
Raiden mengambil sebuah kalung dengan batu emerald sebagai pelengkapnya. Kalung itu indah dan mewahnya sudah seperti kalung khusus yang hanya dipakai oleh permaisuri. ukiran dan suluran pada kalungnya terlihat sangat rumit, ahli perhiasan saja belum tentu bisa membuat model yang sama.
Raiden menyentuh berlian emerald itu, "Aku akan memberikan ini pada Quinn. Pfft! mungkin dia yang akan dituduh mencuri benda sakral dari kuil. Tidak, pihak kuil tidak mengetahui benda ini karena sebelumnya tidak pernah disimpan di sana."
Ada sebagian kecil benda sakral pemberian Dewa Spirit yang ditinggalkan untuk menjadi bukti kebenaran perjanjian disimpan di ruang bawah tanah istana seperti Mahkota Raja dan Ratu, serta tongkat dan cincin yang digunakan oleh calon Raja untuk upacara koronasi (penobatan). Semua dihiasi oleh batu berwarna emerald sebagai tanda penghormatan kepada roh para spirit selaku penyokong negara terkuat.
Batu emerald itu apabila didekatkan pada Quinn yang memiliki kekuatan spirit maka akan menyerap energi spiritnya, tetapi cara itu memakan waktu yang lama. Cara tercepat adalah dengan membunuh Quinn dan mendekatkan batu spirit itu untuk menyerap semua kekuatannya. Ini seperti membunuh inangnya agar kekuatan itu dapat diambil. Maka dengan begitu, Raiden dapat menguasai kekuatan yang selama ini dia inginkan. Menjadi Raja yang sekuat Dewa akan bisa dia wujudkan.
Raiden membaca tiap laporan yang dikirim Evan kepadanya. "Tidak ada orang yang seperti Quinn jelaskan. Tidak ku sangka dia pintar dalam mengelabui seseorang." Raiden sudah mendapatkan informasi bahwa penolong yang Quinn jelaskan saat itu tidak ada di Helldelune.
Pemuda berwajah tampan nan dingin itu menyangga kepalanya dengan tangan, "Carter tidak benar-benar kabur. Bisa jadi ini akal-akalan Quinn agar aku tidak mencurigainya. Lagipula kenapa keretanya ada di sana? sepertinya dia habis mengunjungi putra Marquess Sylvestria."
Mata biru berliannya menatap tajam ke depan. "Dia menjauh dariku, mungkin dia sudah sadar aku menginginkannya. Haha, bukan masalah besar. Aku punya banyak cara untuk mendapatkan kekuatan itu."
Sementara di dalam kamar luas nan megah, Emily terus menutup dirinya dengan selimut tebal yang hangat. Dia sedari tadi terus melirik pintu kamar dan balkon kamar. "Yang Mulia Quinn, lekas lah kembali. Saya bisa kena masalah kalau sampai ketahuan oleh kepala pelayan." gadis itu terus merapalkan kalimat yang sama. Kepanikan membuat tubuhnya dibanjiri keringat dingin.
Gadis berambut merah jahe itu berjengit kaget kala mendengar suara seseorang mendarat di dekat balkon. "Yang Mulia...!" kedua irisnya berair, perasaannya lega begitu melihat Quinn sudah kembali ke kamarnya.
Quinn melepas jubahnya sebelum masuk ke dalam kamar. "Maaf, aku agak terlambat. Terima kasih sudah membantuku." ujar Quinn sambil menepuk puncak kepala Emily yang terbalut wig.
Emily menyeka airmata kecemasan nya, "Yang Mulia, kita tidak punya waktu lagi!"
Pintu kamar Quinn terbuka lebar, menampakkan sosok wanita berbadan agak gemuk dengan pakaian yang sama seperti yang dipakai oleh Emily. Dialah kepala pelayan wanita, salah satu mata-mata Raiden yang lolos dari pemecatan juga.
