I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 49



"CEPAT PERIKSA MAKANAN KU!"


Pramusaji itu terus diperintah Vincent untuk mencicipi semua makanan yang disajikan untuknya. Meski sudah dicoba pun, Vincent pada akhirnya tidak akan memakan makanan yang disediakan oleh pelayan, dia terus membeli makanan dari restoran. "Tidak ada reaksi racun. Mungkin aku saja yang terlalu parno, lagipula Quinn tidak menunjukkan tanda-tanda apapun. Dia hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri."


Vincent dengan kaki ditumpu, jari tangannya sibuk mengetuk meja. Otaknya saat ini sibuk bekerja mencari cara untuk melenyapkan Quin lebih dulu. "Tapi, jika dia tidak membuat pergerakan dan aku menyerangnya duluan, maka aku yang akan berakhir buruk. Ayah tidak akan memaafkan ku."


"Yang Mulia, kami sudah menyediakan bubur kesukaan Anda."


Glek


Vincent tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari semangkuk bubur kacang merah yang sejak kecil sudah menjadi favoritnya itu. "Berikan aku sendoknya!" pria itu kalap. Seketika Vincent lupa bahwa beberapa detik lalu dia masih mengkhawatirkan makanan yang dikonsumsi nya akan diracun.


Beberapa menit setelah merasa kenyang, Vincent baru sadar. "Aku- aku baik-baik saja, 'kan?" dia mengecek tubuhnya sendiri, tak ada yang berubah atau terasa sakit diperut yang melilit. Pramusaji tersebut memberanikan diri untuk mengatakan isi pikirannya. "Yang Mulia, mungkin Anda terlalu khawatir dengan sesuatu. Apa Anda tidak merasa lelah sendiri? Anda jadi tidak bebas saat ingin memakan sesuatu."


"Diamlah, aku tidak meminta pendapat dari pelayan! sana pergi!"


"Baik, Yang Mulia."


Padahal, setelah pelayan tersebut pergi, Vincent mempertimbangkan ucapannya. "Benar, mungkin aku saja yang terlalu percaya dengan rumor itu. Quinn sepertinya tidak melakukan apa-apa yang membahayakan nyawaku. Aku terlalu ketakutan sampai tidak bisa berpikir."


Cklek


Putra sulung Bastien itu terperanjat kaget. Dia terlalu fokus pada apa yang ditakutkan, jadi ketika seseorang dalam pikirannya muncul tepat di depan mata, Vincent merasa jantungnya nyaris berpindah tempat.


"Oh, Paman masih ada di sini?"


Quinn baru masuk ke dalam ruang makan, dia sengaja memisahkan waktu makannya dengan Vincent karena pria itu tampak sangat malas kalau makan hanya berdua dengan dirinya.


Pria berambut pirang itu memalingkan wajah enggan menatap keponakannya "Aku akan pergi sekarang."


"Ya, selamat beraktivitas."


Quinn tersenyum ramah sambil melambai kecil saat Vincent melewati nya.


"Aku sudah mengirim surat permohonan pengajuan pengadilan," Quinn menggigit kuku jarinya gelisah, "selanjutnya hanya tinggal menunggu keputusan istana. Artinya sama saja diterima atau tidaknya sidang itu ada ditangan Raiden, apakah dia akan menyetujui sidangnya?" sejujurnya kali ini Quinn tidak yakin Raiden akan begitu saja mengabulkan permohonannya. Lelaki itu suka membuat semuanya jadi lebih sulit.


*


*


Raiden baru saja keluar dari ruang rapat setelah satu jam lebih membahas soal penobatannya sebagai Raja selanjutnya. Kaisen tidak lagi bisa memimpin. Apalagi, tidak pernah ada hukum di Kerajaan Ethereal yang menyatakan bahwa Putra atau Putri Mahkota selanjutnya baru boleh diangkat menjadi Raja atau Ratu ketika pemimpin negara sebelumnya sudah meninggal.


