
# PERINGATAN ⚠️⚠️⚠️
Mohon dibaca terlebih dahulu pemberitahuan ini supaya tidak menyesal!
Chapter ini mengandung adegan yang tidak cocok untuk anak dibawah umur karena mengangkat tentang mental illness!
UNTUK YANG TIDAK KUAT DENGAN BACAAN BERAT DAN GELAP, BOLEH DI SKIP DULU YA!
...•...
...•...
...•...
...•...
"BINTANG KERAJAAN TELAH LAHIR!"
"KEMAKMURAN AKAN MELIMPAHI ETHEREAL!"
"HIDUP RAJA KAISEN! HIDUP RATU ODELIA!"
"HIDUP PUTRA MAHKOTA!"
terdengar sorak sorai penuh suka cita bergema hingga ke langit dari seluruh rakyat Helldelune. Tidak hanya pasangan Raja dan Ratu saja yang berbahagia atas kelahiran putra mereka, namun seluruh penjuru negeri juga merayakan kebahagiaan keluarga kerajaan.
Kebahagiaan mereka berlipat ganda tatkala bayi yang lahir memiliki mata biru terang yang indah seperti berlian safir. Konon, keturunan kerajaan yang lahir dengan mata biru dianugerahi oleh dewa kekuatan untuk menjaga perdamaian negeri. Dialah yang akan dapat melihat apa yang orang biasa tak bisa lihat, termasuk melihat spirit yang merupakan penyokong Ethereal sejak ratusan tahun silam.
"Akan ku namai dia Raiden Vill de Sorrentine!" Kaisen mengangkat bayi mungilnya yang kulitnya masih kemerahan ke udara agar para rakyat yang menyaksikan di bawah bisa melihat putranya dengan baik.
"Hidup Pangeran Raiden!"
"Hidup!"
Festival diadakan selama tujuh hari tujuh malam untuk merayakan kelahiran putra pertama Kaisen dan Odelia. Semua bersuka ria menikmati festival besar yang semuanya disediakan secara gratis oleh Kaisen. Cukup berlebihan memang, tetapi festival itu adalah rasa syukur Kaisen atas kelahiran Raiden yang telah lama ia dan istrinya nanti. Setelah dua tahun pernikahan, akhirnya Odelia mengandung dan sekarang keduanya sudah bisa melihat buah cinta mereka yang mendapat anugerah dari dewa.
Karena keturunan Raja selama kurang lebih dua ratus tahun tak ada yang lahir dengan mata biru terang sebening kristal, masyarakat begitu menyanjung dan mengagung-agungkan sosok manusia seperti Raiden.
Apapun itu, butuh atau tidak, tanpa diminta, tanpa perlu diucap, Raiden selalu mendapatkan semuanya. Tak perlu dibarengi usaha, semua langsung tersedia di depan mata.
Bahkan beberapa pelayan di istana tidak hanya menyayangi Raiden tetapi mereka secara gamblang meminta padanya untuk memberi perlindungan kepada mereka seakan mereka tengah berdoa kepada Dewa.
Satu senyuman Raiden membuat semua orang begitu bahagia seakan tengah diberkati.
Akibat kemudahan hidup itu, Raiden mulai kehilangan emosinya sebagai manusia. Raiden kecil yang belum mengerti apa artinya sebuah kerajaan jadi mempertanyakan jati dirinya sendiri.
Di usianya yang baru menginjak lima tahun, Raiden bertanya pada Odelia ketika sang ibu tengah membacakannya dongeng pengantar tidur. "Ibu, aku ini apa? mengapa mereka semua memujaku? apa aku ini semacam Dewa?" Raiden mewarisi gen ayahnya dalam ketangkasan berpikir. Odelia sampai dibuat berpikir lebih keras agar Raiden tidak melontarkan pertanyaan lebih lanjut.
"Tentu saja kau anak ibu dan ayah. Sayang, mereka semua mengagumimu karena kau adalah putra dari seorang Raja. Kau tahu, Raja adalah pemimpin dari negeri ini. Dia yang mengatur segala tata kehidupan Ethereal. Saat dewasa nanti, kau yang akan menggantikan tugas ayahmu sebagai Raja."
"..." jawaban Odelia tidak memuaskan keingintahuan Raiden tentang sikap semua orang terhadap dirinya. Rasanya jawaban sang ibu tak menyentuh titik dahaga yang ada dalam diri Raiden.
