
..."Lady Quinn Yang Terhormat, saya sudah mendapat semua informasi yang Anda inginkan. Semoga kita bisa bekerja sama lagi suatu saat nanti....
...Semua surat bukti sudah saya lampirkan di dalamnya. Jika berkenan, bolehkah kita bertemu lagi? saya sangat tertarik ingin menjalin bisnis dengan Anda."...
^^^—Blackrose^^^
Kira-kira seperti itulah bunyi pesan singkat yang Quinn terima dari Rupert. Tidak hanya catatan kecil itu saja, di dalam amplop terdapat beberapa lembar laporan yang sudah selesai Rupert selidiki. Baru semalam dia menerima kiriman itu yang datang bersamaan dengan surat dari Penelope.
Saat kedatangan pertamanya ke Blackrose malam itu, Quinn tidak meminta Rupert untuk menyelidiki Vincent melainkan Gray Morrison. Quinn merasa bahwa dia bisa memanfaatkan Penelope untuk mencari data dan bukti sebab dialah yang tinggal serumah dengan Vincent. Untuk mempersingkat pekerjaan, akhirnya Quinn meminta Rupert menyelidiki soal pengracik obat terhebat di Helldelune.
Gray Morrison ternyata menikah dengan sepupu jauh Kaisen. Bagi keluarga kerajaan, anggota keluarga perempuan apabila menikah dengan pria yang bukan dari kalangan bangsawan maka harus melepas status kebangsawanan nya dan tidak diperbolehkan untuk tinggal di istana lagi. Bukan berarti bermusuhan, itu hanya peraturan. Tidak semua keluarga membenci anggota yang lebih memilih keluar dari kehidupan mewah kerajaan.
Dari pernikahannya dengan sepupu Kaisen, dia dianugerahi seorang putra yang dia namai Christian. Namun, akibat perselisihan yang terjadi tidak lama setelah perayaan kemenangan perang, seseorang menumbalkan istri Gray yang kemudian mendapat cap pemberontak. Dia diseret kembali dan entah bagaimana nasibnya sekarang.
Untuk menyelamatkan diri dan juga anaknya, Gray menaruh Christian di panti asuhan dekat dengan kuil dan untuk sementara waktu Gray perlu menyembunyikan dirinya. Selama masa persiapan, dia sering kembali ke Helldelune untuk mengawasi perkembangan Christian dengan berpura-pura sebagai guru dalam mengajari tentang pengobatan melalui olahan tanaman herbal.
Itulah perjalanan Gray hingga akhirnya bisa bekerja di istana. Spekulasi yang paling menonjol adalah Gray sedang berusaha mencari istrinya baik dalam keadaan masih hidup atau tidak, dia perlu mengetahui kabar sang istri.
Hal utama yang Quinn tahu adalah Gray malah terperangkap di dalam istana tanpa bisa bergerak bebas karena dia tidak tahu akan berhadapan dengan tembok besar. Seluruh informasi Gray sudah ada ditangan Raiden dan hidup pria malang itu kini ada di tangan sang Putra Mahkota.
Quinn pernah hidup di penjara bawah tanah selama enam bulan lamanya sebelum akhirnya dia dijatuhi hukuman mati. Ada satu sel yang berseberangan dengannya, hanya terisi oleh seorang wanita yang sama lusuhnya. Dia kelihatan seperti tulang yang terbalut kulit saja. Rambut keunguan nya sudah sangat kusut, sama seperti gaunnya yang telah usang.
"Tuan Gray, mau aku bantu tidak?"
Pria berkumis itu membenarkan kacamatanya yang nyaris jatuh dan berdiri lagi dengan tegak. "Anda sepertinya sudah salah bicara. Saya tidak memerlukan bantuan apapun dan tentang murid saya, dia adalah anak yang pintar sehingga saya berusaha menggali potensinya saja. Sejujurnya saya telah menganggap dia seperti anak kandung sendiri." Sanggahan Gray tampak natural. Untuk orang yang belum mempunyai bukti mungkin akan terkecoh dengan pembawaan tenang pria itu.
Quinn menyodorkan sebuah surat kecil tulisan tangan Gray yang menyatakan pada pihak panti untuk menamainya sesuai dengan nama lahir Christian dan membesarkannya dengan baik.