Seorang sekretaris istana yang mendampingi Raiden selama menggantikan tugas Kaisen datang ke kamarnya. "Yang Mulia, Lady Shuvillian telah mengirimkan sebuah surat. Isinya sungguh sangat menarik."


Raiden yang tampak sedikit lelah sekarang langsung bersemangat kembali menantikan apa yang akan Quinn perbuat lagi. "Mana suratnya?" sekretaris tersebut segera memberikan surat tertulis resmi dari Quinn.


Raiden membaca semua yang tertulis didalam surat, dia sampai menumpu dagunya karena terlalu menghayati. Semua jelas tertulis di dalam sana. "Hmm...baiknya bagaimana, ya?" gumam Raiden sedang mempertimbangkan keputusannya.


Dalam semalam, Quinn berubah menjadi gadis yang sangat berbeda. Dia yang dulu tidak berpengetahuan luas mendadak bisa dengan mudah menulis surat tentang pengajuan persidangan. Memangnya apa yang bisa dia lakukan? itu yang Raiden pikirkan sesaat. Namun itu ia tepis segera setelah ingat Quinn memang sudah berubah sejak pertemuan pertama mereka setelah beberapa bulan tidak bertemu.


Jean yang berdiri di samping meja Raiden ikut berpendapat, "Itu sangat mencurigakan. Terlepas dari rumor tentang Firman Dewa, apa keuntungan yang dia dapatkan dari melaporkan pamannya sendiri?" katanya mempertanyakan tujuan sebenarnya dari Quinn.


Raiden menghela nafas, "entahlah. Yang jelas, lihat data ini, jumlah perdagangan manusia yang dilakukan Viscount dan kelompoknya sangat tinggi. Ini pasti mengusik hatinya yang murni."


"Murni?" ulang Jean. Biar bagaimanapun Jean dan Raiden sama-sama tidak lagi menganggap Quinn adalah gadis baik yang bahkan tidak tega untuk membunuh seekor lalat pun. Dilihat dari tatapan tajam dan tindakan cerdiknya, Quinn yang sekarang sudah jelas mampu melakukan sesuatu yang dianggap tindakan kriminal.


"Haha bercanda," balas Raiden sembari membaca ulang lampiran suratnya, "keuntungan apa yang diincar Quinn?" pemuda itu terus memutar otak mencari jawaban yang masuk akal. Sebuah seringai terukir di bibir tipisnya.


Dia pasti tidak peduli jika reputasinya kian memburuk atau dibenci keluarganya sendiri,


Sebab dia tetap akan aman jika aku menolong dan menjadikannya Ratu ku.


Raiden mengetuk mejanya, "Firman Dewa yang beredar itu memang berbunyi 'Quinn akan membunuh pamannya', tapi yang disebut kematian itu tidak hanya secara fisik. Melaporkan kejahatan pamannya sama dengan memusnahkan keberadaan pamannya dari masyarakat. Bagi seorang bangsawan, nama yang cacat tidak bisa dipulihkan seutuhnya dan akan menjadi luka hingga ke generasi berikutnya," Raiden memiringkan sedikit kepalanya "Dengan mengikuti Firman Dewa dia bisa membersihkan namanya sendiri, tidak ada yang berani secara terang-terangan menyalahkannya karena Firman itu. Dengan begitu, dia bisa mengubah krisis menjadi kesempatan emas, iya 'kan?"


"Ah, benar juga..."


"Haah... aku jadi bersemangat lagi," Raiden tersenyum puas, kedua pipinya sampai mengeluarkan semburat kemerahan. "Lihat, 'kan? sejak awal semuanya ada di tanganku. Meski dia menolak ku dengan kuat sekalipun, sekarang dia merangkak naik dan meminta pertolonganku."


Raiden terdiam beberapa saat, dia melirik satu lagi dokumen yang berada di atas meja kamarnya, "tapi...aku masih sibuk dengan persiapan penobatanku. Agak sulit kalau menggelar sidang dekat-dekat ini. Tolak saja permintaannya," Raiden memberikan surat Quinn itu ke sekretaris nya.


