
Sruk sruk
Terdengar bunyi seseorang baru saja turun dari ranting pohon di depan balkon kamar Quinn. Seorang pria berdiri di depan pintu balkon dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah, dia melirik kesana kemari sebelum membuka pintu itu.
"Dia tidur. Ini waktu yang tepat untuk membunuhnya." mata pria itu berkilat dalam gelapnya ruangan kamar Quinn.
Perlahan-lahan dia mendekat ke ranjang besar di mana seorang gadis sedang tidur dengan posisi miring dan membelakanginya. Dilihat dari tubuhnya yang bergerak teratur, sang empunya kamar sudah jelas tertidur pulas. Dia bahkan tidak bangun meski pria dengan indentitas tersembunyi itu mendarat cukup mantap di lantai balkon.
Pria itu membuat tubuh Quinn yang setengah tertutup selimut menjadi telentang agar dia bisa menusuk dada gadis itu.
"Matilah sekarang!"
Dia mengangkat bilah pedangnya tinggi-tinggi dan mengumpulkan tenaga di kedua tangannya.
Jleb
Dalam bayangannya dia sudah berhasil mengenai jantung Quinn, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Gadis itu membuka matanya lebar-lebar, iris keemasannya menyala terang dan menatapnya dengan tatapan membunuh. Belati biru yang dipegang Quinn sudah berhasil menusuk bagian pinggang pria tersebut.
Quinn mencabut belati nya dan secepat kilat menendang bekas tusukan yang dalam itu hingga membuat pria itu mengerang kesakitan dan akhirnya tersungkur ke lantai. "Jangan meremehkan lawan jika tidak mau berakhir mati," Quinn menginjak leher pria yang sekarang kain penutup wajahnya sudah terbuka. "Katakan siapa yang telah mengirim mu!"
Pria itu mengerang sakit, dia tidak berniat menjawab pertanyaan Quinn dan mencoba melukai kaki gadis itu. Sayang sekali pedangnya tidak terjangkau oleh tangannya.
Quinn berjongkok di atas kepala pria yang merupakan seorang pembunuh itu sambil meletakkan belati tepat di tengah dahinya, "Aku mungkin bisa mencari tahu sendiri dengan mengeluarkan otakmu." ancam Quinn sambil melotot tajam.
"Cih! kau akan lebih berguna saat tidak lagi bernyawa! kepergianmu akan membawa kedamaian dunia!"
"Hm, begitu ya? tapi aku belum tahu neraka macam apa yang cocok untukku. Bisa memeriksanya duluan?" Quinn melukai leher pria itu agar dia mau buka mulut.
"Argh!"
"Paman Vincent sudah bergerak secepat ini, ya. Mau bagaimana lagi, dia tidak akan tenang sampai aku menghilang dari pandangannya."
"Hm? kenapa jadi tenang sekali?" Quinn menunduk menatap pria yang sudah terkapar itu. Satu alisnya terangkat, "aku tidak membuat luka yang fatal supaya dia memberitahu siapa yang memerintahnya, tapi kenapa dia mati dengan mudah?"
Quinn merubah Vynx ke bentuk aslinya, "Terima kasih. Kau boleh kembali."
"Tunggu! apa dia sejak tadi menggigit racun untuk mengantisipasi kalau dirinya terpojok?!"
Quinn segera membuka mulut pria tak bernyawa itu lagi dan sebuah mutiara kecil menggelinding keluar. "Ini dipasang di bagian gigi belakang yang sudah tercabut. Jika dia menekan mutiara itu ke lubangnya bisa membuat seseorang meninggal."
{Itu mengandung kekuatan spirit, Quinn.}
Quinn tertawa kecil, "Raiden ya? padahal dia belum melihat penampilan baruku, tapi dia masih saja bersikeras merebut kekuatanku dengan benda-benda suci ini."
Quinn lantas mematahkan leher pria suruhan Raiden itu dan menjatuhkannya dari atas balkon kamarnya, dia melakukan kerusakan tambahan pada mayat tersebut untuk menutupi fakta bahwa Quinn sempat melawannya dan membuat orang lain yang menemukan menganggap bahwa pria itu terjatuh sendiri.
"Lemah sekali. Raiden pasti akan meminta orang yang lebih berbakat setelah tahu aku selalu lolos dari utusannya."
Keesokan paginya...
Emily sudah selesai menyiapkan air mandi dan sekarang sudah waktunya Quinn untuk bersiap sebelum sarapan.
"Yang Mulia Quinn, sudah waktunya Anda bangu...n, loh?" Emily terkejut karena Quinn sudah berganti pakaian dan sedang duduk sambil membaca buku di sofa kamarnya. "Anda sudah bangun sejak tadi?" tanya Emily.
