
{Quinn, apa kau menyesal bisa melihat kami?}
Quinn yang sedari tadi lelah menengok kesana kemari mencari di luasnya hutan belakang istana jadi fokus seutuhnya ke Vynx. "Hm? apa maksudmu?" tanya nya kurang mengerti.
{Seandainya kau tidak melihat kami, kau bisa hidup dengan tenang dan menghindari akhir yang sama tanpa diburu oleh Pangeran menyebalkan itu}
Quinn tersenyum lembut menanggapi simpati Vynx "Aku tidak menyesal. Malahan, aku seperti menjalani teka-teki hidup yang baru dengan menjadi begini. Itu lebih seru."
{Sekarang kau punya dua musuh yang akan mengincar nyawamu. Tapi aku tidak punya kekuatan besar untuk bisa melindungimu}
"Jangan bersedih. Kita bisa berlatih bersama."
Jujur saja sekarang Quinn merasa takut karena sebelumnya tidak pernah sama sekali masuk ke dalam hutan. Walau siang hari, tetapi sunyi nya hutan yang jauh dari pemukiman penduduk membuat jantungnya berdebar.
Sampai akhirnya, Quinn bisa melihat sebuah pohon besar yang rindang dengan batang dan akar yang besar tumbuh di dekat ujung tebing.
"Besar sekali..." gumam Quinn takjub.
{Jangan mendekat!}
Gadis cantik bersurai hitam itu tersentak kaget. Tiba-tiba saja muncul dinding tak kasat mata di depannya sehingga dia tidak bisa maju lebih jauh. "Apa yang terjadi? tidak bisa ditembus," gumam Quinn menyentuh udara di hadapannya.
Sebuah spirit muncul dibalik batang pohon besar itu dengan wajah takut. Dia tampak waspada melihat wujud Quinn.
{S-s-siapa kau?!}
Vynx muncul di depan wajah Quinn, dia sengaja berdiri di sana agar spirit pohon elk itu tidak ketakutan setelah melihat dirinya.
{Hai, ini aku, Vynx!}
Spirit berambut panjang itu membeliak.
{Vynx?! kenapa kau ada di sini?}
Spirit kali ini berwarna hijau, dari cahaya, pakaian, rambut, dan mata, semuanya hijau. Dia cantik seperti peri yang selalu digambarkan dalam dongeng. Quinn tersenyum ceria, dia pun melambai kecil "Hai, namaku Quinn. Salam kenal. Kau masih ingat aku, 'kan? yang malam itu diserang ksatria istana."
{A-aku tidak menerima tamu!}
Quinn menunduk sedih, "Benarkah begitu? sayang sekali. Lalu harus aku apakan bunga ini? terlalu banyak, kalau mau di buang jadi sia-sia."
Spirit perempuan yang tadinya membuang muka, sekarang melirik penasaran ingin melihat bunga apa yang dia maksudnya. Quinn tersenyum tipis ketika melihat air liur sudah menetes deras dari mulutnya. Anggrek hitam, mawar hitam, dan Lily hitam adalah bunga favoritnya, itu kata Vynx.
"Ternyata benar," batin Quinn. Gadis tujuh belas tahun itu menggerak-gerakkan bunga dalam genggamannya kesana-kemari dan spirit itu tak melepaskan pandangan darinya. "Vynx, lebih baik kita pulang saja sebelum hari gelap—"
{T-tunggu!}
Quinn menengok spirit itu dengan tatapan memelas, "ya?" tanya nya.
{A-aku akan melepaskan penghalang nya. Tidak baik membuang-buang makanan segar. Berikan padaku}
Spirit itu menengadahkan tangannya meminta, tapi dengan ekspresi sok jual mahal. Banyak orang menyebut sikap yang tidak jujur dengan perasaannya sendiri seperti ini dengan 'Tsundere'.
Penghalang itu sungguhan menghilang, tetapi dia tidak bergerak satu inci pun dari pohonnya. Alhasil Quinn lah yang harus mengalah mendekat dan memberikannya secara langsung.
Spirit tersebut mengendus-endus aroma kelopak bunga itu.
