Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 8



Lin Pingzhi sekarang mengerti, bahwa ayahnya sedang membedah mayat itu untuk menyelidiki penyebab kematiannya.


Lin Zhennan mengembalikan jantung manusia itu, membalut mayat itu dengan kain minyak, menaruhnya di sudut ruangan, mencuci bercak-bercak darah dari tangannya, lalu kembali ke kamar tidur bersama istri dan anaknya. Ia berkata, "Musuh ternyata benar-benar jago Qingcheng Pai. Istriku, menurutmu kita harus berbuat apa?"


Lin Pingzhi berkata dengan geram, "Masalah ini disebabkan oleh anak, besok pagi anak akan keluar menyampaikan tantangan untuk bertarung sampai mati dengan dia. Kalaupun aku bukan tandingannya, terbunuh olehnya juga tidak apa-apa". Lin Zhennan mengeleng dan berkata, "Orang ini dengan sekali pukul bisa menguncang jantung hingga menjadi tujuh atau delapan keping, akan tetapi sama sekali tidak meninggalkan bekas luka sedikit pun di tubuh orang yang dibunuhnya. Orang ini ilmu silatnya tinggi, tentunya terhitung salah satu jago Qingcheng Pai, kalau dia mau membunuhmu, tentunya dari dahulu sudah dilakukannya. Aku lihat musuh punya motif lain, tidak langsung membunuh kita bertiga sekeluarga". Lin Pingzhi berkata, "Dia mau apa?" Lin Zhennan berkata, "Bajingan tengik ini adalah kucing yang hendak menangkap tikus, ia mau mempermainkannya sampai puas, sehingga si tikus ketakutan setengah mati, dan akhirnya mati ketakutan sendiri, barulah dia puas". Lin Pingzhi berkata dengan gusar, "Hah, beraninya bajingan tengik ini membuat Biro Pengawalan Fu Wei kita kelihatan seperti pecundang".


Lin Zhennan berkata, "Dia memang ingin membuat Biro Pengawalan Fu Wei kita kelihatan seperti pecundang". Lin Pingzhi berkata, "Mungkin ia takut pada tujuh puluh dua jurus Pixie Jianfa ayah, tapi kenapa selamanya tidak pernah berani terang-terangan bertarung satu lawan satu, cuma mengambil kesempatan di saat orang tidak siap, diam-diam mencelakai orang?" Lin Zhennan mengeleng, "Pixie Jianfa ayah kalau dipakai untuk menghadapi bandit biasa, sudah lebih dari cukup. Tapi kungfu Tapak Penghancur Jantung orang ini jauh sekali diatas ayahmu. Aku......aku tak suka mengalah pada orang, tapi setelah melihat jantung Pengawal Huo......ai!" Lin Pingzhi melihat wajah ayahnya yang putus asa, begitu berbeda dari biasanya, ia tidak berani berkata apa-apa lagi.


Nyonya Lin berkata, "Karena musuh lihai, lelaki sejati harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, untuk sementara ini kita menghindar dahulu". Lin Zhennan mengangguk, "Aku juga berpikir begitu". Nyonya Lin berkata, "Malam ini juga kita pergi ke Luoyang, untungnya kita sudah tahu asal usul musuh, bagi seorang ksatria membalas dendam sepuluh tahun kemudianpun tidak terlambat". Lin Zhennan berkata, "Benar! Teman-teman ayah mertua tersebar di seantero kolong langit, pasti bisa membantu kita mencari jalan keluar. Kemasi semua barang berharga, lalu berangkat". Lin Pingzhi berkata, "Kita pergi meninggalkan begitu banyak orang di perusahaan ini, tanpa ada yang mengurusi mereka, bukankah ini tidak baik?" Lin Zhennan berkata, "Musuh tak punya dendam pada mereka, kalau kita pergi, semua orang di perusahaan ini malah akan baik-baik saja".


Lin Pingzhi berkata dalam hati, "Perkataan ayah ini masuk akal, musuh telah membunuh banyak orang di biro pengawalan ini, sebenarnya hanya demi aku seorang. Kalau aku pergi, musuh tentunya tak akan menganggu para pengawal dan pengiring yang tak ada hubungannya dengan dia". Ia segera kembali ke kamarnya untuk berkemas-kemas. Ia berpikir bahwa musuh mungkin akan membakar biro pengawalan sampai rata dengan tanah, ketika ia memandangi baju-baju dan mainannya, ia merasa sayang kalau kehilangan barang-barang itu, maka akhirnya ia membungkusnya dalam dua buntalan besar. Akan tetapi ia merasa barang-barang yang ditinggalkan masih terlalu banyak, maka tangan kirinya masih mengambil sebuah patung kuda kumala, dan tangan kanannya menggulung selembar kulit macan tutul. Kulit macan tutul itu berasal dari macan tutul yang dibunuh dan dikulitinya sendiri. Ia menyampirkan kulit itu di bahunya, lalu pergi ke kamar ayah ibunya.