"Raiden belum mengerti karena Raiden belum belajar tentang sejarah kerajaan ini. Suatu saat nanti, Raiden akan mengerti semuanya. Sekarang tidurlah, sudah larut malam."
Keesokan paginya, saat Raiden sedang dibawa berjalan-jalan oleh dayang khusus Odelia, dia kembali bertanya. Berharap akan ada jawaban yang membuat dirinya terpuaskan. "Bibi Anne, apa aku boleh bertanya?"
Wanita berambut pirang itu tersenyum seraya berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Raiden kecil. "Selagi masih dalam pengetahuan saya, saya akan menjawabnya. Memangnya apa yang ingin Anda tanyakan?"
"Memangnya aku spesial? mengapa mereka semua sangat tunduk padaku? aku tidak mau jawaban yang sama. Aku tidak membicarakan statusku."
Anne tertegun. Seorang anak berusia lima tahun sudah bisa menanyakan hal serius yang tampaknya membuat anak ini tertekan. "Itu karena sejarah dari terbentuknya Kerajaan Ethereal, Pangeran."
Sang dayang khusus kemudian menceritakan mengenai sejarah terbentuknya Kerajaan sesuai dengan yang aslinya. Anne bisa mengetahuinya karena dayang khusus juga dianggap sebagai keluarga kerajaan. Raiden tampak sangat fokus mendengar tiap detail kisah yang disampaikan oleh Anne. "Katanya, mata biru Anda adalah tanda bahwa Dewa spirit menganugerahkan kekuatan bagi Anda yang terpilih setelah ratusan tahun lamanya untuk jadi Raja terkuat yang mampu melindungi Ethereal dari serangan musuh."
Mata bulat besar Raiden tak lepas dari wajah Anne, tatapan tersebut sungguh sangat mengintimidasi. "Hanya karena mata? aku rasa mereka semua terlalu mudah mempercayai dongeng yang belum ada buktinya sama sekali."
Anne mengelus puncak kepala kebiruan Raiden dengan lembut, "Yang Mulia, apakah Anda belum merasakan ada sesuatu dengan penglihatan Anda?"
Raiden terdiam. Dia bisa melihat aura yang jelas dari seseorang, Raiden tahu mana orang yang memiliki aura bersih dan mana yang tidak. Kebanyakan Ksatria memiliki aura yang lebih gelap dan pekat, bahkan sesekali Raiden bisa mencium aroma getir darah dari tubuh mereka yang bersih karena mereka telah banyak membunuh selama di medan perang. Kepekaan semacam itu membuat Raiden yakin dia memang bukan manusia normal.
"Bibi, aku tidak mau bermain. Aku mau belajar." bocah lelaki itu berlari meninggalkan lorong menuju ke ruangan Kaisen.
"Yang Mulia, Anda mau pergi kemana? Yang Mulia, tunggu saya!"
Ketika Raiden sampai ke ruang tahta, ia melihat Kaisen tengah memberi hukuman penjara terhadap dua pelayan yang ketahuan hendak meracuni keluarga kerajaan. Mereka berdua kemudian digiring oleh Ksatria istana menuju ke penjara bawah tanah.
Dua pelayan pria itu memandang ke arah Raiden, mereka tersenyum pedih seraya menyatukan kedua telapak tangan. "Tolong ampuni dosa kami, Yang Mulia." lirih mereka yang diseret pergi.
Melihat kuasa yang ditunjukkan oleh Kaisen membuat sesuatu dalam diri Raiden terpancing. Memberi perintah tanpa ada yang menyangkal, menghukum tanpa ada yang menyatakan keberatan, dan mengatur tanpa ada yang berani memberontak. Ucapan Raja adalah mutlak.
"Ayah, apa aku juga bisa mengadili seseorang seperti yang Ayah lakukan barusan?"
Kaisen memangku tubuh ringan putranya. "Ada syarat penting yang tidak boleh kau lepaskan dalam memegang status sebagai Raja."
"Apa itu?"
"Kekuatan besar selalu harus dibarengi dengan tanggungjawab. Kau tidak boleh asal bicara tanpa adanya keputusan yang bijak. Kau tidak boleh asal mengatur tanpa memikirkan resiko bagi kerajaan dan rakyatnya. Kau juga tidak boleh asal menghukum jika seseorang tidak terbukti bersalah."
