I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 46



"Jadi itu Julien Bianchi?"


"Ya, dia seorang Baron di ujung Helldelune."


Anak-anak begitu menyukai Julien, dia sendiri sampai kebingungan ingin berbicara dengan siapa. Rupanya para korban anak-anak itu senang berdekatan dengan penyelamat mereka yang penuh kasih sayang, sikapnya yang baik dan mudah bergaul membuat mereka nyaman mengobrol dengan seorang bangsawan seperti dirinya. Tidak ada rasa takut yang terpancar. Yah, tidak bisa dipungkiri, dia memang selalu dekat dengan anak-anak panti sejak kurang lebih lima tahun.


Pemuda itu sekilas terlihat mirip dengan Raiden, tetapi Julien jelas kelihatan lebih bersahabat dan jujur. "Sebaiknya kita temui dia daripada terus mengintai di sini. Dia sudah tahu kau akan datang kesini," Rupert menepuk bahu Finn seraya pergi duluan.


"Hei, Julien. Kau datang lebih cepat dari dugaan."


Julien tersenyum "Aku datang ke Verenity untuk menjual beberapa sabun karena sekarang aku resmi menjadi agen," netra lavender nya melirik Finn yang berdiri di belakang Rupert. "Salam kenal, namaku Julien Bianchi. Aku tahu kau sekarang adalah Ksatria pribadi Lady Quinn."


Anak-anak segera menjauh dari sana setelah tiga pria tampan itu berkumpul di satu tempat. Rupert menyeringai jahil melihat wajah Julien yang berseri-seri, "kenapa sejak tadi kau kelihatan senang? sepertinya aku tidak mengecewakanmu dengan mengatakan bahwa Lady Quinn adalah orang yang sangat menarik."


Julien terkesiap, "tidak, bukan begitu. Aku hanya senang melihat dia pintar memanfaatkan situasi. Pandangan orang terhadapnya sudah buruk, jadi melihatnya yang santai dan biasa saja membuatku kagum."


Rupert mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh begitu? kau tidak boleh punya perasaan lebih dari itu karena akan ada seseorang yang cemburu berat nantinya." lelaki berambut panjang nan semerah apel itu menepuk-nepuk pundak Finn, membuat teman lamanya itu melotot kesal.


"Berhenti menggodaku! aku tidak pernah bilang aku menyukai Lady Quinn." sanggah nya tak terima.


"Memangnya aku ada menyebut dirimu?" goda Rupert lagi.


"Jadi kau suka dengan Lady Quinn? betapa senangnya bisa selalu berdekatan dengan orang yang dicintai," Julien menimpali.


"Tidak juga. Dia tak pernah membiarkanku ada disisinya dan selalu mengirim ku untuk melakukan tugas yang berada jauh darinya. Padahal aku Ksatria bukan kacungnya— ugh, lupakan soal itu. Omong-omong apa Anda sudah memberitahu soal anak-anak ini padanya? apa responnya?" tanya Finn tidak sabaran.


"Belum ada, aku belum sejauh itu mengobrol dengannya. Dia kelihatan sangat terburu-buru, jadi aku hanya sempat membincangkan soal bisnis nya saja. Tapi, dia sudah tahu kalau aku mengenalnya dari Rupert."


Julien memberikan sebuah amplop berisi surat keterangan saksi dari dirinya, "jelaskan semua padanya saat kau pulang. Aku dan Rupert sudah menulis surat kebersediaan kami untuk menjadi saksi dalam pengadilan."


"Baiklah..." Finn menunduk menatap amplop pemberian Julien. "Kalian sudah tahu bagaimana permainan Lady Quinn?" tanya Finn memastikan.


"Tidak. Memangnya kenapa dengan cara Lady Quinn mempermainkan orang lain?"


"Dia orang yang sangat nekat dan selalu memakai cara rumit yang tidak biasa. Dia mungkin bisa saja malah menggiring musuhnya untuk ikut datang kemari. Sebaiknya kalian punya rencana cadangan sebelum memberitahu Lady ku."


