I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 27



"Kau ini seperti anak kecil saja." ketus Quinn yang tidak sedang berminat melakukan pembicaraan basa-basi. Finn mendengus sebal, dia berkacak pinggang sambil berkata, "Hei, aku sudah berkeliling Helldelune untuk mengerjakan misi darimu, Lady Quinn yang terhormat. Aku tidak mengambil jeda sekalipun agar kau bisa cepat mendapat jawaban."


Quinn mengerutkan pangkal hidungnya, "Citramu sebagai guru sejarah sudah hilang sepenuhnya di mataku."


"Aku sudah banting setir sekarang, tidak masalah jika aku tidak terlihat berwibawa seperti guru lagi."


Quinn tersenyum sarkas. "Heh. Sejak dulu kau sama sekali tidak terlihat begitu, jadi tenang saja." katanya sambil menggelengkan kepala heran.


"Seperti biasa, mulutmu sangat tajam."i


"Bukan tajam. Aku hanya tidak suka berbasa-basi denganmu."


Kemudian Finn mengeluarkan emblem yang mereka jumpai terpasang di dalam jubah masing-masing pembunuh bayaran. Quinn belum mengatakan kepada Finn bahwa yang menyewa jasa mereka adalah Penelope. "Ini adalah emblem dari sebuah Guild Blackrose."


"Guild?"


"Semacam organisasi yang melakukan aktivitas nya secara diam-diam. Mereka bisa menjadi biro informasi ilegal, menyediakan jasa seperti pembunuh bayaran begini, dan menyewa jasa lain yang kiranya kau tidak mau mengotori tanganmu untuk menyelesaikan sebuah 'misi'."


Quinn membeliak kaget, dia baru tahu ada organisasi semacam itu di Helldelune. "Bagaimana dia bisa menemukan tempat seperti itu?" gumaman Quinn tertangkap oleh indera pendengaran Finn. Pemuda itu lalu menyahut, "Namanya saja ilegal, pasti mereka melakukan bisnis dengan sembunyi-sembunyi. Kau tidak akan menemukan Guild mereka jika kau tidak tahu kedok macam apa yang mereka pakai untuk menutupi pekerjaan mereka yang sebenarnya."


Finn tersenyum angkuh, "Sekarang, aku tahu semua tentang mereka. Kau penasaran tidak? kalau penasaran, cepat tanya." ucapnya setengah memaksa.


"Tck. Kau ini menyebalkan. Memangnya mereka bersembunyi di mana?" Quinn mengajukan pertanyaan dengan malas. Ya, karena dia disuruh.


Finn membusungkan dada bangga. "Selama ini mereka bersembunyi di dalam bisnis kantor pos." sebenarnya dia bukan tipikal orang banyak tingkah. Finn hanya senang melihat ekspresi Quinn yang beragam, demi melihat itu Finn sesekali bersikap konyol.


Quinn menengok kaget. "K-kantor pos yang itu?" Quinn masih tercengang dibuat nya.


"Ya, memang ada berapa kantor pos di sini?" Finn ikut menyangga badan di tiang pinggiran balkon seraya memandang langit yang mulai berwarna abu-abu gelap. "Kalau dipikir, itu memang kedok yang sempurna. Tidak ada siapapun yang curiga semisal dia mengirim dokumen ilegal ke klien. Paling mereka hanya akan dilihat bekerja dengan rajin. Hanya ada segelintir orang yang tahu soal pekerjaan asli mereka." jelas Finn secara singkat.


"Aku yakin mereka yang mengetahuinya adalah golongan bangsawan."


"Kau benar. Mereka yang disebut-sebut sebagai bangsawan dan kaum elit memang penuh intrik. Aku tidak tahu apa enaknya hidup bergelimang harta tapi setiap hari rasanya seperti perang."


Quinn sibuk dengan pikirannya sendiri. Di kehidupan sebelumnya Quinn sama sekali tidak menyadari bahwa ada biro informasi ilegal seperti itu di negeri ini. Pikirannya terlalu polos. "Jadi, kita bisa menanyainya informasi dari seluruh penjuru negeri?"


