
"Paman pergi duluan saja, aku akan segera menyusul. Ada hal yang harus ku persiapkan."
"Ya sudah kalau itu mau mu."
Kereta kuda berlambang Panther hitam itu berjalan menjauh dari halaman mansion dengan kecepatan tinggi. Savero merutuki dirinya sendiri. Tadi dia sengaja membaca surat itu setelah satu dokumen yang ia sedang kerjakan selesai. Seandainya Savero tidak melakukan itu, dia bisa datang lebih cepat.
"Huh..." Savero menghela nafas panjang, berusaha menetralisir kegelisahannya yang tak terlihat.
Penelope masuk ke dalam kamarnya dan kemudian membanting semua barang yang ada di atas meja rias hingga berserakan dan sebagian berbahan kaca pecah. "Ini menyebalkan!" pekiknya frustrasi. Dia menjambak rambut dan mengacak kepalanya sendiri. "Mengapa dia bisa lolos dari mereka? ini aneh! apa ada yang menolongnya atau.. tidak, tidak mungkin dia bisa lari dari mereka!" Gadis bertubuh molek itu berjala mondar-mandir sambil menggigiti kuku jarinya.
"Argh! semua rencanaku gagal!"
Penelope tidak menduga bahwa acara pesta teh nya juga akan ikut gagal karena dia terlalu percaya diri bahwa Quinn akan dihabisi malam itu juga. Ya, itu benar. Penelope lah yang menyewa pembunuh bayaran tersebut. Padahal niat hati Penelope hanya ingin mengadakan pesta teh berdua saja dengan Raiden. "Bagaimana ini? ini adalah hari terakhirku di Helldelune."
Penelope mengeluarkan sebotol kapsul. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung menelan dua butir kapsul tanpa air minum. "Tenang, Penelope. Kau tidak boleh sampai kehilangan akal." gumam Penelope bicara dengan dirinya sendiri.
Penelope menanggalkan gaun ungu pastel yang dibelinya khusus untuk menghadiri pesta teh dan memakai gaun hitam sebagai gantinya. "Aku tidak boleh kelihatan gugup atau kesal."
Putri tunggal Vincent itu tersenyum menatap pantulan bayangannya sendiri dicermin. "Aku akan cari cara lain untuk menyingkirkan Quinn dari jalanku."
Luka Quinn memang belum lama dibalut, tetapi dia sama sekali tidak merasakan sakit. Mungkin sesekali terasa ngilu di beberapa bagian tubuhnya, mengingat Quinn memaksakan untuk menggerakkan seluruh otot-otot tubuhnya yang tidak pernah dilatih sama sekali.
Diam-diam Quinn membuka plester yang menutupi luka di pipinya lalu bercermin. Matanya membulat tatkala tak menjumpai satu guratan pun di sana. Pipinya mulus seperti sedia kala, sementara Quinn hanya minum pereda nyeri. "Kemana hilangnya luka ku?" mau ditekan sekuat-kuatnya tenaga Quinn, tidak ada reaksi perih atau sakit yang terasa. Seketika Quinn mendapat kepercayaan diri berpikir bahwa luka di beberapa bagian tubuhnya juga sudah menghilang sebab dia tidak merasakan perih seperti semalam.
Gadis itu ingin membuka balutan perban di lengannya juga, namun dia urungkan setelah ingat bahwa dia tidak bisa memasangkannya kembali. Jika sampai ada orang yang melihatnya, Quinn bisa terkena masalah yang tidak perlu.
Ia pun membuka jendela balkon nya, memberi akses untuk angin segar masuk ke dalam kamarnya yang terasa pengap. "Apakah Christian sudah mengirim obatnya? oh, iya benar. Aku juga harus pergi ke tempat bibi Kennedy untuk Izeqiel."
Quinn menyentuh mata kanannya, "Aku sungguhan setengah spirit? bagaimana jika aku mengetesnya sekali lagi?" Gadis itu tak mau menahan rasa penasarannya. Dia mencari benda tajam yang bisa dia gunakan untuk melukai dirinya sendiri. "Tidak ada apa-apa di sini. Oh! jarum jahitku ada di laci."