Kedua alisnya bertaut, "Emily. Apa saja yang kau lakukan di sini? kau sudah pergi satu jam lalu dan belum juga kembali." tegur Bertha pada salah satu bawahannya. "Bagaimana istirahat Yang Mulia Quinn?" dia melangkah masuk dan mendekat ke ranjang besar tersebut.
Quinn terbaring dengan nyamannya di bawah selimut tebal itu. Wajahnya nampak sangat tenang, "Apa dia tidak mengalami mimpi buruk?" Emily segera menggeleng, "Tidak, Kepala pelayan. Beliau kelihatan sedang dalam suasana hati yang baik setelah menerima hadiah dari Yang Mulia Putra Mahkota."
"Begitukah? kalau begitu kita bisa sampaikan pada Pangeran soal ini." Setelah mengecek suhu tubuh Quinn, Bertha mengajak Emily keluar dari sana agar waktu istirahat Quinn tak terganggu.
Kelopak mata gadis cantik itu terbuka memperlihatkan iris uniknya. "Untung saja tepat waktu. Besok pagi Raiden pasti akan datang."
Keesokan paginya mansion Shuvillian sedikit lebih riuh dibanding hari sebelumnya. Para pelayan yang sudah sangat akrab dengan Penelope tampak sedih karena harus berpisah. Mereka juga memberi hadiah kecil sebagai kenang-kenangan. "Kalian ini baik sekali, aku sampai kehabisan kata-kata. Jika ada waktu, aku pasti akan mampir dan mengunjungi kalian lagi."
Mereka saling berpelukan sebelum akhirnya Penelope diantar keluar oleh Savero. Pagi sebelumnya keponakan Savero itu sudah memperhatikan sesuatu, pagi ini pun terjadi lagi. Penelope kemudian bertanya, "Paman sepertinya kurang istirahat. Kantung mata Paman jadi kelihatan lebih jelas."
Savero memasang ekspresi datar seperti biasa, "Aku baik-baik saja." sebenarnya Savero tidak bisa tidur sama sekali. Tiap kali dia berusaha memejamkan mata, semua kata-kata Quinn langsung menancap baik di otak maupun di hatinya sehingga rasa tak nyaman menggerogoti ketenangannya. Tapi, mana mungkin dia mau berbagi hal semacam itu dengan orang lain.
"Sebaiknya Paman tidak memendam itu sendirian. Mengapa Paman tidak mencoba jujur dan bicarakan secara empat mata dengan Quinn?" Savero tersentak saat Penelope menyebutkan nama putrinya, "Ah, aku hanya menebak. Sejak kemarin Paman kelihatan gundah sambil terus memandangi lukisan keluarga."
"Aku sudah meminta kusir untuk memasukkan lukisan bagianmu ke dalam kereta." balas Savero mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh baik, terima kasih."
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku harus segera pergi ke balai kota."
"Eh? memangnya ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku pergi duluan." Savero berlalu pergi meninggalkan Penelope di depan mansion sendirian.
Penelope telah berdiri di depan pintu dengan satu koper berisi barang-barangnya. Wajahnya kelihatan lesu akibat terus memikirkan racun macam apa yang telah dia minum. "Quinn, aku sudah salah menilaimu. Cih, menyebalkan sekali."
Bunyi gemeletuk tapal kaki kuda yang terdengar mendekat menarik perhatian Penelope. Gadis cantik itu mengangkat wajahnya. Seorang berpakaian Ksatria istana datang langsung menghadapnya. Pria itu menunduk hormat, tak lupa ia menambahkan senyum simpul sebagai tanda kesopanan. "Selamat pagi, Lady Marchetti."
"Ya, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu? jika Anda ingin bertemu dengan Count Savero, dia baru saja pergi keluar," terang Penelope untuk sekedar pemberitahuan. Dia sedikit memiringkan kepalanya dan menatap pria berbadan kekar itu bingung.
"Saya diutus langsung oleh Pangeran Raiden untuk mengantarkan hadiah kepada Anda, Lady."