"Kalau begitu, aku akan belajar mulai dari sekarang."
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Raiden. Kau masih terlalu kecil untuk mempelajari semu—"
Raiden sama sekali tak menunjukkan keraguan saat menyela ucapan Kaisen. "Tidak. Mereka semua sudah menyembahku seperti yang mereka lakukan padamu. Itu artinya aku juga punya kekuasaan seperti Ayah. Aku hanya tinggal belajar saja."
"Nak... apa yang kau bicarakan ini?"
"Aku akan melebihi ekspektasi mu. Aku berjanji akan jadi Raja terkuat sepanjang sejarah, aku tidak akan mengecewakanmu."
Raiden berlari lagi menuju ke perpustakaan di ruang bawah tanah, tempat semua benda-benda penting dan sakral tersimpan. Ruang bawah tanah tersebut juga berisi foto-foto Raja, Ratu, dan Pangeran terdahulu. Raiden kecil mencari jawaban sendiri untuk apa yang selama ini dia pertanyakan.
Baik Kaisen maupun Odelia, kedua orang tua Raiden sama-sama tak pernah memaksa Raiden untuk belajar terlalu banyak. Raiden tidak pernah mengeluh sama sekali, dia mengurung diri di ruang bawah tanah dan membaca dua buku setebal ensiklopedia dalam waktu setengah hari. Tidak jarang dia sampai mimisan karena kelelahan.
Odelia tidak dapat melihat itu, hatinya sakit ketika tahu putra tunggalnya terlihat tersiksa dengan banyaknya hal yang dia pelajari mulai dari sejarah istana hingga detail tiap pelajaran yang harus seorang Raja miliki. Bocah kecil yang seharusnya masih tahu bermain saja itu memilih jalan yang lebih ekstrim untuk ukuran anak sekecil dirinya.
"Ibu menghalangi aku! aku harus mencari tahu semua jawaban dari pertanyaan ku!" bentak Raiden frustrasi karena seharian penuh berada di ranjang. Odelia telah melarangnya datang ke ruang bawah tanah untuk beberapa hari ke depan.
"Sayang, kau tidak usah belajar dulu. Istirahatlah. Kau membuat ayah dan ibumu khawatir." Odelia menatap anaknya cemas. Ibu mana yang tidak khawatir melihat putranya mudah mimisan ketika sedang belajar.
"Ibu tidak tahu apa-apa. Aku butuh sebuah tujuan besar untuk bertahan hidup."
Kebiasaan Raiden yang berat berlanjut hingga usianya menginjak tujuh tahun. Kaisen tidak dapat berbuat apa-apa lagi saat Odelia terus memintanya untuk membujuk putra mereka agar tidak bekerja terlalu keras.
Di usia tujuh tahun, Raiden memperlihatkan kedewasaannya. Dia sudah bisa mengatasi permasalahan dan keluhan rakyat kecil yang berkonsultasi kepadanya ketika ia berjalan-jalan di kota. Akan tetapi tidak ada yang sadar, bahwa kekosongan juga menganga semakin besar dalam dirinya.
Pertanyaan seperti 'apa tujuanku terus bertahan hidup?' yang terhitung mudah saja tidak dia temukan jawabannya.
Semakin Raiden menunjukkan kecerdasan dan kontribusi nya dalam membantu masyarakat, semakin disanjung ia. Kemana pun Raiden melangkah, selalu ada manusia yang memujanya dan memberinya banyak puji-pujian.
Perlakuan istimewa yang terus menghujani nya telah memantik cikal bakal pengkhianatan dalam hati Raiden sebagai keturunan Raja terhadap janji di masa lalu dengan Dewa Spirit. Menjadi Raja merupakan suatu kepastian sebab dialah putra Kaisen Vill de Sorrentine, tapi siapa yang akan mengira bahwa manusia yang teranugerahi Dewa menjadi salah satu dari mereka? hanya itu yang menurut Raiden menantang untuk diwujudkan.
"Jika mereka menganggapku seperti Dewa, maka aku hanya perlu mengabulkannya. Aku akan jadi Dewa yang mengendalikan semua makhluk hidup di Ethereal. Aku akan membuang siapapun orang yang tidak berguna."
'Menjadi Dewa' telah menjadi tujuan hidup seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Ethereal. Dia banyak mempelajari buku-buku terkait sihir dan semacamnya untuk menemukan jalan bagaimana cara agar dia bisa meraih kekuatan besar tersebut.
