
Penelope di dalam kereta keluarga Savero sedang menuju ke istana untuk memastikan bahwa Quinn tetap fokus pada tujuannya. Sebelumnya Quinn sudah memberitahu soal sidang yang akan menyeret nama ayahnya.
Ya, Penelope sudah tahu bahwa Quinn telah membuat surat pengajuan sidang untuk Vincent dkk. dan sedang menunggu hasil. Pertama kali dicoba sudah gagal, itu sebabnya Quinn pergi ke istana. Penelope sudah tahu semua.
Sekarang Penelope hanya sedang mengelabui Vincent dan meyakinkannya telah menemui Raiden.
Sejujurnya Penelope memang ingin mengawasi gerak-gerik Quinn, takut kalau Raiden tergoda dan tidak jadi menyukai dirinya. Tetapi, demi tujuan yang lebih besar, Penelope tidak jadi ke sana.
Gadis bertubuh molek itu berhenti di sebuah kedai makanan penutup, dijalan yang akan Quinn lewati saat dia pulang agar mereka bisa pulang bersama dan tidak menimbulkan kecurigaan. "Aku harap dia segera menyelesaikan urusannya. Ayah sekarang pasti sudah pulang."
Sementara itu Quinn masih berada di dalam istana untuk menunggu pesan dari Gray lewat Floyd. Hari ini Ksatria tangan kanan Kaisen itu yang mendapat tugas berjaga.
"Aku hampir selesai membuat penawar racun terakhir yang akan membuang semua racun dalam tubuh Raja berkat tanaman yang Lady Quinn bawakan."
Floyd melirik tabung reaksi yang berisi cairan emas berkilau, "sebenarnya tanaman apa itu?" tanya nya penasaran.
"Itu adalah tanaman langka yang khasiatnya luar biasa. Saya sendiri tidak menyangka kalau Lady Quinn berhasil menemukan bunga se-menakjubkan ini."
"Anda berhasil bersembunyi dari penyelidikan Jean, luar biasa. Sebaiknya Anda segera menyelesaikan itu agar Yang Mulia Raja segera sehat sebelum penobatan Pangeran diadakan."
*
*
"Cepat cicipi makananku."
Pria itu sudah mulai ingin makan di rumah lagi karena Quinn sama sekali tidak terlihat akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya. Meskipun dia mengatakan hal kasar saat siang tadi.
Pramusaji itu menelan ludah, dia mengambil sendok dan memakan sup daging yang tersaji di atas meja. "Rasanya tidak berubah, Yang Mulia."
"Ya sudah."
Vincent menggunakan sendok lain untuk makan sup daging yang dimintanya untuk mengganjal perut. Setelah makan hampir setengahnya, sang pramusaji tiba-tiba berubah.
"Bwleekhh," pramusaji tersebut memuntahkan banyak darah. Tidak butuh waktu lama sampai wajahnya memucat dan jatuh pingsan. Dia tampak kesulitan bernafas.
"H-hei! apa yang terjadi?"
Deg
Vincent mematung begitu sadar bahwa pramusaji itu telah terkena racun dari dalam makanan yang juga dia makan. Pria itu langsung memegang perut dan mulutnya, "Aku sudah memakan racun!"
"Seseorang, panggilkan dokter kemari!"
Beberapa menit kemudian pramusaji itu dibawa ke kamarnya di asrama pelayan. Vincent pun ikut ke sana untuk mendengar secara langsung penjelasan dokter keluarga Lombardia tersebut. "Bagaimana? kenapa dia sudah seperti mayat saja? apa yang terjadi?" tanya Vincent bertubi-tubi. Dia tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan.
"Hmm, ini gawat. Ini adalah racun dengan kandungan yang berbahaya, bahkan kami para dokter belum menemukan penyembuhnya. Racun yang dikonsumsi pramusaji ini tidak banyak, tapi karena berbahaya jadi hanya tinggal menunggu jam saja sampai dia meregang nyawa," terang dokter tersebut sambil membenarkan kacamatanya. "Apakah Anda juga mengonsumsi makanan yang sama dengan pelayan ini?"