{kau tidak berbohong dengan mengecat kelopaknya, 'kan?}
Tanya spirit pohon elk itu menginterogasi.
"Tidak, kok. Ini asli. Sangat sulit mencarinya dan ini adalah kualitas bunga terbaik."
Aku sampai menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli makananmu ini, tahu.
Quinn tetap tersenyum ramah walau nada bicara spirit itu menjadi lebih galak dan ketus. Padahal tadi dia kelihatan sangat takut saat melihatku, pikir Quinn bingung.
{Humph! ya sudah. Kau boleh duduk di bawah pohon ini, tapi jangan sentuh pohon ku!}
"Terima kasih, um... siapa namamu?"
{Jadi, apa tujuanmu datang kemari? aku bukan spirit yang kuat jadi aku tidak punya kemampuan seperti Vynx}
"Ahahaha, sebenarnya..." Quinn duduk di bawah pohon rindang tersebut dan langsung merasakan energi yang mengalir dari dalam tanah, merambat lewat akar-akar pohon dan itulah membuat pohon elk tersebut tetap hidup dan lebih rindang dari pepohonan lainnya. "Dia menyerap energi spirit dari mana?" tanya nya dalam hati.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya kenapa saat itu kau kabur? apa kau takut padaku yang kelihatan menyeramkan?" tanya Quinn sambil menunjuk dirinya sendiri.
{I-itu, itu karena aku takut melihat darah. Aku hidup jauh dari manusia, aku tidak pernah melihat pemandangan seperti itu. Energi yang kacau balau, pertumpahan darah, saling melukai. Apa manusia memang makhluk brutal? mengerikan}
"Jika aku tidak melawan, aku mungkin akan mati. Mereka berlima duluan yang memiliki tujuan membunuh," jawab Quinn dengan pelan.
{Itu, benar. Quinn itu hanya sedang membela diri, itulah mengapa aku berubah untuknya}
Spirit itu memakan kelopak mawar pertamanya dan sibuk dengan dunianya sendiri. Quinn merasa nyaris tertidur karena hawa yang terasa begitu menenangkan. "Kau pandai mengatur energi ya? seperti sebanyak apa yang perlu kau keluarkan, seberapa besar energi untuk dipakai, atau mengontrol kestabilan energi spirit meski kau sedang menggunakannya dalam keadaan terdesak."
Spirit itu terkejut, dia membulatkan mulutnya kagum dengan pengetahuan Quinn.
{Eh? kau pintar juga, ya. Aku bahkan belum mengatakan apa-apa}
Quinn tersenyum lebar lalu berkata, "Aku sangat membutuhkan bantuanmu. Aku dengan cepat kehabisan tenaga sehabis menggunakan kekuatan spirit, kadang akupun bisa sampai pingsan. Sepertinya kau akan jadi guru terbaikku."
{Hm, kau 'kan sudah ada Vynx}
Spirit air itu cengengesan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
{Aku tidak mengajarinya apapun selain menggunakan ku sebagai senjata... lagipula, aku tidak bisa mengontrol energi sepertimu karena pada dasarnya aku hanya punya satu jenis energi. Kau tidak lihat energi Quinn seperti apa? lihatlah, dia sudah seperti Dewa Zacchaeus saja.}
{Hei, jangan asal menyebutkan nama Dewa seperti itu! bagaimana kalau manusia ini dengar?!}
{Memangnya kenapa? Quinn sudah lama bisa bertemu dan mengobrol dengan Dewa kita}
{Eehhhhh?! kau bercanda, 'kan?!}
{Ah, tapi tidak bertemu secara langsung. Dewa hanya menemui Quinn lewat alam bawah sadarnya.}
"Apa yang mereka perdebatkan?" gumam Quinn heran. Dia sedang menonton dua mahkluk yang ukuran tubuhnya hanya seukuran jari manis orang dewasa itu.
Sang spirit penunggu pohon elk itu menengok Quinn yang sudah mendekat ke pohonnya.
