I Will Be The New Me

I Will Be The New Me
CHAPTER 54 PENGKHIANATAN DAN PEMBALASAN QUINN



"Huh? astaga mengerikan sekali!"


"Itu kelihatan sangat perih."


"Kasihan sekali Lady Penelope itu..."


"Ya, dia hidup dengan penuh penderitaan. Ditambah Ayahnya telah melakukan kejahatan besar lain yang merugikan kerajaan."


"Aku tidak bisa melihat itu..."


Quinn melihat reaksi para penonton sidang yang berbeda, mereka tampak lebih mudah iba pada Penelope dibanding saat dirinya berbicara. "Pfft, maaf aku akan membuat kalian berubah pikiran. Tunggu saja giliranku," batin Quinn tak sabar, kesenangannya tengah berada di puncak.


Quinn membantu Penelope membenarkan posisi gaunnya, "saya berusaha setiap hari untuk bisa bertahan hidup dibawah tekanan yang diberikan olehnya. Viscount sudah tega membunuh seorang pelayan yang berniat melindungi saya dari amukannya. Meski sudah tahu wanita itu sekarat, dia tetap melampiaskan semua kemarahannya sampai akhirnya pelayan kami kehilangan nyawa. Saya sangat takut untuk melapor karena tidak ada jaminan saya bisa tetap hidup setelahnya."


"Tidak hanya itu, saya sering melihat kejanggalan yang baru ini saya sadari setelah Quinn mengungkap kejahatan keji yang Ayah saya lakukan. Ayah sering sekali pulang dengan berlumur darah, sehabis paginya bilang pada Butler rumah kami bahwa dia akan pergi ke panti asuhan yang dibina oleh tiga keluarga bangsawan besar itu.


Dia juga sering tidak pulang sampai dua hari lamanya, padahal jika diamati lebih dekat lagi, Ayah tak pernah memiliki rekan bisnis yang diajak ke rumah seperti Paman Savero.


Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, Ayah memiliki ruang rahasia tempat di mana dia menyimpan banyak sekali surat tentang pengurusan panti asuhan yang dilakukan untuk 'kegiatan amal' oleh Ayah dan dua bangsawan lainnya. Ruangan itu hanya akan terbuka jika Ayah membukanya dengan cincin kepala keluarga yang dia miliki."


"Urgh dasar tidak tahu diri! anak durhaka sepertimu memang seharusnya ku buang saja sejak dulu!" Vincent merasa sangat marah saat ini. Dia berusaha membuka hati untuk menghargai kehadiran Penelope dalam hidupnya dan membantu Penelope untuk mendapatkan posisi Ratu, tetapi sekarang justru putrinya berdiri di mimbar saksi untuk memberatkan hukumannya.


"Tersangka, mohon tenang. Anda tidak diperbolehkan menginterupsi saksi."


"Saya sudah membawa pernyataan dari seluruh pelayan yang bekerja di rumah kami bahwa mereka juga mendapat kekerasan seperti saya yang tidak semua bekasnya menghilang. Beberapa orang yang sudah tidak lagi bekerja di rumah juga sudah datang untuk memberi kesaksian." Penelope maju ke meja Hakim untuk memberikan surat yang telah dia kumpulkan dan kembali ke mimbar saksi.


Penelope menangis di tengah-tengah penjelasannya, "Ayah tidak pernah sekalipun menjalankan perannya sebagai seorang Ayah. Saya merasa bahwa saya tidak beruntung, tapi keluarga Paman Savero sungguh memberikanku keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih baik. Mereka sangat baik dan menganggap saya seperti keluarga kandung sendiri, itulah alasan saya sering menginap di rumah Paman untuk terbebas dari amukannya."


Beberapa bangsawan tampak iba dengan apa yang dikatakan Penelope. Ditambah luka berat yang tidak seharusnya seorang wanita dapatkan begitu banyak membekas di punggung Penelope.


