I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 19



Kusir pengantar Quinn tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari objek bersurai hitam yang mulai memasuki halaman Marquess Sylvestria dengan langkah ringan itu. Kusir tersebut menggeleng heran melihat Quinn. Dia bisa semudah itu tersenyum dan menyapa para penjaga gerbang dengan riang padahal dia datang mengunjungi lelaki lajang di malam hari. Itu akan menjadi gosip tak mengenakkan bagi mereka yang merupakan golongan kaum elit, tapi sepertinya Quinn bukan salah satu dari kelompok yang menjaga nama baik.


Begitu Quinn masuk gerbang, kusir itu menjepit dua jari di bibir dan bersiul ke arah pepohonan di area depan mansion Sylvestria. Tidak lama setelah itu kepakan sayap burung lambat laun mulai semakin terdengar jelas hingga akhirnya wujudnya tidak lagi tertutup dahan pohon.


Burung gagak hitam terbang mendekat lalu bertengger patuh di pergelangan tangannya. "Aku sudah menulis surat, tolong kirimkan pada Pangeran." kusir tersebut mengelus kepala si gagak sebentar, lalu ia terbang kembali ke arah dia datang.


"Bukankah Pangeran sudah menghalanginya? dia ini memang gigih sekali." gumam si kusir heran, dia pun duduk di tempatnya lagi. "Aku haus— oh aku lupa soal ini..." pria itu memegang botol kecil pemberian Quinn.


"Ya, cepatlah minum. Mungkin jiwamu akan dikasihani Dewa." lirih Finn yang bersembunyi di atas pohon. Tangan kirinya sudah memegang bangkai gagak pengirim pesan yang kusir itu hendak kirimkan ke Raiden. "Padahal aku juga ingin dengar apa yang dia bicarakan dengan Marquess muda itu." gerutunya tak puas sebab dia ditugaskan untuk menghentikan kusir menghubungi tuannya.


Sementara di dalam mansion Sylvestria yang sudah sepi itu, Quinn duduk berdua dengan Izeqiel di ruang tamu. Keduanya kelihatan canggung karena sudah lama mereka tidak lagi bertatap muka sedekat ini. "Aku tidak menyangka kau akan mengirimi ku pesan lewat seekor kucing. Itu lucu, hahaha."


Quinn terkekeh sambil memegang pipi. "Mau bagaimana lagi, aku sedang terdesak."


"Syukurlah kau sampai dengan selamat. Kau agak terlambat, aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu."


"Maaf, aku tadi mampir ke rumah sebentar untuk memberikan hadiah pada Killian."


Quinn kala itu, tepat setelah dia menitipkan surat pada Evan, ia kembali ke kamarnya dan dua menulis surat baru dengan isi yang berbeda pula. Satu, dia lewatkan merpati untuk Christian. Dua, Quinn mengikat surat ke ekor kucing hitam yang ia beli setelah menyambangi studio lukis dan dikirimkan pada Izeqiel. Jadi Quinn tidak asal datang, Izeqiel si tuan rumah sudah lebih dulu tahu kedatangannya.


"Jadi, hal apa yang mau kau bicarakan padaku, Quinn?"


"Sebelum itu, Izek...aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu agar kau paham situasi ini."


Izeqiel, pemuda tampan nan tenang itu menahan nafasnya. Ini pertama kalinya dia melihat Quinn menatap seseorang dengan serius dan jujur saja Izeqiel jadi takut dengan gadis itu. "Apa aku membuat kesalahan?" pikirnya.


"Aku tidak akan bermain-main seperti dulu, aku akan mencari uang untukku sendiri, tidak ada Quinn lugu yang seperti dulu. Jadi, aku datang ke sini ingin membahas bisnis denganmu."


Iris biru aquamarine nya menatap Quinn tanpa berkedip, "Bisnis apa yang ingin kau bicarakan denganku? aku siap membantu kapan saja."


"Eh? aku belum bilang apa-apa."


"Aku tahu kau selalu bersungguh-sungguh ketika ingin melakukan sesuatu."


Aku menyukaimu, itu sebabnya aku akan selalu mempercayai mu. Seandainya aku bilang begini, apa kau akan menjauh?


Izeqiel tidak ragu mengeluarkan senyum tulusnya agar Quinn yakin mengutarakan apa yang menjadi unek-uneknya. "Berapa banyak kasus anak-anak jatuh sakit di sini?" tanya Quinn cepat.


"Kemungkinan sudah ada sepuluh anak yang jatuh sakit secara bersamaan minggu ini. Beberapa obat sudah coba ku edarkan tapi sepertinya kurang cocok dengan mereka karena mereka hanya sembuh untuk dua hari saja dan gejalanya kembali."


