
Kedatangan Penelope langsung disambut ramah oleh puluhan pelayan. Evan pun ikut berbaris mewakili Bastien untuk menyambut cucu tertuanya. Gadis bersurai blonde itu menengok kesana-kemari, "Kakek di kamar Quinn? apa keadaannya sangat buruk, tuan Evan?" Penelope begitu menantikan jawabannya. Berharap Evan akan memberikan balasan yang bisa membuatnya sedikit terhibur.
Evan tetap menjaga pandangannya ke bawah, "Luka Yang Mulia Quinn cukup parah di bagian punggung, tetapi beliau tidak mengalami cedera apapun selain luka goresan kecil di tubuhnya, Lady."
Penelope mengepalkan tangan dibalik lipatan roknya. "Begitu ya? syukurlah, aku sangat khawatir dia kenapa-napa. Aku akan menjenguknya sekarang." Penelope melepas mantelnya dan membiarkan pelayan yang membawakannya.
Siapa yang menolong Quinn? sial, kenapa sih gadis tidak berguna sepertinya selalu saja beruntung?!
Hanya tinggal satu ruangan lagi yang perlu Penelope lewati untuk sampai ke kamar Quinn yang pintunya terlihat terbuka lebar. "Huh, jangan perlihatkan kekesalan, ayo bersikap normal seperti biasa." Penelope sudah memasang ekspresi terbaiknya.
Penelope tadinya ingin langsung mengetuk pintu, namun ia urungkan setelah mendengar senda gurau santai dari dalam sana. Bastien selalu menyelipkan pujian disetiap kalimatnya untuk Quinn. Bahkan Savero yang biasanya selalu bersikap datar kini tampak lebih banyak tersenyum, meski sangat tipis.
Kedua mata Penelope berkilat dipenuhi kecemburuan, sakit hati, dan kebencian. Semua itu sampai membuatnya muak. "Seandainya dia mati, aku yang akan ada di tengah-tengah mereka."
Quinn menyadari ada seseorang yang berdiri di dekat pintu. "Penelope? kau kah itu? mengapa kau berdiam diri di sana? masuklah."
Si empunya nama itu tersentak kaget. Dia kemudian muncul dan tersenyum kikuk, "M-maaf, Quinn. Kalian kelihatan sedang sangat seru membicarakan sesuatu, jadi aku tidak ingin datang menyela." sok sungkan dan berperasaan, Penelope mahir melakukan itu.
Bastien melambai menyuruh cucu dari putra pertamanya itu masuk. "Apa yang kau katakan itu, nak? jangan bertindak seperti kau ini orang luar. Kau juga keluarga kami, kemarilah." ujar Bastien penuh perhatian.
Semburat merah muncul di pipi Penelope, dia masuk ke dalam kamar dengan malu-malu. Sok manis, pikir Quinn. "Maaf aku datang terlambat, Quinn. Aku mampir ke toko bunga dulu. Ini, semoga ini bisa menghiburmu."
Quinn menerima buket bunga itu dengan hati gembira, melihat bunga segar yang indah membantu mengembalikan suasana hatinya. "Aku sangat menyukai hadiah ini, Penelope. Kebetulan, aku perlu mengganti bunga di kamarku. Terima kasih, kau sangat mengerti aku."
"Aku senang kau menyukainya. Semoga kau lekas sembuh ya, aku merasa sangat kaget saat dengar kau diserang oleh sekelompok bandit." Penelope mengelus bahu saudari sepupunya dengan gerakan halus. Penelope menengok perban yang melilit di punggung Quinn, "Aku tidak bisa membayangkan betapa perihnya luka itu. Apa kau tidak mengalami demam atau ssmacamnya? aku harap kau tidak sembrono lagi, kami semua mengkhawatirkan mu. Untung saja Killian tidak mendengar kabar ini, kalau dia dengar mungkin dia akan membolos di hari pertama sekolah."
