I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 38



"Oh, ada Penelope. Maaf, aku lupa kau ada di sini." Quinn memandang dari atas sampai bawah penampilan Penelope. Gaun itu adalah gaun yang Quinn inginkan, tapi Raiden membelikannya untuk saudari sepupunya yang menjengkelkan itu. "Kau pantas sekali memakainya, kau kelihatan sangat cantik." puji Quinn dengan senyuman manis.


"Dan kau...err, harus ku sebut seperti apa ya? Quinn, kau kelihatan dewasa."


"Ya, aku memilih untuk tampil lebih baik. Ini acara ulang tahun Raiden yang kesembilan belas, aku ingin memberikan kesan yang berbeda mulai dari sekarang."


"Wah, kau benar-benar luar biasa, Quinn."


"Terima kasih. Kalian sepertinya memakai baju yang serasi, mengapa kalian berdua tidak berdansa di tengah sana? aku yakin semua orang akan senang melihatnya."


Penelope kesulitan mengontrol ekspresi wajahnya ketika mendengar tiap jawaban yang keluar dari mulut Quinn, beberapa orang yang melihat mulai merasakan hawa dingin saat kedua saudara itu berinteraksi satu sama lain.


Dari jauh saja Vincent sudah gatal ingin melempar gelas ke kepala Quinn yang mengganggu waktu putrinya.


Raiden tiba-tiba menggenggam tangan Quinn, "Bagaimana dengan mu? apa kau tidak mau berdansa denganku? kau bilang kau ingin memberikan kesan pada hari ulang tahunku."


Quinn tersenyum, dengan tenang dia mencoba melepaskan genggaman Raiden. "Hm, biasanya kita juga berdansa, sedangkan ini kali pertamamu berdansa dengan Penelope. Dia pasti juga menantikan ajakanmu, iya 'kan, Penelope?" Raiden mulai merasa kesal karena Quinn secara terang-terangan ingin menjauh darinya walau itu tidak masalah baginya.


Penelope mengangguk kecil, "Y-ya, tapi jika Raiden ingin berdansa denganmu, aku akan menunggu di sini sampai kalian selesai. Tidak masalah, jangan pedulikan aku," gadis cantik itu menyembunyikan rasa cemburu nya dengan sikap dewasa yang tenang dan kalem. Dia sudah sadar puluhan pasang mata sedari tadi menonton tiap detik apa yang terjadi antara tiga orang yang tengah terlibat rumor.


Quinn tidak mau melakukan dansa karena ini adalah kesempatannya untuk melihat Kaisen. Penjagaan sedikit melonggar karena semua penjaga bekerja ekstra pada luar istana dan sekeliling aula.


"Raiden kita bisa berdansa bersama. Aku akan mengajak Izek bergabung."


Raiden mengangkat satu alisnya, "Izek?" ulangnya sambil berusaha mengingat.


"Oh, maaf. Itu panggilan ku sejak kecil pada Izeqiel de Sylvestria."


"Oh, begitu."


Tidak perlu terlalu lama mencari sosok Izeqiel, Quinn langsung bisa mengenalinya karena pemuda itu berada di dekatnya. Izeqiel tengah mengobrol dengan salah seorang temannya, tetapi Quinn tanpa pemberitahuan asal menyeretnya ke tengah ruangan dan berkumpul bersama Raiden.


"Ini adalah Izeqiel, Raiden."


Raiden menatap lekat Izeqiel. Putra Mahkota Ethereal itu menunjukkan senyum dingin, yang hanya Izeqiel yang sadar. "Mari berkenalan, Lord Izeqiel."


Raiden menawarkan tangan duluan untuk berjabat tangan. Begitu Izeqiel mengulurkan tangan, Raiden mendekat untuk berpelukan singkat. "Sebaiknya Anda tidak sembarangan saat menyentuh kekasih orang lain, Lord."


"Maaf?" Izeqiel sempat berhenti bernafas karena tekanan yang dirasakannya.


Raiden menepuk bahu kakak sulung Iryssa itu sambil berkata, "Mari kita mulai sekarang."


Quinn menggandeng tangan Izeqiel, "Tidak usah tegang. Kita nikmati saja waktu bersenang-senang nya, sudah lama kita berdua tidak menghabiskan waktu bersama, 'kan? apa kau tidak mau?"


