
Vincent saat ini duduk dengan amat gelisah di meja makan, sedangkan yang lain tampak biasa saja menyantap makanannya. Bastien yang belum mendengar kabar berita tentang Firman Dewa melirik putra sulungnya bingung, "Kau ini kenapa? jika sedang di meja makan, duduklah dengan benar." tegur nya yang menyadarkan Vincent dari lamunannya.
Iris amber nya menatap lurus ke keponakannya yang duduk berhadapan dengannya. Melihat Quinn tersenyum sedikit saja sudah membuat Vincent takut. "Ada apa Paman? mengapa kau menatapku begitu?" tanya Quinn sok lugu.
Pria pemilik keriput mata itu menunjuk salah seorang pramusaji yang baru selesai menyajikan semua menu, "Hei, kau. Kemarilah."
"Ya, Yang Mulia. Ada yang Anda butuhkan?"
Vincent memberikan sendok sup nya ke depan wajah pelayan itu, "Cobalah sup ini untukku."
"Aku tidak mau memakan racun. Ada kemungkinan dia akan membunuhku lewat cara yang tidak terlihat seperti ini," Vincent telah mengambil keputusan yang bulat. Tidak ada kata mengalah dalam kamusnya.
"Y-ya? tapi, Yang Mulia..."
Bastien semakin mengerutkan dahi bingung, "Kau ini kenapa? jika ada masalah sebaiknya kau ceritakan saja, mungkin kami berdua bisa membantumu."
"Iya, Paman. Kakek benar, lebih baik diceritakan jika Paman merasa sangat cemas."
Vincent berdehem membersihkan tenggorokan sambil berusaha bersikap normal. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya mendapat ancaman bahwa aku akan diracuni, jadi aku berjaga-jaga untuk menghindari kemungkinan terburuknya," dia memilih tidak menyebutksn nama Quinn dalam kalimat yang dia ucapkan karena sudah tahu pada akhirnya Bastien malah akan memarahinya. "Cepat makan!" titah Vincent sedikit membentak.
Bastien menghela nafas, "Kau lihat kami berdua makan sup yang sama, tapi tidak ada apapun yang terjadi."
"Ayah tidak mengerti. Bisa saja salah satu pekerja mu meletakkan itu hanya di piring ku saja." protes nya.
Quinn menyeringai tipis, dia sangat menikmati kegelisahan Vincent setiap menatap dirinya seolah sedang berhadapan dengan malaikat mautnya.
Ketika pelayan pria itu selesai mencicipi sesendok kuah sup, dia segera mengganti dengan sendok yang baru. "Ini, Yang Mulia."
Vincent mengamati dengan detail mimik wajah pelayan itu untuk meyakinkan diri. Setelah dirasa tidak ada yang berubah, Vincent baru berani memakan sup nya. Pria itu menghela nafas lega tak ada yang berbeda dari sup nya.
"Uhuk! uhuk!" Quinn terbatuk-batuk dengan keras, Vincent langsung berhenti makan. Ayah dari Penelope Van Marchetti itu memucat dan segera menutup mulutnya sebagai respon kaget karena telah menelan tiga sendok makan. "A-apa itu? kenapa? apa itu racun?!" Bastien menengok ke Vincent heran.
Bastien membantu memberikan air mineral untuk cucunya. "Apa yang terjadi?" tanya Bastien.
Quinn tersenyum di balik telapak tangannya yang menutupi mulut. "Tidak ada apa-apa, kakek. Sepertinya aku tidak sengaja menelan biji lada yang masih utuh. Ah, rasanya agak menusuk di tenggorokan... Paman, kenapa sejak tadi Paman meributkan soal racun terus? kau membuat orang lain khawatir."
"T-tidak."
Vincent tidak dapat hidup tenang dalam bayang-bayang ketakutannya sendiri. Semua orang sudah mendengar berita itu dan mengasihani dirinya yang akan tamat ditangan keponakannya yang masih bocah ingusan itu. "Ini tidak bisa dibiarkan. Lihat dia yang sejak tadi mempermainkan aku. Dibunuh atau membunuh, sebaiknya aku harus mengambil tindakan duluan sebelum ramalan Dewa benar terjadi." itulah pikiran yang terlintas di kepalanya.
Sepuluh menit kemudian mereka bertiga selesai makan. Bastien keluar lebih dulu untuk mengurus laporan wilayah perbatasan yang kembali bermasalah setelah terjadi penenggelaman kapal para musuh. "Bagaimana dengan bisnis tambang ku, Evan?" tanya Bastien pada Butler yang senantiasa membantu pekerjaan nya.