"Aku sudah menemukan obat yang aku rasa akan sangat berefek. Aku mungkin akan mulai membagikannya besok atas nama kakekku. Yang aku mau darimu adalah investasi."


"Investasi..?" beo pemuda berambut seputih salju itu bingung.


Quinn mengangguk mantap. "Berinvestasilah padaku. Aku tidak akan meminta bayaran untuk obatnya." Izeqiel masih fokus mendengarkan semua penjelasan Quinn. "Aku akan membuat bisnis sabun."


"Sabun? apakah mereka bisa membelinya?"


"Tentu saja, masyarakat kelas rendah adalah target pemasaran ku. Aku memang sengaja memasang harga paling murah supaya mereka bisa menjaga kebersihan mereka dengan sabun itu. Cara ini adalah pencegahan jangka panjang. Daripada mereka terus mengonsumsi obat yang bisa membahayakan lambung, bukankah lebih baik menjaga kebersihan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit?"


Izeqiel menganga kagum mendengar Quinn bicara seakan dia adalah pebisnis handal dan bukannya anak remaja yang tengah mencoba merintis. "Lalu?" dia tampak antusias mendengar ide unik yang terpikirkan dan terencana dengan baik oleh gadis manis itu.


"Dengar. Penyakit itu cepat sekali menular, pihak kerajaan akan sulit bergerak cepat karena Raja sedang sakit sementara mereka membutuhkan tanda tangan, cap, dan sebagainya sebagai persetujuan pengelolaan anggaran. Aku membutuhkan dana yang cukup untuk membuat produk lebih banyak."


Dia... dia sungguhan Quinn?


"Mungkin bisnis ini terdengar musiman dan tidak akan membawa banyak keuntungan, tapi percayalah skala pemasaran ini akan segera meluas." setidaknya Quinn sudah melihat apa yang terjadi di masa depan, bukan tentang bisnisnya karena ini adalah pertama kalinya Quinn berpikir membuat bisnis sendiri, tetapi tentang kekacauan yang akan menyerang negara karena Raiden acuh tak acuh dengan rakyatnya sendiri.


Quinn mengangkat satu alisnya bingung saat tahu pikiran Izeqiel tidak sepenuhnya di sana. "Kau mendengar ku tidak, Izek?"


"O-oh iya, iya aku mendengarkanmu."


"Apa yang sedang kau pikirkan? sepertinya kau sedang bingung. Aku mungkin bisa membantumu."


Izeqiel menggaruk tengkuknya, ia bingung harus mulai dari mana. "Sebenarnya ini sudah memasuki musim kemarau dan masyarakat di wilayah ku berusaha menjaga kebun mereka supaya tidak gagal panen. Kau tahu, kota Nefeli adalah kota dingin penghasil tanaman pangan terbesar, tapi harganya akan jadi lebih mahal jika kita memasok nya dari sana saat musim kemarau begini. Itu akan membuat mereka yang tinggal di Helldelune kesulitan mengimbangi harga dengan pekerjaan mereka yang hasilnya tidak menentu."


"Ya, kau benar. Lalu, di mana masalahnya?"


"Tapi belakangan ini mereka memberikan laporan padaku bahwa tanaman mereka mengering dan buah yang dihasilkan jadi cacat. Air sungai saja masih belum mengering. Aku saat ini sedang memeriksa pupuk yang mereka gunakan."


Quinn memegang dagunya sambil berpikir. "Di mana mereka membeli pupuk itu?"


"Aku dengar mereka memesannya dari Nefeli karena petani mengira tanah dingin mereka lebih bagus."


"Boleh aku melihatnya?"


"Tentu. Mari aku tunjukkan."


Quinn mengambil tanah pupuk itu lalu memeriksanya sendiri termasuk sambil mengendus aroma tanah pupuknya. "Kenapa kau mengendus tanah, Quinn?"


"Kandungan pupuk ini tidak cocok dengan tanah yang mudah panas dan kering seperti di Helldelune. Di dalamnya terdapat terlalu banyak kandungan garam, jadi tanaman mereka justru dua kali lebih cepat mengering." Quinn menepuk-nepuk telapak tangannya guna menghilangkan tanah pupuk yang menempel.


Gadis itu menoleh menatap Izeqiel sambil tersenyum penuh makna. "Aku kenal seseorang yang hebat dalam mengolah pupuk. Jika kau mau, aku yang akan membujuknya mengirim pupuk kemari. Soal pembayaran, bisa kalian berdua bincangkan sendiri."


