
Kau terlalu banyak membuat kesalahan,
Kau tidak pernah mengerti cara membalas sebuah kasih sayang,
Kau tidak tahu apa itu simpati dan menjadi tidak peduli siapa yang kau kambinghitamkan demi menutupi kebusukanmu,
Kau juga telah menyia-nyiakanku,
Dan itu adalah kesalahan terbesarmu.
Quinn menggelengkan kepalanya ceria. Dia kemudian melepas tangan Raiden yang terpaksa tetap ia genggam erat. "Tidak, kok. Aku hanya terkejut karena ini pertama kalinya Raiden mengunjungi ku di malam hari dan secara rahasia begini. Ini membuatku jadi semakin gugup." Pipi Quinn merona malu, ia dengan takut-takut mencuri pandang. "Aku juga merindukanmu." cicit gadis itu sambil memainkan jari-jarinya.
Aku jijik menggenggam tangan orang yang telah mendorongku ke jurang kematian ini.
Raiden menarik tangan gadis itu lalu ia taruh di pipi dinginnya sambil tersenyum menggoda. "Quinn, aku tidak tahu apa kesibukan yang sebenarnya kau bicarakan ini. Tapi kau sudah membuatku menunggu dan aku tidak bisa menahan rindu."
Raiden berpikir Quinn hanya sok sibuk demi menarik perhatiannya lebih jauh. Tentu dia tidak menunjukkan semua itu diwajahnya. Raiden selalu tersenyum, tetapi dibalik senyuman itu tersimpan borok yang tak diketahui banyak orang.
Quinn merentangkan kedua tangannya, "Jadi, b-boleh aku memelukmu, Raiden?" Pemuda beriris biru itu tersenyum ambigu. "Kemarilah, Quinn."
Akhirnya Quinn maju dan merengkuh tubuh pemuda yang lebih tinggi darinya itu, menenggelamkan wajahnya ke dada bidang sang calon Raja masa depan. Tidak ada perasaan senang. Quinn hanya menjaga citra yang sudah terlanjur melekat pada dirinya. "Aku sangat suka mencium aroma Raiden, ini sangat menenangkan pikiran."
Ah, jantung ini masih berdetak... bagaimana jika aku menusuknya sekarang juga? tidak, aku hanya akan puas sesaat saja.
"Haha begitukah? kau ternyata sekarang agak kurusan. Apa kau makan dengan teratur?" tangan besar pemuda itu mengelus puncak kepala Quinn, membuat gadis dalam pelukannya itu mendongak dan mengukir senyum manis untuk dirinya.
"Ya, sebenarnya aku sudah banyak makan camilan. Sejujurnya aku takut gemuk, tapi ternyata belum berefek pada berat badanku sama sekali." gerutunya sambil mengerucutkan bibir. Terlihat imut dari atas sini, pikir Raiden.
"Perlukah aku mengirimi mu banyak makanan penutup yang koki istana buat? dia lumayan jago. Besok aku akan memerintahnya mengirim kue kemari." Raiden dulu juga pernah melakukan hal semacam ini. Lelaki tampan namun licik seperti ular ini segera menanggapi keluhan Quinn dengan cara yang mencolok seakan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Raiden sangat mempedulikan dan mencintai Quinn.
Pada dasarnya Raiden hanya ingin membuat para petinggi kerajaan semakin tidak setuju Quinn menjadi Ratu mereka di masa depan. Jika para dewan istana tidak setuju, maka sebanyak apapun suara rakyat untuk Quinn itu tidak akan membuatnya dipastikan terpilih menjadi kandidat Putri Mahkota.
"Eh? itu pasti sangat merepotkan, tidak usah saja, Raiden~" Quinn melepas pelukan Raiden. "Aku akan senang jika kau mengajakku ke salah satu toko kue di sini."
"Oh, ide yang bagus. Kalau begitu kita bisa pergi besok pagi. Kebetulan aku akan senggang."
