
Floyd, Ksatria yang bekerja dibawah Kaisen mendatangi ruang kerja yang dulunya dipakai oleh Raja dan sekarang telah menjadi milik Raiden setelah resmi menjadi wakil kerajaan. "Oh, tumben sekali kau datang. Ada urusan apa, Floyd?"
"Saya pikir Anda sudah tahu maksud kedatangan saya kemari, Yang Mulia."
"Lagi-lagi kau meminta mengganti dokter untuk Ayah? sudah berulang kali ku bilang, Gray adalah salah satu dari peracik obat terbaik di negara ini."
"Nyatanya itu tidak membuahkan hasil. Baginda Raja sudah terlalu lama terbaring sakit, ini akan buruk untuk kerajaan." Floyd bisa dibilang pemuda yang merupakan salah satu Ksatria terhebat di istana yang loyal hanya pada satu orang, yaitu Kaisen Vill de Sorrentine, ayah kandung Raiden. Dia berani menentang keputusan Raiden jika itu dianggap merugikan majikannya.
Sama seperti yang sekarang sedang dia lakukan. Memprotes Raiden yang nampak santai-santai saja melihat ayahnya yang seakan siap meregang nyawa kapan pun. Floyd sendiri tidak yakin Gray membuat ramuan yang manjur, sayangnya dia tidak bisa banyak bertindak sebab Raiden memasang seluruh mata-mata disetiap sudut istana Ethereal.
"Jadi, kau mau bilang kalau aku tidak becus sebagai wakil dari Raja Kaisen, begitu?"
Floyd dengan tenang menjawab, "Saya tidak bermaksud mengatakan itu, tetapi saya hanya meminta Anda untuk secepatnya mencari solusi lain."
"Floyd, aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku urus. Aku tidak bisa memikirkan itu untuk sekarang." Raiden mendengus kasar, untuk apa pula dia memikirkan keselamatan ayahnya? saat ini yang perlu dia urus adalah Quinn. Jika Quinn sampai lepas dari tangannya, Raiden akan kesulitan mencapai tujuannya. "Jean."
"Baik, Yang Mulia." Jean akhirnya memaksa Floyd untuk segera keluar meninggalkan ruangan.
Floyd keluar dan Evan datang masuk ke dalam ruangan sambil membawa surat keterangan dari Bastien mengenai pengajuan pengetatan penjagaan. "Ada berita apa?" tanya Raiden yang mengetahui maksud dari kedatangan Evan.
"Saya membawa berita yang cukup menarik, Yang Mulia."
Raiden terlihat antusias pada berita yang ingin Evan sampaikan. "Apa itu? ku harap kau tidak memberi harapan palsu."
"Lady Penelope dan Lady Quinn tampaknya sedang melakukan perang dingin. Mereka sama sekali tidak akur, tetapi saling menutupi kenyataan itu denga berpura-pura baik di depan satu sama lain. Sepertinya jika Anda memanfaatkan keadaan mereka, Anda bisa lebih mudah mencapai tujuan Anda."
Raiden mengelus dagunya sambil berpikir. Dia sendiri sudah merasakannya, ada keanehan yang ditunjukkan kedua saudari sepupu itu ketika mereka berada di satu tempat. Meski saling menyapa dan berbicara, mereka terlihat jauh satu sama lain. "Besok Lady Penelope sudah harus kembali ke kotanya, Yang Mulia."
"Oh begitu? perlukah aku memberikan hadiah? Evan, uruskan hadiah itu dan tulis atas namaku." titah Raiden sembari bersandar pada bahu kursi.
"Akan segera saya laksanakan, Yang Mulia." Sebelum pergi Evan teringat ingin mengatakan satu hal penting lagi. Dia pun mendekat ke meja Raiden dan berkata, "Grand Duke akan memecat sebagian besar pekerja di rumahnya, Yang Mulia. Apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak perlu repot menyabotase daftarnya karena sudah ada yang akan melakukannya."
"Maksud Anda?"
Raiden mengangkat satu sudut bibirnya, lalu menyebutkan satu nama. "Quinn de Alger Shuvillian. Biarkan dia yang mengubah daftar namanya."
Evan mengernyit tidak mengerti, "Mengapa begitu, Yang Mulia?"
"Kita lihat saja. Jika yang dikeluarkan adalah semua mata-mata ku, sudah pasti Quinn yang melakukannya. Dia sadar aku terus mengawasinya dan dengan begitu kecurigaanku akan terbukti. Kau hanya tinggal mencari rekan baru, Bastien dan Quinn tidak mungkin mengeluarkanmu dari sana." balas Raiden ssmbil mengelus kalung yang melingkar di lehernya itu.
