Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 23



Dingyi berseru, "Baiklah, aku akan beri ampun". Tangan kanannya diangkat, lalu menyapu melintang.


Lao Denuo dan Liang Fa hanya merasakan angin kencang datang menyapu hingga mereka tak bisa menarik napas, lalu tubuh mereka terlempar ke belakang. Punggung Lao Denuo menabrak daun pintu sebuah toko yang berada di seberang kedai teh, "Brak!", daun pintu itu patah menjadi dua, Liang Fa melayang ke arah pikulan penjual pangsit.


Tak lama kemudian ia menubruk pikulan penjual pangsit itu hingga terguling, kalau air mendidih di dalam panci menyiram tubuhnya, tentunya ia akan terluka parah. Namun orang tua penjual pangsit menjulurkan tangan kirinya untuk meyokong punggung Liang Fa sehingga Liang Fa langsung bisa berdiri dengan tegak.


Dingyi Shitai berpaling, ia menatap orang tua penjual pangsit itu dan berkata, "Ternyata kau!" Orang tua itu tersenyum, "Benar, ini aku! Shitai, kau terlalu cepat naik darah". Dingyi berkata, "Memangnya kenapa?"


Saat itu, di sudut jalan ada dua orang yang membawa payung dari kertas yang diminyaki dan membawa lentera, mereka berjalan dengan cepat menuju ke arah kedai teh sambil berseru, "Apakah beliau ini biksuni Hengshan Pai yang suci?"


Dingyi berkata, "Aku tak berani menerima pujian itu. Dingyi dari Hengshan ada disini. Tuan siapa?"


Kedua orang itu berlari mendekat, nampak bahwa di lentera yang mereka bawa tertulis dua huruf merah yaitu 'Wisma Liu'. Orang yang paling depan berkata, "Wanbei[6] menerima perintah guru untuk mengundang Dingyi Shishu dan para murid untuk makan malam di rumah kami yang sederhana. Wanbei belum mendapat berita tentang kedatangan para murid Hengshan, sehingga tidak sempat menyambut di pintu gerbang kota. Mohon maaf, mohon maaf!" Sambil berbicara mereka menyoja memberi hormat.


Dingyi berkata, "Tak usah banyak peradatan. Apakah kalian berdua murid Tuan Ketiga Liu?" Orang itu berkata, "Ya. Wanbei Xiang Danian, ini adik seperguruan wanbei Mi Weiyi, hormat kami pada shishu". Sambil berbicara ia bersama Mi Weiyi berdua memberi hormat dengan sungguh-sungguh. Ketika Dingyi melihat betapa sungguh-sungguhnya mereka memberi hormat, wajahnya langsung menjadi adem, katanya, "Baiklah, kami memang sedang akan pergi ke rumah kalian untuk mengunjungi Tuan Ketiga Liu".


Xiang Danian berkata pada Liang Fa dan kawan-kawan, "Dan anda sekalian adalah?" Liang Fa berkata, "Caixia Liang Fa dari Huashan". Xiang Danian berkata dengan gembira, "Rupanya Kakak Ketiga Liang Fa dari Huashan Pai, sudah lama aku mengagumi nama besar anda. Mohon kalian semua bersama-sama pergi ke rumah kami yang sederhana. Shifu kami menyuruh kami untuk menyambut para pahlawan dan orang gagah dari berbagai perguruan. Karena banyak orang yang datang, kami menjadi sangat lalai, sehingga menyinggung teman-teman. Kalian semua, mohon ikuti kami".


Lao Denuo mendekati mereka dan berkata, "Kami bermaksud menunggu da shige datang, lalu pergi ke rumah Tuan Ketiga Liu untuk mengucapkan selamat". Xiang Danian berkata, "Sepertinya anda adalah kakak kedua. Shifu kami sering memuji para saudara seperguruan murid Yue Shishu dari Huashan Pai sebagai pahlawan. Linghu Shixiong adalah seorang pendekar yang menonjol. Karena Linghu Shixiong belum datang, lebih baik kalian pergi dahulu". Lao Denuo berpikir, "Xiao shimei ditangkap oleh Dingyi Shishu, dan nampaknya ia tidak mau melepaskannya sehingga kami terpaksa menemaninya". Ia berkata, "Maaf kami telah merepotkan kalian". Xiang Danian berkata, "Kalian semua sudah bersusah payah datang ke Heng Shan, kalian sudah membuat muka kami gilang gemilang, untuk apa harus sungkan-sungkan? Silahkan ikut kami! Silahkan ikut kami!".


