
"Linghu Shixiong tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Kalau ada orang yang membantu aku, maka anggap saja aku kalah. Biksuni kecil, kau harap aku menang atau kalah dalam pertarungan ini?” Aku berkata, “Tentu saja berharap kau menang. Kalau kau bertarung sambil duduk, kau nomor dua di kolong langit, tentunya tak bisa kalah dari dia”. Linghu Shixiong berkata, “Baik, mohon supaya kau pergi! Lebih cepat lebih baik, makin jauh makin baik! Kalau aku melihat biksuni botak ini, Linghu Chong lebih baik tak usah bertarung dan langsung mengaku kalah saja”. Ia tak menunggu jawaban Tian Boguang, dengan suara berdesir, ia langsung menikam ke arahnya”.
“Tian Boguang mengayunkan goloknya untuk menangkis, ia tersenyum dan berkata, “Hebat sekali, hebat sekali! Sebuah siasat yang cemerlang untuk membantu biksuni kecil ini melarikan diri. Saudara Linghu, kau memang benar-benar seorang...seorang buaya darat. Tapi kali ini sangat berbahaya, kau salah perhitungan”. Saat itu aku baru sadar, ternyata Linghu Shixiong berkata bahwa siapa yang berdiri dulu dia yang kalah, adalah supaya aku punya kesempatan untuk melarikan diri. Tian Boguang tak bisa bangkit dari kursi, tentunya ia tak bisa menangkap aku”.
Ketika mendengar mengenai hal itu, semua orang mau tak mau memuji usaha mati-matian Linghu Chong itu. Karena ilmu silatnya lebih rendah dari Tian Boguang, diluar hal ini, tidak ada jalan lain untuk memberi kesempatan pada Yilin untuk melarikan diri.
Dingyi berkata, “Apa itu “buaya darat” segala macam, semua itu omongan kasar, setelah ini kau tak boleh mengatakannya lagi, dalam hati juga tak boleh kau pikirkan”. Yilin mengerutkan dahi dan memandang ke bawah, katanya, “Baik, ternyata semua itu omongan kasar, sekarang murid tahu”. Dingyi berkata, “Seharusnya kau langsung pergi, kalau Tian Boguang membunuh Linghu Chong, dia pasti akan mencelakaimu”.
Yilin berkata, “Ya. Linghu Shixiong terus menerus mendesakku, jadi aku cuma bisa menjura padanya dan berkata, “Banyak terima kasih atas budi Linghu Shixiong menolongku. Aku berhutang budi sangat besar pada Huashan Pai, seumur hidup Yilin tak akan melupakannya”. Aku berbalik dan turun dari loteng, ketika aku menuruni tangga, terdengar Tian Boguang berkata dengan lantang, “Kena kau!” Aku berpaling, dua tetes darah melayang ke arahku, menciprat di bajuku, ternyata bahu Linghu Shixiong telah kena sabetan golok”.
“Tian Boguang tertawa dan berkata, “Bagaimana? Ilmu pedang sambil dudukmu yang nomor dua di kolong langit ini, menurutku tak ada hebatnya!” Linghu Shixiong berkata, “Biksuni kecil itu masih belum pergi, bagaimana kau bisa menang melawanmu? Nasibku memang sial”. Aku pikir Linghu Shixiong memang benci pada biksuni, bila aku tetap tinggal, jangan-jangan ia akan benar-benar terbunuh, maka aku cepat-cepat turun dari loteng. Tapi ketika aku sampai di bawah kedai arak, aku mendengar suara golok dan pedang beradu tiada hentinya, Tian Boguang lagi-lagi berkata dengan lantang, “Kena kau!” “
"Aku sangat terkejut, aku menduga bahwa Linghu Shixiong telah kena sabetan golok lagi, tapi aku tak berani naik ke loteng lagi untuk melihat, maka aku memanjat dari samping loteng, ketika aku sampai di atap kedai arak, aku bertumpu pada genting dan mengintip ke dalam melalui jendela. Aku lihat Linghu Shixiong masih mengenggam pedang dan bertarung dengan sengit, sekujur tubuhnya berlumuran darah segar, namun Tian Boguang sama sekali tidak terluka".
"Setelah bertarung beberapa saat, Tian Boguang lagi-lagi berseru, 'Kena kau!' Ia membacok lengan kiri Linghu Shixiong, lalu menarik pulang goloknya sambil tersenyum, 'Saudara Linghu, kali ini aku masih bermurah hati!' Linghu Shixiong berkata, 'Tentu saja aku tahu, kalau kau membacok lebih dalam sedikit saja, lenganku ini pasti sudah terbacok putus olehmu!' Shifu, saat itu ia malah tertawa. Tian Boguang berkata, 'Kau masih mau berkelahi atau tidak?' Linghu Shixiong berkata, 'Tentu saja! Aku masih belum berdiri kan?'. Tian Boguang berkata, 'Aku sarankan kau mengaku kalah saja, berdirilah. Persetujuan kita tadi, kita abaikan saja, kau tak usah mengangkat biksuni kecil itu sebagai guru'. Linghu Shixiong berkata, 'Begitu seorang lelaki sejati berjanji, kereta yang ditarik empat kuda pun tak bisa menarik kembali perkataannya. Perkataan yang sudah dikeluarkan, mana bisa diabaikan?' Tian Boguang berkata, 'Aku sudah banyak bertemu orang gagah di kolong langit ini, tapi orang seperti Saudara Linghu baru pertama kalinya kutemui hari ini. Bagus! Kita tak usah memperdulikan menang atau kalah, bagaimana kalau kita akhiri saja sampai disini?' "
"Linghu Shixiong menatapnya sambil menyengir, ia sama sekali tak bersuara, darah segar tak henti-hentinya menetes dari luka-luka di sekujur tubuhnya ke lantai kedai. Tian Boguang melemparkan goloknya ke lantai, ia baru saja akan berdiri, namun tiba-tiba terpikir olehnya bahwa yang berdiri akan dianggap kalah. Tubuhnya baru terangkat sedikit, lalu ia segera kembali duduk, boleh dibilang ia sama sekali tidak bangkit dari kursi. Linghu Shixiong berkata, 'Kakak Tian, kau memang sangat waspada!' "
"Ai!", ketika mendengar tentang hal itu, para hadirin mau tak mau berseru karena merasa iba pada Linghu Chong.