Raiden terus membayangkan wajah polos yang dimiliki Quinn. Begitu manis sampai tidak ada seorangpun yang mampu berpikir untuk mencurigainya. Tidak ada yang tahu bahwa Quinn yang lugu tengah mengasah pedang dalam dirinya. "Aku harus segera membunuhmu jika caraku yang selanjutnya tidak berhasil."
Sore telah tiba. Suasana di istana Lombardia terasa lebih sunyi dibanding hari biasanya, tampaknya semua pelayan merasa tegang dan gelisah, bertanya-tanya akankah mereka dipecat dan tidak dapat bekerja lagi di rumah bangsawan lain.
Saat ini Quinn sedang membaca surat dari Finn yang ia tugaskan untuk mendatangi keluarga Kennedy yang merupakan keluarga petani Helldelune yang sangat dekat dengan Quinn. Saat ini dia tidak bisa turun sendiri untuk meminta Gloria Kennedy membuatkan pupuk terbaik untuk Izeqiel.
"Bagus, Finn bekerja cukup cepat. Tinggal sedikit lagi."
Tanaman Rosemary yang dia minta sudah datang dan sudah ditanam di lahan miliknya. Tujuh hari lagi pembangunan pabriknya akan selesai. "Kakek sudah mulai memberikan obat itu kepada masyarakat. Sisanya aku hanya tinggal pergi menemui Penelope."
Quinn mengganti pakaiannya lalu pergi ke kediaman Shuvillian untuk berbicara dengan Penelope. Setelah memastikan bahwa Penelope berulang kali mencoba mencelakakan dirinya untuk merebut sesuatu, Quinn semakin percaya bahwa ada keadaan yang mendesak Penelope hingga membuatnya terburu-buru. "Memanfaatkan seseorang yang sedang dalam keadaan terdesak adalah cara tercepat untuk membuatnya mengikuti permainanmu." gumam Quinn seraya mengembangkan senyum simpul.
Awalnya Bastien tidak mengizinkan Quinn pergi karena lukanya yang masih belum kering sempurna, namun atas paksaan gadis itu akhirnya Bastien luluh juga. Dia mengutus dua ksatria nya untuk mengawal.
Penelope terkejut karena kehadiran Quinn yang tiba-tiba. "Quinn? kau ingin menemui paman? dia baru saja ke luar." itulah kalimat pertama yang dikeluarkan Penelope untuk menyambut Quinn.
"Aku sengaja datang untuk bicara denganmu. Besok kau sudah harus pulang, jadi aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobrol berdua denganmu."
"Denganku?"
"Oh, aku membawakan kado kecil-kecilan untukmu." Quinn menyodorkan kotak perhiasan sebesar telapak tangan pada kakak sepupunya. "Terimalah, kau akan membutuhkannya."
"O-oh ya, terima kasih."
Penelope tidak berhenti mewaspadai Quinn setelah tahu bahwasanya anak sulung Savero itu sudah mencurigai aksi meracuninya yang gagal itu. Penelope meminta pelayan membawakan set teh sore hari dengan camilan kue kering untuk mereka berdua. "Mengapa kau ingin mengobrol di kamar saja? sepertinya ini sangat rahasia."
Quinn mengangguk santai, rasanya sudah lama dia tidak menghirup udara di rumahnya sendiri. Agak aneh karena dia mendatangi orang lain yang tinggal di rumahnya dan dia harus bertindak layaknya seorang tamu di rumah yang telah menjadi saksi hidupnya. "Penelope, aku tidak berniat mengintimidasi. Aku bertanya murni hanya karena penasaran saja." Quinn duduk sambil menopang dagu, "Apa kau menyukai Raiden?"
"Eh?"
Penelope terpaku menatap Quinn bingung. Tidak, bukan soal pertanyaan melainkan tatapan Quinn yang sama sekali tidak keberatan menerima apapun jawaban yang nantinya akan ia keluarkan. "Mengapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?"
"Aku tahu kau mulai menyukai Raiden, Penelope. Aku tidak merasa keberatan dengan itu." Penelope masih enggan menjawab pertanyaan Quinn. Lebih tepatnya, dia mau berhati-hati daripada Quinn mengetahui rahasianya. "Aku akan membantumu mendapatkan Raiden."
"Apa katamu? kau sedang bercanda ya?"
"Apa aku kelihatan sedang melempar candaan?" Penelope terdiam tak bisa menjawab sebab tak sedikitpun tergambar di wajah Quinn bahwa dia sedang bercanda. "Aku akan mengalah untukmu, kak. Lagipula aku mengalah bukan tanpa sebab, Raiden sendiri yang membuatku berpikir untuk menyerah."
