I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 52 PENGHAKIMAN (1)



Rupert menidurkan tubuh Quinn dan Cleo di ranjang pasien di dalam kamar lantai dua. Di sana Vivy menyambut kehadiran temannya dengan perasaan berkecamuk, tubuhnya ikut melemas ketika ymelihat wajah pucat Quinn. Ia pun langsung menggenggam kuat tangan penyelamat impiannya "Lady Quinn, perlukah Anda meminum obat ini?" tanya nya cemas.


"Tidak. Sebentar lagi aku akan pulih sepenuhnya. Berikan obat itu pada Cleo agar tubuhnya bisa men-detoksifikasi racun itu."


"Baiklah."


Quinn enggan untuk berbaring, dia pun akhirnya memutuskan untuk duduk memandang Cleo yang tertidur amat pulas di ranjang sebelahnya. "Dia sungguh berani."


Rupert berjongkok di samping tubuh Quinn, "Lady, kenapa kau nekat melakukan ini?"


"Tujuan Raiden datang malam ini adalah untuk menolak persidangan dengan aku sebagai saksinya dan berencana menggerebek Paman menggunakan pasukannya, dia akan mengambil alih semua kerja keras ku. Jadi, aku perlu melakukan ini karena Raiden masih membutuhkanku."


Raiden yang mengira Quinn dalam bahaya pasti marah besar, jadi dia kehilangan akal dan secara otomatis akan menyerahkan kasus sepenuhnya pada Quinn. Perkiraan Quinn tepat. Raiden pasti menjadi panik, takut tujuan hidupnya tidak akan tercapai.


"Tuan Rupert. Anda sudah membawa pergi mereka semua 'kan?"


"Sudah. Mereka sudah bersama dengan Baron."


"Setelah Cleo sadar, kalian semua pergi tinggalkan tempat ini. Raiden akan menemukan ku di manapun aku berada. Selagi aku masih berada di Ethereal dia akan mendatangiku meski harus berkeliling ke pelosok negeri sekalipun."


Sebesar itu obsesinya pada kekuatanku...


Raiden bersama pasukannya mencari ke dalam hutan yang ditunjukkan para pelayan. "Yang Mulia, tampaknya kereta ini telah diserang oleh sekelompok perampok. Tidak ada tubuh Lady Quinn dan pelayan itu, petinya kosong."


"Berpencarlah ke segala penjuru."


Setelah semua berpencar dan menyisakan Jean bersamanya, Raiden memanggil segerombol kupu-kupu merah miliknya. Jean menyipit karena kepakan sayap kupu-kupu yang bergerombol sudah sampai menutupi pandangannya. Salah satunya hinggap di jari Raiden, "Cari Quinn untukku."


Seketika kupu-kupu itu menyebar ke seluruh arah. Kemudian salah satu dari mereka terbang memutar di atas kepala Raiden seakan sedang melapor pada tuannya bahwa dia telah menemukan lokasi Quinn.


"Ayo ke sana, Jean."


Raiden memacu kudanya cepat menembus hutan Verenity hanya untuk menemukan Quinn. Sejak datang ke hutan dia sudah tahu bahwa gadis incarannya itu masih hidup, namun karena dia tidak berada dalam jangkauan pandangannya membuat Raiden gelisah.


"Yang Mulia, ada sebuah rumah di kaki gunung!" kata Jean memberitahu.


"Di sana Quinn rupanya."


Jean menendang pintu dengan amat keras hingga salah satu engsel pintu nyaris copot. Rumah besar itu tampak lengang, tapi bersih terawat. Raiden segera menghilangkan kupu-kupu miliknya dan berlari menuju ke lantai dua.


Begitu pintu terbuka, tampaklah Quinn yang sedang duduk sambil memeluk lututnya di atas ranjang. Gadis itu mengangkat wajah hendak memandang siapa yang datang.


Greb


Raiden memeluk erat tubuh kurus Quinn seraya menghela nafas "akhirnya ketemu juga," gumamnya lega. Raiden mengecek seluruh tubuh Quinn untuk memastikan sesuatu, "aku tahu kau pasti bersembunyi di suatu tempat yang aman. Apa masih ada yang sakit?" tanya Raiden sambil mengelus puncak kepala Quinn dengan lembut, "aku dengar orang itu meracuni mu. Aku tidak menyangka dia orang yang seburuk itu. Maaf, aku tidak ada saat kau membutuhkanku."