Quinn melambai mengisyaratkan pada pelayannya untuk mendekat, "buangkan gaun tidur dibawah sana. Jangan sampai ada yang melihat."
"Baik, Yang Mulia."
Emily berjalan menuju ranjang dan menarik sebuah gaun yang tergeletak begitu saja dibawah sana. Gadis itu tersentak kaget saat melihat gaun putih itu telah basah dengan darah, "Y-Yang Mulia...ini..."
Quinn meletakkan jari telunjuk di depan bibir yang membentuk senyuman itu, "bisakah kau bakar itu di perapian kamar ini? aku akan memberimu sebuah cincin."
Emily menelan ludah dengan susah payah, "S-saya mengerti, Yang Mulia." Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menurut. Yah, lagipula dia tidak rugi justru sangat untung.
Yang menemukan mayat pria itu adalah para pelayan mata-mata Raiden yang tersisa. Mereka memang ditugaskan untuk membantu pria itu dengan menjauhkan orang-orang yang melindungi Quinn agar pria utusan Raiden bisa membunuh tanpa ada yang mengganggu.
"B-bagaimana bisa jadi seperti ini?"
"Dia jatuh dari lantai atas?"
"Patah lehernya cukup parah. Sepertinya dia tidak sempat menyerang."
"Apa yang harus kita lakukan? jangan sampai para Ksatria melihat ini."
"Ayo pindahkan sekarang. Kita harus membuang tubuhnya ke tempat lain."
Quinn dengan ditemani oleh Emily berjalan mendekat. "Apa yang kalian lakukan sambil berbisik-bisik di sana?" suara Quinn membuat tiga pelayan itu terperanjat kaget.
Mereka buru-buru menutupi mayat itu. "T-tidak ada apa-apa, Yang Mulia. Kami hanya sedang berdiskusi, apakah bagus tanaman pagar di sini dipotong sedikit agar lebih rapi."
Ketika Quinn menjulurkan kepala mencoba mengintip, mereka buru-buru menghalangi dengan memegang tangan Quinn, "Y-Yang Mulia, cuaca di luar sedang cukup dingin, sebaiknya Anda masuk saja."
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan di belakang sana?"
"T-tidak ada, hanya ada bangkai burung yang kelihatannya baru jatuh dari pohon. Kami akan segera membersihkannya, Anda sebaiknya masuk saja. Emily, bawalah Yang Mulia Quinn masuk."
"Baik, kepala pelayan."
Quinn berbalik pergi dan memasang senyum miring, "coba saja sembunyikan itu. Aku sudah puas melihatnya sejak semalam." pikir Quinn senang.
•
•
Kuil akan tutup selama dua hari untuk mengenang Pendeta Agung yang baru kemarin meninggal dunia. Dikatakan bahwa dia terkena serangan jantung dan kelelahan secara berlebih. Christian tentu merasa sangat bersalah, untuk apa memiliki kemampuan meracik obat kalau orang terdekat saja tak bisa ia tolong? mentalnya sedikit terguncang karena ada banyak hal yang dia pikirkan.
"Apa prosesi yang Pendeta Halsen maksud?" gumamnya sendiri.
"Hei, Christian!" seseorang datang mengagetkan dari belakang. Itu adalah Jeremiah, teman sesama wakil Pendeta Agung. Pemuda itu ikut duduk dikursi taman bersama Christian. "Kau tidak boleh terlalu lama merenung dan bersedih begitu, bukankah kita tahu bahwa Dewa sudah membersamai nya? Pendeta Halsen tidak akan kekurangan apapun, jadi kita harus ikhlas menerima," ujarnya memberi dukungan.
Christian tersenyum sambil mengangguk, "terima kasih, aku sudah merasa lebih baik."
"Aku tidak mau mengatakan ini sekarang, tapi sepertinya kau yang akan melanjutkan tugas sebagai Pendeta Agung karena kau wakilnya."
"Aku tidak pantas menjadi salah satu dari mereka. Aku tidak keberatan kalau kau yang mengisi kekosongan posisi itu," Christian masih memikirkan bagaimana dia akan mengurus toko obatnya kalau dia mengganti posisi Pendeta Agung.
Jeremiah menggelengkan kepalanya mantap, "Sebenarnya aku tidak tertarik dengan posisi yang lebih tinggi. Aku harus tetap punya jadwal tidur yang bagus, jadi kalau aku mendapat tawarannya aku juga akan menolak—"
"Hm? apa?" tanya Jeremiah ikut penasaran.
"Apakah dalam waktu dekat di kota kita akan ada yang mengadakan prosesi tertentu?" Christian berharap apa yang dipikirkannya tidaklah benar.
