
Raiden menghela nafas panjang, dia menantikan jawaban apa yang akan diberikan oleh Quinn. netra biru berliannya memandang ke arah seluruh manusia yang menduduki kursi pengamat. Semua orang yang hadir adalah orang yang Quinn minta Raiden untuk dihadirkan di dalam ruangan. Sebagian besar masyarakat di sana berasal dari Verenity dan merupakan orang-orang yang terdampak besar akibat kasus korupsi yang dilakukan Vincent dan golongannya.
"Gadis ini sangat cerdik. Dia sungguh sudah memperhitungkan segalanya. Dia pantas jadi Ratu ku." gumam Raiden yang menatap Quinn penuh ambisi. "Tunjukkan padaku bagaimana kau akan memanfaatkan kebaikanku dengan menuruti keinginanmu," Raiden bertanya-tanya karena penasaran dengan kelanjutan sidang itu.
Quinn menatap Julien datar "Bukankah itu tidak adil?"
"Ya?"
"Hukuman pukul rata dengan membawa seluruh anggota keluarga... apakah itu tidak berlebihan? Keluarga kami, terutama putrinya sendiri saja tidak mengetahui kejahatan yang dia lakukan selama ini. Paman Vincent dengan pintarnya menyembunyikan semua kebusukan itu, tapi kenapa kami semua harus dihukum juga?"
Quinn kembali menatap ke belakang, beberapa diantara mereka tampak setuju dengan pertanyaan yang diajukan Julien. "Sepertinya kalian merasa marah karena menganggap kami selama ini menyelamatkan Viscount dari hukuman selama belasan tahun. Padahal, kalau berada di posisi saya, kalian pasti mengatakan hal yang sama dengan saya."
Quinn menyelipkan anak rambutnya "saat perut lapar, jika melihat makanan enak jadi ingin makan. Jika melihat permata mahal, jadi ingin mencurinya. Dan jika kalian diberi kesempatan untuk meraup harta kekayaan dalam semalam dengan mengorbankan orang lain, Anda tidak perlu berpikir dua kali atau merasa keberatan untuk menyingkirkan lawan asal bisa memenangkannya. Selama hidup, Anda semua pasti pernah berpikir begitu, 'kan? wajar saja, itu adalah insting manusia untuk bertahan hidup."
"...." keheningan melanda ruang persidangan. Tidak ada yang bisa menyangkal ucapan Quinn, baik dari kalangan elit maupun rakyat biasa terlebih bagi rakyat kecil yang kesulitan menghadapi krisis pangan saat masa peperangan karena kasus penggelapan dana.
"Sebagian bangsawan memang egois dan serakah, mereka tidak peduli apa dampak perbuatan mereka terhadap rakyat kecil yang seharusnya mereka bantu selagi membawa keuntungan yang lebih besar bagi diri sendiri." Quinn menunjuk meja tersangka lagi, "lihatlah baik-baik. Mengapa mereka jadi tersangka dan kita perlu mengadili nya? apa perbedaan kita dengan mereka? kita memiliki akal dan mereka tidak. Karena akal membuat kita tahu akan moral, sementara mereka menggila dan membuang sisi kemanusiaan mereka hanya untuk harta benda yang tidak akan dibawa mati."
Quinn menggunakan kata-kata 'kita' dan 'mereka' untuk menandai perbedaan seolah dia berada di pihak rakyat kecil dan menghasut mereka secara halus untuk membela Quinn dan semakin menyudutkan para tersangka. Dia menggali simpati masyarakat dan membuat mereka bersalah telah berpikiran buruk tentang Quinn sehingga membuat mereka sepihak dan mendukung dirinya.
Dok!
Quinn menggebrak meja mimbar nya, "tersangka telah memanfaatkan kekuasaan yang diberikan Raja untuk melakukan kejahatan tak termaafkan dan terburuk yang bisa dilakukan manusia, yaitu melakukan perdagangan manusia."
Beberapa orang yang berasal dari Verenity tertegun. Otak mereka seketika berhenti bekerja, apa maksudnya perdagangan manusia?
"Rekan-rekan sekalian, coba ingatlah kembali saat masa perang kerajaan..."
"Perang kerajaan yang telah mengangkat harkat Ethereal, itu merupakan kemenangan yang luar biasa. Tapi bagaimana kemenangan itu bisa terwujud? apa semata-mata hanya bermodal keberanian dan kehormatan tanpa adanya kematian?
