
Ketika semua orang mendengarnya, mereka terkejut. Begitu Pendeta Tianmen mendengar bahwa Linghu Chong sudah mati, amarahnya pun langsung reda, ia bertanya, "Bagaimana dia bisa mati? Siapa yang membunuhnya?"
Yilin berkata, "Ia adalah......orang jahat.....orang jahat dari Qingcheng Pai". Ia menunjuk ke arah mayat Luo Renjie.
Yu Canghai mau tak mau merasa bangga, ia berkata dalam hati, "Ternyata bajingan Linghu Chong itu dibunuh oleh Luo Renjie. Boleh dibilang mereka bertarung sampai mati. Bagus. Si bocah Luo Renjie itu, dari dahulu aku sudah tahu bahwa dia punya keberanian, benar-benar tidak membuat malu nama Qingcheng Pai kita". Ia menatap Yilin, lalu tertawa sinis, "Jadi anggota Wuyue Pai semua orang baik, sedangkan anggota Qingcheng Pai kami semua orang jahat?"
Yilin berkata sambil menangis, "Aku......aku tak tahu. Aku bukan berbicara tentang Yu Shishu, hanya berbicara tentang dia". Sembari berbicara ia lagi-lagi menunjuk ke arah mayat Luo Renjie.
Dingyi berkata kepada Yu Canghai, "Untuk apa kau menakut-nakuti anak kecil? Yilin, tak usah takut. Kenapa orang ini jahat? Ceritakanlah semuanya. Shifu ada disini, siapa yang berani membuatmu susah?" Sambil berbicara ia menatap Yu Canghai.
Yu Canghai berkata, "Orang yang hidup membiara tidak boleh berdusta. Biksuni kecil, apa kau berani bersumpah atas nama Bodhisatwa Guanyin?" Ia khawatir Yilin telah menerima hasutan gurunya, sehingga ia akan mengatakan bahwa perbuatan Luo Renjie sangat buruk. Karena muridnya ini sudah mati dalam pertarungan mati-matian dengan Linghu Chong dan tewas tanpa ada saksi lain, maka hanya akan ada kesaksian Yilin semata.
* * *
Yilin berkata, "Aku sudah pasti tak berani berdusta kepada shifu". Setelah itu ia bersujud ke arah luar dan menangkupkan tangannya, lalu berkata sambil menunduk, "Murid Yilin melapor kepada shifu dan shishu sekalian, aku sama sekali tidak berani mengatakan satu katapun yang tidak benar. Bodhisatwa Guanyin yang mahakuasa akan menjadi saksi perkataanku".
Semua mendengar bahwa ia mengatakan hal itu dengan tulus, ditambah lagi dengan penampilannya yang halus dan menawan, maka mereka mempunyai pandangan yang baik terhadapnya. Saat itu, seorang sastrawan berjanggut hitam yang sejak tadi mendengarkan di sisinya tanpa mengatakan sepatah kata pun, menyela, "Karena xiao shifu sudah bersumpah seperti ini, tentunya bisa dipercaya oleh siapa pun". Dingyi berkata, "Hidung kerbau, sudah dengar belum? Tuan Wen saja sudah berkata begini, apakah dia masih bisa berbohong?" Ia tahu bahwa sastrawan berjanggut hitam ini bermarga Wen, semua orang memanggilnya Tuan Wen, namun ia tak tahu nama kecilnya. Ia hanya tahu bahwa ia orang Shanxi selatan, keahliannya menggunakan sepasang kuas tulis sudah mencapai kesempurnaan, dan ia juga ahli menotok jalan darah.
Mata semua orang menatap wajah Yilin, akan tetapi melihat wajahnya yang cantik dan bercahaya bagai permata atau batu kumala yang indah, suci murni dan sempurna, bahkan Yu Canghai juga berpikir, "Sepertinya biksuni kecil ini tidak bisa berbohong". Seluruh ruang tamu itu sunyi senyap, menunggu Yilin mulai berbicara.