"Baik, Yang Mulia. Saya akan segera mengabarkannya pada Lady Shuvillian."


Putra tunggal Kaisen itu beranjak dari kursinya, "aku mau ke ruang bawah tanah. Kau tidak perlu ikut denganku. Periksa saja si Gray, perhatikan semua tanaman yang dia gunakan."


"Baik, Pangeran."


Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Raiden. Sebelum menghadiri rapat, dia menjenguk Kaisen di kamarnya yang pengap. Dia tetap tak berdaya seperti sebelumnya, akan tetapi suhu tubuhnya lebih stabil. "Apa Gray berencana mengkhianati ku? aku yang selama ini membatasi semua tanaman yang perlu dia pakai."


Raiden memasuki sebuah ruangan yang ada di dalam ruang bawah tanah itu. "Sudah saatnya aku memberi makan pada kalian lagi," gumam Raiden seraya mendekati dua buah telur yang ukurannya sepuluh kali lipat dari telur unggas pada umumnya.


Raiden menyayat telapak tangannya dan meneteskan darah pada dua telur tersebut. Bukannya menetes, justru darah Raiden terserap masuk ke dalam cangkang putih telur tersebut. "Aku berharap kalian cepat keluar dari dalam sini."


Petangnya, Quinn berkumpul dengan Finn, Julien, dan Rupert di kantor Blackrose. Dia menunjukkan pada tiga pemuda tampan yang secara sukarela menjadi pendukungnya. Sejujurnya Quinn tidak mau bertemu, tetapi Finn terus membujuknya sampai dia letih mendengar suaranya.


"Permintaan ku ditolak. Aku sudah mendapat informasi bahwa saat ini istana sedang sibuk mempersiapkan penobatan Raiden sebagai Raja. Paling tidak dua minggu lagi acara itu akan diadakan, tapi aku ingin persidangan selesai sebelum itu," terang Quinn.


Julien membaca surat penolakan bersama Rupert, "Dia tidak menjelaskan secara detail tentang penolakannya. Apa mungkin hanya karena sibuk mempersiapkan acara penobatan?" tanya Julien masih belum mengerti.


Quinn menyilangkan kedua tangan di depan dada, dia menunjuk kepalanya sendiri, "tentu saja permainan baru lagi."


"Permainan?" beo ketiga lelaki itu.


"Raiden ingin membuatku melakukan sesuatu yang lebih nekat, seperti memohon dibawah kakinya atau sesuatu yang membuatnya bebas mengendalikan ku. Yah, tapi aku sudah memperkirakan ini akan terjadi dan sejak awal aku sudah mempersiapkan cara lain untuk membuat Raiden menuruti permintaan ku."


Rupert tersenyum lebar, "secapat ini Anda memikirkan cara baru?" tanya nya antusias.


Finn menumpu dagunya sambil menatap wajah Quinn lamat-lamat "lalu apa rencanamu untuk kami? tunggu, kau tidak berniat maju sendirian lagi, 'kan? bekerjasama lebih bagus, kita bisa mempersingkat waktu."


"Itu benar, Lady. Kami bersedia membantu apapun yang kami bisa," timpal Julien.


Rupert mengelus dagunya, ia memandang Quinn penuh tanda tanya "memangnya apa rencana yang Anda punya untuk membujuk Putra Mahkota?"


Quinn menjentikkan jari telunjuknya ke udara "Dengan membahayakan nyawaku sendiri tentunya. Kalian semua tahu aku bersahabat dengan Raiden, 'kan? dia pasti akan membantuku secepatnya."


Raiden tidak akan membiarkan aku mati kecuali di tangannya. Jika aku sampai mati diluar jangkauannya dia bisa murka dan membantai siapa saja yang telah menghancurkan rencananya sejak dulu.


Quinn pun melanjutkan penjelasannya "Baron, bisakah Anda membawa anak-anak itu pergi ke tempat lain? dekatkan dengan Helldelune agar persiapan lebih matang," gadis itu lalu menatap Rupert. "Tuan Rupert, bisakah nanti kau mengawalku? maksudku, tunggu di tempat yang sudah aku tunjuk nantinya."