Kedua telinga Izeqiel memerah. Dirinya malu menghadapi Quinn, sekarang kecantikan teman sepermainannya itu sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang berwibawa. Senyuman Quinn membantunya merasa lebih tenang.


"Baiklah, mari kita ke lantai dansa."


Quinn dan Raiden bersebelahan saat melakukan dansa. Dua pasangan tersebut menuai atensi lebih banyak, kebisingan mulai bergemuruh dari kerumunan kaum elit yang suka mengonsumsi rumor itu.


Banyak yang berpendapat bahwa mereka cocok dengan pasangan satu sama lain, namun bagi Raiden yang mendengarnya, dia sangat tidak terima. Terlebih, sejak tadi dia perhatikan, Quinn tampak banyak tertawa dan mengobrol dengan pemuda yang merupakan teman masa kecilnya selagi berdansa. Keduanya tampak menikmati waktu sendiri seolah gedung ini di sewa khusus hanya untuk mereka.


"Mengapa kau menolak berdansa dengan Pangeran?" tanya Izeqiel penasaran.


"Aku ingin menyenangkan Penelope. Dia kelihatan sangat menantikan ajakan Raiden," jawaban Quinn terdengar sangat santai dan tidak ada keterpaksaan yang terlihat. Izeqiel mengerutkan dahinya, dia heran karena Quinn yang sangat suka berdekatan dengan Raiden kini di hari spesial pemuda yang dicintainya justru membiarkan orang lain yang berdansa pertama kali dengannya.


Aku akan terus membantu Penelope sampai waktunya aku menyingkirkan dia.


"Apa kau tahu? gaun yang dipakai Penelope adalah hadiah dari Raiden."


"Apa?"


"Aku sudah berniat ingin mendukung siapapun orang yang akan dipilih Raiden. Tidak apa jika aku tersingkir karena mencintai tidak harus memiliki, cukup melihatnya diliputi kebahagiaan walau tanpa aku saja sudah cukup."


Oddeth yang mendapat undangan untuk hadir di pesta ulang tahun Raiden, menjadi penonton paling bersemangat saat melihat tarian elegan Quinn. "Lady, Anda sungguh sangat bersinar~" puji nya lirih, matanya berbinar senang untuk gadis yang telah membantunya mewujudkan mimpinya itu.


"Hei, aku rasa Lady Quinn sudah sadar bahwa dia tidak pantas bersanding dengan Pangeran."


"Itu bagus. Dia sudah tahu kalau dia tidak pantas bersinar. Dia tidak lebih baik dari kita. Aku heran mengapa Pangeran masih membiarkannya."


Oddeth yang mendengar cibiran pedas dari dua gadis muda di belakangnya menjadi kesal. "Maaf, Lady Quinn tidak butuh Pangeran untuk bisa bersinar. Dia bisa saja memusnahkan nama kalian dari daftar kaum elit jika dia mau. Kalian ini bicara seolah kalian tahu bagaimana kesehariannya." omel Oddeth geram. Dia melupakan bahwa status dua gadis itu adalah bangsawan.


Dua gadis itu terdiam heran. Mereka lalu memutuskan untuk menjauh dari Oddeth. "Cih. Mereka sangat merusak suasana. Lady Quinn, bersenang-senang lah, Anda selalu sempurna di mata saya," diam-diam Oddeth sudah menjadi penggemar berat sosok Quinn.


Lima belas menit berlalu dan mereka telah selesai melakukan dansa, sekarang giliran putaran lain yang menggunakan lantai dansa.


Putri Savero itu sengaja menyibukkan diri dengan tamu lain sebelum Raiden mendatanginya, membiarkan Penelope yang terus menemani Raiden.


Saat ini Raiden menepi ke balkon untuk menenangkan diri. Berhadapan dengan banyak orang membuatnya lelah, dia ingin melepas topengnya. Sayangnya Penelope masih di sana menemani dirinya.


"Raiden, kau baik-baik saja? kau kelihatan lelah."


Pemuda tampan itu diam tak bergeming. Ada perasaan yang mengganjal yang membuat otak Raiden bekerja lebih keras. Quinn hanya targetnya, tetapi entah mengapa dia tidak suka melihat gadis itu bersama dengan lelaki lain selain dirinya.