Sontak Penelope tersenyum sumringah, merasa dirinya terus diingat oleh sang Putra Mahkota dan melupakan peringatan yang diberikan oleh Quinn kemarin sore. "Sungguh?" Ksatria tersebut mengangguk kecil seraya menyerahkan sebuah kotak kado berukuran besar dengan pita merah. Dari kotaknya sudah terlihat mewah, Penelope tidak bisa menerka apa yang ada di dalamnya.
"Terimalah, Lady. Putra Mahkota menitipkan salam kepada Anda. Beliau juga mengatakan sesekali Anda boleh mengirim surat kepadanya."
"Kalau begitu, aku akan menerimanya. Terima kasih sudah mengantarkannya pada saya, Tuan Ksatria." tak lupa Penelope memberikan senyuman indahnya pada sang Ksatria.
"Sudah menjadi tanggung jawab saya, Lady. Kalau begitu, saya izin undur diri sekarang. Semoga perjalanan Anda menyenangkan."
Kereta keluarga Savero pun telah siap untuk berangkat setelah mengganti ban keretanya. Si kusir mengangkatkan koper bawaan Penelope ke tempat penyimpanan barang di atas kereta. "Lady, semuanya sudah siap. Mari kita berangkat sekarang."
"Baiklah, terima kasih sudah membantuku."
Menuju ke Verenity membutuhkan waktu kurang lebih dua jam setengah. Kejenuhan mulai merasuk dan di atas pangkuannya ada kado dari Raiden yang membuat Penelope semakin tidak sabaran. Tangannya sudah bergerak hendak menarik satu bagian pita merah tua itu, tetapi dia kemudian teringat akan hal penting. "Oh astaga!" Penelope buru-buru meminta kusir untuk berhenti tepat di persimpangan jalan.
"Paman, tolong tunggu sebentar ya. Ada yang ingin aku beli. Aku tidak akan lama."
Penelope lari tergesa-gesa menyeberangi jalan dan mencari toko obat milik Christian yang letaknya tidak begitu jauh. Hari ini jalanan kota sedang cukup ramai mengingat ini adalah hari libur bersama.
Triing triing
Bel pintu bergoyang begitu daun pintu itu dibuka oleh seseorang. Penelope mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan mencari sosok Christian yang menyamar sebagai seorang pria paruh baya pengracik ramuan.
"Permisi, kakek Will. Anda ada di dalam?" panggil Penelope karena sang pemilik toko tidak juga muncul. "Apa dia tidak ada di sini hari ini? tapi tokonya buka," gumam Penelope bingung. Dia tidak bisa pergi tanpa membeli obat itu, kalau pergi dari sini, Penelope tidak yakin dia akan memiliki keberanian untuk keluar rumah.
Penelope memberanikan diri mendekat ke meja kasir, tercium lah aroma wewangian unik yang membuat gadis berambut sebahu itu terpancing untuk melihat ke ruangan bagian belakang yang hanya tertutup tirai saja.
Begitu Christian keluar untuk mengambil ekstra tanaman herbal lain sebagai bahan antibakteri, mereka berdua sama-sama terkejut. "Lady Penelope, rupanya Anda di sini."
"Kakek Will, apa yang sedang Anda lakukan di dalam? kelihatannya Anda sangat sibuk sampai tidak mendengar panggilan saya," tanya Penelope penasaran, dia berusaha menengok ke belakang namun Christian segera mengarahkannya ke meja kasir.
"Saya sedang bereksperimen dengan obat baru, Lady," jawab Christian singkat namun tetap memberi kesan ramah. "Obat yang seperti biasa?" putri tunggal Vincent itu adalah pelanggan tetap dan obat yang dipesan hanya satu, jadi Christian sudah sangat hafal dengan pesanannya.
Christian berhenti mengambilkan obat, dia memandang pelanggan setianya. "Lady, Anda masih ingat peringatan saya, bukan? jika Anda berlebihan dalam mengonsumsi obat ini, tubuh Anda dengan sendirinya akan membuat kekebalan dan obatnya tidak akan berefek lagi."
Penelope tidak berhenti memasang senyum terbaik yang ia punya, "Saya ingat, kakek. Mau bagaimana lagi. Jika Anda punya jenis obat yang berbeda, bisakah Anda rekomendasikan untuk saya?"