Kematian yang sudah kerajaan usahakan hanya terjadi di medang perang saja ternyata juga menghampiri rakyat di beberapa desa kecil yang berjuang keras untuk bisa hidup setiap harinya.
Saat perang sedang gencar-gencarnya terjadi, sebuah keluarga harmonis di desa itu terpaksa bunuh diri dengan membakar diri bersama dengan rumah mereka karena mereka tidak punya uang untuk membayar pemakaman putri mereka yang mati kelaparan. Biaya pemakaman itu hanya sekeping koin perak.
Masyarakat di desa itu jadi salah sasaran, membenci Raja yang disangka tidak mengusahakan untuk membuat mereka yang jauh dari ibukota tetap bisa makan walau sedang dalam masa perang. Padahal dana itu terhenti pada penjahat-penjahat ini yang telah di maklumatkan untuk menyebarkan bantuan bahan pangan.
Di saat masyarakat sedang mengalami masa terendah itu, tiga bangsawan datang dengan bangganya seolah sangat peduli pada masyarakat itu dan membuat kegiatan amal dengan membangun sebuah panti asuhan, sebagai lembaga yang di dedikasikan untuk rakyat.
Panti asuhan itu tidak hanya jadi penghibur bagi rakyat yang kesusahan. Walau disebut panti asuhan, tetapi mereka bertiga tetap memasukkan anak-anak lain yang masih memiliki orangtua untuk membantu meringankan beban. Setiap tahunnya mereka memilih seratus lima puluh anak terbaik yang akan dimasukkan ke dalam panti asuhan tersebut. Mereka memberikan bantuan secara cuma-cuma, seperti menyediakan pakaian, makanan, asrama, sekaligus pendidikan. Bayangkan saja, rakyat mana yang tidak tergiur mendengar itu saat mereka sedang diambang kematian?
Para orangtua merasa sangat senang. Mereka berbondong-bondong mengirim anaknya ke sana, tanpa tahu tempat macam apa itu sebenarnya."
Tak!
Quinn mengangkat satu lembar dokumen laporannya. "Setiap tahun, dari seratus lima puluh anak, ada lebih dari tiga puluh anak yang hilang. Sekilas itu kelihatan tidak aneh, lain halnya jika kita melihat angkanya secara keseluruhan selama bertahun-tahun. Dilihat dari tempat panti asuhannya yang jauh dari medan perang dan tak pernah diserang sama sekali, bukankah jelas ini mencurigakan? ke mana anak-anak itu menghilang?"
Kemudian Quinn menyortir satu per satu lembar sambil menyebutkan apa isi data yang tertulis di sana, "penculikan, pembunuhan, penjualan sebagai budak ke negara tetangga, pemerkosaan, prostitusi, penjualan organ dalam manusia, pengedaran narkoba, dan banyak kejahatan lainnya merupakan alasan saya melaporkan enam keluarga bangsawan utama yang ada di sini sekarang."
Quinn tak perlu susah payah memikirkan cara merekayasa dokumen karena dia mendapatkan dokumen itu dari Penelope yang membawakan semua dokumen itu kepadanya secara cuma-cuma.
Gadis itu mengangkat selembar kertas berisi kode-kode aneh yang tampaknya seperti hanya coretan tak berguna "Ini adalah salinan data yang sudah saya berikan kepada Hakim ketua. Sekilas ini terlihat seperti coretan tak berguna. Tapi jika kita menelisik secara lebih dalam lagi, ini adalah huruf dari bahasa Ethereal kuno yang dipakai oleh Raja Pertama untuk memberi identitas bagi negerinya walau sekarang sudah lebih diperbarui. Setelah saya selidiki dengan membuka kamus, arti coretan ini adalah 'bubuk narkoba yang akan diedarkan dimasukkan ke dalam perut anak yang telah dibedah sehingga tidak ada satupun yang akan curiga'."
Semua orangtua yang merasa mengirim anak mereka ke dalam panti asuhan menjadi lemas hingga merasa mual karena kondisi yang menyakitkan. Tidak hanya mereka, tapi seluruh masyarakat yang berkumpul dalam ruang sidang ikut tercengang mendengar kebenaran yang diungkapkan oleh Quinn.
