I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 32



Quinn saat ini tengah menonton latihan pertandingan antara Felix yang melawan Oliver bersama Finn yang duduk di sebelahnya, menunggu giliran untuk berduel melawan siapa yang menang. "Mengapa kau ada di sini?" tanya Finn penasaran pasalnya Quinn bilang sendiri bahwa dia akan sangat sibuk.


"Aku menunggu kakek selesai jumpa dengan perwakilannya di daerah lain. Aku dengar akan masalah baru di dekat perbatasan."


Finn mengangguk paham sambil ber-oh-ria. Pemuda yang cukup jeli itu memperhatikan wajah berseri-seri Quinn. "Apa telah terjadi sesuatu yang baik?" dulu melihat Quinn cemberut lah yang perlu dipertanyakan, sekarang situasi berbalik.


"Tidak juga," Quinn memiringkan kepalanya lalu mengedarkan pandangan ke semua penghuni lapangan. "Aku ingin belajar berpedang, mungkin saja aku bisa ikut pada acara berburu tahun ini," gumamannya tidak sengaja terdengar oleh ksatrian pribadi nya itu.


Finn melirik Quinn sinis (hanya sebagai candaan) "Hei, kau bercanda? waktunya sudah sangat mepet. Lagipula itu acara yang diikuti oleh para pria saja."


"Ada hukum yang mengatur?"


"A—" Finn terdiam beberapa saat lalu menggaruk pelipisnya sambil bergumam, "Um... tidak, kurasa."


Quinn menyeringai puas karena memenangkan perdebatan kecil itu, pandangannya lurus ke arah pergerakan pedang dari Felix dan Oliver. "Itu hanya tradisi atau kebiasaan mereka saja karena semua orang menganggap bahwa wanita bangsawan harus selalu feminim dan anggun, mereka hanya perlu menonton karena hutan dianggap sangat berbahaya."


Acara berburu adalah semacam acara rekreasi bagi bangsawan di mana para bangsawan pria saling berlomba mendapatkan hasil buruan terbanyak dan terbesar untuk dipersembahkan kepada wanita yang dicintainya. Tidak ada hal resmi, semua yang dilakukan sepenuhnya hanya untuk bersenang-senang bersama saja. Tapi tentu saja mereka diberi batasan saat berburu yaitu jumlah buruan terbanyak hanya sepuluh hewan saja. Hal ini dilakukan agar tak merusak hutan dan juga makhluk hidup lain yang tinggal di dalamnya. Acara ini juga hanya diadakan setahun sekali.


Seorang pelayan pria datang menghampiri Quinn, "Yang Mulia, Grand Duke telah kembali dua menit yang lalu."


"Baiklah. Aku akan kembali sekarang."


Quinn berbalik pergi tanpa berpamitan dengan Finn yang sebenarnya dalam hati menunggu. Pemuda itu tersentak kaget setelah tersadar yang baru saja dia pikirkan barusan sangat memalukan, kedua telinganya memerah. "Astaga, apa yang ku pikirkan ini. Aku berada di sisinya hanya untuk menjaga, mengapa aku malah tertarik dengannya," lirih Finn seraya memegangi dahi.


"Hei, Finn! kemari, giliranmu melawan Felix!"


"Aku datang!" dia pun berlari menuju ke tengah lapangan memasuki area bertanding dan segera mengangkat pedang kayu miliknya, "Aku akan menang lagi kali ini, Felix. Sepertinya aku harus memintamu mentraktir minum."


"Cih. Jangan percaya diri dulu."


"Aku hanya melihat masa depan~"


"Bersiaplah. Finn, aku akan menjatuhkanmu dari arena dalam sepuluh menit."


Keduanya melakukan duel sengit. Pergerakan mereka sangat cepat dan lihai sampai-sampai Ksatria lain yang menonton harus dengan cermat.


