
"Quinn! Apa yang kau lakukan di luar? apa kau tidak bisa beristirahat sebentar saja?!"
Bastien membentak Quinn sesaat setelah dia tertangkap basah keluar dari istana Lombardia diam-diam sampai membuat seisi rumah panik. Bastien tidak sepenuhnya marah, dia hanya terlalu khawatir akan terjadi hal buruk lagi pada Quinn.
"Maaf, kakek. Aku ingin menjenguk Penelope, aku dengar dia sedang sakit."
"Tetap saja itu bukan alasan yang bijak! kau tahu 'kan betapa cemasnya kami saat tahu kau tidak ada di rumah?!"
Quinn terkejut melihat wajah marah kakeknya. "Kakek kelihatan sangat lelah, apa kakek tidak tidur semalaman?"
Vincent menghampiri mereka, dia ingin memprovokasi Bastien agar memarahi keponakannya itu dengan lebih besar. "Kau memang tidak sopan. Ayah sedang membahas sesuatu, tapi kau mengalihkan topik."
Bastien memicing menatap putra sulungnya, "Sebaiknya kau tidak dekat-dekat dengan Quinn. Jika aku sampai melihat kau mendekatinya, aku akan mengusir mu dari sini," gertak Bastien yang mampu membuat Vincent dan Quinn sama-sama bingung.
Ada apa dengan kakek? apa dia juga mendengar ucapan Paman tadi malam?
"A-ayah, mengapa kau tiba-tiba membentak ku? aku hanya mencoba menasihati Quinn. Dia sudah berbuat tidak sopan para kita yang tua, kita mencemaskan nya tapi dia begitu seenaknya," sahut Vincent mencoba membela diri.
"Aku tahu," Bastien menghela nafas berat. "Quinn, kembali ke kamarmu. Jangan keluar tanpa seizin dariku. Jika kau sampai menghilang lagi dari sini, aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman padamu, mengerti?!" tegas sang kepala keluarga Lombardia itu tak main-main.
"Aku mengerti, kakek. Maaf, aku akan kembali sekarang."
Quinn menyadari ada yang lain dari sikap Bastien hari ini. Dia letih, tetapi kekhawatiran dan rasa kalut pikirannya terlalu besar untuk dikesampingkan. Bastien yang biasa menahan diri untuk tidak pernah meninggikan suara ke orang lain sekarang kelihatan sedang lepas kendali. "Apa yang terjadi padanya?" gumam gadis itu bingung, tetapi beberapa detik kemudian dia mendapat ide.
Quinn langsung masuk ke kamar dan langsung memutar arah ke perpustakaan. "Tuan Evan, selamat pagi."
Saat ini Butler pribadi Bastien itu tengah memilih beberapa buku untuk dibawakan ke kantor Bastien. Pria itu tersentak kaget, "Lady, selamat pagi. Apa Anda butuh bantuan?"
"Sebenarnya tidak, tapi apa kau tahu kenapa kakek kelihatan sangat gusar? dia baru saja memarahiku seperti aku telah membuat kesalahan besar."
Evan tersenyum "Beliau hanya khawatir Anda akan diserang lagi, Lady. Yang Mulia Grand Duke sejak semalam membantu Putra Mahkota menyelidiki kasus yang menimpa Anda."
"Hm, begitu rupanya. Apa Paman juga membuat kesalahan?"
Evan membenarkan kacamata yang bertengger di hidung mancung nya, "Saya rasa tidak. Viscount Vincent terus sibuk dengan kegiatannya sendiri. Mengapa Anda bertanya?"
Ya karena aku tidak tahu. Kau pikir aku bertanya karena apa?
"Aku penasaran saja. Maaf sudah mengganggumu."
Quinn kembali ke kamarnya untuk menyusun tiap dokumen yang sudah dia dapat dari Penelope, semua sudah lengkap mulai dari data pembangunan panti asuhan hingga pengelolaan nya selama beberapa tahun berjalan. "Aku ingin ke Verenity, tapi kakek akan memperbolehkan ku?"