"Lalu, bisakah Anda tetap menyangkal meski Anda sendirilah yang menulis surat ini dan menaruhnya di keranjang bayi Christian?" Quinn mengambil kertas kecil berisi catatan ramuan baru yang Gray letakkan di atas meja dan mensejajarkan nya dengan surat yang dia bawa. Kedua tulisan sangat mirip karena yang menulisnya memang satu orang yang sama.
Gray mengeratkan tinju tangannya di dalam saku celana. Diam bukan cara yang tepat untuk menghindari Quinn. "Anda pasti juga tahu bahwa tulisan tangan sama saja dengan cetakan surat kabar, bisa sama persis. Bukan berarti yang menulis adalah orang yang sama."
"Gambar bunga tulip ini sama persis dengan bunga yang Tuan pajang di sana," Quinn menunjuk bunga tulip di dalam vas bunga. Gadis itu melanjutkan ucapannya, "Kalau tidak salah, bunga tulip adalah bunga yang menggambarkan kasih sayang antar anggota keluarga yang saling mengasihi. Bunga ini cocok untuk dijadikan hadiah di hari ibu. Tuan Gray ingin Christian juga mengingat ibunya dengan bunga itu walau dia tidak tahu apa maksudnya."
"..."
"Apa Anda sudah mendapatkan hasil dari perjuangan menjadi pengracik obat di sini? apa kabar istri Anda?"
Tidak ada lagi yang bisa Gray sangkal. Alhasil pria itu hanya dapat mengulas senyum sendu. "Lady, Anda benar-benar telah menyelidiki saya, ya."
"Tidak juga. Aku hanya tahu sedikit saja soal Tuan Gray," Quinn lantas mengambil kembali surat yang Rupert pinjamkan dari panti asuhan. "Ada kemungkinan Putri Leticia masih hidup."
Jantungnya sempat berhenti sepersekian detik. Matanya terbuka lebar ketika mendengar Quinn mengucap nama istrinya. "Bagaimana Anda bisa menyimpulkan begitu? selama bertahun-tahun saya bekerja di sini, saya tidak pernah sekalipun mendapat informasi mengenai istri saya," Gray tidak sedang memarahi Quinn, dia hanya ingin memastikan bahwa Quinn memiliki bukti tentang Leticia sehingga secercah harapan yang muncul dalam hatinya tak segera pupus begitu saja.
"Apakah Anda lupa? tidak ada yang berani mengatakan sesuatu kepada Anda karena ini adalah istana dan Putri Leticia merupakan anggota keluarga kerajaan, meski dia sudah melepas statusnya. Sebisa mungkin mereka menutup aib yang ditimbulkan keturunan kerajaan."
"Anda tadi mengatakan bahwa istri saya masih hidup. Dari mana Anda bisa mengetahui itu?" Gray terlihat sangat tidak sabaran. Penantiannya seakan seperti menemui titik terang.
Aku tidak bisa memberitahumu bahwa aku melihatnya di masa lalu.
Quinn mengangkat tangannya mengajak Gray untuk saling berjabat, ia berkata, "Saya akan memberitahu semua yang saya ketahui pada Anda. Itu tidak gratis, Anda harus melakukan apa yang saya inginkan. Bagaimana? masih tertarik melanjutkan pembahasan ini?"
"...."
Sementara itu, Floyd masih duduk di tepi sungai, berteduh sambil memperhatikan botol serum yang Quinn berikan padanya. Di cek berulang kali pun hasilnya tetap sama, itu memang botol obat istana. Bukan tidak mungkin Quinn bisa mendapatkannya dengan mudah mengingat orang yang dia dekati adalah Raiden si calon Raja. Namun, yang jadi pertanyaan Floyd adalah bagaimana Quinn bisa mendapat ramuan yang Gray buat?
Seorang penjaga datang membuyarkan lamunan Floyd. "Tuan Floyd. Saya dengar dari Nola bahwa Anda telah menemukan botol obat di sini dan meminta kami untuk datang. Anda ingin saya menginvestigasi nya?"
Alis tipis nan tajam milik pemuda berambut putih itu terangkat bingung, "Kau dengar dari siapa?"
"Nola...?"
