I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 31



"Ampun, Ayah. Aku memang bersalah."


Vincent melepas jambakan nya dengan kasar sampai Penelope terhuyung dan akhirnya jatuh ke lantai untuk yang kedua kalinya. Pria berambut senada dengan putrinya itu membuang nafas gusar sambil memijat keningnya. "Entah apa yang aku pikirkan sampai mau membesarkan anak dari wanita rendahan. Aku pasti sudah gila."


Mata sipit pria itu menatap ke luar pintu, "Apa itu?" Vincent melihat sebuah kotak besar yang tidak biasa yang diletakkan di depan pintu.


Dia lalu berjalan menuju paket tersebut dan meminta dua pelayan untuk membukakannya. "Hoo lukisan ya. Kalian semua kelihatan sangat bahagia di sini. Sayang sekali aku tidak sudi menyimpan lukisan jelek ini di rumahku."


Tak segan-segan, Vincent merobek lukisan itu menggunakan pisau hingga tak berbentuk lagi. Kurang puas, ayah kandung Penelope itu sampai mematahkan figura mahal yang sudah Bastien siapkan untuk digantung di rumah. "Kau pulang hanya membawa sampah?! kau memang tidak jauh beda dengan ibumu yang rendahan itu!"


"Itu hadiah dari kakek dan paman Savero. Mereka juga memilikinya."


"Lalu apa? aku harus merasa terharu dan mengirim surat untuk berterimakasih, begitu? huh! mereka itu tidak mengerti bahwa kita berdua tidak pantas mendapatkannya."


"Aku tidak mengerti apa yang Ayah katakan, tapi mereka semua selalu menanyakan kabar Ayah padaku." Penelope tahu jika dia terus membalas ucapan ayahnya maka dia juga akan berakhir babak belur lagi.


Vincent menatap nyalang Penelope, "Kau itu sama tidak berguna nya dengan ibumu. Ini kesalahan besar, mengapa aku harus menikahi wanita tidak bermartabat sepertinya. Dia hanya meninggalkan ku sebuah beban berat." keluhnya tak henti-henti.


Tiap kali Vincent marah, dia selalu mengumpat dan mencaci-maki mendiang istrinya. Penelope sampai muak mendengar cacian yang keluar. "Ayah tidak berhak bicara begitu pada ibu. Apa ibu pernah memaksa Ayah untuk menikahinya dan mengangkat statusnya? Ayah sendiri yang melakukan semua itu. Jangan terus-menerus menyalahkan Ibu seolah dia yang membawa kutukan."


"Kau berani menjawab ku?! dasar anak tidak tahu diri! kau seharusnya bersyukur karena sudah membesarkan mu dan memberimu makan! jika aku ayah yang buruk, mungkin aku sudah membuangmu dijalanan begitu ibumu meninggal!"


Vincent menginjak pergelangan kaki Penelope amat kencang, sang empunya hanya beraksi dengan mengeratkan pelukannya pada sang pelayan. Tulangnya terasa retak, tetapi Penelope sudah terlalu sering menerima amukan Vincent sehingga tak ada lagi reaksi berlebihan yang ia tunjukkan.


Penelope menangis dalam diam, dia dan Lily saling berpelukan untuk melindungi satu sama lain. "Yang Mulia, saya mohon hentikan! Saya bisa menggantikan Lady Penelope, mohon jangan sakiti beliau lagi."


Gadis polos itu bersujud di kaki Vincent memohon ampunan untuk nona nya yang kesakitan itu. "Lily, apa yang kau lakukan?!"


"Ide yang bagus. Kau tidak masalah jika kehilangan satu kaki, 'kan? hei, kau yang di sana, bawakan pedang ku kemari."


Dalam suasana menegangkan seperti itu, Butler pribadi Vincent masuk ke dalam rumah sambil membawa kotak kado berpita merah tua pemberian Raiden. Penelope terhenyak, dia takut hadiah itu akan dirusak oleh ayahnya. "Jangan kado itu!"


Melihat Penelope yang tadi diam saja sekarang berubah panik membuat Vincent menyeringai licik, "Hoo, sepenting itukah isi di dalamnya? Ben, bawa kemari kotak itu."


Butler tersebut langsung menjawab, "Yang Mulia, ini hadiah yang diberikan oleh Putra Mahkota Ethereal khusus kepada Lady," ternyata Ben telah membaca isi surat di dalam kotak tersebut dan menyerahkannya pada Vincent.


