
"Singkat saja. Saya kemari ingin mencari informasi tentang bisnis Vincent Van Marchetti."
Rupert tidak henti-hentinya tersenyum. Hatinya berbunga-bunga, berhadapan dengan orang yang tidak disuka membuatnya bersemangat dan ingin sekali mencari kesempatan untuk merusak suasana hati gadis manis yang menjadi klien nya malam ini. "Saya tidak tahu mimpi apa saya semalam sampai kedatangan orang yang tidak di duga-duga. Dan Viscount Marchetti, bukannya dia paman Anda sendiri? mengapa Anda tidak bertanya langsung pada putrinya?"
Quinn terlihat tenang-tenang saja meski diserbu pertanyaan tak bermutu. "Haruskah saya menjelaskan semuanya pada orang asing yang hanya akan saya temui satu kali saja? waktu saya sangat terbatas, tolong percepat saja. Saya akan tambahkan uangnya." Quinn tanpa ragu meletakkan dua kantong penuh berisi koin emas. Mengeluarkan uang sebanyak itu tidak sulit semenjak bisnis lukisnya meraih kesuksesan cepat.
Rupert terkekeh geli, "Anda sangat menarik." Pemuda berwajah sangar itu berdiri mendatangi salah satu lemari dan mengambil berkas tanpa perlu membaca, seakan sudah sangat hafal dengan tata letak tiap dokumen yang dia punya.
"Mau saya yang bacakan atau Anda sendiri yang membaca?"
Quinn mengambil amplop besar berisi lebih dari sepulu kertas. Semua berisi data lengkap hingga silsilah keluarga, bahkan nama Quinn juga tercantum di sana. "Viscount punya bisnis bersama dengan tiga bangsawan lain?" tanya Quinn saat membaca data yang menurutnya sedikit mencurigakan.
"Ya. Dia bekerja sama dengan Marquess Benedetti dan Countess Herrera untuk membangun rumah amal. Dengan kata lain, mereka bertiga membangun rumah panti asuhan, mengelolanya bersama, dan menampung anak-anak malang yang tidak punya tempat tinggal di sana." ujar Rupert menerangkan. Dia menatap ekspresi serius Quinn. Siapa yang menyangka gadis yang terkenal ceria dan polos akan bisa memasang ekspresi setegang itu. "Ada yang membuat Anda bertanya-tanya?"
"Di sini ditulis tiap tiga bulan sekali akan ada dua puluh anak yang keluar dan mendapatkan keluarga baru. Itu agak aneh, jumlah mereka yang keluar tetap sama." Quinn mengangkat wajah dan membaca mimik wajah Rupert yang seakan sudah tahu apa yang ada di dalam otak Quinn. "Mereka bertiga... melakukan perdagangan manusia?" gumamnya ragu.
Vincent tidak pernah menginjakkan kaki ke Helldelune lagi setelah bisnis emasnya bangkrut. "Di sini dia memiliki peran besar saat terjadi perang puluhan tahun lalu. Peran apa yang dimaksud?" tanya Quinn penasaran.
"Dia membantu memasok makanan untuk para prajurit tentunya."
Finn mengangkat satu alisnya. "Hei, ada yang tidak kau jelaskan. Beberapa bagian kota terutama desa kecil banyak mengalami kelaparan karena banyak pasokan makanan yang terhenti selama perang berlangsung."
Quinn menoleh ke samping kirinya, "Maksudmu ada penggelapan dana juga saat perang sedang berlangsung?" tanyanya pada Finn.
"Ah, untuk itu aku tidak yakin."
"Ya, bisa jadi beberapa bangsawan yang ditugaskan menyalurkan bantuan dana dan bahan pangan melakukan penyelewengan." ucap Rupert menambahkan.
"Tuan Rupert, Anda memiliki data yang lebih detail dari ini?"
"Maaf, soal permasalah serius seperti pencarian dan pengumpulan bukti tentang kasus gelap harus kami cari terlebih dahulu. Butuh waktu tiga hari atau mungkin lebih."
