
Tak lama kemudian, semua orang di perusahaan itu telah tahu apa yang terjadi. Nyonya Lin dan Lin Pingzhi keluar dari rumah. Bisik-bisik yang mereka dengar dari mulut semua orang hanya enam kata yaitu 'keluar gerbang sepuluh langkah akan mati'. Lin Zhennan berkata, "Aku akan membawa pulang dua jenazah pengawal itu". Tuan Huang si pemegang buku berkata, "Ke......ketua......jangan pergi. Tersedia hadiah besar bagi lelaki pemberani. Siapa......siapa yang membawa pulang jenazah akan diberi hadiah tiga puluh tahil perak". Ia berkata tiga kali, namun tak seorang pun yang bersuara. Nyonya Lin tiba-tiba berseru, "Eh, Ping er dimana? Ping er, Ping er!" Panggilan terakhir itu penuh rasa takut. Semua orang ikut berteriak, "Tuan muda, tuan muda!"
Sekonyong-konyong terdengar suara Lin Pingzhi dari luar gerbang, "Aku disini!" Semua orang merasa lega dan berlari ke gerbang. Terlihat sosok Lin Pingzhi membelok di sudut jalan, sambil membopong jenazah di kedua bahunya. Mereka adalah kedua pengawal yang meninggal di jalan itu. Lin Zhennan dan Nyonya Lin berdua cepat-cepat menyambutnya sambil menghunus senjata. Mereka melewati garis darah, lalu melindungi Lin Pingzhi dari belakang.
Segenap pengawal dan pengiring serentak bersorak, "Tuan muda adalah pahlawan muda, pandai dan pemberani!"
Lin Zhennan dan Nyonya Lin merasa sangat bangga. Nyonya Lin mengomel, "Nak, kenapa kau melakukan tindakan gegabah seperti ini? Walaupun kedua pengawal ini adalah teman baik kita, tapi mereka sudah meninggal, tak perlu menempuh bahaya seperti ini".
Lin Pingzhi tersenyum, namun hatinya amat sedih, "Semua ini disebabkan karena waktu itu aku tak bisa menahan diri. Aku membunuh seseorang, dan oleh karena itu semua orang ini harus mati gara-gara aku. Kalau setelah ini aku cuma memikirkan diriku sendiri, apa gunanya jadi manusia?"
Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang gedung, "Pak Hua sehat walafiat kenapa tiba-tiba meninggal?"
Lin Zhennan meneriakkan sebuah pertanyaan, "Ada apa?" Wajah pengelola perusahaan pucat pasi, dengan ketakutan ia menghampiri, "Ketua, Pak Hua keluar dari gerbang belakang untuk beli sayur, namun meninggalnya di luar batas sepuluh langkah. Di pintu gerbang belakang juga ada......ada enam huruf berdarah". Pak Hua ini adalah tukang masak perusahaan, kungfu memasaknya benar-benar tidak jelek. Beberapa masakannya seperti sup labu putih, Buddha-melompati-tembok[24], ikan tim arak dan pangsit kulit babi terkenal di Fuzhou. Ia adalah modal nomor satu Lin Zhennan untuk mengambil hati pejabat dan pedagang kaya. Pikiran Lin Zhennan terguncang, ia berkata dalam hati, "Ia cuma koki biasa, bukan pengawal atau pengiring. Menurut peraturan dunia persilatan, pada saat menyerang iring-iringan pengawalan, kusir kereta, tukang tandu, pengurus keledai, kuli panggul, semuanya tidak boleh dibunuh. Musuh turun tangan dengan begitu kejam. Apa dia memang ingin memusnahkan seluruh keluarga besar Biro Pengawalan Fu Wei milikku ini?" Kepada semua orang ia berkata, "Kita jangan takut dan panik. Hah, bajingan tengik seperti ini selalu memanfaatkan kesempatan untuk turun tangan terhadap orang yang tidak siap membela diri. Kalian semua sudah melihat dengan mata kepala sendiri, baru saja tuan muda dan kami suami istri jelas-jelas keluar gerbang melewati batas sepuluh langkah, namun bajingan tengik itu berani berbuat apa?"
Semua orang mengangguk-angguk setuju, namun tak seorang pun berani keluar gerbang biar hanya selangkah. Lin Zhennan dan Nyonya Lin saling memandang sambil mengerutkan dahi, mereka tak tahu harus berbuat apa.