Finn menggebrak meja tak terima, "Maaf, jika aku lancang. Lady, bukankah yang telah mengambil sumpah setia adalah aku? kenapa Rupert yang kau beri tugas mengawalmu?"


Quinn sengaja tak memandang wajah Ksatria pribadinya, "kalian lihat, Finn selalu mengedepankan emosi pribadi yang akan menghambat misi. Selanjutnya aku punya misi pribadi untuk Finn. Tentu saja tugasnya membantu Penelope menjadi saksi."


Julien dan Rupert tersentak kaget "Anda juga melibatkan Lady Penelope?" tanya Rupert tak percaya.


"Ya. Itu sebabnya aku memintamu mengawalku, bukan membantu menjadi saksi kejahatan paman Vincent terhadap diriku. Jika kalian bertemu, dia mungkin akan syok dan menganggapmu telah mengkhianati nya."


Rupert menggaruk pelipisnya sambil menghindari kontak mata dengan Quinn, "sebenarnya aku memang sudah berkhianat," batin pemuda itu sungkan.


Quinn menghela nafas panjang, dia kelelahan mengucapkan banyak kalimat penjelas rencana dalam otak. Lebih mudah bekerja sendiri, tapi pemegang kunci kesuksesan dalam persidangan ada pada mereka juga. "Aku akan mengirim dokter ke rumah anak-anak itu dirawat, Baron Julien."


Julien menggelengkan kepalanya tidak setuju, "saya sangat berterimakasih atas perhatian Anda, tapi saya sudah membayar dokter untuk merawat kesehatan mental mereka."


"Bukan untuk mental, Baron. Saya ingin mengirimnya untuk berjaga-jaga."


"...saya mengerti, Lady," Julien tidak bisa berhenti terkesima dengan kepintaran serta kewibawaan Quinn yang saat ini tampak profesional. Dia bisa dengan cepat memikirkan strategi selanjutnya dan membagi tugas sesuai dengan sikap rekan, bukan dengan hubungan kedekatan.


Quinn menjelaskan semua panjang lebar, tentu dia masih menyimpan beberapa aspek lain yang sengaja dia simpan sendiri agar semuanya bisa dia prediksi tanpa membuat tiga lelaki itu kehilangan konsentrasi saat waktunya tiba.


Setelah aku mengikat kontrak dengan Sky, aku jadi bisa melihat aura seseorang. Mereka memiliki niat yang tulus, aku mungkin bisa mempercayai mereka untuk tugas ini.


"Kalian sudah mengerti, 'kan?"


"Ya, Lady," jawab ketiganya serentak.


"Aku perlu kembali sekarang. Paman tampaknya sudah memperketat pengawasannya padaku."


"Bagaimana kau tahu itu, Lady?" tanya Rupert.


"Walaupun aku terlihat begini, aku cukup peka."


Sepulang dari Guild Blackrose, Quinn mulai mempersiapkan segalanya, untuk bertempur dengan Vincent. Pria penyandang gelar Viscount itu beristirahat di dalam kamarnya sambil memikirkan cara membunuh Quinn. "Tidak mungkin anak itu membunuh pamannya sendiri. Tapi kalau paman yang membunuh keponakan, itu lebih wajar. Aku perlu membuat Penelope terpilih menjadi Ratu Ethereal."


Vincent memijat kedua sisi keningnya sambil memikirkan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. "Penelope kemarin sudah menghabiskan waktu bersama dengan Pangeran, setidaknya putriku sudah lebih dikenal olehnya. Aku hanya perlu berkunjung ke istana untuk mencari muka."


"Tidak ada yang boleh menjadi saingan putriku termasuk Quinn sendiri. Dia hanya kerikil yang mengganggu. Menyingkirkannya akan membuat segalanya mudah untuk Penelope."


