I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 40



Suasana pesta masih sangat meriah. Tampaknya jamuan Raiden malam ini sukses besar, para tamu menyukainya. Alunan musik yang lembut dari para pemain musik handal membuat suasana lebih menenangkan. Semua bangsawan bergerombol dengan kelompoknya masing-masing.


Sekarang Raiden tengah memegang gelas anggur nya sambil mengobrol santai dengan Bastien dan Duke Wisteria.


Suasana terkontrol dengan baik.


Raiden pun terus mengobrol santai sembari menanti kabar kematian Quinn sampai ke telinganya. "Siapa yang menyangka kalau yang membunuh Quinn adalah Raiden sendiri? pfft. Ini sangat seru," pikir pemuda itu tanpa tahu apa yang telah terjadi pada lima Ksatria yang dia latih di bawahnya secara langsung.


Brak!


Pintu aula terbuka lebar, menampakkan sosok Quinn yang sudah berantakan dan bersimbah darah. Lukanya masih menganga lebar. Beberapa bangsawan wanita berteriak kaget melihat tiap jejak yang ditinggalkan Quinn menepak darah.


"Yang Mulia!"


Raiden menghadap ke sumber suara. Matanya terbuka lebar.


Dia masih hidup?!


Raiden tidak sengaja menjatuhkan gelas anggur nya ke lantai. Bastien juga terkejut bukan main melihat Quinn lagi-lagi terluka cukup dalam.


Quinn yang seharusnya sudah mati, kembali dalam keadaan selamat!


"Yang Mulia..." Quinn berjalan mendekat sambil memegangi lengannya.


"Quinn! kau kenapa?!" Bastien merasa ngeri melihat cucunya sudah berdarah-darah sampai baju hitamnya sudah tidak terlihat hitam lagi, aroma getir darah menyeruak masuk ke dalam rongga hidung mereka yang dekat dengan jalan Quinn.


Bagaimana bisa?


Darah itu masih mengalir dari lukanya.


Itu artinya rencana ku gagal di depan mataku sendiri?


Raiden melirik ke segala arah. "Pokoknya aku harus tenang, ada banyak mata yang memandang," batin Raiden berusaha menetralkan kekecewaannya atas fakta bahwa Quinn masih hidup dan kembali ke pesta.


Dia pintar sekali menarik perhatian.


Raiden menatap Quinn yang berjalan mendekat "Quinn, apa yang terj—"


Raiden terkejut karena tiba-tiba Quinn menggengam kedua lengannya dengan tangannya yang dipenuhi darah sehingga darah itu juga mengotori pakaian Raiden. "Yang Mulia Raiden, mengapa kau ada di sini? tadi Yang Mulia memanggil saya untuk datang ke rumah kaca. Aku diserang saat menuju ke sana..." Quinn menangis ketakutan.


Bastien, Savero, Vincent, dan Penelope yang ikut menyaksikan memandang ke arah Raiden tak percaya. Quinn sedikit puas melihat orang-orang mulai membisikkan sesuatu. Seperti biasa, para bangsawan suka sekali membuat rumor dan menyebarkannya seolah itu adalah berita valid, Quinn memanfaatkan itu untuk menyudutkan Raiden.


"Saat aku ke sana, tidak ada siapapun di sana. Mereka justru mengarahkan ku ke hutan dan Ksatria itu menyerang ku..."


Raiden menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya langsung berkaca-kaca. Raiden balik menggenggam erat kedua bahu Quinn dan berkata, "Katakan siapa yang memanggilmu? apa kau ingat penampilannya? aku tidak menyangka akan ada seseorang yang berani menyakitimu dengan berpura-pura jadi utusanku. Bagaimana dia bisa melakukan hal sekeji itu..." Raiden meradang, dia tampak begitu sedih melihat gadis itu berlumur darah dan lukanya yang cukup dalam.


Luar biasa. Jadi dia ikut berakting untuk mengimbangi aku ya.


"Katakanlah. Aku akan segera menangkapnya sekarang juga!"


