Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 28



"Tian Boguang terkejut, pedang patah yang ada di tangannya jatuh ke tanah. Sayang tikaman Linghu Shixiong tidak mengenai bagian penting tubuhnya. Tian Boguang cepat-cepat melompat ke belakang, menghunus golok yang tergantung di pinggangnya dan membacok ke arah Linghu Shixiong. Dengan suara berdentang, golok dan pedang beradu dan mereka mulai berkelahi. Mereka berdua tak bisa saling melihat, terdengar suara berdentang beberapa kali, setelah bertukar beberapa jurus, mereka berdua melompat mundur. Aku hanya bisa mendengar suara napas mereka, aku sangat ketakutan".


Pendeta Tianmen menyela dan bertanya, "Linghu Chong bertarung dengannya berapa ronde?"


Yilin berkata, "Waktu itu murid begitu ketakutan sehingga bingung, tidak tahu berapa lama mereka bertarung. Aku hanya mendengar Tian Boguang berkata, 'Aha, kau dari Huashan Pai! Ilmu pedang Huashan bukan tandinganku. Siapa namamu?' Linghu Shixiong berkata, 'Wuyue Jianpai, satu akar banyak cabangnya, Huashan Pai atau Hengshan Pai sama saja, semua adalah musuhmu, maling cabul......' Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, Tian Boguang sudah menyerang lagi, rupanya dia mau memancing Linghu Shixiong berbicara, supaya ia tahu dimana ia berada. Kedua orang itu bertarung lagi beberapa ronde. Linghu Shixiong berteriak, 'Ah!', rupanya ia terluka lagi. Tian Boguang tertawa, 'Aku sudah bilang tadi bahwa ilmu pedang Huashan bukan tandinganku, kalau gurumu si tua Yue datang sendiri ia juga tak bisa melawan aku'. Tapi Linghu Shixiong tidak memperdulikan dia".


"Sebelumnya, ketika bahuku amat sakit, ternyata titik di bahuku terbuka. Saat itu titik di punggungku juga terasa sakit. Aku merangkak sambil meraba-raba tanah untuk mencari pedang yang patah. Ketika mendengar suaranya, Linghu Shixiong berkata dengan gembira, 'Jalan darahmu telah terbuka, cepat lari, cepat lari'. Aku berkata, 'Kakak dari Huashan Pai, mari menempur penjahat ini bersama-sama!' Linghu Shixiong berkata, 'Kau cepat pergi! Walaupun kita berdua bergabung, kita masih tak bisa melawan dia'. Tian Boguang tertawa, 'Bagus kalau kau tahu itu! Kenapa harus sia-sia mengantar nyawa? Hei, aku kagum pada pahlawan sepertimu, siapa namamu?' Linghu Shixiong berkata, 'Kau menanyakan namaku yang mulia, tadinya aku mau memberitahumu, memangnya kenapa? Tapi karena kau bertanya dengan kurang ajar, bapakmu ini tidak akan memperdulikanmu'. Shifu dia bicaranya lucu tidak? Linghu Shixiong bukan ayahnya, tapi menyebut dirinya 'bapakmu' ".


Dingyi mendengus, 'Itu cuma omongan kasar, dia bukan benar-benar 'bapaknya' ".


Yilin berkata, "Oh, rupanya begitu. Linghu Shixiong berkata, 'Shimei, kau cepat pergi ke kota Heng Shan, banyak teman-teman kita ada disana, aku rasa si maling cabul ini tak akan berani mencarimu di Kota Heng Shan'. Aku berkata, 'Kalau aku pergi, bagaimana kalau dia membunuhmu?' Linghu Shixiong berkata, 'Dia tak bisa membunuhku! Aku akan membuat dia repot, kau cepat lari! Aiyo!' Terdengar suara berdentang dua kali, pedang dan golok mereka berdua beradu, Linghu Shixiong lagi-lagi terluka. Ia marah dan berteriak, 'Kalau kau tak pergi, akan kumaki kau!' Saat itu aku telah berhasil menemukan pedang patah yang tergeletak di tanah, aku berseru, 'Ayo menempur dia dua lawan satu'. Tian Boguang tertawa, 'Bagus! Tian Boguang sendirian dengan sebatang golok melawan Huashan Pai dan Heng Shan Pai sekaligus' ".