Sementara Quinn sedang berendam di bak mandinya, Emily datang ke dalam dan membisikkan sesuatu kepadanya, "Yang Mulia, Anda mendapat surat lagi dari Putra Mahkota."


Gadis berambut hitam sebahu itu mengerutkan dahi heran, "dia baru saja menolak permintaan ku, apa dia bisa berubah pikiran secepat ini? bacakan untukku, Emily."


..."Kepada Lady Quinn de Alger Shuvillian,...


...Belakangan ini kau pasti resah karena gosip tentang Firman Dewa yang kejam tersebar ke seluruh pelosok negeri. Aku secara pribadi ingin menghiburmu, sebagai teman yang selalu ingin membantu. ...


...Datanglah ke istana dan jadilah tamu istimewa di sini....


...Aku menantikan kehadiran mu besok siang."...


Quinn tersenyum miring setelah mendengar isi suratnya, "Raiden Vill de Sorrentine. Kau sungguh menyedihkan," Quinn mengulum senyum, dia hampir saja tertawa seperti orang kesetanan. Bagaimana tidak, Raiden menyangka bahwa rumor tentang Firman Dewa itu benar, padahal Quinn sendirilah yang telah sengaja mengganti isinya.


Keesokan harinya, rumor bahwa Quinn di undang ke istana menyebar secepat kilat. Kemungkinan besar itu adalah ulah Raiden sendiri.


"Sudah jelas yang mengundang Lady Quinn adalah Putra Mahkota sendiri."


"Hei, apa mungkin Putra Mahkota hendak menginterogasi Lady Quinn gara-gara Firman itu?"


"Entahlah. Firman bahwa dia akan menghancurkan negeri memang sungguh mengerikan."


"Tapi jika Lady Quinn dipanggil untuk diinterogasi, seharusnya Putra Mahkota mengirimkan pasukan Ksatria nya untuk membawa Lady ke istana."


Semua orang terutama kalangan kaum elit dan bangsawan kembali berhati-hati saat membicarakan soal Quinn. Tidak ada yang tahu apa rencana Raiden atas pemanggilan itu, baik atau buruk. Jika Raiden membela Quinn, maka habis sudah riwayat orang yang masih berani mencaci maki atau menggosipkan berita miring tentang gadis itu.


Emily menuangkan segelas apel untuk Quinn yang masih merelaksasi tubuhnya dalam gak mandi pagi ini, "Mereka semua terlihat diam dan mengamati apa yang selanjutnya akan terjadi pada Anda setelah undangan ke istana itu."


Quinn meminum jus apelnya sambil setengah melamun, "Tentu saja mereka harus melihat dulu. Jika Raiden tidak mendukungku, mereka pasti akan memprovokasi banyak pihak untuk ikut menolak keberadaan ku di sini. Padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya aku dan Raiden bahas."


Emily memandang Quinn "Yang Mulia, sepertinya Anda harus membeli gaun baru untuk Anda pakai nanti siang saat ke istana," katanya setelah tahu bahwa Quinn sama sekali tidak pernah membeli gaun baru selama tinggal di istana Lombardia ini. "Anda mau gaun yang seperti apa?"


Quinn terdiam. Dia mengingat masa lalunya yang bisa disebut sebagai kenangan buruk. Dulu Quinn selalu mengikuti apa yang disuka oleh Raiden. Jika Raiden mengatakan dia suka gaun biru, Quinn akan memakainya. Jika Raiden suka dengan kalung berbatu emerald, Quinn akan memakainya. Dia selalu ingin tampil sempurna dimata Putra Mahkota.


"Heh, gaun baru? aku bukannya akan menemui orang yang pantas untuk mendapatkan usaha besar dari persiapan yang aku buat."


Quinn beranjak dari bak mandi nya, "aku akan memakai apa yang aku sukai. Emily, siapkan pakaian itu untukku."


"Baik, Yang Mulia."


Quinn sudah bertaruh banyak untuk rencana cadangannya.


Pertarungan dengan Putra Mahkota akan segera dimulai.