"Hm, menarik juga. Tapi aku tidak berniat membuat rencana cadangan," kedua sudut bibir Julien terangkat membentuk sebuah senyuman simpul, "aku ingin melihat bagaimana aksi Lady Quinn. Aku juga ingin membuktikannya sendiri, rasanya lebih senang mengenal dia tanpa perantara."


"...." Finn tidak sengaja memasang ekspresi cemberut saat melihat senyuman Julien. Dia tidak tahu perasaan apa yang sedang melanda dirinya, tapi dia sungguh tidak suka ada orang lain mencoba dekat-dekat dengan majikannya.


Rupert menepuk punggung Julien agak keras, "hei hei, bukankah sudah ku bilang untuk tidak membuat seseorang cemburu? kau ini memancing perkelahian saja," kata pemuda berambut panjang itu mengingatkan.


"Oh maaf, maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak sengaja mengutarakan ketertarikan ku."


Di istana Lombardia saat ini ketegangan melanda. Savero saat ini menghadap langsung ayahnya dan Quinn, mereka mengobrol di ruang kerja Bastien.


"Seperti yang sudah aku katakan tadi, Ayah. Aku ingin membawa Quinn pulang untuk sementara waktu. Tidak ada yang tahu apa yang akan kakak lakukan padanya, aku harus menjaganya."


Savero tidak tahu berapa lama Vincent akan menginap. Walaupun dia pulang ke Verenity, tidak ada jaminan putrinya akan hidup tenang. Melihat Quinn yang hendak melompat dari balkon saat gangguan tidurnya kembali membuat Savero semakin khawatir. Savero sendiri tidak mungkin menginap karena rumahnya akan kosong sedangkan masih ada bisnis yang harus dia urus.


Quinn menatap ayahnya datar, "Aku bukan gadis lemah seperti dulu lagi, Ayah. Kau tidak perlu khawatir."


Bastien tidak bisa menjawabnya. Dia yang telah memegang bukti emblem Vincent, sekarang seperti mati kutu. Cucu kesayangannya di depan mata tengah berada dalam situasi berbahaya dan itu disebabkan oleh pamannya sendiri. Bastien begitu menyayangi putranya hingga dia tidak bisa mengambil langkah cepat. "Aku tahu, tapi aku hanya akan menyerahkan semuanya pada Quinn, Savero."


"Dan aku sudah bilang 'tidak'. Aku tidak mau kembali ke rumah itu lagi," tegas Quinn ulang. Mana mungkin dia lari dari medan pertempuran. Dengan berada di rumah Bastien, apapun yang Vincent lakukan pada akhirnya akan disaksikan langsung oleh kepala keluarga Lombardia itu.


Savero menatap tajam anak sulungnya "Bisakah kau tidak keras kepala? aku melakukan ini karena aku tidak bisa mengawasimu."


Quinn tersenyum nanar "sekarang Ayah ingin pamer kepedulian? aku sudah tidak membutuhkannya lagi." ujar Quinn dingin, dia paling tidak suka seseorang menunjukkan penyesalan setelah menorehkan luka teramat dalam karena itu takkan menghilangkan lukanya bahkan sampai maut datang. "Aku bukan anak-anak. Aku tahu resiko dari perbuatan ku sendiri."


Gadis itu memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Bastien tanpa menengok ke belakang lagi.


"Quinn!"


"Savero..."


Pria berwajah datar nan dingin itu menatap Bastien kesal, "ada apa?" tanya nya ketus karena masih terbawa suasana.


"Tinggallah di sini sampai aku selesai mengikuti rapat. Aku perlu meninjau pembangunan pelabuhan baru di bagian Timur Avallone. Aku akan menginap kurang lebih dua hari di sana. Itupun kalau semuanya berjalan dengan lancar."


Bastien menghela nafas berat. Tampak sekali bahwa dia sedang sangat kalut, "Ayah menyimpan rahasia sendirian, makanya Ayah kelihatan berantakan seperti ini. Mengapa Ayah tidak ceritakan padaku?" kata Savero.


