
Qu Feiyan tidak menjawab, setelah beberapa saat, ia berkata, "Kata kakekku kau masih tak bisa membebaskan dirimu dari banyak hal, seharusnya kau tak jadi biksuni". Yilin berkata dengan heran, "Kakekmu kenal aku? Bagaimana beliau tahu bahwa aku masih tak bisa membebaskan diriku dari banyak hal?" Qu Feiyan berkata, "Kemarin di loteng Huiyan, kakek dan aku melihat kalian berkelahi dengan Tian Boguang". "Ah!", ujar Yilin, ia bertanya, "Kemarin kau bersama kakekmu?" Qu Feiyan berkata, "Benar. Linghu Shixiongmu itu benar-benar pintar omong, ketika ia berkata bahwa kalau bertarung sambil duduk ia nomor dua di kolong langit, saat itu kakekku sempat agak percaya bahwa ia benar-benar punya ilmu pedang yang dilatih di kakus, dan juga percaya bahwa Tian Boguang tak bisa melawannya, hihihi!" Dalam kegelapan, Yilin tak bisa melihat wajahnya, tapi ia menduga bahwa ia pasti sedang tertawa cekikikan. Semakin riang tawanya, semakin sedih hati Yilin.
Qu Feiyan meneruskan ceritanya, "Setelah Tian Boguang kabur, kakek berkata bahwa bocah itu tak punya nyali. Karena ia sudah berjanji bahwa kalau kalah ia akan mengangkatmu jadi guru, seharusnya dia bersujud padamu, bagaimana ia bisa tak menepati janjinya?" Yilin berkata, "Demi untuk menyelamatkanku, Linghu Shixiong memakai akal-akalan, tapi ia tak benar-benar mengalahkannya". Qu Feiyan berkata, "Kakak, hati nuranimu amat lembut, si Tian Boguang itu menganiayamu, tapi kau masih berbicara yang baik-baik tentang dia. Setelah Linghu Shixiong dibunuh orang, kau membopong jasadnya sambil berjalan tak tentu arah. Kakekku berkata, 'Biksuni kecil ini termasuk jenis orang yang penuh cinta, kali ini jangan-jangan ia akan jadi gila. Kita lihat saja'. Oleh karena itu kami berdua mengikutimu dari belakang, kami menyaksikan kau membopong orang mati itu dan sama sekali tak mau melepaskannya. Kakekku berkata, 'Feifei, kau lihat betapa sedihnya biksuni kecil itu, kalau si bocah Linghu Chong itu tidak mati, si biksuni kecil pasti akan menikah dengannya' ". Yilin begitu malu hingga wajahnya merah padam, di tengah kegelapan ia hanya bisa merasakan telinga dan lehernya menjadi panas.
Qu Feiyan berkata, "Kakak, betul tidak perkataan kakekku?" Yilin berkata, "Aku membuat orang lain terbunuh. Aku benar-benar berharap bahwa akulah yang mati, bukan dia. Kalau Bodhisatwa mengasihaniku, aku ingin mohon supaya aku saja yang mati untuk ditukar dengan jiwa Linghu Shixiong, aku......aku......akan masuk ke neraka kedelapan belas dan sama sekali tak bisa menitis kembali dengan senang hati". Ia mengatakan beberapa kalimat itu dengan amat tulus.
Saat itu, tiba-tiba orang yang ada di atas ranjang mengerang pelan. Yilin berkata dengan gembira, "Kau......kau sudah sadar. Nona Qu, tolong tanya dia apa dia merasa sudah agak baikan". Qu Feiyang berkata, "Kenapa aku yang harus tanya? Kau sendiri tidak mau buka mulut!"
Yilin ragu-ragu sejenak, lalu melangkah ke samping ranjang, membuka kelambu dan berkata, "Tuan pendekar, apa kau bisa......" Sebelum perkataan itu selesai, terdengar orang itu mengerang beberapa kali. Yilin berpikir, "Sekarang ia sedang kesakitan luar biasa, bagaimana aku bisa menganggu dia?" Tak lama kemudian, terdengar napas orang itu mulai teratur, rupanya obat sudah mulai bekerja dan ia tertidur.