"Terima kasih, kau sudah membantuku. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalas jasamu?" Quinn yang biasanya tidak akan pernah sedikitpun mengharapkan imbalan, kali ini di depan mata Izeqiel, Quinn tampak sedang memikirkan imbalan yang bagus. "Sepertinya aku akan ambil penawaran itu saat aku butuh. Untuk saat ini, bisakah kau merahasiakan semua obrolan kita? aku tidak mau semua tahu soal ini."


Izeqiel mengangguk cepat "Tidak masalah."


"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Terima kasih sudah mau berbisnis denganku."


Izeqiel kelihatannya tidak rela Quinn pergi secepat itu, "Q-Quinn..."


"Ya?" gadis yang dipanggil namanya itu berhenti melangkah dan berbalik menatap sang tuan rumah.


"A-anu, itu..." Izeqiel memijat tengkuknya sambil memandang ke sembarang arah asal tidak bertatapan langsung dengan gadis yang disukainya sedari kecil itu.


"Anu?" Quinn mengangkat satu alisnya.


"Aku hanya ingin bertanya, apakah kau baik-baik saja? aku sempat khawatir karena mendengar kabar bahwa kau tinggal bersama Grand Duke."


"Ah, soal itu rupanya? aku baik-baik saja kok. Dokter hanya menyarankan ku untuk mencari suasana baru agar gangguan tidurku tidak memburuk."


"Syukurlah."


"Maaf, Izek. Kita akan mengobrol lagi lain kali, aku harus segera pergi. Ini sudah terlalu malam untuk tetap bertamu. Selamat malam."


Jangan ditanya apakah Izeqiel pusing atau tidak, sudah pasti nalarnya sulit menerima perubahan dari seorang gadis lemah lembut yang ceria menjadi sesosok gadis dewasa yang anggun dan berkharisma dalam waktu drastis. Biar bagaimana pun, keduanya tetap sama-sama gadis yang sedari dulu Izeqiel kagumi, meski dia masih belum mengerti situasi yang mendorong Quinn untuk merubah sifat dan tindakannya.


"Aku akan mendukungmu dari belakang, Quinn."


Di luar gerbang mansion...


"Maaf, tuan. Aku sedikit terlambat."


Quinn menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajah sambil memasang ekspresi menyesal. Gadis itu melirik sekilas botol berisi air doa yang dia ambil dari kuil, satu sudut bibirnya terangkat ketika isinya hanya tinggal sepertiga botol saja.


"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Ini memang sudah menjadi tugas saya. Sekarang mari kita pulang."


"Baiklah."


Sebelum masuk ke dalam kereta, Quinn mendongak ke salah satu ranting pohon di mana Finn masih setia menunggu di atas sana.


Setelah masuk ke dalam, kereta mulai berjalan dengan kelajuan sedang. Di dalam sana Quinn mengangkat roknya. Quinn sedari rumah telah mengikatkan belati di pahanya. "Untung tidak jatuh. Aku kelihatan sok keren, ya. Tidak juga, aku tidak melakukan ini untuk bergaya." gadis berwajah bulat mungil itu melakukan tanya jawab sendiri.


"Hoaammm, mataku sudah berat sekali." kusir yang menjadi salah satu mata-mata Raiden itu menguap lebar menahan kantuk.


Quinn mengintip ke luar jendela untuk mengamati jalan. "Sudah jauh dari rumah Izeqiel. Mungkin ini saat yang te— eh?!"


Tiba-tiba kereta yang ditunggangi nya bergoyang hebat hingga membuat Quinn membentur dinding kayu kereta. "Akh!" pekiknya sakit, kepalanya yang malang menyundul kayu tak bersalah di samping tubuhnya.


Seseorang berjubah panjang serta memakai topeng mendarat di atas kereta dengan berpijak cukup keras hingga Quinn mengira atap kereta akan jebol.


Sang kusir itu terbelalak kaget. Dia tidak lagi menghadap jalan melainkan ke atas kereta. Baru saja dia melihat sosok misterius itu, tengkuknya dipukul dengan cukup keras hingga dia pun kehilangan kesadaran dan kuda pun melaju tanpa pemandu.


Quinn tidak memiliki waktu untuk berpikir. Dia yang notabene nya tak pernah melatih fisik, memilih melompat keluar dari kereta setelah melihat sebentar lagi kereta yang ditunggangi nya menyambar pohon.


Saat itu Quinn melompat tanpa pendaratan yang tepat sehingga dia perlu menggelinding di tanah sampai-sampai gaun, wajah, serta rambutnya berantakan dan berdebu. "Aduh, sakit." rintihnya dengan tubuh yang masih tengkurap di tanah.


Braak!


