
"Tenanglah, Nona. Kami akan mencabut nyawamu secepat mungkin."
Quinn menggertakkan gigi, rahangnya mengeras selaras dengan kepalan tangannya yang menguat. Quinn menatap nyalang tiga pria yang mengepung dirinya. "Kalian bekerja untuk siapa?!" Quinn tahu dia tidak akan mendapat jawaban. Betapa bodohnya aku, otak ku tidak berjalan dengan benar saat panik begini, pikir Quinn malu akan dirinya sendiri.
"Memang ada untungnya jika kami menjawab?"
"Kami tidak akan membuatmu merasakan sakit terlalu lama."
Sialnya Quinn tidak memiliki senjata apapun selain belati di pahanya. Lebih buruk lagi setelah Quinn sadar dia tidak belajar berpedang, yang dia punya hanya ingatan saat dia berlatih dengan Raiden dulu dan tidak pernah sekalipun Quinn dihadapkan dengan kondisi terdesak yang nyata seperti ini. "Apa yang harus ku lakukan sekarang?" dia berpikir cepat.
Tidak ada jalan pintas. Aku harus menghadapinya sebisaku.
Walaupun Quinn dulu sempat berlatih pedang beberapa bulan, itu tetaplah masa lalu. Sekarang Quinn telah terlempar ke tiga tahun sebelum kematiannya yang mana itu artinya dia kembali ke tubuhnya yang belum pernah terlatih sama sekali.
"Aku duluan yang maju. Melihat tubuhnya yang kecil begitu, kita semua tidak perlu maju 'kan?"
Mereka sudah lihat aku tidak punya satupun perhiasan, itu artinya memang mereka murni mengincar ku. Siapa yang mengirim mereka? Raiden? dia benar-benar licik.
Quinn mengambil belati silver nya dan terpaksa hanya mengandalkan ingatan yang dia punya. Saat pria berjenggot itu menerjang maju, Quinn merasa tangannya semakin bergetar hebat. "Bagaimana ini? kakiku seperti mati rasa."
["Quinn, aku tidak tahu apakah ini akan berguna, tapi sebelum kau memegang pedang, kau harus punya tekad terlebih dahulu."
"Tekad? aku tidak mengerti, tekad yang seperti apa yang kau maksud, Raiden?"
"Tentukan apa tujuan utamamu berlatih pedang agar kau tidak mudah goyah dan patah semangat. Tanpa dibarengi tekad yang kuat, aku jamin latihan mu tidak akan membuatmu berkembang sama sekali. Jika dianalogikan secara lebih sederhana, ini sama seperti kau hendak memahat tapi tak memiliki palu."
"Tapi... bisakah Raiden membantuku mencarikan tekadku? aku tidak tahu."
"Hm, mari kita lihat. Bagaimana kalau untuk melindungi ku? aku mungkin kuat, tapi aku juga manusia yang bisa teledor. Aku membutuhkan seseorang yang bisa ku andalkan untuk mempercayakan nyawaku juga."
"Itu terdengar sangat keren! baiklah, tekadku adalah untuk melindungi Raiden!"
"Hahaha senang mendengarnya."]
Triing
Bunyi besi yang saling bergesekan terdengar nyaring dalam kesunyian malam. Bersamaan dengan itu, gadis bertubuh lemah itu terhuyung ke belakang setelah berhasil membelokkan serangan pria pembunuh bayaran tersebut.
"Sial. Mengapa aku harus mengingat itu sekarang?!" seketika ingatan itu membuat amarah Quinn memuncak. Rasa pengkhianatan kejam Raiden dibalik sikap perhatian terhadap dirinya itu sudah menusuk hingga ke relung hatinya. Momen itu pernah jadi momen terindah, namun kini Quinn amat muak dan ingin bisa menghapus semua bayang-bayang sikap lembut Raiden. "Yah, setidaknya aku bisa menggunakan ingatan itu untuk membela diri."