"Lebih buruknya lagi, mereka malah menumbalkan Puteri Leticia, sepupu Raja Kaisen sebagai orang yang telah melakukan pemberontakan dan berencana menggulingkan posisi Raja demi menjadi Ratu sehingga Puteri Leticia yang sama sekali tidak bersalah harus merasakan rasanya mendekam di jeruji besi selama bertahun-tahun lamanya. Bukankah itu tidak adil? selama bertahun-tahun mereka memupuk kekayaan tapi sama sekali tidak pernah mendapat penghakiman? Puteri Leticia sama sekali tidak bersalah dan seharusnya dikeluarkan dari penjara karena itu tempat yang cocok untuk mereka."
Raiden sejujurnya terkejut. Dia tidak mengetahui bahwa Kaisen memiliki saudara yang masih hidup apalagi ternyata selama ini mendekam di penjara bawah tanah.
Hakim pun memberikan kesempatan pada para tersangka untuk berbicara "bagaimana? apakah para tersangka mengakui hal ini?" tanya sang Hakim yang memberi waktu pada mereka untuk membela diri.
"Tidak."
"Meskipun dibawah data ini memiliki cap keluarga bangsawan?"
"Itu bisa saja ditiru."
Quinn menyeringai "tentu saja saya sudah mengira para tersangka akan menyangkalnya. Itu sebabnya saya telah mengundang beberapa saksi untuk datang ke sini."
Dua orang berjubah datang dan menggantikan Quinn untuk berdiri di mimbar. "Apa yang dikatakan Lady Quinn itu semuanya benar. Setiap tahun panti asuhan itu memilih anak terbaik untuk dimasukkan ke dalam 'kelas' tertentu. Dengan kata lain, dikelompokkan sesuai dengan pasokan apa yang diminta klien, seperti penjualan budak, organ dalam, narkoba. Mereka mengiming-imingi anak-anak itu dengan mengatakan bahwa mereka akan dikirim ke akademi terbaik di ibukota atau di sekolahkan di luar negeri. Namun pada kenyataannya mereka yang terpilih akan dibunuh atau dijual. Walau saya hanya sebagai pemasok persediaan makanan, tetapi saya sering melihat mereka melakukan kekerasan terhadap anak-anak..."
Vincent, Benedetti, dan Herrera mengangkat wajahnya kaget. Mereka semakin memucat karena saksi yang muncul adalah orang yang selama ini mereka percaya.
"Saya bersumpah demi Dewa bahwa pernyataan saya ini benar. Saya tidak menyaksikannya sendiri, ada Tuan Rupert yang lebih banyak tahu seperti apa keadaan di dalam panti asuhan itu."
Rupert kemudian membuka tudung jubahnya, dia membungkuk memberi hormat sebelum menyatakan kesaksian. "Ya, apa yang disampaikan Tuan Robert benar. Saya bekerja sebagai salah satu pengurus dalam panti tapi saya tidak memiliki wewenang tinggi sehingga setiap kali saya mencoba bertanya kemana anak-anak itu akan dikirim, mereka hanya mengatakan bahwa anak-anak terpilih itu akan pergi ke tempat yang lebih baik."
"B-bukankah Tuan Rupert adalah manajer di perusahaan pengiriman surat?"
"Tapi aku jarang sekali melihat dia di sana. Mungkin dia bukan manajer melainkan pekerja paruh waktu."
"Iya, kau benar juga. Pantas dia memiliki pekerjaan lain."
Rupert mengeluarkan tumpukan surat tanda jadi yang ditandatangani oleh tersangka dan klien mereka. "Ini adalah bukti yang saya curi dari kantor panti asuhan. Isinya adalah tentang tanda terima 'barang' dan semua perjanjian untuk saling tutup mulut."
Rupert maju ke depan meja Hakim dan memberikan semua surat bercap resmi bangsawan kepada mereka untuk dibaca dan dianalisa keaslian suratnya.
Hakim pun kembali memberi kesempatan "apakah tersangka punya pembelaan untuk terakhir kalinya?"
"tersangka..? kami hanya memberikan sedikit waktu untuk Anda sekalian menyampaikan pembelaan."