Gadis bertubuh langsing itu merebahkan diri di sofa panjang di kamarnya, "Raiden tidak datang ke sini. Apa rencana yang akan dia lakukan selanjutnya? apa dia sudah mendengar tentang Firman Dewa yang turun?"
Saat ini Vincent ikut masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Sejak tadi dia masih memikirkan sikap Bastien yang lebih ketus dibanding kemarin, "Ayah, apa aku membuat kesalahan?" tanya Vincent penasaran.
Bastien menatap tajam putra pertamanya itu "Kesalahan? ya, kesalahanmu adalah terlalu mengedepankan emosi. Sejak dulu aku sudah khawatir kalau kau tumbuh menjadi berandalan dan sekarang itu benar terjadi."
Vincent mengernyit tidak mengerti, "Apa maksud Ayah bilang begitu?"
"Aku ingin bertanya satu hal padamu. Apa kau membenci Savero sampai detik ini?" Vincent tak menjawabnya. Dia paling tidak suka membahas hubungan keluarga, baginya semua ikatan itu hanya pengekang. "Uruslah masalahmu dengan dewasa, aku tidak bisa membantumu kalau-kalau nanti terjadi masalah besar yang menimpa dirimu."
Ekspresi Vincent berubah datar, "Aku tidak mengerti mengapa Ayah tiba-tiba membahas ini. Yah, tapi aku tidak kaget. Aku sudah membayangkan suatu saat Ayah pasti akan mengatakan ini. Fakta bahwa aku dan Ayah sama sekali tidak memiliki hubungan darah tidak akan berubah sampai kapanpun, dan aku tidak menyalahkan kalau Ayah telah kehilangan kasih sayang untukku."
"VINCENT!" bentak Bastien tak terima. "Ini tidak ada hubungannya dengan darah. Kau tetap putraku, mau kau menyangkalnya kau akan tetap jadi putraku. Aku hanya memperingatkan mu sebagai seorang Ayah yang seharusnya. Kau telah salah sasaran dengan melampiaskan kecemburuanmu pada anak-anak."
"Aku sebenarnya tidak benci pada Savero. Aku hanya tidak suka karena dia memiliki semuanya."
"Kau juga bisa memiliki segalanya kalau kau mau sedikit lebih berani menghadapi rasa sakitmu, Vincent."
"Terserah saja. Ayah sepertinya sedang banyak pikiran, jadi aku tidak akan mengganggu lebih jauh. Aku akan pergi menjenguk Penelope." jawab Vincent acuh.
Brak
Vincent membanting pintu ruang kerja Bastien dan membiarkan ruangan menjadi lengang. Pria berusia tujuh puluhan itu mengontrol pernapasan nya, "Aku tidak percaya Vincent melakukan ini..." gumamnya seraya menggenggam erat bukti emblem Rajawali di tangannya.
"Kakek? bolehkah aku masuk?"
Bastien buru-buru memasukkan plastik klip itu ke dalam kantong jas nya. Dia menatap cucunya yang sudah muncul setengah badannya di pintu, "Quinn, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk istirahat? kau ini keras kepala sekali."
"Aku membuatkan teh untuk kakek. Aku dengar teh lavender bisa mengurangi tekanan stress."
Quinn dengan senyum manis nya menghampiri meja Bastien dan menyajikan teh berwarna sedikit keunguan yang masih mengeluarkan uap di atas meja. "Minumlah, kakek. Keriput di wajah kakek jadi kelihatan lebih jelas, tahu."
Bastien mau tidak mau tersenyum mendengar ejekan ringan dari Quinn, "Kau ini. Terima kasih sudah membuatkannya untukku padahal kau sendiri masih sakit."
Quinn menggeleng pelan, "Kakek harusnya lebih memperhatikan kesehatan kakek sendiri. Aku datang ke sini karena ingin membantu sesuatu yang kiranya bisa aku lakukan."
Pintu lagi-lagi terbuka dan menampakkan Evan dengan tiga buku tebal di tangannya, "Yang Mulia Bastien, saya sudah membawakan semua buku yang Anda butuhkan."
