
Malam telah tiba, Quinn menunggu suasana rumah menjadi lebih sepi untuk bisa pergi dengan hati yang tenang. Emily telah berdiri di pinggir ranjangnya, "Bagaimana di luar? apa situasi aman?" tanya Quinn.
"Ya, Yang Mulia. Tidak ada orang yang berkeliling lagi."
"Bagus."
Secepat kilat Quinn membantu mendandani Emily dan pergi tanpa ditemani oleh Finn. Sekarang Quinn sudah bisa bergerak dengan lincah, luka di tubuhnya yang ia buat sendiri sudah sembuh sejak semalam.
"Penyembuhan ku sudah seperti manusia super saja," Quinn menyentuh lengannya yang telah kembali mulus seperti sedia kala.
Hingga menjelang tengah malam pun kuil Santis masih di penuhi banyak manusia, malahan malam ini seperti puncaknya. Deretan kereta kuda para bangsawan kelihatan sedang berderet rapi menunggu giliran untuk bisa masuk ke dalam wilayah kuil. "Memangnya ada pemeriksaan? tapi untuk apa?" Quinn menjulurkan kepalanya dari kereta yang ia pesan, beberapa Ksatria istana dengan seragam putih keemasan mereka lengkap dengan atributnya sedang berkeliling mengecek satu per satu kereta yang datang.
"Raiden?!"
Quinn melebarkan matanya tak percaya melihat Raiden ada di gerbang kuil dan ikut memeriksa tiap kereta yang memasuki wilayah kuil. "Ini gawat. Aku harus segera turun dari sini, mereka sudah mulai dekat."
Quinn menyelinap keluar dari kereta kembali ke belakang demi menjauhi gerbang. Untung saja Quinn memakai jubah sehingga dia bisa menutupi dirinya dan mengambil jalan rahasia yang hanya Finn dan Christian yang tahu. "Kenapa dia ada di sini? apa gunanya memeriks—" Quinn tersenyum, "Oh aku sudah ingat."
Setelah sampai di area halaman belakang kuil, Quinn melepas tudungnya dan beristirahat sebentar di bawah pohon untuk menetralkan denyut jantungnya. "Raiden mengantisipasi dan mengabsen siapa saja bangsawan yang hadir di kuil dan mendengar Firman Dewa, jadi saat dia butuh tameng lagi, dia bisa menyalahkan seseorang dari mereka dan akhirnya bernasib sama seperti Baroness Viridescens."
"Di masa lalu, Firman itu menyebutkan tentang kehancuran Ethereal. Ini mungkin akan sangat mengagetkan bagi Raiden. Tapi aku rasa pihak kuil tidak akan sembarang menyebar kebenaran Firman itu demi menjaga kedamaian."
"Apa Anda orang yang disebutkan oleh Tuan Finn?"
Quinn tersenyum simpul, "Ya. Ini." dia memberikan surat yang Finn tulis, untuk membuat orang itu membiarkannya masuk ke dalam kuil.
Orang itu adalah orang dalam kuil yang siap menerima permintaan apapun dari Finn, sehingga dia bersedia membantu Quinn masuk ke kuil dan mendapatkan secara eksklusif Firman yang telah diterima oleh para Pendeta Agung.
"Mari, saya tunjukkan jalan."
"Terima kasih."
Quinn memasang kembali tudung jubahnya agar tidak ada siapapun yang mengenalinya. Suasana kuil sangat sepi, bahkan pendeta-pendeta kecil yang melayani masyarakat saja tidak terlihat. "Semua sedang menjalankan rapat?" tanya Quinn.
"Ya, saat ini enam Pendeta Agung bersama para wakilnya sedang melakukan rapat secara tertutup untuk mengartikan tiap ayat Dewa yang mereka terima."
Quinn digiring menuju ke ruangan rahasia yang isinya seperti ruang tamu yang dipenuhi oleh gulungan kertas. "Lalu, apa yang mau kau berikan padaku kalau mereka saja belum selesai melakukan rapat?" Quinn menerima sebuah gulungan tetapi dia tidak mengerti dengan ucapan mata-mata itu.
"Sebenarnya secara keseluruhan sudah jelas, kali ini mereka hanya tinggal mendiskusikan satu ayat dari Pendeta Agung kedua yang belum terpecahkan."