{H-hei, aku tadi sudah memperingatkanmu untuk tidak dekat-dekat dengan pohonku, tahu!}
Quinn bisa merasakan sesuatu mengaliri tubuhnya, dia bahkan bisa mendapat sebuah penglihatan. Tawa Quinn mengundang rasa penasaran dari dua spirit yang asyik menggosipkan Quinn.
{Quinn, ada apa?}
Vynx mengerutkan dahi masih tak mengerti, sementara si spirit pohon elk itu menahan nafas cukup lama seakan dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Nah, aku yang menang. Kau sekarang sudah terikat denganku, Sky." Quinn menyeringai penuh kemenangan. Tidak perlu bersusah payah membujuk, Quinn sudah lebih dulu mengetahui nama spirit hutan itu.
Mendadak tubuh Quinn dan spirit yang diketahui bernama Sky itu sama-sama bercahaya untuk satu menit. Setelahnya Quinn merasa sepenuhnya bisa memerintah Sky sesuka hatinya. Putri sulung Savero dan Sirena itu menatap telapak tangannya yang masih menyisakan percikan cahaya, "Sepertinya, Zacchaeus membantuku membuat kontrak."
{Tidaaakkkk!}
Sky menjerit tak terima. Jika dia sudah terikat kontrak, maka dia harus hadir kapanpun Quinn meminta. Menolak permintaan Quinn sama saja dengan mendapat hukuman sebagai pembangkang.
"Haha, mohon kerjasama nya, Sky."
{Kau memang pembawa sial! huwaaa~ aku tidak mau melakukan kontrak dengan gadis gila sepertimu!}
Vynx tertawa melihat Sky merengek tiada henti seolah-olah dia ditimpa kemalangan dan akan begitu selamanya.
Sky mengerutkan bibirnya kesal mendengar Quinn yang sudah memerintahnya seperti seorang bos.
{Kelihatan sekali kau tidak terpelajar soal hutan}
"Ya, karena aku seorang bangsawan yang banyak belajar soal sejarah, bukan berkeliling hutan sebagai seorang pengelana."
{Ada banyak tanaman penyembuh racun. Aku perlu tahu seberapa berbahaya efek racun itu dan sudah seberapa banyak menyebar dalam tubuh inangnya}
Quinn melirik ke atas sambil mengingat ucapan Gray kepadanya. "Tidak terlalu berbahaya, tetapi karena dia mengonsumsinya secara berkala. Sekarang sudah delapan puluh persen dari tubuhnya tak lagi bisa digerakkan."
Sky mengusap dagunya sambil berpikir.
{Itu artinya, kemungkinan dia bisa selamat sangatlah sedikit. Kalau begitu hanya tanaman itu yang bisa melawan racun di pembuluh darahnya. Tunggu—, kenapa aku langsung menurut saja? ini pasti efek kontraknya.}
Quinn memiringkan kepalanya, "kenapa kau bergumam sendiri? aku 'kan memintamu untuk segera menunjukkan jalan."
{Aku butuh waktu mencarinya, karena itu hanya ada satu di hutan ini}
"Oh, ternyata benar langka."
Keadaan menjadi hening sesaat karena Sky membutuhkan waktu untuk mendeteksi tempat tumbuhnya bunga langka tersebut.
{Sudah ketemu. Ke arah Barat dekat dengan danau. Ayo kita pergi sekarang.}
Medan hutan tersebut sedikit terjal, Quinn perlu berhati-hati agar tidak terpeleset dan jatuh ke tepi jurang. Semakin masuk ke dalam, cahaya matahari mulai sulit menjangkau tanah karena terlindung oleh ranting-ranting pohon yang secara natural menjadi payung hutan. Sehingga suasana terlihat seperti petang menjelang malam.
"Apa masih jauh?" tanya Quinn yang merasa kakinya mulai lemas.
{Sudah sampai. Kau hanya perlu turun ke bawah.}
Sky menunjuk jurang yang cukup terjal itu. Quinn menyipit ngeri melihat jurangnya pasalnya di depan jurang tersebut terdapat danau. "Aku belum melihat bunga itu, apa benar tempatnya di sini?" tanya Quinn ragu.