Quinn tetap diam dan hanya memandangi raut penuh kasih sayang dan kepedulian yang dulu pernah membuatnya tertipu. Raiden menggendong tubuh Quinn ala bridal style. "Ayo pulang ke istana ku, Quinn. Di sana kau akan aman dan aku sudah mempersiapkan kamar khusus untukmu."


"Maaf, aku tidak membawa kereta kuda bersamaku. Aku akan membawa kuda itu dengan pelan agar kau nyaman."


Setelah menaikkan Quinn ke kudanya, Raiden memeriksa kaki gadis itu untuk memeriksa apakah ada luka atau semacamnya. "Kau akan lebih aman kalau tinggal di istana, aku akan beralasan demi melindungi saksi."


Quinn tersenyum tipis "Terima kasih atas perhatianmu. Aku tidak berniat menunda sidang meskipun aku baru kembali. Bisakah kau menyelenggarakan sidangnya besok?"


"Hahaha kau sungguh tidak sabaran. Apa kau takut aku akan merebut jasamu? aku sudah membuat pengumuman bahwa kau yang akan menjadi pelapor."


"Senang mendengarnya. Aku hanya tidak berniat membuat pamanku berlama-lama tinggal di penjara, tempat itu masih terlalu mewah untuknya."


Raiden tersenyum lebar mendengar ucapan Quinn, "kau sepertinya sangat berambisi mengakhiri hidup pamanmu, aku jadi berpikir bahwa kita sama." melihat sisi kejam Quinn secara langsung membuat hatinya entah mengapa berdebar lebih kencang.


Sesampainya di istana, Quinn baru tahu dengan maksud 'kamar khusus' yang sempat Raiden sebutkan. Rupanya dia sengaja menaruh kamar Quinn tepat di depan kamarnya, "untung saja aku meminta sidang dilakukan besok, jika tidak, dia bisa seenaknya menerobos masuk ke dalam sini." batinnya lega.


"Aku perlu mengabari mereka tentang persidangan besok. Kau istirahat dulu di sini. Oh, aku sudah memanggilkan pelayan untuk membantumu di sini."


Pintu belum sempat tertutup sempurna, seseorang kembali masuk dengan serampangan sampai membuat Quinn yang hendak berjalan ke arah balkon jadi berbalik menengok siapa gerangan yang asal masuk ke dalam kamar istana.


Mata Quinn membulat kaget melihat nafas Savero yang memburu, pria itu dengan mata sembab nya tak mampu menahan air mata ketika melihat Quinn berdiri di depan sana dan terlihat baik-baik saja. "Quinn...!" Savero mendekap erat tubuh putrinya enggan melonggarkan sedikitpun pelukan tersebut seakan-akan jika dia melepasnya maka sang putri akan menghilang dari pandangannya. "Syukurlah, kau masih hidup..." Savero berpikir dia akan kembali kehilangan orang yang dicintainya selain Sirena.


Ayah bisa menangis rupanya. Apa yang membuat pria sekaku Ayah jadi berperasaan begini?


"Ayah, sesak. Aku tidak bisa bernafas."


"Maaf. Dokter istana sebentar lagi akan datang. Kau sebaiknya tidak usah bergerak terlalu banyak."


Kau selalu datang terlambat sampai rasanya aku terbiasa tidak memiliki orang tua.


Quinn mengabaikan saran dari ayahnya membuka pintu balkon agar udara yang masuk lebih banyak. "Untuk apa Ayah datang kemari? kau pasti punya urusan yang penting 'kan?" Savero mengangguk kecil. Dia tidak bisa bahwa saat ini hatinya berdenyut sakit, tetapi dia tak bisa menyalahkan siapapun atas sikap dingin Quinn karena dialah yang secara tidak langsung mengajari gadis itu bagaimana caranya mengabaikan anggota keluarga sendiri.


"Kakek mu mengirimkan ini untuk penguat bukti. Dia tidak bisa hadir di persidangan, tapi dia berharap kau melakukan yang terbaik untuk membalas Vincent."