Quinn membalas dengan anggukan ringan.
"Tapi, Lady Shuvillian. Apakah Anda tidak memikirkan bagaimana perasaan Lady Penelope nantinya? hidupnya juga akan ikut hancur jika Anda mengulik masalah ayahnya." Rupert bertumpu dagu sambil memasang senyum miring, ketertarikannya pada Quinn melaju pesat.
Diluar dugaan Rupert, Quinn kelihatan tidak peduli dengan nasib saudari sepupunya. "Apa harus saya merasa iba padanya sementara dia sendiri mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh saya?"
Finn menoleh kaget, "Eh?" pemuda itu mengerjapkan mata beberapa kali dengan cepat, mencoba memproses dalam otak tentang percakapan dua manusia berbeda gender itu.
Rupert kehilangan senyumannya. Dia kelihatan sangat syok. Satu menit terdiam, akhirnya dia bereaksi dengan tertawa sangat nyaring sampai rasanya suara Rupert menggema di dalam ruangan. "Hahahahahaha, Anda menyadarinya dengan sangat cepat. Hebat sekali. Saya pikir Anda gadis yang amat penuh kasih sayang layaknya seorang dewi yang akan mengasihi siapapun tidak peduli bagaimana orang memperlakukan Anda." kata Rupert setengah mencibir.
Dia mau membunuhku dua kali dan sudah satu kali berhasil melakukannya di masa lalu. Siapa yang mau terus mengalah begitu?
"Penilaian saya terhadap Anda sungguh sudah sangat berubah."
Quinn membalas seringaian Rupert, "Itu artinya Anda hanya suka mengonsumsi rumor tanpa tahu kebenarannya."
"Hahaha, ya, itu benar. Sekarang saya sudah belajar."
Quinn mengeluarkan satu kantong uang lagi dan menaruhnya di atas meja.
Finn yang melihatnya jadi bingung, dia menyentuh lengan Quinn "Lady, mengapa kau menambahkan totalnya lagi?" pertanyaan pemuda itu sengaja diabaikan. Kini Quinn menatap lurus ke mata merah apel milik Rupert. "Apa Anda tahu mengapa Desa Pixie di Nefeli dijaga oleh seorang penyihir? saya dengar dia ditempatkan di sana hanya untuk sekadar menjaga desa dan hutannya."
Rupert membenarkan posisi duduknya menjadi tegap, dia bersandar pada punggung kursi, dan menatap lawan bicaranya tajam. "Sekedar? Ah, itu berarti Anda termasuk dari golongan manusia yang tidak membaca sejarah berdirinya Kerajaan Ethereal secara utuh."
Finn merengut tak suka dengan pemilihan kata Rupert yang terkesan sinis. "Hei, bicaralah yang halus sedikit. Bicaramu tidak sopan."
"Ups, maaf." balas Rupert tak Bersungguh-sungguh.
"Itu sebabnya saya bertanya. Bisa jelaskan apa alasan dibalik penjagaan hutan itu?" tanya Quinn menyela pembicaraan kedua lelaki sepantaran itu.
"Baiklah, akan saya jelaskan."
Negeri Ethereal tidak hanya berdiri kokoh dengan kekuatan Raja dan keturunannya saja. Mereka diimbangi dengan kekuatan para spirit pelindung yang menjaga kemakmuran tanah dan sumber daya alam di Kerajaan Ethereal ini. Keduanya diibaratkan seperti timbangan yang sejajar atau sama beratnya.
Raja dan Dewa spirit bekerja sama menjaga keseimbangan dalam negeri dan menciptakan situasi di mana para makhluk hidup bisa hidup dengan aman dan damai. Pihak kerajaan yang bertindak dan para spirit yang meyokong dari belakang.
Secara sederhananya, Raja dan Dewa spirit membangun sebuah kerajaan bersama, Raja yang jadi tokohnya dan Dewa spirit yang memberi menyediakan panggungnya.