Bagaimana aku bisa memberitahumu, yang ada keluarga ini akan semakin hancur.


Bastien menggeleng santai seraya menyandarkan tubuh pada baju kursi "Tidak ada, kok. Aku hanya merasa sudah saatnya aku pensiun, tapi tidak ada yang mau meneruskan gelarku."


"Jangan pilih Quinn. Aku tidak mau dia memegang beban yang terlalu besar." Savero langsung membalas ucapan Bastien dengan serius sampai membuat Ayahnya itu terdiam.


"Kau sangat peduli pada putrimu...seandainya kau bisa jujur dan terbuka sejak dulu, mungkin dia tidak akan salah paham dan mengira selama ini kau mengabaikannya."


Savero mendengus pelan "tapi lebih baik kami seperti ini. Aku dan Killian sama-sama punya watak yang keras dan tidak bisa berbasa-basi, dia akan terus makan hati."


"Huh, mau bagaimana lagi. Jadi, kau bisa menginap di sini, 'kan?" tanya Bastien memastikan jawaban.


"Aku akan tidur di sini, tapi hanya saat malam saja. Bisnis ku juga harus tetap berjalan."


Bastien mengangguk kecil "Yang penting aku sudah menyuruh semua orang untuk mengawasi Quinn dan Vincent."


*


*


"Lady Penelope, Anda yakin sudah merasa baikan?" tanya Vanna masih ragu.


"Ya, aku baik-baik saja, kok. Tenanglah, aku hanya pergi jalan-jalan sebentar."


"...baiklah.."


Akhirnya Vanna membiarkan Penelope pergi setelah melihat gadis itu sudah kembali riang seperti biasa.


Alasan dari kegembiraan Penelope kali ini adalah karena dirinya akan datang ke istana Ethereal untuk menghadiri jamuan pesta teh berdua saja. "Quinn yang memintaku untuk mendekati Raiden, dengan begitu aku bisa menyingkirkan Quinn dari hatinya."


Penelope antusias memandang kotak kue di pangkuannya, "Aku akan menunjukkan keahlian ku dalam membuat kue. Semoga dia mau memakannya walau dia tidak menyukai makanan manis," gumam Penelope dengan hati yang berbunga-bunga.


Semua orang sedang memperhatikan dirinya sebagai anak tunggal Vincent yang mana ditakdirkan mati ditangan keponakannya sendiri. Melihat Penelope datang ke istana, membuat mereka mengira bahwa Raiden sedang berusaha menghibur gadis itu. Sekali lagi, masyarakat mendukung keduanya bersatu.


Pihak mana yang makin diuntungkan? tentu saja Penelope lagi. Tapi itu semua berjalan sesuai rencana Quinn, dia ingin semua orang menyesal seberat-beratnya karena telah mendukung Penelope.


Membuat orang kecewa dan menyesal dengan pilihannya sendiri adalah cara terbaik yang bisa Quinn pikirkan.


Untuk mempengaruhi fisik, bukankah kita harus menyerang mentalnya lebih dulu? jika mental yang terserang, secara otomatis fisik mereka akan ikut melemah. Menyiksa secara perlahan agar musuh merasa sakit berkepanjangan itu memuaskan, bukan begitu? daripada harus mengakhiri musuh secepatnya, itu sama sekali tidak seru.


Beberapa menit kemudian Penelope sudah sampai di istana. Raiden secara khusus menyambut Penelope sendiri tanpa adanya pelayan atau Ksatria lain. "Selamat datang ke rumahku, Penelope. Akhirnya kau menginjakkan kaki di sini."


Pemuda rupawan itu menawarkan tangannya untuk membantu gadis itu turun dari kereta kudanya. "Aku juga senang kau punya kesempatan untuk mengundangku datang kemari, Raiden."


"Oh? apa yang kau bawa itu?"


"I-ini, sebenarnya ini kue buatanku sendiri. Aku tidak tahu mesti membawa apa sebagai oleh-oleh untukmu, jadi aku hanya menggunakan kemampuan yang tidak seberapa ini," ucapnya malu-malu.