"Kakek, bagaimana? dilihat dari ekspresi kakek, sepertinya ada masalah baru lagi." tanya Quinn seraya duduk di sofa yang tersedia di kantor Bastien. Pria paruh baya itu menakutkan kedua alis akibat sangat serius memandang kertas di atas mejanya. "Oh, Quinn. Aku rasa ada sedikit masalah di perbatasan kota Nefeli dan Avallone."


"Hm? masalah apa?"


Bastien mengoper kertas yang dia baca pada cucu perempuannya agar Quinn juga bisa memahami situasi yang tengah melanda beberapa wilayah di Ethereal. "Jadi, beberapa musuh dari luar negeri sudah mulai bergerak. Oh, bahkan ada yang melihat sepuluh kapal sedang berlayar kemari? itu bisa gawat kalau kita terlambat."


"Pihak istana akan bergerak setelah menerima laporan dariku. Aku berpikir apakah kita perlu mengungsikan mereka kemari atau tidak. Masyarakat Helldelune juga sudah kesulitan mengimbangi harga bahan pangan yang melonjak naik, aku perlu menurunkan harga agar mereka tidak kesulitan makan."


Quinn mengelus dagunya sambil memiringkan kepalanya supaya ide yang terselip di otaknya segera keluar. "Tidak, aku rasa kakek tidak perlu sampai mengungsikan mereka. Bukankah Ethereal dilindungi Dewa spirit?"


Bastien membelalakkan matanya tak menyangka, "Kau tahu soal sejarah itu juga?"


Quinn tidak menjawab, dia hanya tertawa kecil melihat kekagetan Bastien. "Kembali ke topik. Menurutku, kakek hanya perlu mengirim pasukan kakek dan pasukan istana untuk berjaga di perbatasan laut. Jika memang itu musuh, kita tinggal menembaki nya saja sampai kapal itu karam. Sebagai bayaran jasa yang kita kirim, masyarakat di Nefeli dan Avallone harus menjual hasil perkebunan dan hasil tangkapan laut mereka dengan harga murah ke wilayah lain yang sedang kesulitan menstabilkan harga."


Bastien tercengang, dia mengangguk mengerti "Oh, idemu sangat bagus. Tapi, kita belum mengetahui pasti berapa jumlah mereka dan apa rencana mereka. Jika sudah membawa pasukan, artinya mereka punya perencanaan yang matang."


Quinn meletakkan kembali kertas laporan itu ke atas meja, "Kalau soal itu, kakek bicarakan saja dengan wakil Raja, Raiden. Aku tidak mengerti soal strategi pertahanan."


Kalau soal membantai, Raiden sangat ahli karena dia benar-benar tidak pandang bulu.


"Mereka pasti sudah dengar soal Raja yang sakit parah. Mereka mengira absennya Raja berarti terdapat kesempatan besar untuk menaklukan Ethereal."


Bastien tersenyum lebar sembari bersedekap dada, "Terima kasih banyak, Quinn. Kau sudah memberikan ide yang sangat cemerlang. Kita bisa menangangi dua permasalahan sekaligus, kau hebat. Aku tidak menyangka kita bisa mengobrolkan hal semacam ini bersama."


"Berarti kakek akan ke istana?" tanya Quinn.


"Mungkin setelah aku selesai menulis rinciannya. Ah, tapi jika Pangeran datang kemari aku akan membicarakannya di sini."


"Kalau begitu, aku kembali ke kamar dulu. Aku ingin mengganti pakaianku dengan baju latihan."


Bastien mengerjap beberapa kali, "Apa? untuk apa kau memakai baju latihan?"


Quinn tersenyum penuh makna, mana mungkin dia memberitahu Bastien sekarang soal niatnya. "Aku hanya ingin pemanasan saja, kok. Luka-luka di tubuhku ini terasa membuat kaku, aku butuh olahraga sedikit supaya lebih cepat sehat."


"Aku pikir kau tiba-tiba ingin berlatih pedang."