"Raiden? kau dengar aku tidak?" Penelope berulang kali memanggil namun tampaknya lelaki itu masih asyik dengan lamunannya dan enggan berhenti.


Raiden memijat pelan pangkal hidungnya. Satu menit kemudian Raiden tersentak kaget ketika Penelope tiba-tiba meletakkan tangan di dahinya untuk mengecek suhu tubuh. "Kau tidak demam, kau agak pucat."


Aku lupa kalau dia juga ada di sini.


"Ya, aku merasa sedikit pusing. Sepertinya aku harus istirahat. Kau tidak apa-apa aku tinggal sebentar, 'kan?"


"Tidak masalah. Apa mau aku antar?"


"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkan mu. Aku pergi dulu, ya. Selamat menikmati pestanya."


Penelope menghela nafas panjang, walau hanya sebentar, hatinya masih berbunga-bunga mengingat saat di mana dia berdansa dengan Raiden di tengah-tengah ruangan, lampur menyorot pada mereka begitu pun dengan tatapan para manusia yang hadir malam ini, semua akan selalu dia rasakan ketika menjadi seorang Ratu nanti.


"Aku akan mengingat kenangan ini sampai mati." gumamnya bahagia.


"Aku sudah mengirim semua dokumennya pada Quinn. Apa aku sungguh bisa mempercayainya? dia sudah membuktikan semua prediksinya benar." Penelope mengepalkan kedua tangannya, "Dia bilang Ayah melakukan tindakan kriminal, tapi walau aku putrinya, aku masih akan dapat pengampunan karena aku sama sekali tidak tahu bisnis apa yang Ayah kerjakan."


Sebenarnya yang membuat Raiden pusing adalah kekuatan matanya. Aura hitam mengepul dan lebih kuat menguasai aula tempat para bangsawan berkumpul, itu terasa melelahkan sebab mata Raiden bekerja lebih ekstra. Dengan kekuatan matanya itu dia bisa menemukan Quinn hanya dengan sekali lirik.


"Itu dia."


Quinn tengah menaiki tangga menuju ke ruang istirahat yang memang disediakan istana bagi para tamu yang merasa lelah dan merasa butuh istirahat di tempat yang lebih tenang.


Bertepatan dengan itu, Quinn hanya beralasan ingin beristirahat. Dia hanya menunggu penjaga lengah untuk dapat menyusup masuk ke kamar Kaisen.


"Ada yang mengikutiku." batinnya seraya melirik ke belakang. Alhasil Quinn terpaksa masuk ke dalam kamar yang dijadikan tempat ruang istirahat umum.


Quinn meraih gagang pintu hendak menutupnya, namun tangan seseorang muncul dari balik pintu dan mencengkram kedua pipinya. Raiden menatap gadis cantik itu yang terkejut dengan kemunculannya, "Halo, Quinn."


"Raiden?" matanya membelalak.


Kemudian putra dari Kaisen dan Odelia itu menghimpit tubuh Quinn di dinding. "Kau sengaja sekali ingin menghindari ku. Kenapa kau lebih memilih berdansa dengan orang lain daripada aku?" tanyanya tak terima.


Quinn lantas meminta Raiden untuk melonggarkan cengkeramannya agar dia bisa leluasa menggerakkan rahangnya. "Aku hanya berpikir kau akan senang dengan menjadi pasangan dansa Penelope. Bukankah kau menyukainya?" tanya Quinn balik.


"Aku tidak pernah mengatakan itu. Aku sudah pernah bilang, 'kan? aku hanya menyukaimu."


"Hanya menyukai diriku?" Quinn tertawa garing, "Gaun itu pemberianmu, kau memberinya gaun yang aku inginkan. Kau juga bicara dengannya secara empat mata. Lalu kenapa kau mempermasalahkan pasangan dansa ku?" Raiden terkejut karena ini adalah pertama kalinya Quinn berani mengungkapkan kekesalan dan kecemburuannya.


"Haha, ini lucu. Jadi kau membalas perbuatanku dengan memilih teman masa kecil mu itu? aku tidak suka milikku disentuh orang lain."