"Sungguh? aku sungguh senang mendengarnya, tapi..." mimik muka Raiden seketika berubah menggelap. Dia diam menunggu Quinn melanjutkan ucapannya. "Aku besok akan pergi ke salah satu studio lukis untuk membuat lukisan keluarga."
Lagi-lagi penolakan yang sama memalukannya dengan yang terakhir kali saat dia datang untuk menyatakan perasaan. Beberapa detik Raiden memberikan tatapan membunuh pada gadis lemah di hadapannya. "Tiba-tiba?" tanya Raiden dengan nada bicara yang sedikit lebih dingin.
"Tidak, kok. Aku sudah merencanakannya sejak kemarin saat kau datang ke rumahku lagi."
"Hm, begitu."
Mereka berdua kemudian saling mendiamkan dan hanya memandangi langit yang sama di atas kepala mereka. Raiden datang tidak hanya untuk berbasa-basi, dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya Quinn rencanakan. Dia tahu dari mata-matanya bahwa Quinn tidak lagi sama, termasuk perasaannya untuk Pangeran Ethereal yang telah sirna, terlihat dari sorot matanya yang tak lagi seperti tengah memandang dunianya.
Setelah mendapat dua kali pernyataan tertolak, Raiden semakin awas memperhatikan gerak-gerik Quinn. "Kau tahu, ini mungkin cuma perasaanku saja, tapi kau seperti ingin menjauh dariku, Quinn. Dan itu membuatku mulai gelisah." penolakan dengan alasan sibuk sangat-sangat bukan Quinn de Alger Shuvillian yang ia kenal. Quinn yang dulu seharusnya mengutamakan Raiden, selalu lengket dengannya, dan terus menjaganya, serta mencurahkan seluruh kasih sayang kepadanya.
Aku terlalu terang-terangan menunjukkan perubahan. Tidak apa-apa, tenanglah Quinn.
"Benarkah? ya, itu pasti hanya perasaanmu saja. Aku sedang ingin menghabiskan waktu dan membuat kenangan dengan keluargaku, maaf jika aku membuatmu kesepian." kedua alis Quinn berkerut sedih, tangan lentiknya menepuk pundak lebar pemuda tampan berwajah kecil itu. "Apa besok kau mau ikut aku? kita bisa membuat lukisan bersama, itu akan jadi kenangan terindah yang aku punya."
Raiden menarik tangan Quinn membuatnya mendekat. Raiden menatap lekat iris biru bercorak milik Quinn, "Aku sebenarnya ingin bertanya untuk meyakinkan diriku."
"K-kenapa kau sedih begitu, Raiden? ada yang melukaimu?"
"Dia sekarang berani membalas tatapanku, biasanya dia akan menghindari kontak mata dengan wajah yang sudah sepenuhnya memerah," Raiden berkaca-kaca sambil menatap gadis yang tergila-gila padanya itu dengan memelas. "Apa kau menyukaiku?"
"Kenapa kau bertanya begitu? tentu saja aku menyukai Arden sebanyak ini." Quinn menggerakkan tangannya membentuk sebuah lingkaran besar, "Mengapa kau meragukan cintaku?"
Deg
Walau hanya sesaat, Quinn merasa seperti jantungnya berhenti memompa oksigen ke pembuluh darahnya. Terasa sakit dan menyesakkan. "Rai...den...?" Ini pertama kalinya Quinn menyaksikan Raiden meneteskan air mata dengan wajah se menyedihkan itu seakan tengah memohon pada Quinn untuk tetap berada di sisinya.
"Hanya kau satu-satunya orang yang sangat perhatian padaku. Hanya kau yang selalu mengerti aku walaupun aku tidak pernah mengatakan apa-apa. Hanya kau yang selalu setia berdekatan dengan manusia sepertiku. Aku takut kau akan meninggalkan ku juga, aku tidak memiliki seseorang yang sangat mencintai aku selayaknya manusia biasa, bukan sebagai Pangeran ataupun calon Raja."
Ayah dan ibumu sangat menyayangi putranya, tapi kau dengan tega menyakiti mereka. Bukankah kau terlalu kejam sampai menyangkal perasaan tulus orang tuamu sendiri?