"Ya, itu..." Quinn masih tidak menyangka kalau Raiden akan berpura-pura tidak tahu, walau dia yakin saat mereka berdua mungkin pemuda itu akan mengaku. "Ada lima orang Ksatria. Salah satu dari mereka punya luka di pipi kanannya, rambutnya coklat..." gadis pintar itu mengamati baik-baik wajah Raiden.


Kau merasa percaya diri tidak akan ketahuan karena mereka hanya Ksatria rahasia yang tidak memakai emblem kerajaan? lalu bagaimana cara kau akan mengatasi yang ini, huh?


Quinn memegang dagunya sambil berpikir, "Tapi aneh kalau mereka berpura-pura menjadi utusan orang lain..." gumamnya mencuri perhatian, "sebab orang-orang itu membawa ku ke tempat rahasia kita," Quinn tersenyum pahit sambil memberikan tatapan kecewa, "Area itu tidak dilewati orang biasa. Aku hampir saja kehilangan nyawaku di tempat istimewa seperti itu."


"Apa maksudnya itu?"


"Apa ada tempat seperti itu?"


"Mana kita tahu. Namanya juga tempat rahasia."


"Kalau begitu, apa pelakunya adalah orang yang mengetahui tempatnya...?"


Orang-orang sudah sibuk bergunjing dan mengatakan hal-hal tak terkendali. Semua mulai mengambil kesimpulan yang bisa membahayakan reputasi Raiden sebagai Putra Mahkota. Raiden menyeringai tipis, dia merasa ditantang lagi oleh Quinn.


"Tutup semua pintu di area pesta. Aku akan mengakhiri pesta ulang tahun yang seharusnya diadakan tiga hari tiga malam ini."


Semua pengawal menutup pintu istana segera setelah diberi perintah langsung oleh sang wakil Raja. "Mulai saat ini tidak ada yang boleh keluar dari area pesta."


Para bangsawan di dalam sana merasa panik walau mereka bukanlah pelaku penyerangan Quinn. "Bukankah ini sudah jelas? mana mungkin orang biasa berniat menjatuhkanku dari posisi Putra Mahkota. Setidaknya yang memiliki keberanian untuk melakukannya adalah keluarga bangsawan. Kalau dilihat dalam skala besar, ini sama saja dengan gerakan awal pemberontakan."


Mereka semua terkejut mendengar ucapan Raiden yang lebih berat dari topik sebelumnya.


Putra tunggal Kaisen itu menatap nyalang para bangsawan di dalam aula tersebut. "Aku akan menindaklanjuti kasus ini dengan sangat hati-hati. Pelakunya akan dijatuhi hukuman mati."


Beberapa bangsawan merasa keberatan dengan tindakan Raiden, "Yang Mulia, itu sedikit berleb—"


Mata setajam elang itu menatap pria yang berani menjawab perkataannya, "Kalau ada yang keberatan, ya bilang saja. Aku akan menganggapnya sebagai tersangka utama," ancam Raiden yang langsung bisa membungkam mulut para bangsawan lain.


Savero menggendong tubuh se-ringan bulu milik putri sulungnya untuk dibawa pulang bersama dengan Bastien. Hanya mereka bertiga yang boleh keluar dari aula. "Kemungkinan besar pelakunya ada di dalam istana, jadi akan lebih aman kau menunggu di rumah. Maaf aku tidak bisa menemanimu, tapi aku akan segera mengecek keadaanmu begitu selesai menyelidiki kasus ini," ujar Raiden sambil mengelus puncak kepala Quinn.


Setelah itu Raiden mengangguk pada Savero dan Bastien, "Kalian bisa pergi sekarang. Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini malam ini juga."


Bastien mengangguk percaya, "Saya harap Anda bisa menyelidikinya dengan cepat. Ini kedua kalinya cucu saya mengalami hal mengerikan seperti sekarang."


"Baik, Grand Duke."


Kereta kuda keluarga Lombardia pun bergerak meninggalkan area istana. Savero mengambil sapu tangannya untuk mengikat luka lengan Quinn, "Tekan sedikit perutmu agar darahnya berhenti keluar. Berbaringlah."