Tujuannya semakin paten tatkala melihat Odelia tengah berkumpul bersama empat orang temannya dalam acara pesta teh kecil-kecilan. Satu orang yang menarik di matanya, yaitu Sirena de Alger Shuvillian. Cahaya terang yang menguar dari dirinya dipenuhi oleh kesucian luar biasa yang tak pernah dia lihat pada orang lain sebelumnya. "Itu..." mereka tampak mengobrol dengan gembira seperti sedang membicarakan sesuatu yang membahagiakan.
Melihat Sirena membuat harapan bersemayam dalam dirinya. Berarti ambisinya untuk menjadi Dewa bukanlah suatu hal mustahil untuk dicapai. Sayang sekali Raiden saat itu terburu-buru mengikuti pelatihan pedang bersama para Ksatria tinggi Ethereal.
Keesokan harinya, tepat saat Raiden tidak memiliki jadwal latihan ataupun belajar, Odelia mengajak putranya untuk menikmati teh pagi hari bersama di taman mawar kesukaan sang Ratu tercinta.
Odelia mengamati wajah Raiden yang tampak berseri dibanding hari biasa. "Kau kelihatan senang, nak. Ada kabar baik apa? ceritakan pada ibu. Ibu penasaran ingin mengetahui hari-harimu."
Raiden mengembangkan senyuman sumringah, "Aku hanya senang karena aku sudah menemukan tujuan hidupku," katanya sambil menyeka sudut bibirnya.
"Benarkah? ibu turut bahagia untukmu." Odelia tertawa kecil melihat kebahagiaan putranya, "Kau seperti menjadi orang yang berbeda."
Raiden menatap wajah ayu nan anggun ibunya, senyum hangat itu memancarkan aura lebih terang. "Ibu, ada berita yang menyenangkan? sejak kemarin ibu selalu tersenyum."
Wajah Odelia memerah malu, "Apa begitu kelihatan?"
"Ya. Ada kabar baik apa?"
"Sebenarnya, Ibu belum sempat memberitahumu dan juga ayahmu kalau ibu sedang hamil."
Tubuh Raiden membeku. Otaknya terasa seperti berhenti bekerja sesaat. Hamil katanya? "Ibu sungguhan hamil?"
"Ya, kau akan mempunyai seorang adik. Tidakkah kau bahagia?" senyum cerah Odelia membuat Raiden ikut merasakan bahwa wanita dihadapannya sangat menantikan kehadiran anggota keluarga baru. "Kapan Ibu akan memberitahu Ayah soal kabar bahagia ini? tidak baik menyimpan kesenangan sendiri."
"Ibu berencana ingin memberitahukannya besok tepat di hari jadi pernikahan kami. Kau mau bantu ibu membuat kejutan? kita bertiga bisa mengadakan makan malam bersama."
"Aku setuju. Itu ide yang sangat bagus, Ibu."
"Ibu tidak sabar ingin memberi kejutan untuknya."
Raiden teringat akan pesta teh yang kemarin Odelia lakukan bersama teman-temannya. "Oh iya, aku ingin menanyakan sesuatu kepada ibu."
"Hm? apa itu, sayang?"
"Teman ibu yang berambut hitam panjang itu, aku baru pertama kali melihatnya. Dia kelihatan sangat mengagumi ibu." Odelia segera mengetahui siapa yang putranya tanyakan, dia mengangguk kecil, "Itu adalah istri dari Count Savero. Dengan kata lain, dia adalah menantu Grand Duke Bastien. Namanya adalah Sirena. Kau kelihatan tertarik dengannya. Oh, atau jangan-jangan kau sudah dengar kalau Sirena memiliki putri yang sepantaran denganmu?" Odelia berpikir Raiden tertarik dengan putri Sirena, padahal Raiden sama sekali tidak mengetahuinya.
"Aku menyukainya karena dia yang paling kelihatan tulus berteman dengan ibu." dalihnya.
Raiden jadi penasaran dengan putri Sirena yang Odelia sebutkan. Tetapi untuk saat ini dia masih sibuk dengan urusan dalam istana. Ditambah, Odelia ingin merancang makan malam keluarga sebagai kejutan tambahan. "Aku akan membantu ibu mempersiapkan makan malamnya."
