Hina Kelana

Hina Kelana
Bab 22



Lao Denuo menggeleng, "Tak mungkin. Ketua Yu adalah tokoh berilmu tinggi, diluar rahasia ilmu silat, di dunia ini apa lagi yang lebih dianggap penting olehnya? Setelah itu, di Yushan di Jiangxi, aku dan xiao shimei bertemu dengan mereka sekali lagi. Aku dengar Ketua Yu menyuruh semua murid dari Zhejiang, Guangdong dan tempat-tempat lain untuk datang melapor. Ia menanyai mereka apakah mereka sudah menemukan benda itu, wajahnya nampak khawatir, sepertinya mereka semua belum menemukannya".


Shi Daizi masih tak mengerti, ia mengaruk kepalanya, "Mereka jelas-jelas sudah bisa ilmu pedang itu, untuk apa mereka mencari kitab pedang itu lagi? Benar-benar aneh bin


ajaib!" Lao Denuo berkata, "Murid keempat, coba kau pikir-pikir, saat itu Lin Yuantu sudah bisa mengalahkan Zhang Qingzi, ilmu pedangnya pasti sangat tinggi. Tapi Pixie Jianfa yang diingat dan diajarkan Zhang Qingzi biasa-biasa saja dan tidak ada keanehannya, dan sekarang Ketua Yu juga melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ilmu silat ayah beranak Lin sama sekali tidak ada apa-apanya. Dalam masalah ini pasti ada sesuatu yang aneh". Shi Daizi bertanya, "Apanya yang aneh?" Lao Denuo berkata, "Tentunya dalam Pixie Jianfa keluarga Lin ada suatu rahasia. Walaupun jurus-jurus ilmu pedang itu biasa-biasa saja, namun kekuatannya bisa sangat besar, inilah rahasia yang tak dipahami Lin Zhennan".


Shi Daizi berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya, "Rupanya begitu. Tapi rumus ilmu pedang biasanya hanya diajarkan dari mulut ke mulut oleh guru. Lin Zhennan sudah mati puluhan tahun yang lalu, ingin mencari peti matinya dan menggeledah mayatnya, juga tidak ada gunanya".


Lao Denuo berkata, "Rumus ilmu pedang perguruan kita diturunkan dari mulut ke mulut dari guru ke murid, tidak pernah ditulis, tapi ilmu silat perguruan atau keluarga lain belum tentu demikian".


Shi Daizi berkata, "Kakak kedua, tapi aku masih tidak mengerti. Masuk akal kalau sebelumnya mereka ingin mencari rahasia Pixie Jianfa itu, 'kenali dirimu kenali musuhmu, berperang seratus kali menang seratus kali', kalau mau mengalahkan Pixie Jianfa, harus mengerti dimana kunci rumusnya. Tapi sekarang Qingcheng Pai sudah membawa pergi suami istri Lin, baik kantor pusat maupun cabang Biro Pengawalan Fu Wei sudah mereka serang habis-habisan, apa belum cukup membalas dendam? Walaupun ada rumus rahasia di dalam Pixie Jianfa, untuk apa mereka mencarinya?"


Lao Denuo berkata, "Adik keempat, ilmu silat Qingcheng Pai, kalau dibandingkan dengan Wuyue Jianpai bagaimana?" Shi Daizi berkata, "Aku tak tahu". Setelah beberapa saat, ia berkata lagi, "Mungkin tak terlalu bagus". Lao Denuo berkata, "Tepat sekali. Mungkin tak terlalu bagus. Coba kau pikir, Ketua Yu itu orang yang angkuh dan ambisius, mungkinkah dia tak ingin menjagoi dunia persilatan? Kalau keluarga Lin benar-benar punya rumus rahasia yang bisa merubah jurus-jurus Pixie Jianfa menjadi sangat kuat, dan kalau rumus rahasia itu dipakai bersama ilmu pedang Qingcheng Pai, apa yang akan terjadi?"


Shi Daizi terdiam sesaat, lalu tiba-tiba mengebrak meja dan bangkit berdiri seraya berteriak, "Aku mengerti sekarang! Ternyata Yu Canghai ingin membuat ilmu pedang Qingcheng Pai tanpa tanding!"


