I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 36



Penelope saat itu baru saja pulang dari toko perhiasan. Vincent sendirilah yang telah memberikan uang padanya dan memaksa Penelope membelanjakan uang tersebut untuk membeli perhiasan sebagai penyempurna penampilannya nanti di pesta hari jadi Raiden.


Lily adalah orang yang paling berkontribusi dalam pemilihan model perhiasan untuknya, mereka berdua jadi saling melempar candaan tentang kejadian saat di toko dan baru berhenti ketika melihat keheningan di dalam mansion lebih terasa.


"Ben, Ayah kemana?"


"Viscount sekarang sedang pergi ke Helldelune, Lady. Beliau bilang ingin mengunjungi keluarganya."


"Oh begitu, ya. Apa dia akan menginap malam ini?"


"Saya rasa begitu, Lady."


Penelope masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan was-was. "Perhitungan Quinn benar lagi. Apa yang sedang Ayah rencanakan? aku tidak tahu sama sekali."


"Oh iya..."


Penelope mengambil kertas surat dari dalam laci mejanya.


..."Paman Vincent mungkin akan mencoba menyudutkan ku dan menyuruhku untuk menjauh dari Raiden. Entah kapan akan terjadi, tapi aku yakin Paman Vincent pasti akan datang....


...Biar aku yang menangani Paman. Kau carilah dokumen mengenai bisnis yang selama ini Ayahmu kerjakan, usahakan cari yang berkaitan dengan perang dan data panti asuhan. Jika kau sudah dapat, cepat kirimkan padaku."...


^^^— Quinn^^^


Penelope mengendap-endap masuk ke dalam kantor kerja Vincent ketika Lily mengalihkan perhatian Butler pribadi yang melayani kepala keluarga Marchetti.


Sudah lebih dari setengah jam Penelope mengobrak-abrik seisi ruangan, tetapi tidak ada yang mencurigakan. Isi laci nya pun hanya beberapa dokumen biasa yang belum selesai dikerjakan.


"Ini apa?" Penelope mengecek tumpukan dokumen yang terjepit di sela-sela dua rak buku, "Sepertinya ini tidak sengaja terselip," gumamnya sembari menarik keluar kertas tersebut.


"Um, upacara kelulusan dua puluh anak panti tahun lalu...?" ucap Penelope mengikuti apa yang tertulis di atas kertas.


Mungkin ini yang dimaksud oleh Quinn


"Bawa sajalah."


Pada awalnya Penelope akan kembali ke kamarnya lagi setelah menemukan kertas tersebut, tetapi dia ingat bahwa Quinn memintanya untuk mencari data yang diperlukan di perpustakaan bila perlu. "Walaupun dia bilang begitu...aku tidak yakin bisa masuk ke dalam perpustakaan itu."


Perpustakaan keluarga Marchetti memiliki ruangan rahasia yang hanya bisa dibuka menggunakan cincin kepala keluarga. Dulu Penelope pernah melihat Ayahnya masuk ke dalam sana sambil membawa satu tumpuk dokumen, ia pikir itu adalah gudang tempat menyimpan berkas yang sudah tidak diperlukan lagi. Namun sekarang setelah diingat-ingat lagi gerak-gerik Vincent yang sangat awas ketika hendak membuka pintunya membuat Penelope berpikiran lain.


"Perpustakaan itu tempat umum yang akan dikunjungi oleh semua orang di rumah ini. Jika Ayah sampai punya ruang rahasia itu artinya memang ada yang pria itu sembunyikan."


Gadis pemilik tubuh proporsional itu berbalik ke dalam lagi dan mencari cincin kepala keluarga yang biasa dipakai Vincent. "Tidak ada. Bagaimana caraku menerobos masuk ke sana?"


Selagi Penelope berjuang mencarikan bukti-bukti kuat untuk Quinn, Quinn sendiri sedang mengecek semua jangkauannya sekarang. Finn sudah meninjau seberapa banyak perkembangan dalam bisnis nya sejauh ini.


Vivy sudah hampir selesai menjalani pelatihan dengan Christian, pabrik juga sudah selesai dibangun dan hanya tinggal melengkapi bagian isi, untuk sementara Quinn hanya tinggal menunggu sampai semua barang yang dibelinya selesai di susun. Quinn juga mendapat surat dari Oddeth bahwa dia telah menerima undangan untuk datang ke pesta ulang tahun Raiden sebagai salah satu dari kaum elit.


Selain itu, Gloria dan suaminya kini mendapat penghasilan lebih besar dari memasok pupuk yang dibantu oleh Izeqiel untuk memasarkan nya. Semua orang yang dia tolong telah menemukan kemudahan hidup mereka dalam mendapatkan uang. Rasa bersalah dalam hatinya sudah terasa lebih ringan.