Quinn membalas semua simpati kakak sepupunya itu dengan senyum simpul. Killian akan mencemaskannya? huh! itu hanya akan terjadi di alam mimpi. "Apa Raiden sudah datang menjenguk? dia pasti juga khawatir melihat kondisimu yang seperti ini."
"...?" Bastien dan Savero serentak memandang wajah ayu Penelope tidak percaya. Bastien meletakkan cangkir tehnya, "Penelope sudah dekat dengan Pangeran juga rupanya?" tanya Bastien penasaran. Selama ini hanya Quinn yang benar-benar berani dan diizinkan langsung oleh Raiden untuk memanggil nama.
Penelope mengangguk malu, pipi nya sudah semerah tomat. "T-tidak begitu dekat, kok. Pangeran sendiri yang menyuruhku untuk bicara lebih santai dengannya. Kami baru mulai berteman." Savero sepintas menatap Quinn yang acuh terhadap apa yang sedang Penelope bicarakan.
Anak ini, apa dia sudah tidak mengejar Pangeran lagi? Kira-kira seperti itu pertanyaan yang terlintas dalam benak Savero.
"Begitu, aku tidak menyangka kedua cucu ku punya koneksi yang baik dengan calon Raja masa depan. Aku pasti bimbang akan mendukung siapa jika kalian berdua terpilih jadi kandidat Putri Mahkota."
Penelope memiringkan kepalanya bingung, "Kandidat? Pangeran tidak menikahi seseorang yang dicintai untuk dinikahi, kakek?"
Bastien memandangi dua gadis muda yang berpotensi terpilih dalam pemilihan Putri Mahkota yang artinya juga akan menjadi pendamping hidup Raiden itu. "Kalian mungkin belum pernah mendengarnya. Baiklah akan ku jelaskan sedikit."
Bastien kemudian menjelaskan tentang bagaimana Kerajaan Ethereal mendapat Ratu mereka.
Sudah selama dua generasi Raja dari Kerajaan Ethereal memilih Ratu mereka lewat tes. Para gadis muda dari kalangan bangsawan akan diikutkan tes dan harus melewati beberapa fase sampai ke tahap akhir. Beberapa gadis yang beruntung secara langsung akan mendapatkan undangan resmi dari pihak istana dan sisa peserta lainnya akan mendaftarkan diri.
Mereka akan melewati berbagai tes kecerdasan, kode etik, tes pengambilan sikap atas suatu masalah, uji pengetahuan, dan tes tambahan lainnya. Biasanya hanya ada tiga orang yang akan sampai ke final. Di situlah Raja baru memiliki hak untuk memilih satu orang yang terbaik untuk mendampinginya. Sedangkan dua gadis sisanya yang tidak terpilih akan menjadi dayang khusus yang melayani Ratu sebagai penghormatan.
Dayang khusus ini akan tinggal di istana juga. Mereka akan mengikuti kemana pun Ratu pergi. Secara sederhana, dayang khusus pendamping Ratu ini sama seperti sekretaris. Meskipun sebutannya dayang, namun mereka tetaplah wanita bangsawan yang terhormat. Raja juga bebas mengangkat Dayang khusus ini menjadi selir atau hanya wanita penghibur nya.
Akan tetapi, sama sekali tidak ada pemaksaan dalam penempatan ini. Apabila dua gadis yang kalah dalam pemilihan akhir tidak menginginkan menjadi dayang khusus, pihak kerajaan memperbolehkan mereka kembali. Biasanya mereka akan pulang dengan membawa lencana tanda kehormatan yang tentunya membawa keuntungan seperti reputasinya yang semakin naik dikalangan para bangsawan.
Bastien cukup mengenal tabiat Raiden kecil, jadi dia tidak bisa memastikan akankah cara itu dipakai olehnya atau malah ditinggalkan dan dicatat sebagai sejarah saja.