Putra Mahkota Ethereal itu tersenyum, "Terima kasih banyak, aku sangat menghargainya. Sini, aku bawakan saja."


Mereka berdua jalan bersama menuju ke taman bunga untuk menikmati teh bersama. Sebuah meja bundar berwarna putih sudah disiapkan sedemikian rupa sehingga dua sejoli itu hanya tinggal duduk manis.


Raiden melihat aura Penelope yang lebih terang dari biasanya, dia bisa tahu bahwa saat ini Penelope sedang dalam keadaan senang. Dia pun penasaran apakah gadis itu telah mendengar Firman Dewa atau belum. "Penelope, bagaimana kabarmu? maaf, di pesta waktu itu aku tidak menemui mu lagi."


Penelope dengan pipi bersemu mengangguk manis "ya, aku baik-baik saja. Tidak apa-apa, kau tidak perlu merasa bersalah soal itu. Saat itu kita semua menghadapi kesulitan, apalagi nyawa Quinn terancam. Aku baru saja mendapat kabar kesehatannya sudah semakin membaik, apa kau sudah menjenguknya?" gadis cantik bertubuh sintal itu berpura-pura menaruh perhatian pada saudari sepupunya.


"Syukurlah. Aku belum sempat datang, tugasku membeludak karena beberapa pekerjaan Ayah yang musti aku gantikan. Agak melelahkan, itu sebabnya aku memutuskan mengambil istirahat sebentar bersamamu."


"Eh?!" Penelope memegang kedua pipinya yang terasa memanas, dia memalingkan wajahnya gugup. "Terima kasih kau sudah memikirkan aku sebagai orang yang menemani waktumu."


Gadis ini mudah sekali tertipu. Aku penasaran, apa Quinn sudah memanfaatkannya? sayang sekali kalau dia dibiarkan hidup tanpa memiliki guna.


Raiden memakan sepotong kue pie apel buatan tangan Penelope, "Ini enak sekali. Kau ternyata punya bakat yang mengesankan. Apa kau tidak berniat menjalankan bisnis dengan ini?"


"Apa sungguh seenak itu? kau menyukainya? apa terlalu manis?" tanya Penelope bertubi-tubi. Dia berusaha keras membuatnya, dia ingin merasa lebih yakin dengan ucapan Raiden barusan.


Raiden menghabiskan potongan kue dalam mulutnya sebelum menjawab, "Hm? ah, tidak. Bagiku ini sudah pas. Rasanya aku bisa menghabiskan semuanya sendiri."


"Hahaha kau ini bisa saja."


Raiden langsung menghabiskan setengah cangkir teh nya untuk menetralisir lidahnya yang tidak terbiasa memakan makanan manis. "Penelope, maaf jika aku merusak suasana hatimu. Tapi, apakah kau sudah mendengar Firman dari Dewa? aku berusaha menanyakan langsung pada pihak kuil tapi mereka tetap memilih untuk merahasiakannya sampai suasana kembali normal."


Penelope merubah ekspresinya menjadi sendu, "mau bagaimana lagi, aku ingin mengatakan pada Quinn untuk tidak melakukannya, tapi itu sama saja seperti aku meragukan kebaikan Quinn. Anak itu tidak mungkin tega membunuh pamannya sendiri," dia masih saja berpura-pura bijak dalam menanggapi pertanyaan Raiden.


"Kau sungguh berhati baik. Lalu, apa yang akan kau lakukan kalau Firman itu benar dan Quinn membunuh ayahmu?"


"Aku bisa apa? aku hanya punya ayah, ibuku sudah lama meninggal. Aku dan Quinn dalam keadaan sama, jika dia sampai merenggut ayah dariku, aku mungkin akan sedih. Tapi aku masih punya kakek dan paman, mereka sangat menyayangiku." senyuman itu menandakan bahwa Penelope akan baik-baik saja meski ayahnya tiada sekalipun.


