
"Apakah Anda sedang membeli gaun?"
Kau pikir aku kelihatan sedang apa? membeli ikan?
Quinn mengangguk manis, "Iya, Baroness."
"Kita sudah lama tidak bertemu, mengapa kita tidak mengobrol dulu sebentar? di sana tempat duduknya kosong."
Quinn mengangguk menyetujui ajakan Baroness untuk duduk di tempat yang tersedia di dalam butik. Tokonya tidak terlalu ramai, jadi tidak perlu bergantian dengan orang lain untuk lebih leluasa memilih gaun.
Wanita itu tidak berniat untuk mencari awalan terlebih dahulu. Nampak sekali bahwa dia ingin menjatuhkan harga diri seorang bangsawan seperti Quinn di hadapan teman-temannya. "Saya dengar belum lama ini Anda diserang oleh sekelompok bandit dan mengalami luka yang cukup parah," dia sudah memulai dengan membahas rumor.
"Begitulah, saya tidak menyangka bisa keluar dari situasi berbahaya seperti itu. Yah, walaupun saya mengalami luka yang cukup dalam."
Baroness itu menyeringai dibalik kipas tangannya, "Tapi bagi banyak orang, Anda kelihatan baik-baik saja meskipun sedang terluka cukup parah," nada bicaranya seakan tengah menghakimi Quinn secara langsung. "Anda tidak dengar rumor jahat yang sedang beredar? itu benar-benar membuat sebagian orang percaya, loh."
Quinn tersenyum kikuk, memperlihatkan ketidaknyamanannya dengan topik yang sedang diperbincangkan oleh Baroness Viridescens. "R-rumor apa? saya tidak mendengar rumor apapun."
Teruslah menginjak ku, aku akan menonton bagaimana akhir hidup yang akan kau dapatkan.
"Astaga, Anda sungguh tidak mendengarnya?" perasaan ingin menjatuhkan Quinn semakin menggebu-gebu dalam hati Baroness Viridescens. "Bahkan saya mendengarnya dari orang-orang yang Anda percayai. Mereka bilang Anda hanya berpura-pura terluka agar Pangeran semakin memperhatikan Anda. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa Anda sama sekali tidak berniat membiarkan Putra Mahkota memilih orang lain selain Anda."
"..." Quinn mulai berkaca-kaca.
"Pfft! bukankah tindakan seperti itu sangatlah tidak bermoral, bagi kita sebagai wanita bangsawan, harkat dan martabat adalah hal utama yang perlu dijaga." Baroness Viridescens berbicara dengan menatap kedua temannya, sengaja membuat Quinn semakin merasa terpojok. Matanya memicing memandang rendah sosok kecil Quinn, "Yah, tidak ada yang bisa menyalahkan Anda soal itu. Countess Sirena sudah lama meninggal bahkan sebelum sempat mengajari Anda bagaimana caranya jadi wanita yang bisa memikat hati seorang bangsawan tampan, tetapi ternyata tanpa diajari pun bakat Countess benar-benar menurun pada putrinya, hahahaha—"
"Anda sudah sangat keterlaluan pada Quinn, Lady yang terhormat."
Dua teman Baroness Viridescens langsung berubah pucat pasi ketika melihat siapa orang yang menyela perbincangan mereka. "Saya hanya ingin mengajari Lady Quinn untuk tidak— eh?! Y-Y-Yang Mulia Putra Mahkota?!"
Raiden tersenyum, namun dibalik senyuman itu terdapat hawa membunuh yang sangat kuat terpancar. "Jangan pedulikan kehadiran saya. Bukankah Anda berhutang maaf pada Quinn? saya dengar semua yang Anda ucapkan padanya."
Quinn memegang tangan Raiden, "Tidak apa-apa, Raiden. Aku tidak marah dengan ucapan Baroness, dia hanya mencemaskan reputasi ku."
Pemuda berambut putih kebiruan itu mengangguk mengerti, dia mengelus pucuk kepala Quinn lembut. "Aku sudah memilih dua gaun yang menurutku cocok untuk kau pakai."
"Baiklah, aku akan mencobanya."