"Terima kasih, Raiden ku~"
"Hehe, ibu hanya perlu menyiapkan diri untuk mengatakan yang sejujurnya pada ayah."
"Tapi, Yang Mulia... biar saya saja yang melakukannya, Anda tidak perlu mengotori tangan Anda dengan mengerjakan pekerjaan ini."
"Ini hari spesial ayah dan ibu. Aku ingin berkontribusi menyiapkan makan malam untuk mereka."
"Baiklah jika itu yang Anda inginkan."
Raiden bersemangat mengantarkan makanan menggunakan troli ke ruang makan. Meja panjang di sana sudah sstengahnya terisi. Aroma makanan semerbak menyebar ke seluruh ruangan. "Ini akan membantu."
Saat itu Odelia sedang melewati ruang makan. Dia berhenti begitu melihat Raiden sendiri yang mengisi gelas dengan jus jeruk yang di tuang dari teko. Wanita itu tak dapat menahan senyuman, "Raiden, ternyata kau bekerja keras menyiapkan ini."
"Ibu? masuklah, aku sudah menyiapkan semua nya. Kita hanya tinggal menunggu ayah selesai dengan pekerjaannya."
Singkatnya, setengah jam kemudian Kaisen datang ke ruang makan segera setelah dia menyelesaikan rapat dengan para menterinya. "Maaf, aku agak terlambat. Kalian pasti sudah bosan menungguku." ucap Kaisen merasa bersalah.
Istri tercinta Kaisen itu menggeleng pengertian, "Tidak. Kau tidak perlu bicara begitu. Mari kita makan malam dulu."
Kaisen duduk di kursi utama sembari menatap Odelia. "Kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu."
"Nanti saja, ayo makan dulu."
Sepuluh menit berlalu dan mereka telah menghabiskan makanan yang tersaji di piring masing-masing. Suasana yang hening datang menghampiri. Odelia tidak dapat mengatur detak jantungnya, dia gugup sekaligus tak sabar melihat reaksi macam apa yang akan diberikan sang suami setelah mendengar kabar kehamilan keduanya.
Kaisen yang menyadari kegelisahan istrinya pun bertanya, "Kau sejak tadi kenapa? aku jadi semakin penasaran dengan apa yang ingin kau katakan."
Raiden meminum jus jeruk di gelasnya sambil memperhatikan interaksi di antara ayah dan ibunya.
"A-anu, begini...aku ingin memberitahumu sesuatu yang sangat penting."
"Apa itu? cepatlah, kau membuatku mati penasaran."
"Sebenarnya aku sedang ham— urgh! argh! sakit sekali!" jerit Odelia kesakitan sambil meremas perutnya. Kaisen dengan sigap menopang tubuh istrinya. Wajahnya memucat, "Odelia? Odelia! Apa yang terjadi?!" Odelia tidak sanggup lagi menjawab. Untuk bergerak pun dia tidak bisa. Odelia sudah seperti cacing yang terus menggeliat menahan sakit yang teramat sangat di perutnya. "Raiden, cepat panggilkan dokter istana!"
Raiden mengangguk lalu keluar ruangan secepat mungkin untuk memanggilkan dokter. Seluruh pelayan istana tampak ikut gelisah dan takut ketika Odelia masih dalam pemeriksaan. Anne yang tidak tega akhirnya membawa Raiden ke kamarnya supaya dia tidak sedih melihat keadaan ibunya.
"Pangeran, mari kita tunggu kabar Ratu di sini saja. Anda jangan khawatir, Ratu pasti akan baik-baik saja." Anne melihat Raiden yang diluar dugaannya tetap kelihatan tenang tanpa diminta. "Bibi, apa yang terjadi pada ibu? apa dia akan mati?"
Kedua mata Anne berkaca-kaca, dia segera memeluk tubuh dingin Raiden. "Tidak, tidak akan terjadi hal buruk pada ibu Anda, Pangeran. Anda jangan khawatir." ujarnya menenangkan.
"Semoga begitu."
"Pangeran, Anda tunggulah di sini. Saya akan melihat keadaan Ratu untuk memastikan dia baik-baik saja. Saya akan segera kembali."
"Ya."
Begitu Anne keluar, berita langsung tersebar dari bisik-bisik para pelayan istana yang hendak kembali ke tempat mereka masing-masing. "Kasihan sekali, Yang Mulia Ratu. Beliau baru saja mengandung satu bulan, tetapi dia tiba-tiba keguguran. Dokter tadi bilang beliau telah meminum racun yang akhirnya membunuh janin dalam kandungannya."
