I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 39



"Lady Shuvillian."


"Ya?"


Seseorang Ksatria datang ke kamar tamu memanggil Quinn.


"Yang Mulia Putra Mahkota memanggil Anda untuk datang ke rumah kaca, Lady."


"Baiklah."


Quinn setelah meminta pelayan istana mendandani nya ulang, dia jadi memiliki keberanian untuk keluar dari kamar itu. Butuh sampai empat lapis bedak agar bekas ciuman Raiden di lehernya tersamarkan.


Begitu sampai di luar istana, Quinn sadar ada yang tidak beres. Lima orang Ksatria yang memakai baju berbeda kini berjajar di depannya. "Penjagaan istana sedang diperketat, jadi demi keamanan Anda, mereka akan memandu Anda sampai ke sana. Pangeran sudah menunggu Anda di sana."


Aku tidak pernah melihat wajah mereka. Apa mereka sungguh anggota Ksatria istana?


Quinn tersenyum manis "Baiklah, terima kasih banyak sudah memperhatikan ku."


Bukannya ke rumah kaca, Quinn justru digiring menuju ke hutan belakang istana. Baik rumah kaca maupun hutan belakang, keduanya sama-sama tempat favorit Raiden dan dirinya untuk menepi dari aktivitas membosankan mereka.


Hutan itu gelap karena hanya mengandalkan cahaya alami dari bulan purnama saja. Sepi, tidak ada siapapun di sana selain mereka. Quinn menengok ke sana kemari, "Um, di mana Raiden? kenapa kita ke sini? tadi kalian bilang dia ingin aku menemuinya di rumah ka—"


Sriing


Begitu berbalik badan untuk menatap kelima pria yang mengantarnya tetapi seseorang sudah mencoba menusuk matanya. Untung saja reflek Quinn semakin bagus, dia bisa menghindar walau beberapa helai rambutnya teriris.


Salah seorang Ksatria itu tersentak kaget, "Bagaimana dia bisa menghindar? apa tadi itu kebetulan atau bukan?"


"Kenapa kalian menyerangku?" tanya Quinn sambil memasang wajah takut padahal dia berhasil menghindar dengan pijakan yang kuat.


"Maaf, Lady. Kami hanya mengikuti perintah."


"Siapa yang memerintah kalian?"


Ksatria yang tadi menyerang kini mencekik leher Quinn, dia melotot marah karena serangan pertamanya meleset. "Tenanglah, Lady Quinn. Hanya sekali tusuk saja."


Jleb


Baju Quinn bersimbah darah. Tidak ada respon darinya. Empat rekannya menghela nafas lega, lalu mereka berbalik hendak pergi, "Ayo kita pergi seka— eh?!"


Mata Quinn menyala terang di kegelapan hutan, "Pegang pedang mu dengan benar kalau ingin mendaratkan serangan padaku." ujarnya lalu mendorong tubuh itu ke belakang. Pedang yang ada dalam genggaman Ksatria itu entah sejak kapan berhasil Quinn rebut. "Nah sekarang aku baru bersenjata, kita imbang."


Yang gugur bukan Quinn, tetapi Ksatria kiriman Raiden. Empat teman lainnya terkejut bukan main, ini sungguh sangat berbeda dari yang Raiden jelaskan pada mereka. "Bagaimana Anda bisa melakukannya?!" keempat pria itu mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya.


"Kenapa? ini di luar perkiraan atasan mu?" Quinn menyeringai senang saat melihat empat pria itu menjadi tegang sebab Quinn sudah memasang kuda-kuda untuk menyerang. "Pilihan yang tepat untuk memakai gaun dengan belahan tinggi seperti ini."


"Kalian majulah bersama." titah salah seorang Ksatria yang tampaknya menjadi pemimpin di antara mereka berlima.


"Baik."


Tiga orang maju serentak.


Quinn lantas membuang pedang yang ia rebut dari Ksatria suruhan Raiden. "Vynx."


{Baik!!}


Spirit air yang telah berkontrak dengan Quinn itu muncul dan berdiri di atas telapak tangan Quinn. Dalam sekejap mata wujudnya berubah menjadi pedang silver yang berkilauan saat tertimpa cahaya bulan. "Aku sudah latihan keras untuk menguasai ini, aku harap kalian tidak mengecewakan ku dengan memberikan pertarungan yang membosankan."


"Apa itu tadi?"


"Cahaya nya menghilang..."


"Aku tidak percaya pada apa yang aku lihat."


Mereka bertiga saling berpandangan karena merasa sama-sama bingung. Sementara ketua mereka mendelik kaget dengan kecepatan Quinn, "awas!" pekiknya.