"Ini hanya prediksi, tapi sepertinya Raiden akan mengikuti cara ini. Dia anak yang sangat menyukai trik. Sulit untuk menebak jalan pikirannya. Rasanya, memilih langsung calon Ratu tanpa melalui tes kurang menghibur untuk Raiden." Bastien menandaskan teh dalam cangkirnya lalu beranjak berdiri, "Aku masih harus mengurus pekerjaan lain. Savero, mau ikut?"
"Baik."
Mereka meninggalkan kedua gadis itu dalam kecanggungan. Quinn tidak berminat mencari topik, lebih baik dia memikirkan rancangan baru untuk ke depannya ketimbang mengajak gadis bermuka dua itu membicarakan Raiden si penipu keji. "Dua orang ini membuatku lelah." keluh Quinn dalam hati.
Jika Raiden menyukai seseorang diantara peserta, mungkin saja dia akan membantu dari belakang. Itulah yang terpikirkan oleh Penelope. Baginya, menjadi Ratu adalah tujuan besar yang tidak boleh gagal. Dengan menjadi Ratu, dia akan bebas dari rasa sakit yang selama ini di derita.
Penelope menoleh menatap wajah santai Quinn. "Kau sangat kuat, ya. Aku sungguh bangga."
"Ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Aku hanya sedang beruntung sedikit makanya aku bisa bebas dari kepungan mereka."
Penelope menggenggam tangan Quinn, "Aku sangat penasaran bagaimana kau lolos dari mereka. Bisakah kau menceritakannya padaku?"
Quinn menggeleng pelan sebagai tanda penolakan halus. "Maaf, tapi karena syok yang aku terima, aku jadi tidak mengingat dengan jelas apa saja yang terjadi padaku malam itu." Quinn melihat ketidakpuasan dimata Penelope. Ya tentu saja Penelope tidak puas karena tidak ada siapapun yang bisa memberitahunya bagaimana Quinn yang lemah ini masih bisa pulang hidup-hidup. "Aku turut prihatin padamu, Quinn. Sungguh melegakan kau selamat meskipun membawa luka yang cukup parah begitu."
"Ya, terima kasih, Penelope. Kau memang sangat perhatian. Ah, tapi maaf, karena aku pesta tehnya jadi gagal." Quinn membalas genggaman tangan Penelope.
"Tidak apa-apa Quinn, jangan pikirkan itu. Asal kau selamat, kita bisa melakukannya kapan saja saat Raiden sempat. Oh iya, apa Raiden sudah mengunjungi mu?"
Intensitas senyuman Quinn meningkat, sangat terlihat bahwa gadis itu senang. "Ya! kau tahu? dia tadi langsung memelukku begitu sampai di kamar. Aku rasa jantungku akan meledak."
Penelope tidak sengaja mengeraskan genggaman tangannya merespon geram dalam hatinya yang tak dapat dikeluarkan. "Aduh!" saat mendengar Quinn mengaduh sakit baru disitu kesadaran Penelope kembali, "Kau kenapa, Penelope?"
"O-oh, maaf Quinn, maaf, aku sungguh tidak sengaja." Gadis bernetra baby blue itu buru-buru mencari topik lain untuk mengalihkan perhatian. "Omong-omong Raiden tadi lama di sini?"
"Tidak. Sangat sebentar, karena dia secara langsung ingin membantu kakek menyelidiki para bandit itu."
Deg
Penelope menegang kaget. Raiden membantu Quinn menyelidiki para pembunuh bayarannya? ini bisa gawat. Jika Raiden berhasil menemukan fakta bahwa yang menyewa mereka adalah dirinya, mau semurka apa Pangeran Ethereal itu terhadap dirinya? kesempatan untuk bisa memenangkan hatinya. Penelope merasa jantungnya sudah pindah ke telinga sebab berdetak amat kencang sampai ke indra pendengarannya.