"Tidak ada yang tahu masa depan, mungkin saja aku tertarik melakukannya." gumam Quinn amat lirih sehingga hanya dia seorang yang dapat mendengarnya.


Quinn menutup pintu kamarnya dan langsung melepas tali gaun di bagian punggungnya. Otaknya sedang bekerja memikirkan masalah "Aku sudah membaca keseluruhan pesan Penelope. Pantas saja dia begitu ketakutan saat membahas tentang ayahnya."


Quinn tidak berhenti memikirkan cara untuk memperpendek prosesnya, "Ah, benar. Apa aku minta dia selidiki kantor ayahnya saja ya?"


Quinn saat ini sudah memakai pakaian training nya dan hanya tinggal mengencang tali dibagian dadanya saja.


Cklek


Gadis itu tersentak kaget ketika mendengar bunyi pintu kamarnya dibuka. Dia menoleh was-was dan yang ia dapati adalah makhluk berwarna kebiruan masuk tanpa rasa sungkan, "Raiden?!" sebutnya kaget.


Raiden juga terkejut, tetapi bukan karena gadis itu belum selesai berpakaian melainkan pakaian itu sendirilah yang membingungkan. "Quinn? mengapa kau berpakaian seperti itu? apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya dengan ekspresi santai.


Quinn memerah malu, dia berbalik sambil mendekap tubuhnya sendiri. "R-Raiden, bisakah kau keluar sebentar? aku belum selesai ganti baju." dia membelakangi pemuda berwajah baby face itu sambil buru-buru mengikatkan tali pakaiannya. Tubuh Quinn menegang tatkala Raiden entah bagaimana sudah berada tepat di belakang tubuhnya, bahkan dia bisa dengan jelas merasakan hembusan nafasnya di dekat telinga.


"Raiden?!"


Pemuda itu menahan dagu Quinn tetap menghadap ke depan sementara satu tangannya lagi dia gunakan untuk menarik turun kerah baju bagian belakang Quinn sehingga tali di dada yang belum sempat terikat kencang itu akhirnya longgar dan membuat bajunya melorot hingga ke atas siku tangan. "Raiden, ini sangat memalukan. Bisakah kau menjauh?!" tengkuk gadis itu sudah ikutan memerah menahan malu yang teramat sangat.


Sayang sekali permintaan itu tak didengar oleh si pelaku. Raiden malah fokus memperhatikan punggung mulus Quinn yang masih tertutup oleh perban, dia menekan dengan satu jari ke titik yang mana perban nya terdapat bercak merah obat. "Akh!" Quinn berjengit ngeri sekaligus sakit.


Raiden menatap Quinn dari belakang, "Kau masih sakit tapi kau berencana berlatih diluar? memangnya apa yang mau kau lakukan?" tanya Raiden dengan nada menginterogasi.


"Aku hanya berniat berlari mengitari lapangan saja." Quinn menghempaskan tangan Raiden yang menahan dagunya lalu menaikkan kemeja lengan tanggung nya secepat kilat.


"Sebaiknya kau tidak usah memaksakan diri, Quinn."


"Aku baik-baik saja~, kau terlalu khawatir."


Raiden kembali mengikis jarak di antara mereka, tangannya bergerak mengelus puncak kepala Quinn "Rambutmu selalu terlihat berkilau. Boleh aku membantumu mengikatnya?"


Sial. Dia tidak memberiku pilihan. Bagaimana bisa dia cepat sekali sampai di sini?


"A-ah ya, boleh jika Raiden memang bisa."


"Tentu saja aku bisa."


Terpaksa Quinn duduk di depan meja rias, membiarkan Putra Mahkota menata rambutnya yang panjang tergerai hingga ke pinggang. Dengan gerakan begitu lembut agar tidak menyakitinya. "Omong-omong, Raiden, apakah kau sudah diberitahu oleh kakek soal daerah perbatasan?" tanya Quinn.