Malam itu Lin Zhennan mengatur jadwal ronda para pengawal, namun tak nyana, saat ia memeriksa mereka, ia melihat lebih dari sepuluh orang pengawal duduk melingkar di dalam aula, tak seorangpun berada di luar. Ketika para pengawal itu melihat sang ketua, mereka dengan malu-malu bangkit berdiri, namun tak seorang pun bergerak. Lin Zhennan berpikir bahwa musuh begitu kuat dan telah membunuh begitu banyak orang, dirinya sendiri sampai saat ini tak bisa menemukan jalan keluarnya, tak heran mereka semua begitu ketakutan. Sekarang ia berusaha menghibur mereka dengan sepatah dua kata, lalu ia menyuruh orang untuk membawa masuk makanan dan arak. Semua orang sedang khawatir, siapa pun tak ada yang ingin berbicara, hanya minum-minum saja. Tak lama kemudian beberapa orang mulai mabuk.
Keesokan harinya selepas siang, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda, ada beberapa penunggang kuda yang mencongklang keluar biro pengawalan. Lin Zhennan menyelidiki apa yang terjadi, ternyata mereka adalah lima pengawal yang tidak tahan dengan keadaan di perusahaan, lalu pergi tanpa berpamitan. Ia mengeleng sambil menghela nafas, "Saat bencana datang, masing-masing cari selamat sendiri-sendiri. Si marga Lin ini tak berdaya melindungi saudara semua, kalian yang ingin pergi silahkan pergi". Para pengawal yang tersisa tinggal tujuh atau delapan orang saja, mereka mencela lima orang itu sebagai orang yang tidak setia; namun ada beberapa orang yang diam tak bersuara, mereka hanya menghela nafas sambil diam-diam berpikir, "Kenapa aku tidak pergi?"
Menjelang senja, lima ekor kuda pulang membawa lima mayat. Kelima pengawal itu hendak menghindar dari bahaya, namun malah terlebih dahulu mengantar nyawa.
Lin Pingzhi tak bisa menahan amarah dan kesedihan yang bergejolak di hatinya, ia mengambil pedang dan lari keluar gerbang. Ia berdiri tiga langkah di luar garis darah, dengan suara lantang ia berkata, "Seorang lelaki sejati, berani berbuat berani menanggung akibatnya, orang Sichuan marga Yu itu aku Lin Pingzhi yang membunuhnya, sama sekali tak ada hubungannya dengan orang lain. Kalau mau balas dendam, silahkan balas dendam pada Lin Pingzhi, diris-iris pun aku akan mati tanpa penyesalan. Namun kalian terus membunuh orang baik-baik, orang gagah macam apa kalian itu? Aku Lin Pingzhi ada di sini, kalau ada urusan denganku ayo datang bunuh aku! Kalau tak berani kalian itu sejenis dengan bandit pengecut, haram jadah!" Makin lama berteriak, makin nyaring suaranya, ia membuka bajunya, mempertunjukkan dadanya dan menepuk-nepuknya sambil berseru, "Seorang lelaki sejati tak takut mati, tetap berani walaupun golok datang menebas, kenapa tak berani bertatap muka denganku? Anjing tak punya nyali, binatang rendah!"
Ketika mendengar suara teriakan putra mereka, Lin Zhennan dan istrinya berdua bergegas keluar gerbang. Kedua orang itu selama beberapa hari belakangan ini memendam amarah mereka dalam hati, dada mereka penuh rasa benci seakan hendak meledak. Ketika mendengar bagaimana Lin Pingzhi menantang musuh, mereka juga ikut memaki keras-keras.
Para pengawal saling memandang dengan putus asa, walaupun mereka mengagumi keberanian ketiga orang itu, masing-masing berpikir, "Ketua memang adalah seorang pahlawan, istrinya juga seorang pendekar wanita. Namun tuan muda yang seperti seorang nona besar, ternyata begitu berani memaki musuh seperti ini".
Lin Zhennan bertiga memaki-maki untuk beberapa saat, namun dari awal sampai akhir, di seluruh penjuru suasana sunyi senyap. Lin Pingzhi berseru, "Kata siapa kalau berjalan sepuluh langkah lantas mati, aku jelas-jelas sudah melangkah kemana-mana, coba lihat kalian bisa apa?" Sembari berteriak ia berjalan keluar beberapa langkah, menghunus pedang sambil berdiri tegak, lalu memandang ke empat penjuru dengan jumawa.
Nyonya Lin berkata, "Baiklah. Bajingan tengik itu hanya berani menganiaya orang lemah, menghadapi putraku saja tidak berani". Ia menarik tangan Lin Pingzhi, lalu masuk kembali lewat gerbang. Lin Pingzhi masih sangat marah sehingga seluruh tubuhnya gemetar, setelah masuk ke kamar tidurnya pun ia masih tak bisa menenangkan diri. Ia bersandar pada bangku panjang dan menangis keras-keras. Lin Zhennan mengelus-elus kepalanya seraya berkata, "Nak, nyalimu tidak kecil, kau patut disebut lelaki sejati dari keluarga Lin kita, kalau musuh tak berani menunjukkan mukanya, apa yang bisa kita perbuat? Kau tidur saja dulu".