"Kasihan, dia hebat sekali bisa bertahan selama ini di rumah yang terasa seperti neraka itu."


"Apa Ayahnya tidak punya akal? anak mandiri seperti itu masih saja disakiti."


"Kalian ini seperti masih asing dengan kekerasan saja. Tidak usah bereaksi seperti itu."


Killian ingin sekali membungkam mulut orang-orang yang setiap detik selalu menggosip di belakang tempat duduknya, ia merasa terganggu dan tidak bisa fokus mendengarkan persidangan.


Selain itu Killian juga merasa sangat tidak berguna karena selama ini tidak mengetahui sakit yang dirasakan Penelope.


Quinn kembali mendekat ke mimbar tempat di mana dia seharusnya berdiri, dia menatap ke arah bangku para penonton sidang. "Kalian sudah mendengar semua dengan jelas apa yang saksi sampaikan. Dengan melihat sisi di mana keluarga saya terlihat lebih sayang padanya, Penelope mengembangkan rasa iri dalam hati dan ingin mengambil posisi saya baik dalam keluarga maupun dalam lingkungan dan teman-teman saya sehingga berulang kali dia berusaha menyingkirkan saya."


Savero, Killian, bahkan Penelope sendiri langsung membelalakkan mata kaget. Mereka tak percaya Quinn akan berkata seperti itu.


"Apa maksudnya itu?"


"Apa itu benar terjadi?"


"Mungkin dia mengarang cerita."


"Mereka berdua kelihatan akrab, kok."


Raiden tersenyum lebar di atas sana, mulai dari sini dia semakin menantikan keributan yang akan Quinn buat. Tentunya berita selanjutnya akan sangat menggemparkan.


"Q-Quinn, apa yang kau katakan? mengapa aku perlu menyingkirkanmu? kalian sudah seperti keluarga kandung bagiku." Penelope memelas, dia tampak menarik simpati banyak orang yang memang sejak awal lebih mendukung Penelope.


Killian hendak membela, tapi dia tidak ingin bertindak gegabah, nama keluarga Shuvillian akan ikut tercoreng jika dia mengambil langkah yang salah. "Tenangkan dirimu, Killian. Kau tahu kakakmu selalu punya alasan ketika berani mengutarakan sesuatu meskipun itu akan ditentang orang lain," Savero menahan pundak putranya agar tidak asal membela jika tidak memiliki bukti.


"Ayah..." Killian tidak tahu kapan Savero jadi begitu percaya pada Quinn.


"Rumor memang tidak bisa dianggap remeh, berita apa saja pasti akan mudah terbawa angin sampai merata ke seluruh daratan Ethereal. Kalian mungkin masih ingat penyerangan kereta yang terjadi padaku sampai membuat Grand Duke turun tangan mengamankan daerah sekitar perbatasan."


Quinn mengangkat sebuah kertas berlambang sebuah Guild yang di mana isinya adalah pembelian jasa, tanda tangan dan cap persetujuan antar kedua belah pihak pun sudah tercetak jelas di sana. "Saat semua orang bahkan saya sendiri menyangka itu adalah ulah bandit, Penelope justru mengirim sekelompok pembunuh bayaran untuk melenyapkan saya dan membuatnya seperti ulah bandit."


Killian menganga tak percaya, begitu juga Savero yang tidak menyangka. "Saya sudah memberikan yang asli kepada Hakim Ketua untuk diperiksa keasliannya."


Hakim Ketua pun menyahut, "Ya, kami sudah memeriksa dan hasilnya memang asli."


Sialan! bagaimana dia bisa mendapatkan itu? apa Rupert mengkhianati aku?! Quinn, kau juga mengkhianati aku!


"Q-Quinn, mana mungkin aku melakukan tindakan tak bermoral begitu. Kau pikir aku tega melakukannya? kau lihat sendiri, aku tidak pernah terbiasa dengan kekerasan yang dilakukan oleh Ayahku, jadi mana mungkin aku tega menyakiti sepupuku sendiri." ujar Penelope dengan mata berlinangan air mata.