"Jangan mengalihkan perhatian dari musuh, dasar bodoh." Quinn menghunuskan pedang tepat di jantung Ksatria kedua.


"Argh!"


Kedua rekannya buru-buru melompat menjauh. Kali ini mereka lah yang menyerang pertahanan Quinn, dua pria itu mengepung dan memberi serangan bersamaan agar membuatnya kesulitan menghindar. "Hm, gerakan mereka sangat cepat. Sudah ku duga mereka bukan Ksatria kerajaan biasa." batin Quinn yang memang sungguh kesulitan mengimbangi gerak mereka.


"Hyaaaat!"


Kedua pria itu menyerang dari sisi kanan dan kirinya dalam waktu yang bersamaan.


"Benteng."


Sebuah cahaya biru milik Vynx bergerak membentuk tameng dan berhasil menangkis serangan keduanya dengan mudah. "Maaf, karena tidak ada wasit, aku akan bermain curang sampai akhir," Quinn menjulurkan lidahnya diiringi senyum meledek.


Pedang Quinn kini membelah menjadi dua.


"Cih. Kau hanya beruntung saja, Lady!" geram salah seorang pria. Dia langsung mengubah strateginya. Mereka tidak lagi mengikuti strategi yang sudah direncanakan melainkan bergerak liar dan terus menghujani serangan pada Quinn agar gadis itu kehilangan staminanya dan tidak bisa lagi melawan.


Mereka berdua benar-benar menggila. Kalau saja Quinn masih sama seperti yang dulu, mungkin dia sudah mati sejak tadi. "Tck. Tanganku masih kurang kokoh, aku tidak bisa bertahan lebih lama."


"Hahahaha jangan melamun ditengah pertarungan, Lady!"


Pria itu mengangkat pedangnya hendak menebas Quinn. Tiba-tiba sebuah bilah pedang yang dingin lebih dulu menembus dadanya. Pedang itu tertancap dalam sampai nyaris ikut mengenai Quinn.


Tubuh itu ambruk ke tanah dengan darah yang membanjiri akar pohon yang batangnya menjulang tinggi dibelakang Quinn. Barulah saat itu dia bisa melihat siapa yang telah membantunya, "Finn?!" sebutnya terkejut.


"Maaf, Lady. Aku datang terlambat."


Finn mulai ketakutan melihat wajah Quinn bersimbah darah, kedua matanya bergetar. "Lady, itu..."


"Tenanglah. Ini bukan darahku." Quinn mengusap darah di pipinya yang memang bukan miliknya.


Seketika Finn menghembuskan nafas lega. Dia merasa bersyukur karena datang tepat waktu. "Aku takut mengulangi kesalahan yang sama," gumam Finn. Dia takut tak bisa melindungi Quinn lagi.


"Kenapa kau ada di sini? sudah ku bilang untuk segera pulang setelah itu."


"Aku ingin memberitahu mu sesuatu, tapi aku tidak dapat menemukanmu. Lalu aku mendengar suara adu pedang dari sini." Finn menatap tajam dua manusia yang tersisa. "Biar aku yang tangani mereka, kau kembalilah ke istana."


Pemuda berusia dua puluhan yang merupakan pemimpin empat Ksatria lain mendecih kesal. "Kau hanya mengganggu. Aku tidak punya urusan denganmu."


"Julukan ku adalah pengganggu ulung. Siapa yang telah memerintah kalian?!"


"Bukan urusanmu!"


"Kalau begitu, mari bicara dengan pedang saja."


Finn menyambar pedang Ksatria yang telah menjadi mayat itu dan menyerang ketua mereka. "Lady, kau pergilah. Aku akan menangani ini sendirian."


Quinn mengangkat satu alisnya sambil menatap satu lagi Ksatria yang tengah memandangnya. "Aku ingin bereksperimen sekali lagi, tapi ada Finn di sini." lirihnya yang merasa tidak puas.


"Lady, lawanmu adalah aku. Jangan pikir kau bisa kembali hidup-hidup."


"Begitu? ya, aku mengerti." jawab Quinn santai. Dia mengangkat pedangnya lagi, "ada kata-kata terakhir untuk kau sampaikan pada atasan mu? aku akan menyampaikannya," seringai Quinn memancing amarah pria itu.


"DASAR WANITA MURAHAN!"


Dengan bantuan matanya dan juga Vynx, Quinn bisa dengan jelas melihat ke mana mata pedang itu mengarah sehingga dia bisa dengan mudah menghindari tiap serangan yang dilayangkan oleh pria itu.


Quinn sengaja tidak mengelak dari satu serangan dan akhirnya lengannya terluka dan dia limbung. "Lady!" Finn terkejut melihat Quinn jatuh ke tanah.


"Hahahaha sekarang lihat siapa yang besar mulut!"