"Semua berjalan dengan baik, Yang Mulia."
"Apa kau tahu alasan dibalik anehnya sikap Vincent hari ini? setelah keluar tadi pagi dia pulang dengan gelisah sampai sekarang pun masih sama."
Bastien memberikan cap pada tiap lembar dokumen yang sudah dia selesaikan dan akan disetorkan kepada yang bersangkutan.
Evan membenarkan kacamatanya, "Anda belum mendengarnya? ada kabar soal bocornya Firman Dewa dan bunyinya adalah peringatan khusus untuk seseorang, yaitu Lady Quinn."
Seketika stempel yang digunakan kepala keluarga Lombardia itu terhenti, Bastien mendongak memandang Evan yang berdiri di depan mejanya. "Apa? apa yang akan terjadi pada Quinn?" tanya Bastien lagi.
"Diramalkan Lady Quinn akan melenyapkan Pamannya sendiri dan menghancurkan kerajaan Ethereal. Kira-kira begitulah bunyinya."
"A...pa?"
"Tapi Anda tidak perlu terlalu cemas, karena pihak kuil sendiri belum secara resmi mengonfirmasi berita itu. Mungkin dalam waktu dua sampai tiga hari lagi mereka akan segera meluruskan berita ini."
"Hahaha, bagaimana mungkin aku bisa tenang?" Bastien mengepal kuat. Dia telah membawa bukti bahwa Vincent pernah sekali berusaha melenyapkan Quinn. Tidak peduli meski Raiden telah memberi penjelasan kalau orang lain yang melakukannya, tetapi masih ada sisi dalam hatinya yang tetap curiga.
"Anda sudah berusia lanjut, Yang Mulia. Tidak baik memikirkan sesuatu secara berlebihan atau Anda akan jatuh sakit. Sebaiknya Anda segera beristirahat saja."
"Aku baik. Kau terlalu cerewet, aku bukannya lansia yang ringkih."
Sementara itu Quinn baru saja selesai membaca buku di perpustakaan dan ingin kembali ke kamarnya untuk tidur sebentar. Selagi bersenandung kecil dan berjalan dengan langkah ringan, tiba-tiba seseorang menahan bahu kanannya dan mendorongnya ke dinding dengan cukup keras.
"Paman...? ada apa? kenapa kau kelihatan marah begitu?" putri sulung Savero de Alger Shuvillian itu tersenyum santai, namun itu justru terlihat seperti ejekan bagi Vincent.
"Jangan bercanda! aku tahu kau tadi mempermainkan ku! kau sudah dengar Firman Dewa itu, 'kan? katakan bahwa kau sekarang sedang merencanakan pembunuhan ku!" Vincent mencengkeram kuat kedua lengan Quinn sampai gadis itu meringis sakit.
"Paman ini mengapa malah menginterogasi ku? kenapa Paman tidak menanyakan langsung pada Dewa saja?" Quinn tersenyum miring melihat kedua mata Vincent yang sudah memerah akibat marah. "Ini hanya sekedar pertanyaan saja. Memangnya Paman percaya pada Dewa?"
"Apa?"
"Apa Paman pernah sekali saja menginjakkan kaki di kuil dan berdoa pada Dewa?" Quinn terkekeh geli melihat bungkamnya Vincent, "Sekarang Paman yang tidak percaya adanya Dewa, percaya pada Firman nya? ini lucu sekali. Demi apapun, aku tidak pernah berpikir ingin melenyapkan Paman."
"Kau pikir aku bisa mempercayai kata-katamu? kau itu bocah licik yang suka menjadi kerikil di jalan orang lain!" desis nya penuh penekanan.
"Kalau Paman tidak percaya padaku, apa boleh buat. Silakan saja pikirkan apa yang Paman inginkan. Membunuhku atau dibunuh olehku, asal Paman merasa senang." Quinn menepis kasar tangan Vincent dan berlalu pergi meninggalkannya dalam keadaan geram.
"Huh! tentu saja aku yang akan menyingkirkan mu terlebih dahulu. Kau kira aku akan memilih untuk duduk diam dan menunggu ajal menjemput ku?!" Vincent telah membulatkan tekadnya.