"Itu tadi pasti hanya kebetulan, ya 'kan? mana mungkin gadis ini mengerti cara bertahan."
"Cepat habisi dia."
Lagi-lagi yang Quinn andalkan hanyalah ingatan. Dia bergerak sesuai dengan dipelajari oleh nya dulu.
Pria itu langsung mengarahkan mata pedangnya hendak menghunus dada Quinn, namun gadis itu secepat kilat meluncur ke bawah dan menusuk paha pria itu dengan belati nya. "Argh!" erang pria itu kesakitan. Dia langsung jatuh berlutut menutup lukanya dengan telapak tangan agar darahnya tidak banyak keluar.
Quinn mengambil kesempatan untuk melepas tuduk konde yang tersemat di rambutnya, lalu dia segera menusuk salah satu mata pria itu hingga dia mengerang kesakitan. Tampaknya pria itu belum menyerah. Dia meraih pedangnya lagi dan mencoba menyerang Quinn yang sedang berada di titik butanya.
"Oh tidak." Pedang itu mengenai lengannya dan membuat luka yang lumayan panjang. "Ugh, perih sekali." rintih Quinn. Gadis itu bergerak cepat dan menendang tengkuk pria berjenggot itu hingga dia pingsan dan jatuh terjerembab di tanah.
Dua rekan pria yang telah pingsan itu sama-sama cengo dibuatnya. Siapa yang menyangka membunuh satu gadis kecil tak berdaya saja dia tumbang. "Memalukan."
"Tunggu. Ini tidak seperti yang dia katakan. Bagaimana mungkin gadis ini bisa melawan?"
"Hei, itu mungkin hanya kebetulan. Cepat maju."
Quinn menyambar pedang milik si pembunuh bayaran yang sudah terkapar tak berdaya di tanah. Ia menarik nafas dalam-dalam mengontrol perasannya. Ini pertama kalinya Quinn menyakiti seseorang yang sampai membuat orang tersebut berdarah. Dia merasa bersalah, tetapi sekarang posisi Quinn adalah dibunuh atau membunuh.
"Hyaaat!"
Quinn seakan telah mengerti apa yang akan di serang, gadis itu berhasil membelokkan pedang pria kedua yang tadinya nyaris mengenai mata sekarang hanya menggores pipi bagian kanannya tepat di bawah mata.
Quinn lalu teringat bagaimana dia mengamati pertarungan Finn saat melawan Felix kala itu. "Bisakah aku mencontohnya? tidak perlu benar untuk saat ini aku hanya butuh menjatuhkan pedang itu dari tangannya." batin Quinn yang sekarang terus-terusan menahan serangan. "Akan ku coba."
Gadis itu memutar tubuhnya bak penari balet. Quinn memukul dada kiri pria itu dengan gagang pedangnya. Pria tersebut terhuyung menahan sakit. Dia menggeram marah lalu menyerang Quinn lagi.
Pedang tersebut harusnya sudah menyayat leher Quinn, namun gadis itu lagi-lagi beruntung karena dia tersandung batu dan terjatuh di tanah dengan posisi bokongnya duluan yang mendarat. Quinn pun menjegal kaki kanan pria tersebut lalu berusaha mencuri pedangnya.
Sayang sekali tenaga yang keluar tidak sebanyak yang gadis itu harapkan. Quinn mampu dibalikkan dan pria itu menindihnya agar tak dapat bergerak. "Serahkan lehermu padaku, Nona muda. Dengan begitu beliau pasti akan senang dan saya akan mendapatkan banyak uang."
Quinn tertawa sinis, "Kau bercanda? maaf saja, aku tidak berniat mati di tangan kroco seperti mu!" Quinn menggenggam tanah lalu melemparnya tepat di mata pria itu, "Argh! mataku! mataku!" Quinn segera mendorong pria itu menyingkir dan mengambil pedangnya yang sempat terjatuh.