Pria berusia empat puluhan itu terbelalak kaget. "Apa kau bilang?" Vincent membaca surat Raiden dan tanda tangan yang ada di akhir surat menandakan keaslian surat tersebut. "Hahahaha," gelak tawa Vincent terasa memenuhi ruangan. Siapapun yang mendengar mulai menegang dengan bulu kuduk yang berdiri.


Penelope tersentak melihat ayahnya yang berjalan mendekat. Vincent Berjongkok di hadapan Penelope, ia kembali menarik rambut blonde halus milik putrinya agar mau membalas tatapannya. "Bagus, bagus. Jadi selama ku biarkan kau berkeliling tidak jelas, kau sudah berhasil menggaet perhatian Putra Mahkota, eh?"


"K-kami baru hanya berteman, aku tidak yakin Pangeran—"


Plak


"Jangan banyak alasan. Aku tidak mau dengar apapun". Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Penelope. Pipinya yang putih mulus sekarang kelihatan sangat memerah, sudut bibir Penelope juga terlihat pecah, darah mulai menetes. Gadis cantik itu nyaris pingsan karena tak kuat menahan segala siksaaan yang diberikan oleh Vincent. "Aku tidak menyangka kau akhirnya kau temukan tujuanmu."


"..."


"Kau bisa jadi berguna. Kalau kalian memang sudah berteman dekat, mengapa kau tidak mencoba meraih posisi menjadi Putri Mahkota? kau bisa menjadi putri yang ku banggakan."


Seperti biasa, Vincent selalu mengincar harta dan pangkat tinggi. Ini bukan yang pertama kalinya Vincent menyuruh Penelope mendekati pria bangsawan. Sudah belasan kali Vincent berusaha menjodohkannya dengan pria tua bangsawan yang kastanya lebih tinggi dari mereka.


Sekarang, setelah tahu Penelope berteman dengan seorang Putra Mahkota, apa lagi yang perlu diincar selain posisi Putri Mahkota? "Dengar. Kau harus menjaga wajahmu yang cantik ini untuk Pangeran. Jangan sampai dia berpaling darimu, mengerti?!" Vincent berdiri menjulang tinggi di hadapan Penelope yang sudah tidak berdaya mengucapkan kata. "Jika kali ini kau sampai gagal lagi, aku akan membuangmu ke jalanan!" tegasnya tidak main-main.


"Ben, kirimkan dokter untuk merawat putriku."


"Tidak perlu. Biar Lily yang membantuku."


"Bagus jika kau mau jadi mandiri."


Lily memapah Penelope ke kamarnya. Tangisan Penelope diwakili oleh Lily, dia terus terisak sedih mengingat majikannya yang baru saja pulang dari perjalanan jauh langsung dihajar sebegitunya oleh sang Viscount.


Penelope tersenyum, "Jangan menangis terus, nanti matamu menghilang," ledeknya untuk menghibur. Lily malah semakin terisak mendengarnya. "Lady, bagaimana mungkin Anda masih bisa bercanda saat keadaan Anda begini? apa Anda tidak peduli dengan tubuh Anda?" omel Lily dengan hidungnya yang berair.


"Ingus mu bisa menenggelamkan satu rumah ini kalau kau tidak juga berhenti menangis. Suaramu membuatku pusing." Lily langsung menahan suara tangisannya, bibirnya bergetar karena masih sulit mengendalikan perasaan sedih dalam hatinya. "Cepat bantu aku mengoleskan obat ini."


"Anda membawa obat baru lagi, Lady?"


"Ya, aku rasa obat yang lama sudah kurang mempan."


"Sebentar Lady, sebaiknya kita kompres dulu bengkak di wajah Anda," Penelope mengangguk setuju dengan pendapat Lily. "Saya akan mengambilkan air sekarang."


Gadis yang wajahnya sudah memar itu bernafas lega ketika tahu akhirnya Vincent tidak merusak gaun hadiah yang dia terima dari Raiden. Padahal Penelope tidak ingin Vincent mengetahui kedekatannya dengan sang calon Raja meski tujuan ayah dan anak itu sama. Jika Vincent sudah ikut campur, Penelope tidak akan bisa melakukan apa yang dia inginkan, lagi-lagi dia hanya akan jadi boneka ayahnya.


Lirikannya berubah arah ke lukisan yang terpajang di dinding kamarnya, foto ibu Penelope yang sangat menawan sedang tersenyum bahagia sambil memangku Penelope kecil. "Ibu, maaf aku tidak pernah bisa menyelamatkan harga diri ibu di depan ayah..."