Saat itu, di jalanan terdengar suara langkah kaki, ada serombongan orang yang sedang berlari menuju kedai teh, gerakannya lincah, jelas-jelas orang dunia persilatan. Semua orang menoleh ke arah jalan, mereka melihat sepuluh orang lebih sedang berlari dengan cepat di tengah hujan deras.


Orang-orang itu semua mengenakan pakaian dari kulit yang diminyaki, setelah mereka mendekat, terlihat jelas bahwa mereka adalah serombongan biksuni. Yang berada paling depan adalah seorang biksuni yang sosoknya sangat jangkung, ia berdiri di depan kedai teh dan berseru dengan lantang, "Linghu Chong, keluar!"


* * *


Ketika Lao Denuo dan yang lain-lain melihat orang ini, mereka mengenalinya sebagai seorang biksuni yang nama agamanya adalah Dingyi, kepala Biara Baiyun Hengshan Pai, adik seperguruan ketua Hengshan Pai Dingxian Shitai. Ia tak hanya terkenal di kalangan Hengshan Pai, di dunia persilatan pun semua orang agak jeri kepadanya. Semua orang segera berdiri dan serentak menyoja dengan hormat. Lao Denuo berkata dengan lantang, "Hormat kami kepada Shishu".


Lao Denuo berkata, "Lapor kepada shishu, Linghu Shixiong tidak ada disini. Murid dan kawan-kawan sejak tadi menunggunya disini, tapi sampai sekarang dia belum datang".


Lin Pingzhi berpikir, "Ternyata da shige yang mereka bicarakan terus menerus itu bernama Linghu Chong. Orang ini benar-benar suka membuat onar, entah kenapa ia membuat biksuni tua ini tersinggung".


Sinar mata Dingyi Shitai menyapu seluruh kedai teh itu, ketika pandangannya sampai ke wajah si gadis, ia berkata, "Bukankah kau Lingshan? Kenapa kau berdandan seram seperti ini, mau menakut-nakuti orang, ya?" Si gadis tersenyum, "Ada orang jahat yang membuatku susah, aku terpaksa berdandan seperti ini untuk menghindarinya".


Dingyi Shitai mendengus, "Peraturan Huashan Pai kalian makin lama makin longgar, ayahmu selalu lemah terhadap murid-muridnya sehingga di luaran mereka berbuat onar. Setelah menyelesaikan masalah ini, aku sendiri akan naik ke Huashan untuk membicarakannya". Lingshan cepat-cepat berkata, "Shishu, kau jangan sekali-kali pergi kesana. Baru-baru ini, da shige dipukul ayah tiga puluh kali dengan tongkat, setelah dipukul ia tak bisa berjalan. Kalau kau bicara dengan ayahku, ia akan dipukul enam puluh kali, bukankah ini sama dengan memukuli dia sampai mati?" Dingyi Shitai berkata, "Lebih cepat binatang ini dipukuli sampai mati lebih baik. Lingshan, kau jangan berbohong di depanku! Katamu Linghu Chong tak bisa berjalan? Kalau dia tak bisa berjalan, bagaimana dia bisa menculik murid kecilku?"


Setelah ia mengucapkan kata-kata itu, wajah semua murid Huashan menjadi pucat pasi. Lingshan begitu khawatir sehingga ia hampir menangis, ia cepat-cepat berkata, "Shisu, tak mungkin! Da shige memang suka ugal-ugalan, tapi pasti tak berani melecehkan kakak dari perguruanmu yang terhormat. Pasti ada orang yang membuat-buat cerita dan menghasut shishu". Dingyi berkata dengan suara keras, "Kau masih menyangkal? Yiguang, orang Taishan Pai itu bicara apa kepadamu?"


Seorang biksuni setengah baya melangkah maju dan berkata, "Kakak-kakak dari Taishan Pai berkata, 'Ketika Pendeta Tiansong ada di kota Hengyang, ia melihat dengan mata kepala sendiri Linghu Shixiong bersama Yilin Shimei minum-minum di sebuah kedai arak. Kedai arak itu sepertinya bernama Kedai Huiyan. Yilin Shimei jelas-jelas ditawan oleh Linghu Shixiong, ia tak berani tak ikut minum, raut wajahnya.......raut wajahnya sangat cemas. Bersama dia ada dua orang yang ikut minum-minum, ada si......si penjahat yang melakukan segala kejahatan Tian......Tian Boguang".


