dulu kau tergila-gila padaku? secepat inikah kau membenciku? seolah-olah aku telah melakukan dosa besar terhadapmu. Ini agak menyakitkan menerima sebuah penolakan keras begini..."


Quinn menggigit bibir bawahnya. Dia teramat sangat marah sampai tidak bisa berkata apa-apa.


Seolah-olah?! kau telah bermain api di belakangku, memenjarakan ku, bahkan membuatku harus kehilangan nyawa! hukuman Dewa saja masih kurang untuk menebus dosamu padaku!


"Apa kau sungguh tidak menyukai ku lagi, Quinn? kenapa kau tidak bilang 'aku membencimu' sambil menatapku eh? coba sekarang katakan kalau kau benci padaku," Raiden menahan dagu Quinn agar gadis itu menatapnya. Pemuda itu tersentak kaget ketika melihat kedua mata Quinn sudah memerah menahan tangis.


Quinn pun menepis tangan Raiden lagi. "Aku dengan bodoh membuang-buang banyak waktu belajar ku hanya untuk bisa datang ke istana dan menghabiskan waktu bersama mu. Aku berusaha membantumu meski tidak dalam bidang politik dan hukum. Tapi semua orang termasuk dirimu memberiku kesadaran bahwa itu saja tidak cukup. Cinta saja tidak akan cukup untuk bisa membuatku bersatu dengan orang yang ku cintai sampai mati, itu tidak akan menguntungkan negara."


"..."


"Aku selalu mendengar cibiran, hinaan, dan perlakuan buruk dari kalangan elit karena mereka melihatku seperti serangga yang selalu mengerubungi dirimu. Bahkan mengingat hianasn mereka saja sudah membuatku malu! sekarang kau ingin aku berharap apa, huh? kau mungkin akan membiarkan orang-orang termasuk para perdana menteri mu melakukan demo penurunan ku."


"Quinn, itu—"


"Maaf, aku lebih baik mengambil jalan damai. Aku tidak masalah melihatmu hidup dengan orang lain, aku tidak mau mengorbankan banyak hal untuk bisa bersamamu lagi."


Gawat, Kata-kata ku terlalu jauh. Itu semua terjadi di masa lalu, dan sekarang bisa jadi terulang.


Raiden berlutut di hadapan Quinn sembari mencium punggung tangan kanannya, "maafkan aku yang terlambat menyadari lukamu. Aku hanya memikirkan diri sendiri. Aku berpikir aku perlu hidup untuk mengabdi sepenuhnya pada istana yang menjadi tempatku mendapat identitas. Tapi akhirnya aku sadar. Orang yang akan memimpin kerajaan ini bersamaku hanyalah kau, Quinn."


"...." Quinn membiarkan Raiden sampai menyelesaikan semua omong kosongnya.


"Perasaan ini tidak akan berubah lagi. Aku bersumpah demi Dewa untuk menjadikanmu Ratu Ethereal."


Sumpah ini, aku pernah mendengarnya dulu. Kau dengan santainya mengucapkan itu lagi. Apa karena di dalam dirimu, kau merasa tidak ada bedanya dengan Dewa?


"Huh!" Quinn tersenyum sinis, lalu berkata "aku menolak."


Raiden memperlihatkan tatapan putus asanya "Quinn!"


"Aku tidak mau berharap terlalu berlebihan lagi. Semoga kau mengerti."


Quinn tahu bagaimana cara licik Raiden. Dia ingin mengambil kerja keras Quinn dalam memecahkan kasus Vincent agar mendapat pujian menjelang hari penobatannya. Lalu, jika Quinn menerima tawaran dan menjadi Ratu Ethereal, dia bisa membunuhnya kapan saja. Dengan begini, dia melakukan seperti kata pepatah 'sekali mendayung dua tiga pula terlampaui'.


Quinn menyeringai tipis "tapi aku tidak tahu sampai kapan pendirian ku akan bertahan."


"Maksudmu?"


"Raiden, buktikanlah padaku bahwa kau memang mencintaiku. Kau akan memihakku, 'kan? mana mungkin kau tidak memihakku jika kau memang mencintai aku."


"..."


"Tentang sidang itu, aku tetap tidak akan menyerahkannya padamu."


Quinn mengelus pipi Raiden penuh kelembutan, "aku akan merubah pikiranku jika kau membuktikan cintamu itu."


Dan aku akan mencari segala cara untuk membuatmu merasakan pengkhianatan yang sama.


Sementara bersamaan dengan Quinn pergi ke istana, Vincent mengajak putrinya bertemu di sebuah perpustakaan umum yang lumayan ramai. "Apa saja yang kau lakukan di istana saat itu? apa Putra Mahkota tidak mengatakan sesuatu yang penting padamu?!" tanya Vincent tak sabaran.


"Tidak ada, Ayah. Kami hanya berbincang santai saja. Kenapa Ayah kelihatan gelisah begitu?"


Vincent mencondongkan tubuhnya ke depan "Quinn hari ini bertemu dengan Putra Mahkota secara resmi! apa kau tidak tahu apa-apa?!"


Penelope memelototkan matanya terkejut "A-Ayah tidak bohong? kenapa? untuk apa?"


Apa Quinn mengkhianati aku?!


Vincent memegangi kedua bahu putrinya "kau 'kan sudah dekat dengannya, jadi tidak masalah bagimu kalau kau datang secara mendadak. Cepat susul Quinn sekarang juga! kau harus menginterupsi keduanya kalau kau tidak mau tersingkir!"


"A-aku mengerti, Ayah. Aku akan segera ke sana."