Konon, Raja dan Dewa spirit pernah saling bertemu dan membuat perjanjian bahwa keduanya akan menjalankan tugas bagian mereka masing-masing dengan baik. Dewa spirit percaya bahwa Raja dan keturunannya dapat dengan bijak menjaga negeri ini karena sebelum dibangun Kerajaan, pulau ini adalah tempat tinggal para roh spirit. Mereka mempercayakan sebagian wilayah tempat tinggal mereka kepada Raja untuk dijadikan hunian para manusia.
Dari pertemuan itu, Raja mendapatkan benda-benda keramat nan suci yang kemudian diletakkan di kuil untuk diagungkan dan dirawat baik-baik. Benda-benda itu mengandung kekuatan para spirit yang berguna sebagai pelindung Kerajaan Ethereal.
Satu permintaan dari Dewa spirit, yaitu tidak ada siapapun manusia yang boleh mengusik hutan Pixie itu karena hanya itulah satu-satunya sumber terkuat kekuatan para roh spirit, di sana pula lah tempat tinggalnya mereka. Ibaratnya hutan Picie itu adalah jantungnya. Oleh karena itu, Raja mengutus penyihir terkuat untuk menjaga hutan Pixie. Dan itu terus berlangsung hingga ke keturunan Raja yang sekarang.
Sebenarnya kedudukan tertinggi tidak dimiliki oleh Raja, tetapi oleh para roh spirit yang mulanya memang pemilik asli wilayah kerajaan. Namun, Dewa spirit telah meminta untuk dirahasiakan semua tentang mereka agar kehidupan kaumnya tidak terganggu. Jika ada yang berani melanggar, Dewa spirit sendiri telah bersumpah akan menenggelamkan negeri ini karena dialah yang mengendalikan alam seluruh Ethereal.
Itulah alasan dibalik tidak adanya sejarah tentang kerjasama antara Raja dan Dewa spirit dalam buku sejarah yang tersebar di Ethereal. Tentu saja istana masih menyimpan perjanjian itu dan juga sejarah lengkapnya.
Sejauh ini yang mengetahui sejarah lengkap terbentuknya kerajaan Ethereal hanya pihak istana (keluarga inti) dan pihak kuil (para pendeta besar) yang menjadi penjaga benda pusaka titipan Dewa spirit.
Quinn kesulitan mengatur pernafasan. Tubuhnya terasa mendidih, jantungnya terasa sakit saat berdebar. "Lady, kau baik-baik saja?" Finn kelihatan cemas saat Quinn meremas baju bagian dadanya.
Jadi, Raiden tahu soal aku yang memiliki hubungan dengan spirit?
Quinn menutupi mulutnya dengan telapak tangan karena dia tidak berhenti menganga syok.
Ibuku berasal dari Desa Pixie dan penjaga hutan. Apa mungkin ibuku mendapatkan kekuatan dari para roh spirit sebagai imbalan dari tugasnya menjaga hutan?
Rupert mengangkat kedua bahu ringan. "Saya belum pernah terpikirkan tentang itu, tapi setahu saya itu bisa saja terjadi. Tergantung pada roh spirit nya, mau atau tidak. Selain itu saya tidak tahu lagi karena saya bukan penyihir yang mengetahui konsep kekuatan atau semacamnya."
Raiden mempertahankan ku berada di sisinya adalah karena dia sadar aku memiliki kekuatan spirit dalam tubuhku.
Kedua tangan Quinn bergerak meremas roknya hingga menjadi sangat kusut.
Mata yang penuh ambisi itu... dia melihatku seperti puas dengan keberhasilannya membuka jalan pertama menuju impian besarnya saat tahu ada yang lain dengan mataku.
Rupert dan Finn saling lirik ketika melihat Quinn tersenyum lebar dengan mata yang dipenuhi kemenangan. "Hahahahahaha, menakjubkan. Ini sungguh berita yang luar biasa." gelak tawa Quinn yang sudah mirip seperti penjahat licik dan manipulatif membuat kedua lelaki itu bengong tidak mengerti. "Tuan Rupert, terima kasih banyak. Berkat bantuanmu sekarang aku bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam kepalaku."