Vincent yang sedari tadi mencoba meredam emosi menjadi kehilangan akal, dia perlu membela diri "Kalau bukan karena kami, anak-anak itu sudah lama mati kelaparan dan terserang penyakit kudis! apakah kami memaksa mereka untuk ikut?! mereka sendirilah yang berebut untuk membawa anak mereka pada kami! Asal kalian tahu, kami memberi mereka kenyamanan yang setara dengan para bangsawan! pada dasarnya mereka semua ini memiliki mental pengemis yang hanya ingin kenyamanan tanpa perlu menbayar sepeserpun! dasar orang-orang tidak tahu balas budi!"
Semua yang mendengar merasa terpicu untuk menghajar Vincent sampai mati.
Rupert terkekeh geli "Pfft! balas budi? Anda sungguh bisa berpikir seperti itu? bisakah Anda mengembalikan nyawa anak-anak tercinta mereka yang sudah kau perdagangkan? Anda lebih rendah dari binatang. Anda semua hanya iblis berwujud manusia. Tidak ada satupun hal baik yang Anda tinggalkan selama Anda hidup."
Bugh!
Seorang wanita dari bangku pengamat menghampiri mimbar tersangka dan membogem wajah Vincent sampai pria itu terjatuh ke lantai. Wanita itu menangis sambil mencengkeram kerah baju Vincent sekencang mungkin "putriku juga pergi ke panti asuhan kalian! Tiba-tiba dia berhenti mengirim surat dan aku mendengar kabar bahwa dia hilang...jenazahnya juga tidak ditemukan sehingga aku tidak bisa mengadakan pemakaman untuknya," wanita tersebut menangis hingga jatuh bersimpuh di lantai, "katanya semua mengalami hal yang sama saat perang, jadi aku berusaha mengubur kenangannya dan berusaha ikhlas melepas kepergian putriku, tapi ternyata itu semua ulah kalian."
"Putriku pasti sangat kecewa terhadap ibunya sendiri karena tidak pernah berusaha mencari anaknya yang terbuang entah di mana..."
Rupert mendekat pada wanita itu berusaha menenangkan, "Anda jangan terlalu emosional, bu. Saya sudah berhasil menyelamatkan beberapa anak dari sana, mungkin saja anak ibu ada diantara mereka."
"Eh?! sungguh?! apa Anda tidak berbohong? tolong jangan memberi harapan palsu pada wanita malang ini..."
Rupert mengangguk kecil lalu berdiri menghadap ke Hakim ketua. "Yang Mulia Hakim, sebelum saya keluar dari tempat itu, saya berhasil meloloskan beberapa anak dari panti asuhan dan saya sudah membawanya ke Helldelune untuk menerima pemeriksaan. Mereka adalah saksi mutlak yang kebenaran pernyataannya, tetapi mereka masih perlu pengobatan mental."
Setelah berunding dengan dua Hakim lain, dia pun mengangguk setuju "Kami akan segera memeriksa mereka setelah sidang selesai dilaksanakan."
Dok dok
"Mohon untuk kembali ke tempat duduk kalian masing-masing. Pelapor, Lady Quinn, masih memiliki satu lagi tuntutan terhadap tersangka Viscount Vincent van Marchetti."
Bangsawan yang menonton menjadi bersemangat mendengar apa lagi yang akan Quinn usut selain kasus korupsi dan perdagangan manusia.
"Apa ini mengenai hubungan Viscount dan keluarganya?"
"Dia pasti akan mengasuskan soal penculikan itu."
"Sungguh malang nasib Viscount."
Quin tersenyum "Terima kasih telah memberi kesempatan pada saya, Yang Mulia."
Quinn mengeluarkan sebotol kecil sampel darahnya yang telah dikonfirmasi oleh dokter istana bahwa di dalamnya terdapat dua kandungan racun yang apabila digunakan bersama akan menjadi racun mematikan. "Sebenarnya saya tidak mengerti dengan pola pikir paman saya. Seperti yang sudah diketahui secara umum, keluarga saya dan keluarga paman tinggal berjauhan. Saya dan adik saya sangat jarang berinteraksi dengannya sehingga saya menyimpulkan bahwa saya tidak memiliki kesalahan apapun yang bisa membuat beliau ini dendam."