Menyerah katanya? sudah jelas waktu itu Raiden mencari-carinya, dia juga bicara dengan lembut dan sangat perhatian, bahkan dia sampai khawatir setelah mendengar kau terluka.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Raiden melakukan semua kebaikan itu karena dia ingin menjaga hubungan baik dengan ayah dan kakek. Kau tahu, kakek adalah teman dekat Raja." jelasnya yang memang nyata kebenarannya. "Raiden menjagaku karena aku sudah dianggap seperti teman dekat. Bukankah ini kesempatan yang bagus untukmu? kau ingin berada di sisi orang yang terkuat posisinya, dan aku ingin melihatmu bahagia."
"Quinn, kau seperti bukan orang yang ku kenal. Jadi tujuanmu datang ke sini hanya untuk itu?" Penelope tertawa sinis sambil menunjuk wajahnya Quinn, "Akhirnya kau menunjukkan muka aslimu di hadapanku. Ini sangat mengejutkan. Entah apa yang kau pikirkan sampai membuka topengmu di sini."
Quinn mengangguk lagi. "Aku tahu kau sangat takut dengan paman Vincent. Setiap kali orang membahasnya, kau seperti teringat akan malaikat pencabut nyawa mu sendiri."
Nafas Penelope tercekat, lidahnya terasa amat kelu, sepatah kata pun tak dapat ia ucapkan. Memang benar. Mendengar nama Vincent disebut saja sudah berhasil membuat tubuh Penelope menggigil ketakutan hingga ke sumsum tulang. Bahkan Penelope tak melihat rumahnya sebagai rumah melainkan neraka yang di mana didalamnya merupakan tempat tinggal iblis jahat yang siap mencabut nyawa siapa saja yang berani masuk ke dalam wilayahnya.
Quinn kelihatan tidak tega melihat Penelope yang kesulitan mengatur nafas, dia seperti lupa bagaimana cara memompa oksigen ke jantungnya. "Penelope, tenanglah, tenang. Aku tidak akan memberitahu siapapun soal ini, jadi kau akan tetap aman." ujar Quinn menenangkan. Dia mengesampingkan segala rasa penasarannya untuk membantu Penelope.
Apa yang sebenarnya paman Vincent lakukan sampai membuat anaknya sendiri sangat ketakutan?
Penelope tidak menduga bahwa Quinn bisa menebak semuanya dengan benar, dia bahkan sekarang secara terang-terangan mengatakan semua isi pikirannya tanpa berpikir ingin menjaga citranya sebagai gadis lugu dan polos. "Kau tertarik mendengar ucapanku selanjutnya tidak?"
Penelope tidak bisa segera menjawabnya oleh karena dia sendiri masih bimbang akan perasaannya. "Aku tertarik dengan Raiden, aku tidak tahu apa ini hanya ketertarikan biasa atau semacamnya. Dan yang kau katakan tadi itu benar. Tujuan utama ku adalah mencari posisi aman. Aku tidak peduli jika aku harus jadi selir atau wanita penghibur Raja, asal dapat perlindungannya maka akan ku lakukan."
Dalam hati Quinn tersenyum penuh kemenangan. Perkiraannya benar, memanfaatkan emosional Penelope adalah cara yang tepat untuk membuatnya mengungkap semua rahasia miliknya sendiri.
Quinn mengelus pundak Penelope. "Aku memang menyukai Raiden, setelah sekian lama berjuang, Raiden tampaknya masih menganggapku hanya sebatas teman. Aku tidak butuh status tinggi, kau yang memerlukan nya. Jadi, maukah kau bekerja sama dengan ku?"
"Aku terkejut ternyata kau bisa bicara seperti orang dewasa juga. Lalu kau mau imbalan apa?" Penelope menyesap teh chamomile nya perlahan, "Uh, rasanya mengapa agak masam? apa dia menambahkan sedikit lemon ke dalamnya?" gumamnya.
Quinn mengangkat kedua bahu ringan, "Untuk saat ini, aku hanya perlu membantumu dan kau harus jadi mata-mataku. Bagaimana? aku akan meminta beberapa informasi darimu sebagai imbalan. Tenang, apapun yang ku lakukan tidak akan menjatuhkanmu."
"Apa tujuanmu sebenarnya?" Penelope mengerutkan alis, dia masih tidak paham dengan pembahasan kilat ini.
"Tujuanku adalah menggagalkan apa yang menjadi tujuan Raiden. Kalau kau ingin tau, Raiden mengincar sesuatu dari ku."