"Saya hanya punya obat oles, tetapi aromanya lebih menyengat dan saat dioleskan akan terasa ngilu untuk beberapa menit tergantung seberapa berat lukanya."
"Wah, kalau begitu saya akan membelinya juga."
"Baiklah jika Anda menginginkannya."
Christian tidak berkomentar lebih lanjut, dia segera mengemas dengan rapi pesanan Penelope dan memberikan catatan tambahan pada obat baru yang dibelinya. "Terima kasih sudah mempercayai saya, Lady."
"Saya juga berterimakasih atas bantuan Anda, kakek Will. Obat Anda benar-benar sangat bagus."
Selagi menyusuri jalanan kembali menuju kereta kudanya, Penelope baru teringat lagi akan ucapan Quinn. Saudari Quinn itu semakin dibuat ingat kala mendengar rumor yang beberapa orang sedang bicarakan ketika berseberangan dengannya.
Rumor bahwa Quinn berpura-pura terluka parah akibat serangan bandit hanya untuk menarik perhatian Pangeran pujaannya. Cara kotor dan tak terhormat seperti itu tidak pantas dilakukan oleh wanita bangsawan yang sangat melindungi martabat keluarga dan juga dirinya sendiri.
["Raiden tidak sebaik itu sampai mau memberi kado pada seseorang yang baru dua kali dia temui. Kalau dia sampai memberimu sebuah hadiah mewah, itu artinya dia menginginkan sesuatu darimu."
"Aku akan tebak sekarang. Dia akan memberikanmu sebuah kado mewah, mungkin sebuah kalung atau gaun? mau lebih detail? gaun itu kurasa akan berwarna biru dengan permata yang bertabur indah dibagian dadanya."
"Quinn, bagaimana kau bisa sok meramal begini? kau sudah lelah menyandang status putri tak berguna?"
"Terserah padamu saja. Mau percaya atau tidak, toh kau tetap akan terus menerobos maju demi nyawamu sendiri."
"Lalu bagaimana caranya kau membantu aku?"
"Ada caranya. Percayakan saja padaku."]
"Jadi, dia memiliki ide dengan menjatuhkan namanya sendiri? dia terlalu nekat," tidak bisa dipungkiri bahwa Penelope merasa sedikit kasihan pada Quinn. Hanya demi membantu dirinya, Quinn rela mengambil jalur yang terbilang berani. "Apa dia tidak takut itu mencoreng nama keluarganya?" tanya Penelope pada dirinya sendiri.
Penelope tidak dapat rasa penasarannya, dia ingin segera membuktikan tebakan Quinn yang sok tahu itu. Penelope membuka kotak hadiah dari Raiden dengan lembut, pita yang tidak berguna lagi itu saja tetap dia lipat dan simpan di sebelah kursinya yang kosong.
"Mengapa aku seperti sedang menangani bom? santai saja, Penelope." gadis muda itu membuang nafas panjang guna mengontrol detak jantungnya yang mulai tidak beraturan. Mata Penelope melotot tak percaya melihat isi kado tersebut. Tepat seperti tebakan Quinn, ucapan sepupunya itu sama sekali tak ada yang meleset.
"Dia benar. Bagaimana dia bisa tahu sedetail itu?" gumamnya yang masih enggan mengakui.
Apa yang Raiden inginkan dariku?
Di atas lipatan gaun terdapat amplop kecil berisi surat dengan tulisan tangan Raiden. Penelope membaca tiap kalimatnya dengan seksama.
..."Halo, aku harap kau tidak melupakanku, Penelope. Maaf karena aku tidak bisa menemuimu lagi. Terimalah hadiah ini sebagai tanda permintaan maaf dariku. Aku harap kau menyukainya....
...Aku merasa gaun ini akan sangat bagus bila kau pakai. Aku ingin melihatmu memakainya saat kita bertemu lagi nanti di hari ulang tahunku. Jangan lupa mengirim surat balasan, ya. Aku sangat menantikan kabarmu."...