Quinn menelan ludahnya, takut pada hasil yang akan keluar. Dengan gerakan pelan namun penuh penghayatan, Quinn menorehkan guratan-guratan panjang di pergelangan tangan guna memuaskan keingintahuan nya.
Quinn bisa mendengar bunyi jantungnya yang berdetak lebih cepat. "Aku menemukan rahasia soal diriku disaat aku sedang fokus mengukuhkan posisiku agar Raiden tidak bisa menginjak ku lagi. Kebetulan yang sangat tidak mengenakkan."
"Quinn? apa yang coba kau lakukan?"
"Ayah?" Quinn menyembunyikan tangan kirinya dibelakang tubuh. Sungguh, Quinn tidak mendengar bunyi derap langkah kaki di lorong. Satu alis Quinn terangkat kala melihat raut cemas Savero, nafasnya sedikit terengah, dan dia kelihatan tidak suka dengan apa yang baru saja Quinn lakukan terhadap dirinya sendiri. "Dia khawatir padaku? sungguh? sebuah keajaiban Savero de Alger Shuvillian mau mengekspresikan sesuatu yang tidak biasanya." pikir Quinn.
"Bagaimana lukamu? sudah merasa baikan?"
Savero duduk di sofa panjang yang tersedia di kamar Quinn, sang empunya kamar mengangguk manis sambil mendudukkan diri di sofa di hadapan ayah kandungnya. "Aku sudah baik, masih agak perih, tapi tidak masalah lagi buatku. Aku senang Ayah datang berkunjung, aku pikir Ayah sibuk dengan pekerjaan." Quinn menengok ke arah pintu yang masih terbuka, "Apa Penelope tidak ikut? dia sudah pulang?"
"Dia bilang akan menyusul. Aku melihatnya seperti bersiap menghadiri pesta."
Quinn mengangkat wajahnya memandang Savero lalu bertanya, "Benarkah? sayang sekali, gara-gara aku pesta teh dengan Pangeran jadi gagal. Aku tidak berniat menimbulkan keresahan seperti ini." Walau Quinn memberikan sentuhan penyesalan dan rasa bersalah lewat mimik muka, tetapi hati nya lah yang lebih jujur. Quinn ingin tertawa lepas membayangkan betapa kesalnya Penelope saat ini.
"Jadi Penelope hanya akan datang ke istana sendirian?"
"Tidak. Aku juga diundang oleh Raiden, tapi dia membesuk ku dan kemungkinan besar Raiden membatalkan acara itu karena aku."
"Begitu ya."
Savero membuang nafas lega begitu melihat langsung keadaan putri sulungnya. "Ayah, ada yang ingin ku tanyakan."
"Apa?"
"Boleh aku tahu soal di mana Ayah bisa bertemu dengan Ibu? kalau dipikir-pikir dari dulu aku tidak pernah tahu apapun soal ibu."
Mata jeli Quinn tidak menangkap reaksi mencurigakan apapun dari pria berusia tiga puluhan itu. "Aku bertemu dengan Sirena di desa kecil yang ada di kota Nefeli. Dulu aku sedang ikut Ayah melakukan kerjasama pada beberapa bangsawan di sana."
"Jadi, Ayah yang membeli status kebangsawanan untuk Ibu?"
Savero mengangguk kecil. "Kau cepat mengerti juga rupanya."
"Apa Ayah tahu rahasia yang Ibu simpan? maksudnya yang tentu hanya Ayah yang tahu." mengerti maksud 'rahasia' yang Quinn tanyakan, Savero membalasnya dengan gelengan kepala. Tidak, dia tidak sedang menyembunyikan kebenaran. Savero sungguh tidak tahu. "Dia dulu seorang penjaga hutan. Pekerjaan yang unik untuk seorang wanita, bukan? Sirena bilang dia sangat menyukai alam. Sirena selalu bisa membantu kapanpun walau dia punya fisik yang lemah."