"Katanya Putra Mahkota akan segera melangsungkan prosesi Pemahkotaan dan mengambil alih seluruh tugas Ayahnya secara resmi."
Christian dan Jeremiah terlonjak kaget. Pasalnya jawaban yang terdengar tidak bersumber dari mereka berdua, melainkan dari seseorang yang berbisik di tengah-tengah mereka. "F-Finn?! sejak kapan kau ada di taman ini?" tanya Christian sedikit kesal.
"Aku pikir aku akan mati jantungan." gumam Jeremiah seraya mengelus dadanya yang bergemuruh.
Pemuda berambut coklat itu menyengir lebar sambil menunjukkan tanda 'peace' dengan dua jarinya. "Kalian serius sekali, aku pikir kalian sedang membahas sesuatu yang horror. Apa jangan-jangan kuil tua ini sudah mulai berhantu?" tanya Finn setengah mengejek.
Dia pun tidak sungkan untuk mendudukkan diri di tengah-tengah para Pendeta tinggi yang bersih itu. Christian melirik Finn dari atas sampai bawah, "kau kotor dan lusuh sekali seperti babi yang baru berendam di kubangan lumpur, kau pasti habis bermain-main dengan mereka di hutan," kritik Christian pedas.
"Huh?! apa katamu?!"
"Sebaiknya kau sadar diri, jangan terlalu dekat dengan kami. Tidak sepertimu yang besar ditemani binatang buas, kami besar dengan dikelilingi manusia suci. Wah, bau mu sungguh luar biasa," ucap Christian dengan wajah datar, tangannya bergerak mengipasi hidungnya berpura-pura merasa sangat terganggu dengan bau Finn.
"Huh! suci, katanya? mana ada orang suci yang merendahkan orang lain. Itu tindakan tidak terpuji," cibir Finn dengan penghayatan, "Pfft! orang yang suka memuji dirinya sendiri dengan bangga begitu, bukankah dia terlalu narsis? wah, aku tidak tahan dengan orang seperti itu."
"Manusia purba seperti dirimu mana tahu cara membedakan fakta, kau 'kan hanya mengerti bagaimana cara hidup nomaden. Jeremiah, beginilah gorila jika diberi wujud manusia."
Finn melotot kaget sekaligus sebal, dia membuang muka ke arah Jeremiah yang tidak tahu apa-apa. "Hei, apa boleh Pendeta tinggi bicara begini?! Jeremiah, lakukan pengusiran setan sekarang juga! mungkin saja sahabat polos ku sekarang sudah jadi wadah setan ganas yang suka berbicara lancang. Kembalikan sahabat lamaku!" kata Finn penuh kejengkelan, bahkan bahu tak bersalah Jeremiah sampai jadi sasaran tepukan kencang berulang dari Finn.
"Ouch! ouch, sakit! berhenti memukuli ku begitu. Kalian berdua yang berdebat, mengapa aku ikut kena imbas?!" kata Jeremiah sebal sembari melindungi bahunya.
Christian mendengus, "Omong-omong, soal prosesi pemahkotaan Pangeran itu benar?" tanya nya kembali ke topik utama. "Bukannya Raja masih hidup?".
Finn menganggukkan kepala, " Aku tidak tahu kapan akan terjadi. Coba saja kalian berdua pikirkan, memangnya prosesi macam apa yang akan bangsawan lain lakukan? kalau dipikir lagi, Raja saja sejak lama digosipkan sudah mati. Jika posisi Pangeran tidak segera diresmikan itu tidak akan baik bagi citra kerajaan kita."
Jeremiah mengangguk paham, "benar juga. Lagipula Putra Mahkota sudah menggantikan tugas Raja sejak setahun lalu, apa bedanya dengan menjadi Raja?"
Christian sudah mengerti apa maksud Finn, dia sendiri sudah memikirkan jawaban yang sama sebelum bertanya. Finn memiringkan kepalanya menatap wajah Christian yang tampak tertekan, "Ada apa? kenapa kau bertanya soal prosesi?" pertanyaan Finn membuat putra kandung Gray Morisson itu terkesiap.
"Tidak. Aku hanya penasaran, aku mendengar ada Pendeta yang menyebutkan sebuah acara prosesi."
Jeremiah menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Tapi bisa jadi prosesi yang dimaksud adalah penobatanmu menjadi Pendeta Agung selanjutnya," gumam Jeremiah masih ragu dengan pendapatnya sendiri.
"Ah kalau soal itu, aku akan menolaknya. Aku tidak pernah membayangkan diriku ada diatas mimbar dan memandu orang banyak untuk berdoa. Apalagi sampai menerima Firman Dewa secara langsung."