Mereka sebagai sesama pekerja menjadi ketakutan karena Raja tampak sangat marah dan akan menghukum berat siapapun yang telah berani meracuni istrinya hingga membunuh bayi dalam kandungan Odelia.
Malam itu juga terjadi kerusuhan yang cukup besar. Raja yang biasanya selalu bijak dan tenang dalam menghadapi setiap persoalan kini terlihat seperti singa yang meraung marah.
Raiden yang mendengar dari balik pintu kamarnya tersenyum. Bocah tujuh tahun itu mendekati perapian yang apinya sedang berkobar cukup besar. Tangannya merogoh botol kecil lalu membuangnya ke dalam perapian. "Tidak akan ada yang menyangka bahwa yang meletakkan racun pada gelas ibu adalah aku."
Dia duduk di tepi ranjang sambil membaca buku sihir terlarang yang dia temukan di lemari ruang bawah tanah. "Aku tidak membutuhkan seorang adik. Walau aku sudah pasti akan menjadi Putra Mahkota, kehadiran seorang adik akan sangat mengganggu."
Ya, inilah kenyataannya. Raiden adalah pelaku pembunuh adiknya sendiri. Dia menganggap kehadiran penerus lain tak diperlukan karena dia akan jadi satu-satunya dalam kerajaan yang mewarisi tahta sekaligus Raja pertama yang akan menjadi Dewa.
Tidak, Raiden tidak memiliki setitik pun rasa bersalah dan menyesal. Menangis pun tidak. Tidak peduli apa yang dirasakan orang lain, Raiden menikmati keberhasilannya menyingkirkan penghalang jalan menuju impiannya.
Cklek
Raiden langsung mengembalikan buku dalam pangkuannya ke dalam laci mejanya lagi. Anne kembali dengan bercucuran air mata. Wanita itu ikut merasakan sakitnya Odelia. Melihat Odelia yang begitu terpukul membuat Anne merasa bersalah karena dia tidak ada di sana untuk mengecek makanan yang akan dikonsumsi Ratu.
"Bibi, mengapa kau menangis?"
"Pangeran, Anda tidak boleh ikut bersedih. Mari kita pikirkan bagaimana cara menghibur Yang Mulia Odelia."
"..."
•
•
Sudah satu minggu lamanya Odelia terus mengurung diri di dalam kamar, tidak berminat sedikitpun untuk keluar. Untuk sekedar membuka tirai jendela saja ia enggan. Dia begitu patah hati mendengar penjelasan dokter bahwa rahimnya telah rusak dan dia tidak akan bisa lagi mengandung. Makan malam yang seharusnya di penuhi kebahagiaan malah berakhir dengan tangisan pilu Odelia. "Aku mengecewakan Kaisen. Dia menginginkan teman untuk Raiden, tapi aku tidak akan bisa lagi mewujudkannya."
Odelia menenggelamkan wajahnya pada lutut yang di peluknya. "Kaisen, maafkan aku. Aku tidak becus sebagai seorang istri." isak tangis keputusasaan menggaung dalam kamar gelap tanpa ada cahaya bisa masuk ke dalam itu.
Tok tok tok
Odelia meredam suaranya ketika mendengar bunyi ketukan pada pintu kamarnya. "Ibu, ini Raiden. Boleh aku masuk?" Raiden muncul dibalik pintu dengan membawa nampan berisi bubur yang telah dicampur dengan rempah-rempah untuk memulihkan kondisi kesehatan Odelia.
"Sayang, kemarilah."
Odelia langsung memeluk Raiden sekencang mungkin, meluapkan segala perasaan yang membuncah dalam hatinya. Kesedihan tak dapat ia bendung saat melihat wajah putranya. "Maafkan aku, aku telah mengecewakan kalian berdua." kata Odelia tersendat-sendat disela isak tangisannya.
"Ibu, tidak perlu meminta maaf untuk sesuatu yang tidak ibu sengajakan. Itu semua sudah terjadi, kita tidak bisa terus menangisi nya." Raiden menyingkirkan rambut-rambut Odelia yang basah terkena air mata ke belakang daun telinganya. "Ibu akan sakit semakin parah jika ibu terus menolak untuk makan."