Sama seperti adiknya Savero, Vincent juga menikahi seorang wanita dari kalangan rakyat biasa. Rowena adalah penari dari sebuah kelompok pertunjukkan. Tariannya yang indah dilengkapi dengan wajah yang menawan membuat siapa saja yang menonton langsung terpikat. Julukan yang terkenal untuknya adalah 'Si Burung Phoenix Keindahan' karena bakatnya yang diakui banyak orang.


Vincent merupakan satu dari ratusan lelaki yang menang dalam mendapatkan hati Rowena. Mereka saling jatuh cinta dan Vincent membelikan wanitanya status kebangsawanan. Keduanya bisa dibilang pasangan yang sangat romantis. Namun, setelah melahirkan Penelope, Rowena jatuh sakit.


Rowena yang dulunya sangat aktif bergerak dan ceria hanya bisa duduk lemas dan melakukan hal-hal ringan saja. Meski begitu Rowena tak pernah sekalipun meminta tolong pada pelayan untuk membantunya mengurus Penelope. Berhubung Rowena lahir dari rakyat biasa, dia sejak dulu ingin mencontoh ibunya bagaimana cara mengurus seorang anak.


Saat usia Penelope menginjak dua tahun, Rowena tutup usia. Kasih sayang yang Penelope dapat terhenti sampai di situ saja. Setelah Rowena meninggal, Vincent melihat putrinya seperti kerikil yang mengganggu. Dia merasa bahwa kehadiran Penelope sama sekali tidak membantu, justru malah membuatnya tersiksa.


Alhasil Penelope hanya dirawat oleh para pelayan yang bekerja di rumahnya. Vincent sudah balik badan dan membutakan diri, menganggap Penelope juga telah mati bersama dengan istrinya. Pria itu tidak pernah mengunjungi atau bahkan menanyakan kabar Penelope walau mereka satu rumah.


Setiap kali Penelope berusaha mencari perhatian, yang dia dapatkan malah pukulan. Itu terus berlanjut hingga kini. "Jangan pernah kau muncul di hadapan ku kalau itu bukan tentang urusan yang penting." satu kalimat yang diucapkan Vincent saat itu hingga kini tertancap jauh dalam lubuk hati Penelope.


Tiap kali Vincent memarahinya, dia selalu membawa-bawa Rowena dan menghina mendiang istrinya sendiri. Itu sangat menyakitkan bagi Penelope. Padahal Vincent pernah sebegitunya mencintai sosok Rowena, tetapi begini caranya membicarakan sosok istri sempurna itu, dengan menghina, merendahkan, bahkan menjelek-jelekkan profesi Rowena seolah dia adalah wanita 'penghibur'.


Sudah tidak terhitung berapa kali dia mencoba kabur dan memilih untuk tinggal dalam pengasingan, akan tetapi Vincent terus menahan dan mengurungnya di kamar. Tujuan Vincent tidak membiarkan putrinya kabur adalah untuk mendongkrak namanya di kalangan elit kelak saat Penelope sudah mencapai usia matang untuk melaksanakan pernikahan. Vincent berusaha mencari pria yang status kebangsawanan nya lebih tinggi.


Menjual karangan bunga adalah alasan agar Penelope bisa keluar dari rumah untuk sejenak merasakan kebebasan.


"Aku harus apa sekarang. Di saat seperti ini yang ku ingat hanyalah kata-kata Quinn saja. Ugh, menyebalkan sekali!" Penelope masih meragukan kemampuan sepupunya. Walau dia sudah dengar rumor jelek yang tersebar, dia tetap ragu cara itu akan bekerja. "Dia benar tentang gaunnya. Dia juga benar tentang namaku yang akan baik-baik saja. Tapi dia hanya gadis lemah yang hanya tahu berlindung di nama kakek."


Penelope teringat bahwa Quinn sore itu pernah membahas soal Vincent dan menanyakan mengapa dia kelihatan takut saat Savero dan Bastien bertanya tentang Vincent. "Aku tidak bisa mengatakan apa-apa soal itu. Dia pasti akan membuatku merasa paling menderita dan menyombongkan kebahagiaan keluarganya."


Penelope mengeratkan genggamannya pada botol berisi ramuan oles, "Tapi nyawaku ada ditangan Quinn," hatinya sedang dilema saat ini.


