
"YANG MULIA GRAND DUKE?! YANG MULIA! INI GAWAT!"
Suara panik dan terkesan tergesa-gesa saat memanggil gelarnya membuat pria tua itu terbangun dari tidur nyenyak nya. "Mengapa dia membuat keributan di pagi buta begini?" Bastien mengerjapkan matanya yang masih sayu. "Kenapa aku tidur di sofa ruang kerja? sepertinya aku terlalu lelah sampai tidak ingat apa-apa."
Pemilik istana itu sudah bisa mendengar langkah kaki sebelum wujud pelayan tersebut muncul di depan pintu. Beberapa detik berselang, seorang pelayan dengan nafas memburu berdiri di depan pintu ruang kerja. "Y-Yang Mulia..."
"Mengapa kau berlari begitu? ada apa?"
Pelayan itu menunjuk ke arah ruang depan istana, "I-itu... Lady Quinn..." ia kesulitan menjelaskan keadaan dengan nafas tersengal. Kepanikan terjadi, bahkan beberapa pelayan Bastien lihat berlari sambil membawakan kotak obat.
"Quinn!"
Bastien lupa dengan segalanya. Dia berlari kalang kabut menyusul pelayan wanita yang membawakan kotak obat, pikirannya mendadak menjadi kacau balau. Dadanya bergemuruh sakit.
Sesampainya di ruang depan, Quinn dikerubungi oleh empat pelayan. Rambut panjangnya lusuh dan sangat berantakan, gaun yang dipakai sudah tak lagi berbentuk, bahkan dari samping pun Bastien bisa melihat ada luka di lengan dan wajah cucunya. "Quinn?!"
Gadis itu menengok ke arah sumber suara dengan mata sembab, matanya sudah memerah, tangis sedih dan takut begitu kencang terdengar kala Quinn merasakan kehangatan peluk cemas dari sang kakek. "Quinn, apa yang terjadi padamu?! mengapa kau terluka begitu parah? katakan padaku siapa yang telah berani menyakitimu?!"
Bastien amat merasa bersalah ketika melihat di sekujur tubuh cucunya yang sudah penuh luka dan lecet. Apalagi merasakan tubuh cucunya yang gemetaran hebat, "Kakek, aku sangat takut. Aku pikir aku akan menemui ajalku." ujarnya di sela-sela sesenggukan.
"Mengapa kau bisa sampai seperti ini, nak? maafkan aku, aku tidak tahu kau pergi keluar. Maaf, aku tak bisa melindungimu saat kau butuh."
Evan bergegas keluar dari perpustakaan dan mendelik kaget melihat kondisi Quinn. Gadis itu kelihatan seperti baru saja dirampok. Mata hitamnya melirik pintu depan yang masih terbuka lebar, "Bagaimana Yang Mulia Quinn pulang? mengapa aku tidak melihat kusir istana Grand Duke?" tanyanya tak sabaran.
Sala seorang pelayan kemudian berujar, "Beliau pulang dengan berjalan kaki, Tuan."
"Apa?!" Evan kembali mendaratkan pandangan pada luka panjang di punggung Quinn. "Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa dia malah pergi?" lirihnya berani, tidak ada sesiapa yang mendengar sebab mereka semua fokus pada cucu sang Grand Duke.
"Ada sekelompok bandit yang datang menyerang ku, kek. Mereka sangat menakutkan. Saat aku diserang, tuan kusir malah berlari pergi menyelamatkan dirinya sendiri setelah mencuri kantong uang ku yang tertinggal di dalam kereta. Aku sangat takut, mengapa tuan kusir begitu tega meninggalkan gadis lemah tak berdaya sepertiku? aku tidak menyangka dia akan berkhianat hanya karena harta. Kakek, apakah ada pekerja kakek yang bisa dipercaya?"
Ya, walau enggan mengakui, sebenarnya Quinn sungguhan menangis takut meluapkan segala perasaan membuncah yang tengah bergejolak dalam hati. Bagaimana tidak, ini kali pertamanya menyakiti seseorang dan sampai membuat nyawa seseorang melayang. Melihat darah untuk pertama kalinya pula membuat Quinn merasa tegang sekaligus mual dan itu masih bersisa hingga sekarang.