"Oh, seperti biasa, kau sangat gesit. Terima kasih," Bastien langsung melontarkan pujian untuk kerja Evan. "Aku melupakan bagian pentingnya, aku memerlukan beberapa data anak-anak yang sudah menerima obat minggu lalu. Aku ingin mengecek apakah obat itu sudah bereaksi atau belum."
"Akan saya sediakan, Yang Mulia."
Evan menuju ke salah satu lemari berisi berkas-berkas yang sudah tersusun rapi dalam kotak masing-masing. Dia tampak sudah menghafal semua tata letak tiap dokumen sampai Bastien tidak sampai membuang waktu dengan menunggu terlalu lama.
Sesekali pria yang merupakan mata-mata Raiden itu sesekali melirik teh bawaan Quinn seakan tengah mengantisipasi, "Itu belum di minum sama sekali."
Quinn ikut memperhatikan data yang Bastien kerjakan, "Sudah hampir seluruhnya yang sembuh, ya? untunglah obatnya manjur."
Bastien mengangguk senang, "Ini semua berkat bantuanmu, Quinn. Sebenarnya aku sangat ingin berterimakasih langsung pada pembuat obat ini, tapi kenapa kau tidak memperbolehkan ku menemuinya?" tanya nya bingung.
"Dia itu sangat tidak menyukai seorang bangsawan, kakek. Aku saja harus berbohong agar dia mau menolong," dusta nya demi kebaikan Christian.
"Hm, begitu ya. Tidak apa-apa lah, aku sudah tidak perlu khawatir lagi. Bukannya jadwal kita besok mempromosikan sabun untuk masyarakat? kau sudah dapat agen yang cocok?"
"Belum. Aku akan mencarinya nanti."
"Nanti? kau mau keluar lagi? ya sudah, biar aku saja yang mencari. Kau diam saja di rumah."
Quinn mengerucut bibirnya, "Kakek pelit sekali. Kalau begitu, aku bisa keluar melihat prajurit kakek berlatih, 'kan? aku bosan kalau harus mengurung diri di kamar."
"Baiklah, baik, silakan saja."
"Asyik! terima kasih, aku sayang kakek~"
Quinn bergegas keluar sebelum pikiran Bastien berubah. Dia kembali ke kamar untuk mengatur nafas nya, matanya berkilat penuh kepuasan. "Hahaha, aku tidak bisa menahan perasaan yang menggebu-gebu ini," gadis itu bersandar di pintu kamar, "Ternyata kakek yang akan menyelidiki Paman secara khusus, pantas saja tadi dia marah-marah tanpa alasan. Ini ustru akan mempermudah ku menyingkirkan Paman dari rumah ini."
Quinn menuju meja rias nya sendiri, memandang wajah cantik nan manis nya dalam diam. Matanya semakin lama semakin berubah. Dulu warna mata asli Quinn adalah biru langit, sekarang corak coklat keemasannya mulai melebar dan terlihat seperti hampir keseluruhannya begitu. "Aku sudah berhasil memanggil Zacchaeus dua kali, mungkin itu sebabnya warna ini semakin pekat."
Tangan nya merogoh laci meja rias dan mengeluarkan sebuah gunting. Quinn mengarahkannya pada leher, "Sebatas ini saja atau bagaimana?"
Emily panik duluan karena mengira Quinn ingin melukai dirinya sendiri. Dia memperpanjang langkah demi cepat sampai kepada Quinn.
"Kenapa kau heboh sekali? aku hanya ingin memotong rambutku saja."
Tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya, Quinn langsung memotong rambutnya hingga sebatas bahu. "Yang Mulia! mengapa Anda memotong rambut Anda? padahal Pangeran sudah meminta Anda untuk merawatnya, dia menyukai Anda dengan rambut panjang ini..." Emily takut terkena amukan kepala pelayan karena tidak bisa menjaga majikannya dengan benar.