"Tian Boguang sangat puas, ia tersenyum dan berkata, 'Kalau bertarung sambil duduk kau nomor dua di kolong langit, kalau kau bertarung sambil merangkak, kau nomor berapa di kolong langit?' Sambil berbicara, ia berdiri".
"Linghu Shixiong tertawa terbahak-bahak dan berkata, 'Kau kalah!' Tian Boguang berkata, 'Kau sudah kalah dengan begitu telak, masih bisa bilang aku yang kalah?' Sambil menelungkup di lantai, Linghu Shixiong bertanya, 'Apa persetujuan kita sebelum ini?' Tian Boguang berkata, 'Kita setuju untuk bertarung sambil duduk, siapa yang lebih dahulu berdiri, pantatnya meninggalkan kursi......akan......akan......akan......' Setelah mengucapkan kata 'akan' tiga kali, ia tak bisa bicara lagi. Tangan kirinya menunjuk ke arah Linghu Shixiong. Rupanya saat itu ia baru sadar bahwa ia tertipu. Ia sudah berdiri, sedangkan Linghu Shixiong masih belum berdiri, pantatnya masih melekat pada kursi. Walaupun penampilannya menggelikan, namun sesuai dengan persetujuan sebelumnya, ialah yang menang".
Ketika mendengar hal ini, para hadirin mau tak mau bertepuk tangan sambil tertawa dan bersorak-sorai.
Hanya Yu Canghai yang mendehem dan berkata, "Bocah berandalan ini memakai tipuan kotor terhadap si maling cabul Tian Boguang, bukankah ini membuat malu semua perguruan aliran lurus yang terkemuka?" Dingyi berkata dengan gusar, "Tipuan kotor apa? Seorang lelaki sejati beradu kepintaran bukan beradu tenaga. Kenapa di Qingcheng Pai kalian tidak ada pahlawan muda yang berani dan adil seperti dia?" Setelah mendengar Yilin bercerita tentang bagaimana Linghu Chong mati-matian membela kehormatan Hengshan Pai, dalam hati ia merasa sangat berterima kasih. Kalau sebelumnya ia menyalahkan Linghu Chong, perasaan itu sekarang telah hilang di awang-awang. Yu Canghai mendengus dan berkata, "Seorang pahlawan muda yang merayap di tanah, hebat sekali!" Dingyi berkata dengan ketus, "Kalian Qingcheng Pai......"
Liu Zhengfeng khawatir kedua orang itu akan bertengkar lagi, maka ia cepat-cepat memotong perang mulut itu, ia bertanya pada Yilin, "Jadi Tian Boguang mengaku kalah atau tidak?"
Yilin berkata, "Tian Boguang berdiri sambil termenung-menung, untuk beberapa saat ia tak tahu harus berbuat apa. Linghu Shixiong berseru, "Adik dari Hengshan Pai, turunlah. Selamat atas murid yang baru kau terima ini!' Ternyata ketika aku mengintip dari genting, ia sudah tahu dari dahulu. Walaupun Tian Boguang seorang penjahat, tapi ia tidak mengingkari perkataannya, pada waktu itu ia bisa saja membunuh Linghu Shixiong, lalu membereskan aku, akan tetapi ia hanya berseru keras-keras, 'Biksuni kecil, dengarlah, lain kali kalau kau berani menemui aku, akan kubunuh kau dengan sekali sabet!' Dari dahulu aku tidak ingin menerima penjahat ini sebagai murid, aku sangat senang dia berkata seperti itu. Setelah itu, ia menyarungkan golok bergagang pendeknya, lalu bergegas turun dari loteng kedai arak. Aku melompat turun ke loteng, memapah Linghu Shixiong, lalu mengoleskan Perekat Tulang Harum Langit pada luka-lukanya. Kuhitung luka-lukanya, semuanya ternyata tidak kurang dari tiga belas buah......"
Tiba-tiba Yu Canghai menyela, "Dingyi Shitai, selamat, selamat!' Dingyi berkata sambil melotot, 'Selamat apanya?' Yu Canghai berkata, 'Selamat atas cucu murid yang baru kau terima, seorang murid yang ilmu silatnya sangat tinggi dan termasyur di kolong langit!' Dingyi murka. Ia mengebrak meja dan berdiri. Pendeta Tianmen berkata, "Ketua Yu, dalam hal ini kau salah. Kita pengikut Tao, bagaimana bisa membuat lelucon tolol seperti ini?' Yu Canghai memalingkan muka, pura-pura tak mendengar.
* * *