"Christian tidak pernah menyinggung soal Gray. Biasanya murid yang sangat mengagumi gurunya akan sering dibahas ketika sedang bersama teman-temannya. Finn bilang dia sama sekali tidak kelihatan bersemangat saat menceritakan gurunya—" Quinn menjeda kalimatnya ketika menyadari sesuatu, senyum kecilnya terbentuk setelah itu. "Hoo, jadi dia kemungkinan sudah sadar dengan arti kebaikan Gray."


Jari Quinn yang sedari tadi mengetuk-ngetuk meja berpindah menyisir helaian rambut panjangnya yang lembut, "aku tidak bisa membaca pergerakan Raiden selanjutnya. Apa yang dia rencanakan untuk membalas Baroness Viridescens? aku bukannya terlalu percaya diri, tapi tatapan Raiden ketika melihat mangsa itu berbeda. Dia tidak berniat melepaskan Baroness Viridescens begitu saja."


Tok tok tok


Quinn memasukkan semua coretannya ke dalam laci nakas di samping ranjangnya. Sebelum dia memberi jawaban pintu itu sudah lebih dulu terbuka, "Paman Vincent? ada perlu apa? apa Ayah sudah selesai mengobrol denganmu?" tanya Quinn menghampiri.


Mata sipit Vincent melirik gaun pink yang terbentang di ranjang luas kamar itu. "Kau habis membeli gaun baru? apa gaun semacam itu yang mau kau pakai untuk pesta ulang tahun Putra Mahkota?" tanyanya dengan nada meledek.


Kalau dibandingkan dengan gaun yang Penelope dapat, gaun Quinn benar-benar terlihat sangat sederhana walau modelnya megah. Warnanya pun terlihat kekanak-kanakan bagi Vincent. Gaun semacam itu tidak akan membuatnya terlihat dewasa.


Lantas Quinn mengangguk mengiyakan pertanyaan Vincent. "Ya, itu adalah gaun yang dibelikan oleh Raiden untukku."


Vincent tersentak kaget, tetapi kemudian dia tiba-tiba tertawa. "Hahaha, oh jadi begitu ya."


Alasan Vincent menertawakan kebenaran itu adalah karena gaun Penelope dan gaun Quinn sama-sama pemberian dari Raiden tapi kualitas gaun mereka sangat berbeda. Ditambah, fakta bahwa Quinn sudah jauh lebih lama kenal dengan Raiden membuat Vincent ingin mengasihani nya. "Ternyata dia lebih perhatian pada putriku," pikir Vincent puas.


"Paman kenapa?"


"Ah tidak. Aku penasaran, Penelope bilang dia berteman dengan Putra Mahkota karena kau," Quinn mengangguk lagi sebagai jawaban. "Ini hanya sekedar pertanyaan saja, tapi bagaimana kalau ternyata Yang Mulia Putra Mahkota mencintai Penelope? apa kau akan merestuinya?"


"Tidak. Aku sudah mencintai Raiden lebih dulu, aku akan memperjuangkannya."


"Kau keras kepala juga. Apa kau masih tidak akan menyerah meski Raiden sendirilah yang akan membuktikannya dengan mendorongmu menjauh darinya?" Vincent mendekati Quinn, seolah tengah mengintimidasi lawan. "Kau tahu tidak, Putra Mahkota itu juga sudah lebih dulu membelikan gaun untuk putriku beberapa hari yang lalu. Aku melihatnya sendiri, gaun itu lebih pantas disebut gaun pesta. Apa kau yakin Raiden tidak menaruh perhatian lebih pada Penelope?"


Quinn mendecih pelan, Vincent sungguh menyombongkan satu-satunya hadiah Raiden yang putrinya dapatkan padahal Quinn sudah menerima ratusan lebih hadiah itu terutama perhiasan, walau semua yang diberikan tidak tulus. Begitu pula dengan keadaan yang Penelope rasakan saat ini.


"Hanya satu hadiah saja, kok. Mengapa Paman sangat percaya diri mengenai Raiden yang memiliki perasaan lebih untuk Penelope?" Quinn berjalan menuju ke meja rias nya untuk mengambil kotak perhiasan kecil di atas sana guna memperlihatkan isi di dalamnya, "aku sudah sering mendapat perhiasan sebanyak ini dari Raiden. Hm, aku bahkan sampai bingung harus menyimpannya di mana karena hampir setiap minggu Raiden membelikanku perhiasan baru."


"..."


"Apa Paman menilai rasa suka dengan seberapa banyak hadiah yang diberikan? pfft, kalau begitu aku menang telak. Ah, Paman mau adu dengan pengetahuan soal Raiden? aku lebih paham soal Raiden. Atau Paman mau mengadu kami berdua dengan seberapa anggun dan baik hatinya kami? aku tidak masalah dengan itu."