Wajah Penelope tiba-tiba memucat. Quinn yang menyaksikannya jadi bertanya-tanya, "Penelope? ada apa? mengapa kau bengong begitu?" tepukan pelan di bahu Penelope berhasil membuatnya terlonjak kaget. "Penelope, kau baik-baik saja?"
"Y-y-ya, a-aku baik-baik saja. Tiba-tiba aku merasa pusing dan mual. Aku akan pergi ke kamar mandi dulu ya. Aku akan kembali lagi nanti."
"Oh, baiklah. Hati-hati."
Begitu Penelope menghilang dibalik pintu, Quinn menunjukkan sebuah senyuman mengerikan sambil memegang dagu. "Hahaha, ternyata itu ulahnya. Pfft! aku sampai tidak bisa berkata-kata. Dia nekat juga rupanya. Apa yang membuatnya terburu-buru begitu? aku yakin dia menyesali langkah gegabah yang diambilnya sendiri."
"Maaf Raiden, ternyata kau sekarang punya pesaing. Siapakah diantara kalian berdua yang akan membunuh ku terlebih dulu? aku sangat menantikannya."
Quinn meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. "Mata ini ternyata cukup membantu."
"Yang Mulia, permisi. Saya membawakan makan siang dan obat untuk Anda."
Seorang pelayan muda seusianya datang malu-malu sambil mendorong troli makanan ke dalam. "Oh, terima kasih, ya. Um siapa namamu?"
"Nama yang bagus. Terima kasih, Emily. Oh benar, aku harus pergi ke perpustakaan sebentar. Bisakah kau menaruh makanannya di sini? aku akan segera kembali." gadis bersambut merah jahe itu ditepuk bahunya oleh Quinn yang berlalu pergi, "Aku pergi ke perpustakaan sebentar."
"Baiklah, Yang Mulia."
Penelope berlari kecil menuju ke taman luar untuk menghirup udara segar. Kamar Quinn terasa seperti penjara bawah tanah baginya. Amat sesak. Tetapi, sebelum sampai ke taman, Penelope sempat mendengar obrolan Savero dan Bastien yang sudah mulai menjaga wilayah di mana mayat para bandit itu ditemukan. Hatinya seakan siap mencelos ke luar dari mulut.
"Bagaimana ini? bagaimana jika semua orang tahu akulah yang membuat mereka menyerang Quinn." Penelope sejujurnya tidak pandai melakukan hal jahat, dia hanya merasa terdesak dan ingin cepat-cepat mencapai impiannya. "Tidak, tidak mungkin mereka tahu. Aku tadi dengar bahwa mereka sudah ditemukan tak bernyawa." Penelope berjalan mondar-mandir tak tenang sambil memainkan jari-jarinya gugup.
Evan yang saat itu sudah memakai mantel datang menghampiri Penelope sebelum pergi ke istana Ethereal. Kegelisahan gadis muda yang cantik itu tampak sangat jelas sampai-sampai semua orang bisa sadar dia tengah memikirkan sesuatu. "Lady, apa yang Anda lakukan di luar sini? bukankah Anda bilang ingin menjenguk Yang Mulia Quinn?"
Gadis tersebut terperanjat kaget dan menatap Evan dengan mata melotot. "T-Tuan Evan mengagetkan saja. Saya sudah mengobrol dengan Quinn tadi. Saya ke sini karena suka melihat pemandangan taman di rumah kakek yang lebih besar dibanding di rumah saya."
"Begitu, ya." Evan tersenyum seraya berdiri di samping Penelope. "Anda kelihatan gelisah sejak tadi, jika bisa, mengapa Anda tidak berbagi pada saya? saya mungkin bisa membantu." ujarnya dengan sopan dan baik.
"Tidak, saya hanya khawatir masih ada sisa kelompok penjahat itu yang berkeliaran. Saya besok sudah harus pulang, jadi bagaimana mungkin saya tidak cemas."