Mungkin karena Ibu juga setengah spirit. Para spirit setahu ku juga tinggal di alam.
"Wah, kelihatannya perjalanan cinta kalian seru sekali. Aku berharap bisa bertemu dengan seseorang yang tulus juga." puji Quinn mendengar sedikit kilas balik soal kehidupan ibunya, Sirena. "Tapi Ayah sama sekali tidak pernah mempertemukan ku dengan kakek dan nenek dari pihak ibu. Mengapa begitu, Ayah?".
Savero menarik nafas, lalu menjawab, " Sebab dia memang tidak lagi memiliki orang tua. Dia hanya tinggal dengan satu teman nya".
Quinn mulai yakin bahwa Savero memang benar-benar tidak tahu soal kebenaran ibunya. Sirena menyembunyikan identitas nya dari Savero. Quinn kemudian teringat akan adiknya, "Apa Killian juga sama sepertiku?" ia bertanya-tanya.
"Apa matamu baik-baik saja? Itu kelihatan tidak normal."
"Aku baik-baik saja. Ayah tidak perlu khawatir. Tidak biasa nya Ayah se terus terang ini, rasanya aneh."
"..."
Savero tidak bisa berdebat dengan itu. Dulu dia memang lebih memilih menyuruh pelayannya yang menjadi perantara, sekarang dia tidak bisa berbohong dengan menyembunyikan ketakutannya akan kehilangan anak. "Setelah aku pindah kemari, sepertinya Ayah mulai berubah. Mengapa? apa Ayah menyesal?"
Savero tidak siap— ralat. Dia tidak pernah mengira kata-kata itu akan keluar dari mulut putrinya yang ceria dan lemah lembut berbicara sepedas itu. "Aku selalu mencemaskanmu." jawab Savero singkat.
Putra bungsu Bastien Lombardia itu tidak suka terlalu menjaga sesuatu termasuk anak-anak nya, sebab dia sudah berulang kali kehilangan orang yang selalu dia sayang dan jaga baik-baik.
Quinn tersenyum palsu, "Jadi Ayah tipe orang yang akan menyesal dibelakang ya? Jika aku tidak memilih tinggal bersama kakek, Ayah tidak akan begini."
"Jika itu penilaianmu tentangku, tidak masalah"
Savero mendelik kaget. Dia menatap wajah manis putrinya sambil mencari sendiri kebenaran dari ucapan itu lewat kedua netra Quinn. "Kau tidak perlu berlaku sampai sejauh itu."
Bastien telah menyelesaikan seleksinya. Dia beranjak dari kursi hendak menyusul Savero ke kamar Quinn, tetapi mendadak seorang Butler datang memanggil. "Anda menerima sebuah paket, Yang Mulia."
"Paket?" Pria yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu mengamati sebuah dua kardus berukuran sedang yang tampaknya berat. "Bukakan untukku."
Mata Bastien melebar heran. Puluhan botol obat dia terima, tanpa nama maupun alamat pengirim. Mencurigakan. "Obat apa ini?" tanya Bastien pada dirinya sendiri.
"Sebenarnya, Yang Mulia...kurir tadi mengatakan bahwa Lady Quinn yang meminta."
"Quinn?" Rasa curiga Bastien berkurang. Senyuman simpul tercetak di bibirnya. Akal cerdik apalagi yang dipunyai cucunya itu, Bastien menantikan penjelasannya. "Quinn tidak pernah berhenti mengejutkanku, hahaha aku akan dengar sendiri jawabannya. Taruh itu di bawah meja kerjaku, jangan biarkan siapapun membukanya."
"Baik, Yang Mulia."
Lagi-lagi Bastien terhalang. Kali ini Evan yang menghentikannya. Dia membawa sebuah kertas data ditangannya. Bastien sudah mengerti jika Evan membawanya, itu berarti yang dibawanya adalah laporan penting. "Yang Mulia, saya membawakan hasil pengamatan bisnis lukis baru Anda."
"Oh, bagaimana hasilnya?"