Raiden memeluk tubuh kurus Quinn, menenggelamkan kepalanya di perpotongan antara bahu dan leher gadis itu. Airmatanya masih mengalir, "Kau tidak akan meninggalkan ku, 'kan? walau aku tidak pernah mengatakannya, tapi aku juga menyukaimu, Quinn."
Menjelaskan diri dengan air mata adalah trik kuno untuk menjerat lawan bicara pada suatu permainan. Meski kuno, cara itu pun masih mampu menarik simpati lawan. "Raiden, jangan menangis. Kau membuatku ikut menangis. Aku mencintaimu, Raiden. Aku tidak akan meninggalkanmu." Quinn mengelus belakang kepala Raiden lembut, dia berusaha menenangkan pemuda yang disukainya agar tidak mencemaskan sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan.
Mereka bertahan pada posisi yang sama selama dua menit. Hidung Raiden sedikit memerah, sama dengan bawah matanya. "Lihatlah wajah tampan mu jadi berantakan."
Raiden tersenyum lega, "Aku senang mendengarnya. Aku pikir kau juga akan meninggalkan ku."
"Tentu tidak."
Raiden menepuk puncak kepala Quinn. "Besok pagi aku mungkin bisa ikut melihat Grand Duke dan keluarganya dilukis." Quinn mengangguk antusias mendengar Raiden mengatakan itu. Dengan begitu, Oddeth mungkin makin cepat terangkat naik. "Aku tidak sabar menunggu pagi datang~!"
"Ya, aku juga. Oh soal tangis ku tadi, ini biar jadi rahasia antara kau dan aku saja ya." Pemuda rupawan itu mengedipkan satu mata sambil menaruh jari telunjuk panjangnya di depan bibir. "Sampai ketemu besok, Quinn ku."
"Quinn ku..?"
"Haha wajahmu seperti mau meledak." Raiden tanpa memberi aba-aba mengecup kening Quinn sebelum akhirnya melompat ke dahan pohon dan turun melaluinya. Quinn melambai dari atas balkon kamarnya sampai Raiden tertutup bagian bangunan.
Raiden kembali pada perangai aslinya. Ekspresi dingin dan penuh ambisi terekspos di wajah mungilnya. "Kalung ini tidak banyak bereaksi. Apa dia memang sudah tidak tertarik padaku? ini tidak bisa dibiarkan."
Raiden mengeluarkan sebuah cincin emas berbatu permata ruby yang bersinar redup bahkan setelah dia berada sedekat itu dengan Quinn. Dia bahkan sudah rela membuat suasana yang sedikit romantis hanya untuk memancing reaksi kalung tersebut. Sayang sekali, justru permata ruby itu bersinar dengan selang waktu beberapa detik.
Kalung itu akan bersinar merespon perasaan Quinn terhadap dirinya. Semakin banyak Raiden mendekati Quinn, semakin terang pula sinar yang dihasilkan permata itu akibat perasaan bergejolak yang Quinn miliki untuk Raiden. Seharusnya begitu, tapi kali ini kalung itu memberi reaksi yang berbeda dan itu sama sekali tidak menyenangkan bagi si pemilik kalung.
Seseorang muncul dari balik semak tanaman pagar, "Yang Mulia. Perlukah saya memperketat pengawasan pada Lady Quinn?"
"Jean. Apa aku terlalu membosankan?"
Ksatria yang merupakan tangan kanan Raiden itu tersentak kaget ketika ditanyai pendapat. "Tidak, Yang Mulia."
"Sepertinya dia sedang mengujiku. Ah, mungkin dia ingin aku yang giliran mengejarnya?" tanyanya pada angin yang berlalu. "Huh... aku sangat muak harus bertingkah seperti cinta adalah segalanya bagiku. Ini membuatku terlihat menyedihkan." keluh nya kesal. Jean, lelaki berusia dua puluh tahun dengan rambut panjang yang dikuncir itu menunduk tetap mengikuti kemana tuannya pergi. Dia memilih tidak menjawab daripada beresiko membuat Raiden marah.
