I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 24



Quinn mengelus bekas tamparannya di pipi Emily, "Aku tahu kau mata-mata Raiden. Jika kau bisa tunjukkan bahwa kau loyal padaku, aku akan menyelamatkanmu dari Raiden." gadis itu hanya tertunduk takut. Selain tidak percaya dengan kemampuan Quinn, dia juga tidak percaya bahwa Quinn bisa terlihat bengis dan licik seperti sekarang ini. "Aku akan melihat nama siapa saja yang tertulis di daftar yang di buat kakek. Kau bisa pergi."


"B-b-baik, Yang Mulia. Saya izin undur diri sekarang."


Quinn mengambil buket bunga pemberian Penelope yang tadi baru sempat dia letakkan di atas meja. Quinn lantas mengambilnya dan mengganti bunga yang sudah nyaris layu dalam vas di kamarnya. "Penelope pikir aku tidak tahu apa arti bunga lily ini, aku sudah cukup belajar."


Gadis manis itu menyusun tiap batang bunga dengan diiringi senandung kecil yang keluar dari bibirnya. Diluar dugaan, ternyata meskipun terlihat membosankan tetapi kegiatan merangkai bunga cukup menyenangkan. Quinn tidak terlalu hobi bunga. Berhubung dia berteman dengan para petani, jadi Quinn lebih banyak mengenal tanaman sayur dan herbal.


"Aromanya seperti apa ya?" gumam Quinn penasaran.


Quinn mendekatkan wajah ke satu tangkai bunga yang masih dipegangnya. Hidung yang tajam seperti perosotan itu bergerak mengendus aroma yang sedari tadi tercium dari kelopak bunganya.


"Uhuk! uhuk! hagh...akh!"


Quinn jatuh dan meringkuk di bawah sofa sambil memegangi lehernya dengan kedua tangan. Penelope yang saat itu baru saja datang langsung berlari masuk ke dalam dan memegangi pundak saudari sepupunya itu. "Quinn? Quinn?! kau baik-baik saja? apa yang terjadi?" Penelope mencoba mengambil air minum untuknya.


Sebuah senyum simpul terukir di bibirnya, "Seseorang tolong panggilkan Grand Duke!" teriak gadis cantik itu. Lantas ia berfokus pada Quinn lagi yang masih terbatuk-batuk. Setangkai lily oranye tergeletak di samping tangan gadis itu. Bisa disimpulkan bahwa Quinn telah menghirup racun pemberiannya. "Quinn, siapa yang berani meracuni mu? Quinn, tenang saja, aku akan membantu—" Penelope tersentak tatkala Quinn tiba-tiba memegang tangannya sambil duduk.


Wajahnya masih biasa saja, tidak pucat dan juga tidak berkeringat. Matanya hanya berair karena batuk terus-menerus. Gadis itu nyata baik-baik saja. "Q-Quinn...? kau baik-baik saja?" Penelope dibuat bengong kebingungan.


"Aku baik. Kenapa kau kaget begitu?" Penelope menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "T-tidak, aku pikir kau sakit atau semacamnya."


Quinn terkekeh geli melihat Penelope yang termakan jebakannya. "Tadi ada serangga kecil yang masuk ke hidungku. Ah... rasanya turun sampai ke kerongkongan, sakit sekali." Quinn meminum gelas dalam air yang diambilkan saudari sepupunya lalu memandang Penelope dengan tajam. "Bagaimana kau bisa menyimpulkan ada yang meracuniku?"


"I-itu... itu karena gejala yang kau alami seperti sebuah racun. Jadi aku khawatir." jawab putri tunggal Vincent itu berusaha tidak mengalihkan pandangan supaya tidak menggiring opini Quinn bahwa kecurigaannya benar.


"Benar juga, tidak mungkin kau sengaja memasukkan racun ke bunga ini untuk membunuhku, 'kan? Penelope itu baik, mana mungkin hatinya yang baik terpikirkan untuk membunuh saudarinya sendiri."


"Benar, kau benar, Quinn. Aku tidak mungkin berusaha meracuni mu."


Bastien berlari masuk ke dalam kamar Quinn setelah mendengar seorang pelayan meminta tolong kepada dirinya. "Quinn, apa yang terjadi? kau baik-baik saja?!"