Sekarang giliran Raiden yang duduk bersama tiga wanita dewasa di meja tersebut. "Nah, biarkan saya yang menggantikan Quinn untuk mendengarkan cibiran Anda, Baroness," ucap Raiden dengan santai. Sejujurnya Raiden penasaran dengan detail rumor yang tersebar soal Quinn.
Dua teman Viridescens yang tak mendengar langsung hanya diam membisu, membiarkan Baroness Viridescens yang menjelaskan sendiri sebab dialah yang menyulut rumor tersebut hingga tersebar ke berbagai daerah kota. "I-itu..." seketika Baroness kehilangan keberanian.
Raiden menunjukkan senyum simpul nya, "Tidak apa-apa, ceritakan saja. Saya tidak akan memarahi Anda tentang itu. Kita semua memang tidak bisa menghindari pandangan buruk orang lain."
Baroness kemudian menceritakan hal yang sama seperti yang telah ia singgung dihadapan Quinn. Banyak masyarakat yang juga enggan melihat Quinn menduduki posisi Ratu, ada banyak gadis baik lain yang lebih cerdas. Penelope kemudian juga ikut dibawa-bawa sebab anaknya yang mandiri dan sangat peduli kepada sekitarnya.
Pada kenyataannya, Quinn juga melakukan hal yang sama, tetapi dia kelihatan bodoh dan sangat lugu sampai orang lain bisa saja membunuhnya di siang bolong. Penelope sendiri tidak sepenuhnya tulus berbaik hati pada masyarakat rendahan, itu semua hanya pencitraan agar dia bisa masuk ke dalam kandidat Putri Mahkota.
"Saya juga melihat sendiri bahwa Lady Quinn sehari setelah kabar diserang itu dia pergi ke rumah keluarga petani yang memang dekat dengannya. Saat itu dia bahkan masih memakai plester di dahi dan pipinya. Jadi, saya hanya berpikir rumor itu benar adanya, Lady Quinn mungkin membuat kebohongan hanya agar Yang Mulia Putra Mahkota tetap memperhatikannya."
Rupanya orang ini berani juga tetap menyerang Quinn secara terang-terangan di depanku. Sepertinya dia sangat membenci Quinn. Aku bisa menggunakan mu di rencanaku selanjutnya.
Raiden merasa puas mendengar rumor yang tersebar itu walau dia tidak tahu siapa yang memulainya. "Begitu, ya. Saya rasa Anda tidak seharusnya mengatakan itu di depan Quinn langsung, apalagi sampai menyinggung soal mendiang ibunya. Bagi kalian mungkin itu terdengar sepele, tetapi tidak peduli berapa lama Countess Shuvillian telah tiada, duka itu tetap akan ada bersama keluarganya. Anda tidak bijak dalam menanggapi rumor seseorang, apakah kalian berdua tidak berpikir begitu?" Raiden berucap dengan nada tenang dan seakan tengah mengajak mereka bertiga berunding secara bijak.
Dua wanita yang ikut bersama Baroness itu terkesima melihat kebijaksanaan Raiden dalam menangani kasus ini walau orang yang dilibatkan adalah orang terdekatnya sekalipun. Mereka berdua mengangguk mantap, "A-Anda benar, Yang Mulia. Kami mohon maaf atas kelancangan kami."
"Ya, kami sungguh tidak bermaksud untuk menyakiti hati Lady Quinn."
Baroness merasa kesal, dua temannya mengkhianatinya demi untuk terlihat baik di hadapan Putra Mahkota.
"Saya akan membiarkan ini, saya harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Jika Quinn sampai menangis karena ucapan kalian, saya rasa kalian perlu meminta maaf dengan tulus kepadanya. Quinn orang yang sangat baik dan perhatian, kalian jangan asal mempercayai rumor yang tidak berdasar itu."
Baroness tersenyum canggung, namun ia berusaha terlihat santai dan biasa saja. "Y-ya, kami mengerti, Yang Mulia. Kami berharap agar Anda mendapat pendamping yang bisa mendukung Anda dalam segala hal."
Quinn tidak sengaja meremas gaun pink yang tengah di cobanya padahal itu belum tentu dia beli. Sejak tadi dia memantau dari balik manekin yang berjejer di dalam sana. "Raiden sama sekali tidak membelaku. Yah, aku juga tidak berharap banyak."