Savero menyodorkan plastik klip berisi emblem milik keluarga Vincent dan juga jepit rambut Penelope. "Ini..." Quinn berpura-pura tidak mengerti.


"Itu ditemukan di tubuh para penyerangmu saat malam pesta ulang tahun Pangeran. Semoga kau berhasil, aku akan selalu mendukungmu. Selamat beristirahat." Savero meninggalkan kamar tersebut dengan raut muka sedih.


"Pfft! hahaha, masih tidak ada yang sadar kalau yang menaruh emblem di sana adalah aku? sama saja mereka membantuku membawa bukti palsu," Quinn menyeka airmatanya yang mengalir, "astaga lucu sekali. Raiden juga tidak akan berbuat apa-apa walau dia tahu aku membuat bukti palsu."


*


*


Hari sidang khusus pun telah dimulai. Ruang sidang telah dipenuhi oleh rakyat dari berbagai daerah sebagai pengamat jalannya acara, sebagian besar dari rakyat biasa itu berasal dari kota Verenity karena mendapat undangan dari pihak pengadilan. Bagi mereka yang tidak dapat menyaksikan langsung jalannya sidang menunggu sampai memenuhi jalanan kecil di depan gedung persidangan.


Meski tidak bisa masuk, mereka tetap ingin melihat secara langsung apa akhir yang akan di dapat sebab secara naluriah masyarakat tahu, apapun hasil sidang hari ini akan menorehkan garis penting dalam sejarah panjang kerajaan.


Tiga tersangka utama, yaitu Viscount Vincent van Marchetti, Marquess Benedetti, dan Countess Herrera sudah di seret masuk bersama dengan rekan kerja mereka dalam mengorupsi dana perang. Mereka tampak sangat lusuh dan berantakan, baju mereka juga memiliki bercak darah bekas penyiksaan.


Beberapa bangsawan yang bisa ikut menjadi pengamat mulai berbisik-bisik.


"Mengapa yang banyak hadir adalah orang dari kota sebelah?"


"Kau lupa? Viscount Marchetti dan komplotannya berasal dari Verenity."


"Aku tidak menduga dia sungguhan memiliki sifat yang buruk."


"Aku pikir itu hanya rumor karena ada oknum yang ingin mengadu domba antara Viscount Marchetti dan Count Shuvillian. Kau tahu 'kan Count Shuvillian lebih sukses dan stabil ketimbang dia?"


"Aku juga pernah dengar rumor bahwa dia suka melakukan kekerasan."


"Iya, dia bertemperamen buruk."


"Bagaimana bisa dia mencoba membunuh keponakannya sendiri?"


"Ssst, diam!"


Mereka yang asyik menggunjing segera membungkam mulut begitu melihat Savero datang bersama dengan Killian. Mereka berdua duduk dibarisan pengamat paling depan selaku bagian dari keluarga Vincent. Dua menit berselang, Raiden masuk ke dalam ruangan.


Quinn masuk ke dalam ruangan dengan elegan. Dia tidak— lebih tepatnya belum mempedulikan berbagai macam arti tatapan dari para manusia yang hadir di dalam ruangan dan berdiri di atas mimbar sederhana dengan tumpukan data laporan.


Ketukan palu dari hakim menandakan bahwa persidangan akan dimulai. "Persidangan kali ini diadakan atas perintah istana demi menegakkan keadilan. Seluruh juri, pengamat, tersangka, dan pelapor telah hadir. Maka dengan ini, sidang khusus akan dimulai." Hakim kembali mengetuk palunya.


Quinn melirik Vincent yang terus menunduk menghindari bertatapan dengan dirinya. Melihat pria angkuh dan kasar itu tidak berdaya membuat Quinn nyaris tertawa terbahak-bahak.


"Lihat penampilan nya yang penuh debu dan banyak bekas luka. Dia pasti sangat menderita untuk orang yang sejak kecil hidup mudah dan dilimpahi kemewahan. Apalagi dia harus tampil begitu di depan musuhnya sendiri." Quinn mengulum bibirnya menahan tawa dibalik telapak tangannya yang membentengi mulut.