"Huh, rupanya dia masih nekat. Ku pikir dia pingsan sungguhan." batinnya berserah. Floyd mau tidak mau harus mengikuti arah permainan Quinn walau dia enggan. "Ya, ini botolnya. Aku menemukan itu di sekitar sini, apa bisa kau tanyakan siapa saja yang sering pergi kemari? aku sedikit lelah, jadi aku akan menunggu."
"Baik, Tuan Floyd. Akan segera saya laksanakan."
"Dia ini kelihatan seperti orang yang berbeda. Apa yang dia rencanakan? aku harap dia sadar diri, yang di lawannya adalah seorang pangeran."
Sarah, pelayan yang merupakan teman Nola sudah datang membawakan gaun berwarna campuran ungu dan hitam yang cukup mewah. "Loh? kenapa tidak bisa dibuka? kemana Nola pergi? dasar, anak itu memang selalu mengacau."
Ketukan beberapa kali dipintu tak kunjung didengar. "Nola? Nola! kau di dalam tidak?!" Sarah berdecak kesal. Dia pun merogoh saku seragamnya untuk mengecek barangkali dia memiliki kunci cadangan, "Nah ada. Untung saja aku punya kuncinya."
Sarah langsung membuka pintu, takut kalau ternyata Quinn kabur atau ssmacamnya. "L-lady?" ternyata Quinn sedang menghangatkan diri di depan perapian yang sudah menyala, sedangkan Nola dengan enaknya tertidur di sofa tanpa memperhatikan Quinn.
"Kau lama sekali, aku sudah sangat kedinginan." wajah Quinn kelihatan sedikit pucat.
Sarah pun langsung membungkuk dalam, menyesali tingkah temannya yang sangat tidak sopan terhadap tamu mereka. "Mohon maafkan saya, Lady. Saya terlalu lama mengambil gaunnya. Saya akan segera membantu Anda memakainya," tetapi sebelum membantu, Sarah lebih dulu membangunkan Nola yang seenaknya tidur di hadapan Quinn.
"Nola! Nola, cepat bangun! kau ini jangan melupakan tugasmu, dong!" bisik Sarah dengan penekanan. Dia berulang kali mengguncang tubuh teman satu pekerjaannya itu dan baru mendapat respon lenguhan kecil, "Apa sih? kau mengganggu sekali..." racaunya sambil menggaruk kepala, tak sadar dengan situasi.
"Hei! yang benar saja! kita harus membantu Lady berganti pakaian!" Sarah menunduk menatap bagian rok kawannya yang kotor.
"Sepertinya dia tidak sengaja merontokkan abu dalam perapian," Quinn yang membantu menjawabnya. Sarah sampai tidak tahu harus mengatakan apa karena sangat malu dengan tingkah Nola. Kalau Quinn sampai melapor, habis sudah riwayat mereka. "Tidak masalah, kau bisa keluar dengannya. Aku akan mengganti pakaianku sendiri."
"Tapi Lady..."
"Aku bisa mengerjakannya sendiri, kalian jangan khawatir."
Sarah terpaksa menampar pipi Nola dengan kencang sampai si empunya mengaduh kesakitan. "Sakit, tahu! mengapa kau menamparku?"
"Kau masih memiliki kesempatan untuk marah, huh?! lihat betapa tidak sopannya kau tidur di atas sofa sementara Lady Quinn kedinginan dan duduk di lantai depan perapian!"
Sarah menyeret Nola keluar dari sana sambil terus mengomelinya seperti seorang ibu yang kesal dengan perilaku anaknya.
"Untung aku kembali tepat waktu. Si Floyd itu, rupanya dia masih mau mengambil peran."
Quinn melepas pakaiannya yang sudah bau apek akibat basah, "Cara paling cepat menaklukkan lawan adalah memegang kelemahannya. Aku bukannya tidak puas, justru aku sangat senang rencanaku berjalan lancar," dia menggulung rambutnya agar tidak kesulitan menarik resleting di punggungnya. Ia tersenyum nanar saat mengingat ekspresi terakhir yang dibuat Gray, "kalau dilihat-lihat Tuan Gray sudah sangat putus asa. Dia bilang dia ingin mengumpulkan anggota keluarganya lagi? sungguh mimpi yang berani."