"Tapi, bagaimana Ibu bisa makan jika Ibu baru saja membunuh darah dagingku sendiri? ibu macam apa aku ini."
"Ibu masih punya aku, 'kan? jangan bersedih seperti itu. Aku akan jadi orang yang bisa mewujudkan keinginan ibu. Semua orang juga tahu bahwa aku diberkahi oleh Dewa."
Odelia tersenyum walau terpaksa, tangannya bergerak pelan mengelus puncak kepala putra tunggalnya. "Kau benar, ibu masih punya kau. Maaf, ibu kelihatan melupakanmu."
"Tidak masalah. Aku tahu ibu hanya sedang sedih memikirkan calon adikku yang telah tiada. Tapi itu bukan salahmu. Tidak ada dari kami yang menyalahkanmu."
"Aku merasa gagal jadi seorang ibu. Menjaga bayiku saja aku tidak bisa."
"Ibu butuh udara segar agar bisa berpikir jernih. Aku bantu membuka jendela ya."
Raiden membuka seluruh tirai dan jendela agar cahaya matahari dapat masuk mengganti suasana kamar yang amat suram itu. Dia dengan sabar terus memberikan motivasi dan dukungan mental pada Odelia yang sedang mengalami stress berat.
Satu jam mereka berdua berbincang, Odelia pun sudah mulai bisa tersenyum lagi meski rasa sakitnya belum hilang. Setidaknya Odelia merasa terhibur dengan kehadiran Raiden di sana.
Sampai akhirnya Odelia teringat akan pembahasan singkat mereka di taman kala itu. "Ibu belum sempat menanyakannya, tapi memangnya apa tujuan hidupmu?"
Raiden tidak segera menjawab, dia sedang memikirkan jawaban apa yang kira-kira bagus untuk dia perdengarkan pada ibunya yang sedang sakit. "Aku ingin jadi Raja yang memegang kendali atas semuanya. Aku ingin jadi satu-satunya kandidat Putra Mahkota. Oh, apa ibu tahu? aku memiliki anugerah dari Dewa, tapi tidak ada yang pernah membayangkan bagaimana aku bisa menjadi salah satu dari Dewa, iya 'kan? aku ingin mewujudkan apa yang berada diluar ekspektasi semua orang."
Senyum Odelia memudar, "Eh? apa maksudmu, nak?" jantungnya kembali berdegup tak nyaman.
"Aku akan menjadi Dewa spirit. Dengan begitu tidak akan ada seseorang yang sebanding denganku."
Plak!
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat dengan mulus di pipi putih Raiden. Pipi kiri Raiden memerah sempurna membekas cap tangan Odelia. Jujur, Odelia sendiri terkejut dengan tindakannya. "Raiden, katakan pada ibu kalau itu semua hanya candaanmu."
Meski sudut bibir Raiden sampai mengeluarkan darah, Raiden sama sekali tak berekspresi. Dia berani memandang wajah Odelia, "Tidak. Untuk apa membuat tujuan hidup sebagai candaan? aku mengatakannya karena ibu bertanya."
"Apa kau sudah gila?! Jadi Dewa? itu mustahil! Raiden, apa kau sudah lupa bagaimana kerajaan ini bisa terbentuk? kau hanya akan mendatangkan malapetaka pada Ethereal!" pekik Odelia marah.
"Bagaimana itu bisa mustahil? aku sudah menemukan caranya. Ibu hanya tinggal duduk diam dan melihatku mewujudkannya."
Odelia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan putranya sendiri. "Kau sudah tidak waras. Raiden, mengapa kau menjadikan itu sebagai tujuan hidupmu? sudah sejauh mana kau melenceng?"
"Membunuh adikku sendiri saja aku bisa. Ibu tidak menyangka bahwa akulah pelakunya 'kan? sama saja dengan tujuan hidupku. Aku akan membuatnya menjadi nyata sekalipun ibu mengatakan ribuan kali bahwa itu mustahil."
Deg
Wajah Odelia langsung berubah pucat pasi. Dia tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya kecuali kelopak mata. Pandangannya berkunang-kunang. Dadanya teramat sangat sakit. Nafasnya menjadi tidak beraturan.
Membunuh katanya? membunuh bayiku? Raiden, putraku telah membuatku keguguran dengan tangannya sendiri?