Pria berwajah datar itu tampak memendam kemarahan yang luar biasa, namun juga menanggung kecemasan yang sama besarnya. "Aku tahu kau tidak suka berdekatan denganku, tapi untuk kali ini saja biarkan aku membantumu."


Quinn sama sekali tak berkata sepatah kata pun, tetapi karena tenaganya terkuras habis, akhirnya Quinn menuruti keinginan ayahnya dengan meminjam pahanya untuk dijadikan bantalan.


Bastien memijat pangkal hidungnya, "Mengapa ini selalu terjadi padamu?! siapa yang membencimu sampai sebegitunya..." Bastien menggeram marah.


"Kakek, sudahlah, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil."


"Aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Sebaiknya aku ikut Raiden memeriksa keadaan."


Jika sudah memutuskan sesuatu, Bastien tidak dapat dihentikan lagi. Pria paruh baya itu turun dari kereta kuda untuk kembali ke istana sebelum jauh. "Aku harus melihat sendiri seperti apa orang-orang yang melukai cucu ku."


Sekarang hanya tinggal Savero dan Quinn saja yang tersisa di dalam kereta. Suasana canggung sungguh terasa. "Tidurlah supaya kau tidak tersiksa menahan rasa sakit dari lukanya," Savero menutupi mata Quinn dengan telapak tangannya. Wajahnya tetap terangkat disertai tatapan tajam yang seakan siap melibas siapa saja yang mengganggu. "Maaf," lirih pria itu amat pelan.


Quinn saat itu hanya memejamkan mata, tapi kesadarannya masih terjaga. Dia tidak merasakan rasa haru dengan sikap perhatian dari ayahnya sendiri. Lagipula sejak awal Quinn tidak banyak terluka, semua darah itu adalah milik Ksatria suruhan Raiden. Luka itu pun sudah sembuh karena Zacchaeus.


Gadis cantik yang telah menjadi setengah spirit itu membayangkan ekspresi Raiden saat dia tengah berpura-pura terkejut mendengar Quinn diserang.


Daripada mencari jejak pelaku, kau pasti justru akan mencari jejak orang yang mengganggu rencana mu.


"Kalian yang disana, ikut dengan ku."


"Baik, Yang Mulia."


Raiden membawa enam orang Ksatria istana bersamanya menuju ke area belakang istana. "Agar lebih cepat, kita akan berpencar menjadi dua tim. Kalian berempat periksa rumah kaca. Lalu kalian berdua ikutlah denganku ke taman."


Raiden dengan ditemani dua orang Ksatria tidak pergi ke taman melainkan hutan belakang. Tidak perlu dipandu, Raiden sudah tahu dimana letak penyerangan Quinn terjadi. Ya, itu karena dialah dalang dibalik percobaan pembunuhan.


Raiden perlu melewati rindang nya semak belukar untuk bisa mengambil jalan pintas. Ketika sampai di sana Raiden dan dua orang Ksatria nya terkejut melihat kondisi para Ksatria rahasia miliknya yang mengenaskan. Tanah di sana sudah tidak nampak seperti tanah pada umumnya akibat darah yang membasahinya.


"Mereka semua mati! B-bagaimana mereka bisa jadi seperti ini...?" Ksatria rahasia memiliki kekuatan yang sebanding dengan Ksatria istana, bahkan di beberapa kesempatan mereka bergerak sebagai pasukan bayangan dan memata-matai target. Kini tidak ada satu pun dari mereka yang selamat.


Raiden berjongkok di depan salah satu jasad, yang mana itu adalah orang yang Quinn sebutkan ciri-cirinya. "Identifikasi luka para Ksatria ini. Aku tidak tahu seberapa hebat orang yang menyerang mereka, tapi pasti ada petunjuk yang tertinggal."


Salah satu Ksatria itu mendekat untuk memberitahukan hasil pengamatannya, "Pedangnya hilang satu. Kalau dilihat dari luka sayatannya juga dihasilkan dari pedang panjang, jadi besar kemungkinannya kalau pelaku dengan tangan kosong merebut pedang kita."


"Bekas sayatannya kalau diperhatikan baik-baik, hanya satu tusukan yang menyebabkan cedera fatal. Dia orang yang hebat, bisa jadi yang menyerangnya adalah pria bertubuh agak tinggi atau mungkin wanita yang tangguh."