Dingyi menunjuk si penjual pangsit, "Apa dia juga diundang?"


Xiang Danian melirik ke arah orang tua itu, tiba-tiba ia sadar lalu menyoja, "Rupanya Paman He dari Yandangshan sudah tiba, kami benar-benar kurang sopan. Mohon Paman He sudi mengunjungi rumah kami yang sederhana". Ia menerka bahwa orang tua penjual pangsit ini adalah He Sanqi, seorang jago dari Yandangshan di Zhejiang. Sejak kecil, orang ini mencari makan dengan berjualan pangsit. Setelah belajar ilmu silat, ia masih memikul pikulannya, berjualan pangsit sambil mengembara di dunia persilatan, pikulan pangsit itu adalah ciri khasnya. Walaupun ilmu silatnya tinggi, namun ia tak mencari kekayaan maupun kemasyuran, ia tetap mencari makan dari pekerjaannya aslinya yang sederhana. Semua orang dunia persilatan sangat menghormatinya. Di berbagai pasar dan lorong di kolong langit ini, ada berjuta penjual pangsit, namun penjual pangsit yang sekaligus jago dunia persilatan hanyalah He Sanqi seorang.


He Sanqi tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Merepotkan saja. Aku akan bereskan mangkuk pangsit yang ada di meja dulu". Lao Denuo berkata, "Wanbei punya mata tapi tak melihat Taishan, mohon maaf pada qianbei". He Sanqi tersenyum, "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kalian membeli pangsitku yang kupakai untuk memberi makan anak istri, kenapa aku harus marah? Delapan mangkuk pangsit, satu mangkuk sepuluh kepeng, semuanya delapan puluh kepeng". Sambil berbicara ia menjulurkan telapak tangan kirinya.


Xiang Danian berkata pada pelayan kedai teh, "Uang tehnya dihitung nanti saja, semua masukkan ke bon Tuan Ketiga Liu". Si pelayan kedai teh tersenyum, "Ha, rupanya tamu-tamu Tuan Ketiga Liu, ha, kami belum sempat mengundang kalian. Ha, ni jia masih mau memperhitungkan uang teh?"


* * *


Xiang Danian mengambil payung dan memberikannya kepada masing-masing tamu, lalu memimpin rombongan di depan. Dingyi menyeret Lingshan, gadis dari Huashan Pai itu, ia berjalan berendeng dengan He Sanqi. Murid-murid Hengshan dan Huashan Pai mengikuti di belakang mereka.


Lin Pingzhi berpikir, "Lebih baik aku mengikuti mereka dari jauh, siapa tahu aku bisa menyelinap ke dalam rumah Liu Zhengfeng". Rombongan itu nampak berbelok di sudut jalan, ia pun segera melangkah menuju sudut jalan. Ia melihat rombongan itu berjalan ke arah utara, ia mengikuti mereka di tengah hujan deras dengan berjalan di bawah cucuran atap. Setelah melewati tiga jalan panjang, ia melihat bahwa di sebelah kiri nampak sebuah gedung besar. Pintu gerbangnya diterangi empat lentera besar. Sepuluh orang lebih berdiri di depan, ada yang membawa obor dan ada juga yang membawa payung, semuanya sibuk menyambut para tamu. Setelah Dingyi, He Sanqi dan yang lain-lain masuk, juga banyak tamu yang datang dari jalan.


Lin Pingzhi memberanikan diri dan melangkah menuju ke mulut gerbang. Saat itu sedang ada dua rombongan orang dunia persilatan yang dipimpin murid-murid Liu memasuki gerbang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lin Pingzhi ikut mereka masuk. Para penyambut tamu hanya tahu bahwa dia adalah salah satu tamu yang datang memberi selamat, sambil tersenyum ramah, mereka berkata, "Silahkan masuk untuk minum teh".