"Linghu Shixiong benar-benar memaki-maki aku, ia berseru, 'Biksuni kecil yang tak tahu apa-apa, kau ini benar-benar bodoh, masih belum kabur juga! Kalau kau belum lari, kalau aku bertemu kau lagi, kutampar kau!' Tian Boguang tertawa, 'Biksuni kecil ini enggan berpisah denganku, dia tak mau pergi!' Linghu Shixiong marah dan berteriak, 'Kau mau pergi tidak?' Aku berkata, 'Tidak!' Linghu Shixiong berkata, 'Kalau kau tak mau pergi, aku akan maki-maki gurumu! Dingjing biksuni bangkotan pikun, coba lihat muridmu yang linglung ini!' Aku berkata, 'Dingjing Shishu bukan shifuku'. Dia berkata, 'Baik, kalau begitu aku akan memaki Biksuni Dingxian!' Aku berkata, 'Biksuni Dingxian juga bukan shifuku!' Dia berkata, 'Bah! Kau masih belum pergi juga! Aku akan memaki Dingyi si tua pikun......'"


Air muka Dingyi berubah masam, wajahnya nampak sangat kesal.


Yilin cepat-cepat berkata, "Shifu, kau jangan marah. Linghu Shixiong bermaksud baik terhadap aku, sama sekali bukan benar-benar ingin memakimu. Aku berkata, 'Aku sendiri yang linglung, bukan karena ajaran shifu!' Tiba-tiba Tian Boguang mengambil kesempatan untuk menyerang ke arahku, ia menjulurkan jari untuk menotokku. Dalam kegelapan aku mengayunkan pedang sembarangan dan memaksa dia mundur".


"Linghu Shixiong berkata, 'Aku punya banyak kata-kata kotor yang akan kupakai untuk memaki shifumu, kau takut tidak?' Aku berkata, 'Kau tak usah memaki, kita lari bersama saja!' Linghu Shixiong berkata, 'Kalau kau bersamaku, kau cuma akan menjadi batu sandungan, aku tak bisa mengeluarkan ilmu pedang Huashan Paiku yang lihai, kalau kau pergi, aku bisa bunuh penjahat ini'. Tian Boguang tertawa terbahak-bahak, 'Kau begitu sayang dan setia pada biksuni kecil ini, sayang dia masih tak tahu namamu'. Aku pikir kata-kata penjahat ini benar juga, maka aku berkata, 'Kakak dari Huashan Pai, siapa namamu? Aku akan pergi ke Heng Shan dan memberitahu shifu nama orang yang menyelamatkan nyawaku'. Linghu Shixiong berkata, 'Cepat pergi, cepat pergi! Kenapa kau begitu cerewet? Aku si tua ini marga Lao, namaku Lao Denuo!"


Ketika Lao Denuo mendengar sampai disini, mau tak mau ia tertegun, "Kenapa da shige mengaku-aku sebagai aku?"


Tuan Wen berkata, "Linghu Chong ini menggunakan namamu demi kebaikan, ini adalah ciri khas ksatria kita".


Liu Zhengfeng tersenyum kecil, "Dingyi Shitai, Linghu Chong memakai nama adik seperguruannya Lao Denuo, ada alasannya. Keponakan Lao ini sudah berilmu ketika masuk perguruan, walaupun kedudukannya lebih rendah, namun usianya tidak muda lagi, janggutnya sudah begitu panjang, pantas untuk menjadi kakek Keponakan Yilin".