Seketika Odelia tumbang. Dia yang kondisinya masih sangat lemah terutama mentalnya yang sedang terombang-ambing tak kuat mendengar ucapan putranya sendiri. Jantungnya seketika tak berfungsi semestinya. "Jika ibu berniat menghentikanku, aku tidak segan menyingkirkan ibu. Aku akan menyingkirkan siapapun yang tidak berguna dan hanya akan menghalangi jalanku."
Raiden tetap tak peduli meski melihat nafas ibunya sudah tersendat-sendat. "R-r... Raiden, maafkan ibu." airmata kembali meleleh membasahi pipinya.
"Ibu, beristirahatlah dengan tenang. Aku akan berjuang dengan caraku sendiri."
Raiden pergi meninggalkan ruangan tanpa memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Odelia. Sebelum pergi, Raiden terlebih dulu memecahkan mangkuk berisi bubur rempah dan membuatnya terlihat seolah Odelia sendiri yang menjatuhkannya.
Sore itu juga, istana Ethereal berduka. Odelia telah meninggal akibat serangan jantung dan tidak ada siapapun yang sempat menolongnya.
Kaisen begitu terpukul dengan kepergian mendadak istri satu-satunya yang sangat dia cintai. Seluruh kota dipenuhi oleh bunga putih untuk menunjukkan betapa masyarakat ikut kehilangan sosok Ratu yang dikenal sangat baik dan penuh kasih sayang.
Semua orang terdekat Odelia menangis saat berada di pemakamannya. Bunga berwarna putih sudah membentang seperti permadani dunia mengelilingi makamnya. Hanya Raiden yang menatap kosong batu nisan bertuliskan nama ibunya.
Tidak sedikit pihak yang mengasihani nasib Raiden yang 'malang'. Dia belum lama kehilangan calon adik dan sekarang disusul oleh ibunya. Anne selaku dayang khusus yang melayani Ratu mengalami kesedihan yang amat mendalam, namun dia masih memegang tugas merawat Raiden hingga pemuda itu berusia lima belas tahun.
Guna menghibur Raiden yang kelihatan bosan dan kesepian (menurut Anne), wanita lemah lembut itu memberikan seekor kucing kecil untuk menemani Raiden di kala senggang. "Terima kasih, bibi. Kaulah satu-satunya orang yang masih sempat mempedulikan aku."
Anne memeluk Raiden guna menyalurkan kehangatan. "Pangeran, saat ini Baginda Raja juga sedang dalam masa yang sulit. Anda jangan merasa bahwa Anda telah dibuang dan tak dipedulikan lagi oleh beliau, ya."
Satu bulan berlalu, istana masih saja di penuhi oleh suasana berkabung. Sepi melanda meski puluhan pelayan memenuhi lorong istana. Guna membuang rasa bosan, Raiden memutuskan untuk melukis di taman kesukaan Odelia, yaitu taman yang dipenuhi bunga mawar merah.
"Oh, kau lagi-lagi mengekor kemari. Sudah ku bilang berapa kali aku ini bukan indukmu." ucapnya sembari mengangkat tubuh kucing putih pemberian Anne.
Kucing itu sangat lucu, dia juga sangat manja pada Raiden. Putra tunggal Kaisen itu merasa sedikit terhibur. Dia juga tidak merasa terganggu meski kucing putih itu terus menempel di kakinya. "Ya sudah, kau ku biarkan tetap di sini menemaniku."
Raiden menikmati waktu santainya di taman tersebut, melukis taman Ratu yang sekarang terasa lebih indah baginya.
Beberapa menit kemudian Raiden menghentikan kegiatannya saat menyadari bahwa cat nya telah habis. "Cat merahnya habis. Bagaimana aku mewarnai mawarnya? ah, 'kan ada kau di sini."
Mata biru Raiden fokus mengunci objek kecil berbulu putih yang melingkari kaki kirinya itu. Seperti yang sudah kalian duga, Raiden tanpa ragu mengeluarkan belati dan melenyapkan kucing tak bersalah itu untuk mendapatkan warna merah yang dia inginkan.
Bagaimana mungkin dia bisa disebut normal jika dia sama sekali tidak gemetar saat melihat darah memenuhi tangannya. "Nah, ini sudah lebih dari cukup." Raiden mencelupkan kuasnya ke genangan darah di rumput taman tersebut. Tangannya bergerak lagi dibersamai senandung kecil yang keluar dari mulut Raiden.