{Kau terlalu lama. Membuang-buang waktu saja.}
Wuuushhh
Sky meniupkan angin kencang lewat mulutnya hingga membuat tubuh ringan Quinn gontai dan akhirnya jatuh terperosok ke dalam jurang tersebut.
Quinn mendarat dengan selamat, kakinya berada tepat di bibir jurang. Ujung kakinya terasa dingin. Pakaiannya menjadi sangat kotor dan beberapa bagian tangan tergores. "Dasar spirit sialan. Kalau aku tidak butuh, aku bisa saja menjadikannya makanan kucing," gerutu Quinn.
Matanya melebar tatkala melihat berata indahnya tanaman bunga langka yang dia cari-cari. "Indah sekali, apa ini sungguhan bunga alami? bukan tanaman hias?" Quinn berjongkok di hadapan bunga berkelopak emas itu.
"Hanya satu batang."
Iris coklat keemasannya mengamati sekitar, "terlalu membosankan kalau bisa mendapatkan bunga ini dengan mudah."
Dan sesuai dugaan dari sang anak Dewa tersebut. Seekor singa keluar dari gua kecil di jurang tersebut dan mengaum kencang. "Apa dia penjaganya?" Quinn beranjak berdiri.
"Vynx."
Spirit air itu datang ke Quinn dalam bentuk tombak. "Aku tidak tega menyakitinya, tapi kalau dia berniat menghabisiku maka aku tidak akan segan."
Singa tersebut menggeram marah, taring-taring tajamnya seakan tengah bersiap merobek daging segar untuk disantap.
Quinn memasang kuda-kudanya, "Majulah, aku akan menunjukkan kebolehan ku."
Kata-kata Quinn disambut auman kencang dari si raja hutan. Suaranya sampai menggema begitu kuat. Singa jantan itu langsung menerjang Quinn dengan cakar dan giginya yang tajam. Untung saja Vynx cerdas, dia langsung menyesuaikan bentuk senjata apa yang cocok digunakan untuk melawan musuh.
Quinn bisa menjaga jarak dengan panjang tombaknya. "Dia sejak tadi seperti hanya sedang mengetes ku," pikir Quinn karena sedari tadi singa penjaga itu tidak serius menyerangnya.
{Hei, jangan melamun ditengah pertarungan, bodoh!}
Teriak Sky dari atas jurang. Dia merasa ikutan tegang karena Quinn tidak juga melukai singa tersebut.
Sementara Quinn sendiri tengah mendapat pencerahan lagi. "Kau seorang spirit? bagaimana caramu bisa berubah wujud?" Quinn menatap singa itu dengan mata berbinar takjub.
Singa tersebut dalam sekejap mata menghilang dalam kepulan asap dan muncullah seorang spirit yang sama dengan Sky, berwarna kehijauan ciri khas hutan. Dia tersenyum ceria sambil melambai penuh antusiasme.
{Hai! bagaimana kau bisa tahu secepat itu? padahal aku tidak pernah menunjukkan wujud spirit ku pada penghuni hutan ini}
Quinn menyeka keringat di dahinya, "aku bisa merasakan energi spirit mu. Kau hebat sekali, apa keahlian khusus mu?" tanya gadis itu antusias karena dalam sehari, dia memiliki kesempatan membuat kontrak dengan dua spirit hutan sekaligus.
{Aku? aku bisa memanipulasi bentuk ku sendiri. Aku bisa berubah menjadi apa saja benda atau seseorang yang aku sentuh.}
Mata Quinn di penuhi kilauan kagum, "bisa tunjukkan padaku? Sentuh aku."
{Baiklah, baik~}
Spirit itu menyentuh kening Quinn. Dia memejam matanya setelah selesai menyesuaikan struktur tubuh Quinn dan tadaa! spirit hutan tersebut bisa membuktikan ucapannya. Quinn merasa sedang bercermin. "Wah, ternyata sungguhan..." gumamnya pelan, "berapa lama kau bisa mempertahankan wujud itu?" tanya Quinn lagi.