Setelah Vincent pergi menjauh dari lorong itu, Quinn keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Dia secara empat mata bicara pada pramusaji yang tadi diminta oleh Vincent untuk mencoba makanannya lebih dulu, "Ambillah ini dan gunakan sesuai dengan waktu yang ku berikan. Paman sudah menyuruhmu, ke depannya dia akan terus memakai mu, jadi aku menyerahkan tugas penting ini hanya kepadamu."
Quinn memberikan dua botol berisi cairan yang berbeda warna. Satu berwarna merah dan satu lagi bening seperti air sungai.
"Apakah Anda yakin Anda akan baik-baik saja, Yang Mulia?" pria itu tampaknya ragu dan takut jikalau Quinn akan terkena dampak lebih buruk.
"...."
Quinn sudah tahu pria itu tidak ingin mengambil resiko yang besar karena dirinya takut dipecat seperti yang terjadi pada sebagian teman-temannya. "Aku akan memberikanmu gaji yang besar. Istrimu sedang sakit parah 'kan? aku akan membiayai semua pengobatannya."
"...Baiklah, saya mengerti."
"Bagus," Quinn menepuk-nepuk pundak pelayan pria itu senang. "Sudah waktunya untuk memulai permainan," batin Quinn yang tidak sabar melihat aksi selanjutnya dari seorang Vincent yang amat suka mengedepankan kekerasan.
Di kuil Santis sore ini...
Pihak kuil sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Ya, kuil akan selalu dipenuhi oleh jemaat yang datang untuk berdoa. Sejujurnya mereka tidak datang dengan membawa niat sungguh-sungguh, mereka hanya berjaga-jaga siapa tahu Pendeta akan mengungkapkan arti Firman yang turun saat sedang membagikan air suci untuk diminum.
Yang memperkuat pendapat mereka adalah banyaknya bangsawan yang hadir sementara di hari biasa mereka nyaris tak pernah menampakkan batang hidungnya di kuil.
Hari ini, setelah selesai mengikuti rapat, Christian bertugas membagikan air suci yang sudah di doakan. Itu akan dia lakukan ketika para jemaat hendak pulang setelah selesai berdoa. Karena ini belum waktunya, Christian beristirahat sejenak di taman samping kuil.
Sedari tadi pemuda tampan dengan aura tenang itu menunduk menatap sesuatu yang dia letakkan di atas telapak tangannya. "Huh," entah ini helaan panjang yang keberapa, hatinya sedang merasa sedikit gundah.
Benda dalam genggamannya itu adalah sebuah kelopak bunga tulip oranye yang telah dia masukkan ke dalam kristal agar tetap bisa menjadi kenang-kenangan yang bisa diingat walau usia kelopak bunga itu sendiri sudah satu tahun lamanya. "Guru tidak datang menemuiku lagi, mungkin dia marah mendengar perkataan terakhir ku."
Kursi yang Christian duduki tidaklah jauh dari lorong kuil, dia masih bisa mendengar beberapa siswa kuil yang berlalu lalang di sana. Samar-samar telinganya mulai mendengar sebuah perbincangan yang menarik dari beberapa murid di kuil Santis tersebut.
"Hei, apa kau sudah dengar terjemahan dari Firman Dewa kali ini?"
"Belum. Apakah artinya bagus? aku harap tahun ini kita tidak kesulitan menghadapi wabah."
"Tidak. Ternyata artinya tentang seorang anak bangsawan, loh. Um, kalau tidak salah namanya Quinn."
"Eh? spesifik sekali...memang bunyinya bagaimana?"
"Dia akan membunuh pamannya sendiri dan menghancurkan kerajaan."
"Huh?! h-hei, itu mengerikan. Bagaimana bisa seseorang membunuh pamannya sendiri? bahkan Dewa sampai memperingatinya."
"Aku juga tidak tahu. Tapi si Quinn itu katanya punya citra yang buruk. Belum lama ini dia terlibat rumor buruk dengan Putra Mahkota."
Christian yang sewaktu itu mengikuti rapat istimewa bersama dengan Pendeta Agung sebagai pendampingnya berdiri terkejut. "Bagaimana kabar itu bisa bocor?" sebenarnya tidak begitu bunyi asli dari Firman nya. Christian hanya terkejut karena ada oknum yang berani menyebarkan rumor yang sangat kontroversial begitu apalagi dengan menyangkut pautkan Firman dari Dewa.
Seperti yang sudah kita tahu, penyokong terkuat negeri ini adalah Dewa spirit dan Christian sangat memujanya. "Seorang anak Dewa akan menghancurkan Ethereal. Itu bunyi yang sebenarnya dari potongan terakhir ayat yang di terima oleh Pendeta Halsen." gumamnya lirih.