Quinn tersenyum tanpa dosa, "Bukankah itu justru menjadi alasan yang kuat untukku memotong rambut?" ujarnya merasa puas karena kepalanya terasa lebih ringan, "Ini rambutku jadi aku yang berhak memutuskan."
Emily memungut sisa rambut yang bertebaran di lantai. Jujur dia sempat terkesima saat menyentuhnya, rupanya rambut bangsawan wanita selembut ini.
"Emily, katakan padaku. Apa perintah Raiden untuk kalian saat ini?"
"Tidak ada, Yang Mulia. Seperti kemarin, kami masih harus mengawasi Anda dan melaporkan semua kegiatan yang Anda lakukan padanya."
Quinn bergumam sambil merapikan potongannya sendiri. Malam ini dia harus keluar untuk memastikan bunyi Firman Dewa yang entah mengapa bisa sampai menghebohkan Helldelune. "Kalau begitu, nanti malam aku butuh kau menyamar jadi aku lagi."
Gadis muda itu melotot kaget, "Anda mau keluar lagi, Yang Mulia? Grand Duke saja sudah melarang Anda untuk—"
Quinn mengangkat tiga jarinya ke depan wajah Emily, "Aku akan berikan tiga perhiasan ku padamu. Bagaimana? penawaran yang bagus bukan? satu perhiasan ku saja bisa untuk membeli makananmu selama satu tahun. Kau bisa menggunakan sisanya untuk belanja gaun dan segalanya, iya 'kan?"
Emily menelan ludahnya, tergiur akan penawaran yang Quinn berikan. "T-tapi, Yang Mulia... nanti malam Grand Duke pasti akan memeriksa Anda."
"Kau 'kan yang akan menggantikan aku. Tiga detik. Pikirkan kau mau menerimanya atau tidak. Satu..."
"Dua..."
"Ti—"
"Baiklah, Yang Mulia. Tapi mari buat perjanjian."
"Apa?"
"Anda hanya punya waktu satu jam saja di luar. Lebih dari itu saya tidak bisa membantu."
"Ya, ya, ya. Aku mengerti. Satu jam."
*
*
"Vanna, bagaimana dengan Penelope? dia sudah makan?"
Tanya Savero yang telah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Bastien lagi, dia telah berjanji pada ayahnya untuk membantu mempromosikan produk ke beberapa agen penjualan dan sekaligus meminta surat resmi perizinan bisnis yang sudah Bastien daftarkan sejak kemarin.
"Ya, Yang Mulia. Tadi beliau sudah makan."
"Kau sudah cek sakitnya?"
"Soal itu... Tadi Lady Quinn yang memberikan obat pada Lady Penelope, Yang Mulia."
Savero tersentak kaget, dia menoleh ke Vanna dengan cepat. "Apa kau bilang? Quinn tadi kemari?"
"Ya, Yang Mulia. Dia pulang dan berada di kamar Lady Penelope hanya kurang lebih setengah jam saja."
Perhatian mereka teralihkan begitu Vincent masuk ke dalam rumah dan membuka pintu dengan kasar. "Di mana putriku?" tanya nya sedikit nyolot.
Savero mengernyit, "Ada di kamarnya," jawabnya sambil memperhatikan mimik wajah kakak sulungnya itu. "Dia sedang sakit. Sebaiknya biarkan dia menginap di sini dulu sampai keadaannya membaik."
Vincent yang datang ke rumah orang dengan cara tidak sopan itu sekarang memicing tajam memandang sosok Savero, "Tidak usah mencampuri urusanku. Kau ini selalu saja membuat segalanya menjadi sulit bagiku."
Apa yang salah dengannya?
Vincent tidak mengetuk pintu itu dengan pelan, "Penelope! Penelope! cepat keluar sekarang! ini aku, Ayah mu!" sentaknya dari luar pintu masih dengan mengetuk tidak sabaran, "Penelope! apa kau tuli?!"