Quinn menyeringai tipis, dia sengaja tidak menghiraukan ucapan Penelope dan tetap mengajukan argumen nya. "Tapi mungkin kalian tidak percaya... keesokan paginya saat menjenguk ku, alih-alih menanyakan kabar dia justru bertanya bagaimana saya bisa lolos dari penyerangan bandit seakan dia kecewa melihat saudari sepupunya selamat."


"Tidak hanya sampai situ, dia menjenguk dengan membawa bunga yang telah dibubuhi racun setelah tahu bahwa saya berhasil lolos dari orang-orang utusannya."


"Tidak! itu tidak benar, Yang Mulia Hakim! saya tidak melakukan hal keji dan licik seperti itu, saya tidak pernah berpikiran untuk membunuh Quinn. Saya sendiri kesulitan menghadapi masalah dalam rumah. Bukti apa yang kau punya sampai kau berani menuduhku?" tanya Penelope tak terima.


"Tentu saya memiliki bukti. Jika tidak, saya tidak akan berani membawa kasus ini ke persidangan." Quinn mengangkat botol kecil berisi bubuk racun yang saat itu Penelope tinggalkan di toko bunga.


Penelope membulatkan matanya kaget, "bagaimana itu bisa ada ditangannya?!" batinnya panik.


"Penelope, kau mungkin tidak menyangka kenapa aku punya botol ini. Kau ceroboh karena kau tidak memusnahkannya dan malah meninggalkannya begitu saja di toko. Kenapa? kau ingin berjaga-jaga jika berhasil membunuhku jadi kau bisa menyalahkan si pemilik toko?"


Penelope merasa terintimidasi oleh tatapan para bangsawan yang hadir, mereka akan senang akan mendapatkan bahan gosip baru.


Seseorang berdiri dari kursi penonton sambil mengangkat tangan. Itu ada orang yang masih Penelope ingat wajahnya. "Saya berani bersaksi, Yang Mulia Hakim. Saya melihat Lady Marchetti menaruh itu ketika sudah memilih bunga apa yang akan beliau beli. Saya awalnya hendak membuang botol itu, tetapi saya menyerahkannya pada Lady Quinn karena saya pikir dia perlu tahu, saya tidak berani membuangnya begitu saja karena itu berbahaya."


Dia adalah gadis pemilik toko bunga yang Quinn minta pada Raiden untuk ikut diundang sebagai salah satu pengamat. "Ini gunanya berteman dengan rakyat biasa. Aku tidak sepertimu yang hanya mencari muka," bisik Quinn lirih di dekat Penelope.


"?!"


Killian menegang di tempatnya. Semua bukti sudah terpampang jelas, tapi hatinya masih mencari alasan untuk bisa menyangkal kebenaran. Remaja lelaki itu menunduk dengan mata yang bergetar, "kenapa dia harus melakukan itu?" itu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.


"Astaga, kenapa Lady Penelope sampai perlu melakukan itu?"


"Mungkin saja dia berbuat karena merasa terancam oleh Lady Quinn."


"Apa yang dikatakan Lady Quinn sangat masuk akal. Tidak ada manusia berhati suci, kita semua tahu itu."


Quinn mengeraskan suaranya "Anda sekalian para bangsawan yang hadir, mungkin kejadian di malam pesta ulang tahun Yang Mulia Putra Mahkota masih segar diingatan. Bagaimana sekelompok orang terlatih menyerang saya dan mengaku-aku sebagai Ksatria istana, tapi rupanya mereka adalah utusan Viscount dan putrinya.