Qu Feiyan berbisik, "Kakak, kenapa kau ingin mati demi Linghu Chong? Apa kau benar-benar sangat menyukainya?" Yilin berkata, "Tidak, tidak! Nona Qu, aku seorang yang hidup membiara, kau tak boleh mengucapkan kata-kata yang menghujat Sang Buddha seperti itu lagi. Linghu Chong dan aku belum pernah bertemu, tapi ia tewas demi menolongku. Aku......aku cuma merasa sangat berterima kasih padanya". Qu Feiyan berkata, "Kalau dia bisa hidup kembali, apa kau sudi melakukan apapun untuknya?" Yilin berkata, "Benar. Kalau aku harus mati seribu kali pun demi dia, aku tak akan mengeluh".
Tiba-tiba Qu Feiyan tertawa lalu berkata dengan suara nyaring, "Linghu Shixiong, kau dengar, Kakak Yilin sendiri berkata......" Yilin berkata dengan gusar, "Kau sedang membuat lelucon apa?" Qu Feiyan terus berkata dengan suara nyaring, "Katanya, kalau kau tidak mati, dia akan melakukan apapun untukmu". Yilin merasa bahwa nada suaranya bukan seperti sedang bercanda, kepalanya menjadi pusing, jantungnya berdebar-debar, ia hanya berkata, "Kau......kau......"
Terdengar suara tawa dua kali, lalu suasana menjadi terang benderang, Qu Feiyan telah menyalakan lilin, lalu membuka kelambu sambil melambaikan tangan ke arah Yilin. Yilin perlahan-lahan berjalan mendekat, tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan hampir terjatuh ke belakang. Qu Feiyan menjulurkan tangan untuk menyangga punggungnya supaya ia tidak terjatuh. Ia tersenyum dan berkata, "Dari tadi aku sudah tahu bahwa kau pasti akan kaget, menurutmu dia itu siapa?" Yilin berkata, "Dia......dia......" Suaranya begitu lemah sehingga ia hampir tak bisa bernapas.
Walaupun sepasang mata orang di atas ranjang itu tertutup rapat, akan tetapi melihat wajahnya yang berbentuk persegi panjang, alisnya yang mengarah ke atas dan bibirnya yang tipis, jelas bahwa dia adalah Linghu Chong yang kemarin bertarung di loteng Huiyan.
Yilin mencengkeram lengan Qu Feiyan erat-erat dan berkata dengan gemetar, "Dia belum mati?" Qu Feiyan tersenyum, "Sampai sekarang dia belum mati, tapi kalau obat lukamu tidak manjur, dia akan segera mati". Yilin berkata dengan cemas, "Tak bisa mati, dia tak bisa mati. Dia......tidak akan mati!" Ia terkejut sekaligus gembira, ia pun menangis. Qu Feiyan berkata dengan heran, "Eh, dia tidak mati, tapi kenapa kau malah menangis?" Yilin tak bisa menahan diri lagi, ia bersandar di samping ranjang dan berkata sambil menangis tersedu-sedu, "Aku sangat bahagia. Nona Qu, terima kasih banyak. Ternyata, ternyata kaulah yang......yang menolong Linghu Shixiong".
Qu Feiyan berkata, "Kau sendiri yang menyelamatkan dia, aku tak punya kemampuan untuk melakukannya. Aku tak punya Perekat Penyambung Langit Harum".
* * *
Sekonyong-konyong dari luar terdengar teriakan nyaring, "Yilin, Yilin!" Itu adalah suara Dingyi Shitai.
Yilin terkejut, ia hendak menjawab. Qu Feiyan meniup lilin yang ada di tangannya, ia membalik tangan kirinya, membekap mulut Yilin dan berbisik di telinganya, "Ini tempat apa? Jangan jawab". Yilin langsung kebingungan, dirinya berada di bordil, keadaannya sangat memalukan, tapi seumur hidupnya ia belum pernah tak menjawab kalau gurunya memanggil.