Quinn membaca apa yang tertulis di dalam gulungan, itu adalah Firman Dewa yang telah dipersingkat.
..."ᏕᎬᏕᎬᎾᏒᎯᏁᎶ ᎽᎯᏁᎶ ᏢᎯᏝᎨᏁᎶ ᎠᎬᏦᎯᎿ ᎠᎬᏁᎶᎯᏁ ᏠᎯᏁᎿᏬᏁᎶ ᎬᎿᎻᎬᏒᎬᎯᏝ ᎯᏦᎯᏁ ᎷᎬᏁᎶᎻᎯᏁᏨᏬᏒᏦᎯᏁ ᏦᎬᏒᎯᏠᎯᎯᏁ"...
Begitulah bunyi Firman dari tiap potongan ayat yang diterima oleh enam Pendeta Agung kuil Santis. "Seseorang yang paling dekat dengan jantung Ethereal akan menghancurkan kerajaan. Hm, Firman ini kedengaran lebih intens dari yang dulu."
Tidak berbeda jauh dari yang Quinn ingat dari masa lalu. Inti dari Firman Dewa yang turun kali ini adalah ramalan tentang kehancuran Kerajaan yang tentu saja itu akan langsung merujuk pada Raiden yang merupakan Putra Mahkota dan penerus Kaisen.
Biar ku tebak, ayat yang belum diterjemahkan itu isinya adalah 'Raja akan mati' dan itulah alasan kehancuran Ethereal karena yang memimpin selanjutnya adalah Raiden. Ini sama persis dengan di masa lalu, hanya waktunya yang lebih cepat.
"Hanya ini?" tanya Quinn mencoba memastikan bahwa tidak ada perubahan yang terjadi selain waktu.
"Ya, itu adalah rangkuman dari potongan ayat yang diterima para Pendeta Agung."
"Bisa berikan aku pena?"
"Apa yang ingin Anda lakukan?" Quinn tersenyum dingin sambil menjawab, "Aku sudah memberimu uang untuk membayar gulungan ini. Sisanya itu terserah padaku, 'kan?"
"..."
Meski ragu, pria itu menuruti perintah dari Quinn.
Gadis itu pun berinisiatif mengubah isi dari Firman Dewa untuk memancing keributan lain. "Ini, terima kasih sudah membantuku."
"Mengapa Anda tidak datang bersama Tuan Finn?"
"Dia sedang sibuk, jadi aku datang hanya dengan surat pemberitahuan saja."
Sebenarnya Quinn sedang mengirim Finn ke Verenity untuk mencari bukti dan saksi yang tersisa. Finn adalah seorang pengelana, dia telah menjelajahi Ethereal sepanjang waktu sebelum kembali menetap di Helldelune. Akan lebih mudah bagi orang sepertinya untuk menjangkau informasi yang sulit didapatkan orang biasa seperti Quinn yang tidak memiliki koneksi luas.
Quinn beranjak berdiri, "Hei, Tuan. Aku akan memberikan dua kali lipat lebih banyak dari yang kau terima, tapi lakukan apa yang aku minta."
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Beritahu pada orang-orang tentang Firman yang sudah ku tulis ulang. Buat saja rumor yang besar tentangku."
Tanpa perlu pikir panjang, pria itu setuju dengan penawaran menggiurkan dari Quinn. Namun, tiba-tiba terpikirkan dengan nasib Quinn apabila kabar itu kuat berhembus, terlebih musuhnya adalah para bangsawan licik. "Tapi, apa Anda akan baik-baik saja?" tanya nya sambil mengamati wajah tenang Quinn.
"Aku perlu melakukannya untuk memancing seseorang. Lakukan saja, lagipula desas-desus itu tidak akan bertahan lama karena para Pendeta Agung sedang menerjemahkan ayat nya yang asli."
"Baiklah. Saya akan mengerjakannya sesuai dengan perintah Anda."
"Kalau begitu aku akan kembali sekarang."
"Perlu saya antar?"
"Tidak, aku akan pergi sendiri."