Emily menutup mulutnya tidak percaya, dia berteman akrab dengan pramusaji itu. "Cleo..." ucap Emily histeris.
"Aku sudah memakan setengahnya, sedangkan dia hanya makan sesendok saja. Apa yang akan terjadi padaku?" Vincent merasakan tubuhnya melemas tepat setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Dia membiarkan sang dokter melakukan pekerjaannya, "Karena tubuh Anda terlatih, antibodi Anda cukup tinggi sehingga racunnya menyebar sangat lambat. Maaf saya harus mengatakannya, Anda hanya punya waktu kurang lebih tiga hari saja."
"...?! t-tiga hari?"
"Ya, saya bisa mengusahakan untuk membuat obat penghambat, tapi bukan penawar racun. Sama saja seperti menyambung nyawa Anda untuk beberapa hari tambahan."
"Cepat lakukan itu. Terima kasih sudah memberitahuku," Vincent meninju dinding hingga membuat sedikit retakan pada dinding kamar tersebut, darah mengalir dari jarinya. "Quinn sialan!" rahang Vincent mengeras selaras dengan kepalan tangannya yang masih tertancap di dinding. "Aku akan membalasmu. Aku akan membalasmu dua kali lipat."
Pria penyandang gelar Viscount itu segera beranjak pergi guna memikirkan cara balas dendam. Dokter keluarga Bastien pun ikut pergi meninggalkan asrama pelayan.
Emily mendengar geraman itu dengan sangat baik, "Yang Mulia Quinn, segeralah pulang..." gadis itu berdoa agar Quinn bisa mengatasi kegilaan pamannya.
Gadis itu dengan sabar menunggu sama temannya siuman. Suhu tubuhnya menurun dan sudah persis seperti mayat.
Satu jam berlalu...
"E-Emily," panggilan kecil yang keluar dari mulut pria itu membuat Emily menangis histeris. "Cleo! kau sudah sadar? bagaimana keadaan mu? apa masih sangat sakit? perlu aku panggilkan dokter lagi? dia mungkin— apa itu?"
Cleo memberikan botol kecil berisi cairan bening ke tangan Emily, dengan tersenyum lemah "Viscount Vincent mungkin akan meracuni makanan Yang Mulia Quinn makan nantinya. Tuangkan itu pada makanannya, ini adalah obat penghilang kandungan racun."
["Akan aku jelaskan apa kegunaan dua cairan berbeda warna itu. Botol berisi cairan warna merah itu adalah sebuah racun yang cukup mematikan. Jadi, yang jernih itu adalah penawar racun. Aku ingin kau menggunakan racunnya pada Paman."
"Apa?!"
"Jangan khawatir. Aku memberikan penawar racunnya padamu karena kaulah yang harus meminum itu. Kau akan tetap disuruh menyicipi lebih dulu, mau tidak mau kau akan ikut teracuni," Quinn tersenyum dengan santainya, "aku yakin Paman juga akan membalas dengan meracuni ku balik. Tapi tak usah pikirkan aku, aku punya cara sendiri untuk mengatasinya."
"Apakah Anda yakin Anda akan baik-baik saja, Yang Mulia?"
"Aku sudah memperkirakan semuanya. Kau tidak perlu khawatir. Tuangkan saja semuanya."
"...."
Quinn menghela nafas pelan "aku sudah punya hadiah untuk kontribusi mu. Aku akan memberikanmu gaji yang besar. Dan sebagai tambahan, saat ini istrimu sedang sakit parah 'kan? aku akan membiayai semua pengobatannya."
"Baiklah, saya mengerti, Yang Mulia."]
Emily mengusap air matanya seraya menggenggam kuat botol pemberian Cleo, " mengapa kita tidak menuangkannya sedikit untukmu? apa kau tidak peduli pada keluargamu? aku sendiri bahkan sudah menganggapmu seperti kakakku sendiri..."