Quinn berniat kabur setelah tahu kemampuan fiisknya tak dapat mengatasi satu lagi pembunuh. Tetapi pria yang matanya sudah terkena banyak pasir itu masih mencoba mengejar dan akhirnya dalam sekali ayunan, pedangnya mampu menebas punggung Quinn hingga gadis malang itu tersungkur.
"Ah, sial. Ini sakit sekali. Kalau dipikir, ini bukan pertama kalinya aku merasakan sakit yang berlebihan." lirih Quinn seraya tersenyum miris.
Aku tidak bisa bergerak, sepertinya aku sudah kehabisan tenaga.
Pria itu tertawa terbahak-bahak melihat gadis yang berusaha melawan itu sekarang diam tak bergerak. "Hei, hei, seharusnya sejak awal kau tidak perlu melawan. Kalau kau menerima dengan tenang bahwa kau akan kehilangan nyawa di sini mungkin kau tidak perlu kesakitan terlalu lama begini, 'kan?"
Apa aku akan mati lagi...?
"Hahahaha berikan lehermu padaku!"
Swiing
Bunyi pedang membelah angin terdengar sangat cepat. Quinn sudah tidak dapat mengelak lagi, dia hanya menutup mata pasrah menerima kematian keduanya.
{Hei, bangun! Nona kecil, bangunlah...}
Pats!
"Eh?!"
Quinn tiba-tiba berada di dasar laut dengan air yang amat jernih dan berkilau oleh karena tertimpa cahaya mentari. Dari bawah sini Quinn bahkan bisa melihat betapa birunya langit yang membentang di atas sana. "Aku dimana? apa aku sudah ada di surga?"
{Surga katamu? kau belum mati, tahu. Kau ini pesimis sekali.}
"Suara siapa itu?"
{Ini aku, Zacchaeus. Kau tidak ingat? kita berdua pernah bertemu sebelumnya.}
Quinn terbelalak ketika seorang lelaki tampan berpakaian bak Dewa Yunani muncul di depan wajahnya. Dia tersenyum dengan manisnya sampai menyihir gadis di hadapannya. Quinn lupa bagaimana cara berkedip. "Zacchaeus? aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."
{Ah, aku lupa. Wajar jika kau tidak mengingatku karena saat itu kau masih bayi. Sekarang kau sudah besar, manusia memang punya ingatan yang sangat lemah.}
Dahi Quinn berkerut, "Manusia? lantas kau ini apa? hantu?"
{Hahaha candaan mu itu lucu. Oh iya, aku datang ke sini untuk menolongmu.}
"Jadi aku belum mati."
{Tentu saja belum. Kau 'kan sudah bertekad ingin menghindari kematian itu. Astaga, aku sudah mengeluarkan banyak kekuatan untuk mengabulkannya, tapi kau sama sekali tidak berterima kasih.}
{Oh iya, kalau dipikir-pikir lagi, ini ketiga kalinya kita bertemu.}
Quinn sama sekali tidak menemukan memori pertemuan dan tentang pemuda itu sendiri di dalam ingatannya. "Mengapa aku tidak bisa mengingat satupun?" terlihat bahwa Quinn mencurigai orang itu dan menganggapnya sedang mengarang cerita.
{Hm, mungkin karena kau belum menyadari keberadaanku dalam dirimu?}
Quinn melirik heran sekaligus tidak percaya. "Apa maksudnya dalam diriku? apa maksudnya selama ini aku kerasukan makhluk tampan ini?" pikirnya tidak mengerti.
{Aku yang memutar ulang waktu dan menghidupkan mu lagi, tahu. Jangan melihatku seperti aku ini orang aneh.}
"A...pa? kau? tidak mungkin."