Bunyi tabrakan keras itu terdengar menandakan bahwa perhitungan Quinn tepat. Tubuh kusir itu terjatuh di depan pohon sementara kuda yang membawa keretanya berlari kabur entah kemana. "Bisakah kau memberi aba-aba? sepertinya kau berniat membunuhku bersama kusir itu..." ucap Quinn pada pria bertopeng tersebut, "Finn."


"Hehe maaf, ku pikir kau siap kapan saja."


Rupanya sosok bertopeng misterius itu adalah Finn. Jangan salahkan Finn sepenuhnya, sejak awal ini semua adalah rencana Quinn de Alger Shuvillian. Melompat keluar dari kereta itu juga merupakan rencana Quinn sendiri, tentu ada maksud tersendiri.


Finn melompat turun dan menghampiri Quinn. "Kau baik-baik saja? ada yang terluka? penampilanmu jadi seperti gembel begini."


"Sekali lagi kau bilang begitu, aku mungkin akan merobek mulutmu di sini sekarang juga." Quinn mengacungkan belati silver dalam genggamanya ke depan wajah tampan Finn. "A-ah ya, maaf. Aku tidak sungguh-sungguh mengolokmu."


"Justru aku membutuhkan penampilan seperti ini untuk menguatkan alibi ku."


"Alibi?"


Quinn tidak menjawab kebingungan Finn. Sekarang dia sibuk melepas perhiasan yang melekat pada tubuhnya serta satu kantong berisi koin perak dan menggabungkannya menjadi satu. "Aku menaruh pil pemberian pendeta Christian ke dalam botol minuman itu."


"Memangnya itu obat apa?"


"Obat tidur biasa tapi dengan efek yang lebih mirip seperti alkohol."


"Maksudmu, dia tidak akan mengingat kejadian malam ini?" tanya Finn memastikan perkiraannya.


"Begitulah." Quinn berdiri setelah mengikatkan kantong uang dan perhiasan miliknya ke pinggang si kusir. "Cepat bawa dia pergi ke tempat yang lebih mencurigakan. Aku akan berjalan pulang dari sini."


"Apa kau gila? istana Grand Duke jauh dari sini." Alis Finn bertaut tidak setuju dengan rencana Quinn yang sebenarnya sudah gadis itu bicarakan dengannya saat di ruang kerja Bastien. Walau sudah mengerti dan berjanji membantu, tetap saja dia tidak tega membiarkan Quinn pulang sendirian.


Gadis cantik bermata biru dengan corak emas kecoklatan itu tidak menghiraukan ucapan Finn. Dia sibuk menggunakan belati nya untuk merusak gaun yang dia pakai agar semakin membuat kejadian perampokan itu nyata. "Apa aku menyuruhmu berdiri di sini untuk ragu-ragu? seorang ksatria tidak boleh ragu dalam melangkah atau dia akan mati duluan di medan pedang. Beban yang perlu kau bawa adalah pedang mu, bukan pikiranmu." kata Quinn seraya menatap Finn datar.


Ekspresi dingin itu justru membuat Finn merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Daun telinga pemuda itu tanpa alasan yang jelas memerah bersamaan dengan sang empunya yang mengalihkan pandangan. "Aku mengerti. Harga diriku terluka mendapat nasihat dari gadis kecil yang lemah." balasnya sambil menggaruk belakang kepalanya.


Finn kemudian memanggul tubuh si kusir untuk membawa pergi agar pria itu terlihat kabur setelah berhasil mengambil benda berharga milik Quinn dan meninggalkannya sendirian tengah malam.


"Kau yakin baik-baik saja?" ulang Finn sebelum dia pergi.


"Ya. Pergilah, waktu kita tidak banyak."


Finn berlari pergi ke arah yang berlawanan dengan Quinn.


"Huft, untuk aku tidak memakai gaun kesukaanku." gumamnya merasa sayang ketika dia harus merusak gaunnya sendiri. "Leherku agak sakit, sepertinya karena aku asal-asalan jatuh tadi."


Quinn berjalan dengan santai dengan penampilan lusuh.


Tiba-tiba ada tiga orang berjubah panjang yang mencegat Quinn. Tanpa aba-aba mereka segera menarik pedang, menunjukkan asli niat mereka yaitu untuk membunuh dirinya. Namun Quinn bisa lihat dengan jelas wajah ketiga pria itu, semua bukan orang yang dikenali Quinn.


"Siapa kalian?!"


Ketiga pria itu menyeringai lebar sambil melingkar mengepung Quinn.


Suruhan siapa mereka? aku tidak punya persiapan untuk ini. Finn sudah terlanjur jauh.