"..."


Dia mengangkat tinggi-tinggi pedangnya hendak menghunus Quinn dari atas. "Huh, pertahanan mu terbuka." Quinn dengan mudah menusukkan pedang spiritnya dan menumbangkan orang itu tanpa perlu melakukan perlawanan yang berat.


"Tidak ada istimewanya." Quinn mengatur nafasnya yang masih memburu.


Vynx sekarang sudah mengambil wujud peri nya lagi, dia tampak khawatir dengan luka di lengan Quinn.


{Aku akan membantu menyembuhkanmu, Quinn}


"Tidak usah. Aku sengaja—" Tiba-tiba Quinn memuntahkan darah cukup banyak. Dari bekas luka pedang itu mulai menjalar warna keunguan yang merambat naik hingga ke leher nya.


{Itu racun mematikan! Quinn, kau harus disembuhkan sekarang juga—}


"Biar dia yang menyembuhkan ku." Quinn menunjukkan cengiran lebar penuh percaya diri.


*


*


{Huh, kau sebegitunya ingin bertemu denganku?}


Quinn mengangguk sebagai balasan, "Kalau aku tidak terluka kau tidak akan muncul."


{Kau membahayakan nyawamu sendiri, tahu}


Zacchaeus mengulurkan tangan menyentuh luka Quinn, dan cahaya mulai menyelimuti luka tersebut. Perlahan-lahan racun yang menjalar hingga ke setengah bagian tubuh Quinn terhenti.


"Ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan langsung padamu. Bisa tolong jawab aku?" Lelaki berambut keemasan itu mendengus pelan. Sifat tidak sabarannya sungguh mirip seperti Sirena.


{Kau tidak memiliki cukup energi spirit untuk bicara denganku terlalu lama karena berbicara dengan ku membutuhkan energi cukup banyak. Kita hanya memiliki waktu dua menit untuk bicara. Aku harap kau tidak mengajukan pertanyaan yang jawabannya terlalu panjang jika kau punya banyak yang ingin ditanyakan.}


Quinn menunjuk kalung yang masih melingkar di lehernya, "Kalung yang ku pakai ini. Apa gunanya? mengapa Raiden memaksa ku untuk memakainya?"


Zacchaeus membeliak kaget melihat kalung tersebut.


{Aku kira itu disimpan di kuil Eternity— ah sekarang sudah berubah nama menjadi Santis, ya. Itu kalung pemberian ku sebagai tanda perjanjian antara aku dengan Raja pertama, Louis.}


"Ini ada ditangan Raiden dan dia memintaku untuk memakainya."


{Kalung itu bisa menjadi wadah untuk kekuatan spirit. Bisa juga digunakan untuk menyerap energi dari inangnya. Itu sebabnya dia memasangkan kalung itu padamu dan mencoba membunuhmu.}


Quinn tidak terlalu terkejut dengan kenyataan bahwa Raiden berniat membunuhnya, toh itu sudah pernah terjadi sekali. "Haha, jadi dia sungguhan ingin kekuatanku."


{Dengar, Quinn. Dia itu ingin menjadi Dewa. Dia mungkin ingin menguasai kekuatanmu untuk menambah kekuatannya.}


"Eh? kekuatan? Raiden juga memiliki kekuatan spirit?"


Zacchaeus menggaruk pelipisnya sembari mengalihkan pandangan dari Quinn.


{Dia juga bisa melihat spirit sama sepertimu. Aku yang memberikan kekuatan itu pada tiap generasi Louis yang memang memiliki potensi besar untuk memakmurkan negara nya. Tapi seperti yang sudah ku duga, manusia memang sangat mudah berkhianat. Mereka akan segera berpaling dan mengingkari janji begitu melihat kekuasaan.}


"Kalau begitu, dia bisa 'kan mengambil sendiri kekuatan spirit? mengapa harus dari aku?"


{Dia menginginkan energimu karena kau termasuk keturunan ku. Kau punya koneksi yang kuat denganku dan dia ingin setara denganku. Aku sudah mengingatkanmu agar tidak berdekatan dengan bocah itu.}


"Keturunan apa maksudmu?" Quinn menunduk untuk berpikir lebih dalam, "lalu mengapa Raiden membunuhku di masa lalu? saat itu aku tidak memakai benda suci pemberian Dewa."


{Kau gagal membangkitkan kontrak. Melihat spirit saja kau tidak bisa, itu sebabnya dia lebih baik membunuhmu karena dia tidak ragu membuang manusia yang tak bisa digunakan lagi.}


Quinn sekilas melihat wajah ibunya dengan jelas. Senyuman lembut nan hangat Sirena membuat degup jantung Quinn lebih kencang terasa, kesedihan menjalar dalam lubuk hatinya. "Vynx tidak mau menjawab pertanyaanku yang ini, tapi kau tahu soal ibuku? Ayahku bilang dia dulunya penjaga hutan."