Finn terkekeh sembari mengangguk. "Mereka punya banyak agen di tiap kota. Jadi bukan hal yang tidak mungkin bagi mereka mendapat informasi tentang seseorang di Ethereal ini." Pemuda bermanik amber itu melirik gadis bersurai hitam di sebelahnya. "Kau mau menanyakan tentang siapa?"


"Pamanku."


"Oh, Viscount Marchetti?" Quinn menatap mantan gurunya itu datar, dia sudah menduga sedikit banyak Finn pasti tahu soal beberapa bangsawan yang tersebar di empat kota. "Kau seorang pengelana sebelum menetap di kampung halaman mu ini. Apa kau tidak dengar sesuatu tentangnya?" tanya Quinn.


"Kau tahu, dia orang yang lebih suram daripada ayahmu."


Quinn menautkan kedua alisnya, "Bukan itu yang ingin aku dengar."


"Baik, baik, aku mengerti." Finn mendengus pelan seraya memijat tengkuknya yang terasa berat. Dia kemudian melanjutkan ucapannya, "Aku pernah dengar berita kurang mengenakkan soal Viscount. Ada yang mengatakan kalau dia sangat temperamental dan suka memukuli orang-orang rumahnya, bahkan rumah Viscount sering sekali berganti-ganti pekerja karena tidak ada siapapun yang betah bekerja dengannya."


"..."


Terakhir kali Quinn melihat Vincent adalah saat usianya dua belas tahun. Dia tampak seperti kehilangan tujuan besar dalam hidup entah karena alasan apa.


"Oh dan satu lagi. Aku dengar dia menjalankan bisnis yang berbahaya. 'Berbahaya' yang dimaksud itu ku rasa sesuatu yang bisa menghancurkan dirinya sendiri."


Aku tidak perlu menanyai Penelope soal ini, aku bisa menyewa jasa Guild itu.


Quinn membalikkan badan, berjalan masuk ke dalam kamar. "Lady, sebaiknya kau memperlakukan Lady Penelope lebih perhatian dan penuh kasih sayang." mendengar perkataan Finn yang sangat mengganjal di telinga dan hatinya membuat langkah Quinn terhenti.


Dengan lirikan tajam Quinn pun membalas, "Mengapa harus aku? sudah ada Killian yang melakukannya. Aku bukan orang santai yang punya tugas memberi dukungan mental pada setiap anggota keluarga." jawaban dingin yang keluar dari mulut Quinn tak membuat Finn bisa menutup mulutnya yang menganga.


"M-maaf. Aku tidak tahu kalau kau akan jadi semarah itu."


Dia kabur dari keadaannya, mencari posisi teraman dengan menjadi Ratu, tapi dia membuatku yang tidak tahu apa-apa menjadi tumbal. Aku harus kehilangan nyawa karena keegoisan dan ambisinya!


"Kondisiku tidak lebih baik daripada kondisi Penelope." Iris biru bercorak emas kecoklatan nya bersinar lebih terang di luar ruangan tanpa cahaya lampu itu. "Andai kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, kau mungkin tidak akan berani mengatakan itu padaku, Finn." Quinn mengulas senyum nanar yang mampu membuat pemuda pemakai satu tutup mata itu merasa bersalah.


"Maaf soal yang tadi," ucapnya tulus. "Untuk Kota Nefeli yang kau pernah tanyakan sebelumnya terkait ibumu, aku sudah ingat tempatnya."


"Di mana?"


"Itu desa kecil bernama Pixie. Desa paling sepi yang penghuninya tidak mencapai dua puluh kepala keluarga, mereka memang tinggal di bibir hutan. Tapi Desa Pixie tidak bisa asal dimasuki orang luar."


Quinn mendekati Finn "Mengapa begitu?"


"Ada seorang penyihir yang menjaga desa itu dan juga hutannya. Sepertinya hutan itu sangat sakral bahkan pihak istana tidak dapat berbuat macam-macam soal hutan itu." Finn memiringkan kepalanya memandang wajah datar Quinn, "Kau mau pergi ke sana?" tanya nya penasaran.


"Tidak sekarang. Aku akan cari cara yang tidak mencolok." Quinn harus mengatur siasat agar Raiden tak menghalanginya datang ke Nefeli.