"Eh tunggu dulu," sebuah ide terlintas di dalam otaknya. "Aku bisa memanfaatkan bantuan Quinn untuk membebaskan ku dari Ayah. Lagipula anak itu juga yang bilang kalau dia akan membantuku bersanding dengan Raiden. Sungguh, sejak dulu Quinn memang lugu dan sangat mudah dibodohi. Sekarang siapa yang memanfaatkan siapa, huh?"


"Ya, untuk saat ini lebih baik aku turuti keinginan Quinn."


Tidak lama berselang, Lily datang dengan membawa bak kecil berisi air dan juga handuk untuk mengompres bekas tamparan Vincent. "Lady, saya sudah menyiapkannya. Lady bisa mulai mengompresnya selagi saya mengoles obat pada luka Anda."


"Terima kasih, Lily."


Lily mengoles obat dengan penuh kehati-hatian agar tak membuat majikannya itu kesakitan. Sesekali Penelope akan meringis menahan perih ketika obat itu terkena lukanya yang masih baru. Guna mengalihkan perhatian dari luka tersebut, Lily mencoba mencari topik untuk dibicarakan dengan Penelope.


"Lady, apa Anda sungguh dekat dengan Pangeran? saya sangat senang mendengarnya."


Putri tunggal Vincent Van Marchetti itu terkekeh pelan, "Mengapa kau yang senang? aku masih biasa-biasa saja karena kami baru sebatas bertemu dan menikmati teh bersama."


Lily mendelik kaget, "Eh benarkah? sungguh Lady sudah pernah minum teh bersama Pangeran? wah, saya berharap Anda berjodoh dengan Pangeran. Ini akan seperti dongeng yang menjadi nyata!" Lily histeris senang sebab gadis yang ia layani tersebut memiliki koneksi dengan seorang Pangeran Ethereal, pemuda paling dikagumi di dalam negeri. "Apakah Anda tidak senang dengan itu, Lady? mengapa Anda kelihatan biasa saja?"


"Aku senang, Lily. Jangan kau pikir tidak ada saingan yang akan memperebutkan hati Raiden. Kau juga tahu, Quinn adalah gadis yang paling dekat dengannya. Dialah orang yang paling berpotensi terpilih sebagai Ratu."


Lily menggelengkan kepalanya mantap. "Bagaimana Anda bisa mengatakan itu? tidak ada yang tahu ke depannya bagaimana. Kalau Pangeran berjodoh dengan Anda, Lady Quinn bisa apa? percaya dirilah. Menurut saya Anda lebih pantas karena Anda adalah wanita bangsawan yang terhormat."


Tidak, Penelope lah yang berusaha menjodohkan diri dengan Raiden. Sekuat apapun Dewa mengikat benang merah pada orang lain, Penelope akan berusaha mati-matian merebut benang itu. Tapi tidak ada yang tahu maksud tersembunyi Penelope selain Quinn.


"Omong-omong, Pangeran memberikan hadiah apa untuk Anda?" tanya Lily antusias.


"Gaun. Dia memberikan ku gaun yang sangat indah dan mewah, dia juga memintaku memakainya saat pesta ulang tahunnya nanti." Penelope menjelaskannya dengan pipi yang bersemu merah.


"Astaga, Lady~" Lily gemas sendiri mendengarnya. Dia amat senang saat tahu ada harapan bagi Penelope untuk keluar dari rumah yang terasa seperti penjara ini. Dia selalu berdoa agar Penelope bisa bahagia, merasakan apa itu memiliki orang lain yang menyayanginya dengan tulus barang hanya sekali saja.


"Hei, Lily. Jangan membuatku jadi terlalu percaya diri."


Kedua gadis itu segera membungkam mulut masing-masing ketika pintu kamar Penelope dibuka oleh seseorang. Dia adalah kepala pelayan, "Lady, Anda diminta Viscount bersiap untuk makan siang bersama. Kebetulan beliau sedang senggang."


"Ya, aku mengerti."


Wanita berwajah judes itu masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah gaun berwarna kuning berenda. "Viscount mempersiapkan gaun ini untuk Anda, Lady. Silakan dipakai nanti."


Penelope tak berminat melihat gaun pemberian ayahnya itu. "Ya," jawab Penelope singkat dan malas-malasan.


"Kalau begitu saya izin undur diri sekarang."


Lily yang berinisiatif menengok seperti apa gaun tersebut. "Wah, Lady. Ini sepertinya gaun yang baru dibeli, aromanya masih sangat terasa."