Quinn berjalan menghampiri kakeknya dengan langkah ringan, memperlihatkan bahwa dia tidak sakit atau keracunan. "Oh kakek, aku baik-baik saja~ Penelope hanya cemas karena aku tiba-tiba batuk dan jatuh, jadi dia buru-buru memanggil kakek..." Quinn melirik Penelope sambil menyeringai, "Seolah sangat yakin bahwa aku tidak akan baik-baik saja setelah menghirup aroma bunga itu." lirihnya sambil memandang rendah Penelope.


Bastien menghela nafas lega. Netra birunya menatap objek pirang di dekat sofa yang masih tertunduk dalam "Penelope. Kau ini kalau memberi berita jangan sembarangan begitu. Kau hampir membuat jantungku copot saja." tegur pria paruh baya itu sambil mengelus dadanya. Semakin tua jantungnya tidak sekuat dulu.


"M-maaf, kakek. Aku pikir ada yang berusaha meracuni Quinn karena batuknya tidak berhenti dan dia sempat sesak nafas tadi."


Quinn menyuruh pelayan yang tadi membantu memanggilkan Grand Duke untuk membuang plastik buket bunga bekas membungkus lily oranye itu. "Tolong buang, ya. Semua bunganya sudah di vas."


"Akan segera saya laksanakan, Yang Mulia."


Pelayan wanita tersebut mengambil plastik buket bunga itu dari atas meja dan tiba-tiba sebuah botol perak kecil menggelinding keluar dari dalam buket bunga itu dan jatuh ke lantai tepat dihadapan semua orang.


"Apa itu?" tanya Quinn dengan wajah kaget.


Botol itu adalah botol yang sama persis dengan botol asli berisi racun serbuk yang Penelope tinggalkan di toko bunga itu. Penelope membelalakkan matanya amat sangat terkejut, tetapi dia tidak mungkin menyembunyikannya atau Bastien dan Quinn akan curiga terhadapnya. "Itu..." Penelope gelagapan melihat botol yang ditinggalkan muncul di sana.


"Pelayan. Bawakan kemari botol itu."


"Baik, Yang Mulia."


Penelope berdiri mendekat pada kakeknya yang mengecek botol tersebut. "K-kakek, itu apa?" tanya Quinn takut. Gadis berambut sebahu itu lantas menjelaskan sebisanya, "Kakek itu bukan racun." cicit Penelope.


Bastien mendekatkan hidungnya kepada botol yang sudah terbuka itu. Semua tampak tegang menanti hasilnya. "Uhuk! uhuk!" pangkal hidung Bastien berkerut dalam, tangannya sibuk mengibas udara di depan hidung sambil menjauhkan botol tersebut dari wajahnya. "Kakek?! kakek kenapa?" tanya Quinn penuh kekhawatiran. Penelope pun sama, akan tetapi dia tidak berani bergerak satu langkah pun sebelum tahu apa yang akan Bastien katakan padanya.


"Aku baik-baik saja. Ini bubuk lada. Pedas sekali rasanya di hidung. Penelope, mengapa kau menaruh ini di dalam buket bunga."


Sungguh, kalian tidak tahu betapa leganya perasaan Penelope saat ini. Dia baru ingat bagaimana caranya bernafas lagi setelah Bastien menyebutkan apa isi di dalam botol perak tersebut.


Akhirnya aku bisa bernafas lega. Untung saja itu bukan racun yang ku taruh di bunganya.


"Itu mungkin jatuh, kakek. Setelah mendengar bahwa Quinn diserang oleh sekelompok bandit, aku jadi takut. Aku berpikir untuk membeli bubuk supaya bisa berjaga-jaga kalau ada yang menyerang ku, aku tidak bisa menggunakan pedang. Besok aku sudah harus pulang. Maaf Quinn, kau jadi terbatuk-batuk begitu gara-gara itu." Bastien mengembalikan botol itu pada Penelope sang pemilik.


"Oh, aku pikir hidungku kemasukan serangga hehe." Quinn menunjukkan cengiran lebar sambil menggaruk pelipisnya.


Dasar bodoh. Begitu saja kau tidak bisa membedakannya.


"Pokoknya, aku bersyukur kau tidak apa-apa."


"Penelope kau tidak perlu khawatir. Aku sudah memperketat penjagaan di tiap perbatasan kota. Kau bisa pulang dengan selamat." timpal Bastien sembari menepuk bahu cucu pertamanya itu.


Quinn menggandeng lengan Penelope, "Aku dengar lukisan kita sudah jadi. Mau melihatnya bersama? pasti hasilnya sangat indah. Ayo."