Setelah menangis beberapa saat, dalam keadaan bingung ia pun tertidur. Setelah makan malam, ia mendengar ayah ibunya berbicara dengan suara pelan, bahwa ada beberapa pengawal yang mempunyai ide gila-gilaan, ingin menggali tanah di halaman belakang supaya bisa keluar, menghindari garis darah sepuluh langkah lalu melarikan diri. Kalau tidak, mereka akan terperangkap di biro pengawalan, siang malam mengantar nyawa. Nyonya Lin tertawa dingin, "Mereka ingin menggali tanah untuk meloloskan diri. Sayang......sayang......hah!" Ayah beranak Lin mengerti apa maksud perkataannya itu, yaitu bahwa mereka akan bernasib sama dengan kelima pengawal yang melarikan diri sebelumnya, mengantar nyawa sebelum waktunya dengan sia-sia. Lin Zhennan bergumam pada dirinya sendiri, lalu berkata, "Aku akan menyelidiki apakah jalan keluar ini bisa kita gunakan". Ia keluar untuk beberapa saat, setelah kembali ke kamar ia berkata, "Mereka ini cuma sesumbar saja, tapi tidak ada yang benar-benar berani mulai menggali tanah". Malam itu mereka bertiga tidur pagi-pagi. Semua orang di biro pengawalan itu sudah pasrah kepada nasib, tidak ada yang meronda dan berjaga lagi.
Lin Pingzhi tidur sampai tengah malam, tiba-tiba ia merasa ada orang yang menepuk bahunya, ia melompat bangkit, lalu mengambil pedang yang tersembunyi di balik bantal, namun ia mendengar ibunya berkata, "Ping er, ini aku. Ayahmu sudah lama keluar tapi belum kembali juga. Ayo kita cari dia". Lin Pingzhi terkejut, "Ayah pergi kemana?" Nyonya Lin berkata, "Tak tahu!"
Kedua orang itu keluar kamar dengan membawa senjata, lalu melihat keadaan dari luar aula. Di dalam aula nampak lentera dan lilin menyala terang benderang, beberapa pengawal sedang asyik berjudi. Beberapa hari belakangan ini mereka sangat tegang, mereka merasa tak perlu membuang tenaga lagi, lebih baik tidak usah memikirkan nasib mereka. Nyonya Lin memberi isyarat dengan tangannya, lalu berbalik dan pergi. Ibu dan anak itu mencari di mana-mana, namun sama sekali tak bisa menemukan jejak Lin Zhennan. Makin lama hati kedua orang itu makin khawatir, namun mereka tak berani menunjukannya. Suasana hati semua orang di biro pengawalan itu sangat cemas, kalau ada berita bahwa sang ketua hilang, tentunya keadaan akan jadi kacau balau. Mereka mencari sampai ke belakang, tiba-tiba Lin Pingzhi mendengar suara pelan dari gudang senjata di sebelah kiri, dari kisi-kisi jendela nampak sinar lampu menembus keluar. Ia berbalik menghampiri, lalu menjulurkan jari untuk menusuk kertas penutup jendela. Ia melihat ke dalam dan berkata dengan gembira, "Ayah, ternyata kau ada disini".
Lin Zhennan nampak sedang membungkuk, wajahnya menghadap dinding, ketika mendengar suara anaknya, ia memalingkan mukanya. Lin Pingzhi yang melihat ekspresi wajah ayahnya yang sangat ketakutan menjadi terguncang hatinya, air mukanya yang tadinya cerah seketika berubah menjadi serius, mulutnya ternganga, namun tak bisa mengeluarkan suara.
Nyonya Lin mendorong pintu kamar hingga terbuka, lalu bergegas masuk. Terlihat lantai ruangan penuh darah, ada tiga bangku panjang yang diatur sejajar, diatasnya terbaring seseorang, tubuhnya telanjang, dada dan perutnya telah diris-iris. Ketika melihat wajah mayat itu, ia mengenalinya sebagai Pengawal Huo. Siang hari sebelumnya, ia bersama empat pengawal lainnya melarikan diri dengan menunggang kuda, akan tetapi kuda-kuda itu lalu pulang membawa mayat mereka. Lin Pingzhi juga masuk ke dalam gudang senjata, lalu menutup pintu ruangan. Lin Zhennan mengambil jantung manusia yang masih berlumuran darah dari dada orang mati itu dan berkata, "Jantung ini hancur menjadi delapan atau sembilan keping, tentunya adalah......tentunya adalah......" Nyonya Lin menyela, "Tentunya adalah 'Tapak Penghancur Jantung' Perguruan Qingcheng!" Lin Zhennan mengangguk, tak kuasa berbicara.
* * *