Malam itu Raiden menjaga ketenangan kuil. Itu hanyalah alasan semata, tujuan Raiden adalah mencari tahu bunyi Firman Dewa yang sebenarnya. Jika itu menyangkut tentang keluarga istana, sebisa mungkin Raiden harus mengoper perhatian ke pihak lain.
Dia pun menerima jawaban dari mata-mata Finn karena hanya dia satu-satunya yang bekerja sebagai penjual informasi. "Ini sudah semuanya?" tanya Raiden memastikan.
"Sudah, Yang Mulia. Sisanya hanya tinggal satu ayat lagi."
Raiden membuka gulungan itu dan membacanya di sana. Satu alisnya terangkat bersamaan dengan satu sudut bibirnya, "Ini menarik."
Yang tertulis pada gulungan itu adalah:
Orang lain yang tidak tahu mungkin akan berpikir, 'Untuk apa Dewa mengurusi masalah satu orang saja?' tetapi bagi Raiden itu sudah cukup mudah dipahami semuanya. Quinn mempunyai kekuatan spirit yang kuat yang bahkan bisa disebut sebagai anak Dewa. Untuk Raiden yang mengetahuinya, kekuatan spirit Quinn bisa meruntuhkan istana apabila gadis itu sudah menguasai sepenuhnya kekuatan itu.
Maka dari itu Raiden mencoba untuk bersabar dan merebut kekuatan itu dari Quinn saat dia sudah menguasai tingkat yang lebih tinggi agar saat ia rebut nanti, Raiden tidak perlu bersusah payah mengolah dari awal. Raiden tahu dia akan kesulitan meningkatkan sendiri kekuatan itu jika dia rebut sekarang karena tubuhnya bukan wadah yang tepat untuk menampung kekuatan spirit walau dia memiliki kemampuan dapat melihat.
Cara tercepat kedua selain membunuh dan mengunci kekuatan Quinn dalam relik adalah membawa jantung Quinn lalu membuat keterikatan kontrak dengan para spiritnya dengan menggunakan darah pada jantung tersebut. Meski pada intinya Raiden tetap harus membunuh Quinn.
Dan sebenarnya cara yang dipakai Raiden malam itu adalah cara kedua. Dia butuh jantung, tetapi kalung benda sucinya tidak boleh dibiarkan tergeletak begitu saja di sana.
Keesokan paginya masyarakat mulai ramai membahas Firman hasil rombak Quinn. Kabar buruk itu menjadi gempar setelah Quinn yang menjadi topik utamanya.
masyarakat Helldelune menganggap Quinn adalah anak ceria yang lugu, dia bahkan tidak tahu betapa kerasnya hidup. Melihatnya yang selalu bermain-main di setiap kesempatan, membuat para masyarakat tidak percaya bahwa gadis polos itu bisa membawa kehancuran. Belum lagi Dewa memperingatkan semua orang bahwa Quinn akan membunuh pamannya sendiri.
Vincent yang menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan menikmati suasana Helldelune pagi selanjutnya menjadi keheranan. "Mengapa mereka memandangiku begitu?" tanyanya dalam hati. Semua tampak menatap Vincent dengan tatapan iba dan miris.
Seorang bangsawan yang juga sedang duduk di taman kota dan membisikkan apa yang dia dengar dari orang. Mata Vincent langsung memerah, "Apa?! tidak mungkin. Bisa jadi itu hanya kabar miring belaka." Vincent masih tidak mempercayai apa yang dia dengar, meskipun dia tidak menyangkal bahwa ada sisi dalam dirinya merasa yakin Quinn mampu melakukannya.
Savero juga mendengar kabar Firman Dewa yang telah menyebar dan merambah ke seluruh sudut Helldelune. Berita itu juga tidak luput dari gunjingan mitra kerja nya. "Count Savero, apa Anda sungguh tidak mendengarnya? ini berita yang mengejutkan."
"Aku tidak akan mempercayai apapun sebelum Pendeta Agung sendiri yang menyampaikannya," bohong jika Savero mengaku dia tidak gugup. Sekarang jantungnya berpacu lebih cepat, memikirkan masalah yang akan mengenai putrinya saja sudah membuat tubuhnya panas dingin.
"Saya rasa itu bukan berita bohong."