"Oh, soal yang kita dikepung dari dua sisi? sudah. Aku sudah meminta kakek Bastien untuk datang ke istana. Laporannya harus mendapat cap resmi istana dan aku tidak bisa asal memutuskan tanpa persetujuan para menteri."


"Hm, begitu ya. Syukurlah jika kau sudah tahu." Raiden tersenyum simpul sambil mengangguk kecil.


"Aku datang ke sini karena ingin memberikan hadiah untukmu."


Kau kerjanya hanya menghamburkan uang untuk membeli hadiah?


"Hadiah? kau belum lama memberikan ku kalung." kata Quinn bingung, sebenarnya dia juga sudah tahu Raiden akan memberikan satu lagi hadiah untuknya walau dia tidak tahu benda apa yang akan diberikan. "Yang ini untuk kau pakai saat ulang tahunku. Kau tidak lupa 'kan? ulang tahunku minggu depan."


Raiden memberikan kotak kecil dan membukanya agar Quinn bisa melihat isi di dalamnya. "Ini kalung peninggalan ibuku, aku ingin memberikannya padamu agar bisa kau jaga." Raiden menatap kalung tersebut dengan tatapan sendu seakan tengah merindukan sosok yang telah mengandung dan melahirkannya.


"Tapi, mengapa aku memberiku kalung yang sangat berharga begini?" Quinn memegang kalung berliontin emerald itu, kalungnya memang indah, tiap detailnya diperhatikan. "Aku ingin memberinya pada orang yang ku sukai. Ibu pernah bilang padaku, aku boleh memberikan benda kesayanganku pada orang yang aku sukai." senyum Raiden melebar seiring dengan matanya yang menelisik ke dalam mata Quinn.


"Ini benar-benar membuatku tersentuh," kedua mata bercorak milik gadis itu berkaca-kaca, merasa terharu dengan kisah kecil yang Raiden ceritakan. "Aku akan memakainya saat pesta mu nanti."


"Terima kasih. Tolong jaga baik-baik ya."


Quinn beranjak berdiri begitu Raiden telah selesai mengikat rambutnya dengan sangat rapi. "Um, begini...sebenarnya aku ingin mengajakmu membeli gaun untuk pesta nanti, tapi kau 'kan mau mengadakan rapat. Jadi kapan-kapan saja lah saat kau sempat." cara bicara Quinn yang seperti salah tingkah membuat seringai Raiden muncul.


Raiden merengkuh tubuh Quinn tanpa meminta persetujuan. Tujuannya? sudah jelas membuat gadis itu semakin menyukainya dan satu lagi, dia ingin merasakan kekuatan spirit yang semakin hari semakin nampak pada aura yang dipancarkan Quinn. "Aku akan segera menyelesaikan rapat itu. Tidak ada yang tidak bisa ku lakukan untukmu, Quinn."


Senyum manis Quinn merekah, dia senang mendengar jawaban dari lelaki yang ditaksirnya dulu. "Kalau begitu, apa kau mau mengajakku pergi ke istana? aku tidak akan mengganggu rapat mu, aku hanya ingin berjalan-jalan di sana. Jika kau mengajakku, aku tidak akan melatih fisik." Quinn memberikan tatapan memelas andalannya.


"Haha kenapa tidak? kau terlihat sangat menggemaskan kalau sedang memohon begini. Sepertinya aku harus sering-sering membuatmu melakukannya." goda Raiden.


"Sungguh? asyik! terimakasih, Raiden. Kau memang sangat baik~!" puji Quinn dengan nada yang mengalun manja. Dia tidak sungkan untuk bergelayut manja dilengan pemuda itu. "Mari kita pergi sekarang."


Cih. Aku harus mandi bunga tujuh rupa setelah ini.


"Dengan pakaian seperti itu?"


"Ah aku lupa, hehehe. Kau tunggu di luar dulu ya, aku akan segera mengganti pakaianku."