* * *
Terdengar ia berkata, "Kemarin siang, aku mengikuti shifu dan saudari-saudari seperguruan lain ke Hengyang, setelah setengah jalan, turun hujan. Ketika turun gunung, aku terpeleset. Aku berpegangan pada tebing gunung hingga tanganku penuh lumpur dan lumut. Setelah tiba di kaki gunung, aku pergi ke sebuah kali untuk mencuci tangan. Tiba-tiba, di sisi bayanganku di air kali muncul bayangan seorang lelaki. Aku kaget dan cepat-cepat berdiri, namun punggungku terasa sakit, ternyata telah kena ditotok olehnya. Aku sangat takut dan hendak berteriak memanggil shifu untuk menyelamatkanku, tapi aku sudah tak bisa bersuara. Orang itu mengangkatku, setelah berjalan beberapa zhang, ia melepaskanku di sebuah gua. Aku sangat takut, namun aku sama sekali tak bisa bergerak dan tak bisa bersuara. Setelah beberapa saat, aku mendengar tiga shizi[9] yang memanggilku dari tiga tempat yang berbeda, 'Yilin, Yilin, kau ada dimana?' Orang itu cuma tertawa, lalu berbisik, 'Kalaupun mereka bisa mencari sampai kesini, aku bisa menangkap mereka semua!' Setelah ketiga shizi itu mencari-cari selama beberapa saat, mereka pergi ke arah lain.
Setelah agak lama, orang itu mendengar bahwa ketiga shizi itu sudah pergi jauh, lalu ia membuka jalan darahku yang tertotok. Aku langsung berlari keluar gua, tapi orang itu gerakannya jauh lebih cepat dariku. Aku cepat-cepat melangkah keluar, namun tak nyana ia sudah menghadang di mulut gua. Aku memukul dadanya, namun orang itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, 'Kau mau lari, ya?' Aku cepat-cepat melompat kebelakang dan menghunus pedang untuk menusuk dia. Tapi aku berpikir bahwa orang ini tidak melukaiku, orang yang hidup membiara harus bersikap welas asih, untuk apa melukai dia? Bagi kami umat Buddha, membunuh orang adalah larangan utama, oleh karena itu, aku tidak jadi menikam. Aku berkata, 'Untuk apa kau menahan aku? Kalau kau tak melepaskan aku, aku......aku akan menusukmu dengan pedang ini' ".
Dingyi berkata dengan lantang, "Ngawur! Omongan gila seperti itu juga kau ingat-ingat".
Semua orang hampir tak bisa menahan tawa, tapi karena Dingyi Shitai ada di tempat itu, tak ada yang berani tersenyum sedikitpun. Semuanya berusaha untuk tetap kelihatan serius.
Yilin berkata, "Dia memang berkata begitu". Dingyi berkata, "Baiklah. Omongan gila seperti itu tidak ada artinya, tidak usah disinggung-singgung, kau cukup menceritakan tentang bagaimana kau bertemu dengan Linghu Chong dari Huashan Pai saja".
Yilin berkata, "Baik. Orang itu juga berbicara macam-macam, dan tak mengizinkan aku keluar, katanya aku......aku cantik, ia ingin aku menemaninya tidur......" Dingyi berkata dengan lantang, "Berhenti bicara! Anak kecil bicaranya sembarangan, masa perkataan seperti itu juga kau sampaikan?" Yilin berkata, "Dia yang bicara begitu. Aku tak bisa menurutinya, dan juga tidak menemani dia tidur......" Dingyi berkata dengan suara yang lebih keras lagi, "Tutup mulut!"
Pada saat itu, murid Qingcheng Pai yang mengusung masuk mayat Luo Renjie tak bisa menahan diri lagi, akhirnya ia kelepasan tertawa. Dingyi merasa gusar, ia mengambil beberapa cawan teh dan melemparkannya ke arah orang itu. Ketika melemparkan cawan teh itu, ia memakai ilmu tenaga dalam simpanan Hengshan Pai, hingga lemparannya kuat dan tepat. Murid Qingcheng itu tak sempat menghindar, secawan teh panas itu menyiram wajahnya hingga ia berteriak kesakitan.