"Apa-apaan ini? dia langsung bersikap seperti orang tua yang berbeda," Penelope melirik gaun terang itu dengan jijik. Dia tahu itu adalah hadiah dari Vincent karena Penelope pulang dengan membawa kabar baik. "Oh iya, Lily. Bisakah kau membuatkan aku susu hangat? aku butuh sesuatu untuk mengisi perutku dulu sebelum jam makan siang tiba."


"Baik, Lady. Akan segera saya laksanakan."


Begitu Lily keluar dari kamarnya, Penelope segera mengambil kertas dan pena. Dia berencana menulis surat pemberitahuan kepada Quinn mengenai gaun yang dikirim oleh Raiden kepadanya. Penelope juga sedikit menyinggung soal tabiat ayahnya selama ini untuk sekedar pembukaan. "Aku tidak punya waktu kalau harus menceritakan semua tentang ayah pada Quinn sekarang. Nanti malam akan ku sambung lagi."


Singkat cerita, waktu makan siang telah tiba. Semua hidangan mewah dan menggiurkan tersaji rapi di atas meja panjang ruang makan. Kepulan asap dari masakan membuat air liur tak tahan ingin menetes keluar.


Penelope berpikir dia mungkin bisa menghabiskan setengah dari sajian makanan di atas meja itu, tapi setelah tahu dia harus makan bersama ayahnya itu sangat mengurangi nafsu makan. "Makanlah yang banyak. Aku sudah meminta dokter untuk rajin mengecekmu. Maaf, aku terlalu terbawa suasana tadi."


Sejak kapan Ayah bisa bicara selembut ini? karena aku tahu ini semua hanya akting, melihatnya terus mempertahankan kebohongan ini membuatku ingin muntah.


"Aku akan membiarkanmu keluar dengan bebas, tapi tidak untuk malam hari. Terlalu berbahaya bagi gadis muda sepertimu keluar sendirian."


Penelope tersenyum simpul, "Aku mengerti, Ayah."


Vincent mengangguk-angguk puas dengan jawaban putri semata wayangnya itu. "Oh iya, aku penasaran bagaimana kau bisa berteman dengan Putra Mahkota."


Penelope berhenti mengiris daging di piringnya. Dia membalas tatapan Vincent, lalu berkata, "Mungkin karena aku mewarisi pesona ibu jadi aku mudah berteman dengan sosok yang sangat diagungkan oleh seluruh masyarakat Ethereal," jawabnya dengan nada sarkas.


Jika bukan karena Penelope membawakan berita baik untuknya, Vincent sudah pasti akan melempar piring itu ke putrinya. Tapi sudah sangat lama sekali dia tidak merasa suasana hatinya sesenang ini, jadi dia memutuskan untuk bersabar. "Hahaha bisa jadi memang begitu. Aku harap kau mengerti kalau kau harus berusaha keras menjadi Putri Mahkota."


"Um, bagaimana caraku mengatakannya pada Ayah. Aku sendiri kenal Pangeran dari Quinn. Dialah gadis yang paling dekat dengannya, aku tidak tahu apakah aku punya kesempatan untuk—"


"Tidak perlu pikirkan apapun. Singkirkan saja dia. Tidak peduli berapa banyak musuhmu, aku akan membantumu menempati posisi sebagai Ratu di masa depan." tatapan Vincent berubah menjadi dingin dan tajam selaras dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. "Aku bersedia mendukungmu maju dan menyingkirkan seluruh sainganmu. Kau bisa percaya padaku."


"Pfft!" Penelope tidak bisa menahan rasa menggelitik dalam perutnya.


Lihat siapa yang sekarang sedang berperan seperti seorang pahlawan bagi putrinya. Dasar konyol.


"Ada apa?"


"Tidak, maafkan aku, Ayah. Aku hanya terlalu bahagia sampai tidak bisa mengutarakan rasa ini. Aku sangat bahagia karena Ayah akhirnya mau mendukungku." dusta Penelope agar tak membuat Vincent marah.


"Begitukah? aku juga senang karena akhirnya kau bisa membawa keuntungan bagiku," Vincent meneguk wine nya hingga gelas itu menjadi kosong lalu melanjutkan ucapannya, "Kalau kau mau, aku bisa bicara langsung pada Quinn untuk tidak ikut dalam pemilihan kandidat Putri Mahkota."


"...."