"Tidak, aku sangat merindukan mereka tapi aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi karena Yang Mulia Quinn akan menjaga mereka untukku. Jadi aku bisa mati dengan tenang." senyuman tulus terukir dibibir Cleo, hal itu membuat Emily merasa ikut sakit.
"Aku tidak punya banyak waktu lagi, bisakah kau titipkan salam pada istri dan putriku? aku sangat menyayangi mereka sampai kapanpun walau raga ku sudah tidak bersama mereka lagi."
"Cleo...!"
Pria itu tidak lagi menghembuskan nafas, wajahnya sudah pucat pasi seolah tidak ada lagi darah yang bersisa dalam tubuh. Beberapa menit kemudian, para pelayan yang dekat dengan Cleo membantu memasukkan jasadnya ke dalam peti setelah didandani dan diberikan bunga krisan putih di dalam pelukannya.
Bersamaan dengan itu, Quinn dan Penelope baru saja sampai ke istana Lombardia. Tidak ada yang mencurigakan terjadi, pelayan-pelayan itu menyembunyikan fakta bahwa seseorang dari anggota mereka baru saja meninggal dunia.
Hanya dengan sekali lirikan saja Quinn sudah sadar bahwa Cleo berhasil mengerjakan tugasnya dengan baik dan dengan waktu yang tepat.
"Penelope, Raiden akan datang ke sini malam ini. Mungkin dia ingin menyampaikan keputusannya secara langsung, jadi persiapkan dirimu baik-baik." tegasnya ulang, Quinn tidak bisa kehilangan kesempatannya lagi.
"Aku tahu. Perlu berapa kali lagi kau mengulanginya? aku bukannya anak kecil."
"Aku lupa kalau kau jago mengelabui orang."
"Cih menyebalkan."
Mereka pun kemudian berpisah. Quinn masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaian, sementara Penelope mencari ayahnya untuk membuat kabar palsu yang menyesatkan dirinya.
Setelah dua menit berkeliling, Penelope menjumpai Vincent tengah bersantai di ruang makan tanpa ada apapun yang tersedia di atasnya. "Ayah, aku sudah pulang."
Vincent meletakkan bukunya dan menatap putrinya "Penelope? bagaimana hasilnya? apa Quinn mencoba merebut Putra Mahkota darimu?"
Penelope lantas menggeleng dengan yakin, dia duduk di sebelah Vincent sambil menepuk punggung tangan ayahnya. "Quinn tadi menangis di dalam kereta karena Pangeran justru sering mengabaikannya dan lebih memilih mengobrol denganku saat aku datang menginterupsi obrolan mereka. Tidak ada bahasan serius, Quinn hanya ingin memamerkan gaya nya saja."
"Hahaha dia sungguh berani bersikap arogan di depanku, tapi ujung-ujungnya dia sama sekali tidak membuat perkembangan. Bagus, Penelope jangan sampai kau kehilangan kesempatan ini. Ayah akan membantumu menjadi satu-satunya untuk Pangeran." dengan mata yang sudah diliputi keserakahan, Vincent menepuk bahu Penelope meyakinkan "mari kita bertiga lakukan makan malam bersama, buat dia merasa terkucilkan dan direndahkan supaya dia sadar akan posisinya."
"Baik, Ayah. Aku akan segera menyampaikannya pada Quinn."
Malam harinya, Quinn tampak bersemangat melakukan acara makan malam bertiga dengan Paman dan sepupunya, Savero selalu datang tengah malam karena tugasnya bertambah dengan menggantikan beberapa pekerjaan Bastien yang masih tersisa di Helldelune.
"Aku tidak menyangka kita bisa makan bersama. Paman, rupanya kau sudah tidak salah paham lagi dengan ku," ujar Quinn antusias.
"Iya, maaf. Aku sudah salah mempercayai rumor tentang Firman Dewa itu."
"Quinn, maafkan Ayahku ya. Dia ini terkadang memang terlalu waspada, jadi dia mencurigai mu sampai sebegitunya."