"Mengincar apa?"
"Aku belum tahu dan akan segera mencari tahu soal itu. Kau butuh berada di sisi orang dengan status tertinggi dan aku harus lepas dari jerat Raiden." Kata Quinn lagi. Dia menyandarkan bahunya yang terasa kram ke punggung kursi sambil melanjutkan penjelasan singkatnya. "Aku ingin kau jangan percaya diri dulu setiap menerima perlakuan baik dari Raiden. Kau juga seorang bangsawan jadi kau tahu bagaimana semua orang selalu menjaga citra baik mereka di depan kalangan elit. Tidak ada bedanya dengan Raiden. Dia orang yang licik dan sekarang sedang berusaha memanfaatkanmu."
Penelope merengut agak tidak suka dengan ucapan Quinn yang sok tahu. "Raiden orang yang sangat baik, dia tidak mungkin bermuka dua begitu. Kau pasti salah paham karena kau ingin membuatku menyerah mengejar cinta Raiden juga."
"Pfft hahahahaha! kau lucu sekali." Quinn menyeka airmata yang keluar dari sudut matanya, "Tidak masalah jika kau beranggapan begitu. Kelak kau akan lihat sendiri kebenarannya, itupun jika kau mau membuka mata."
"Kau bicara seperti kau sangat mengenal Raiden. Kalian saja tidak sering bertemu dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana bisa kau memfitnah Pangeran dengan kasar seperti itu?"
"Aku ingin kau yang mendengarkan aku." Quinn menekankan kalimatnya yang berhasil membuat Penelope diam. "Seperti yang tadi sudah aku bilang, Raiden mengincar sesuatu dariku. Dia memanfaatkanmu untuk membuatku semakin terikat dengannya karena dia masih meyakini bahwa aku tergila-gila pada Raiden. Dulunya aku memang akan selalu cemburu pada semua wanita yang mencari muka di depan Raiden."
"..."
"Tidakkah kau juga memikirkan cara yang sama? jika aku jadi Raiden dan tahu bahwa hubungan di antara kita berdua tidak baik, aku akan memanfaatkanmu untuk membuat Quinn tidak bisa lepas dariku. Kau hanya salah satu bidak caturku. Aku tidak akan memberitahumu bahwa seluruh perhatianku itu palsu. Toh pemilihan kandidat Putri Mahkota masih jauh, tidak ada salahnya memanfaatkanmu untuk melawan Quinn sebelum saat itu tiba." Penelope mendengarkan sambil melotot tak percaya.
"Lalu, setelah itu aku akan memilih Quinn yang jadi Ratu dan membuangmu karena sejak awal tujuanku adalah menguasai Quinn. Kecemburuan mu bisa menggiring opini bahwa kaulah yang sangat terobsesi dengan Pangeran dan kau malah menciptakan alibi yang kuat untukku. Dia ingin membuat kita bermusuhan semakin jauh."
"L-lalu setelah itu...?"
Quinn mengingat kilas balik masa lalu, tepatnya tentang hukuman pancung yang dia terima di alun-alun kota. Quinn pun mencoba menyelaraskannya dengan asumsi yang dimilikinya sekarang. "Jika tujuan Raiden adalah membunuhku, setelah menetapkan ku jadi Putri Mahkota, Raiden akan bisa melakukannya dengan mudah. Dia akan membuat alibi bahwa kaulah yang telah membunuhku akibat kegagalanmu terpilih menjadi Ratu Ethereal karena kehadiranku. Kau pun pada akhirnya akan mati. Dengan begitu namanya akan tetap baik. Tapi kita berdua sama-sama akan dirugikan."
"I-itu... itu masuk akal. Tapi aku tidak percaya Raiden memiliki niat jahat seperti itu terhadapmu. Kau ingin aku membenci Raiden, 'kan?"
"Hei, jangan nilai sifat seseorang dari tampangnya saja. Apa kau tidak pernah bercermin? aku tahu kau berusaha meracuni ku lewat bunga yang kau bawa tadi." ledek Quinn di tengah-tengah perbincangan serius mereka.
"Hei, jaga bicara mu. Kau juga sama saja."
"Haha, mungkin begitu." Quinn meminum teh untuk membasahi tenggorokannya yang mulai terasa kering kerontang. "Jika kau menginginkan posisi yang aman, tetaplah mendekat pada Raiden, lakukan usaha apapun sesukamu karena dia tidak akan menolak kehadiranmu yang menguntungkan nya."
Penelope tersenyum sinis, "Lalu apa? kau mau aku mempercayai mu?"