{Hei, asal kau tahu saja, meski aku kelihatan kurus dan lemah begini sebenarnya aku kuat. Aku adalah Dewa spirit, Zacchaeus.}
Quinn membeku ditempat. Lidahnya terasa kelu. Apa yang barusan dia katakan? Dewa spirit? Menghidupkan aku kembali? apa maksudnya? pertanyaan terus mengalir deras hingga tak terbendung dan membuat Quinn tidak dapat mengatakan apa-apa selain menganga kaget.
{Mata bercorak itu muncul setelah kau sadar, 'kan? itu adalah tanda kehidupan yang diberikan oleh para spirit ku. Dengan kata lain, kau bukan lagi manusia seutuhnya. Sama seperti ibumu.}
"Ibuku? bagaimana bisa kami bukan manusia seutuhnya?"
{Setelah kau menampung jiwa spirit, kau menjadi salah satu bagian dari kami.}
Quinn menutup mulutnya yang masih terbuka lebar dengan telapak tangan. Tidak bisa dipercaya, dia bangun untuk mendengarkan semua kebenaran ini? aku belum siap, jerit Quinn dalam hati.
{Jangan khawatir, perubahan itu tidak akan terlalu mencolok. Setidaknya untuk saat ini. Jadi, kau bisa melawan mereka yang hanya manusia biasa.}
Quinn tertunduk dalam.
{Apa tujuanku? apa niatku? mengapa aku bisa muncul di alam bawah sadar mu?}
Quinn mengangkat wajah dengan mata yang terbelalak. "Kau membaca pikiranku." gumam Quinn tak suka.
{Kau akan menemukan semua jawaban itu seiring waktu. Aku tidak bisa muncul sepanjang waktu karena kau belum sepenuhnya membangkitkan tanda kontrak itu. Aku hanya akan muncul saat keadaanmu sedang terdesak.}
"..."
{Berdirilah, Quinn.}
Pemuda tampan itu mengulurkan tangan, membantu Quinn berdiri. Kedua tangan lelaki yang diketahui bernama Zacchaeus itu menangkup dua pipi mulus Quinn seraya menunjukkan senyum sehangat belaian ibu.
{Kau hanya tinggal mengangkat tangan dan boom! semua akan baik-baik saja. Ingat, jangan ragu, kau bukannya manusia lemah. Mari, aku antar kembali.}
Quinn tidak memberikan respon apapun. Dia menurut digandeng Zacchaeus pergi entah ke mana. Tangannya digenggam begitu erat.
{Ini peringatan untukmu. Jauhi anak berambut biru itu dan jangan pernah terbuai dengan tipu muslihat nya. Dia tidak mencintaimu.}
Kalau itu sih aku sudah sadar sejak masuk penjara.
Quinn kembali membuka mata. Seketika ledakan cahaya disertai angin besar menerpa apapun yang ada di sekitarnya. Pria yang hendak menebas leher Quinn dan satu rekannya terpental jauh hingga punggung mereka membentur batang pohon.
"A-apa yang terjadi? ada apa ini?"
Begitu debunya menipis tergerus angin, dua pria tak dikenal itu membulatkan matanya saat melihat Quinn sudah berdiri tegak lagi. Kedua tangannya memegang pedang.
"A-a-a-ap-apa... apa itu? apa yang terjadi?! Ini sangat berbeda dari yang beliau bilang! mengapa gadis itu sangat mengerikan?!"
Mereka berkeringat dingin dan menjadi pucat pasi. Bukan hanya karena Quinn bangkit dan memegang dua pedang mereka, melainkan seratus tombak emas menyala yang terbang di belakang Quinn. Penampakan itu sudah seperti seorang Dewi.
Siapa yang tidak takut dihujani tombak panjang nan tajam itu.
"LARI!! AYO LARI DARI SINI!"
Mereka berdua berusaha lari namun, Quinn bergerak secepat kilat petir yang mampu menyusul mereka dan menghunuskan dua pedang itu ke dada pemiliknya. "Ini, aku kembalikan senjata kalian yang tertinggal." Quinn memperdalam tusukannya hingga gagang pedang itu sampai mengenai dada mereka.