Saat Pangeran dan Grand Duke memeriksa jasad para Ksatria gadungan itu memiliki emblem keluarga Marchetti, termasuk jepit rambut Penelope di sana. Sayang sekali tidak ada dari utusan itu yang selamat, tetapi kalian mengerti apa maksud saya bukan? mereka sudah bertemu di sana sebelumnya.


Selama ini Penelope memanfaatkan kedekatannya dengan Yang Mulia Putra Mahkota agar Viscount yang gila harta mau membantunya mengambil posisi sebagai Putri Mahkota. Karena Penelope tahu, saya berteman dekat dengan Putra Mahkota dan itu menghalangi jalannya.


Sepupu saya ini, demi menyingkirkan saya, dia juga memanfaatkan Firman Dewa yang ditakuti oleh ayahnya untuk tujuan pribadi, yaitu menyingkirkan saya tanpa perlu mengotori tangannya sendiri sehingga kita Viscount mendapat hukuman dia akan bebas dari tuduhan apapun."


Ini gunanya Quinn meletakkan emblem keluarga Vincent di tubuh para Ksatria utusan Raiden yang dikirim untuk membunuhnya. Bukan untuk melindungi Raiden dari tuduhan, Quinn ingin menghancurkan Vincent dan Penelope sekaligus. Semua orang tidak akan peduli apa yang terjadi, mereka akan segera percaya begitu Quinn menunjukkan bukti.


"Huh?!" semua orang dikagetkan oleh pengakuan Quinn yang sangat berkebalikan dari citra seorang Penelope van Marchetti di mata kalangan elit maupun masyarakat.


"Saya tentu saja tidak akan sembarangan menuduh. Grand Duke memberikan bukti yang mereka dapatkan dari tempat kejadian."


Quinn mengangkat plastik klip berisi emblem dan jepit rambut Penelope yang memiliki bercak darah milik Ksatria itu. "Ini salah satu barang bukti terkuat yang ditemukan di sana. Sementara saya sedang berjuang hidup dan mati, Penelope terus mengincar Pangeran. Dia bahkan ingin menjadi pasangan dansa Putra Mahkota dalam pesta ulang tahunnya."


Penelope dan Vincent sama-sama terkejut bukan main. Pernyataan Quinn semakin melebar. Ayah dan anak itu tidak tahu menahu soal Ksatria yang menyerang dirinya. "Apa maksudmu bicara begitu?! aku tidak tahu apa-apa soal itu! Yang Mulia, dia telah berbohong dan memalsukan bukti!" sentak Vincent murka.


Penelope melotot tak terima Quinn terus menyerangnya "Itu 'kan kau sendiri yang memintaku untuk berdansa dengan Pangeran!"


"Oh sungguh? kapan aku bilang begitu?"


Penelope mendongak menatap kursi Raiden, berharap Raiden akan membantunya sebab pemuda itu tahu kebenarannya. Quinn lah yang memojokkannya untuk menjadi teman dansa Raiden.


Di atas sana Raiden hanya tersenyum tanpa dosa, dia malah justru balik menatap Penelope santai, "kenapa kau menatapku begitu? aku tidak bisa membantumu. Aku tidak ikut campur."


Deg


Jantungnya seolah berhenti memompa oksigen. Dadanya terasa sakit. Untuk sesaat Penelope merasa waktu disekitarnya berhenti. Gadis itu terjatuh lemas karena kakinya tidak lagi mampu menumpu berat badannya sendiri. Wajahnya tertunduk menatap lantai persidangan. Tampaknya dia syok melihat respon Raiden yang tak peduli dan tidak mau mencoba memberitahu kebenarannya kepada publik.


"Iya, aku melihat Putra Mahkota berdansa dengan Lady Penelope."


"Ya, aku kira Putra Mahkota sendiri yang memintanya."


"Aku tidak tahu kalau dia bermuka dua."


"Memang benar kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Gen Viscount sungguh menurun kepadanya."


"Menjijikkan. Bagaimana dia bisa setega itu pada anggota keluarganya sendiri?"