Ketika Nyonya Lin melihatnya, ia tak bisa menyembunyikan tawanya, "Kita ini sedang mengungsi, bukan mau pindah rumah, untuk apa membawa begitu banyak barang?" Lin Zhennan menghela nafas, lalu mengeleng seraya berpikir, "Walaupun keluarga kita turun temurun mempelajari ilmu silat, tapi anak ini sudah terbiasa hidup enak sejak kecil, di luar urusan belajar ilmu silat, tidak ada bedanya dengan anak manja dari keluarga kaya biasa. Hari ini tiba-tiba kita mengalami kesulitan, harus cepat-cepat menghindari bahaya, maka sikapnya ini dapat dimengerti". Ia tak bisa menahan timbulnya perasaan sayang dalam hatinya, maka ia berkata, "Di rumah wai gongmu[25] sudah tersedia segala sesuatu, tak perlu membawa terlalu banyak barang. Kita hanya perlu membawa banyak emas dan uang perak, juga beberapa perhiasan berharga. Kita akan melewati kantor-kantor cabang di Jiangxi, Hunan dan Hubei, kau takut harus mengemis di jalan? Barang bawaan kita makin sedikit makin baik, kalau tubuh kita lebih ringan satu liang[26] , waktu harus berkelahi tentu lebih lincah". Lin Pingzhi tak punya pilihan lain, ia terpaksa meletakkan buntalannya di lantai.


Nyonya Lin berkata, "Kita akan terang-terangan menunggang kuda keluar dari gerbang depan, atau diam-diam menyelinap keluar dari pintu belakang?"


Lin Zhennan duduk di kursi, ia memejamkan mata sambil menghisap tembakau dari pipa, setelah beberapa lama, ia membuka mata dan berkata, "Ping er, kau pergi beritahu para pembantu bahwa kita akan berkemas-kemas, lalu besok pagi berangkat bersama-sama. Suruh ruang pembukuan membagikan perak untuk semua orang. Setelah wabah berlalu, kita akan pulang". Lin Pingzhi menjawab, "Ya!" Dalam hati ia merasa aneh, mengapa ayahnya tiba-tiba merubah rencananya? Nyonya Lin berkata, "Kau ingin kita semua berpencar? Siapa yang akan mengurus perusahaan ini?" Lin Zhennan berkata, "Tak usah diurus. Rumah yang dihantui setan seperti ini, siapa yang berani memasukinya untuk menghantar nyawa? Lagipula, setelah kita bertiga pergi, orang-orang yang masih tertinggal, bagaimana mungkin tak ikut pergi juga?" Begitu Lin Pingzhi keluar kamar untuk menyampaikan berita itu, seluruh biro pengawalan langsung kacau balau.


* * *


Lin Zhennan menunggu putranya kembali ke kamar, baru berkata, "Istriku, kami ayah dan anak akan berganti baju pengiring, kau berpakaianlah seperti seorang pelayan tua, besok pagi saat seratus orang ribut berpencar, walaupun ilmu silat musuh tinggi, mereka paling hanya berdua saja, siapa yang akan mereka kejar?" Nyonya Lin bertepuk tangan memuji, "Akal ini sungguh bagus". Ia pergi mengambil dua setel pakaian pengiring yang kotor. Ia menunggu Lin Pingzhi kembali, lalu membantu ayah dan anak itu bertukar pakaian. Ia sendiri memakai pakaian hitam dan membungkus kepalanya dengan kain kembang-kembang biru. Kecuali kulitnya yang putih bersih, ia nampak seperti seorang pelayan tua yang kasar. Lin Pingzhi merasa bahwa bajunya baunya tak tertahankan, dalam hati ia merasa sangat enggan memakainya, tapi tak ada pilihan lain.


Saat fajar menyingsing, Lin Zhennan memerintahkan pintu gerbang dibuka, lalu berkata kepada semua orang, "Hari ini nasibku jelek, roh jahat dan wabah penyakit menganggu biro pengawalan ini, kita semua lebih baik menghindar. Saudara-saudara semua kalau masih ingin bekerja sebagai pengawal silahkan pergi ke Hangzhou atau Nanchang untuk bergabung dengan kantor cabang Zhejiang atau Jiangxi kita, disana Pengawal Liu dan Yi tak akan menelantarkan kalian. Ayo kita berangkat!" Lebih dari seratus orang langsung menaiki kuda di halaman dengan kacau balau, lalu berebutan keluar gerbang.