Sedangkan Quinn sedikit membanting pintu balkon ketika masuk ke dalam kamarnya lagi. Tirai panjang itu segera ia tutup dan membiarkan ruang kamarnya gelap gulita. Derai air mata sudah membasahi pipi hingga ke dagu nya.
Apa berusaha melupakan perasaan yang dalam kepada seseorang memang sesulit ini? rasanya seperti ingin menyudahi hidup saja daripada terlalu lama menahan sesak.
Sudah ratusan kali dia terus merapalkan dalam hati bahwa dia akan hidup dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama dengan tetap jatuh cinta pada bajingan seperti Raiden lagi. Nyatanya, semakin kuat disangkal semakin tertanam dalam perasaan itu. Memikirkan wajah sedih tipuan Raiden itu hanya membuatnya bimbang.
"Hahahaha! Ini sangat menggelikan. Bagaimana aku bisa tidak menikmati wajah memohon Raiden? apa sebegitunya dia ingin membodohi ku? pfft! sayang sekali dia melakukan akting yang sia-sia." Quinn tertawa lepas mengingat kejadian mendebarkan di balkon kamarnya beberapa detik lalu. Tawanya yang nenggelegar membuat gadis berwajah lugu itu tampak seperti villain sesungguhnya.
"Dia yang menganggap harga dirinya nomor satu, mendadak memelas di hadapan gadis tidak berguna sepertiku? sudah jelas aku adalah salah satu batu loncatan yang dia perlukan dalam proses mewujudkan impiannya."
"Dia mulai menyadari kalau aku tidak ngoyo dalam mendekatinya. Agak aneh karena dia sampai memutuskan untuk menyatakan perasannya padaku untuk yang kedua kalinya," Quinn menyibakkan poninya ke belakang. Otaknya mendapat tugas tambahan baru pada malam yang harusnya digunakan untuk berhenti berpikir sejenak.
"Sepertinya aku harus membujuk kakek untuk menerima Finn."
Quinn tidak jadi menidurkan diri setelah kunjungan dadakan sang Pangeran. Dia menyalakan lampu mejanya dan menulis surat resmi. "Aku sampai lupa dengan ini."
Ternyata masih ada beberapa pelayan yang beraktivitas di sekitar lorong padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Quinn melihat Butler Bastien tengah memisahkan beberapa tumpuk dokumen di atas meja kerja majikannya. "Permisi, Tuan Evan. Bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Yang Mulia, Anda belum tidur?" pria yang seumuran dengan Savero itu terperanjat kaget saat Quinn muncul di dekatnya tanpa membuat suara langkah kaki. "Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda, Yang Mulia?"
"Besok pagi tolong kirimkan surat ini ke keluarga Marquess Sylvestria."
"Baik, Yang Mulia."
"Terima kasih. Omong-omong, mengapa Anda belum tidur, Tuan Evan?"
"Saya lupa untuk memisahkan dokumen mana yang harus cepat Grand Duke selesaikan dan yang memiliki tenggat waktu singkat, Yang Mulia." jawab pria berkaca mata satu itu dengan sopan.
"Oh, begitu? sebaiknya Anda tidak perlu bekerja hingga larut. Kakek pasti akan mengerti, lagipula dia akan pergi bersamaku besok pagi. Jadi Anda punya waktu untuk membereskannya besok."
"Terima kasih banyak atas perhatian besar yang Yang Mulia berikan pada manusia rendahan seperti saya ini."
"Tak masalah. Kalau begitu aku pergi dulu, ya."
Seringai puas terpatri di bibir Quinn. Pekerjaan nya memang menjadi bertambah, tetapi dia merasakan keseruan yang selama ini tak pernah dia rasakan. "Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Raiden. Aku mungkin tidak sepintar dirimu, tapi aku tidak selemah dulu sehingga bisa kau manfaatkan sesukamu.
"Baik, selamat beristirahat, Yang Mulia Quinn."