I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 37



Satu minggu kemudian...


Hari berlalu begitu cepat bagi Quinn yang mengisi hari-harinya dengan berlatih pedang. Malam nanti merupakan malam pesta hari jadi Raiden yang digelar sangat mewah dan besar, tamu yang diundang lebih dari tiga ratus bangsawan. Tidak lupa dia juga akan mengadakan festival selama tiga hari tiga malam untuk masyarakatnya.


Semua acara dia persembahkan kepada rakyat setelah berhasil menenggelamkan kapal para musuh yang mencoba menyerang tanpa persiapan yang matang, mereka telah berani meremehkan kekuatan penerus Kaisen.


Banyak orang datang dari luar kota Helldelune untuk ikut memeriahkan festival besar ini. Bahkan akademi di Helldelune juga diperbolehkan untuk libur sehari agar anak-anak dapat merasakan liburan yang jarang diadakan. Namun mereka hanya boleh pulang ke asrama setelah mengikuti festival.


Sejak kemarin Penelope sudah datang dan menginap di kediaman Shuvillian seperti biasa walau Ayahnya menginap di istana Lombardia.


Kepala pelayan di istana milik Bastien itu hendak membantu Quinn untuk bersiap, dia harus memastikan bahwa Quinn memakai semua barang pemberian Raiden untuk ke pesta.


Emily langsung menghentikan kepala pelayan yang merupakan salah satu mata-mata Raiden yang tersisa di rumah Bastien. "Kepala pelayan, sebaiknya saya saja yang pergi ke sana. Lady Quinn mungkin akan curiga kalau Anda sampai membantunya bersiap sementara hari biasa tidak sama sekali."


Kepala pelayan wanita itu diam beberapa saat.


"Apa aku bisa mempercayaimu? belakangan ini kau terlihat sangat dekat dengan Lady sampai kau lengah. Mungkin aku perlu melapor pada Yang Mulia Putra Mahkota." ujarnya yang sedikit curiga dengan perubahan sikap Emily.


Emily langsung membungkuk dan menggelengkan kepalanya. "Saya bersumpah saya tidak mengabaikan tugas, kepala pelayan. S-saya terlihat dekat karena Lady benar-benar sangat baik pada saya, jadi saya memanfaatkannya untuk lebih leluasa mengetahui rahasia yang Lady simpan."


"Ya sudah. Cepat bantu. Pastikan dia memakai semua pemberian Putra Mahkota."


"Baik, kepala pelayan."


Emily bergegas pergi ke kamar Quinn bersama tiga pelayan lain yang sudah lebih dulu sampai. Sejak pagi Quinn harus menjalani serangkaian persiapan yang melelahkan, seperti mandi dengan wewangian, memakai lulur, memakai masker untuk melembabkan wajah, memotong kuku, dan sebagainya. Memakai gaun bukanlah tahap akhir dari persiapan pergi ke pesta.


Bukan hanya Quinn yang menjalani 'ritual' semacam ini, semua wanita bangsawan melakukannya setiap hari untuk menjaga mereka tetap cantik berkelas. Namun, biasanya Quinn melewatkan bagian memakai lulur dan masker yang memakan lebih banyak waktu.


"Kalian bertiga boleh menungguku di kamar. Biar Emily yang membantuku mandi."


"Baik, Yang Mulia."


"Jadi, apa yang kepala pelayan perintahkan untukmu kali ini?" tanya Quinn to the point.


"Beliau ingin meminta saya memastikan Anda memakai semua barang yang Pangeran berikan, Yang Mulia." Quinn memijat pelan belakang lehernya sambil memikirkan sesuatu, "Apa kau tahu alasan dia memaksaku menggunakan semua barang itu?"


Emily menunduk, sebenarnya bawahan seperti mereka tidak memegang rahasia atau tujuan Raiden melakukan pengintaian. Emily sendiri hanya pernah mendengar alasannya dari Evan. "Itu untuk menunjukkan bahwa Pangeran sangat peduli kepada Anda, Yang Mulia."