Lin Zhennan menggembok pintu gerbang. Sambil berteriak, lebih dari sepuluh penunggang kuda mencongklang melewati garis darah dengan gagah berani. Mereka sudah tak ketakutan lagi, mereka merasa bahwa lebih cepat meninggalkan biro pengawalan, lebih cepat pula mereka akan selamat. Suara derap kaki kuda terdengar bising dan kacau, beriringan mencongklang ke gerbang utara. Mereka kebanyakan tak punya rencana tertentu, ketika melihat orang lain menuju ke utara, mereka ikut-ikutan mengarahkan kuda kesana.


Di sudut jalan, Lin Zhennan memberi isyarat dengan tangannya untuk menyuruh istri dan putranya memisahkan diri, dengan suara pelan ia berkata, "Biar mereka pergi ke utara, kita pergi ke selatan". Nyonya Lin berkata, "Kalau kita pergi ke Luoyang, kenapa ke selatan?" Lin Zhennan berkata, "Musuh menduga kita akan pergi ke Luoyang, mereka pasti sudah menunggu kita di luar gerbang utara, tapi kita sebaliknya ke selatan, memutar lalu baru ke utara, biar keparat itu menangkap udara kosong".


Lin Pingzhi berkata, "Ayah!" Lin Zhennan berkata, "Ada apa?" Lin Pingzhi berkata, "Anak masih ingin lewat gerbang utara, keparat itu telah membunuh banyak orang kita, kalau kita tidak bertarung mati-matian dengan mereka, penghinaan ini bagaimana bisa kita telan?" Nyonya Lin berkata, "Penghinaan macam ini memang harus dibalas, tapi dengan kemampuanmu yang masih rendah ini, apa kau bisa mengatasi Tapak Penghancur Jantung mereka?" Dengan kesal Lin Pingzhi berkata, "Paling juga seperti Pengawal Huo, jantungnya hancur berkeping-keping, memangnya kenapa?".


Lin Pingzhi tak berani berkata apa-apa lagi, ia mengikuti ayah ibunya pergi ke selatan, setelah keluar dari kota mereka berbelok ke arah barat daya, sesudah melewati sungai Min, mereka tiba di Nanyu.


* * *


Mereka terus melarikan kuda mereka dengan cepat selama setengah hari, boleh dibilang kuda-kuda mereka tak pernah berhenti berderap. Setelah lewat tengah hari, mereka baru berhenti untuk makan di sebuah kedai nasi kecil di tepi jalan.


Lin Zhennan minta pada lelaki penjual nasi untuk segera mengambilkan lauk yang tersedia untuk dimakan bersama nasi, lebih cepat lebih baik. Lelaki itu mengiyakan dan pergi. Namun setelah beberapa lama, sama sekali tak ada kegiatan. Lin Zhennan tak sabar untuk segera melanjutkan perjalanan, ia berseru, "Pelayan, cepat sedikit!" Setelah berteriak dua kali tetap tidak ada jawaban. Nyonya Lin juga ikut berseru, "Pelayan, pelayan......" Namun masih tetap tidak ada jawaban.


Nyonya Lin tiba-tiba berdiri, cepat-cepat membuka buntalannya dan mengambil golok emas, mengengamnya erat-erat, lalu lari ke belakang kedai nasi. Penjual nasi itu tergeletak di lantai, di ambang pintu seorang nyonya terbaring miring, rupanya istri lelaki itu. Nyonya Lin mencari hembusan nafas lelaki itu, namun ia sudah tak bernapas, jarinya menyentuh bibirnya, masih terasa hangat.


Saat itu sang ayah dan anak juga sudah menghunus pedang, lalu memeriksa di sekeliling kedai nasi itu. Kedai nasi kecil itu adalah satu-satunya rumah makan di tempat itu, dibangun menempel pada sebuah bukit, bertetangga dengan sebuah hutan cemara, sama sekali tak punya tetangga dekat. Ketiga orang itu berdiri di depan rumah makan seraya memandang ke keempat penjuru, mereka sama sekali tidak melihat sesuatu yang aneh.


Lin Zhennan melintangkan pedang di depan tubuhnya dan berkata dengan lantang, "Teman-teman dari Qingcheng Pai, aku si Lin ada disini menunggu kematian, mohon tunjukkan diri kalian". Setelah memanggil beberapa kali, terdengar gema dari lembah, "Tunjukkan diri kalian! Tunjukkan diri kalian!" Suara itu mengambang di udara, selain itu tiada suara lain. Ketiga orang itu tahu bahwa musuh mengintai dari samping, tempat ini adalah tempat yang mereka pilih untuk turun tangan. Walaupun hati mereka merasa cemas dan takut, akan tetapi karena tahu bahwa akan segera ada penyelesaian, mereka malah merasa lega. Lin Pingzhi berteriak keras-keras, "Aku Lin Pingzhi ada disini! Bunuhlah aku! Bangsat, haram jadah, aku tahu kalian pasti tak berani menunjukkan diri. Sembunyi-sembunyi, memang cara bajingan dunia persilatan!"