"Haha tidak masalah, Penelope. Aku sangat mengerti dengan ketakutannya."
Emily yang sekarang bertugas menyajikan makanan ke atas meja telah menuangkan penawar racun di gelas air minum Quinn. Dia sangat khawatir akan akhir dari hidup Quinn. Sekilas makanan yang tersaji tampak mewah dan lezat, tetapi Vincent telah membubuhkan dua jenis racun mematikan ke dalam piring Quinn.
"Terima kasih, Emily." Quinn menyantap sepotong telur omelet yang diirisi oleh tomat ceri di dalamnya.
"Kenapa hanya makan sesuap saja? teruskan makannya. Semakin banyak yang masuk, semakin cepat kau mati. Cepat makan yang banyak, jangan kecewakan aku!" batin Vincent tidak puas. Dia melirik empat pelayan yang masih berada di ruang makan, "kalian semua, keluarlah. Aku ingin menikmati makan malam bersama dengan mereka berdua."
"Baik, Yang Mulia."
Emily sudah sangat gelisah, dia tidak rela meninggalkan Quinn sendirian di tengah-tengah orang yang hendak berniat jahat. Tapi apa boleh buat, dia tidak bisa melawan perintah.
"Oh iya, bagaimana dengan pertemuan mu hari ini? apa berjalan lancar?" tanya Vincent sebagai pembuka topik.
"Uhm, sebenarnya tidak begitu berjalan lancar. Tapi aku senang bisa bertemu dengan Raiden lagi setelah sekian lama."
"Kedatangan Penelope pasti mengalihkan perhatian Pangeran sepenuhnya. Maaf Quinn, seharusnya Penelope bisa lebih peka lagi untuk memberimu kesempatan maju."
Penelope menepuk pelan lengan ayahnya, "ahahaha Ayah ini tidak boleh berkata begitu, Quinn 'kan jadi malu."
Quinn tersenyum tipis, sedari tadi Vincent terus melirik ke arah piringnya meski sedang mengajaknya berbicara. Dia pun memotong lagi telur dalam piringnya dan membuka mulut, mata Vincent fokus seutuhnya seakan sangat menantikan makanan itu masuk lagi ke dalam mulutnya.
Akan tetapi Quinn sengaja meletakkan kembali makanan yang sudah dia sendok dan jelas terlihat bahwa Vincent menegang. "Loh, Pamakenapa kau pucat sekali? seperti orang yang baru salah makan..." Quinn memasang ekspresi cemas.
"A-apa sangat kelihatan? belakangan ini aku sedang merasa sangat lemas."
Penelope memiringkan kepala untuk menengok wajah ayahnya, "Loh iya, benar. Apa Ayah sudah memeriksakan diri? mungkin Ayah kurang darah atau semacamnya."
"Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di cemaskan."
Meskipun dia berpura-pura tenang, tetapi aku bisa melihat amarah yang menggelegar dalam dirinya.
Paman biasanya terlihat sangat congkak setiap berhadapan dengan orang lain, sehingga ketika dia gugup karena menyembunyikan sesuatu, itu sangat terlihat jelas.
Apa perlu aku pancing dulu?
"Sepertinya kita harus memarahi dokter di rumah ini. Masa Paman tidak sehat begini dia malah tidak pengertian."
"Apa?" Vincent tertegun mendengar betapa tidak tahu malunya Quinn menyalahkan dokter keluarga. "Tubuhku melemah karena kau meracuni ku! kenapa malah melimpahkan kesalahan ke dokter?!" Vincent nyaris mengutarakan isi kepalanya kalau Penelope tidak menyadarkan pria itu dengan tepukan pelan di punggungnya.
"Ayah, kenapa Ayah malah melamun? makanannya sampai dingin, cepat dimakan."
"O-oh ya, baiklah."
Traaang
Perlengkapan sendok dan piring makan berceceran dilantai. Quinn tiba-tiba terjatuh. "Hah...hah..." gadis itu mulai kesulitan bernafas.