Quinn menatap tajam Penelope yang duduk bersimpuh di lantai. "Jauh sebelum ini, Penelope sudah lebih dulu mencoba menyingkirkan saya dengan cara yang halus, yaitu dengan menjauhkan jarak antara saya dengan adik dan Ayah saya sendiri.


Dulu ketika masih kecil, saya, Killian, dan dia bermain di kolam renang... Penelope bercanda dengan mendorong saya, tetapi dia terpeleset dan akhirnya malah menjatuhkan Killian yang masih sangat kecil ke dalam kolam. Killian mungkin tidak ingat, tetapi dia nyaris mati karena terlalu banyak meminum air.


Saya berusaha meminta pertolongan pelayan karena saya belum bisa berenang, tapi Penelope turun ke dalam dan menyelamatkan Killian dari sana. Apa yang dia sampaikan pada Ayah saya sangat berbeda, dia bilang saya lah yang mendorong Killian ke dalam kolam renang.


Selalu. Ketika tindakan Penelope yang ceroboh nyaris menghilangkan nyawa Killian, saya selalu dijadikan kambing hitam hingga Ayah dan bahkan Killian sendiri salah paham dan menjaga jarak dari saya. Mereka berdua mengira saya adalah anak yang ceroboh dan sangat tidak bisa diandalkan.


Tapi sepertinya cara ini terlalu lama sampai membuatnya berpikir untuk membunuh saya tanpa menggunakan tangannya sendiri."


Quinn perlahan mengingat masa kecilnya dan alasan dari Killian begitu membencinya bahkan hingga sekarang. Apa yang disampaikannya kali ini bukan tipuan atau rekayasa, itu memang benar adanya.


Killian menutup mulutnya dengan telapak tangan, dia terlalu syok untuk mendengar itu semua. Tentu Killian tidak begitu ingat karena dia masih terlalu kecil. Akan tetapi, setelah Quinn bicarakan, kilas balik masa lalu berjalan seperti kertas film di dalam benaknya.


"Aku tidak pernah melakukan itu! kau berbohong! kau mengkhianati aku!" Penelope mendadak mencengkeram kuat kedua lengan Quinn. Dia melotot marah karena merasa dipermainkan. "Yang Mulia Hakim! Quinn telah membuat saya meminum racun! dia meracuni saya untuk merebut semua berkas milik Ayah!"


"Mohon Anda bicara dengan tenang, Lady Penelope." kata si Hakim Ketua mengingatkan. "Dokter, silakan periksa darahnya."


"Baik, Yang Mulia Hakim."


Penelope menyeringai senang. Dia belum menerima penawar racun yang Quinn janjikan akan ia berikan ketika dia sudah berhasil mengambil seluruhnya berkas bisnis rahasia Vincent.


Beberapa menit setelah menjeda acara persidangan demi menunggu hasil sampel darah Penelope, kini Hakim mulai mengumumkan hasilnya. Semua ikut tegang menantikan hasil cek darah itu, pasalnya Quinn tampak percaya diri dan tidak takut sama sekali walau Penelope bicara soal meracuni dirinya "Dari pemeriksaan dokter istana, kami akan mengumumkan bahwa Lady Penelope dalam keadaan sehat. Tidak ditemukan reaksi apapun dalam darahnya yang artinya dia tidak teracuni sama sekali."


"A-apa?! itu tidak mungkin! jelas-jelas saat itu saya memuntahkan darah!"


"Tapi kami sudah mengeceknya tiga kali dan hasilnya tetap sama."


Quinn menyeringai penuh kemenangan. Masih ingat saat Quinn mengunjungi Penelope yang baru saja kena cambuk? itu terjadi keesokan hari setelah malam pesta ulang tahun Raiden. Quinn memberikan botol air minum yang Quinn sebut air suci yang didapat dari kuil, itu adalah air biasa yang sudah Quinn masukkan obat penawar racun dan Penelope jelas tidak menyadari itu.