"Baiklah, baik."


Tunggu dulu. Mengapa Quinn tidak terkena racun itu? kenapa tidak mempan? aku tidak mungkin salah botol.


Penelope tidak melepaskan pandangannya dari Quinn. Gadis itu masih kelihatan ceria dan sehat, tidak ada gejala apapun sementara racun berbentuk serbuk yang dia tabur di bunga lily pemberiannya sangat mematikan. Boro-boro pingsan, batuk saja hanya berlangsung sepersekian menit saja.


Tadi Quinn melihatku seperti dia sudah tahu aku meletakkan sesuatu pada bunga itu. Apa hanya perasaanku saja?


Tiga lembar paket berukuran kotak pipih besar diletakkan di ruang depan istana. Saat itu Oddeth sendiri yang membantu kusir membawakan masuk. Oddeth tampak sangat senang dapat bertemu lagi dengan Quinn. "Hai, Oddeth. Bagaimana kabarmu? kau tampak kurang tidur."


Pipinya bersemu merah, gadis itu tersenyum "S-saya sangat baik, Yang Mulia. Maafkan saya karena saya membutuhkan waktu untuk menyelesaikan lukisan ini."


"Tidak masalah, aku tahu hasilnya akan sangat memuaskan."


Mereka berdua mengobrol dengan gembira, membiarkan Penelope berdiri diam seperti tak dianggap. Sampai akhirnya Penelope berusaha ikut bicara. "Hai, Oddeth. Terima kasih atas kerja kerasmu, ya. Aku ingin memberimu hadiah, lain kali aku akan mampir ke studio."


"Anda tidak perlu repot-repot, Yang Mulia. Saya sudah mendapatkan bayaran atas pekerjaan ini." Oddeth terkesiap mengingat dia masih memiliki lukisan lain yang harus segera ia selesaikan. "Saya harus segera kembali, Yang Mulia."


"Ya, sampai jumpa lagi."


Quinn menarik tangan Penelope. "Penelope, bantu aku membuka salah satu lukisan ini ya."


"Ayo aku bantu."


Dua gadis cantik itu membuka paket perlahan agar tak merusak barang di dalamnya. Begitu semua kertas pembungkus nya sudah terlepas, tampaklah lukisan indah bergambar anggota keluarga Lombardia yang tampak sangat berkelas.


"Wah..." keduanya sama-sama terperangah kagum melihat hasil lukisan Oddeth yang sangat nyata, seolah menghadirkan cermin di depan mereka. Detail tiap bagian sangat diperhatikan sehingga menimbulkan kesan realistis. "Ini indah sekali, aku sampai tidak bisa berkedip." kata Penelope sambil menyorot bagian dirinya sendiri.


"Iya, aku senang tidak salah memilih orang." gumam Quinn sambil tersenyum bangga seolah dia tengah melihat hasil kerja anaknya sendiri. "Kau yang memilih pelukis nya, Quinn?"


"Sungguh? aku baru tahu. Sepertinya dia bukan berasal dari keluarga ternama."


"Memang benar. Dia hanya rakyat biasa, tetapi kemampuannya bisa diacungi jempol dan kau sudah melihat sendiri hasilnya di depan mata."


"Hm, iya kau benar."


Savero dan Bastien keluar dari ruang kerja. Bastien hendak mengantarkan Savero yang akan pulang seusai membantunya mengurus masalah dalam rumah. Ayah dan anak itu melihat Quinn dan sepupunya tengah bengong di depan lukisan besar keluarga mereka.


"Oh lukisannya sudah datang?" tanya Bastien.


"Ya kakek, lihatlah ini. Lukisannya sangat bagus." ujar Quinn memamerkan hasil kerja Oddeth.


"Haha iya, ini sangat bagus. Sayang sekali Vincent tidak ada di dalamnya." Quinn melihat ada kesedihan yang tersirat di mata Bastien.


Ya bagaimana tidak, Vincent tak pernah muncul sama sekali dihadapan keluarganya sendiri. Sudah lebih dari tujuh tahun Vincent seakan memisahkan diri dan tak menganggap dirinya masih memiliki keluarga. Tidak hanya Bastien, Savero sebagai adik juga merasakan hal yang sama.


Penelope memilih tetap bungkam, tak berusaha menjelaskan apa dan bagaimana kabar ayahnya di kota Verenity (Kota terdekat dengan kota Helldelune).