"Lady Quinn de Alger Shuvillian, silakan sampaikan isi permohonan yang Anda laporkan dihadapan Yang Mulia Putra Mahkota dan para rakyat." pinta sang hakim persidangan.


Quinn melirik ke belakang guna melihat reaksi dari para hadirin. Mata mereka menatapnya dengan tajam, telinga mereka sudah siap mendengar semua yang akan Quinn katakan, dan otak mereka sudah merekam semua keributan yang akan Quinn buat.


Quinn membungkuk memberi penghormatan dengan tangan di depan dada, "Yang Mulia Putra Mahkota, Hakim yang terhormat, dan seluruh rakyat tercinta...kalian mungkin pernah mendengar kata-kata ini, 'Quinn de Alger Shuvillian akan membunuh pamannya sendiri dan menghancurkan negeri'. Itulah bunyi Firman yang beredar."


Christian terkejut karena Quinn telah mendengar rumor itu padahal pada kenyataannya Firman Dewa tidak berbunyi seperti itu, sedangkan empat teman Christian lainnya tampak biasa saja karena tidak semua dari penghuni kuil diberitahu soal kebenaran isi Firman Dewa.


"Tapi asal kalian tahu, itu bukanlah Firman yang sesungguhnya. Firman yang menyebar itu adalah rumor yang direkayasa. Firman Dewa yang sesungguhnya berbunyi seperti ini...'Seseorang yang paling dekat dengan jantung Ethereal akan menghancurkan kerajaan'. Saya lampirkan kesaksian pihak kuil sebagai bukti."


Hakim yang telah menerima salinan laporan mengangguk kecil, "sudah dikonfirmasi."


"Apa?!"


Ruangan bergemuruh dipenuhi oleh suara kekagetan masyarakat yang sudah terlanjur mempercayai Firman Dewa hasil rekayasa dari Quinn sendiri. Sejak awal Quinn sengaja membuat Firman itu untuk menjebak Vincent melakukan tindakan kriminal lain sehingga dia mudah memancing Raiden untuk mengendus niat terselubung Quinn. Untungnya itu berhasil. Kalau saja pihak kuil sampai membeberkan bunyi asli dari Firman Dewa demi meluruskan kesalahpahaman, mungkin Quinn tidak bisa meminta sidang dilaksanakan dalam waktu dekat.


Bunyi ayat yang sudah direkayasa dampaknya lebih lebik dibandingkan menyebarkan bunyi aslinya. Seperti yang ditakutkan para Pendeta Agung, masyarakat mulai panik dan kembali membuat rumor yang akan merugikan nama Raiden.


"Bagaimana dia bisa tahu bunyi asli Firman Dewa? sepertinya aku perlu mengeluarkan oknum tidak bertanggungjawab dari kuil." gumam Christian. Iris onyx nya melihat ke sekitar. Situasi menjadi kacau, "Lady, semoga kau bisa meredakan kekacauan ini."


Quinn membelakangi hakim dan menatap ke arah para pengamat sidang. "Tenanglah! Anda semua pasti sangat bingung, saya juga paham karena saya sama bingungnya dengan kalian. Saya yang tidak tahu apa-apa menjadi banyak dipandang buruk oleh orang-orang. Saya menjadi sangat terganggu dengan beredarnya kabar palsu itu."


Gadis cantik itu menatap ke meja para tersangka, "apakah saya benar-benar anak keji dan durhaka sampai bisa mencabut nyawa paman sendiri? saya benar-benar tidak memiliki niat seperti itu!apakah pada akhirnya saya sungguh ditakdirkan untuk menghancurkan negeri yang saya cintai ini dengan tangan saya sendiri?" dengan kata-kata nya, Quinn mulai menarik simpati para pendengar.


Killian mengepalkan tangannya erat, "dia pintar sekali," lirihnya seakan bisa melihat dengan jelas akting cerdik Quinn dalam menggiring opini.


Kakak kandung dari Killian itu kemudian menunjuk meja para tersangka agar semua rakyat terutama jajaran bangsawan yang hadir memusatkan perhatian pada para pelaku tindakan keji. "Orang yang dekat dengan jantung Ethereal, yakni bangsawan penerima hak istimewa yang berada dekat dengan istana Ethereal, justru berkhianat dan melakukan tindak kejahatan yang bisa menghancurkan negeri ini."


