Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 21



Lao Denuo berkata pula, "Malam itu, aku dan xiao shimei pergi ke Biro Pengawalan Fu Wei untuk melihat keadaan. Aku melihat Hou Renying, Hong Renxiong dan lebih dari sepuluh murid lainnya yang dipimpin Ketua Yu tiba. Kami khawatir ditemukan orang Qingcheng Pai, maka kami hanya melihat keramaian itu dari kejauhan. Kami menyaksikan bagaimana mereka membunuh satu demi satu pengawal dan pengiring di kantor itu. Mereka mengirim banyak pengawal keluar untuk minta bantuan, namun mereka semua juga dibunuh. Mayat-mayat satu demi satu dikirim pulang, mereka turun tangan dengan sangat ganas. Saat itu aku berpikir, leluhur Qingcheng Pai Zhang Qingzhi kalah dalam pertandingan dengan Lin Yuantu, kalau Ketua Yu ingin membalas dendam, ia hanya perlu bertanding melawan Lin Zhennan dan putranya, setelah mengalahkan mereka, masalah pun akan selesai. Kenapa harus turun tangan dengan begitu ganas? Tentunya untuk membalas dendam bagi Yu Renyan. Tapi mereka sengaja tidak membunuh suami istri Lin dan Lin Pingzhi bertiga, hanya memaksa mereka keluar dari kantor mereka. Begitu ketiga anggota keluarga Lin dan semua pengawal meninggalkan kantor, Ketua Yu segera masuk, dengan angkuh ia pergi ke aula utama dan duduk di kursi yang berada di tengah ruangan itu. Akhirnya Biro Pengawalan Fu Wei diduduki oleh Qingcheng Pai".


Lu Dayou berkata, "Kalau Qingcheng Pai ingin membuka biro pengawalan, Yu Canghai harus jadi ketuanya!" Semua orang tertawa terbahak-bahak.


Lao Denuo berkata, "Ketiga anggota keluarga Lin menyamar, namun Qingcheng Pai sudah tahu terlebih dahulu, Fang Renzhi, Yu Renhao dan Jia Renda diperintahkan untuk mencari dan menangkap mereka. Xiao shimei berkeras ingin ikut melihat keramaian, maka kami berdua mengikuti Fang Renzhi dan kawan-kawannya dari belakang. Setelah tiba di sebuah kedai nasi kecil di pegunungan di selatan kota Fuzhou, Fang Renzhi, Yu Renhao dan Jia Renda bertiga memperlihatkan diri mereka, lalu menangkap ketiga anggota keluarga Lin. Xiao shimei berkata, 'Tuan Muda Lin membunuh Yu Renyan demi aku, kita tak bisa membiarkannya mati tanpa menolongnya'. Aku berusaha sebisanya untuk mencegahnya, aku berkata kalau kita turun tangan, kita akan mencederai persahabatan diantara Qingcheng dan Huashan Pai. Lagipula, Ketua Yu ada di Fuzhou, kita berdua tak boleh berbuat onar".


Lu Dayou berkata, "Kakak kedua sudah cukup berumur, oleh karena itu tindakannya tenang dan hati-hati, bagaimana hal ini tidak membuat xiao shimei kecewa?"


Lao Denuo tersenyum, "Xiao shimei begitu bersemangat, kakak kedua tak bisa membuatnya kecewa kalaupun ia mau. Xiao shimei langsung pergi ke dapur, lalu mengebuk kepala Jia Renda sampai berdarah. Ia menangis seperti bayi, dan memancing Fang dan Yu berdua untuk datang. Xiao shimei memutar ke depan dan menolong Tuan Muda Lin, membebaskan dia supaya ia bisa melarikan diri".


Lu Dayou bertepuk tangan sambil berkata, "Hebat sekali, hebat sekali! Aku tahu, xiao shimei tidak cuma menyelamatkan pemuda marga Lin itu. Di dalam hatinya ia mempunyai maksud lain. Bagus, bagus!" Si gadis berkata, "Aku punya maksud lain apa? Kau bicara sembarangan". Lu Dayou berkata, "Karena aku dipukul shifu gara-gara Qingcheng Pai, dalam hati xiao shimei merasa marah, jadi ia memukuli orang-orang Qingcheng Pai untuk membalaskan dendam dan melampiaskan amarahku. Banyak terima kasih......" Sembari berbicara ia bangkit berdiri, lalu menjura dalam-dalam kepada si gadis. Si gadis tersenyum, lalu balas menjura, katanya, "Kakak Monyet Keenam, tak usah banyak peradatan".


