
Bastien bersandar pada bahu kursi guna mengurangi ketegangan pada tulang punggungnya yang sudah terkikis usia. Jari telunjuk nya secara teratur mengetuk meja tak sengaja membuat irama bak detik jarum yang bergerak. Tangan kanan pria itu memegang kertas pemberian salah satu suruhannya.
Itu adalah data yang Bastien dapatkan setelah berusaha menelisik latar belakang Finn sebelum dia menerima pemuda tak dia kenal itu sebagai salah satu ksatria di bawah bimbingannya. "Tidak ada yang spesial, justru terlalu sedikit. Dia ini misterius sekali." gumamnya setelah tiga kali membaca ulang informasi yang tertulis di atas kertas itu.
Finn memang berasal dari panti asuhan yang letaknya dekat dengan kuil Santis, kuil terbesar di Helldelune. Finn besar bersama Christian yang sekarang merupakan salah satu pendeta tinggi di kuil tersebut. Keduanya hingga sekarang masih sering saling berkomunikasi meski telah sibuk menjalani kehidupan masing-masing.
Finn sudah mulai keluar dari panti saat menginjak usia tiga belas tahun dan tidak ada satupun pihak panti yang mengetahui apa yang dia lakukan setelahnya dan kemana dia pergi. Finn menghilang tanpa jejak bak ditelan bumi. Keluarnya Finn dari panti asuhan bukan karena ada sepasang suami istri yang hendak mengadopsi. Kemunculan kembali nya dia di Helldelune adalah ketika kasus perdagangan manusia sedang marak terjadi. Finn sudah berusia delapan belas tahun saat itu.
Baru setelah beberapa bulan kembali ke kampung halaman, dia bekerja sebagai guru sejarah untuk keluarga putra bungsu Bastien atas permintaan Killian. "Mengapa Killian memilih orang yang tidak jelas asal-usulnya untuk jadi guru sejarah? terlebih dia tidak memiliki latar pendidikan tinggi."
Dilihat dari kemampuan bertarung yang dia miliki, nampaknya Finn tidak membuang-buang waktu lima tahunnya dengan sesuatu yang tidak berguna. Jika Bastien amati lebih dalam lagi, Finn memiliki keterampilan untuk bertahan hidup disegala situasi. Walau banyak tingkah, Finn cukup bisa diandalkan karena dia mudah mengerti situasi dan keadaan.
"Kakek, apa yang sedang kau lakukan?"
Bastien terperanjat kaget mendengar suara Quinn muncul di balik pintu ruang kerjanya. Dia tersenyum melihat Quinn sudah kembali. "Oh cucuku, kenapa kau datang kemari? kau pergi ke mana saja dengan Putra Mahkota?"
Hari sudah petang. Raiden terus mengikuti kemanapun Quinn pergi, Pemuda itu membuatnya sibuk dengan berjalan-jalan dan makan kue ditempat yang Quinn inginkan. "Aku terkejut ternyata dia bisa berakting seperti lelaki ceria yang polos." batinnya mengingat kegiatan tidak berguna yang dia lakukan bersama lelaki yang menjadi malaikat pencabut nyawanya di masa depan.
Aku jadi tidak bisa menemui bibi Kennedy. Tapi tidak apa-apa, aku sudah tahu dia yang menerima suratku.
"Quinn. Aku akan menerima paket besok pagi, tapi itu aku pesankan khusus untuk dirimu." kata Bastien sambil memasukkan kertas yang ia pegang ke dalam laci.
"Paket? kakek ingin memberiku hadiah?"
"Lihat saja besok."
Quinn membutuhkan Finn untuk saat ini. Dia sudah bertanya pada pria yang Bastien sewa jasanya, pria itu mengaku membawakan informasi tentang salah satu pemuda yang ingin melamar kerja sebagai Ksatria di istana Grand Duke ini. Sudah jelas Finn, 'kan?
Quinn bisa melihat keraguan yang tersirat dari mata Bastien. "Ada yang ingin kakek tanyakan? mungkin aku bisa menjawabnya."
Bastien membuang nafas panjang, berusaha memilah kata agar Quinn tidak salah paham dengan maksudnya bertanya. Melihat Quinn tampak biasa saja dan tidak takut menerima pertanyaan apapun darinya, Bastien akhirnya berani mengajukan beberapa.