Lima orang tersangka terutama tiga bangsawan besar langsung mendelik kaget, "Apa...?" mereka yang tidak tahu apa-apa soal Firman itu mendadak kelimpahan pernyataan palsu.


Para pengamat menegang, mereka menatap para tersangka dengan tatapan beragam, namun intinya mereka mulai terpancing untuk marah.


"Mereka inilah yang berupaya agar saya yang kebetulan tahu kejahatan mereka tidak melapor pada istanai! mereka sengaja menyebarkan Firman palsu untuk menyerang saya. Belum puas dengan menyebar rumor, mereka bekerja sama untuk menculik saya! bahkan paman saya yang sangat saya sayangi telah tega meracuni makanan saya hingga nyaris meregang nyawa. Seandainya Yang Mulia Putra Mahkota tidak melindungi saya, mungkin saya tidak akan bisa berdiri di sini sekarang."


Raiden menyeringai senang melihat Quinn yang sedang mengungkap isi laporannya.


Lantas Quinn terisak, airmatanya turun. Wajahnya yang memelas membuat rakyat yang sedang menonton terbawa suasana, "hati saya sudah tersakiti karena harus mengirim paman saya sendiri ke tiang pancung. Apakah harus dibuat lebih sakit lagi dengan memanfaatkan hal itu?"


Savero tak melepaskan pandangannya pada Vincent yang terlihat jelas tidak terima dengan pernyataan Quinn. Sementara Killian melongo keherenan, "aktingnya luar biasa, aku nyaris tertipu. Kalau kak Penelope melihatnya, dia mungkin akan semakin tersakiti dengan tindakan Quinn."


Brak!


Marquess Benedetti menggebrak meja dengan kedua tangan yang terikat kuat oleh tambang. Kedua matanya dipenuhi kemarahan "Yang Mulia Hakim! pelapor sekarang sedang menarik simpati dan melenceng dari inti permasalahan! Dia mengatakan semua kebohongan itu hanya untuk membuat hukuman kami semakin berat! mohon pertimbangkan kembali dengan adil, Yang Mulia Hakim!"


"Hmm.. tersangka diharap untuk tenang. Anda belum diizinkan untuk berbicara."


"Apa?!"


Marquess Benedetti kemudian mendongak memandang kursi singgasana, "Yang Mulia Putra Mahkota!" panggilnya mencoba meminta keadilan langsung padanya.


Raiden tersenyum santai sambil menumpu dagu, "Hm? aku tidak tahu kenapa kau melihatku. Marquess, aku datang hanya sebagai salah satu dari pengamat saja."


Bangku para pendengar kembali sunyi saat Julien yang duduk di jajaran kursi pengamat paling depan mengangkat tangan tiba-tiba. "Ya, silakan Tuan Baron Julien Bianchi berbicara."


Julien lantas berdiri dari kursinya, "Saya sudah menyimak permohonan yang Lady Quinn sampaikan. Kalau disimpulkan, para bangsawan tinggi yang diberi kepercayaan langsung oleh istana melakukan kejahatan yang sampai membuat Dewa menurunkan Firmannya. Tapi mereka justru memutarbalikkan fakta dan membuat Firman palsu agar masyarakat menyalahkan Lady Quinn."


Julien beranjak maju ke depan Quinn, "ada satu pertanyaan yang mengganjal dari saya terkait hal ini. Mungkin seluruh orang yang hadir di sini juga memikirkan hal yang sama. Biar bagaimanapun, Anda tetaplah keluarga dari salah satu tersangka, lalu apakah Anda bisa menjamin bahwa Anda dan anggota keluarga Anda yang lain 'bersih'? bagaimana kalau ternyata anggota keluarga Anda yang lain juga telah mengetahui kejahatan yang dilakukan Viscount Marchetti dan berusaha menutupi semuanya selama ini."


Quinn menyeringai tipis. Ini semua telah direncanakan. Dia menyuruh Julien untuk memperkuat argumennya dengan mengajukan pertanyaan yang seolah tengah membela masyarakat.