Dingyi pun sadar bahwa Linghu Chong berusaha untuk melindungi kehormatan Yilin. Saat itu di dalam gua gelap gulita, mereka saling tak bisa melihat. Setelah Yilin bisa membebaskan diri, kalau dikatakan bahwa yang menolongnya adalah Lao Denuo dari Huashan Pai, seorang tua yang sudah kakek-kakek, orang lain tak akan menyebarkan desas-desus. Hal ini tak hanya melindungi nama baik Yilin yang suci bersih, namun juga melindungi nama baik Hengshan Pai. Ketika ia berpikir tentang hal ini, mau tak mau senyum tipis terkembang di wajahnya, ia mengangguk, "Bagus sekali, anak muda ini bijaksana. Yilin, apa yang terjadi setelah itu?"


"Saat itu aku belum pergi juga, aku berkata, 'Lao Shixiong, kau menempuh bahaya untuk menolongku, bagaimana aku bisa meninggalkan kau dalam keadaan bahaya? Kalau shifu tahu aku tak punya rasa setia kawan seperti ini, ia pasti akan membunuhku. Shifu selalu mengajarkan, walaupun Hengshan Pai kita anggotanya wanita semua, dalam hal setia kawan ini kami tak boleh kalah dari lelaki'".


Dingyi bertepuk tangan sambil berseru, "Bagus, bagus, perkataanmu itu benar! Kita orang yang belajar ilmu silat, kalau tak membela keadilan di dunia persilatan, lebih baik mati daripada hidup, lelaki atau perempuan sama saja".


Semua orang melihat bahwa ketika mengucapkan perkataan itu, wajahnya nampak gagah berani, semua berkata, "Biksuni tua ini pemberani, benar-benar tak kalah dengan lelaki".


Yilin meneruskan berbicara, "Tapi Linghu Shixiong masih memaki-maki, katanya, 'Biksuni kecil keparat, kau bawel sekali, sehingga aku tak bisa mengeluarkan ilmu silat Huashan Pai yang tak ada tandingannya di kolong langit. Nyawaku yang tua ini ditakdirkan untuk melayang di tangan Tian Boguang. Ternyata kau bersekongkol dengan Tian Boguang, sengaja menjebak aku. Hari ini aku Lao Denuo bernasib buruk, begitu keluar rumah bertemu dengan seorang biksuni yang tak akan punya anak cucu. Biksuni kecil keparat yang terkutuk delapan belas turunan, kau menyia-siakan ilmu pedang bapakmu yang tak terkalahkan ini, ilmu pedang yang sangat kuat dan lihai. Tapi aku khawatir kalau angin dari pedangku yang cepat dan ganas ini mengenai tubuhmu, akan membunuhmu si biksuni kecil, karena itu aku tak bisa mengeluarkan ilmuku ini. Ya sudah, ya sudah, Tian Boguang, kau bacok aku sampai mati saja, aku si tua ini sudah hidup tujuh atau delapan puluh tahun, sudah cukup, hari ini aku akan menerima takdirku!'


Ketika semua orang mendengar suara Yilin yang merdu dan lembut menirukan perkataan kasar Linghu Chong, mereka tak bisa menahan senyum.


Terdengar ia berkata lagi, "Setelah aku mendengar dia berkata begitu, walaupun aku tahu dia cuma pura-pura memaki aku, aku pikir ilmu silatku memang rendah dan tak mampu membantunya, di gua itu aku benar-benar cuma jadi batu sandungan, sehingga membuat dia tak bisa mengeluarkan ilmu pedangnya yang luar biasa......"


Dingyi mendengus, "Bocah ini cuma membual saja! Ilmu pedang Huashan Pai biasa-biasa saja, bagaimana bisa dikatakan tak ada tandingannya di kolong langit?"


Yilin berkata, "Shifu, dia cuma mau menakut-nakuti Tian Boguang saja supaya dia mundur. Aku dengar makiannya makin lama makin gencar, maka aku berkata, 'Lao Shixiong, aku pergi dulu! Aku sangat berterima kasih, sampai bertemu di lain hari'. Dia memaki, 'Pergi sana, telur busuk sialan, lebih jauh lebih baik! Begitu lihat biksuni, pasti kalah judi. Aku si tua dari dahulu sampai sekarang belum pernah melihatmu, setelah ini selamanya aku juga tak mau melihatmu lagi. Si tua ini seumur hidup paling suka judi, buat apa melihatmu?' "