Tangan Quinn sudah tidak lagi bersih. Dadanya sakit memikirkan betapa jahatnya ia pada keluarga si pembunuh bayaran itu. Sungguh disayangkan Quinn tidak merasa begitu lagi setelah melihat reaksi Evan.
Tentu saja pernyataan yang diberikan Quinn membuat Evan dan beberapa mata-mata lain terkejut bukan main. Carter bagi mereka tidak mungkin melakukan tindakan pengecut seperti itu, namun semua bukti sudah di depan mata, tak ada yang dapat mengelak kecuali menerima kenyataan. Evan memijat keningnya seraya menghela nafas gusar, "Si bedebah itu. Apa yang sebenarnya telah dia lakukan? dia sudah tidak waras."
Bastiens menatap nyalang semua pelayannya "Bagaimana bisa kalian tidak memperhatikan apa yang dibutuhkan majikan kalian sendiri?! apa aku membayar kalian hanya untuk mengurus rumah?!"
Bentakan kasar dari Bastien berhasil membuat pelayan di sana tertunduk dalam. Evan lantas mewakili seluruh pelayan yang bekerja di istana Lombardia membungkuk sedalam-dalamnya untuk meminta maaf atas kesalahannya. "Mohon maafkan atas kesalahan saya, Yang Mulia. Saya yang telah teledor. Tadi sayalah orang yang melihat Yang Mulia Quinn pergi, tetapi saya kurang perhatian dengan beliau sehingga ini semua terjadi." mana mungkin Evan bisa bilang kalau Quinn lah yang menolak membawa salah seorang Ksatria dari kediaman Lombardia.
"Perintahkan orang untuk cari kusir itu sampai dapat! aku akan membayarnya dengan emas batangan kalau bayaran ku selama ini kurang! Kalian, jujurlah padaku jika aku terlalu pelit membayar." ucap Bastien sarkas.
Kepala keluarga Lombardia itu tampak berusaha menahan amarahnya sehingga dia lebih memilih memberi tekanan pada setiap kalimatnya ketimbang meninggikan suara. Dia kemudian menggendong tubuh Quinn untuk memindahkannya ke kamar.
"Evan, kirimkan surat ke tempat Savero sekarang juga."
"Segera saya laksanakan, Yang Mulia."
"Sepertinya besok aku harus meregulasi orang-orang bodoh yang berani mencari masalah dengan keluargaku."
Mendengar peringatan Bastien kala itu, semua pelayan yang berkumpul di sana menegang takut, kecuali Evan tentunya. Dia kemudian dengan tenang memerintahkan pelayan kembali dan membantu Quinn mengurus lukanya.
Bastien menunggu diluar kamar selagi Quinn membalut luka di punggungnya dan mengganti pakaian itu. "Pelan-pelan ya, ini perih sekali."
"Baik, saya mengerti, Yang Mulia. Anda tenang saja, saya akan segera membalut luka Anda dengan baik."
Quinn menyeringai tipis. Sudah tidak diragukan lagi Evan juga akan mengirim pemberitahuan pada Raiden mengenai keadaannya.
Tiga puluh menit berlalu dan sekarang Quinn bisa merasakan tubuhnya sudah lebih ringan, semua sudah dibersihkan termasuk debu dan kotoran yang menempel. Gadis itu membaringkan tubuh sembari membuang nafas lega.
"Boleh aku masuk, Quinn?"
"Tentu saja, kakek."
"Tidak usah duduk, tetaplah berbaring." Bastien mengelus dahi Quinn penuh kasih, "Mengapa kau keluar malam-malam?"
"Aku hanya ingin mengunjungi kuil untuk berdoa pada Dewa agar menjaga ibu di sana. Setelah itu aku mampir ke rumah dan memberikan hadiah untuk Killian, dia akan kembali ke asramanya pagi ini."
"Huh... kau ini," helaan nafas panjang lolos dari bibir pria paruh baya tersebut. Kedua alisnya bertaut, Bastien lalu memiringkan sedikit kepalanya, "Apa yang terjadi pada matamu? apa penglihatanmu baik-baik saja? apa tadi matamu juga terluka? apa itu sakit?" tanya Bastien bertubi-tubi.
kakek juga baru menyadarinya.