Si pembawa sempoa tersenyum dan berkata, "Xiao shimei memukuli murid-murid Qingcheng memang untuk melampiaskan amarah orang. Tapi apakah demi kau, masih harus diteliti lagi. Yang dipukul shifu kan tidak cuma kau Monyet Keenam seorang". Lao Denuo tersenyum, "Kali ini adik keenam benar, xiao shimei mengebuki Jia Renda memang untuk melampiaskan amarah adik keenam. Kalau nanti shifu bertanya, xiao shimei juga akan berkata begitu". Lu Dayou berkali-kali mengoyang-goyangkan tangannya dan berkata, "Ini......ini adalah kehormatan yang tak berani kuterima, jangan kaitkan hal ini denganku, nanti aku kena pukul sepuluh kali lagi".


Si jangkung bertanya, "Fang Renzhi dan Yu Renhao tidak mengejar kalian?"


Si gadis berkata, "Bagaimana mereka bisa tidak mengejar kami? Tapi kakak kedua sudah mempelajari ilmu pedang Qingcheng Pai, hanya dengan satu jurus 'Angsa Terbang ke Langit', ia membuat pedang mereka terbang ke langit. Namun sayang waktu itu kakak kedua menutupi wajahnya dengan kain hitam, sampai sekarang Fang dan Yu berdua tidak tahu mereka dikalahkan oleh orang Huashan Pai".


Lao Denuo berkata, "Bagus sekali kalau mereka tak tahu, kalau tidak akan timbul keonaran besar. Kalau hanya mengandalkan kungfu asliku, aku belum tentu bisa menang terhadap Fang dan Yun berdua, cuma karena aku tiba-tiba mengeluarkan ilmu pedang Qingcheng Pai, menyerang titik-titik kelemahan ilmu pedang mereka, dua saudara seperguruan itu sangat terkejut, sehingga kita bisa berada di atas angin".


Para murid saling bercakap-cakap, mereka semua berkata bahwa kalau da shige tahu tentang hal ini nanti, ia tentunya akan sangat senang.


* * *


Saat itu suara hujan makin keras, semakin lama semakin lebat. Nampak seorang penjual pangsit dengan pikulannya muncul di tengah hujan, lalu berhenti di bawah atap kedai teh, berteduh menghindari hujan. Orang tua penjual pangsit itu mengketuk-ketukan tongkat bambunya, pancinya mengeluarkan uap panas.


Lu Dayou ternyata amat mematuhi aturan kesopanan, mangkuk pertama diberikannya pada Kakak Kedua Lao Denuo, mangkuk kedua diberikan kepada Kakak Ketiga Liang Fa, lalu berikutnya ke Kakak Keempat Shi Daizi, dan Kakak Kelima Gao Genming, mangkuk kelima seharusnya untuk dirinya sendiri, namun ia membawanya ke hadapan si gadis sambil berkata, "Xiao shimei, kau makan dulu". Gadis itu dari tadi bercanda dengannya, memanggilnya Monyet Keenam, tapi begitu melihat ia membawakan mangkuk pangsit itu, ia pun berdiri dan berkata, "Banyak terima kasih, kakak".


Lin Pingzhi diam-diam memperhatikan mereka. Ia berpikir bahwa sepertinya aturan perguruan mereka sangat ketat, mereka biasa bersenda gurau, tapi tidak melupakan aturan kesopanan. Lao Denuo dan yang lain-lain mulai makan, akan tetapi si gadis menunggu sampai beberapa kakak seperguruan itu selesai makan pangsit, baru ia sendiri makan.


Liang Fa bertanya, "Kakak kedua, kau baru saja berkata bahwa Ketua Yu menduduki Biro Pengawalan Fu Wei, lalu setelah itu bagaimana?"