Iris birunya berkaca-kaca saat membaca surat Raiden yang penuh tipu daya itu. "D-dia sepertinya tulus mengatakan ini semua. Sial. Jika saja Quinn tidak meracuni otakku dengan teori-teori menyebalkannya itu, aku pasti sangat bahagia saat membaca surat penuh perhatian dari Raiden ini."
Penelope jadi memikirkan apa yang Raiden inginkan darinya. Fakta bahwa Quinn mampu menebak warna gaun serta modelnya dengan tepat, itu berarti Quinn tahu kapan dan bagaimana dia bisa melihatnya. "Tidak mungkin. Jangan bilang ini gaun bekas pilihan Quinn yang tidak jadi dibelinya?!"
Seketika suasana hatinya menjadi buruk. Demi menjaga ketenangan, Penelope membungkus lagi hadiah mewah pemberian si Putra Mahkota Ethereal itu serapi sebelumnya. "Sebentar lagi aku sampai rumah."
Kedua tangan gadis itu mulai gemetar dan ia berusaha meredakannya dengan meremas roknya amat kencang hingga meninggalkan kusut di rok biru terang yang dia kenakan saat ini.
"Huh... tenang, Penelope. Ini bukannya yang pertama kali terjadi padamu, mari tersenyum."
Itulah kalimat penenang yang terus Penelope tanamkan dalam batin ketika dia sudah turun dari kereta kuda yang Savero pinjamkan padanya.
Gadis itu mendongak memandangi rumahnya yang terasa dingin dan suram, hanya aura mencekam yang terasa. Berbeda saat dia tinggal di rumah pamannya.
"Terima kasih sudah mengantarku, paman. Aku akan membawa sendiri tas ini. Lukisannya taruh saja di luar dulu."
"Baik, Lady."
Tangan kurusnya terangkat mendorong pintu rumahnya. Senyum palsu sudah dia pasang untuk memberi salam pada ayahnya, Vincent Van Marchetti.
Begitu satu daun pintu terbuka...
Ctaaar!
Satu vas bunga berbahan gerabah terlempar ke arahnya dan pecah setelah mendarat tepat di dahi mulus Penelope. Tubuh gadis itu limbung dan akhirnya dia duduk bersimpuh di depan pintu sambil meringis kesakitan.
"Lady!"
Darah mengucur dari dahi kanannya yang juga sudah lebam. Pandangan Penelope berkunang-kunang akibat pusing dan sakit sekaligus menjalar hingga ke belakang kepalanya. "Lady, Anda baik-baik saja?" seorang pelayan dengan berlinangan air mata merengkuh tubuh majikannya, dia berusaha menghentikan darah dengan menekannya menggunakan lengan bajunya.
Seorang pria dengan penampakan yang berantakan itu berdiri angkuh di hadapan Penelope. Matanya memicing tajam memandang gadis malang tersebut seperti tengah melihat kotoran. "Sudah berapa kali ku bilang untuk tidak meninggalkan rumah?! apa kau puas melihatku marah?! Dasar anak pembangkang!"
Pelayan yang tadi memeluk tubuh gemetaran Penelope angkat bicara. "Yang Mulia, saat ini Lady baru saja sampai. Tolong biarkan dia beristirahat sebentar..." cicitnya takut.
"Manusia rendahan sepertimu tidak berhak ikut campur! menyingkir dari sini!"
Vincent sang kepala keluarga menendang dengan kuat tubuh ringkih pelayan pribadi Penelope hingga dia tersungkur cukup keras, sikunya membentur lantai, "Argh!" pekiknya sakit.
Penelope mendelik kaget dengan tindakan ayahnya yang semakin hari semakin tak berperasaan "Lily!" gadis yang masih menahan pusing itu beranjak hendak menolong, namun Vincent langsung menarik rambut putrinya "Argh! sakit, Ayah..." rintih Penelope pilu.
"Hei, anak kurang ajar. Apa kau tidak punya sesuatu untuk diucapkan padaku?!"