"Begitu ya, tapi sebenarnya Anda tidak perlu mencemaskan itu. Grand Duke dan Pangeran sama-sama memperketat penjagaan di wilayah perbatasan tiap kota."
Penelope mengangguk paham. "Syukurlah, kalau begitu, semoga mereka semua lekas tertangkap. Oh iya, Tuan Evan. Apakah kakek sudah mengetahui dari mana asal para bandit itu?"
Pria berkacamata itu menggeleng pelan. "Mereka bukan bandit, mereka adalah pembunuh bayaran. Pangeran sudah mengonfirmasi hal tersebut karena beliau sendiri yang datang ke sana."
"O-oh hahaha begitu ya. Tapi keduanya sama-sama berbahaya, iya 'kan? untung saja Raiden membantu kakek, jadi semuanya cepat terungkap."
"Lady, Anda sungguh baik-baik saja? Anda berkeringat dingin dan pucat sekali. Sebaiknya segera istirahat di dalam."
Penelope tidak dapat menyembunyikan kegelisahan. Ini adalah kejahatan pertama yang nyata-nyata dia tujukan untuk membunuh sepupunya, jadi Penelope sama sekali tidak berani menatap muka siapapun. "Y-ya, itu ide yang bagus. Saya akan kembali ke dalam, terima kasih, Tuan Evan."
"Apa Anda mau saya antar ke dalam?"
"Tidak usah, saya bisa sendiri. Anda mau pergi keluar juga 'kan?"
"Ya, saya membawa laporan yang sudah Grand Duke selesaikan kepada Pangeran."
Penelope kemudian memegang tangan Evan memohon. "Bisakah saya menitip salam untuk Pangeran? oh, dan bilang padanya untuk tidak terlalu memaksakan diri."
Penelope itu manusia macam apa? dia tadi bersikap seperti penjahat yang takut kejahatannya terungkap, tetapi begitu tahu Evan hendak menemui tuannya yang sebenarnya Penelope langsung bersikap seolah dia wanita yang paling penyayang dan perhatian. Menjijikkan.
"Baik, Lady."
Di waktu yang sama ketika Penelope keluar menjernihkan pikiran, Quinn tidak menemukan sama sekali buku yang dicarinya. Perpustakaan Bastien memang besar, tetapi tidak ada satupun buku yang membahas soal makhluk mitologi seperti peri atau sejenisnya. "Kakek mungkin tidak menyukai buku sejenis itu. Yah, itu bisa dimengerti."
Lantas Quinn Mengembalikan buku sejarah kerajaan yang sudah diambil tadi. "Mari kita lihat, aku rasa dia sudah beraksi. Saatnya menangkap pencuri." seringai tipis tercetak di bibir lembut Quinn.
Quinn kembali ke kamarnya. Dari pintu dia lihat troli makanannya masih ada di dalam kamar. Quinn melirik meja rias. Ya, disanalah Emily berada. Dia tengah mengobrak-abrik laci perhiasan Quinn. Bahkan sang empunya kamar juga melihat Emily mengambil jepit favorit hadiah ulang tahun kelima dari Sirena. "Dia sungguh serakah."
"Aku harus mengambil lebih banyak. Aku bisa makan enak dengan ini."
Quinn bersandar pada pintu sambil memperhatikan Emily yang giat memilah perhiasan majikan nya sendiri. "Kalung itu pemberian Raiden. Ada baiknya kau ambil barang lain saja jika kau tidak mau tanganmu yang indah itu putus." ujar Quinn memberi rekomendasi.
Emily, gadis muda itu terlonjak kaget. Dia memucat, menengok ke belakang dengan amat sangat ketakutan. "Y-Y-Yang Mulia... i-i-ini tidak seperti yang Anda pikirkan..." katanya terbata-bata, keringat dingin segera membasahi wajahnya.