"Selain itu?" gelengan kepala Emily membuat Quinn kembali berpikir, satu yang terpikirkan olehnya. "Kalung itu alasannya, ya. Tidak masalah, aku akan memakainya tapi tidak dengan gaunnya."


"Eh? kenapa, Yang Mulia? gaun itu bagus."


"Aku tidak suka. Dia mau membuatku kelihatan menyedihkan, aku tidak suka mengikuti alur yang dipilihkan orang lain untukku."


Kurang lebih Quinn sudah tahu apa yang akan terjadi padanya. Kalau di masa lalu, Raiden dan Penelope sudah mulai memiliki perasaan satu sama lain sehingga keduanya memakai gaun yang serasi walau tidak terlalu mencolok, tetapi membiarkan Quinn memakai gaun yang bisa dibilang cukup terang. Semua orang mulai berspekulasi bahwa Raiden menunjukkan perasaan tidak sukanya pada Quinn, namun gadis itulah yang bebal dan tidak tahu diri karena masih saja menempel pada Raiden setiap saat.


"Aku akan memakai gaun masa muda nenek."


"Ya? m-masa muda Grand Duchess?"


Quinn tersenyum manis. "Pertama-tama, kita harus mengelabui paman." ujarnya seraya menjetikkan jari ke udara.


Sore harinya, suasana di luar sangatlah ramai. Lautan manusia menutupi jalanan kota saking padatnya orang datang untuk menyaksikan secara langsung festival besar malam ini.


Di mansion Shuvillian, suasana cukup ramai karena banyak pelayan wanita yang merasa tertarik dan bersemangat membantu Penelope bersiap. Jika ada Quinn, mungkin dia yang akan mendapat perlakuan begitu. Killian yang akademi nya diliburkan, pulang ke rumah untuk melepas rindu pada tempat tinggalnya sendiri.


Pemuda lima belas tahun itu terkekeh geli melihat Penelope yang tengah dibantu lebih dari empat pelayan, dia sampai kebingungan karena tidak dapat menggerakkan badannya sendiri dengan bebas. Penelope hanya bisa melirik Killian karena saat ini rambutnya tengah di tata. "Maaf ya, Killian. Aku tidak bisa menatapmu dengan benar."


"Tidak apa-apa, kak. Aku merasa senang karena ada kakak di rumah, ku pikir kakak tidak akan menginap di sini." katanya sembari duduk di sofa kamar.


Penelope tersenyum manis menatap Killian lewat pantulan cerminnya. "Bagaimana menurutmu? apa aku kelihatan berbeda?" tanya Penelope antusias.


Killian memandangi gaun mewah yang indah serta memperindah bentuk tubuh Penelope, "Itu bagus sekali. Kakak juga cantik. Aku sampai tidak mengenalimu." puji nya tulus.


Untung saja aku tidak keceplosan memberitahu siapa yang telah memberikan gaun ini.


Penelope memegang pipinya yang bersemu, "Kau ini memang pandai membuatku malu," gadis cantik itu memberikan kotak pada pelayan yang membantunya memakai perhiasan, "tolong pakaikan perhiasan yang ini, ya."


Aku akan membuktikan ucapan Quinn yang terakhir. Jika dia benar lagi, aku rasa aku bisa mempercayainya sepenuhnya.


Kotak itu adalah kotak berisi perhiasan yang Quinn berikan padanya sore itu di hari terakhirnya berada di Helldelune. Saudari sepupunya bilang bahwa kotak ini akan menjadi pembuktian keduanya tentang Raiden yang berniat menipu dirinya dengan memberikan perhatian palsu.


"Oh iya, Killian. Kau juga akan ikut pestanya 'kan?"


Killian menggeleng cepat. Dia tidak mau mendatangi tempat yang di mana dia akan melihat wajah seseorang yang sangat dia benci. "Apa? aku tidak berminat untuk hadir. Lagipula aku sudah ada janji dengan teman-temanku untuk berjalan-jalan menikmati festival di luar."


Garis bibir Penelope menurun, "Bukankah kau akan jadi penerus Ayahmu? maka sudah sepatutnya kau hadir juga di sana."