Yu Canghai berkata dengan marah, "Muridmu yang bicara, tapi muridku tidak boleh tertawa? Keterlaluan!"
Dingyi berkata sambil melotot, "Dingyi dari Hengshan Pai memang sudah puluhan tahun keterlaluan, kau baru tahu sekarang, ya?" Sambil berbicara ia memungut cawan teh yang sudah kosong, ia hendak melemparkannya ke arah Yu Canghai. Yu Canghai memandang ke depan, tapi tidak memandang ke arahnya, ia malah membalikkan tubuhnya. Dingyi melihat wajahnya begitu percaya diri, dan juga tahu bahwa ilmu silat ketua Qingcheng Pai itu tinggi, maka ia tidak berani gegabah. Dengan perlahan, ia menaruh mangkuk itu dan berkata pada Yilin, "Teruskan ceritamu. Hal-hal yang tak penting tak usah kau ceritakan".
Yilin berkata, "Baik, shifu. Setiap kali aku ingin keluar gua, orang itu selalu menghalangiku. Aku melihat hari sudah gelap, hatiku sangat khawatir. Aku mengangkat pedang hendak menikam dia. Shifu, murid tidak berani melanggar pantangan membunuh, aku tidak benar-benar ingin membunuh dia, cuma ingin menakut-nakutinya. Aku memakai jurus 'Jarum Emas Menangkal Bahaya', tapi aku tak menduga bahwa tangan kirinya akan terangsur memegang......memegang tubuhku. Aku kaget dan cepat-cepat menghindar, namun pedang yang berada di tanganku diambil olehnya. Ilmu silat orang itu sangat lihai, tangan kanannya memegang gagang pedangku, ibu jari dan telunjuk tangan kirinya menjepit ujung pedang, lalu hanya dengan menekan sedikit, krek, ia memutuskan ujung pedangku itu sepanjang satu cun". Dingyi berkata, "Memutuskan ujung pedangmu sepanjang satu cun?" Yilin berkata, "Benar!"
Dingyi dan Pendeta Tianmen saling berpandangan, mereka berdua berpikir, "Kalau Tian Boguang mematahkan pedang dari tengahnya, itu sama sekali tidak ada anehnya. Tapi mematahkan ujung pedang yang terbuat dari baja murni sepanjang satu cun dengan kekuatan dua jari, itu berarti bahwa kekuatan jarinya benar-benar tak bisa disepelekan". Pendeta Tianmen menjulurkan tangannya dan mengambil sebilah pedang dari pinggang seorang murid, ibu jari dan telunjuk tangan kirinya menjepit ujung pedang, lalu menekan sedikit. "Krek!" Ujung pedang pun patah sepanjang sekitar satu cun. Ia bertanya, "Seperti ini?" Yilin berkata, "Betul. Ternyata shishu juga bisa!" Pendeta Tianmen mendengus, lalu memasukkan pedang yang patah ke dalam sarung pedang muridnya, tangan kirinya memukul meja beberapa kali, ujung pedang sepanjang satu cun yang patah nampak terbenam di permukaannya.
Yilin berkata dengan gembira, "Kungfu shishu bagus sekali, aku yakin si penjahat Tian Boguang itu tidak bisa melakukannya". Tiba-tiba air mukanya berubah menjadi gelap, ia menundukkan kepalanya dan menghela napas, "Ai, sayang saat itu shishu tidak ada disana, kalau tidak Linghu Shixiong tentu tidak terluka parah". Pendeta Tianmen berkata, "Apa maksudmu terluka parah? Katamu dia sudah mati?" Yilin berkata, "Betul. Karena ia terluka parah, ia jadi bisa dibunuh oleh penjahat Qingcheng Pai ini, Luo Renjie".
Ketika Yu Canghai mendengar Yilin menyebut Tian Boguang sebagai 'penjahat', dan juga menyebut muridnya sendiri sebagai 'penjahat', dan oleh karena itu jelas-jelas menempatkan murid-murid Qingcheng dalam satu golongan dengan maling cabul yang namanya busuk itu, mau tak mau ia mendengus.