"Hm, lalu kau ingin apa yang aku pikirkan? kau tengah membersihkan laci meja ku, begitu?"
Emily segera bersujud dan menjatuhkan semua perhiasan yang sudah diambil ke lantai. "Mohon ampuni saya, Yang Mulia! tolong ampuni saya! saya terpaksa melakukan ini karena adik saya sedang sakit keras. Tolong beri saya ampunan, Yang Mulia." Emily tidak benar-benar menyesal. Dia sedang bersujud untuk membuat Quinn iba dengan keadaannya. Dia tahu bahwa Quinn adalah gadis lugu dan pemaaf, dia tidak bisa membenci seseorang dan terus memaklumi.
Quinn duduk di sofa sambil menumpu kaki kanannya ke paha kiri. "Sini." titah Quinn dingin.
Emily pun berjalan mendekat dan bersimpuh di dapan Quinn.
Plak!
Tamparan keras membuat Emily melotot kaget, wajahnya sampai menoleh ke arah lain dengan paksa. "Eh...?" siapa yang menyangka ini akan terjadi.
"Kau itu anak tunggal dan kau tidak punya keluarga sama sekali. Bagaimana bisa seseorang bisa tidak tahu malu begini, meminta maaf tapi menggunakan kebohongan lain? lucu sekali."
Emily bersujud lagi sambil menangis sejadi-jadinya. "S-saya bersalah, Yang Mulia. Tolong ampuni saya! saya tidak akan mengulanginya lagi, tolong jangan pecat saya."
Quinn mengangkat dagu Emily agar gadis itu menatapnya. "Kau tidak sekali atau dua kali mencurinya. Apa kau mau aku memotong sepuluh jarimu itu agar kau mau bertobat, eh?" tubuh Emily gemetaran hebat, dadanya terasa sesak. Mata Quinn berkilat marah. Gadis berwajah manis itu kelihatan seperti penjahat dalam novel. "S-saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Yang Mulia."
"Aku tahu kau seorang mata-mata. Sekarang katakan padaku, untuk siapa kau bekerja?" sejujurnya Quin sudah tahu, dia hanya mengetes kejujuran Emily si mata duitan yang hobi mencuri agar bisa hidup enak.
"I-itu... itu..." Emily menghindari kontak mata dengan Quinn. Raiden adalah orang yang mengerikan. Jika dia buka mulut, Raiden akan mencabut nyawanya.
Plak!
Lagi-lagi Quinn mendaratkan tamparan ke pipi Emily sehingga kedua pipi gadis pencuri itu memerah bekas tamparan. "Aku tidak suka dibuat menunggu."
Emily masih mempertimbangkan jawaban mana yang akan dia berikan.
Quinn beranjak berdiri sambil menatap rendah Emily dibawahnya. "Kakek sedang menulis siapa nama pelayan yang akan dipecat. Kakek akan langsung menulis jika aku merekomendasikan namamu."
Emily membeliak tak percaya begitu Quinn melangkah keluar dari kamar. Kemana sosok yang lemah lembut dan baik hati itu pergi? "Dia sungguh-sungguh tidak memberiku waktu untuk berpikir." batin Emily, dia benar-benar terdesak.
Satu...
Dua...
Tiga...
Greb
Emily segera memeluk kaki Quinn erat-erat, menahan agar gadis itu tidak pergi melapor ke kakeknya. "B-Baik, Yang Mulia. S-saya akan lakukan semua yang Anda inginkan, tolong jangan pecat saya, saya mohon!"
Seringai Quinn melebar dengan mata yang menyala terang. "Hahaha, keputusan yang bijak." Quinn mengelus puncak kepala merah jahe milik Emily, "Bangunlah, Emily."
Gadis muda yang ukuran tubuhnya sama dengan Quinn itu mengikuti perintah majikannya dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Aku akan memberikan perhiasan setiap kali kau melakukan tugas mu dengan benar. Bagaimana? kau tertarik?"