"Tidak. Ayah masih menjadi kepala keluarga, aku bisa datang saat hari penobatannya saja. Oh aku harus bertemu dengan Ayah, aku pergi dulu."


Killian tergesa-gesa keluar dari kamar tamu yang Penelope tempati. Gadis itu tahu bahwa Killian menghindari pembahasan tentang Raiden lebih jauh. "Aku penasaran mengapa dia begitu membenci Raiden, aku rasa dia sendiri jarang berinteraksi langsung dengannya."


Satu jam berlalu dan kini Penelope telah selesai. Penampilannya sungguh sangat memukau, wajahnya yang cantik jelita menambah kesan ke-dewi-an. Pujian tak kunjung berhenti terucap dari para pelayan di rumah Savero, membuat Penelope semakin merasa percaya diri.


"Jantungku sangat heboh. Bagaimana ini? apa aku bisa menyembunyikan kegugupan ku?" rasa suka citanya sedikit memudar tatkala ingat bahwa Vincent juga akan hadir di sana.


"Lady, sebaiknya Anda segera berangkat. Pangeran mungkin sudah sangat menanti kehadiran Anda."


"Kalian ini berhentilah menggodaku."


Singkat cerita Penelope datang menggunakan kereta kuda Savero, tentunya sang pemilik juga berada di dalam sana bersamanya.


Tamu sudah memadati aula besar istana Ethereal. Tidak hanya bangsawan dari Helldelune saja yang hadir, bangsawan dari kota lain pun ikut diundang.


Dari sajian hingga dekorasi yang mewah menandakan bahwa Putra Mahkota benar-benar menyambut tamu dengan sesungguh hati.


Bisik-bisik mulai terdengar begitu Penelope menginjakkan kaki di aula. Rumor tentangnya dan Quinn yang sangat berkebalikan membuat pamor nya naik sehingga banyak yang melirik untuk sekedar melihat bagaimanakah penampilan sosok yang diisukan pantas menjadi pasangan seorang Putra Mahkota.


Kecantikan dan keanggunannya menuai decak kagum para tamu lain yang menaruh perhatian padanya. Bisik-bisik semakin terdengar kuat dari berbagai penjuru aula setelah Raiden muncul, itu terjadi karena pakaian mereka yang nyaris seperti pasangan utama dalam pesta besar ini.


Raiden yang memang memiliki wajah rupawan dan awet muda terlihat berseri-seri malam ini. Rambutnya yang di tata rapi, memperlihatkan dahi sempitnya yang tidak biasa dia tunjukkan menjadikan wujudnya semakin terlihat agung. Auranya memancarkan kebahagiaan. Semua orang yang hadir kelihatan tidak bisa mendeskripsikan ketampanan Raiden.


Penelope bersama dengan Savero menghampiri Raiden untuk memberikan ucapan selamat. Penelope membungkuk seraya menjepit roknya dengan anggun, "Saya ucapkan selama berulang tahun, Yang Mulia Putra Mahkota."


Raiden tersenyum senang, "Aku sangat berterimakasih kau mau datang jauh-jauh kemari."


Penelope membalas senyuman Raiden dengan malu-malu, "S-saya tentu akan datang untuk ikut memeriahkan pesta malam ini."


Raiden memperhatikan gaun pemberiannya, "Sudah ku duga itu akan cocok untukmu."


"B-benarkah? saya juga sangat menyukai gaun pemberian Anda."


Raiden melirihkan suaranya, "Mau menepi sebentar? kau seperti bicara dengan orang asing saja." senyuman menggoda Raiden mampu meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya.


Penelope bisa mendengar suara degup jantung di kedua telinganya, "B-b-baiklah jika Anda meminta, Yang Mulia."


Sementara itu, di istana Lombardia...


Quinn sengaja membuka pintunya saat dia tengah berdandan, membiarkan siapa saja yang hendak mengeceknya melihat apa yang tengah ia kerjakan. Beberapa menit yang lalu kepala pelayan datang untuk melihat. Quinn memakai gaun pink nya dan meminta Emily untuk membantunya mengikat rambut.