Penelope berdiri dari kursi dengan cepat, "Quinn?! Quinn!" dia menghampiri saudarinya dan mencoba menolong dengan meminumkan air.
Sedangkan Vincent hanya berdiri menyaksikan penderitaan Quinn yang sedang sekarat dilantai. Dia menatap dingin keponakannya, "racunnya sudah mulai bekerja."
"Hei, anak arogan. Kau masih mendengarku, 'kan? makanan yang baru saja kau telan itu mengandung racun. Kau yang lebih dulu meracuniku, jadi aku mengembalikannya padamu. Selain itu, tidak ada yang akanakan menyalahkan mu. Kematian mu justru akan membawa kedamaian seluruh penjuru Ethereal." Quinn tersenyum di sela-sela menahan sakit yang teramat sangat.
"Ayah meracuni Quinn?! mengapa Ayah begitu tega?!"
"Jauhi dia jika kau tidak ingin disalahkan, Penelope! aku juga melakukan ini demi dirimu agar kau menjadi satu-satunya bagi Putra Mahkota."
Penelope ketakutan sampai airmatanya mengalir "Ayah terlalu berlebihan! apa Ayah tidak memikirkan resiko ke depannya?!"
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi Penelope, Vincent menyeret tangan putrinya menjauh dari Quinn. "Cepat menjauh sekarang! kau tidak dengar peringatan ku barusan?!"
"Paman pikir Paman akan menang? kau akan menjemput ajalmu sendiri."
Vincent yang mendengar ucapan lemah Quinn menjadi marah, akhirnya dia pun menendang perut Quinn untuk membuatnya segera mati. "Dasar menyusahkan!" hardik nya.
Kesadaranku mulai berkurang...
Meskipun aku sudah menggunakan penawar racunnya, tapi rasa sakitnya sehebat ini.
Dadaku seperti terbakar.
Quinn perlahan memejamkan matanya, kesadaran yang ia coba pertahankan sejak tadi sudah tidak ada lagi.
Brak!
Kedua pintu ruang makan dibuka dengan kasar oleh Finn dan beberapa pelayan terutama Emily segera menghampiri tubuh dingin Quinn, "Yang Mulia! hiks...Yang Mulia, sadarlah!" tangis Emily pecah saat menyadari Quinn tak lagi bernafas.
Finn menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Dia tetap berdiri tegak dan menghadap Vincent, melihat Penelope yang pipinya sudah memar membuat pemuda itu muak dengan pria tak beradab seperti Vincent. "Yang Mulia, Anda harus bertanggung jawab atas kematian Lady saya. Jika Anda tetap berusaha lari, saya rasa Anda tidak membuatkan pilihan lain untuk saya melapor pada Grand Duke dan Count Savero."
"Diam kau! aku bisa urus ini sendiri! aku akan bertanggungjawab!"
Tangan Finn sudah gatal ingin menghunuskan pedang ke dada Vincent.
"Panggilkan kusir sekarang juga!"
Vincent meminta para pelayan untuk membawa peti mati Cleo dan Quinn pergi jauh dari Helldelune. Dia mengancam akan membunuh siapapun yang berani melawan keinginannya. "Buang jasad mereka berdua di hutan antah berantah, biarkan saja mayatnya dimakan binatang buas. Cepat pergipergi sebelum hujan turun!"
"B-b-baik, Yang Mulia."
Kereta secepatnya berangkat meninggalkan halaman rumah Bastien. Para Ksatria termasuk Finn memberi tatapan membunuh pada Vincent. Putra angkat Bastien itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasan atau rasa bersalah setelah membunuh keponakannya sendiri dan membuang jasadnya begitu saja di hutan.
"Kita harus sabar, Finn. Kau tidak boleh sampai menggagalkan rencana Lady Quinn." gumam Felix berusaha membuat temannya itu tetap terkontrol.
"Tck. Jangan menyentuhku! aku sedang sangat marah."