"Aku baik-baik saja, kakek." Quinn memegang tangan kakeknya sambil tersenyum, "Maaf aku keluar tanpa memberitahu, kakek sudah tertidur lelap jadi aku tidak bisa membangunkan mu hanya untuk meminta izin."
"Kakek yang seharusnya minta maaf padamu. Kau mungkin akan mengalami demam karena memiliki luka seperti itu."
"Tidak masalah, aku sudah di rumah."
Bastien kembali serius memikirkan ke mana kiranya si kusir itu pergi. Yah, Quinn sendiiri tidak tahu menahu soal itu. Dia menyerahkan semua sisa pekerjaannya pada Finn. "Dimana kau ditinggalkan kusir itu?"
"Aku tidak tahu nama tempatnya, maaf kakek. Aku hanya tahu tempat itu sepi."
"Begitu ya. Aku sudah meminta Evan mengerahkan beberapa prajurit untuk mengecek tempat itu."
Quinn menggenggam tangan kakeknya erat, "Aku selamat karena ada seseorang yang menolongku." ia lalu menatap ke atas berpura-pura seolah sedang mengingat seperti apa penampakan sosok yang menolongnya. "Kalau tidak salah, rambutnya berkilau seperti emas. Tubuhnya tinggi tapi dia agak kurus, aku tidak pernah melihat orang itu sebelumnya, dia sangat hebat."
Quinn sekilas melirik Evan yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Cari saja sampai keliling dunia. Kalian tidak mungkin bisa menemukannya karena yang bisa melihatnya hanya aku." Quinn menggunakan ciri-ciri Zacchaeus untuk menutupi aksinya yang telah menghilangkan nyawa seseorang.
"Sekarang istirahatlah dulu. Aku akan pergi mengurus sisanya, ya. Jangan cemas, kejadian ini tidak akan terulang lagi."
Bastien meninggalkan kamar Quinn. Evan pun turut pergi mengikuti kemana sang majikan pergi, "Yang Mulia, saya rasa Pangeran juga harus diberitahu soal kondisi Yang Mulia Quinn. Beliau biar bagaimanapun adalah teman dekatnya juga. Apalagi ini mengenai bandit yang berkeliaran di Helldelune."
"Terserah kau saja. Aku akan mengurus semua data pelayan di rumah ini."
Dini hari sekitar jam lima, Raiden berhasil menyelesaikan gambarnya mengenai suatu hal yang tidak bisa orang lain pahami. "Hm?" wajah awet mudanya itu terangkat begitu mendengar bunyi ketukan pintu yang terburu-buru dari luar. "Masuklah."
"Yang Mulia, Anda mendapatkan surat dari Tuan Evan."
Pemuda itu lantas mengode dengan jari agar pelayan yang membawanya segera mendekat. "Jelaskan padaku apa yang terjadi kali ini."
"Kusir itu, si Carter, dia malah bertindak terlalu mencolok."
Pelayan itu yang merupakan salah satu mata-mata di rumah Bastien selain Evan, menceritakan semua yang diceritakan Quinn sepulang dirampok. Jika dilihat dari penampilannya yang sangat berantakan, semua penjelasan Quinn jadi tidak terlihat mengada-ada.
"Hm, begitu." Raiden menumpu dagu sambil membaca per kalimat dengan seksama. Tak satupun reaksi yang dapat pelayan itu lihat dari putra tunggal Kaisen ketika mengetahui bahwa gadis yang dekat dengannya itu terluka cukup parah. "Cari Carter sampai dapat. Bawa dia padaku hidup-hidup."
Raiden tak perlu menekankan ucapannya, ia juga tidak perlu menggertak untuk menunjukkan berapa marahnya ia saat ini. Lelaki tampan yang memiliki segalanya itu hanya cukup memerintah dengan datar dibarengi picingan tajam, maka semua orang tahu bahwa siapapun yang tidak memuaskan nya akan berakhir mati.
Raiden beranjak dari kursi sambil melepas mantel hangatnya.