"Hahaha aku baru ingat, aku tadi mendengar berita yang cukup mencolok. Kau mulai digosipkan tidak waras oleh beberapa orang, seperti membuat kebohongan soal serangan bandit demi mendapat perhatian Pangeran. Kau tidak masalah membuat rumor buruk untuk dirimu sendiri? kau terlalu nekat. Sulit membersihkan nama, tahu."


"Aku harus punya gambaran soal tujuan Raiden."


"Bukankah sudah jelas dia ingin menjadi yang terkuat di sepanjang sejarah?" Quinn mengangguk mengerti, dia juga memiliki pendapat yang sama, tetapi masih ada lubang besar dalam teorinya.


"Aku tahu itu. Tapi semua itu tidak ada hubungannya denganku, tidakkah kau berpikir begitu? apa hubungannya menjadi yang terkuat dengan menahanku? dia pasti mempertahankan ku untuk satu tujuan lain dan aku tidak tahu apa yang dia incar."


Finn kesulitan menyusun kata. Pemikiran Quinn sudah tidak bisa dijangkau olehnya jika dia tidak berusaha lebih keras memikirkan cabang dari setiap tindakan yang Quinn lakukan sebagai langkah awal.


"Kau benar. Dia tidak kunjung meresmikan posisinya sebagai Raja, jika yang dia inginkan hanya sekedar puncak justru itu aneh."


"Iya, 'kan? dia mengincar sesuatu yang lebih besar sebelum mematenkan posisinya sebagai Raja Ethereal dan tujuan itu menyangkut diriku."


Lalu, mengapa di masa lalu dia membunuhku? tidak, Raiden sangat licik. Mana mungkin dia mudah terhasut dengan kebohongan Penelope yang pura-pura teracuni. Dia juga membuatku tertuduh meracuni Raja.


Tes.. tes..


Finn membulatkan matanya. Dia buru-buru mengelap hidung Quinn dengan lengan bajunya, "Kau mimisan. Kau baik-baik saja? sebaiknya kau istirahat dulu sebentar." Quinn baru menyadari bahwa hidungnya mengeluarkan darah setelah Finn mengelap bagian yang menetes di bibir bagian atasnya. "Sebaiknya jangan memaksakan diri. Masuklah."


"Aku akan pergi sekarang." Quinn menahan pergelangan tangan Ksatria pribadinya itu. Finn mengernyitkan dahi bingung, "Jam sembilan malam nanti, tunggu aku di bawah. Aku mau pergi ke kantor pos itu."


"Malam ini juga? hei, kau terlalu terburu-buru."


Finn menggaruk belakang kepalanya sambil mendesah pasrah. "Kau berubah seolah kau baru saja mengalami kematian."


"Jangan bercanda. Aku hanya belajar bertanggungjawab atas diriku sendiri."


"Jadi, kau tidak berniat mengawasi Grand Duke?" Quinn menggelengkan kepalanya sambil menyeringai, "Tidak perlu. Aku sudah mengubah namanya."


"Lalu bukankah tinggal kau nikmati saja satu per satu mata-mata Pangeran angkat kaki di sana?"


"Aku tidak menyingkirkan semuanya, kok." Quinn mengulum tawanya, dia sudah mengantisipasi gerakan Raiden selanjutnya. "Jika aku mengeluarkan mereka semua, Raiden pasti akan segera tahu bahwa aku sudah mengganti data yang kakek tulis. Jadi aku mengeluarkan setengahnya."


Total ada sepuluh mata-mata Raiden di sini, termasuk Evan dan Emily. Quinn menyingkirkan hanya empat orang lain, Carter sendiri juga sudah tersingkir, jadi total ada lima orang yang keluar. Sisanya akan Quinn pertahankan. Selain untuk membuat Raiden tidak mencurigainya, Quinn memerlukan Emily menjadi mata-mata ganda dan melaporkan apa saja yang Raiden perintahkan ke bawahannya di istana Lombardia ini.


"Haha, Evan pasti akan mengira empat orang itu terseleksi karena kebetulan saja."


"Kau, sejak kapan kau pandai mengimbangi kecurangan si Putra Mahkota itu?"