"Lady Penelope, Anda memberikan tuduhan palsu pada Lady Shuvillian. Kami juga akan menghitung hukuman untuk itu."


Dok! Dok!


"Putusan hakim akan diumumkan setelah masa reses."


Penelope kemudian digabungkan ke kursi tersangka bersama dengan Ayahnya yang sudah dia khianati demi menyelamatkan diri. Kini dia justru berada di tempat yang sama dengan Vincent.


"Rasakan apa yang pernah aku rasakan dulu, Penelope. Aku menantikan akhir yang 'bahagia' untukmu."


Quinn tersenyum begitu lega. Rasanya dia tidak pernah merasa sepuas ini.


*


*


*


"Putusan final dari sidang khusus ini akan disampaikan. Mereka melalaikan tugas mereka sebagai bangsawan untuk menjaga rakyat dan memanfaatkan sejarah pedih kerajaan demi keuntungan diri sendiri adalah kejahatan yang amat fatal. Tersangka juga menunjukkan sikap merasa tidak bersalah yang semakin melukai hati rakyat. Oleh karena itu, demi menegakkan kedisiplinan dalam sejarah, tersangka akan dijatuhi hukuman terberat."


Semua orang begitu menantikan hukuman macam apa yang akan diberikan kepada para tersangka itu.


"Seluruh orang terlibat dalam kasus ini akan dihukum mati dan keluarganya akan dimusnahkan. Hukuman pancung akan digelar hari ini sebelum matahari terbenam."


Prajurit istana pun datang dan mengikat tubuh para terdakwa sebelum berpindah ke tempat eksekusi yang di mana di sana sudah tersedia tiang pancung yang mata pisau lempengan nya berkilau tajam. Dan sidang khusus yang diadakan ini ditutup dengan mengadakan ritual suci, mereka berharap mencoba menyucikan sejarah istana ke depannya.


"Matilah!"


"Dasar keparat!"


"iblis menjijikkan!"


"Dewa pun tidak akan mengampuni dosa kalian!"


sorak sorai yang dipenuhi oleh hinaan dan caci maki menggaung hingga ke langit. Masyarakat berbondong-bondong menyaksikan hukuman pancung mereka agar lebih puas melihat akhir dari orang-orang yang sudah lama melakukan tindakan keji.


Mereka bahkan tetap berusaha memukul meski penjaga istana berusaha membelah lautan manusia untuk membuat jalan. Penelope melihat ke arah Killian yang enggan menatapnya sama sekali, "Killian... Killian, tolong lihat aku untuk yang terakhir kalinya."


"Aku tidak menyesal pernah menyayangimu, kak. Selamat tinggal."


Killian berlalu pergi begitu saja, dia meninggalkan tempat eksekusi. Walau hanya sepersekian detik, Penelope bisa melihat mata Killian yang memerah. Pemuda itu sedih tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dan Penelope tahu itu.


Orang yang maju duluan adalah Benedetti. Lehernya di pas kan tepat di cekungan tiang pancung. Sang algojo telah memegang tali.


Raiden menyaksikan penjatuhan hukuman bersama dengan Quinn dan Savero.


"Y-Yang Mulia... tolong ampuni saya. Kalau bukan karena kami, simpati masyarakat tidak akan seperti sekarang. Semua itu demi masyarakat! Saya tidak melakukan kesalahan apapun! Saya hanya—"


Sriiing


Kepala itu langsung terpisah dari tubuhnya. Sepuluh detik lalu dia masih bicara, tapi sekarang dia tidak lebih dari seonggok sampah tak berguna.


Quinn sejujurnya ngeri melihat dari dekat hukuman pancung itu, tetapi begitu mengingat masa lalu menyakitkan baginya membuat Quinn harus melihat paman dan sepupunya untuk yang terakhir kalinya.