Gigi Vincent bergemeretak menahan emosi. "Dasar anak yang menyusahkan!" umpat nya lirih. "Kau memang penuh kepalsuan, ya. Di depan semua orang kau terlihat sangat sopan dan polos, nyatanya kau begini."


Kekehan Quinn membuat Vincent diam. "Aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku tahu siapa yang pantas untuk dihormati dan siapa yang tidak."


"Kau..! dasar anak kurang ajar!" hardik Vincent. "Sudah ku duga Savero tidak mungkin bisa mengajari tata krama pada anak-anaknya! sifatmu ini sama seperti Savero. Sok tahu dan keras kepala!"


Quinn dengan santai menyahut, "Penelope sama juga nekat nya dengan Paman. Demi mencapai tujuannya dia berani menyingkirkan pengganggu dengan cara berbahaya sekalipun. Tidak tanggung-tanggung, mungkin jika berhasil, dia sudah melenyapkan seseorang dari keluarga ini."


Vincent yang memang ringan tangan kini sudah mencekik Quinn karena kekesalannya mendengar keberanian Quinn dalam membalas ucapannya. "Kau tidak berhak mengomentari keluargaku!" bentaknya keras.


"Huh! lalu bagaimana dengan Paman? apa Paman berhak menilai Ayahku? apa Paman merasa lebih baik darinya dalam mendidik anak? jangan bercanda." seringai itu Quinn tunjukkan untuk mengolok-olok Vincent. Menyerang lawan dengan ucapannya sendiri itu sangatlah memuaskan.


"Sejak dulu aku memang tidak pernah suka denganmu. Pantas saja kau tidak tahu sopan santun, bukankah ibumu itu berasal dari kaum rendahan yang primitif?!"


"Kau...!"


Vincent sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengumpulkan kekuatan di telapak tangannya dan bersiap untuk menampar gadis kecil nan lemah dalam cekikan nya.


Beruntung tangan Vincent ditahan oleh seseorang. Quinn membelalak kaget saat melihat siapa yang telah menolongnya, "Jangan sakiti putriku, kak. Jika kakak sampai membuat putriku kesakitan, aku tidak punya pilihan lain selain mematahkan tanganmu yang sangat ringan ini."


Vincent menggeram marah sekaligus menahan sakit karena Savero mencengkram tangannya seakan ingin membuat tulangnya patah. "Lepas!" Vincent menepis tangan Savero dengan kasar.


"Uhuk! uhuk!"


Quinn terbatuk sambil mengelus bekas cekikan pamannya yang membekas di leher putih bersihnya. Savero yang melihat itu menjadi tersulut emosi. Dia memandang Vincent dengan tatapan membunuh, "Kau tidak pernah berubah. Jauhi putriku atau aku bisa mengambil langkah yang nekat."


Vincent tersenyum tanpa dosa, "Kau juga tidak pernah berubah, ya. Sejak dulu kau selalu suka mengancam. Baiklah, aku sangat takut, jadi aku akan berhenti hari ini." ujarnya memberi penekanan pada salah satu bagian kalimatnya.


"Istirahatlah. Aku akan mengantar Vincent pulang." Savero menepuk pelan puncak kepala anak sulungnya sebelum keluar dari kamar.


Beberapa menit setelahnya, kamar Quinn menjadi hening.


Quinn menahan tawanya, "Apa-apaan yang barusan itu, aku hampir tertawa di hadapannya. Paman memang berniat menyingkirkan aku. Tapi tidak apa-apa, aku yang akan duluan mengirimnya ke penjara."


"Vynx."


Seutas cahaya kecil kebiruan perlahan muncul di depan wajah Quinn. Seiring dengan memudarnya cahaya itu, sebuah wujud kecil seperti peri muncul.


{Hai, Quinn! aku senang kau mengingat namaku!}


Spirit itu berseru senang. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh isi ruangan, "Ini adalah kamarku."


{Luas sekali. Kamar Quinn tidak lebih bagus dari kamar Dewa Zacchaeus.}


"Dewa punya kamar? kalian tinggal di mana?"


{Kami memang tinggal di alam, seperti di air mau itu di sungai, danau, atau laut, semuanya sama. Di hutan, di taman bunga, di pegunungan, kami semua mencari tempat tinggal yang nyaman. Tapi dalam seminggu sekali, kami akan ke istana Dewa Spirit untuk mengisi ulang energi kami.}


Quinn mengangguk paham. Gadis itu mengajukan pertanyaan lanjutan, "Jadi, apa istana Dewa Spirit ada di hutan Pixie?"