"Penelope, bawalah satu untuk di rumahmu. Savero akan membawa yang satunya lagi." kata Bastien setengah memaksa.


"Baik, kakek. Terima kasih."


"Penelope, sebenarnya apa yang ayahmu lakukan? apa dia tidak pernah keluar dari rumah sekalipun?"


Quinn melihat reaksi tidak biasa dari Penelope. Walau sedetik tubuh gadis itu sempat menegang sebelum akhirnya dia bersikap seperti biasa lagi. "Dia sesekali keluar mengurus pekerjaan, kakek. Urusannya memang hanya di dalam kota saja. Sejujurnya ayah tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang di rumah karena dia selalu sibuk." ungkapnya sembari mengelus tengkuknya. Tanda kemerahan di sana tidak menghilang meski sudah lewat beberapa hari.


Savero memberikan sebuah surat pribadi pada Penelope. "Bisakah kau berikan ini pada ayahmu?".


"Bisa, Paman. Aku akan memberikannya."


"Ya sudah, ayo kita pulang sekarang. Quinn kelihatannya sudah tidak sakit lagi."


"Baiklah."


Savero tidak mengucapkan sepatah kata pun pada putrinya untuk salam perpisahan. Dia bahkan melewati Quinn begitu saja. Ya itu tidak masalah, memang ini yang Quinn inginkan. Hubungan keluarga tidak sepenting itu baginya. Dulu mungkin keluarga adalah segalanya bagi Quinn, namun sekarang hidup sendiri dengan harta kekayaan yang cukup adalah tujuan satu-satunya setelah dia kembali dari kematian.


Setelah Savero dan Penelope pergi, Quinn lantas masuk lagi ke dalam kamarnya untuk membuang lily oranye pemberian Penelope ke dalam perapian kamarnya. "Mata ini sungguh sangat berguna."


Sejak menerima buket bunga itu Quinn sudah melihat ada serbuk tak biasa yang tersebar di tiap lembar kelopaknya. Bahkan hidungnya sudah bisa mencium aroma tidak biasa. Quinn sudah juga tahu kalau itu adalah sejenis racun serbuk.


Quinn merasa yakin bahwa kemampuan yang dipinjamkan Zacchaeus kepadanya mampu menyelamatkan dirinya. Quinn pun memutuskan dengan nekat mempertaruhkan nyawanya untuk mencari kebenaran tersebut. Hasilnya sesuai dengan tebakan. Racun itu tidak mempan terhadap dirinya.


Botol perak itu juga ulah Quinn. Dia sengaja meletakkannya di dalam plastik buket untuk memojokkan Penelope. Hanya dari reaksinya saja Quinn sudah yakin bahwa Penelope memang berencana membunuhnya setelah rencana menyewa pembunuh bayarannya gagal.


Lalu Quinn duduk di tepi ranjang sambil memandang ke arah perapian itu. "Ternyata yang mengirim pembunuh bayaran itu Penelope. Hahaha, aku mengira itu adalah perbuatan Raiden."


Dilihat dari bagaimana cara Penelope menanyakan kejadian apa yang diingat Quinn sudah menjelaskan semuanya. Begitu pula dengan adegan Quinn berpura-pura terkena racun itu. Penelope segera tahu ada reaksi racun di dalam tubuh Quinn, padahal orang bisa saja menyimpulkan itu alergi serbuk bunga. Penelope tanpa sadar memperjelas semua kesalahannya.


"Tidak aneh jika Penelope juga ingin menyingkirkan ku. Tapi mengapa dia sangat terburu-buru begini?"


Quinn sadar betul Penelope memang berambisi menjadi pasangan Raiden terlepas dari tulus atau tidaknya perasaan yang ia punya terhadap Putra Mahkota. "Penelope tidak memiliki hubungan yang baik dengan paman Vincent. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan?"


Pada waktu itu Raiden berkuda mendatangi tempat kejadian di mana Quinn mendapat kejadian yang hampir merenggut nyawanya itu. Raiden dengan ditemani empat prajuritnya menyelidiki daerah sekitar.


Lelaki berwajah mungil itu segera mendatangi tiga mayat pria yang terbujur kaku di tanah. Dua mengalami luka tusukan di dada yang amat dalam. Sementara satu lagi agak terpisah jauh dari dua mayat lain. "Ini serangan acak yang sangat asal-asalan. Jika ada seseorang yang seperti Quinn jelaskan, tidak mungkin dia meninggalkan jejak seperti ini." pikir Raiden seraya membalik tubuh pria yang dibuat buta oleh Quinn sebelumnya. "Hahaha, tidak mungkin, ini perbuatan Quinn? gadis itu bisa melancarkan serangan?"