Raiden memegang dahi Ksatria yang telah tewas. "Tidak ku sangka mereka semua akan mati. Misi yang telah lama aku rencanakan juga gagal. Padahal aku sudah menantikan ini sejak lama," batin Raiden.


Keluarga kerajaan,


Posisi Putra Mahkota,


Dan mimpi menjadi satu-satunya pewaris tahta bukan hal penting bagiku.


Kalau aku memiliki kekuatan Quinn, pasti aku akan jadi manusia dengan status lebih tinggi. Aku akan setara dengan Dewa.


"Hm?" Raiden menemukan emblem berlambang Rajawali yang merupakan identitas keluarga Vincent Van Marchetti di sana.


"Yang Mulia, saya menemukan bros!"


"Bawa kemari."


Raiden mengernyit bingung, "Ini bukan milik Quinn, oh tapi sepertinya aku pernah melihat ini di suatu tempat."


Satu detik..


dua detik...


Raiden menyeringai lebar, "Hahahaha jadi ini rencana nya? dia ingin melimpahkan semuanya pada Penelope, sungguh cara yang licik untuk menyingkirkan saingan."


Membayangkan wajah polos Quinn membuat perut Raiden tergelitik, dia tidak pernah menyangka Quinn akan melakukan hal ekstrim. "Padahal aku ingin membunuhmu, tapi kau malah membuatku semakin menyukaimu. Apa yang harus ku lakukan sekarang," Raiden menyisir poninya.


Tapi siapa yang telah menyelamatkan Quinn?


"Kalian berdua tolong masukkan emblem dan bros ini ke dalam plastik untuk dijadikan bukti."


"Baik, Yang Mulia."


Srek srek


Ksatria itu berhenti dan bersiap mengangkat pedang saat mendengar bunyi semak-semak yang ditabrak seseorang. Mereka menghela nafas begitu Bastien menampakkan diri. Raiden tersentak kaget, "Grand Duke, mengapa Anda kembali ke istana? lalu bagaimana dengan Quinn?"


Bastien menepuk bahunya membersihkan dedaunan kering yang menempel pada jas beludru nya. "Tenang saja. Dia sudah bersama ayahnya, tidak akan ada yang bisa menyentuh Quinn lagi," balas Bastien cepat.


Mata pria yang telah berusia lebih dari setengah abad itu menelisik jasad para Ksatria utusan Raiden yang tumbang. "Bagaimana bisa jadi seperti ini?"


"Masih belum ada petunjuk tentang penyelamat Quinn begitupun tentang siapa pelakunya."


Bastien kini mengalihkan perhatiannya ke plastik berisi emblem dan bros yang dibawa salah seorang Ksatria Raiden. Matanya membeliak lebar. Bastien dengan kasar merebut bukti itu dari tangan Ksatria Raiden.


"Ini... mengapa emblem ini ada di sini?"


Raiden menyeringai tipis, Quinn malah justru membantunya membuat alibi. "Itu ditemukan terpasang di dalam jubah mereka," jawab Raiden.


"...tidak mungkin.." Bastien menutupi wajahnya yang tegang sekaligus panik, "Apa yang anak itu pikirkan?!" bisiknya kesal.


"Bagaimana Anda akan mengatasinya, Grand Duke?"


"Tolong jangan beritahu apapun pada Savero, dia bisa saja membunuh kakaknya sendiri. Aku akan mengatasi sendiri masalah keluargaku."


Raiden tersenyum simpul, "Anda tidak perlu terlalu tegang begitu, Grand Duke. Bisa jadi ada yang menjebak kita untuk berkesimpulan bahwa Viscount Marchetti yang melakukannya untuk membuat keluarga Anda berpecah belah."


"Pesaing dunia bisnis terlalu banyak, bagaimana cara menyempitkannya dalam semalam."


"Tenang dulu, Grand Duke. Saya sudah mengantongi identitas seseorang yang sangat mencurigakan."


Bastien mengangkat wajahnya, memandang Raiden kaget. "Secepat ini? memangnya siapa yang kau curigai?"