Lima menit kemudian Vincent yang lewat depan kamarnya. Pria itu terkekeh meledek, "Dia ini bodoh sekali. Putriku jauh kelihatan lebih sempurna." ujarnya seraya beranjak pergi.


"Dia sudah lewat?" tanya Quinn sambil mematut diri di cermin.


"Sudah, Yang Mulia. Kelihatannya tidak akan ada lagi yang mengecek."


Sekarang giliran Bastien yang datang menginterupsi masa persiapan Quinn. "Cucuku sayang, kau belum selesai juga? ini sudah waktunya kita berangkat."


"Tapi...lebih baik kita berangkat satu kereta saja."


"Aku belum selesai berdandan. Jika kakek terlambat, semua orang akan mengira hubungan kakek dengan istana menjadi kurang baik." bujuk Quinn. Dia tidak mau rencananya gagal karena Bastien yang memaksanya berangkat bersama.


Kejutan ku tidak boleh gagal.


"Kau yakin? aku akan meminta Evan untuk mengantarmu."


"Tidak. Aku akan berangkat dengan Finn saja, dia akan menjadi pengawalku."


Bastien menghela nafas, selama ini Quinn telah melakukan semua dengan sangat baik dan hasilnya pun sama baiknya sehingga rasa cemasnya tidak sebesar dulu. "Baiklah, aku mengerti. Usahakan untuk tidak terlambat ya. Kau 'kan teman dekat Raiden."


Setelah itu Bastien meninggalkan rumah bersama dengan putra sulungnya.


"Untuk jadi kejutan, aku harus datang belakangan." seringai licik terukir di bibir nya. Dia kemudian merobek gaun pink yang telah melekat rapi di tubuhnya. "Bawakan kemari gaun ku yang itu."


"Baik, Yang Mulia."


Jam tujuh malam pesta semakin ramai dan meriah, beberapa mulai berdansa duluan untuk menghibur Pangeran secara suka rela. Raiden sendiri lebih fokus mengajak Penelope berbincang.


"Sejak tadi ini sangat menggangguku, tapi... perhiasan itu..." mata biru Raiden menatap lurus kalung dan anting-anting yang gadis blonde di hadapannya.


"Oh ini?"


["Oh iya, kotak hadiah ku, itu simpan saja. Itu akan jadi pembuktian kedua ku jika kau masih saja meragukan ucapanku. Mari kita jaga rahasia."


"Kotak itu berisi perhiasan yang ku dapat dari Raiden. Itu hanya menumpuk dan aku muak melihatnya terus berada di kamarku."


"Untuk apa kau memberikan ini padaku? aku terlihat seperti tempat pembuangan bagimu?"


"Tidak. Jangan salah paham. Itu belum pernah aku pakai sama sekali."


"Jadi kau mau apa dengan ini?"


"Jika Raiden biasa saja saat melihat perhiasan yang dia berikan padaku ternyata dipakai olehmu, maka dia sengaja membiarkanmu merasa bahwa dia baik-baik saja walau tahu perhiasan itu bukan ditujukan untukmu. Intinya, dia malah akan melontarkan pujian untukmu. Hal ini akan terjadi ketika dia memang ingin memanfaatkan dirimu untuk melawanku."]


"Quinn memberikannya padaku. Dia bilang perhiasannya sudah menumpuk dan ingin memberikan beberapa padaku karena dia tidak pernah memakainya." jawab Penelope diselingi senyuman sumringah.


"Begitu," tatapannya menajam.


"Kenapa, Raiden? apa ini tidak bagus?"


"Ini sangat cocok untukmu, kau kelihatan semakin cantik."


Quinn benar lagi. Raiden, apa kau sungguh ingin memanfaatkan aku? mengapa dadaku tiba-tiba sesak begini?


"Terima kasih, Raiden."


"Omong-omong, kenapa Quinn belum datang juga? kau tidak berangkat bersamanya?" tanya Raiden yang mulai mengedarkan pandangan mencari sosok yang dicarinya.


"Aku tidak tahu, aku menginap di rumah paman jadi aku tidak melihat Quinn."