Ketika memasuki aula utama, ia mendengar suara ribut, lebih dari dua ratus orang duduk di dalamnya, saling mengobrol dan tertawa. Lin Pingzhi merasa tenang, pikirnya, "Disini begitu banyak orang, siapa yang akan memperhatikan aku, aku tinggal mencari murid-murid Qingcheng Pai yang jahat itu, supaya bisa mengetahui dimana ayah dan ibu berada". Di sudut aula yang gelap, ia duduk di samping sebuah meja kecil, tak lama kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan teh hijau, makanan kecil dan handuk panas.


Ia memandang ke sekelilingnya, ia melihat murid-murid Hengshan duduk mengelilingi sebuah meja di sebelah kiri, sedangkan murid-murid Huashan duduk mengelilingi sebuah meja lain di sisinya, si gadis Lingshan juga duduk disitu, rupanya Dingyi telah membebaskannya. Tapi Dingyi dan He Sanqi tidak nampak di dalam. Lin Pingzhi mengawasi setiap meja, tiba-tiba hatinya terguncang, darah panas bergolak di dadanya, ia melihat Fang Renzhi, Yu Renhao dan serombongan orang duduk mengelilingi dua buah meja, jelas-jelas mereka adalah murid-murid Qingcheng Pai. Tapi ayah ibunya tidak berada diantara mereka, entah mereka ditahan dimana.


Lin Pingzhi merasa sedih sekaligus marah, dan juga sangat cemas, ia khawatir ayah ibunya telah dibunuh. Ia ingin duduk di meja yang bertetangga, agar bisa mencuri dengar percakapan mereka. Tapi ia mengurungkan niatnya dan berpikir lagi bahwa ia lebih baik bercampur baur dengan tamu-tamu lain. Kalau ia berbuat gegabah dan ditemukan oleh Fang Renzhi dan kawan-kawannya, tidak hanya semua usahanya selama ini akan sia-sia, namun ia juga bisa terbunuh.


Pada saat itu, tiba-tiba timbul keributan di mulut pintu, beberapa lelaki berbaju hijau mengusung dua buah daun pintu dan cepat-cepat masuk. Di atas daun pintu tergeletak dua orang, tubuh mereka diselimuti kain putih yang penuh darah segar. Begitu semua orang di aula itu melihatnya, mereka langsung menghampiri untuk melihat lebih jelas. Terdengar seseorang berkata, "Ini orang Taishan Pai!" "Pendeta Tiansong dari Taishan Pai terluka parah, tapi yang satu ini siapa?" "Ini murid ketua Taishan Pai, Pendeta Tianmen, marganya Chi, apa dia sudah mati?" "Sudah mati, kau lihat golok ini menembus dari dada sampai ke punggung, bagaimana ia bisa tidak mati?"


Di tengah suara keributan yang ditimbulkan semua orang itu, kedua orang itu, yang seorang mati dan yang seorang lagi terluka, diusung ke belakang aula, diikuti oleh banyak orang. Semua orang di aula itu saling berkomentar, "Pendeta Tiansong adalah seorang jago Taishan Pai, entah siapa yang berani menusuk dia sampai luka parah seperti ini?" "Kalau bisa menusuk Pendeta Tiansong sampai luka seperti ini, pasti ia adalah seorang jago yang ilmu silatnya lebih tinggi. Orang yang ilmunya tinggi tentu berani, apa anehnya".


Di tengah berbagai komentar yang dilontarkan orang-orang dalam aula besar itu, Xiang Danian buru-buru masuk dan mendatangi tempat dimana para murid Huashan duduk mengelilingi meja, ia berkata pada Lao Denuo, "Kakak Lao, guruku ingin bicara denganmu". Lao Denuo menjawab, "Baik!" Ia bangkit berdiri, mengikutinya masuk ke ruangan dalam, lalu melewati sebuah lorong panjang sampai ke ruang tamu.


* * *