{Paling lama hanya setengah jam. Sebenarnya aku bisa melakukannya lebih lama, tapi setelah itu aku tidak akan bisa berubah lagi selama sehari penuh.}
Aku berhasil mengulur waktu, aku sudah mengetahui namanya.
Quinn pun mengulurkan tangan mengajak spirit itu bersalaman. "Salam kenal, Ash. Mohon bantuannya, ya. Aku akan mengandalkanmu."
Spirit itu mengedipkan mata beberapa kali dengan cepat. Sedetik kemudian dia mengamga lebar sangking tidak percaya nya ia dengan kemampuan Quinn de Alger Shuvillian.
{Eh? Ehhhhhh?! bagaimana kau tahu namaku?!}
Sky menepuk jidatnya sembari menghela nafas panjang.
{Gadis itu curang lagi.}
Quinn menghembuskan nafas lega. Hari ini untung besar, walau tadi suasana hatinya sempat memburuk gara-gara Savero, sekarang semuanya sudah membaik. Gadis itu mendadak terengah-engah seperti habis berlari jarak jauh.
{Quinn, kau kelelahan. Apa kau baik-baik saja?}
Vynx nampak khawatir melihat wajah Quinn yang mulai berkeringat dingin.
Sama seperti Vynx, Ash tampaknya tidak keberatan menjalin kontrak dengan Quinn. Dia segera mengambilkan air dari dalam kelopak bunga emas itu dan meminta Quinn untuk menenggaknya dalam sekali tegukan.
{Air itu bisa mengembalikan energimu dengan cepat. Dia hanya tumbuh dua ratus tahun sekali saja, jadi jangan ragukan keajaibannya.}
Quinn mengatur nafasnya, dia merasa bangga akan dirinya sendiri yang memiliki keberanian untuk memilih jalan berbahaya. Dia sudah semakin kuat, mengingat masa lalunya yang menyedihkan membuat dirinya malu. "Padahal aku bisa memilih untuk sekuat ini sejak dulu. Hahaha, mengenaskan."
"Vynx, Sky, Ash. Berkumpul, ada yang ingin aku katakan pada kalian."
Tiga spirit berbeda karakter itu berkumpul di hadapan sang tuan dengan wajah bingung. "Terima kasih sudah mau membuat kontrak denganku. Aku tidak berniat menyalahgunakan kekuatan kalian untuk melakukan hal buruk—" Quinn sering mencabut nyawa orang lain, memfitnah, menjebak, bahkan meracuni, itu semua hal buruk. Jadi Quinn memilih untuk meralat ucapannya sendiri.
"Maksudku untuk keegoisan semata. Aku butuh bantuan kalian untuk menyingkirkan seseorang yang akan menghancurkan hidup kita semua. Setelah aku selesai, aku janji akan membebaskan kalian. Jadi, untuk sementara waktu, mari berteman dengan baik. Aku akan berusaha untuk tidak menyakiti kalian," ketulusan Quinn tersampaikan dengan baik.
Sky yang tidak terima dengan pemaksaan Quinn menjadi sedikit luluh. Dia bisa merasakan kemurnian hati Quinn dan ambisinya untuk mencapai satu tujuan itu.
{Aku rela mempertaruhkan nyawa untukmu, Quinn} - Vynx
{Hahaha, kau ini terlalu formal. Aku bisa membantumu mewujudkannya, jangan khawatir} - Ash
{Humph! apa boleh buat, lagipula aku tidak bisa kabur kalau bukan kau yang memutuskan kontrak} - Sky
"Sekarang bolehkah aku cabut bunga itu? aku memerlukannya untuk Raja Kaisen. Dia menderita sejak lama," Quinn tetap meminta izin pada Ash sang penjaga bunga langka tersebut.
{Ambil saja. Akan lebih bermanfaat kalau digunakan daripada dibiarkan sampai mati dan layu begitu saja.}
Quinn mencabut bunga tersebut dan meminta Ash yang menyimpankan nya sampai dia keluar dari hutan agar tidak rusak.
"Aku akan segera menyerahkannya pada Tuan Gray."