"Hanya aku yang boleh merasakan cemburu? kau menunjukkan secara terang-terangan padaku kalau kau peduli pada Penelope. Kenapa sulit sekali untuk jujur dengan dirimu sendiri? kau membual dengan mengatakan bahwa kau menyukaiku tapi di saat yang bersamaan kau juga memperlakukan Penelope seakan dia spesial. Kau tidak bisa terus mengelabui ku, Raiden."


Raiden diam membisu. Quinn mengungkapkan isi hati terdalamnya dengan perasaan menggebu sampai dia lupa menarik nafas. Matanya yang berair membuat sesuatu dalam diri Raiden bangkit lagi. "Kau puas? aku sudah sengsara karena mu. Jika kau memang menyukai Penelope, ya sudah bilang saja yang jujur. Aku bukannya akan mati kalau tidak bisa menjadi pendampingmu. Aku bahkan bisa membantumu dan Penelope bersatu, jadi kau tidak perlu menempuh jalur berbohong."


Raiden tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Quinn. Sialnya, itu tak Quinn rencanakan. Semua yang keluar adalah murni pemikiran yang dulu dia sesalkan.


Tangan besar pemuda itu mengelus-elus kepala Quinn penuh kasih, ia menatap iba gadis mungil yang ia jepit di dinding kamar itu, "Jadi kau se-menderita itu? seharusnya kau jujur saja padaku. Jika kau bilang kau tidak suka aku berdekatan dengan Penelope, aku tidak akan melakukannya."


"Omong kosong."


Ekspresi Raiden seketika berubah menjadi datar dan dingin. "Tatap aku, Quinn. Apa kau sungguh mencintaiku?" Raiden mengangkat dagu gadisnya agar mata mereka bertemu.


"Tidak."


"Pfft! masih mau mencoba mengelak, eh?" Quinn merengut marah, dia tidak bisa lagi berpura-pura menyukai pria busuk yang hanya menginginkan sesuatu darinya. "Harus ku apakan dirimu ini agar kau paham dengan perasaanku, ya..."


"Lep—"


Raiden secepat kilat mengunci kedua tangan Quinn di atas kepala dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Tanpa meminta izin Raiden mencium Quinn secara brutal hingga lipstiknya berantakan sampai ke bibir Raiden juga. Pihaknya sebagai seorang wanita yang lebih lemah dari pria sangat tidak menguntungkan. Dalam situasi seperti ini dia sulit melepaskan diri, tenaganya seperti ikut habis diambil Raiden.


Pemuda itu baru melepaskan ciumannya ketika Quinn sudah memerah sempurna akibat kehabisan oksigen. Ia menjilat bibirnya sendiri dan memasang seringai puas melihat gadis itu terengah-engah. "Quinn, mau sejauh apapun kau lari, kau tidak akan bisa lepas dariku. Kau itu ditakdirkan untuk berada di tanganku."


"Lepaskan aku!"


Raiden memiringkan kepalanya, menatap Quinn dengan intens. "Kau masih menyangkalnya," Raiden lantas menunduk lagi. Sekarang dia meninggalkan sebuah tanda kepemilikan di leher putih Quinn yang tak tertutup apapun. Tanda kemerahan itu nampak sangat jelas di lehernya. "Nah, sekarang tidak ada yang tidak bisa melihat tanda ku di sana."


Setelah itu Raiden melepas kaitan tangannya pada tangan Quinn. "JANGAN BERANI KAU TUTUPI ITU," pemuda itu mendelik tajam kala Quinn mencoba menutupi bekas gigitannya dengan tangan.


"Kau memang selalu bertindak sesukanya." Quinn mengelap kasar bibirnya hingga sedikit lecet. Ciuman itu masih terasa di bibirnya dan itu memancing isi perut Quinn untuk keluar.


"Aku hanya ingin membuatmu sadar dengan perasaanmu saja."


"Ini sama saja dengan tindakan pelecehan."


Raiden terkekeh sinis, ia menjawab perkataan Quinn, "Pelecehan? mengapa itu disebut pelecehan saat kita memiliki perasaan suka yang sama? jangan membuatku tertawa, Quinn."


"Penelope mungkin akan membencimu."


Raiden santai saja mendengar hal itu, "Tidak masalah. Aku akan menyingkirkannya setelah kau mau jadi milikku seutuhnya."


"Jangan mimpi."