Tiba-tiba Raiden mendapat ide menanyakan sesuatu. "Penelope, apa Quinn tidak pernah mengatakan sesuatu yang menurutmu bersangkutan dengan cara dia akan melenyapkan Viscount?" Raiden seakan bisa lihat bahwa Penelope mengetahui sesuatu.


"Um, itu..."


Penelope tidak yakin boleh mengatakan apa yang dia ketahui pada Raiden. "Jika aku asal menjawab, bisa-bisa Quinn tidak memberikanku obat penawar racunnya. Aku bisa mati juga." ucap Penelope dalam hati.


"Aku tidak ingat. Sepertinya dia pernah mengatakan bahwa aku lebih baik tidak tinggal di Verenity bersama Ayah lagi. Berhubung kita bertiga sudah menjadi teman, ada baiknya aku menemani Paman Savero dan tinggal di Helldelune agar kita bisa bertemu dengan mudah."


"Begitu, ya. Itu ide yang bagus, dengan begitu kau juga jadi bisa berkumpul bersama denganku dan Quinn." Raiden tampak tak puas dengan jawaban Penelope. Dia merasa sangat membuang-buang waktu.


Penelope menyelipkan anak rambutnya ke telinga, "anu, Raiden. Boleh aku tanya sesuatu?" dia berinisiatif mengganti topik.


"Ya?"


"A-apa kau menyukai Quinn? maksudku, secara romantis, bukan sebagai seorang teman."


"Bagaimana caraku menjelaskannya, ya? aku juga belum yakin dengan itu. Untuk saat ini, aku hanya fokus menambah teman saja agar aku tidak terlalu stress."


"S-sebenarnya... malam itu aku melihatmu dan Quinn masuk ke dalam ruangan yang sama..."


"Oh itu? Quinn menyuruhku untuk menemuinya dan mengobrol berdua setelah selesai berbincang denganmu." Penelope menahan nafas beberapa detik, dia meremas roknya dengan kuat, jantungnya berdetak lebih mantap sampai membuat dadanya sesak.


Jadi Quinn berbohong soal itu? dasar penyihir licik!


"Maaf, Raiden. Aku tidak mau terlalu ikut campur, tapi aku hanya penasaran saja kenapa kalian berduaan begitu sementara pesta belum lama di mulai."


Raiden terkekeh geli. Secara tidak langsung Penelope ingin bertanya apakah mereka berdua melakukan 'sesuatu' bersama malam pesta itu. Pemuda yang wajahnya sudah seperti lukisan hidup itu jadi teringat akan wajah memerah Quinn yang mencoba keras menolak dirinya, namun tetap tak berdaya. Sungguh, Raiden merasa ingin melihat itu lagi.


"Raiden? kenapa pipimu memerah?"


"A-ah, bukan apa-apa... ini sering muncul saat aku menahan tawa."


Gawat. Aku baru saja mendapat imajinasi yang sedikit liar.


Alis Penelope terangkat bingung "Begitu? aku pikir kau demam atau semacamnya. Berhubung sedang kemarau, udara di malam hari jadi lebih dingin daripada biasanya."


"Iya, kau benar. Penelope, sebaiknya kau juga menjaga kesehatanmu. Udara di Helldelune lebih cepat berubah-ubah dibanding kota lain, jadi kau harus lebih ekstra memperhatikan kesehatan mu."


"Iya, aku akan mengingat itu."


Di saat yang bersamaan, Quinn memakai jubahnya untuk berkeliling hutan belakang istana yang sudah tidak lagi dijaga. "Di mana pohon elk nya ya? Vynx, apa aku bisa menemukan spirit itu di siang hari begini?"


{Tenang saja! dia pasti sekarang sedang tidur di pohon itu}


"Senang mendengarnya. Aku tidak bisa membuang lebih banyak waktu. Besok aku harus mengajukan permohonan sidang ke istana, tidak ada jaminan Raiden akan langsung meloloskan nya."


{Ikuti aku. Akan ku tunjukkan di mana pohon itu berada}