Zacchaeus tersenyum ambigu, dia mengelus puncak kepala gadis yang kebingungan itu untuk memberi ketenangan.


{Waktunya habis. Aku akan menjawabnya saat kita bertemu lagi, aku janji. Jaga dirimu baik-baik, Quinn}


*


*


"Lady...."


"Lady Quinn...?!"


Perlahan namun pasti kelopak mata Quinn mulai terbuka menampakkan kedua iris coklat keemasannya yang bersinar.


{Lady!}


Finn saat ini tengah memangku tubuh dingin Quinn. Pemuda yang dulunya seorang guru itu merasa amat sangat lega, "Akhirnya kau sadar. Aku pikir kau akan berakhir di sini."


"Kata-kata mu kejam sekali untuk diucapkan pada seseorang yang baru saja sekarat."


"Kau tadi sengaja membiarkan dia melukaimu, iya 'kan? apa sebenarnya tujuanmu melakukan ini?"


Quinn tidak menjawab pertanyaan Finn, dia melirik Vynx yang masih berada di dekat wajahnya. Finn sama sekali tidak melihatnya.


"Aku membutuhkan luka ini."


"Huh? untuk apa?"


Quinn beranjak dari pangkuan Finn. Gaunnya masih bersimbah darah begitu juga dengan lengan dan wajahnya. "Ini sudah lebih dari cukup," Quinn meletakkan pin berlambang rajawali milik keluarga Marchetti ke tiap tubuh para Ksatria itu dan menjatuhkan bros milik Penelope di sekitar sana.


Finn memelotot tak percaya, "L-Lady, jangan bilang Anda ingin menjebak Lady Penelope dan Ayahnya?"


Quinn memandang Ksatria pribadinya datar, ekspresinya sudah cukup menjelaskan bahwa dia tidak peduli apa pandangan Finn terhadap dirinya. "Aku bukan orang baik. Jika kau mau meninggalkan aku, tidak masalah. pergilah sejauh mungkin supaya kau bisa hidup nyaman."


Pemuda berkulit sawo matang itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Huh, aku sama sekali tidak berpikir begitu. Setidaknya jelaskan sesuatu padaku agar aku mengerti dan aku bisa membantu mu dengan sebaik-baiknya," diluar dugaan, Quinn tidak pernah membayangkan Finn akan bisa serius seperti sekarang. Sorot matanya di penuhi kesungguhan.


"Aku mungkin akan jatuh ke jurang terdalam bumi. Selagi sempat, sebaiknya kau buat keputusan sekarang juga."


"Kalau begitu aku akan mengikutimu. Mau kau terjun ke lembah gunung berapi pun aku tidak akan ragu masuk bersamamu. Aku 'kan sudah mengambil sumpah untuk setia dan melindungi mu apapun yang terjadi."


Quinn diam membisu mendengar pengakuan Finn.


"Aku mencarimu karena Tuan Gray bilang dia belum bisa menemukan satu tanaman pelengkap untuk membuat penawar racunnya."


"Lebih tepatnya, tanaman apa itu?"


Finn mengingat kembali apa saja yang disampaikan oleh dokter istana itu, "Dia hanya bilang tanaman langka itu hanya tumbuh di sekitar pegunungan, tapi sejauh ini tanaman itu tidak pernah tumbuh di Helldelune."


"Ah, serahkan saja padaku. Aku bisa mencarinya dengan mudah."


Finn melongo heran, "Kau 'kan tidak pernah ke hutan. Bagaimana kau akan menemukannya? itu tidak mudah. Jangan bilang kau mau meminta bantuan Rupert lagi."


"Aku punya teman yang lebih berguna dari Guild Blackrose."


Senyuman Quinn yang sulit diartikan membuat Finn kembali kehilangan akal. Pasalnya selama ini dia berusaha mengimbangi pemikiran Quinn, tetapi tetap saja tertinggal. "Apa aku memang sebodoh ini sejak dulu? rasanya baru sekarang aku merasa sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa seperti seorang bayi." pikir Finn.


Quinn menoleh ke arah jalan setapak yang mengarah lebih jauh ke dalam hutan. Matanya bergerak cepat menyisir tiap jengkal pepohonan di sekitarnya.


Aku melihat di sini ada satu spirit lagi tadi. Aku yakin dia spirit hutan ini...


"Apa yang kau lihat sejak tadi?"


"Tidak. Aku perlu kembali untuk membuat keributan."


"Keributan?"


Quinn menyeringai licik, "Rasanya aku perlu menghancurkan momen bahagia Raiden malam ini."