{Kau hebat! tebakanmu benar. Tempat asal kami memang di sana, pusat dari segala energi spirit semuanya ada dalam perlindungan Dewa Zachaeus}


Ada banyak sekali pertanyaan yang terlintas di otak Quinn sampai dia kesulitan mengurutkan mana duluan yang lebih penting karena dia merasa semua pertanyaan itu penting untuk dia ketahui jawabannya.


{Tanyakan saja, Quinn. Aku akan menjawabnya selagi aku tahu jawaban dari pertanyaan mu}


"Kau melihat tanda kontrak ku dengan Dewa spirit? di bagian mana?"


{Bukankah di bagian mata? kau jadi bisa melihat kami dengan jelas, lalu sekarang kau sudah bisa mengobrol dengan para spirit. Selanjutnya mungkin kau bisa menggunakan kami sebagai pelindungmu}


"Saat itu aku pernah bertatap muka dengan Zacchaeus. Dia mengatakan soal bangkitnya tanda kontrak ku. Kau juga sempat menyinggungnya di istana. Bisa kau jelaskan apa maksudnya?"


{Um, aku tidak tahu bagaimana kau membuat kontrak dengannya, tapi kebangkitan mu sudah dekat karena semakin sering kau menggunakan kekuatan spirit, semakin kau terikat dengan bangsa kami}


"...jadi kau tidak tahu bagaimana cara bisa membuat kontrak dengan Dewa spirit?


{Quinn, saat menghirup bunga beracun itu, kau menetralisirnya dengan kekuatan spirit 'kan?}


"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menggunakannya. Aku hanya percaya aku tidak akan mati keracunan."


Quinn mendengus pelan. Dia masih memikirkan apa yang perlu dia tanyakan. "Oh, benar. Apa penjaga hutan Pixie juga bisa berinteraksi dengan kalian?"


{Tidak semua, kok. Hanya ada beberapa, tentunya yang bisa menggunakan sihir. Hutan Pixie sangat dilindungi karena itulah satu-satunya rumah kami yang tersisa}


"Apa kau mengenal salah satu dari mereka? Ibu ku, Ayah bilang Ibu berasal dari sana dan dia merupakan salah satu penjaga hutan Pixie."


{Siapa namanya? mungkin aku bisa membantumu}


"Sirena."


{APA?!}


Quinn ikut terkejut karena melihat Vynx terperanjat kaget setelah mendengar nama ibunya. "Apa? kenapa reaksimu begitu? ada yang salah? aku rasa kau mengenalnya, makanya kau bereaksi tidak biasa begitu."


Vynx tampak sangat takut. Wajahnya juga sudah memucat dan berkeringat dingin.


{A-ahaha maaf, Quinn. Aku tidak bisa menjawabnya, hanya Dewa Zacchaeus yang mengetahui dengan baik seluruh masyarakat yang tinggal di dekat hutan Pixie. Mungkin kau bisa temui dia dan bertanya langsung padanya saja}


Quinn memasang wajah sedih, secara diam-diam ingin membuat si spirit air itu merasa tidak enak. "Tapi, kau tahu 'kan kalau rumahku sangat jauh dengan kota Nefeli."


{Kau bisa pergi ke sana dengan mudah. Sama seperti teleportasi. Begitulah caramu bisa datang dan pergi kapan saja ke Pixie. Akses mu lebih mudah.}


Mata Quinn berbinar antusias. "Bagaimana caraku bisa melakukannya?"


{Buatlah kontrak dengan sepuluh spirit. Kau sudah membuat kontrak dengan mengetahui namaku, berarti hanya tinggal sembilan spirit lagi untuk membantumu ber teleportasi ke dunia kami.}


"Oh begitu..."


Quinn lantas mendudukkan diri di tepi ranjang empuknya. Dia mengelus dagu sambil berpikir. "Hei, Vynx. Kau bilang menggunakan spirit, anting di telinga kananmu itu... jangan bilang..."


{Ohhh, kau sangat tajam. Kau sungguh seperti seorang jenius~!! Ya, kau bisa menggunakan ku sebagai senjatamu.}


"Kalau begitu, mohon bantuannya, Vynx."


Kala itu Quinn terus mengurung diri di kamarnya untuk mempelajari semua yang diajari oleh Vynx, spirit pertama miliknya yang ternyata sangat membantu dirinya untuk memahami situasi yang tengah dia hadapi.


Tak peduli berapa kali Quinn mimisan karena terlalu banyak memaksakan diri, dia terus mengasah dan memanfaatkan dengan baik kontrak yang dia punya dengan Zacchaeus.


"Aku mungkin bisa menang. Tidak. Aku pasti menang."