"O-oh begitu kah? saya turut senang mendengarnya." Rupert mengedipkan kedua matanya cepat.
"Ah, dan soal Penelope. Anda berteman dengannya, 'kan?"
"Hm? bagaimana Anda bisa menyimpulkan begitu?"
Quinn menunjuk sesuatu di atas meja kerja Rupert. "Itu, aku tahu ciri khas buket bunga Penelope. Anda tadi menyebutkan namanya dengan sangat santai. Satu lagi, Anda mengajukan pertanyaan padaku seolah sedang membelanya dan menyudutkanku soal paman Vincent."
Rupert tetap tenang menanggapi kecerdikan Quinn yang selama ini tak pernah tergambar di wajah polos dan lugunya. "Anda seperti seorang detektif saja."
"Sebaiknya Anda tidak asal mengabulkan semua permintaan Penelope. Dia bukan pemikir panjang. Anda hanya akan jadi pihak yang dirugikan."
"Senang bekerja sama dengan Anda, Lady Shuvillian~. Sampai jumpa di lain waktu."
Quinn kemudian mengajak Finn untuk pergi, kurang lebih dia sudah mendengarkan semua jawaban untuk pertanyaannya selama ini. Hanya tinggal meminta Penelope yang mengirimkan semua bukti kejahatan ayahnya sendiri. "Kau akan segera pulang, 'kan?"
"Ya. Aku menghindari pengecekan. Besok aku akan menemui Pendeta Christian lagi."
"Kau ini super sibuk ya."
"Kau harus bergerak cepat untuk bisa menyaingi lawan yang licik." Quinn memijat tengkuknya yang terasa kaku akibat tegang yang ia rasakan sendiri. "Raiden sudah memegang posisi tertinggi yaitu sebagai Putra Mahkota, calon Raja masa depan. Tapi dia menginginkan kekuatan spirit sekaligus untuk menjadi yang terkuat, huh?" batin Quinn yang berasumsi kalau Raiden ingin mencapai posisi tertinggi dan terkuat yang perwujudannya nanti akan setara dengan Dewa.
Quinn menunduk sambil mengelus dagunya, "Itu arti dari peringatan Zacchaeus padaku? Zacchaeus bilang dia adalah Dewa spirit. Itu artinya dia sudah sadar bahwa salah satu keturunan Raja sudah mulai mengingkari perjanjian untuk saling menjaga perdamaian."
"Oh, benar juga. Tidak sembarang orang bisa melihat spirit. Jika Raiden tidak bisa melihatnya, dia tidak akan bisa berharap dapat menjangkau kekuatan spirit. Manusia seperti ku membuat tujuannya yang nyaris mustahil menjadi mungkin."
Quinn terus mengalirkan ide dan pendapat setelah keluar dari kantor pos. Sampai-sampai dis tidak mendengar panggilan Finn yang sudah hampir sepuluh kali. "Lady!" Quinn tersentak kaget saat Finn meninggikan suaranya.
"Ya?"
"Apa yang kau pikirkan sejak tadi? kau mau menabrak tiang di depanmu? aku tidak tahu ide macam apa yang kau punya sekarang, tapi sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku tahu. Kau terlalu banyak bicara."
Finn melirik gadis yang lebih pendek darinya itu, "Semakin kau dekati bahaya, semakin kau tidak akan tenang. Bersiaplah kehilangan rasa aman karena kau sudah mengusik seorang penjahat seperti Pangeran."
"Tujuanku adalah menggagalkan Raiden dalam mencapai tujuannya. Aku tidak butuh ketenangan atau apalah itu karena aku sudah cukup merasakannya dulu."
Pada akhirnya Finn hanya bisa pasrah dengan keputusan Quinn yang sudah paten. Finn sendiri bukannya ingin memiliki Raja yang ambisius seperti Raiden, tetapi Quinn masih memiliki banyak celah terbuka yang akan membuatnya mudah diserang balik. "Huh, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengabaikannya." kata Finn dalam hati sambil matanya menelisik ke dalam wajah datar Quinn.