"Pangeran, saya sudah menyebar prajurit istana untuk mencari laki-laki yang Lady Quinn sebutkan."


"Bagus. Aku ingin hasilnya besok pagi."


"Dimengerti, Yang Mulia."


Raiden kembali menyusuri jalan dan menghampiri kereta kuda yang posisinya sudah terbalik itu. "Ada yang aneh." dia kemudian memerintahkan semua prajurit yang ikut untuk membawa apa yang mereka lihat ke istana sebagai bukti.


Setelah itu satu lagi Ksatria datang membawa Carter, si kusir mata-mata kirimannya ke kediaman Lombardia. "Saya telah menemukan Carter si pengkhianat, Pangeran. Dia berada di depan tempat kasino."


Pria itu dengan keadaan lusuh dan linglung berlutut dihadapan majikannya. "Halo, Carter. Apa kabar? kau kelihatannya sedang tidak sehat," Raiden menjeda ucapannya untuk berjongkok di hadapan Carter. "Apa uangnya kurang? jika kau tahu kau ini payah, untuk apa bertaruh? uang dariku juga sudah habis?"


Raiden menarik pedang ksatrian yang berdiri di sebelahnya. Ia pun tidak segan menekan bilah pedangnya ke kulit leher Carter. Matanya berkilat dipenuhi amarah. "Sekarang jawab aku. Apa yang terjadi malam itu pada Quinn?"


Carter menangis ketakutan, lalu bersujud menyentuh kedua kaki Raiden meminta ampunan. "Y-Yang Mulia, tolong ampuni saya. Saya tidak mengingat apapun. Saya tidak tahu apa-apa. Tapi percayalah, Yang Mulia, saya tidak melakukan semua ini!"


"Cerewet sekali. Aku tidak pernah memintamu memberi alasan. Jawab aku, Carter. Aku tidak suka mengulangi ucapanku."


"S-saya sungguh tidak mengingat apa-apa, Yang Mulia."


Jean, Ksatria pribadi Raiden menginjak punggung Carter amat keras. "Lebih baik kita penjarakan saja dia sampai membusuk dipenjara bawah tanah, Yang Mulia."


Raiden beranjak berdiri seraya menendang kedua tangan Carter yang menempel di sepatunya. Dia tanpa berkedip menghunuskan pedang dari punggung Carter hingga tembus ke jantung. "Penjara sudah penuh. Untuk apa menampung satu lagi manusia tidak berguna seperti dia? tinggal bunuh saja sudah cukup."


Literan darah merembes ke dalam tanah di bawah mayat Carter malang yang masih dalam posisi bersujud itu. "Tidak ada gunanya menyimpan nyawa sampah seperti ini."


Tatapan dingin Raiden terhadap mayat di hadapannya itu membuat semua prajurit yang lain menelan ludah ngeri. Raiden sama sekali tidak mentolerir kesalahan. "Buang mayat ini ke jurang. Aku tidak peduli jika tubuhnya dimakan binatang buas."


Jean mengode dua prajurit yang datang bersamanya untuk membawa mayat itu pergi. "Tunggu dulu sebentar." titah Raiden.


Dia mengamati memar biru di bagian tengkuk Carter.


"Ini..." Raiden menatap lamat-lamat bagian itu kemudian dia menyeringai lebar dengan mata yang berkilau memancarkan keterkejutan namun senang. "Haha, Quinn... kau sungguh menarik."


Jean maupun prajurit yang lainnya tidak mengerti mengapa tiba-tiba Raiden tersenyum dengan sorot mata yang dipenuhi ambisi seolah dia baru saja mendapatkan lawan yang selevel. Yang mereka tahu adalah menjaga batasan karena Raiden sedang tidak dalam suasana hati yang baik.


"Cepat buang. Aku harus kembali ke istana."


"Baik, Yang Mulia."


Raiden memacu kuda putihnya dengan sangat cepat. "Quinn, kau selalu memenangkan perhatianku." Raiden tahu Quinn memang sudah bukan orang yang sama. Terdapat perubahan besar yang terjadi setelah dua bulan penuh Raiden tidak berjumpa dengannya.


"Sekarang, kira-kira apa yang harus aku lakukan padamu ya?"