"Akhirnya sekarang kau mau jujur. Mengapa kau berpura-pura menjadi Quinn yang lemah lembut? kau kira aku tidak menyadarinya?" Quinn enggan membuka mulut, dia merasa kesal dan ingin sekali memanggil Vynx, namun itu justru cara yang berbahaya. "Jauhi putra Marquess Sylvestria itu kalau kau tidak mau melihat kepalanya putus."


"Kau sudah tidak waras."


"Apa aku pernah waras? sejak dulu aku memang begini, Quinn. Aku berani menunjukkannya padamu sekarang karena kau juga jujur dengan perubahan perasaanmu padaku."


"..."


Tok tok tok tok


"Yang Mulia, sudah saatnya Anda pergi." panggil Jean dari luar ruangan.


"Nah, sekarang aku pergi dulu ya. Aku harap yang tadi itu akan jadi kenangan indah semasa hidupmu."


Raiden melenggang pergi begitu saja. Wajah tanpa dosanya membuat Quinn menjerit kesal.


"Dasar baj*ngan!"


Quinn berlari menuju ke balkon kamar tamu dan memuntahkan seluruh isi perutnya di sana. Jijik? sudah pasti. Quinn tidak bisa melawan sebab Raiden seolah tengah menekan kemampuannya dengan sesuatu.


Quinn kembali mengusap kasar bibirnya hingga berdarah. "Tidak bisa hilang. Ini menjijikkan."


Finn muncul di balkon kamar tersebut. Dia tersenyum senang akhirnya Quinn terlihat setelah lebih dari sepuluh menit dia menunggu di luar. "Lady, sekarang apa lagi—" Ksatria pribadi Quinn itu tertegun melihat majikannya yang sudah sangat berantakan. Rambutnya sedikit acak-acakan, lipstik sudah tidak berada di bibir lagi, dan jangan lupakan tanda kemerahan di lehernya itu.


Finn memalingkan wajahnya malu, "Lady, maaf. Aku sepertinya mengganggu ketenangan mu."


"Jangan asal bicara. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Cepat pergi temui Gray di taman belakang istana."


"Tapi bagaimana dengan mu?"


"Aku harus membereskan kekacauan ini. Kau tidak lihat betapa marahnya aku sekarang? kalau kau tidak mau kehilangan nyawa di sini, berhentilah mengajukan pertanyaan." ketusnya yang tidak sengaja melimpahkan kekesalan pada orang yang salah.


"B-baik, baik, aku mengerti."


"Cepat kembali pulang setelah itu. Jangan tunggu aku."


"Ya, ya, ya, aku mengerti."


Sebelum pergi, Finn hendak meninggalkan jas luarannya tetapi Quinn melarang agar tidak memancing kemarahan Raiden.


Sementara itu, Raiden duduk di kursi ruang kerjanya. Lima orang Ksatria berpakaian berbeda dengan Ksatria kerajaan tengah menghadap nya. "Kalian adalah Ksatria bayangan yang aku besarkan dengan baik. Sekarang waktunya kalian membalas budi padaku."


"Apa yang harus kami lakukan, Yang Mulia Putra Mahkota?"


"Kalian sudah dilatih khusus dengan kemampuan yang lebih rumit dari Ksatria kerajaan, jadi aku berharap banyak pada kalian." Raiden duduk sambil menumpu dagu, "Bunuh Quinn de Alger Shuvillian."


Raiden tersenyum lebar, "Dia itu tidak kuat. Satu orang saja sudah cukup untuk menghabisinya, tapi untuk berjaga-jaga, aku akan mengirim kalian semua ke sana. Bawa Quinn pergi ke tempat biasa aku beristirahat dengannya."


"Segera kami laksanakan, Yang Mulia."


"Jangan lupa bawa kalungnya kembali padaku."


"Siap, dimengerti, Yang Mulia."


"Sana pergilah sekarang."


Mereka berlima menghilang dalam sekejap mata, meninggalkan Raiden di ruangannya sendirian. Pemuda itu masih membayangkan wajah memerah Quinn, tiba-tiba semburat merah muncul di pipi Raiden, "Ah, puas sekali melihatnya berantakan seperti itu. Tapi maaf saja, Quinn. Kekuatanmu akan jadi milikku malam ini juga."


Semoga kau bisa beristirahat dengan tenang.