Vincent menyuruh semua pelayan untuk menutup mulut mereka. "Penelope, cepat ke kamar tamu dan obati lukamu. Itu adalah aset penting untuk menggoda Putra Mahkota."
"Kalian semua jangan ada yang berani keluar sejengkal pun dari rumah ini. Kalau sampai ada yang berani melakukannya, maka aku anggap dia pantas mati sebagai pengkhianat."
"Kembali ke tempat masing-masing! jangan bengong begitu, kalian membuatku muak saja."
Kletak kletuk
Bunyi langkah kuda terdengar nyaring dalam kesunyian hutan. Perlahan-lahan kusir menghentikan dua kudanya setelah melihat seorang pemuda bersmbut merah panjang berdiri menghadang jalannya. Dia pun turun untuk membukakan pintu kereta pembawa barang itu. "Beliau ada di sini, Tuan." kata sang kusir.
Rupert mendelik kaget melihat dua peti mati berjajar rapi. Pemuda itu segera membuka tutup peti dan Quinn beranjak duduk sambil mengacak rambutnya lega, "pengap sekali."
"Lady?! saya pikir Anda sungguhan sudah mati..." Rupert menghembuskan nafas panjang. Dia terlihat khawatir melihat wajah Quinn yang masih pucat dan deru nafasnya yang memburu. "Anda baik-baik saja?"
Aku menggunakan kekuatan spirit ku untuk membuanh racun dalam tubuhku. Tapi ini membutuhkan waktu.
"Ya. Bawa pelayan ini ke rumah itu juga."
"Untuk apa? kau mau meng-kremasi jasadnya di sana?"
"Jangan bodoh, dia masih hidup. Racun yang dia minum hanya menghentikan pernafasan nya selama enam jam saja. Dia masih hidup dan masih bisa disembuhkan."
"Oh begitu."
Quinn menatap kereta kedua itu, "bisakah kau rusak kereta ini? buat kereta ini terlihat seperti habis diserang oleh kawanan bandit."
"Baik, aku mengerti."
Setengah jam kemudian, Rupert dan kusir berhasil merusak kereta dengan melepas dua kuda itu dan mencopot serta merusak kereta pengangkut barang tersebut.
"Tidak ada waktu, ayo pergi sekarang."
Rupert membawa Quinn bersama dengan kudanya, sementara kusir Bastien mengikuti dari belakang sambil membawa tubuh dingin pramusaji yang dianggap telah lenyap itu.
"Yang Mulia! Yang Mulia Viscount! Cepatlah Anda pergi ke aula!"
Vincent yang saat itu sedang bersantai di dalam kamarnya merasa sangat terganggu "seenak jidat memerintahku! kenapa kalian berlarian begitu? apa hantu Quinn sudah bergentayangan?!"
"T-tidak... masalahnya, kereta dari istana Ethereal sedang menuju ke sini! Putra Mahkota sudah ada di halaman depan, Yang Mulia!"
Vincent mematung ditempat, nafasnya tercekat. Rasa takut dan gelisah nya sudah memuncak, dia sampai tidak bisa memikirkan apapun. Mau kabur pun tidak mungkin. Dia hanya bisa menghadap Raiden apa adanya dan berbohong.
"YANG MULIA PUTRA MAHKOTA TELAH TIBA"
Vincent bergegas menemui Raiden yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dia semakin tidak karuan setelah tahu bahwa Raiden membawa lebih dari sepuluh ksatria istana. "Y-Yang Mulia Putra Mahkota, kenapa Anda datang tiba-tiba begini?"
Apa dia mau menginterogasi ku? sial, kenapa harus sekarang?!
Raiden menatap Vincent nyalang, wajahnya benar-benar datar dan dingin. Tadinya Vincent sempat berpikir bahwa Raiden akan memperlakukannya dengan baik sebab dia dekat dengan putrinya.
"Aku datang kesini karena ada hal yang ingin aku pastikan."