Tadinya Quinn ingin menggunakan tombak bantuan Zacchaeus, tetapi dia tidak mau TKP menjadi mencolok dengan banyaknya bekas tusukan yang tertinggal.
Finn yang sudah kembali satu menit lalu membelalak kaget melihat keadaan Quinn yang sudah compang-camping. Yang menjadi perhatiannya saat ini adalah kedua iris Quinn yang bersinar dengan terang layaknya mata seekor kucing ditengah gelapnya malam.
"Q-Quinn...? Apa yang terjadi padamu?"
Finn melihat dua pria yang dadanya sudah tertancap pedang. Tidak ada luka lain yang mereka dapat selain satu tusukan itu saja.
Finn bergegas mendekat dan memegang kedua bahu mungil gadis itu. "Quinn, lukamu..."
Quinn menepis tangan Ksatria pribadinya itu dengan agak kasar. "Tidak apa-apa. Ini membuat rencanaku lebih matang. Bagaimana dengan kusir itu? kau sudah mengurusnya dengan benar, 'kan?"
"Y-ya, aku sudah meletakkannya di tempat yang tepat. Siapa mereka ini? pembunuh bayaran?"
Quinn mengelap darah yang masih mengalir dari goresan pedang di pipinya. "Sepertinya begitu, tapi aku belum tahu siapa yang mengutus mereka."
Finn berjongkok memeriksa dibalik jubah panjang mereka dan tidak sengaja menemukan sebuah emblem (bedge) anak panah hitam dengan mawar merah muda di pangkal anak panah tersebut. "Ini, bisa jadi ini petunjuk untuk kita. Aku akan menyimpan dan mencari tahu nya." Finn mengantongi emblem kepunyaan salah satu pria itu untuk diselidiki.
"Kau tidak tahu milik siapa emblem itu?"
"Mungkin saja ini berkaitan identitas mereka. Sama seperti keluarga bangsawan yang memiliki logo masing-masing, mereka pasti juga memiliki ini jika mereka tidak bekerja sendiri." Finn menendang tubuh yang mendingin itu. "Lebih baik, kita segera pulang sekarang. Kau harus segera diobati."
"Aku tahu. Jangan mengulanginya terus."
"Omong-omong, matamu itu... mengapa sekarang warnanya jadi berbeda? apa penglihatanmu baik-baik saja?"
Quinn hanya membalas dengan anggukan kecil. Dia masih terus mengingat obrolannya dengan lelaki yang mengaku-aku sebagai Dewa para spirit itu. "Apa ibu menyimpan rahasia yang hanya diketahui oleh Ayah?" tanyanya dalam hati.
Finn tanpa aba-aba segera menggendong Quinn di punggungnya. "Aku tidak bilang aku lelah berjalan."
"Jangan mengomeliku, hematlah tenaga. Aku akan pergi setelah aku menurunkan mu didekat istana Grand Duke."
Quinn melingkarkan kedua tangannya di leher Finn. Untuk kali ini saja, Quinn tidak merasa keberatan menerima bantuan paksaan dari Finn.
Iris corak keemasaan milik Quinn melirik wajah Finn. Dia menatapnya dalam diam.
Ini sudah muncul sejak aku kembali ke tiga tahun sebelum kematianku. Dia baru menyadarinya sekarang? apa semua orang juga akan bereaksi sama?
"Lady, kau tidak bersuara. Apa kau tertidur?"
"Tidak. Haha, aku hanya sedang memikirkan skenario menyenangkan macam apa yang bisa membuat Pangeran bingung."
Finn tersenyum miring, "Kau belajar jadi licik begini dari mana?"
Quinn juga tidak tahu mengapa otaknya yang hanya dipenuhi oleh taman bunga ini tiba-tiba menjadi lebih encer. "Entahlah. Aku tidak sabar membuat kerusuhan."
Maaf, kakek. Sepertinya aku akan memanfaatkanmu lebih jauh.