"Sangat memuaskan, Yang Mulia. Bahkan Anda sudah menghasilkan keuntungan dari membeli studio itu. Sekarang nama Lady Oddeth mulai naik ke kalangan elit. Sepertinya Anda akan bisa terus meraup keuntungan lebih banyak. Selamat untuk Anda, Yang Mulia Grand Duke."
"Terima kasih. Berikan laporan itu padaku."
Bastien lantas pergi menuju ke kamar cucunya dengan perasaan senang. Bastien tidak berniat mengambil keuntungannya karena yang memberi ide hingga mengurus studio adalah Quinn, sehingga Bastien akan menyerahkan semua padanya. "Dia pintar memprediksi masa depan." gumamnya sambil menggeleng heran.
Di kamar Quinn masih mendebatkan soal keinginannya untuk mengganti nama belakang yang dimiliki.
"Kenapa? siapa tahu kakek mau menjadikanku sebagai penerus kedudukannya. Lagipula aku cucunya." Quinn mengangkat satu sudut bibirnya membentuk senyuman miring, "Jangan melihatku seperti itu Ayah, aku bukannya mengincar sebuah kekuasaan terkuat. Aku hanya ingin hidup aman."
"...kau sudah banyak berubah. Aku harap kau tidak mengambil jalan yang salah." Savero menyesap teh nya santai.
Quinn mengangguk-anggukan kepalanya. Gadis ini sudah melihat masa depan dan sudah pula merasakan kematian yang menyedihkan dan dalam keadaan amat terhina. Mengingat sikap dingin dan acuh yang ditunjukkan oleh Savero dan juga Killian saat ia memohon bantuan sebagai harapan terakhir, rasanya tidak berlebihan jika sekarang Quinn sungguhan melakukan apa yang dia katakan tadi.
"Ayah, sejak kedatanganku ke rumah kemarin, aku sudah memutuskan sesuatu. Aku tidak akan bersikap seperti kalian adalah orang penting dalam hidupku. Kemarin itu adalah terakhir kalinya aku bersikap seperti Quinn lama." Quinn tidak menunjukkan keraguan sama sekali dan itu membuat nafas Savero tercekat. "Ayah memang ayahku, Killian memang adikku, tapi suatu saat kita semua akan berpencar menjalani hidup masing-masing. Aku dengan keluargaku, Killian dengan keluarganya, dan Ayah sendirian. Jadi, mengapa kita tidak membiasakan itu mulai dari sekarang? tidak ada ruginya."
"Quinn, itu—"
Quinn memotong ucapan Savero sebelum pria itu bisa menyampaikan apa yang ingin dikatakan. "Tenang, Ayah. Aku tidak akan mempermalukan nama Shuvillian. Mungkin aku juga akan segera berganti menjadi Lombardia."
"Hm, itu bukan ide yang buruk. Aku memang membutuhkan penerus untuk melanjutkan semua tanggung jawabku." sahut Bastien yang telah mendengar semua ucapan Quinn dari pintu.
"Kakek? sejak kapan kakek ada di sana?"
Savero mengatur nafasnya. "Aku rasa Ayah perlu mencari sosok yang lebih kuat. Quinn tidak bisa bertahan dibawah tekanan." Savero tahu Quinn sama seperti mendiang istrinya, sama-sama memiliki fisik yang lemah sehingga mereka mudah jatuh sakit dan sakit yang dialami pun bukan sakit ringan.
Quinn merotasikan kedua bola matanya jengah. "Ayah, ini hidupku jadi aku yang berhak memutuskan."
Bastien tertawa garing guna mengurangi ketegangan yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia pun bergabung dengan anak dan cucunya. Pria itu lalu memberikan data yang dibawa Evan padanya. "Selamat, nak. Kau sukses besar."
"Aku?" beo Quinn tidak mengerti. Setelah membaca isi kertas tersebut, Quinn menyinggung senyum bangga. Tidak untuk mengapresiasi diri sendiri, melainkan merasa bangga Oddeth bisa menghindari masa depan yang menyedihkan juga. Rasa bersalah Quinn sudah hilang. "Aku tidak akan mengambil sepeserpun untung yang di dapat. Itu idemu, jadi biar kau saja yang memetik keuntungan dari ide brilianmu."