"Kau dan lelaki bernama Finn itu sebelumnya adalah guru dan murid, 'kan? bagaimana Killian bisa menyewa seorang yang tidak memiliki latar pendidikan untuk menjadi gurumu? lalu bagaimana rasanya saat diajar oleh si Finn itu? kau merasa dia mampu? apa dia tidak pernah menceritakan soal dirinya padamu?" Bastien menghujani Quinn dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Jadi kakek sudah tahu, ya. Killian tahu aku hanya suka bermain-main dengan rakyat biasa dan aku tidak suka membaca atau mempelajari suatu hal yang rumit, jadi aku bodoh dan hanya akan mempermalukan nama keluarga kalau bergabung dengan guru yang biasa dipakai oleh keluarga bangsawan lain. Yah, aku tidak bisa menyalahkan Killian, dia berusaha keras membuat Ayahnya bangga."
"Dengan membuatmu belajar dengan seseorang yang kurang kompeten?"
Quinn tidak mau memperpanjang pembahasan soal Killian karena itu hanya akan membuat dadanya sakit. Quinn tahu Killian tidak benar-benar membuat Finn mengajarkan seluruh materi sejarah kepadanya, toh Quinn sendiri tidak akan mengerti dengan apa yang diajarkan. Killian hanya mengirim Finn untuk mengawasi dan menghentikan Quinn jika tindakannya mempertaruhkan harga diri seorang Shuvillian.
"Pertanyaan kakek yang kedua, apa ya? um, karena aku sebenarnya juga tidak terlalu mendengar semua ajaran Finn. Tapi dia memang lebih cocok dengan kegiatan di luar ruangan," Quinn menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Sejujurnya Quinn tidak begitu ingat soal gurunya, Quinn dulu hanya berfokus pada kegiatan kesukaannya sendiri dan Raiden. "Rasanya dia tidak pernah sekalipun menceritakan soal dirinya sendiri. Finn hanya bilang dia suka berkelana sebab dia bukan orang yang suka terikat dengan sesuatu. Sebenarnya aku juga penasaran apa yang dia lakukan saat berkelana".
Bastien mengangguk-anggukan kepalanya. Ternyata itu tak membuat keraguannya sirna.
"Tapi aku mau kakek menerimanya."
"Dan membahayakan nyawamu?"
Quinn menyeringai lebar, "Kakek tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasi Finn. Lagipula hanya Finn yang bisa melindungiku."
"Tapi, Quinn..."
"Kakek percaya saja padaku~"
Sore itu juga, Finn dipanggil oleh Bastien untuk datang dan mendapat pedang untuknya mulai bekerja di esok harinya. Bastien kemudian meminta pemuda berambut sedikit acak-acakan itu untuk berlutut dan mengambil sumpah setia dengan disaksikan seluruh penghuni istana Lombardia, terutama sesama prajurit pemberani lainnya.
Setelah acara pengambilan sumpah itu, Finn lanjut memberikan sumpah pada Quinn sebagai majikan utamanya yang akan ia lindungi seumur hidup.
Quinn menarik tangan Finn agar dia berdiri. "Asal kau tahu, alasanmu diterima di sini adalah karena bantuanku." bisik gadis manis dengan seringai licik seolah sedang menantang Finn. "Aku tahu kau sedang menginginkan sesuatu di rumah ini". Quinn terakhir kali melihat Finn tampak menghafal satu per satu letak ruang di istana sebesar ini. Sudah pasti Finn ingin mencari sesuatu.
Jika aku mengajaknya bekerja sama mungkin aku bisa mengetahui rahasianya. Di kehidupan sebelumnya Finn tidak berinteraksi dengan kakek, apa yang sebenarnya dia inginkan?
Finn ikut menyeringai dan menatap Quinn dengan tatapan seakan dia menemukan seseorang yang dapat mengimbangi permainannya. "Jadi, haruskah saya berterimakasih, Yang Mulia?".
Quinn tidak membalas ucapan Finn, dia pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sikap dan pemikirannya jadi sulit tertebak. Finn terkekeh geli sembari menggosok ujung hidungnya. " Sudah ku duga dia bukan lagi orang yang sama".
Seusai pengambilan sumpah selesai semua orang sudah pergi ke tempat mereka masing-masing, lalu Finn pun digiring menuju ke lapangan untuk berduel dengan tiga Ksatria Bastien selain Felix. Tentu tidak untuk merundung, mereka bertiga hanya ingin mencoba berduel dengan orang baru sebab sudah bosan harus menantang orang yang sama tiap harinya.
Semua bergilir satu per satu mencoba bertanding dengan Finn. Dan tiga kain yang terikat dilengan masing-masing peserta semua sudah ada dalam genggaman Finn, sementara miliknya sendiri masih terikat kuat dilengan kirinya. "Jadi, bisakah aku anggap aku menang? aku harus pergi sekarang, ada janji temu dengan saudaraku."
"Ah sebelum itu, Finn. Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Fox, salah satu teman Ksatria barunya.