{Perlu kami bantu lagi, Quinn?}
Sebuah roh spirit dengan cahaya kebiruan mengelilinginya. Dia adalah roh spirit yang tinggal di air sungai istana, tampaknya dia langsung menyukai dan ingin menempel terus pada Quinn. "Oh, bolehkah? terima kasih sudah membantuku."
{Aku senang bisa berdekatan denganmu. Auramu sama menenangkannya dengan Dewa spirit.}
Spirit itu setelah membantu menaikkan resleting gaun Quinn langsung duduk di atas pundaknya. "Apa tidak apa-apa kau mengikutiku terus begini?"
{Aku akan kembali ke sungai saat kau pulang. Sayang sekali, padahal aku ingin berlama-lama ngobrol denganmu~}
Quinn nyaris berpikir bahwa roh spirit itu seperti seekor peliharaan yang manja. Namun, dia segera menepis pikiran konyolnya.
{Tapi aku bisa datang kapanpun padamu jika kau memanggil namaku, loh.}
"Jadi para spirit juga memiliki nama?"
{Tentu saja ada, nama kami cenderung sangat pendek. Jika kau mengetahui nama kami, kami akan bisa terikat denganmu. jadi dimana pun kau berada, kami bisa menjangkau mu.}
"Menarik sekali. Kalau begitu, boleh aku tahu siapa namamu?"
{Namaku Vynx. Ingat itu ya!!}
"Baik, Vynx."
{Ada yang datang!}
Spirit kecil itu segera menghilang sesaat setelah Quinn sudah dapat mendengar langkah kaki yang mendekati pintu.
"... Raiden?"
Pintu kamar tamu itu terbuka lebar dan menampakkan sosok tinggi semampai Raiden, rambutnya tampak sedikit berantakan tetapi pakaiannya masih sangat rapi. Wajahnya yang datar seperti biasa memandang Quinn di depan perapian. "Aku dengar kau tercebur ke dalam sungai."
Quinn mengangguk polos, "Ya, aku terjatuh karena tidak berpegangan. Raiden, kau sudah selesai rapat?" tanya Quinn sambil senyum.
"Baru saja selesai dan aku langsung menuju kemari saat mendengarmu jatuh."
Raiden menutup pintu itu dan melepas dasi serta bros yang terasa mencekik. "Huh, aku cukup lelah menghadapi para berandalan itu." Berandalan yang dimaksud adalah para anggota kementrian istana yang terdiri dari beberapa bangsawan berbagai kasta. Mereka seringkali membuat rumit suatu masalah yang seharusnya cepat bisa diatasi. Raiden bisa saja menguasai sepenuhnya rapat tersebut, tetapi itu akan memperlihatkan secara jelas bahwa Raiden tidak menunjukkan tanda sebagai calon Raja Ethereal yang baik.
Raiden tiba-tiba menyandarkan kepalanya dibahu Quinn seraya menghela nafas gusar, "Quinn, apa kau pikir aku bisa melanjutkan pekerjaan Ayahku?"
Raut wajah Quinn berubah jadi dingin, "Tentu saja. Kau 'kan hebat, lagipula jika kau lari dari tanggungjawab mu itu malah kelihatan sangat tidak keren."
Mau berakting seolah kau ingin menyerah pada takhta? itu konyol. Aku yakin kau sudah sadar bahwa aku tidak lagi terlalu mengejarmu, itu sebabnya kau menarik simpati ku agar aku tetap bertahan di sisimu untuk kau cabut nyawaku.
Raiden mengangkat wajah, kedua tangannya yang besar berpindah memegang dua sisi pundak mungil Quinn. "Tubuhmu masih dingin. Apa mereka baru menyalakan perapian untukmu? aku harus menghukum mereka karena tidak bisa mengurusmu dengan baik."
"Tidak, tidak, Raiden. Kau salah paham. Mereka sudah menjagaku dengan baik, aku tidak tahan dengan suhu hangat jadi aku baru mendekat ke tungku perapian supaya gaun barunya tidak ikut basah."
Quinn menggenggam kedua tangan Raiden, pipinya sedikit memerah. Gadis itu terus mengalihkan tatapannya ke arah lantai, "S-sebenarnya kalau kau tidak lelah, aku ingin mengajakmu memilihkan gaun untuk ku pakai nanti saat pesta hari jadi mu."