Barusan ekspresinya itu...
Quinn menyadari sekilas perubahan ekspresi wajah Raiden. Kebiasaan Raiden saat dia sedang mendapat ide atau merubah pikiran, dia akan mengetuk meja dengan satu jarinya dan satu alisnya akan terangkat sebagai respon dari ucapan yang mempengaruhi perubahan cara berpikirnya.
"Apa yang dia rencanakan?" tanya Quinn dalam hati. Hatinya mulai merasa tak nyaman.
"Gawat, dia kembali."
Quinn buru-buru kembali ke depan cermin besar dan memainkan renda roknya. Sesekali gadis itu berputar untuk melihat bagian belakang gaunnya. "Bagaimana? menurutku itu cocok denganmu. Kau sangat jarang memakai gaun berwarna merah muda begitu. Rasanya seperti mendapat Quinn rasa baru." goda Raiden saat melihat gadis berparas cantik itu tampak menyukai gaun pilihannya.
"Raiden. Belakangan kau sepertinya punya hobi menerobos ruangan seseorang. Untung saja kali ini aku sudah berpakaian dengan benar." ujar Quinn sambil berkacak pinggang.
"Haha, memangnya kenapa? apa kau malu?"
"Pertanyaan macam apa itu? jelas itu sangat memalukan, tahu."
Tatapan mengintimidasi Raiden sungguh membuat gila. Jujur, Quinn merasa takut, namun dia tidak bisa terlalu menunjukkan perasaan itu untuk menghindari sikap Raiden yang suka semena-mena terhadap dirinya.
"Aku tidak peduli dengan mereka semua. Aku ingin menjadikanmu sebagai Ratu ku, tidak apa mulai membiasakan diri untuk saling berdekatan seperti ini, 'kan?"
"Berhenti menggodaku, Raiden. Aku bisa mati ditempat karena serangan jantung." Quinn secara perlahan mendorong wajah Raiden menjauh, memberi ruang untuknya bisa mengambil nafas.
Aku tidak sudi berdekatan denganmu. Membayangkan saat ini kita menghirup udara yang sama saja sudah membuat kepalaku pusing.
"Baiklah, aku mengerti. Kau sudah memutuskan mau membeli yang mana?"
"Um, yang ini saja. Kau bilang kau akan melihat sosok Quinn yang baru."
"Aku yang akan membayarnya. Mau pilih yang lain?"
"Eh? tidak usah, aku beli sendiri saja."
"Tidak. Jika kau bersikeras membayar sendiri, lebih baik aku sobek saja gaunnya."
"Ah baiklah, jika kau memaksa. Terima kasih, Raiden."
Setelah berbelanja gaun, Raiden tidak mengajak Quinn untuk membeli beberapa perhiasan sebagai pelengkap penampilannya oleh karena Raiden sudah memberikan semua perhiasan emerald pada Quinn sejak kemarin.
Kakak kandung Killian itu mengamati ke sekitar, Baroness Viridescens dan teman-temannya sudah tidak ada penampakannya lagi. "Aku penasaran apa yang akan Raiden perbuat pada wanita licik itu."
Raiden sadar bahwa Quinn sedari tadi memandangi tempat duduk di mana dia menerima perkataan menyakitkan dari Baroness. Tangan lelaki tampan itu bergerak menggenggam tangan kecil Quinn, "Kau baik-baik saja? mau jalan-jalan sebentar denganku?" ia menampakkan kekhawatiran yang seolah tulus dari hati.
Quinn menatap kedua mata biru berlian milik Raiden.
Andai saja semua perhatianmu ini nyata, aku mungkin akan jatuh cinta padamu lagi untuk yang kedua kalinya. Sayangnya mataku sudah bisa melihat apa yang tidak ku lihat dulu dan sekarang aku merasa sangat beruntung.
"Quinn? mengapa kau malah melamun?"
Panggilan Raiden membuatnya tersadar dari lamunan. "Aku baik-baik saja, kok. Aku akan pulang untuk istirahat, kakek pasti akan mencemaskan ku."
"Baiklah. Ayo kita pulang."