Quinn menutup mulutnya yang bergetar menahan tangis, "bahkan sebelum tersebar rumor tentang Firman Dewa itu, paman bersikap dingin kepada kami sebagai anggota keluarga. Tanpa alasan yang jelas, Paman yang telah mendengar rumor itu menjadi amat waspada kepada saya. Terkadang dia sampai mengangkat tangan kepada saya. Ayah saya, Count Savero lah yang menyaksikannya sendiri."
Killian tersentak kaget, dia menoleh menatap wajah tenang ayahnya, "A-ayah, apa itu benar?"
"Ya. Aku melihatnya sendiri dan akulah yang menjauhkan dia dari kakakmu."
"Dia sampai memiliki pikiran untuk membunuh saya lebih dulu sebelum dibunuh karena takut Firman Dewa itu akan sungguhan terjadi. Selain itu, setelah tahu saya membawa bukti-bukti kejahatannya dia meracuni saya supaya bisa mengubur saya bersama dengan semua tindakan kriminal yang telah dia lakukan. Ini adalah darah saya yang telah diambil untuk membuktikan bahwa saya sungguh telah menelan racun."
Hakim melirik dokter istana, "Apakah itu benar, dokter?"
"Ya, Yang Mulia Hakim. Terdapat dua jenis racun dari tanaman langka yang berbeda, bahkan penawar untuk racun itu masih sulit untuk dibuat akibat keterbatasan bahan."
Vincent menggeram tak terima "Yang Mulia Hakim, dia duluan yang telah meracuni saya! dia berencana menyingkirkan saya supaya dia bisa merebut kedudukan Grand Duke!"
"Anda belum diperbolehkan untuk menyela, Viscount."
Quinn tersenyum miring "Saya juga telah melakukan penyelidikan bahwasanya Viscount tidak hanya melakukan kekerasan pada saya, tetapi pada orang-orang di rumahnya. Termasuk putri tunggalnya sendiri, yaitu Penelope van Marchetti. Dia berani bersaksi bahwa Ayahnya memang pelaku kekerasan yang membuat seorang dari pelayan di rumah mereka pun sampai mati."
Killian menegang tatkala melihat Penelope masuk ke dalam ruangan sebagai saksi. Pantas saja sedari tadi dia cari pun Penelope tidak ada. "Jadi, memar di belakang lehernya waktu itu..." gumamnya yang baru sadar bahwa tanda itu bekas siksaan Vincent.
"Loh, jadi benar dia itu ringan tangan?"
"Aku pernah melihat pelayan yang pernah bekerja di rumahnya keluar dengan banyak memar di wajah."
"Mengerikan sekali."
"Apa dia sungguh manusia?"
Sekarang giliran Penelope yang berdiri diatas mimbar untuk memberikan pernyataannya terkait dengan kasus kekerasan yang dilakukan ayahnya di rumah mereka. "Saya bersumpah demi Dewa bahwa pernyataan yang saya sampaikan setelah ini adalah kebenaran utuh yang tidak ditambah-tambah atau dikurangi sedikit pun."
"Apa yang telah dikatakan Quinn barusan adalah benar. Kami sering mendapatkan amukan setiap kali kami tidak melakukan apa yang dia minta atau tidak sesuai dengan keinginannya."
Penelope menangis sambil melanjutkan kalimatnya "Dia selalu melimpahkan kemarahannya pada saya karena menganggap saya telah merusak seluruh kebahagiaannya, termasuk kematian ibu saya.
Saya sangat jarang diberi makanan atau pakaian baru kalau saya tidak berusaha mencari uang sendiri. Itu sebabnya saya membuka usaha toko bunga agar saya bisa tetap hidup.
Tetapi, ketika saya sampai di rumah, dia meminta semua uang hasil penjualan saya dan memukuli saya sampai meninggalkan bekas yang sangat sulit dihilangkan. Tapi dia sendiri juga sudah berulang kali menjodohkan saya dengan bangsawan yang lebih tinggi pangkatnya untuk meraup lebih banyak untung. Bukankah itu termasuk penyiksaan mental? saya tidak bisa sehari saja bebas dari amukannya.
Sebagai bukti, saya masih memiliki bekas cambukan yang Ayah saya torehkan."
Penelope membuka resleting gaun di punggungnya dan memperlihatkan bagaimana luka cambukan itu masih setengah basah dan memerah akibat terus tergesek gaun.
Killian dan Savero sampai melotot tak percaya melihat parahnya bekas luka dibagian tubuh belakang Penelope.