Sekonyong-konyong, dari hutan cemara muncul suara tawa panjang yang lantang, mata Lin Pingzhi seakan kabur, setelah itu ia melihat seseorang telah berdiri di depannya. Tanpa melihat lebih jelas, pedangnya langsung dengan cepat menikam dada musuh menggunakan jurus 'Menyerang Huanglong'[27] . Orang itu mengeser tubuhnya untuk menghindar. Lin Pingzhi menebas ke samping. Orang itu tertawa mengejek, lalu berputar ke sebelah kiri Lin Pingzhi. Tangan kiri Lin Pingzhi memukul, lalu kembali menusukkan pedangnya.


Lin Zhennan dan Nyonya Lin masing-masing menghunus senjata, sebelumnya mereka ingin langsung membantu, tapi setelah melihat putra mereka melancarkan beberapa jurus dengan sempurna, mereka segera mundur dua langkah ke belakang. Walaupun baru pertama kalinya bertemu musuh tangguh, namun Lin Pingzhi sedikitpun tidak bingung. Tubuh musuh dibalut jubah hitam, di pinggangnya tergantung sebilah pedang, yaitu sebuah pedang panjang. Ia kira-kira berumur dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun, ekspresi wajahnya mencemooh.


Lin Pingzhi sudah lama memendam amarah, ia menebas dan menusuk dengan menggunakan Pixie Jianfa, berkelahi menyabung nyawa tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri. Kedua tangan orang itu tetap kosong, ia hanya sekedar menghindar dan sama sekali tak membalas. Ia menunggu sampai Lin Pingzhi telah melancarkan dua puluh jurus lebih, setelah itu ia tertawa mengejek, "Pixie Jianfa, ternyata cuma seperti ini!" "Trang!" Ia menyentil dengan jarinya, Lin Pingzhi merasa bagian diantara ibu jari dan telunjuknya amat sakit, pedangnya pun jatuh ke tanah. Orang itu meloncat, lalu menendang Lin Pingzhi sampai terguling-guling beberapa kali.


Lin Zhennan dan istrinya langsung maju berendeng, menghadang di depan sang anak. Lin Zhennan berkata, "Siapa nama tuan yang mulia? Apa tuan berasal dari Qingcheng Pai?" Orang itu tertawa dingin, "Dengan mengandalkan kemampuan Biro Pengawalan Fu Wei yang cuma begini ini, kau tak pantas menanyakan namaku. Tapi hari ini adalah hari untuk balas dendam, maka akan kuberitahu, memang tak salah, bapakmu ini dari Qingcheng Pai".


Ujung pedang Lin Zhennan mengarah ke tanah, tangan kirinya menumpang di punggung tangan kanannya, lalu ia berkata, "Caixia[28] ini sangat menghormati Ketua Yu dari Kuil Songfeng, tiap tahun aku mengirim pengawal untuk hadir di Qingcheng, selamanya aku tidak pernah berani tidak mengindahkan tata krama, tahun ini Ketua Yu telah mengirim empat murid ke Fuzhou. Entah kesalahan apa yang telah membuat tuan yang terhormat tersinggung?" Pemuda itu mendongakkan kepalanya ke langit seraya tertawa sinis, setelah beberapa saat, ia berbicara, "Benar, guruku memang mengirim empat murid ke Fuzhou, aku adalah salah satunya". Lin Zhennan berkata, "Bagus sekali. Bolehkah aku tahu siapa nama tuan yang mulia?" Pemuda itu seakan tak sudi menjawab, ia mendengus lalu berkata, "Aku marga Yu, namaku Yu Renhao". Lin Zhennan mengangguk, " 'Yingxiong haojie, qingcheng sixiu'[29], ternyata tuan adalah salah satu dari empat murid senior dari Kuil Songfeng, tak heran tingkat Tapak Penghancur Jantung tuan begitu tinggi. Membunuh orang tanpa menumpahkan darah. Sungguh mengagumkan! Sungguh mengagumkan! Pendekar Yu sudah datang dari jauh untuk berkunjung, tapi aku si Lin ini belum menyambut, maafkan aku kurang sopan".


Yu Renhao tertawa dingin, "Tapak Penghancur Jantung itu, he he......kau belum pernah menyambutku. Tuan muda yang ilmu silatnya tinggi ini juga belum menyambutku. Bahkan dia membunuh anak kesayangan guruku, tapi tak dianggap kurang sopan".


* * *