"Ya, saya juga mendengarnya, loh. Count Savero, seseorang menerima gulungan dan membacanya sendiri. Itu sebabnya banyak mempercayai berita ini. Anda tahu, 'kan? Firman Dewa tidak pernah bohong. Para Pendeta menjadi wakil Nya untuk menyampaikan pesan apa yang ingin Dia perdengarkan pada kita."
"Pendeta juga manusia. Kalian jangan terlalu mudah terperangkap dalam rumor tak berdasar, kalian yang akan merugi."
Savero memilih untuk pergi daripada mendengarkan berita soal Firman Dewa. Tujuannya sekarang berubah menjadi ke rumah ayahnya, Bastien Lombardia. Selama Vincent ada di dekat Quinn, Savero tidak akan bisa berpikir dengan tenang. Dia sudah sangat tahu sifat kakaknya itu.
Sementara Penelope yang mendengar itu dari pelayan yang pagi ini bertugas belanja langsung syok. Dia mengurung diri di kamarnya agar tidak ada siapapun yang melihat ekspresi gembira nya, "Quinn akan membunuh Ayah dengan cara apa? dia mungkin akan di cap sebagai pembunuh setelah itu. Aku akan terbebas dari ayah yang kejam dan ringan tangan itu, lalu setelahnya aku bisa menyingkirkan Quinn dari sisi Raiden. Aku adalah pihak yang paling diuntungkan di sini."
Penelope memegangi jantungnya yang berdetak kegirangan dengan fakta bahwa dia akan selamat. Tanpa tahu bahwa Quinn sedang mempersiapkan maut untuknya dengan cara yang berbeda.
Quinn tidak mempedulikan tatapan aneh orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Dia dengan santai masuk ke dalam restoran setelah memiliki janji temu dengan seseorang. Orang tersebut adalah seorang bangsawan yang mendaftarkan diri sendiri untuk menjadi salah satu agen yang menjualkan produk sabun kepada masyarakat.
Sejujurnya dia tidak mempercayai bangsawan, karena kebanyakan dari mereka adalah orang-orang palsu yang hanya mengincar keuntungan pribadi. Namun, tidak ada salahnya untuk menemui mitra kerjanya itu. "Aku dengar dia adalah bangsawan muda yang sebaya denganku, kuharap dia bukan berandalan kurang ajar yang suka menipu."
Lima belas menit kemudian seseorang mendatangi mejanya, "Maaf atas keterlambatan saya, Lady. Tadi ada nenek-nenek yang kesulitan membawa barang belanjaannya."
Seorang pemuda berambut biru dengan mata berwarna ungu lavender duduk di depan kursi Quinn sambil tersenyum canggung. Wajahnya? sudah pasti tampan yang biasa saja. Orang-orang di dalam restoran tersebut berbisik-bisik sibuk menggunjing lagi.
Orang ini sudah memberikan kesan tidak bertanggungjawab...
Quinn tersenyum simpul, "Tidak apa-apa. Seharusnya saya yang bertanya, apa tidak apa-apa Anda meminta bertemu di sini? orang-orang mungkin akan salah paham."
Pemuda itu menggeleng santai, dia terlihat cuek dan abai dengan sekitar. "Saya pikir saya akan bertemu dengan Grand Duke, tapi Anda yang mewakili."
"Bisa kita persingkat saja? ada banyak yang harus dibahas jadi kita perlu mengatur waktu dengan baik um... siapa nama Anda?"
Pemuda itu terkesiap "Astaga, di mana kesopanan saya. Maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya adalah Julien Bianchi, seorang Baron dari Selatan Helldelune." pemuda itu memasang senyum terbaiknya setelah memperkenalkan diri.
"Baiklah, Baron Bianchi. Sebelumnya terima kasih telah berkenan membantu keluarga saya untuk mempromosikan produk baru kami. Bisa saya tahu— mengapa Anda melihat saya begitu? apa ada sesuatu yang menempel di wajah saya?"
Pemuda itu lagi-lagi tersentak kaget "Maaf, saya hanya terpukau dengan kehebatan Anda dalam memikirkan bisnis ini. Tidak ada bangsawan lain yang lebih peduli dengan kesehatan masyarakat kecil sama seperti yang Anda lakukan."