Niat awal Quinn adalah melatih fisik untuk pemanasan sebelum memegang pedang. Tetapi Raiden justru membawa berita lain diluar dugaannya. Untung saja sekarang otak Quinn sudah terbiasa bekerja cepat. Dia langsung mendapat ide lain.


"Untuk menghancurkan nama Baroness Viridescens, aku bisa menggunakan Raiden. Rumor itu sudah menyebarluas, aku tidak perlu bekerja terlalu ekstra."


Lima belas menit berselang, Quinn dan Raiden berangkat berdua menuju istana Ethereal. Mereka sering terlihat bersama, tidak heran semua orang yang melihat keduanya dijalan akan memberi respon biasa. Akan tetapi, hari ini berbeda. Raiden sangat menyadari tatapan para masyarakat.


Raiden adalah kebanggaan masyarakat Ethereal, terutama Helldelune. Mereka sangat peduli dengan nasib Pangeran mereka. Hampir setengah dari rakyat Helldelune kurang setuju jika dia menjalin hubungan dengan Quinn sebab gadis itu sama sekali tak memiliki nama baik di kalangan kaum elit.


Sekarang mereka terlalu memperlihatkan ketidaksukaan itu dengan terus berbisik sambil memberikan tatapan sinis. "Apa yang terjadi?" tanya Raiden dalam hati. Sementara Quinn tampak santai-santai saja meski melihat keanehan tersebut.


Setelah sampai di istana, Raiden membiarkan Quinn berkeliling istana dengan ditemani oleh Floyd, Ksatria kepercayaan Kaisen. Apa boleh buat, Jean harus mengawalnya untuk mengurus daerah di mana musuh akan menyerang. Tentunya Raiden sudah memberi peringatan agar pria berambut seputih salju itu mengawasi dan melaporkan apapun kegiatan yang dilakukan oleh Quinn. Tanpa tahu bahwa Quinn nantinya akan mengajak Floyd bekerja sama.


"Quinn, aku akan pergi rapat sebentar. Berhati-hatilah."


"Um, baiklah. Selamat bekerja, Raiden."


Quinn lantas menengok ke arah Ksatria berwajah dingin itu. Melihatnya menggunakan penutup mata membuat Quinn teringat akan Finn, sayang sekali dia belum sempat memberitahu rencananya yang telah berubah. "Mohon bantuannya, Tuan Floyd."


"Baik, Lady."


Quinn seolah merasa sangat tidak asing dengan semua penampakan istana, tiap sudutnya tidak berubah, suasananya pun tetap sama. Namun, semakin ia melangkah masuk semakin sesak hatinya. Di sinilah dia mulai menemui arti pengkhianatan.


Kakinya mulai gemetar teringat akan bagaimana dia dipandang hina bahkan oleh pelayan-pelayan istana ketika diseret masuk ke penjara bawah tanah setelah hampir melenyapkan nyawa Penelope. "Lady, Anda baik-baik saja?" tanya Floyd menahan bahu kecil Quinn.


Gadis berwajah imut itu terkesiap begitu menyadari bahwa dia hanya berjarak sepuluh centimeter dari salah satu tiang lorong. Rupanya Quinn nyaris menabrak tiang akibat melamun terlalu dalam. "Maaf, Tuan Floyd. Aku sedang melamun tadi."


"Huh...sebaiknya Anda berjalan-jalan di taman saja agar tidak menabrak benda lain."


"Itu ide yang bagus. Kalau begitu mari kita pergi ke sana sekarang."


Setiap pelayan yang dia lewati di lorong memandanginya dengan tajam. Mata-mata Raiden menyebar di setiap sudut istana, Quinn bisa bicara empat mata dengan Floyd.


Tidak, tidak. Tukang kebun itu juga mengawasiku. Aku harus cari cara lain.