Quinn dengan tenang menjawab, "Hm, aku memang memerlukan bukti. Kalau begitu, mau bertaruh?"
"Apa?"
"Raiden tahu lewat mata-mata nya bahwa kau besok akan pulang ke Verenity. Dia akan mengirimi mu hadiah secara langsung untuk cinderamata, maka itu artinya semua tebakan ku benar."
"Kalau itu tidak terjadi?"
"Ya berarti aku saja yang terlalu berlebihan. Kau sudah dengar, kakek sendiri mengakui bahwa Raiden adalah orang yang sangat menyukai trik. Tapi jika memang itu tidak terjadi, kau boleh saja membocorkan semua perkataanku pada Raiden."
Quinn membenarkan poninya yang sudah menusuk mata. "Raiden tidak sebaik itu sampai mau memberi kado pada seseorang yang baru dua kali dia temui. Kalau dia sampai memberimu sebuah hadiah mewah, itu artinya dia menginginkan sesuatu darimu."
Aku belajar dari Raiden di masa lalu. Berkat itu, sekarang aku bisa lebih berhati-hati.
Penelope menghela nafas panjang. Pembicaraan ini membuatnya menjadi sangat tegang. "Lalu bagaimana caramu membantuku lebih dekat dengan Raiden?"
Quinn meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, "Ada caranya. Percayakan saja padaku, kau hanya tinggal ikuti arahan yang ku berikan. Aku bukan tipe orang yang suka berkhianat." kakak kandung Killian itu melipat kedua tangan di depan dada. "Sekarang, ceritakan padaku. Apa yang membuatmu sangat takut pada paman Vincent?"
Wajah Penelope memucat. Dia tidak sanggup menceritakan apa yang selama ini dia alami di rumahnya sendiri.
"Kalau kau kesulitan cerita, tidak masalah. Tinggal kirimkan surat saja untuk memberitahuku."
Quinn menyodorkan telapak tangan ke depan kakak sepupunya, "Bagaimana? kau tertarik bekerja sama denganku? pikirkan lagi, kau lah pihak yang lebih banyak diuntungkan di sini."
Gadis dengan tubuh yang sangat proporsional itu ragu menjabat tangan Quinn, namun akhirnya dia memutuskan untuk menerima uluran tangan Quinn.
Tentu saja Quinn menjabat tangan Penelope dengan antusiasme tinggi. "Oh iya, kotak hadiah ku, itu simpan saja. Itu akan jadi pembuktian kedua ku jika kau masih saja meragukan ucapanku. Mari kita jaga rahasia."
Dapat satu lagi bidak. Dengan ini, apakah aku sudah selangkah lebih maju dari Raiden?
Quinn pun beranjak berdiri dari kursi seraya meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku. "Jangan berpikir kau bisa menusukku dari belakang, Penelope."
Penelope terkesiap kaget, dia mengangkat wajah menatap Quinn, "Apa?". Tiba-tiba, Penelope merasa dalam perutnya panas terbakar dan akhirnya dia memuntahkan darah yang cukup banyak. Tangan lentik gadis itu bergetar hebat melihat darahnya sendiri sudah merata di seluruh telapak tangannya disusul dengan penglihatannya mulai mengabur. " A-apa ini? apa yang terjadi padaku?"
Quinn menyeringai lebar melihat ketidakberdayaan Penelope di hadapannya. "Aku sudah memasukkan racun ke dalam teh mu. Itu adalah racun racikan khusus dan hanya aku yang punya penawarnya. Ada baiknya kau tidak asal minum penawar racun karena itu hanya akan memperburuk kondisimu."
Penelope menggebrak meja "Quinn! kau sudah sangat keterlaluan!"
"Tubuhmu tidak pernah terlatih dengan mengonsumsi racun. Berhati-hatilah agar tidak memperpendek hidupmu sendiri." Gadis berwajah polos itu kemudian mengangkat botol berisi cairan berwarna kehijauan "Aku hanya memiliki satu botol. Aku akan menyimpannya, anggap saja nyawamu ada pada tanganku. Jadi kau mau hidup atau tidak, tergantung dengan kerjasama mu. Silakan berkhianat, aku hanya perlu membiarkan racun dalam tubuhmu menyebar."
"Quinn!" bentak Penelope marah.
Namun bentakan keras itu hanya dianggap angin lalu oleh Quinn. Dia melambaikan tangan seraya keluar dari kamar Penelope dengan perasaan senang.
"Mari kita lihat bagaimana Raiden akan mempermainkan bidak ku ini."
"Argh! Quinn! dasar kurang ajar! dia berhasil mempermainkan aku!"