Finn mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Christian, "Kalau yang menjadi Pendeta Agung adalah orang bermulut tajam seperti dia, aku rasa kuil ini akan menjadi tempat aliran sesat. Jeremiah, jika saat itu tiba, aku akan pindah ke negara lain."
Karena Finn merusak keseriusan suasana, Christian menendang kaki Finn pelan. "Aku mungkin akan mempersembahkan mu pada iblis."
"Jeremiah, lihat? dia sudah tidak waras. Jangan dukung dia untuk jadi Pendeta Agung."
Jeremiah terkekeh geli, "iya, sebaiknya Christian tidak menjadi salah satu dari mereka."
Finn mengeluarkan sebuah kotak hadiah kecil dan memberikannya pada Christian, "ada titipan untukmu. Aku berniat memberikannya lebih awal padamu, tapi aku buru-buru pergi ke Verenity."
Jeremiah ikut menyodorkan tangan, "oleh-oleh untukku?" tanya nya.
"Ini, aku membawa daun dari pohon yang tumbuh di Verenity, aku tidak tahu ssjak kapan daun ini menyangkut di rambutku."
"Tck. Dasar menyebalkan." Jeremiah mengerucutkan bibirnya sebal.
Christian berdebar menerima kotak tersebut padahal belum dia buka sama sekali. Finn yang melihatnya hanya tersenyum, "buka saja supaya kau lebih tenang."
Ksatria pribadi Quinn itu beranjak berdiri sambil membawa tas punggungnya. "Aku harus pulang sekarang. Seseorang pasti sudah menunggu kepulanganku."
Christian, teman sedari kecil Finn menangkap sesuatu yang berbeda dari Finn. Pemuda dengan luka di mata kanannya itu tampak begitu bahagia saat menyebutkan kata 'pulang' dan 'sudah menunggu'. Pemuda kalem itu tersenyum, "syukurlah sekarang kau punya tempat untuk dituju walaupun sepertinya 'seseorang yang menunggu' itu hanya khayalan."
"Hei, jangan meledek. Itu benar kok, aku tidak berimajinasi."
Finn memang tidak berimajinasi, karena Quinn lah orang yang dimaksud. Walau sebenarnya Quinn menunggu kepulangan Finn untuk informasi yang di dapatnya, bukan secara khusus untuk orangnya.
Christian membuka kotak yang memiliki surat dengan aroma bunga lily yang khas, "Guru..."
Finn Han Blackbird tak lagi ingin membuang waktu lebih banyak. Selagi Christian menyebutkan soal Firman Dewa, hatinya sudah gelisah tak nyaman ingin segera melihat keadaan Quinn. "Dia tidak akan mati karena kebodohannya sendiri, 'kan? mana mungkin," ujarnya melakukan monolog.
Quinn sedang melihat data penjualan di hari pertama perilisan sabun batangnya. Semuanya berjalan lancar, justru lebih mulus dari yang Quinn bayangkan. Hanya seseorang dengan citra baik dimata masyarakat yang bisa mempengaruhi orang-orang secepat itu.
"Kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak kenal sama sekali dengan Julie ini."
Kenapa dia sudah menyelidiki aku duluan? ada yang dia inginkan dariku.
Quinn beranjak dari meja belajarnya untuk membuka tirai yang menutup pintu balkon. Gadis itu terperanjat kaget karena seseorang tiba-tiba muncul di dekat wajahnya. "Lady, aku sudah kembali," Finn melambaikan tangannya.
"Selamat datang kembali, Finn."
Finn menurunkan tas punggungnya dan meletakkan itu di atas meja sofa. "Aku sudah mendapatkan banyak sekali informasi. Malahan, kita bisa mempercepat proses pengajuan ke Pengadilan."
Quinn tersenyum "sungguh?" tanya nya menunggu Finn selesai mengeluarkan segalanya yang terdapat di dalam tas.
"Sebelum itu, ada yang ingin aku tanyakan padamu." Finn berhenti mengeluarkan amplop pemberian Julien.
Quinn menatap Finn dengan ekspresi polos, "hm? apa?"
"Apakah Baron itu tidak melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?"
"Baron?" mata Quinn terbelalak lebar, "bagaimana kau bisa mengenalnya? apa kau bertemu dengannya di suatu tempat?"
...•...
...•...
...•...
...•...
Catatan:
Pola hidup nomaden adalah pola hidup yang dilakukan oleh manusia purba dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain secara berkesinambungan. Jenis Pola hidup ini sudah ada sejak zaman prasejarah, di mana manusia hidup bergantung pada alam dan mengembara dengan cara berburu dan meramu.