"Entah. Mungkin karena aku sudah mengenalnya dengan baik."


Quinn segera menutup jendela panjang menuju balkon begitu obrolannya dengan Finn telah usai. Mata gadis itu menyapu ruangan mencari di mana kira-kira Evan meletakkan hadiah titipan dari Raiden. "Oh, di meja rias." gumamnya setelah melihat sebuah kotak kecil berpita biru.


Terdapat sebuah kalung berliontin batu emerald yang terang, ukurannya kecil dan pas sebagai pemercantik kalung emas tersebut. "Tunggu dulu..." setelah diamati baik-baik, Quinn dapat melihat sebuah titik cahaya menyala di dalam kalungnya.


Pats!


Quinn terkejut karena tiba-tiba cahaya itu membesar dan membuat keseluruhan batu emerald itu menyala terang. "Apa-apaan ini? kalung ini mengerikan."


Quinn memasukkan kalung itu lagi dan menaruhnya di dalam laci, enggan untuk memakainya. "Apa maksud Raiden mengirimkan batu semacam itu?" tanyanya entah pada siapa.


Gadis bertubuh mungil itu merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya, melamun menatap langit-langit kamar di atas kepala. "Aku memperlihatkan perbedaan terlalu besar pada Finn. Dia tajam juga sampai bisa memikirkan pendapat yang tepat begitu."


Quinn beranjak duduk, "Bagaimana caraku bisa bicara dengan Zacchaeus lagi? aku butuh banyak penjelasan darinya. Aku tidak memiliki tanda kontrak apapun pada tubuhku."


Singkat cerita, saat Quinn tengah memakai jubah, seseorang datang sambil mengetuk tiga kali dengan pelan pintu kamar cucu kesayangan Bastien Lombardia itu. "Masuklah."


Nampaklah Emily, gadis pelayan yang sudah pernah tertangkap basah mencuri perhiasan milik Quinn. Dia tidak berani menatap Quinn dan hanya tertunduk, masuk pun ia tidak berani.


"Selamat datang, Emily~" sapa Quinn lembut. Ketakutan Emily terlihat sangat jelas, "Masuk, jangan di depan pintu terus. Kau akan membuat orang lain curiga."


Emily buru-buru membungkuk dalam untuk menunjukkan rasa berterimakasih nya. "Terima kasih telah menyelamatkan saya dari pemecatan Grand Duke, Yang Mulia. Mulai sekarang saya akan bekerja dengan baik untuk Anda."


"Um, ya. Aku akan menantikan itu."


Emily baru merasa mendapat kepercayaan diri untuk mengangkat wajahnya. "Yang Mulia, Anda mau pergi ke mana?" tanya nya bingung melihat penampilan Quinn yang seakan hendak pergi jauh.


Quinn mendekati Emily lalu menepuk kedua pundaknya "Ini tugas pertamamu. Menyamarlah jadi aku selama aku berada di luar."


"Eh?"


Quinn menyeret Emily agar duduk di kursi depan meja rias. Dia dengan gerakan secepat kilat mendandani Emily semirip mungkin dengannya, memakaikan gaun tidur pada pelayan itu. Tak lupa dia memasangkan rambut palsu untuk menyempurnakan kamuflase nya. "Aku tidak akan lama. Cukup beri aku waktu satu jam saja. Aku akan kembali tepat waktu."


Emily memegang pergelangan tangan Quinn, "T-tapi, Yang Mulia... Grand Duke dan kepala pelayan mungkin akan datang memeriksa Anda. Saya bisa dalam bahaya." kedua matanya berkaca-kaca membayangkan betapa berbahayanya aksi ini untuk hidupnya.


"Ssttt, lakukan saja seperti yang aku perintahkan." Quinn memakai tudung jubah tersebut seraya menepuk pundak Emily dua kali, "Berakting saja sebisa mu. Jika kau berhasil, aku akan memberimu bonus."


Emily ditinggal begitu saja di sana. Gadis berusia tujuh belas tahun itu jatuh terduduk dilantai karena kakinya tak kuat menopang berat tubuhnya sendiri. "B-bagaimana ini? jika Yang Mulia Quinn pulang terlambat, habis sudah riwayatku." suaranya ikut bergetar menanggapi adrenalin yang dirasa oleh tubuhnya.