"Kakak! Apa kau masih tidak mengerti, dia itu sedang—"
Vincent menepis tangan Savero dengan sangat kasar, "Jangan sentuh aku! Kau pikir kau saja yang punya rumah, huh?! dia bisa lanjut istirahat di rumahnya sendiri. Untuk apa menumpang seperti pengemis! Penelope!"
Di dalam kamar, Penelope sedang meringkuk ketakutan mendengar suara Ayahnya yang menggelegar pertanda dia sedang marah besar dan butuh pelampiasan.
"A-aku tidak mau dipukuli lagi...bekas cambukan ini saja belum kering. Paman, tolong aku!" dia terus memohon agar Savero membantunya lepas dari amukan ayahnya.
"Kau terlalu keras padanya. Dia sungguh tidak bisa bergerak dari atas ranjang." Savero masih berusaha sabar menghadapi kakaknya yang selalu mengedepankan emosi.
"Jangan nasehati aku seolah kau adalah orang tua paling baik di dunia! kau sendiri tidak bisa mengajari putrimu sopan santun!"
Rahang tajam Savero mengeras. Dia sejak tadi sudah berusaha untuk tidak terbawa suasana.
Vincent kini menatap adiknya dengan benar "Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ya kau senang sekali membuatku kelihatan buruk? apa sebegitunya kau merasa tersaingi olehku?"
"Apa maksudmu bicara begitu?"
"Aku muak selalu direndahkan karena kau! memang darah dan kepintaran Ayah hanya mengalir dalam dirimu! lalu apa?! apa aku tidak berhak mendapatkan secuil kebahagiaan?!" Vincent tiba-tiba mencengkram kuat kerah baju Savero dan mendorongnya ke dinding di belakangnya.
Savero menghela nafas panjang, "Jika kau ingin ribut, sebaiknya kau cari orang yang tepat. Aku tidak sedang membahas darah atau apalah itu. Penelope sedang istirahat, sebaiknya kau pulang."
"Kenapa kau selalu sempurna dalam segala hal? apa kau boleh begitu serakah? aku muak hidup dalam bayang-bayang dirimu."
"Dan aku tidak pernah menyudutkan mu tentang itu. Aku melakukan apa yang perlu aku lakukan."
"Dengan membuatku kelihatan lebih buruk?"
"Tidak. Kau sendiri yang menunjukkan itu pada orang lain, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan reputasi mu."
Memang begitu adanya, 'kan? Savero melakukan apa yang perlu dia lakukan sebagai kepala keluarga sekaligus pebisnis. Jika Vincent mendengar banyak orang yang membandingkan kesuksesan dua bersaudara tanpa ikatan darah itu, maka itu salahnya sendiri karena Vincent sama sekali tak berniat maju tapi malah terpuruk dalam sisi gelap semakin dalam.
Siang itu pertengkaran antar saudara terjadi di sana. Tentu saja Savero yang memenangkan argumen. Mereka berdua tidak akan berhenti berkelahi kalau saja tidak ada yang mencoba melerai. Bahkan Penelope yang tetap berlindung di dalam kamar ikut berteriak kepada ayahnya untuk berhenti mencari masalah.
"Kau kelihatan sangat buruk, kak. Lebih baik kau jernihkan pikiranmu di tempat lain. Aku sibuk." Savero membenarkan pakaiannya lagi, "Hiduplah dengan baik. Jangan sampai kau merusak hidupmu sendiri dan menyalahkan orang lain atas itu. Sungguh tidak tahu diri."
Savero pun tahu bahwa dia dan Vincent sama sekali tidak memiliki hubungan darah, tetapi itu tidak menutupi kebenaran bahwa mereka tumbuh bersama seperti saudara kandung yang saling menyayangi dan saling tolong menolong. Baik Savero maupun Bastien, keduanya tidak pernah membedakannya dan menganggap Vincent itu orang luar.
Hubungan Savero dan Vincent menjadi renggang sejak mereka menginjak usia remaja dan terlibat urusan rumit mengenai cinta.
"Jika dia pergi, biarkan saja."
Hanya itu pesan yang Savero titipkan pada Butler pribadinya.