Quinn tersenyum, dia tetap rendah hati dan tidak ingin mengakui bahwa itu hasil pemikirannya "Anda sudah salah paham, Baron. Ini adalah bisnis yang dikembangkan oleh Grand Duke, idenya juga berasal dari beliau."
"Oh begitukah? saya mendengar beberapa orang mengatakan bahwa bisnis lukis Grand Duke Lombardia adalah ide dari cucunya."
Tidak ada yang menggosipkan itu. Dia tahu sesuatu tentang aku dari mana?
Quinn mengerti sinyal yang diberikan oleh Julien, gadis cantik itu pun segera mengajukan pertanyaan to the point "Siapa Anda sebenarnya? sepertinya Anda sudah menyelidiki saya sebelum kita bertemu."
Julien terkekeh geli melihat Quinn mendadak sangat waspada. Di matanya dia terlihat seperti seekor kucing galak yang tidak suka disentuh. Julien mengangguk "Ya, kira-kira begitu. Sebelum saya menawarkan diri bekerja sama dengan bisnis seseorang, bukankah saya perlu untuk mengetahui seperti apa partner kerja saya?" katanya.
Quinn meminum minuman coklat panas nya, "Yang menjadi partner kerja Anda adalah kakek saya. Aneh rasanya kalau Anda malah lebih tahu banyak tentang saya. Sekarang lebih baik Anda mengaku, saat ini saya tidak akan marah karena mendapat 'penggemar rahasia' yang tampan seperti Anda."
Julien tertawa kecil mendengar sebutan barunya yang di dapat dari Quinn, "Itu sebutan yang sangat bagus, saya merasa tersanjung," ujar pemuda tampan yang sudah menyandang status sebagai Baron itu senang, "Jika Anda ingin tahu, saya akan mengatakannya. Saya berteman dekat dengan Rupert, Anda tidak asing dengan namanya, 'kan?"
"Berteman? saya rasa Tuan Rupert berteman dengan hampir semua bangsawan."
"Yah, pada intinya, dia bilang bahwa Anda sangat menarik. Jadi saya memutuskan untuk mengenal Anda lebih dekat melalui cara ini. Anda tidak keberatan, iya 'kan? ini adalah cara yang paling sopan yang bisa saya pikirkan."
Quinn diam tak membalas perkataan Julien. Saat ini Quinn butuh seseorang untuk membantu memperkenalkan produk sabunnya kepada masyarakat kecil agar mereka lebih memperhatikan kesehatan mereka. Dilihat dari sikap dan tampangnya, Julien bukan orang licik yang akan menyalahgunakan kepercayaannya.
"Saya merasa terhormat bisa menerima perhatian dari Anda. Bisa kita mengobrolkan tentang bisnis itu sekarang?"
"Apa Anda memiliki target jual yang harus dicapai dalam waktu sehari atau dalam jangka waktu tertentu?" tanya Julien memperkirakan seberapa banyak dia harus menjual produk.
"Jika dilihat dari jumlah penduduknya, saya rasa kita perlu menjual lebih dari dua ratus batang sabun per hari. Jadi dalam satu bulan kita bisa menjangkau hampir seluruhnya masyarakat Helldelune. Tapi itu akan sedikit sulit, 'kan?"
"Hm..." Julian mengangguk-angguk paham dengan jalur pikiran Quinn.
"Untuk minggu pertama ini lebih baik tidak usah pikirkan target. Asal masyarakat sadar dengan kesehatan mereka dan tahu soal harga sabun ini, ke depannya biar berjalan sesuai dengan nasib."
"Anda sudah memperhitungkan cara yang cocok agar mereka tidak ragu membeli produk Anda?" tanya Julien lagi.
Quinn tersenyum manis lalu menjawab, "Tenang saja. Orang yang membuat sabun ini bukan orang biasa." Quinn beranjak dari kursi setelah menandaskan minumannya, "Anda sudah lihat kontraknya? tolong baca dengan benar agar tidak terjadi kekeliruan."
Julien menggeleng pelan, "Saya tidak perlu membaca itu, akan saya tandatangani langsung saja. Asal bisa membantu Anda."
Muncul satu lagi orang aneh seperti Finn.
"Terima kasih sudah berkenan untuk bergabung dengan bisnis kami. Semoga Anda dan saya sama-sama bisa bekerjasama."