Raiden sudah melihat bahwa Bastien dan Vincent telah hadir dan melebur dalam kerumunan tamu yang lain. Ayah kandung Penelope itu menelisik ruangan, mencari sosok putrinya yang belum tertangkap oleh indra pengelihatan nya. Senyumannya mengembang kala melihat bahwa saat ini Penelope sedang mengobrol empat mata tanpa adanya pengganggu dengan Raiden.


"Lihatlah putriku, dia pintar sekali mencari perhatian publik. Lanjutkan lah. Aku bangga padamu." ucapnya pada diri sendiri. Dia menenggak wine yang tersaji di meja panjang dan menganggap itu adalah minuman untuk merayakan keberhasilan putrinya.


"Hei, mereka sungguhan berpasangan? aku tidak menyangka."


"Tapi mereka sangat serasi."


"Benar. Aku harap Pangeran tidak berakhir dengan Lady Quinn."


"Iya— h-hei, pintunya terbuka. Ada seseorang yang datang."


Pintu aula kembali terbuka, semua sudah hadir di sana. Kedatangan tamu terakhir tentu akan jadi pusat perhatian. Tak terkecuali sang bintang utama dalam pesta ulang tahun malam ini.


Para tamu mulai berdecak kagum lagi seusai melihat siapa sosok yang hadir.


ialah Quinn de Alger Shuvillian. Bukan karena 'Quinn' yang mengejutkan, tetapi penampilannya yang berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tidak pernah jauh dari image imut dan manis, kini hadir dengan aura anggun bak wanita dewasa yang bermartabat.


Gaunnya yang sangat terbuka menimbulkan kesan seksi namun tetap nampak berkharisma. Gaunnya mempertajam kesan mewah berkelas. Sungguh, Quinn kelihatan seperti orang yang berbeda. Semua tersihir oleh kecantikan Quinn yang mengejutkan.


Raiden terpaku melihat pesona dari gadis yang menjadi incarannya. Gaun itu sangat jauh berbeda dari gaun yang ia belikan, namun kalung pemberiannya tetap dipakai.


Senyuman Quinn menyihir mata para lelaki muda sebaya nya.


"Hei, hei, apakah dia sungguh Quinn yang kita kenal? dia seperti orang lain."


"Cantik sekali,"


"Aku iri melihatnya."


"Bagaimana bisa gadis lembek itu jadi kelihatan sangat kharismatik begitu?"


"Aku tidak bisa berkata-kata."


Quinn puas mendengar kasak-kusuk membicarakan dirinya yang tampil berani.


Sedangkan Bastien, Vincent, dan Savero dibuat nyaris jantungan karena perubahan drastis Quinn dalam berdandan. Vincent meletakkan gelas wine nya yang telah kosong ke meja. "Sial! apa yang dia rencanakan? dasar gadis licik!" geramnya tak suka.


Putri dari pasangan Savero dan Sirena itu menghadap Raiden untuk menyapa teman baiknya. "Aku ucapkan selamat ulang tahun untukmu, Raiden. Semoga kau selalu dilimpahi kesenangan. Maaf atas keterlambatan ku."


Raiden tidak dapat mengelak lagi. Dia terpesona dengan kecantikan Quinn malam ini. Telinganya seakan tuli, hanya mata yang bekerja. Quinn sampai harus memanggil namanya beberapa kali untuk mengembalikan kesadaran sang Putra Mahkota.


"Raiden? kau baik-baik saja?"


"Ah ya. Maaf." Raiden mengangguk sambil membalas senyuman Quinn, "Aku senang kau hadir ke acara pentingku. Kalung itu sangat cocok untukmu. Kau kelihatan luar biasa malam ini."


Penelope di sebelah Raiden hanya mampu berdiam diri. Kedua tangannya mengepal erat, merasa tersingkir dan di khianati. Matanya sedikit memerah marah.


Quinn! kau bilang kau mau membantu, tapi apa-apaan ini?! kau langsung mencuri perhatian dariku!


...•...


...•...


...•...


...•...


Sebagai pembantu imajinasi, author mau suguhkan penampilan tiga tokoh utama dulu ya.


1. Pakaian Penelope



2. Pakaian Raiden



3. Pakaian Quinn