"Tentu saja musuh yang telah membuat bisnis Viscount bangkrut."


Kemudian Raiden mengajak Bastien untuk kembali ke istana dan mengecek semua data yang beberapa hari Raiden selidiki.


Di ruang kerja Raiden, Bastien membaca keseluruhan lembar informasi yang disediakan. Jika sudah masuk ke istana, kemungkinan ke-valid-an informasinya sebesar sembilan puluh persen.


"Bisnis emas Viscount benar-benar bangkrut tepat sebulan setelah orang ini membuka bisnis perhiasan dan semua pelanggan berpindah kepadanya. Saya mendapat informasi kalau dia telah membayar orang untuk membuat kerusuhan dan membuat nilai toko emas Viscount menurun dengan menyebarkan sifat buruknya kepada masyarakat."


"Begitu, ya. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan Quinn, 'kan? apalagi putra sulung ku tidak membalas dendam terhadapnya."


"Anda ingat dengan kasus suaminya beberapa tahun lalu? suaminya telah melakukan tindakan kriminal dengan membakar habis rumah Baron Cohen dan seisinya karena telah mengalahkannya dalam memenangkan wilayah tambang permata yang sekarang jadi milik Count Savero."


Bastien tersentak sesaat setelah Raiden mengingatkannya pada kasus yang cukup menggemparkan masyrakat Helldelune beberapa tahun silam. "Jadi maksudmu, dia mengincar tambang itu kembali?"


Setelah kejadian pembakaran rumah Baron Cohen, Baron Viridescens mampu menguasai tambang. Beberapa bulan kemudian barulah ketahuan bahwa kebakaran yang terjadi bukanlah kecelakaan melainkan kasus pembunuhan yang dilakukan Baron dengan sengaja dan terencana. Dia pun akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman pancung. Sementara keluarga Baron Viridescens dikenai pemutihan harta benda, sehingga semua harta bendanya disita pihak istana.


Dua tahun berselang, tambang itu kembali di lelang kan dan ayah Quinn lah yang berhasil memenangkannya.


Setelah dua tahun itu, istrinya, Baroness Viridescens berhasil mengembalikan hartanya setelah mendapat pinjaman dari keluarganya dan merusak bisnis Vincent. Sekarang melihat tambang pertama Savero telah menemui kesuksesan, Baroness Viridescens mulai berencana merebut tambang itu kembali.


Raiden mengangguk kecil "Setelah menemukan kesuksesan pada tambang Count Savero, dia pasti berencana merusaknya lagi. Terlebih dia ingin menggunakan Viscount Vincent sebagai tutup kesalahannya. Dia pasti ingin membuat perang saudara agar merusak ikatan keluarga diantara mereka. Dengan begitu, dia tidak akan dicurigai."


Bastien menghela nafas panjang, "Apa keuntungan yang dia dapat kalau harus membuat tindakan seperti itu?" Bastien menggebrak meja kesal.


Sementara Raiden tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana tidak, semua itu adalah rekayasa Raiden belaka. Tidak sepenuhnya sih, kasus tentang Baron Viridescens memang benar terjadi. Akan tetapi, tidak dengan istrinya. Baroness Viridescens sama sekali tidak mengadu domba persaudaraan, itu hanya akal-akalan Raiden untuk membuat Bastien sepenuhnya tertipu.


"Dia ada di dalam pesta ini, Grand Duke."


"Sama seperti Anda, saya juga sangat tidak terima dengan kejahatannya yang dengan tega sampai berniat membunuh Quinn yang tidak tahu apa-apa," Raiden melirik barang bukti yang dia temukan menempel di tubuh Ksatria nya, "Lalu Anda mau apakan emblem itu? perlukah pihak istana menyimpannya?" tanya Raiden pada Bastien yang tengah fokus pada kemarahannya.


"Setelah kita selesai menginterogasi Baroness Viridescens, saya yang akan menyimpannya."


Raiden tersenyum lebih lebar "Kalau begitu, mari kita tanya langsung pada Baroness sekarang."


"Ya."


Terima kasih, Quinn. Setelah ini sepertinya aku harus memberimu penghargaan.