Tangannya terkepal erat, "Siapa yang menyeret Lady Quinn dalam rumor macam ini? jika kita tidak segera mempublikasikan nya, mungkin rumor ini akan menjamur dan merugikan Lady Quinn sendiri."
Tapi, berat bagi kami mengumumkan Firman Dewa yang seperti itu...
Christian beranjak masuk ke dalam ruang khusus yang hanya boleh dimasuki oleh Pendeta Agung dan para Pendeta tinggi lainnya. Konon itu adalah ruang doa tempat mereka berdoa dan berkomunikasi secara langsung dengan Dewa. Dewa akan marah jika ruangan itu dimasuki oleh orang selain mereka.
Christian menengok ke sana kemari mencari sesuatu. "Pendeta Halsen? Anda di sini?" tidak ada jawaban yang terdengar sehingga dia memilih melangkah lebih dalam lagi.
Tadi siang Pendeta Halsen memberitahunya bahwa dia akan berdoa hingga malam tiba agar lebih mantap dalam mengartikan sepenggal ayat yang tersisa. Mau tidak mau, Christian yang menggantikan semua tugas Pendeta Agung yang ia layani.
Nafas Christian tercekat tatkala mendapati orang yang sedari tadi dia cari tergeletak di depan patung Dewa spirit. "Pendeta!" pekik Christian terkejut.
Dia lantas mengguncang tubuh pria itu sambil berharap bahwa dia baik-baik saja. "Pendeta Halsen! Anda mendengar saya?!" Christian buru-buru mengecek denyut nadi dan lain sebagainya, "Detak jantungnya sangat lemah, apa dia terkena serangan jantung?!" Christian beranjak berdiri hendak mengambilkan obat di dalam kamarnya, namun pemuda itu terperanjat kaget tatkala Halsen tiba-tiba memegangi pergelangan kakinya.
Nafas Pria itu sudah putus-putus, mulutnya terbuka dan bergerak tipis seolah ingin menyampaikan pesan terakhir.
"Pendeta! Anda tenang saja, saya akan segera kembali dan membawakan Anda obat untu— Anda ingin mengatakan sesuatu pada saya?" Christian cemas ketika Halsen meremas tangannya.
Suara serak yang teramat pelan itu tak lagi bisa didengar bahkan dari jarak kurang dari lima puluh centi. Alhasil, Christian membungkuk dan menaruh telinganya di depan mulut Halsen. "Jangan...biarkan... prosesi... terjadi."
Christian menautkan kedua alisnya tak paham, "Prosesi apa maksud Anda, Pendeta?!"
"Jangan... pernah..."
Selepas mengucapkan potongan kalimat terakhir, Halsen menghembuskan nafas terakhirnya. Pria tua berusia hampir sembilan puluh tahun itu meninggal dalam keadaan masih membawa kecemasan.
"Pendeta...!"
Sore itu menjadi sore yang kelabu bagi pihak kuil Santis dan umatnya. Kabar kematian Halsen, salah satu Pendeta Agung yang menerima potongan ayat itu, kencang berhembus dan beritanya meluas.
Rumor yang menyebar juga semakin parah. Quinn bahkan tidak bisa mengendalikan situasi lagi. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Pendeta Agung itu?" Quinn memiringkan kepalanya bingung.
Ketika hadir di kuil untuk mengikuti proses ibadah penghantaran doa bagi yang berpulang, Quinn yang saat itu tengah menyamar mendengar rumor baru lagi.
"Apakah ayat yang dia terima terlalu berat untuk diartikan?"
"Tidak tahu. Malang sekali nasib Pendeta Agung itu."
"Sepertinya Firman Dewa yang sudah bocor itu sungguhan akan terjadi dan itu adalah peringatan besar."
"Itu mungkin saja karena Firman kali ini sampai merenggut nyawa salah satu Pendeta Agung yang merupakan wakil Dewa di bumi."
Quinn asyik menguping pembicaraan yang para bangsawan lakukan di dalam ruang doa. Satu yang menarik perhatiannya, yaitu kehadiran sang paman di barisan paling depan. Matanya melotot dan tubuhnya gemetaran.
Seringai Quinn mengembang, "Halo, Paman. Malaikat maut mu ada di sini, loh." bisiknya sendirian. Melihat kegelisahan itu semakin membuat Quinn puas.