Raiden menunjukkan tatapan teduh, senyum lembut terpatri di bibir tipisnya. Quinn selalu terlihat manis ketika ia sedang malu-malu begini. Pemuda itu reflek mencium singkat kening Quinn sebelum akhirnya menjawab, "Tunggu apa lagi? sebaiknya kita berangkat sekarang, Quinn."
Pemuda itu tak ragu menggenggam tangan Quinn keluar dari kamar menuju ke depan pintu istana. Raiden meminta pada pelayannya untuk segera menyiapkan kereta kuda.
Jujur, Quinn sempat merasa getaran lama dalam hatinya muncul lagi. "Yang tadi itu kelihatan tulus... ah, tidak. Jangan tertipu, dia ini orang yang penuh kepalsuan," pikir Quinn mantap dalam hati.
"Omong-omong, Lady Penelope tidak berniat untuk ke Helldelune lagi?" tanya Raiden.
Quinn mengangkat bahu ringan, "Mungkin dia akan datang lagi saat ulang tahunmu. Aku dengar dia sedang sibuk mengerjakan bisnis bunga di rumah kacanya lagi," genggaman tangan Quinn yang menguat membuat Raiden menengok ke arahnya. "Kau sedang bersamaku, mengapa kau membahas orang lain semudah itu."
"Maaf, maaf. Aku hanya penasaran saja, dia orang yang baik. Aku hanya ingin menambah teman."
Tidak lama kemudian kereta kuda istana sudah siap dan mereka tidak menunda waktu lagi untuk berangkat menuju butik di dekat studio lukis milik Bastien yang sekarang sudah diwariskan kepada Quinn.
Butik itu memang butik yang cukup terkenal. Selain tempatnya yang strategis, gaun-gaun yang dijual pun sangat modis. Para wanita bangsawan sering berkumpul di sana untuk sekalian meminta rekomendasi.
Kedatangan Raiden bersama dengan Quinn menjadi sorotan banyak orang. Keduanya sering terlihat bersama diberbagai kesempatan namun tidak kunjung meresmikan hubungan seperti melakukan pertunangan atau pernikahan.
Sikap Quinn yang terlalu terang-terangan menempel bagai benalu pada Raiden menggiring opini publik bahwa si Putra Mahkota sengaja tidak meresmikan hubungan sebab dia merasa Quinn bukan pasangan yang cocok untuk menjadi pendamping, terutama mengisi posisi Ratu Ethereal.
"Raiden, aku bingung mau memilih gaun yang mana. Bisakah kau membantuku? semuanya sangat bagus."
"Kalau begitu, mengapa tidak kau beli saja semua yang menarik perhatianmu?"
"Itu sama saja dengan pemborosan."
Raiden terkekeh pelan, Quinn akan cemberut sepanjang hari jika dia tidak menuruti keinginannya. "Baiklah, baik... aku akan membantu mencari gaun yang cocok untukmu."
Raiden pun ikut mendekat ke barisan gaun berwarna pastel yang lembut untuk dicocokkan dengan kepribadian si pemakainya.
Untuk sementara kau ku sembunyikan dulu di sini. Aku harus menjadi umpan terlebih dahulu.
Quinn mengambil barisan lain yang warnanya lebih gelap. Deret gaun itu diletakkan di dekat pintu masuk. Jendela lebar butik membuat siapa saja diluar sana bisa melihat ke dalam.
Gadis berambut panjang itu menyeringai tipis kala merasa seseorang tengah memandangnya dari jendela. Quinn hanya berpura-pura tidak melihat. "Akhirnya dia datang," lirih Quinn seraya mengangkat satu gaun berwarna biru dongker dari gantungan.
Bel pintu yang tergantung di bagian atas pintu berbunyi, menandakan ada pelanggan lain yang masuk ke dalam sana.
"Wah, wah, lihat siapa yang sedang membeli gaun. Lama tidak berjumpa, Lady Quinn."
Seorang wanita dengan dandanan menor menutupi mulutnya dengan kipas tangan, dia menyapa Quinn bersama dua teman lainnya.
"Oh, ada Baroness Viridescens. Selamat siang."