Quinn keluar melalui balkon dengan dibantu oleh Finn, Ksatria pendampingnya. Keduanya bergerak cepat mencari jalan pintas guna menghindari tertangkap oleh para penjaga. Quinn merasakan keseruan yang lebih besar saat melakukan tindakan seperti ini. "Hei, kita bukannya sedang bersenang-senang. Perhatikan langkahmu, Lady." kata Finn mengingatkan.


"Ya, aku tahu."


Untung saja jarak antara kantor pos dengan istana Lombardia tidak begitu jauh, mereka berdua memesan kereta kuda untuk mempersingkat waktu.


Quinn menautkan alis ketika sudah sampai di depan sana. "Mereka sudah tutup. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Finn menggeleng-gelengkan kepalanya heran merespon ketidaktahuan Quinn mengenai cara kerja biro informasi ilegal. "Tentu saja karena jam kantor sudah tutup. Kita tidak membutuhkan jasa pengiriman surat mereka."


Finn tanpa aba-aba menggandeng tangan Quinn menuju belakang bangunan kantor tersebut. "Mau kemana?"


"Ikut saja."


Finn mengetuk pintu belakang kantor. Terdengar ketukan balasan dari dalam bangunan, Finn lantas mendekatkan diri ke daun pintu. Entah apa yang pemuda jangkung itu bisikkan, tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampakkan seorang gadis seusia Finn. Dia tersenyum begitu ramah, "Mari masuk. Kami akan langsung mengarahkan kalian pada ketua."


"Terima kasih."


Mereka digiring masuk dan menaiki lantai dua. Bentuk dan tata ruang bangunan itu berbeda dari kantor pos yang biasanya. "Apa mereka membagi dua bangunan untuk dua profesi mereka yang berbeda?" pikir Quinn asyik menyoroti satu per satu sudut ruangan.


"Nah, sudah sampai."


Gadis muda tersebut mengetuk pintunya. "Ketua, ada pelanggan yang datang."


"Ya, ya, masuklah." sahut suara lelaki dari dalam.


Quinn memang tidak sedang mengunjungi orang besar ternama, tapi tanpa alasan yang jelas jantungnya berdegup karena gugup.


"Silakan masuk, semoga kalian puas dengan pelayanan kami."


Begitu memasuki ruangan, mereka disambut oleh aroma asap rokok yang sangat menyengat. Ruangan tersebut persis seperti ruang kerja para bangsawan, bersih, rapi, dan lebih mewah dibanding bagian luar. Mungkin karena itu adalah ruang milik pemimpin biro. Ada tiga rak berisi banyak sekali berkas-berkas yang dibungkus oleh amplop besar, memperlihatkan bahwa dokumen di sana semuanya sangat penting.


Finn masuk lebih dulu untuk memastikan keamanan dalam ruangan. Lelaki berambut panjang itu terkejut melihat wajah seseorang yang dia kenali muncul di hadapannya. "Hahaha, Finn, kau kah itu? rupanya kau sudah tahu pekerjaan sampingan ku?"


Finn mendengus pelan, "Ini pekerjaan utama mu, Rupert."


"Begitulah. Aku tidak menyangka kau akan datang ke sini." Rupert memiringkan kepalanya guna melihat seseorang yang tertutup oleh badan Finn. "Oh, kau tidak datang sendiri? siapa yang bersamamu itu?"


Quinn melepas tudung jubahnya, lalu dia tersenyum manis sebagai sapaan hangat. "Selamat malam, tuan Rupert."


Pupil merah apel lelaki berambut panjang itu mengecil. "L-Lady Shuvillian?" gumamnya tak percaya.


"Ya, ini saya." Quinn maju menghampiri meja di mana Rupert sedang bersantai sambil merokok di sana. "Bisakah Anda bekerja dengan cepat? saya tidak memiliki banyak waktu tersisa."


Seringai Rupert melebar. Dia mulai tertarik untuk berinteraksi secara langsung dengan gadis yang selama ini tidak dia sukai. "Ya, mari. Silakan duduk~ saya akan membantu Anda dengan segenap hati."