"Apa?"
Sementara itu, di dalam istana Lombardia, Bastien berjalan menuju ke ruang kerjanya sambil sesekali menguap. Hari ini dia bergelut dengan banyak laporan keluhan di wilayah kepemimpinannya minggu ini, matanya sudah tak segar lagi terasa semakin berat. "Evan, bisakah kau mengambilkan aku buku pendataan pengelolaan bulan lalu? sepertinya ada beberapa kesalahan rekap."
Evan membungkuk sopan, "Baik, Yang Mulia. Akan saya ambilkan sesegera mungkin."
Bastien pun masuk ke dalam ruang kerjanya sambil menguap lebar. Tepat ketika Evan pergi, Quinn menyelinap masuk ke dalam ruang kerja kakeknya dengan membawa teh oolong kesukaan Bastien.
Kembali ke lapangan latihan...
"Mengapa kau tiba-tiba mendeklarasikan bahwa kau hanya ingin melayani Yang Mulia Quinn?"
"..."
"Aku pergi dulu. Aku sudah terlambat."
Sebelum pergi, Bastien sudah memberitahu padanya bahwa Finn sudah bisa mengambil seragam hitam Ksatria khusus dari Lombardia.
Finn secara kebetulan berpapasan dengan Evan yang menatapnya dingin di depan ruang tamu. Untuk menjaga etika, Finn membungkuk dan tersenyum ramah. "Selamat malam, Tuan Evan."
"Ya, selamat malam. Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya pria itu heran karena Finn masuk lagi ke dalam.
"Grand Duke memanggil saya jika saya sudah selesai berlatih. Beliau bilang akan menyerahkan seragam saya."
Evan dan semua orang juga mendengar hal yang sama karena Bastien mengucapkannya tepat setelah Finn selesai mengikrarkan sumpah pada Quinn. "Baiklah".
Mereka mengambil jalan yang berlawanan. " Sepertinya yang ini."
Krieet
Pintu sedikit berderit. Finn tidak segera membukanya lebar-lebar, hanya cukup untuk kepalanya masuk duluan untuk mengintip keadaan di dalam. Matanya melebar tatkala melihat sosok si Grand Duke yang tidur di mejanya. "Grand Duke?".
Seorang gadis muncul dibalik kursi sambil melambai memberi kode untuknya segera masuk dan menutup pintu. Pemuda itu menurut dan menutup pintu sepelan mungkin. "Maaf, aku sedikit terlambat dari waktu yang ditentukan," Finn tersenyum lebar sambil mengangkat sebuah kertas surat kecil dari kantong celananya, "Jadi, untuk apa kau sampai meninggalkan surat diam-diam begini? dan mengapa Grand Duke tertidur di sini?"
Bastien tidak pernah bilang akan memberikan seragam Ksatria milik Finn di ruang kerja. Finn segera datang ke sini karena membaca surat yang diterimanya dari Quinn saat gadis tadi menggenggam tangannya untuk berdiri, ia menyelipkan kertas itu di sana.
"Aku memasukkan obat tidur pada kakek. Aku mengubah tujuanku ke sini karena cara ini lebih aman."
Tadi Quinn berpikir ingin pertemuannya berada di balkon kamarnya, akan tetapi itu bukanlah tempat yang aman setelah ingat bahwa Raiden pernah muncul di sana di malam sebelumnya. Selain itu, Quinn menyadari bukan hanya Evan mata-mata yang ditaruh Raiden untuk mengawasinya. Ditambah, akan berbahaya baginya bertemu ditempat lain karena Evan tidak bekerja sendirian, akan ada seseorang yang melihat Quinn dan Finn masuk ke dalam ruangan yang sama. Tidak mungkin mereka tidak saling melapor, ya 'kan?
Quinn tahu Bastien menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kerja sehingga dia memanfaatkan itu. Jika ada yang melihatnya membawakan teh kepada sang kakek, mereka tidak akan curiga. Kalaupun Finn nantinya menyusul masuk, mereka juga tidak akan segera curiga sebab ada Bastien di dalam sana.
Bagi orang lain mungkin justru tempat itulah yang tidak aman karena Evan paling sering berada di sana. Tetapi Quinn tidak se ceroboh itu, sebelum itu dia sengaja membuat berita bohong mengenai gosip pembangunan jembatan untuk menyeberangi sungai besar di pinggir kota yang memakan dana terlalu besar padahal hasil kerjanya tidak seberapa untuk menggiring Bastien pergi lagi ke ruang kerja dan membuat Evan sibuk mencari di perpustakaan yang buku pendataan itu sudah pasti tertumpuk oleh banyak buku lain.