Terdengar Dingyi berteriak lagi, "Tian Boguang, cepat keluar! Bebaskan Yilin".
Terdengar Tian Boguang tertawa terbahak-bahak dari kamar sebelah barat, setelah puas tertawa, ia baru berkata, "Apakah ini qianbei dari Biara Baiyun Dingyi Shitai? Seharusnya aku keluar menyambut qianbei, tapi di sisiku ada beberapa wanita cantik yang sedang menemaniku, maka aku terpaksa berbuat agak tidak sopan. Hahaha! Hahaha!" Suaranya diikuti oleh tawa empat atau lima orang wanita, suara tawa mereka sangat genit. Rupanya mereka adalah perempuan pelacur dari bordil itu. Mereka berseru dengan kenes, "Suamiku yang baik. Tak usah perdulikan dia, cium aku saja. Hihihi, hihihi!" Suara beberapa pelacur itu makin lama makin keras, jelas bahwa mereka disuruh Tian Boguang untuk membuat Dingyi naik pitam.
Dingyi murka, ia berseru, "Tian Boguang, kalau kau tidak keluar, akan kucabik-cabik tubuhmu!"
Tian Boguang tertawa, "Kalau aku tidak keluar, kau akan mencabik-cabik tubuhku. Kalau aku keluar, kau juga akan tetap mencabik-cabik tubuhku. Lebih baik aku tidak keluar saja! Dingyi Shitai, tempat semacam ini tidak boleh dimasuki orang yang hidup membiara. Lebih baik kau cepat-cepat pulang ke biaramu saja. Muridmu yang pintar tidak ada disini, ia adalah biksuni kecil yang selalu ketat menjaga pantangan, bagaimana ia bisa datang ke tempat ini? Apa tidak aneh kalau kau datang ke tempat ini untuk mencari muridmu?"
Dingyi berkata dengan murka, "Bakar, bakar, bakar kandang anjing ini, coba lihat dia keluar atau tidak?" Tian Boguang tertawa, "Dingyi Shitai, tempat ini adalah tempat yang paling terkenal di Kota Heng Shan, namanya 'Wisma Kumala'. Kalau kau mau membakar tempat ini, gampang saja. Tapi nanti orang-orang di dunia persilatan akan ribut, mereka semua akan berpikir bahwa rumah pelacuran 'Wisma Kumala' yang terkenal di Hunan telah dibakar oleh Dingyi Shitai dari Biara Baiyun milik Hengshan Pai. Orang-orang tentu akan bertanya, 'Dingyi Shitai adalah seorang biksuni tua yang berbudi luhur, bagaimana ia bisa datang ke tempat semacam ini?' Orang yang lainnya akan berkata, 'Dia datang untuk mencari muridnya!' Ada orang lain lagi yang bertanya, 'Bagaimana muridnya bisa berada di Wisma Kumala?' Hal semacam ini tidak baik bagi reputasi perguruanmu yang terhormat. Aku katakan kepadamu, si Kelana Tunggal Selaksa Li Tian Boguang tidak takut pada langit dan bumi, di kolong langit ini aku cuma takut pada muridmu seorang. Begitu melihat dia, aku akan langsung menghindar. Bagaimana aku bisa berani menganggu dia?"
Dingyi berpikir bahwa perkataan itu ada benarnya juga, tapi menurut laporan seorang muridnya, Yilin jelas-jelas telah masuk ke rumah itu. Murid ini juga dilukai oleh Tian Boguang, bagaimana mungkin ia bisa berbohong? Ia begitu marah sehingga asap seakan keluar dari kelima lubang di kepalanya, ia menginjak-injak ubin rumah hingga hancur berkeping-keping, namun ia sudah kehabisan akal dan tak tahu harus berbuat apa.