Begitu semua terpenggal habis, kini giliran Penelope yang berada di bawah pisau pancung. Gadis itu tampak pasrah meski hatinya tetap merasakan kemarahan yang luar biasa pada Quinn.


Quinn menyentuh lengan Raiden menggunakan jarinya, "boleh aku bicara sebentar dengannya?" tanya Quinn.


Raiden tersenyum lembut kepadanya "tentu saja boleh."


Quinn segera naik ke panggung dan berjongkok tepat di hadapan Penelope. "Rupanya kau datang untuk mengejekku. Apa sekarang kau sudah puas melihatku begini? dasar pengkhianat sialan!" maki Penelope lirih.


"Ucapanmu itu keterlaluan. Padahal aku datang kesini karena ingin menyelamatkan mu..." Penelope tersentak kaget, dia langsung menengadahkan wajah memandang Quinn "Sungguh. Kau tadi lihat sendiri, 'kan? Raiden sangat baik padaku. Beberapa kali dia membantuku dalam sidang ini. Kalau aku memohon padanya untuk mengampuni nyawamu, dia pasti akan mengabulkannya. Sebenarnya aku juga tidak terlalu ingin kau mati, aku hanya sakit hati karena tahu kau terus berusaha membunuhku."


Quinn tersenyum manis, "karena itu, kalau sekarang kau meminta maaf padaku dengan tulus, aku akan menyelamatkan mu dari tiang ini."


Penelope terengah-engah, dia enggan merendah untuk sosok pengkhianat seperti Quinn. Jika dia selamat kali ini, ada banyak kesempatan yang bisa dia gunakan untuk balas mengkhianati Quinn dan membunuhnya. "Aku minta maaf! tolong ampuni aku! aku minta maaf untuk semuanya! tolong berikan satu kesempatan lagi pada—"


"Pfft! hahahahaha!" Quinn tertawa begitu senang seakan tengah mengejek Penelope, "akhirnya kau meminta maaf juga. Tapi itu tidak bisa merubah masa lalu. Dulu kau meletakkanku di sini dengan bermodal merekayasa kebenaran, dan sekarang sudah waktunya giliran kau yang merasakannya. Omong-omong, tawaranku untuk menyelamatkanmu itu hanyalah kebohongan."


Quinn mengelus puncak kepala Penelope. Selama ini dia bersabar untuk bisa memberikan hukuman setimpal dengan yang Penelope lakukan terhadap dirinya. Kini Penelope juga akan mati dengan tuduhan yang kurang lebih Quin rekayasa sebagian.


"Cepat laksanakan eksekusi."


"Baik, Yang Mulia!"


Quinn turun dari panggung itu dengan perasaan teramat senang.


Penelope berteriak marah "Quinn, kau mau kemana? kembalilah! beraninya kau mempermainkan nyawaku?! dasar gadis bengis! dasar iblis!"


Quinn menengok ke belakang dan menatap saudari sepupunya datar "Aku anggap itu sebagai pujian, Penelope. Kau yang telah membuatku memilih jalan ini."


Sriing


Kepala Penelope menggelinding sampai jatuh tepat ke wadah tempat meletakkan kepala tiap tersangka hukuman mati sore ini. Mata gadis itu masih terbuka lebar.


Quinn terkesiap "mengagetkan. Apa dia sempat mendengar kalimatku yang terakhir? ah masa bodoh. Aku lelah, sebaiknya aku istirahat."


...*...


...*...


...*...


...*...


Catatan Author:


Sekarang ngerti kan kenapa author buat muter-muter dulu dan ga langsung bikin Quinn balas dendam 😌 . Yups! author mau buat persidangan dan mengakhiri Penelope dengan cara yang sama.


Inilah indahnya bersabar ya ges ya wkwkwk


Thank buat kelean semua yang sabar nungguin author🥺


Sampai ketemu di chapter depan! tapi belum bisa janji kapan up lagi:")