Raiden mengangkat tangan memberi kode para para Ksatria nya untuk menggeledah seisi rumah. Mereka pun mulai berpencar ke seluruh arah.
Raiden membenarkan sarung tangannya "Viscount tidak perlu tegang begitu karena orang yang ingin aku temui adalah Quinn."
Kedua kaki Vincent yang sedari tadi sudah goyah kini tak dapat menopang tubuhnya lagi. Akhirnya dia berlutut di hadapan Raiden. "Mohon maaf, Yang Mulia. Saat ini Quinn sedang istirahat sebab sejak pulang dari istana dia bilang tidak enak badan. Dia butuh istirahat lebih, jadi belum bisa menemui Yang Mulia dalam keadaan baik. Kalau tidak keberatan, Yang Mulia bisa kembali dulu dan kembali esok hari..."
Kalau tahu begini seharusnya aku mengirim Quinn nanti saja!
Bruk
Emily tidak takut kalau dia dipecat dan diberhentikan oleh Raiden asal dia bisa mengatakan kejadian yang sebenarnya. "Maaf atas kelancangan hamba, Yang Mulia. Saya bersedia dipenggal asalkan Yang Mulia mendengarkan hamba terlebih dulu."
Vincent melotot marah "perempuan itu...!"
Emily menjatuhkan kepalanya bersujud di lantai di hadapan Raiden. "Yang Mulia Quinn sangatlah sehat, beliau tidak sakit atau semacamnya. Tadi, Yang Mulia Vincent mengajak beliau makan malam bersama dan meracuni makanannya, tapi Viscount menutupi kenyataan itu!"
"Meski sudah tahu dia baru saja melakukan kesalahan, dia tidak interopeksi diri dan malah berkelit lebih jauh! bahkan pramusaji yang sudah bertahun-tahun lamanya mengabdi untuk rumah ini juga meninggal gara-gara beliau!"
Raiden diam mendengarkan penjelasan pelayan itu sampai selesai.
"Kenapa para pelayan rendahan ini malah menangis dengan bodohnya di sini, bukannya membelaku?! apa-apaan mereka ini?!" batin Vincent keheranan.
Penelope mendadak muncul entah dari mana asalnya. "Yang dia katakan itu benar, Yang Mulia. Ayah saya telah meracuni Quinn dan mengirim tubuhnya entah kemana!"
"Penelope? apa yang terjadi dengan pipimu yang lebam itu?" tanya Raiden bingung.
Penelope ikut berlutut disamping Emily sambil menangis sejadi-jadinya "Ayah menampar saya ketika saya hendak menolong menyelamatkan nyawa Quinn, Yang Mulia. Selama ini Ayah selalu melakukan kekerasan jika kami tidak mau menuruti perintahnya. Selama ini saya dan mereka tersiksa."
Vincent menggertakkan giginya menahan emosi "Penelope! apa begini caramu membalas budi padaku?! aku telah membesarkan mu dan memberimu makan sampai kau sebesar ini!"
Kemudian Finn dan kawanan Ksatria nya ikut masuk ke aula dan memberikan kesaksian mereka, tentu saja hal itu membuat Raiden kian marah. Manusia rendahan ini berani membunuh Quinn ku? itulah arti pandangan Raiden kala ini.
"Viscount, apa yang diucapkan mereka semua itu benar?" aura Raiden menggelap, seisi ruangan menjadi terasa lebih mencekam dan menakutkan. Raiden sekarang berdiri seperti malaikat maut yang siap menyabut nyawa, "Viscount, aku bertanya kepadamu. Mengapa kau malah diam seperti patung? kau pikir waktu berharga ku akan kembali dengan menunggu jawabanmu?" kalimat penuh penekanan Raiden itu memberi sinyal pada siapa saja untuk tidak bermacam-macam.
Dua Ksatria istana menodongkan pedangnya ke leher Vincent. "Kau masih enggan menjawab?"
Bugh!