Lao Denuo berkata, "Setelah xiao shimei menyelamatkan Lin Gongzi, ia ingin diam-diam mengikuti Fang Renzhi dan kawan-kawan, sambil menunggu kesempatan untuk menolong suami istri Lin. Aku berbicara untuk menyakinkannya, 'Saat itu Yu Renyan kurang ajar padamu, lalu Lin Gongzi turun tangan menolongmu, kau merasa berhutang budi padanya, sekarang kau telah menyelamatkan nyawanya, ini sudah cukup untuk membalas budinya. Qingcheng Pai dan Biro Pengawalan Fu Wei sudah bermusuhan sejak beberapa generasi yang lalu, untuk apa kita mencampuri urusan mereka?' Xiao shimei menurut. Kami segera kembali ke kota Fuzhou, disana kami melihat lebih dari sepuluh murid Qingcheng menjaga ketat Biro Pengawalan Fu Wei".


"Ini sangat aneh. Semua orang di kantor itu sudah lama tercerai berai, bahkan suami istri Lin juga sudah pergi, apa yang ditakuti Qingcheng Pai? Aku dan xiao shimei jadi ingin tahu dan memutuskan untuk menyelidikinya. Kami pikir murid-murid Qingcheng begitu ketat menjaga tempat itu, sehingga tidak mudah untuk menyelinap masuk pada malam hari, maka sore itu, ketika mereka bertukar giliran jaga dan makan, kami masuk secepat kilat ke kebun sayur dan bersembunyi disana".


"Setelah itu kami mengintip keluar, kami melihat banyak murid Qingcheng sedang membuka laci dan membongkar peti, mengebor tembok dan menggali tanah, sepertinya seluruh kantor sudah diacak-acak dari depan sampai belakang. Di dalam kantor itu sendiri tidak sedikit terdapat berbagai barang berharga yang tak sempat dibawa, tapi orang-orang ini setelah menemukannya dengan enteng menaruhnya di samping, sama sekali tak memperlakukannya sebagai barang berharga. Saat itu kami berpikir bahwa mereka pasti sedang mencari barang yang sangat berharga, tapi apa itu?"


Tiga atau empat murid Huashan berkata, "Pixie Jianpu!"


Lao Denuo berkata, "Benar. Aku dan xiao shimei pun berpikiran sama. Nampaknya, setelah mereka menduduki Biro Pengawalan Fu Wei, mereka cepat-cepat mencari kitab itu. Mereka kelihatan begitu sibuk sampai kepala mereka penuh keringat, namun jelas bahwa mereka telah berkerja keras tanpa hasil".


Lu Dayou bertanya, "Akhirnya mereka bisa menemukannya atau tidak?" Lao Denuo berkata, "Aku dan xiao shimei ingin melihat hasilnya, akan tetapi orang-orang Qingcheng Pai ini sudah mencari ke segala penjuru, bahkan sampai kakus pun tak mereka lewatkan. Aku dan xiao shimei tak bisa bersembunyi lagi, maka kami terpaksa menyelinap pergi".


Murid kelima Gao Genming bertanya, "Kakak kedua, kali ini Yu Canghai sendiri turun tangan, menurutmu apa ia tidak membesar-besarkan masalah kecil?"


Lao Denuo berkata, "Guru Ketua Yu telah dikalahkan oleh Lin Yuantu dengan Pixie Jianfa, apakah Lin Zhennan adalah keturunan yang tidak becus, atau bahkan lebih hebat dari ayah dan kakeknya, orang luar tak tahu keadaan yang sebenarnya. Kalau Ketua Yu cuma menyuruh beberapa murid untuk menyelesaikan masalah ini, tentunya agak kurang pantas. Ia turun tangan sendiri, setelah sebelumnya memimpin murid-muridnya berlatih ilmu pedang itu. Ia sudah bersiap-siap dahulu sebelum bertindak, sehingga tak bisa dibilang bahwa ia membesar-besarkan masalah kecil. Tapi aku lihat, ia datang ke Fuzhou, lebih untuk kitab pedang itu daripada untuk membalas dendam".


Murid keempat Shi Daizi berkata, "Kakak kedua, di Kuil Songfeng kau telah melihat mereka bersama-sama berlatih Ilmu Pixie Jianfa, karena mereka sudah bisa menggunakan ilmu pedang ini, untuk apa sekarang mereka mencari kitab ilmu pedang itu? Mungkin mereka mencari benda lain".