"Yang Mulia..."
Raiden mengangkat satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringai. "Keluar. Aku harus bersiap menjenguk calon tunanganku." otak pemuda itu sedang bekerja keras memikirkan Quinn. "Dia selalu punya cara menarik perhatianku."
Selama sepuluh menit Raiden menunggangi kudanya sendiri menuju ke istana Grand Duke. Dia berlari masuk ke dalam istana tanpa rasa sungkan. "Salam, Grand Duke."
Bastien tersenyum tipis "Pangeran, kau cepat sekali datang."
"Anda sedang mengurus apa? sepertinya serius sekali." tanya Raiden seraya melangkah mendekat ke meja kerja Bastien.
"Aku akan sedikit mengurangi pelayan ku."
Sementara di kamar Quinn sibuk memikirkan tentang perkataan Zacchaeus yang meninggalkan tanda tanya besar dalam otaknya. Sedikitpun Quinn tak pernah merasakan aura lelaki itu dan bahkan tidak merasa adanya aktivitas sihir atau semacamnya sebelum dia terpenggal.
"Benar juga. Kalau diingat-ingat lagi, aku tidak pernah menanyakan tentang asal-usul Ibu. Dia juga tidak pernah menceritakan kampung halamannya. Lalu di mana dan bagaimana Ayah bisa bertemu dengan Ibu?" Quinn melirik daun pintu kamarnya, merasakan bahwa ada langkah kaki yang mulai mendekat. "Aku tidak bisa berbaring di sini terus. Aku akan pergi setelah kunjungan Raiden selesai."
Quinn mengambil buku catatan di dalam laci nakas nya, lalu dia pun mencatat agenda baru yang perlu dia lakukan.
Tok tok tok
Ketukan pintu halus terdengar "Quinn? ini aku, Raiden."
Quinn mengembalikan bukunya ke dalam laci meja nakas yang berada disebelah ranjangnya. "Ya, silakan masuk."
Brak!
Pintu dibuka dengan tidak sabaran oleh pemuda itu. Dia berlari masuk lalu merengkuh tubuh gadis berparas manis itu erat-erat. "Maaf, Quinn. Aku datang terlambat."
"Ini sakit, Raiden. Bisakah kau lepaskan aku?"
"Oh maaf, reflek." kedua alis Raiden menurun melihat pipi Quinn yang diplester, begitu pun lengan kanannya. "Maaf, aku tidak ada di sana saat kau butuh." tangan kanannya terangkat mengelus lembut pipi berplester Quinn.
Raiden terpaku dengan keindahan mata Quinn yang lebih berkilau itu. "Quinn, matamu baik-baik saja? kenapa warna matamu sedikit berubah?"
Ini adalah pertanyaan ketiga yang Quinn dengar. Dia jamin Ayahnya akan menanyakan hal yang sama nantinya.
"Aku tidak apa-apa, mung—" Quinn berhenti sebelum kalimat yang terlontar selesai. Apa yang baru saja dia lihat tadi? tidak mungkin ilusi akan sejelas itu. Raiden jelas-jelas menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Lelaki itu seperti merasa puas dan tertantang. Raiden tidak menatap Quinn, dia seperti sudah dekat dengan ambisi nya. "Raiden? ada apa?" tanya Quinn.
"Tidak. Maaf, aku malah melamun begini." Raiden berdehem membersihkan tenggorokan, "Aku dengar kau dirampok oleh bandit itu, lantas bagaimana caramu lolos dari mereka sendirian?"
Quinn menyeringai dalam hati. Ini saatnya untuk memastikan apa yang diincar Raiden sebenarnya. Senyum indah terpatri di bibir gadis cantik itu, "Ada seorang lelaki yang menolongku, dia sangat hebat. Kau tahu, dia bisa mengalahkan para bandit itu dengan mudah. Aku penasaran apakah dia seorang Ksatria, cara bertarungnya sungguh luar biasa." tutur Quinn dengan polos.
Lihat? Quinn sekarang sangat puas melihat wajah Raiden yang langsung sekaku ekspresi patung. Sorot matanya berubah lebih tajam nan dingin. "Begitukah? apa kau ingat seperti apa penampilannya?"