Raiden menendang kepala Vincent hingga pria itu jatuh bersimpuh ke lantai. Raiden kemudian menginjak punggung ayah Penelope itu dengan keras. "Ya sudah, aku akan buktikan sendiri. Geledah rumah ini dan bawa Quinn ke hadapanku."
"Baik, Yang Mulia!"
Vincent mendongak memandang Raiden "Yang Mulia, meskipun Anda seorang Putra Mahkota, Anda tidak bisa menghina saya seperti ini!"
Raiden mengencangkan injakan nya "tentu saja aku bisa. Hanya karena dipanggil bangsawan, kau jadi melupakan tindakan kriminal mu. Bagaimana bisa orang sebodoh dirimu merasa mulia dan sok berjasa pada kerajaan?"
"Yang Mulia, saya akan berkata jujur. Saya memang meracuni Quinn, tapi saya melakukannya karena Quinn duluan yang meracuni makanan saya. Kalau tidak percaya, tanya saja dokter yang memeriksa saya itu!"
Dokter keluarga Bastien itu membenarkan kacamata, "Yang Mulia, saya memang dokter yang bekerja untuk keluarga Grand Duke. Saya sempat memeriksa keadaan Viscount dan beliau sehat."
"Saya tidak tahu racun macam apa yang dia maksudkan, karena saya tidak melihat reaksi apapun dalam darahnya."
Vincent merasa lidahnya kelu. Semua orang di rumah itu berbalik menyudutkan nya dan tak memberi jeda sama sekali. Bahkan mereka berani membuat kebohongan untuk membuatnya terlihat lebih buruk.
"Apa maksudmu itu?! jelas-jelas kau yang bilang kalau aku telah menelan racun!"
"Lapor, Yang Mulia! Lady Quinn tidak ditemukan di manapun. Kami sudah mencari ke seluruh sudut istana Lombardia, tapi kamu tak menemukan petunjuk satu pun."
Quinn ku... gara-gara makhluk sampah ini aku kehilangan Quinn!
Raiden menginjak kepala Vincent "Viscount, kau harus membayar mahal perbuatan keji mu ini."
Begitu Savero diberitahu soal Quinn, dia langsung menggila. Pria yang tidak pernah melakukan kekerasan itu gelap mata, dia berani mengangkat pedang hendak memenggal kepala kakak angkatnya dengan sekali tebas. Namun, Raiden menghentikan itu, dia sampai harus meminta beberapa Ksatria untuk menahan amukan Savero. "Kau kemanakan tubuh putriku, kak?! jawab aku! aku tidak akan pernah mengampuni nyawamu! Cepat jawab aku!"
"Count Savero, tenanglah. Kita perlu mencari tubuh Quinn sekarang. Ada kemungkinan dia masih bisa diselamatkan. Aku akan membantumu mengerahkan pasukan khusus," kata Raiden dengan serius.
Keesokan harinya Raiden membuat pernyataan resmi dan disebarkan ke seluruh penjuru negeri.
..."Rakyatku sekalian, saksi untuk sidang khusus yang akan diselenggarakan sebentar lagi, yaitu Quinn de Alger Shuvillian, telah menghilang....
...Hal ini dianggap sebagai balas dendam sekaligus upaya menghilangkan bukti sehingga Viscount Vincent van Marchetti dan kelompoknya akan dijatuhi hukuman penjara bawah tanah selama enam bulan....
...Selain itu, istana akan bertanggung jawab atas keadaan ini dan melakukan yang terbaik untuk menemukan Quinn de Alger Shuvillian."...
Semua rakyat menjadi heboh atas berita kejahatan Vincent yang menyebar hingga ke pelosok negeri. Mereka semakin percaya dengan rumor yang sejak dulu telah beredar tentang sifat buruk Vincent.
Namun, bagi rakyat Verenity berita itu cukup mengejutkan sebab kebanyakan mereka hanya tahu bahwa Vincent melakukan tindakan amal dengan merawat anak-anak panti asuhan.
Hanya tinggal menunggu kepulangan Quinn dan Vincent akan hancur.