"Kita hanya punya waktu dua puluh menit jika dihitung dari Evan pergi. Aku akan singkat saja. Evan adalah mata-mata yang dikirim seseorang untuk mengawasiku."
"Eh? mengawasimu? untuk apa?"
"Mana aku tahu. Intinya aku tidak bisa asal bergerak di rumah ini sebelum bisa menyingkirkan mereka."
Finn nampaknya tak terkejut dengan perubahan cara bicara Quinn, mungkin karena sejak awal dia tahu Quinn sudah menjadi pribadi yang berbeda. "Kau ingat kalau akulah alasan mengapa kau bisa berdiri di sini mulai sekarang. Apalagi kau sudah bersumpah menjadi Ksatria pribadiku. Sekarang aku akan memberikan tugas pertamamu."
"Tugas? tugas apa?"
"Aku ingin bertemu dengan seseorang di kuil" Finn tersentak sesaat sebelum dia menyipit bingung, "Kau ingin bertemu dengan Christ?" tanya pemuda itu untuk meyakinkan perkiraannya sendiri.
"Ya, begitulah. Aku juga butuh bertemu seseorang lagi, tapi aku tidak akan bisa sembunyi-sembunyi karena kusir itu juga mata-mata."
Finn terkekeh geli, dia merasa mereka sangat konyol. "Jadi, Pangeran benar-benar mengawasi mu dua puluh empat jam penuh?" Quinn membeku ditempat, dia tidak pernah sekalipun menyinggung bahwa mata-mata itu adalah milik Raiden. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Quinn keheranan.
"Dilihat dari matanya saja sudah kelihatan. Dia terobsesi ingin menguasaimu. Dia tidak mempertahankan seseorang di sisinya melainkan jika orang itu berguna." jawaban Finn menyiratkan seakan dia tahu karakter asli calon Raja Ethereal itu.
Tidak ada waktu menyangkal. Lagipula Finn ada di pihaknya, itu jadi mempermudah Finn sendiri untuk memahami situasi. "Begitulah. Jadi bantu aku alihkan perhatian."
"Tidak masalah. Aku bisa melakukannya untukmu. Tapi, apa kau yakin dengan cara itu? kau mungkin akan terluka."
"Justru itu yang akan jadi kunci utama dari rencana ku." Quinn pun menyodorkan secarik kertas dengan pena hasil meminjam dari kakeknya yang mendengkur di meja. "Tandatangani ini."
Finn maju mendekat untuk melihat apa yang tertulis di sana. "Perjanjian?" alisnya terangkat.
"Aku tidak tahu kapan kau akan mengkhianati ku. Jadi setidaknya tanda tangan di sini agar aku percaya kau tidak akan berpaling."
"Pfft! ternyata kau tetap memiliki sisi konyol juga, ya. Baiklah, baik, aku mengerti."
Setelah menandatangani surat itu, Quinn segera menggulung nya. "Apa imbalan yang kau mau? sebenarnya apa yang sedang kau cari di sini?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengikutimu saja." senyum penuh arti itu membuat Quinn mengernyit geli sekaligus jijik. Finn segera menyadari kesalahpahaman gadis itu, dia pun menggeleng cepat untuk meluruskan nya. "Tidak, jangan salah paham. Aku bukan orang mesum atau semacamnya. Aku memang hanya ingin melayani mu."
"Mencurigakan.Tapi aku sedang tidak ada waktu untuk itu. Bersiaplah aku akan segera pergi sekarang." titah Quinn seraya menunjuk jendela sebagai jalan pemuda itu keluar. Sudah terdengar langkah kaki tak jauh dari ruang kerja yang menandakan Evan telah menemukan buku pendataan yang dimaksud Bastien.
"Yang Mulia, saya sud— ah... Yang Mulia?" Evan terbengong menatap Bastien yang sudah tertidur sangat pulas sambil bersandar pada bahu kursinya. "Tuan Evan, maaf, kakek sepertinya sedang sangat kelelahan. Aku malah ditinggal sendirian, padahal aku sudah membawakannya teh."
"Yang Mulia Quinn, Anda sejak kapan ada di sini?"
"Belum lama, padahal aku ingin meminta pendapat kakek soal pesta teh ku dengan Pangeran besok."
"Oh begitu ya. Ya sudah, Yang Mulia, lebih baik Anda segera beristirahat agar besok tidak terlambat bangun."
"Baik, selamat malam, Tuan Evan~"
"Ya, selamat malam, Yang Mulia."
Fyuuh, ini akan lebih mudah bagiku jika Finn sudah tahu apa permasalahan ku. Semoga saja rencana ini tidak gagal.