Quinn berkali-kali mengumpat dalam hati melihat berapa tidak tahu malunya Raiden saat ini. Dialah yang mengirim pembunuh bayaran itu, 'kan? dengan percaya dirinya dia menanyakan keadaan Quinn dan malah lebih memilih menginterogasi nya. Seakan dia tidak sungkan menunjukkan sedikit jati dirinya pada Quinn.
"Um, karena gelap dan dia juga membelakangi aku, jadi penampilannya tidak terlalu jelas apalagi wajahnya. Tapi yang pasti dia punya rambut emas yang bersinar terang walau hanya tertimpa cahaya remang bulan. Dia lebih tinggi dari Raiden. Aku merasa jantungku berdebar kencang, aku kagum melihatnya."
Raiden tersenyum nanar. Jarinya ia pergunakan untuk memainkan ujung rambut Quinn yang tergerai sampai ke pangkuan. "Matamu berbinar ketika menceritakan orang itu, apa kau semudah itu melupakanku? jangan duakan aku begitu, Quinn. Aku merasa sakit di sini." bicara dengan nada yang menyedihkan seperti itu justru memancing Quinn ingin lebih jauh menyaksikan akting Raiden dalam membodohinya yang sudah tahu kebusukan pria muda itu.
"Tentu tidak. Cintaku hanya untuk Raiden. Aku tadi hanya menunjukkan kekagumanku saja, kok. Aku pikir tidak ada orang lain yang sekuat Raiden." Quinn merasa seluruh isi perutnya sudah berpindah ke kerongkongan. Bicara omong kosong ternyata menguras tenaga juga ya.
"Jangan buat aku terus gelisah Quinn."
"Um, tidak akan." angguk Quinn menurut.
"Kau istirahatlah yang cukup sampai semua lukamu sembuh. Jika aku menemukan orang itu, aku akan memberikannya hadiah besar karena telah menyelamatkan mu." Raiden beranjak berdiri. Ia sebelum pergi meninggalkan ruangan, Raiden menyempatkan diri mengecup kening Quinn. "Aku yang akan mengurus kusir tidak tahu diri itu untukmu, Quinn. Mulai dari sekarang tidak akan ada satupun manusia yang boleh menyentuhmu bahkan seujung jari pun."
"Kakek bilang kakek yang akan mengurusnya, kau tidak perlu menambah pekerjaanmu, Raiden. Aku tahu Raiden sudah cukup kesulitan mengambil alih pekerjaan Raja."
Raiden membuka pintu dan melangkah keluar. "Aku akan memperjuangkan segalanya untuk orang yang ku cintai. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi, selamat beristirahat, Quinn ku."
Quinn tersenyum sembari membalas lambaian tangan Raiden. "Rasa mual ku memburuk secepat ini, rasanya aku seperti mencium aroma bangkai." gumamnya masih dengan melirik tajam pintu kamarnya yang tidak bersalah. "Dia ke sini hanya untuk memastikan aku tidak mati."
Di waktu yang sama di mansion Count Shuvillian, Savero bergerak serampangan tiap melakukan sesuatu. Tangannya gemetar setelah membaca isi surat yang ditulis oleh Evan. Killian baru saja berangkat ke asrama, jadi dia tidak tahu kabar tak sedap macam apa yang didapat keluarganya.
"Penelope, ayo cepat kita pergi." ajak Savero saat melihat Penelope tengah bersiap-siap memakai gaun indah yang sudah ia beli sore itu. "Paman, mengapa kau gelisah dan buru-buru begitu? ada apa?"
"Kita harus pergi ke rumah Ayah sekarang."
"Kenapa? tapi... hari ini aku sudah ada acara dengan Pangeran.." cicit Penelope. Gadis berambut sebahu itu menyusul Savero ke depan, "Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Penelope ulang.
"Quinn terluka akibat ulah bandit." pungkas Savero tak ingin membuang-buang waktu lebih banyak.
Penelope segera mematung ditempat, matanya membulat kaget. "Apa?" gumamnya tak percaya. Kedua tangan gadis itu mengepal disamping rok, "Mengapa dia tidak mati...?"