"Sungguh? kakek yakin tidak apa-apa?"
"Tentu. Oh dan bagaimana dengan tanamannya? sudah mulai segar kembali?"
"Sudah, kakek. Aku hanya perlu mengajak mereka bergabung dengan kita."
Savero terdiam tidak dapat mengikuti pembicaraan Bastien dan juga Quinn. Karena penasaran, akhirnya dia bertanya pada Bastien. "Bisnis apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?"
Quinn menggantikan tugas Bastien untuk menjawab. "Kakek akan membuat pabrik. Dia ingin menyejahterakan rakyatnya di sini."
Quinn bisa mengimbangi obrolan bisnis ini saja sudah sangat aneh. Savero melirik wajah bahagia Bastien. "Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun." batin Savero pasrah, meski ada di satu sudut di dalam hatinya yang berdenyut sakit.
"Quinn, aku menerima paket obat. Apa yang ingin kau lakukan dengan obat-obat itu?" tanya Bastien bingung.
"Kakek ingat 'kan? kasus penyakit pada anak-anak yang cepat menular. Aku memesan obat itu dari orang yang hebat, jadi kita bisa membagikannya. Satu kali minum saja sudah akan membaik, setidaknya sampai kakek bisa memproduksi sabun itu." Quinn tersenyum mendengar kabar baik itu. Berarti Izeqiel juga telah menerima paket obat untuk rakyatnya di wilayahnya. "Aku sudah menemukan petani yang bisa merawat tanaman di kebun rosemary nya. Oh kakek tahu? anak petani itu tertarik dengan obat-obatan. Aku akan merekrutnya."
Savero terheran-heran. Quinn benar sudah berbeda. Gadis itu tidak membual. Tampaknya dia sudah mulai serius.
"Itu bagus. Kerjamu sangat cepat. Aku akan menantikan hasilnya." Bastien menepuk puncak kepala cucunya, "Tapi kau tidak akan ku biarkan pergi ke mana-mana. Kau harus menyembuhkan lukamu."
"Tapi..."
"Bekerja lebih cepat memang bagus, tapi kau tidak boleh melupakan kondisimu sendiri. Ayahmu akan semakin mengkhawatirkan mu."
Sementara itu di waktu yang sama, Penelope sedang berhenti di toko bunga dekat dengan kediaman Lombardia. "Permisi, bolehkah saya melihat-lihat dibagian sana?" tanya Penelope dengan sopan sambil menunjuk bagian pojok toko yang mana hanya bunga-bunga dengan arti khusus yang diletakkan di sana. "T-tentu saja, Lady."
Jajaran bunga berwarna pekat dengan arti kurang bagus menarik perhatian Penelope. Tidak semua orang mengerti arti dari tiap jenis bunga dan warnanya. "Aku membencimu Quinn, kau selalu mendapatkan apapun dengan mudah. Kau tidak pernah sekalipun merasakan penderitaan yang sama denganku." gumam Penelope dengan rahang yang mengeras.
Dia pun mengambil sepuluh batang bunga lily oranye. Gadis cantik nan molek itu mengambil botol berisi serbuk racun yang bisa membuat siapa saja yang menghirupnya dalam jarak sangat dekat kesulitan bernafas. Lalu dia meletakkan botol itu di belakang pot.
"Permisi, saya ingin membeli ini."
"Baik, Lady."
Setelah membeli, Penelope kembali masuk ke dalam kereta kuda sambil membayangkan wajah Quinn yang baginya terlihat sangat jelek dan menyebalkan. "Quinn, berkorbanlah demi aku. Aku janji aku akan selalu berziarah ke makam mu dan mendoakan agar Dewa mau menempatkanmu di sisinya."
Genggaman Penelope pada buket bunga di pangkuannya menguat begitu kereta yang dinaikinya mulai berhenti. "Malaikat maut mu datang, Quinn."