Quinn yang merasa dipandangi sedari tadi jadi merasa risih. "Apa yang kau lihat?" tanyanya ketus.
"Tidak. Hanya saja aku sedang berpikir, apa kau masih memiliki keinginan pergi ke Desa Pixie?"
"Ya. Tidak dalam waktu dekat. Aku masih punya banyak urusan yang perlu ku selesaikan." Quinn menghembuskan nafas sedikit kasar. "Aku punya banyak PR yang mesti ku cicil mulai dari besok."
"Huh..." Finn menanggapinya dengan ******* pasrah. Tidak ada yang bisa menghalanginya, untuk apa mencoba membujuk?
Di dalam kantor, Rupert terus memandangi foto Quinn walau pikirannya sedari tadi mengingat tiap ekspresi yang dibuat oleh gadis berambut hitam panjang itu. "Ketua, mengapa kau memandangi foto Lady Quinn terus?" tanya gadis yang diketahui bernama Keela itu heran. Dia masuk ke dalam untuk mengantar teh.
"Hm, memangnya tidak boleh?"
"Bukan begitu. Apa jangan-jangan Ketua mulai tertarik kepadanya? yang benar saja. Anda mau mengkhianati Lady Penelope?" Rupert melebarkan senyuman lalu menjawab, "Oi, jangan berkata seolah aku ini pemain wanita. Aku hanya ingin mengenal lebih dekat sosok Quinn ini. Dia kelihatan sangat berbeda jika diamati dari dekat."
Keela merotasikan kedua bola matanya bosan, "Oh ayolah, orang yang disebelahnya itu berbahaya loh."
"Iya, iya, aku paham. Kau ini cerewet sekali, menganggu waktu berkhayal ku saja."
Keela mengerucutkan bibirnya tak terima dikatai cerewet. Dia duduk di sofa dalam ruangan sambil memandang tiga kantong uang koin emas. "Omong-omong, apa yang Lady Quinn selidiki? sepertinya dia tidak main-main sampai mengeluarkan dana sebanyak ini."
"Anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa. Oh, aku punya pekerjaan untukmu."
Keela tampak antusias menanti, "Apa?".
Sedangkan sekarang Raiden tengah berjalan santai menuju ke ruang bawah tanah yang hanya dia dan orang tuanya yang boleh memasuki ruangan. Ruang bawah tanah itu sangat terawat karena di sana tempat disimpannya barang-barang penting peninggalan raja terdahulu serta benda-benda suci yang berhasil Raiden ambil dari kuil.
Lelaki rupawan tersebut menaruh setangkai mawar hitam ke dalam vas kecil tepat di hadapan lukisan permaisuri, Ratu dari Kerajaan Ethereal yang telah tiada. "Selamat malam, ibu. Sudah lama aku tidak memberimu bunga."
Raiden mengarahkan lilin yang dipegangnya ke bagian atas lukisan, tepatnya ke lukisan bagian wajah sang Ratu yang notabene nya ibu kandung Raiden sendiri. "Aku sudah melangkah lebih dekat dengan tujuanku. Sudah ku bilang 'kan? aku akan mewujudkan mimpi yang ibu bilang mustahil itu."
Tangan besar lelaki itu bergerak membakar lukisan besar Ratu satu-satunya yang dipunya sebagai sebagian dari sejarah kerajaan. "Seharusnya ibu mendukungku sejak awal. Jika begitu, ibu tetap akan berada di sisiku dan melihat bagaimana aku menggapai ambisiku."
"Selamat tinggal. Aku tidak akan mengingat ibu lagi. Tidak ada jasa ibu yang ku rasakan sampai aku harus mengucapkan terima kasih." ujarnya dingin dan tak berperasaan. Tak ada tersirat kesedihan sama sekali. Raiden tidak memiliki kasih sayang untuk ibunya.
Api membesar melahap habis lukisan wajah Ratu yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi abu itu. Tatapan dingin Raiden sekarang tertuju pada kalung yang dia simpan di dalam sana.