Floyd mengernyitkan dahi saat Quinn tiba-tiba berhenti dan membuat dirinya nyaris menabrak tubuh kecil Quinn. "Ada apa lagi, Lady?" tanyanya dengan nada malas.


"Aku tiba-tiba ingin naik sampan di sungai belakang istana. Tuan Floyd, maukah kau mengantarku?"


"Maaf?"


"Aku ingin naik sampan."


"Saya mengerti, Lady." Floyd segera memerintahkan beberapa pekerja untuk menyiapkan sampan mewah milik istana.


Seorang pendayung yang biasa ditugaskan untuk memandu sampan menghampiri mereka. "Yang Mulia, biarkan saya mendayung sampan ini untuk Anda."


"Tidak. Aku hanya ingin Tuan Floyd yang mendayung untukku."


"Apa?"


Baik Floyd dan pria pendayung itu sama-sama terkejut.


Quinn dengan percaya diri mengulang perkataannya sambil menunjuk wajah Floyd. "Aku ingin Tuan Floyd saja yang mendayung untukku. Dia sepertinya sedang jenuh, jadi aku ingin memberinya hiburan dengan mendayung sampan."


Pembuluh vena Floyd muncul di dahinya. Dia kesal karena Quinn bicara seolah-olah dia tidak memiliki pekerjaan lain. "Lady, dia dibayar untuk bekerja. Saya seorang Ksatria, bukannya pendayung sampan."


"Tapi kau bisa melakukannya, 'kan?"


Kepalan tangan Floyd menguat hingga urat-urat dipunggung tangannya menimbul. "Mari, kita pergi sekarang sebelum terlalu panas, Tuan Floyd." senyum tanpa dosa itu berhasil menambah kadar ketidaksukaannya pada gadis bertubuh mungil itu.


Dengan berat hati dia pun menjawab, "Baiklah."


Setelah mereka berdua naik, Floyd mendayung sampan dengan sangat tidak sabaran hingga membuat Quinn berpegangan kuat pada sampan di bawahnya itu. "Tu-tuan kita tidak sedang melakukan lomba dayung perahu."


"Anda yang bilang kita harus berangkat sebelum hari mulai panas."


"T-tapi Anda seperti sedang mengajak saya mati tenggelam."


"Anda benar-benar suka bicara ya." Floyd tersenyum sarkas selaras dengan ucapan yang keluar dari bibir tipisnya itu.


"Maaf jika saya sudah membuat harga diri Anda sebagai Ksatria terluka," Quinn menengok ke belakang, mereka sudah cukup jauh dari tempat awal. Mata-mata Raiden sudah tidak dapat memantau. "Sekarang kita sudah tidak diawasi lagi. Sebenarnya saya ingin membicarakan sesuatu dengan Anda."


Satu alis Floyd terangkat. "Membicarakan apa?" tanyanya.


"Aku ingin mengajakmu bekerjasama."


Pemuda berkulit pucat itu menatap Quinn dari atas sampai bawah dengan cepat, "Anda? mengajak saya bekerjasama?"


Quinn sangat tahu apa maksud dari sikap Floyd yang mengesalkan itu. "Hei, jangan pandang aku begitu. Kau baru saja meremehkanku, 'kan?"


Dia ini benar-benar tidak takut bersikap jujur di hadapan orang yang kastanya lebih tinggi.


"Huh...saya hanya akan memberi Anda waktu sepuluh menit untuk menjelaskan maksud Anda. Jika saya rasa itu tidak menguntungkan sama sekali, maka saya akan menjatuhkan Anda di sini."


Quinn mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat.


Dia baru saja mengancamku? huh! dia menarik juga.


"Baiklah. Pertama-tama, kita mulai dengan Baginda Raja."


Floyd menatap Quinn kaget. Dilihat dari tatapan gadis itu, Floyd tahu bahwa Quinn juga sudah menyadari keanehan soal penyakit yang diderita Kaisen.


"Anda menyadarinya juga?"


"Kau mau jawaban yang seperti apa?"