Dingyi sudah tahu terlebih dahulu tentang hal ini, saat itu ia sudah mendengar semuanya untuk kedua kalinya, tapi ia masih murka. Ia mengebrak meja keras-keras dengan telapaknya hingga dua mangkuk pangsit jatuh bergelontangan dan pecah berkeping-keping di lantai.


Rasa malu terpancar dari wajah masing-masing murid Huashan, air mata Lingshan berlinang-linang, ia berkata dengan suara bergetar, "Mereka pasti berbohong, atau......atau Tiansong Shishu keliru melihat orang". Dingyi berkata, "Memangnya Pendeta Tiansong dari Taishan Pai itu orang macam apa? Bagaimana ia bisa keliru melihat orang? Bagaimana ia bisa bicara sembarangan? Binatang Linghu Chong itu jelas-jelas berteman dengan penjahat Tian Boguang itu, bagaimana ia bisa terperosok sampai berubah menjadi seperti itu? Bahkan kalau gurumu melindungi dia, aku tak bisa mengampuninya dengan mudah. Si 'Kelana Tunggal Selaksa Li' Tian Boguang itu sering membuat gara-gara di dunia persilatan, aku si biksuni tua harus mengenyahkan dia dari kolong langit. Begitu mendengar berita itu aku langsung pergi kesana, tapi Tian Boguang dan Linghu Chong telah membawa lari dia! Aku......aku tak bisa menemukan dia......" Ketika ia berbicara sampai disini, suaranya menjadi parau, ia menghentakkan kakinya seraya berkata, "Ai, si bocah Yilin! Si bocah Yilin!"


Jantung semua murid Huashan berdebar-debar, masing-masing berpikir, "Kalau da shige mengajak seorang biksuni murid Hengshan Pai minum-minum di kedai arak, merusak nama baik seseorang yang hidup membiara, ia telah melanggar peraturan perguruan, apalagi bergaul dengan orang macam Tian Boguang, hal ini membuat keadaan makin parah". Setelah agak lama, Lao Denuo baru berkata, "Shishu, mungkin Linghu Shixiong dan Tian Boguang kebetulan bertemu, mereka sama sekali tak berteman. Beberapa hari belakangan ini Linghu Shixiong mabuk berat, pikirannya kacau, melakukan apa-apa dalam keadaan mabuk, jangan dianggap serius......" Dingyi berkata dengan marah, "Kalau mabuk pun ia masih tiga puluh persen sadar, orang yang sudah dewasa, masa tak bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk?" Lao Denuo berkata, "Baik, baik! Tapi kami tak tahu Linghu Shixiong berada dimana, keponakan dan kawan-kawan ingin mencari dia, menegur dia sesuai dengan prinsip keadilan, setelah sebelumnya bersujud mohon ampun di hadapan shishu, baru melapor pada shifu supaya ia dihukum berat". Dingyi berkata dengan marah, "Apa aku harus mengantikan kalian mengurus kakak seperguruan kalian?" Tiba-tiba ia menjulurkan tangannya dan mencengkeram pergelangan tangan Lingshan. Pergelangan tangan Lingshan seperti dicengkeram gelang besi, "Ah!", ia berseru dengan kaget, lalu berkata dengan suara bergetar, "Shi......shishu!"


Dingyi berseru, "Kalian Huashan Pai telah membawa lari Yilin kami, untuk membalas, aku juga akan melarikan satu murid perempuan dari Huashan Pai. Kalau kalian melepaskan Yilin kami dan memulangkannya kepadaku, aku juga akan membebaskan Lingshan!" Ia berbalik, menyeretnya dan melangkah pergi. Lingshan merasa separuh tubuhnya dari pinggang ke atas kesemutan, badannya gemetar, ia hanya bisa tertatih-tatih mengikuti Dingyi ke jalan.


Lao Denuo dan Liang Fa serentak mengejar, menghadang di depan Dingyi Shitai. Lao Denuo menyoja seraya berkata, "Shishu, da shige telah menyinggung shishu, pantas saja shishu marah. Akan tetapi sebenarnya masalah ini tidak ada hubungannya dengan xiao shimei, mohon supaya shishu sudi memberi ampun".