Harapan Quinn tentang istirahat siang yang nyaman langsung terhempas begitu saja setelah melihat siapa yang duduk di ruang tamu bersama dengan Bastien. Pria paruh baya itu kelihatan sangat senang mengobrol dengannya.
"Nah itu Quinn sudah pulang," Bastien tersenyum seraya melambai kecil pada Quinn. "Quinn, kemarilah. Temui pamanmu sebentar, dia jauh-jauh datang untuk menemui kita semua."
Quinn meminta Emily untuk membawakan gaunnya.
"Selamat siang, paman Vincent. Lama tidak berjumpa, bagaimana kabar paman?" Quinn menyapa sambil membungkuk hormat. Tak lupa ia memasang senyuman ramahnya agar terkesan lebih bersahabat.
Vincent membalas sapaan keponakannya dengan senyum penuh makna. "Kau sudah besar ya, semakin hari kau semakin mirip dengan ibumu. Duduklah, bergabunglah dengan kami."
Quinn menuruti perintah dari sang paman dengan duduk di sebelah Bastien. Belum ada tanda-tanda kemunculan Savero di sana. "Savero kemana? apa dia tidak mau menyambut kedatangan kakaknya sendiri?"
Bastien lantas menyahut, "Tidak. Dia baru saja mendapat investor baru untuk tambangnya dan setelah pulang dari mengikuti rapat tadi dia segera menuju ke sana."
Iris amber Vincent kini bergulir menatap mangsa kecil yang duduk tenang disamping ayahnya. "Ayah bilang sekarang kau tinggal bersamanya. Apa kau ada masalah dengan ayah dan adikmu?"
Paman ini baru datang sudah mencoba menyerang saja.
"Tidak, Paman. Aku pindah ke rumah kakek karena aku butuh suasana baru untuk mengurangi gangguan tidurku yang memburuk. Berkat kakek, sekarang aku sudah mulai sembuh."
"Oh begitu. Apa ayahmu tidak bisa menyembuhkan anaknya sendiri sampai harus melibatkan kakekmu? oh, aku lupa. Sejak dulu Savero itu memang berhati dingin, kau pasti kesulitan ya. Mana mungkin dia memperhatikan anak-anaknya, pekerjaan adalah dunia nya. Bukankah Savero selalu mengutamakan pekerjaan dan uang?"
Quinn mengepalkan tangan dibalik lipatan rok gaunnya. Dia sungguh merasa kesal dengan ucapan pamannya itu. Bukan karena Quinn begitu menyayangi Savero, bukan pula karena membela ayahnya sendiri, tetapi karena Quinn sudah tahu semua sifat buruk Vincent.
Dia bicara seolah dia adalah ayah yang baik.
"Vincent! kau ini tidak pernah berubah. Apa kau tidak bisa menjaga ucapanmu?!" Bastien meninggikan suaranya menegur.
Quinn menepuk punggung tangan keriput Bastien berusaha menenangkan, "Justru karena Ayah peduli padaku, makanya dia mengizinkan aku pindah kemari. Demi kesehatanku." Quinn lantas tersenyum lebar, lalu menyambung ucapannya lagi, "Walau dia kelihatan tidak sayang pada anak-anaknya, tetapi Ayah sama sekali tidak pernah melukai kami aku dan Killian. Seperti memukul atau membuat kami kelaparan misalnya.."
Senyum itu membuat rahang Vincent mengeras, "Kau..!"
Lihat, ternyata dia lebih mudah tersulut emosi dari yang ku duga. Ternyata Penelope tidak berbohong soal Ayahnya sendiri.
"Paman, bagaimana kabar Penelope? aku kira dia akan ikut kemari bersamamu. Padahal Penelope kelihatan sedang senang bertemu Pangeran."
"Hoo, jadi dia sering bertemu dengan Putra Mahkota?"
Mari kita lihat seberapa besar ambisi Paman Vincent dengan posisi Ratu.
Quinn hanya bergumam bingung ingin memberi jawaban seperti apa. "Tidak juga, Raiden akan bicara dengan Penelope jika ada aku sebab tujuan utama Raiden datang ke rumah adalah karena aku."
"Gadis tengil ini sejak tadi membuatku kesal. Aku akan menyingkirkanmu dan membuat putriku menjadi Ratu Ethereal." batin Vincent marah.